Anda di halaman 1dari 19

1

LAPORAN KASUS

MORBILI

Pembimbing :
dr. Abdurahman E, Sp.A

Penyusun :
Sabrina Qurrotaayun
2013730173

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KELAS B CIANJUR
2017

1
2

BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. NH
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 2 tahun 2 bulan
Tanggal hari : 11 Juli 2014
No. RM : 862***
Alamat : Karanglayung 02/02 Munisari, Mande, Cianjur
Masuk RS : 05 Agustus 2017
Jam 19.10 WIB

B. ANAMNESIS
Dilakukan Alloanamnesis dengan Ibu Os pada tanggal 06 Agustus 2017 jam 06.00 WIB.
Keluhan Utama
Bercak-bercak merah
Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang diantar orangtuanya dengan keluhan bercak-bercak merah sejak 3 hari
SMRS. Bercak-bercak merah timbul dari belakang telinga hingga menyebar ke
seluruh tubuh, bercak tidak bersisik, tidak menonjol, tidak terasa panas dan tidak
gatal. Sebelum timbul bercak-bercak merah, 5 hari SMRS ada demam yang hilang
timbul, timbul dan meningkat pada malam hari. Ada batuk dan pilek yang bersamaan
dengan timbulnya demam serta juga mata yang memerah dan berair. Ibu os juga
mengaku semenjak sakit, nafsu makan os berkurang dan mual dirasakan setiap ingin
makan. Ibu os mengatakan anaknya BAB cair 4 kali dalam sehari, berampas, lendir
dan darah disangkal, os masih mau minum. Kejang, sesak, mimisan, gusi berdarah
disangkal. Nyeri menelan disangkal. BAK dalam batas normal
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya. , 1 bulan yang
lalu mengalami cacar

2
3

Riwayat Penyakit Keluarga


- 5 hari sebelum sakit, os bertemu paman yang sedang menderita campak
- Kakek dari ibu hipertensi
- Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat penyakit hemophilia, thalassemia,
diabetes
Riwayat Pengobatan
Sudah datang ke puskesmas lalu diberi obat namun tidak ingat obat apa saja dan tidak
ada perbaikan
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Perawatan Antenatal : 1 bulan sekali
Penyakit selama kehamilan : tidak ada
Riwayat imunisasi ibu : TT 2 kali selama kehamilan
Obat-obatan : minum obat penambah darah dan vitamin
Penolong persalinan : bidan
Cara persalinan : spontan, anak langsung menangis.
Usia gestasi : 39 minggu
BB lahir : 3100 gram
PB lahir : 50 cm
LK lahir : 33 cm
Kelainan bawaan : tidak ada

Riwayat Tumbuh Kembang


Bahasa
o Mengoceh : 6 bulan
o Mengucapkan papa mama : 11 bulan
Sosial
o Tersenyum spontan : 3 bulan
o Tepuk tangan : 10 bulan
o Membuka baju : 1,5 tahun
o Menggosok gigi sendri : 1 tahun 8 bulan

3
4

Motorik Kasar
o Tengkurap : 4 bulan
o Duduk : 7 bulan
o Berdiri : 11 bulan
o Berjalan : 1 tahun 2 bulan
o Berlari : 1,5 tahun
Motorik Halus
o Memegang kerincingan : 5 bulan
o Meraih benda disekitar : 7 bulan
Riwayat Imunisasi
BCG : 1 bulan
DPT : 4 kali
Polio : 4 kali
Hepatitis B : setelah Lahir
Campak : 1 kali
Kesan : imunisasi wajib lengkap, imunisasi tambahan tidak lengkap

Riwayat Alergi
Tidak ada alergi

Riwayat Makan
Usia 0- 6 bulan : Asi eksklusif
Usia 6-8 bulan : Bubur sun 3 kali+ buah 2 kali + ASI + susu formula
Usia 9-11 bulan : Nasi tim 3 kali (sayuran lauk pauk) + buah/biskuit 2 kali +
ASI+ Susu formula
Usia 12 bulan : Makanan dewasa (nasi + lauk pauk + sayur) 3 kali +
buah/biskuit 2 kali + susu formula

Kesan : kualitas makanan baik, kuantitas makanan cukup

4
5

C. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum Sakit sedang

Kesadaran Composmentis

TANDA VITAL
Nadi 126 kali/ menit
Pernafasan 36 x/menit
Suhu 37,2oC
STATUS ANTROPOMETRI
12 kg

Berat Badan

Terletak diantara 0 SD dan +2 SD = (catatan 2 IDAI : mungkin


memiliki masalah pertumbuhan, saran lihat kurva BB/TB)

5
6

85 cm

Tinggi Badan

Terletak diantara -2 SD dan 0 SD = perawakan normal

BB/ TB

Terletak diantara 0 SD dan +1 SD = gizi baik

6
7

47 cm

Lingkar Kepala

Terletak antara -1 SD dan 0 SD = normocephal


STATUS GENERALISATA
Ubun-ubun besar sudah tertutup
Kepala
Normocephal
Mata Konjungtiva hiperemis (+/+)
Sklera ikterik (-/-)
Berair (+/+)
Hidung Pernafasan Cuping hidung (-)
Sekret (+)
Telinga KGB tidak teraba pembesaran
Mulut Deformitas (-)
Perioral Cyanosis (-)
Pada dinding mulut kanan kiri terlihat bercak putih
Faring hiperemis (+)
Tonsil (T1/T1)
Leher KGB tidak teraba pembesaran , retraksi suprasternal (-)

7
8

Dada:
- Paru I : Bentuk dan pergerakan simetris, Retraksi dinding dada (-)
P : Vokal Fremitus kanan=kiri
P : Sonor pada semua lapang paru
A : Vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronki (-/-)

- Jantung Bunyi Jantung S1 & S2 murni regular


Murmur (-) gallop (-)

Abdomen I : Datar , Retraksi epigastrium (-)


A : Bising usus terdengar di seluruh lapang abdomen
P : Supel
Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba
P : Timpani
Ektremitas Atas : Hangat
Capillary Refill Test < 2 detik
Bawah : Hangat
Capillary Refill Test < 2 detik
Kulit Distribusi : Generalisata
At Regio : Hampir Seluruh Tubuh
Lesi : Lesi multipel, berbatas tegas, permukaan sebagian
menonjol, ukuran 2-3 mm, lesi tidak basah
Efloresensi : makula eritema

8
9

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium : 05 Agustus 2017
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
HEMATOLOGI
Hematologi Lengkap (ADVIA)
Hemoglobin 12.6 g/dL 11,5-13,5
Leukosit 4,3 ribu/L 4,5-10,5
Hematokrit 38.4 % 32-42
Eritrosit 4.84 Juta/L 4,0-5,2
Trombosit 287 ribu/L 150-450
MCV 79.5 Fl 80-94
MCH 26.0 pg 27-31
CHCM 33.0 g/dL 33-37
CH 26 pg
MCHC 32.7 % 33-37
RDW-SD 13.8 fl 37 54
HDW 2.8 g/dL 2.2-3.2
MPV 6.6 fl 8 12
Differential
Limfosit 24.8 % 26 36
Monosit 2.7 % 48
Neutrophil 65.6 % 47 62
Eosinophil 0.1 % 13
Basophil 0.80 % <1
LUC % 5.0 % 0-4
Absolut
Limfosit # 2.24 10^3 L 1 1,51
Monosit # 0.26 10^3 L 0,16 1.0
Neutrophil # 6.20 10^3 L 2.1 8,4
Eosinophil # 0.0 10^3 L 0.02 0.50
Basophil # 0,07 10^3 L 0.00 0.10
LUC # 0.47 10^3 L 0.00-0.40

9
10

E. RESUME
An. NK 2,2 tahun datang diantar orangtuanya dengan keluhan bercak-bercak merah sejak
3 hari SMRS. Bercak-bercak merah timbul dari belakang telinga hingga menyebar ke
seluruh tubuh, bercak tidak bersisik, tidak menonjol, tidak terasa panas dan tidak gatal.
Sebelum timbul bercak-bercak merah, 5 hari SMRS ada demam yang hilang timbul,
timbul dan meningkat pada malam hari. Ada batuk dan pilek yang bersamaan dengan
timbulnya demam serta juga mata yang memerah dan berair. Ibu os juga mengaku
semenjak sakit, nafsu makan os berkurang dan mual dirasakan setiap ingin makan. Ibu os
mengatakan anaknya BAB cair 2 kali dalam sehari, berampas, lendir dan darah disangkal,
os masih mau minum, 1 bulan yang lalu mengalami cacar, 5 hari sebelum sakit, os
bertemu paman yang sedang menderita campak, Sudah datang ke puskesmas lalu diberi
obat namun tidak ingat obat apa saja dan tidak ada perbaikan. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan konjuctiva hiperemis (+/+) berair (+/+), kopliks spot (+/+), faring hiperemis
(+), dan tampak skin rash morbiliform pada kulit seluruh tubuh.

F. DIAGNOSA
- Dignosis Kerja
Morbili
- Diagnosis Banding
Rubella
Roseola Infantum

G. PENATALAKSANAAN
IVFD RL 13 x 120/96 = 15 tpm
Injeksi ondansetron 2x2 mg IV
Oral Paracetamol syrup 3x120 mg (bila panas)
Vitamin A 200000 IU
Rawat Ruang Isolasi

H. FOLLOW UP
Pulang Paksa Tanggal 6 Agustus 2017 Jam 16.00 WIB

10
11

I. INDIKASI RAWAT INAP


Indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu >39 C), dehidrasi, kejang,asupan oral sulit,
atau terdapat penyulit lain seperti pneumonia.

J. INDIKASI PULANG
Jika tidak ditemukan tanda-tanda penyulit dari komplikasi morbili.

K. PENCEGAHAN
Melakukan imunisai lengkap.
Mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

11
12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Campak adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus yang
umumnya menyerang anak. Campak memiliki gejala klinis khas yaitu terdiri dari 3 stadium
yang masing-masing mempunyai ciri khusus :

1. stadium masa tunas berlangsung kira-kira 10-12 hari,


2. stadium prodromal dengan gejala pilek dan batuk yang meningkat dan ditemukan
enantem pada mukosa pipi (bercak Koplik), faring dan peradangan mukosa konjungtiva,
dan
3. stadium akhir (konvalesens) dengan keluarnya ruam mulai dari belakang telinga
menyebar ke muka, badan, lengan, dan kaki. Ruam timbul didahului dengan suhu badan
yang meningkat, selanjutnya ruam menjadi menghitam, dan mengelupas.

Epidemiologi

Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan
seumur hidup. Usia puncak insidens penyakit ini adalah umur 5-10 tahun, di negara yang
belum berkembang insidens tertinggi pada umur 2 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak
yang rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi
buruk dan daya tahan tubuh yang lemah. Hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5
tahun pernah terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000
kasus pertahun.

ETIOLOGI

Campak disebabkan oleh Morbilivirus, salah satu virus RNA dari famili Paramyxoviridae
yang terdapat dalam sekret dan darah. Dapat menular sejak masa prodromal sampai lebih
kurang 4 hari setelah timbul ruam. Cara penularan dengan droplet dan kontak.

12
13

FAKTOR RISIKO

1. Daya tahan tubuh yang lemah


2. Belum pernah terkena campak
3. Belum pernah mendapat vaksinasi campak

PATOGENESIS

Manusia merupakan satu-satunya inang asli untuk virus campak. Penularan campak
terjadi secara droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis
sampai 4 hari setelah timbul ruam. Infeksi dimulai di mukosa hidung/faring. Di tempat awal
infeksi, penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus
masuk ke dalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear
mencapai kelenjar getah bening lokal. Virus kemudian bermultiplikasi dengan sangat
perlahan dan disitu mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular (RES) seperti limpa,
dimana virus menyerang limfosit. Virus campak dapat bereplikasi dalam limfosit tertentu
yang membantu penyebaran ke seluruh tubuh. 5-6 hari sesudah infeksi awal, fokus infeksi
terbentuk yaitu ketika ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah (viremia primer) dan
menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih,
dan usus. Pada hari 9-10 fokus infeksi yang berada di epitel saluran napas dan konjungtiva,
mengalami nekrosis pada satu sampai dua lapisan. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak
masuk kembali ke dalam pembuluh darah (viremia sekunder) dan menimbulkan manifestasi
klinis dari sistem pernafasan diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva
yang tampak merah.

MANIFESTASI KLINIS

1. Masa inkubasi
Berlangsung 10-12 hari, tanpa gejala.
2. Stadium prodromal
Berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan gejala-gejala demam, diikuti coryza (batuk,
bersin, diikuti hidung tersumbat dan ingus/pilek), faring merah, nyeri saat menelan,
stomatitis (radang mulut), konjungtivitis. Tanda khas (pathognomonic): enantema
13
14

mukosa bukalis di depan gigi seri (molar) ketiga yang disebut bercak Koplik (Koplik's
spots).

3. Stadium erupsi
Ditandai dengan panas tinggi dan timbulnya rash makulopapuler (ruam kemerahan)
yang dimulai dari batas rambut di belakang telinga, lalu menyebar ke wajah, leher,
dan akhirnya ke ekstremitas (anggota gerak tubuh, seperti tangan dan kaki).
4. Stadium penyembuhan (konvalesens)
Setelah tiga hari ruam berangsur-angsur menghilang. Ruam kulit menjadi kehitaman
dan mengelupas, akan menghilang setelah 1-2 minggu. Adanya kulit kehitaman dan
bersisik (hiperpigmentasi) dapat merupakan tanda penyembuhan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relatif.


2. Isolasi dan identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari
pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit
(terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk
isolasi virus. Selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak pada
hapusan mukosa hidung.
3. Serologis: konfirmasi serologi campak berdasarkan pada kenaikan empat kali titer
antibodi antara sera fase akut dan fase penyembuhan atau pada penampakkan antibodi
IgM spesifik campak antara 1-2 minggu setelah onset ruam kulit. Bagian utama dari
respon imun ditujukan langsung pada protein NP. Hanya pada kasus campak yang
tidak khas, yang pasti bereaksi terhadap protein M yang ada.

KOMPLIKASI

1. Laringitis akut
Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas, bertambah
parah pada saat demam mencapai puncaknya, ditandai dengan distres pernafasan,
sesak, sianosis, dan stridor. Ketika demam menurun, keadaan akan membaik dan
gejala akan menghilang.
2. Bronkopneumonia

14
15

Bronkopneumonia adalah komplikasi campak yang sering dijumpai (75,2%). yang


sering disebabkan invasi bakteri sekunder, terutama Pneumokokus, Stafilokokus, dan
Hemophilus influenza7. Pneumonia terjadi pada sekitar 6% dari kasus campak dan
merupakan penyebab kematian paling sering pada penyakit campak.
3. Kejang demam
Kejang dapat timbul pada periode demam, umumnya pada puncak demam saat ruam
keluar.
4. Ensefalitis
Ensefalitis adalah penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi pada
hari ke 4-7 setelah timbul ruam, dan sejumlah kecil pada periode pra-erupsi.
Ensefalitis simptomatik timbul pada sekitar 1:1000. Diduga jika ensefalitis terjadi
pada waktu awal penyakit maka invasi virus memainkan peranan besar, sedangkan
ensefalitis yang timbul kemudian menggambarkan suatu reaksi imunologis. Gejala
ensefalitis dapat berupa kejang, letargi, koma, dan iritabel. Keluhan nyeri kepala,
frekuensi nafas meningkat, twitching, disorientasi, juga dapat ditemukan. Pemeriksaan
cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan predominan sel
mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan glukosa dalam batas normal.
5. Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE)
SSPE (Dawsons disease) merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat
yang disebabkan oleh infeksi oleh virus campak yang persisten, suatu penyulit lambat
yang jarang terjadi. Semenjak penggunaan vaksin meluas, kejadian SSPE menjadi
sangat jarang. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya
pernah campak adalah 0,6-2,2 per 100.000. Masa inkubasi timbulnya SSPE rata-rata 7
tahun.
Sebagian besar antigen campak terdapat dalam badan inklusi dan sel otak yang
terinfeksi, tetapi tidak ada partikel virus matur. Replikasi virus cacat karena
kurangnya produksi satu atau lebih produk gen virus, seringkali adalah protein matrix.
Keberadaan virus campak intraseluler laten dalam sel otak pasien dengan SSPE
menandakan kegagalan sistem imun untuk membersihkan infeksi virus.
Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku, iritabilitas dan
penurunan intelektual yang progresif serta penurunan daya ingat, diikuti oleh
inkoordinasi motorik, dan kejang yang umumnya bersifat mioklonik. Selanjutnya
pasien menunjukkan gangguan mental yang lebih buruk, ketidakmampuan berjalan,
kegagalan berbicara dengan komprehensi yang buruk, dysphagia, dapat juga terjadi
15
16

kebutaan. Pada tahap akhir dari penyakit, pasien dapat tampak diam atau koma.
Aktivitas elektrik di otak pada EEG menunjukkan perubahan yang progresif selama
sakit yang khas untuk SSPE dan berhubungan dengan penurunan yang lambat dari
fungsi sistem saraf pusat. Laboratorium : Peningkatan globulin dalam cairan
serebrospinal, antibodi terhadap campak dalam serum meningkat (1: 1280).
6. Otitis media
Invasi virus ke telinga tengah umumya terjadi pada campak. Gendang telinga
biasanya hiperemia pada fase prodromal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri
menjadi otitis media purulenta.
7. Enteritis dan diare persisten
Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada fase
prodromal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus. Diare persisten
bersifat protein losing enteropathy sehingga dapat memperburuk status gizi.
8. Konjungtivitis
Ditandai dengan mata merah, pembengkakan kelopak mata, lakrimasi dan fotofobia.
Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Virus campak atau antigennya
dapat dideteksi pada lesi konjungtiva pada hari-hari pertama sakit. Konjungtivitis
diperburuk dengan terjadinya hipopion dan pan-oftalmitis yang dapat menyebabkan
kebutaan.
9. Miokarditis
10. Hemorrhagic (black) measles
11. Reaktivasi atau memberatnya penyakit TB
12. Trombositopenia.

PENGOBATAN

Supportif :

Memperbaiki keadaan umum


Istirahat cukup
Mempertahankan status nutrisi dan hidrasi (cukup cairan dan kalori)
Perawatan kulit dan mata
Perawatan lain sesuai penyulit yang terjadi
Simptomatik :

16
17

Antipiretik, antitutif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan.


Antibiotik bila ada infeksi bakteri sekunder.
Vitamin A 100.000 IU peroral/hari dengan malnutrisi dilanjutkan 1500 IU

PROGNOSIS

Biasanya campak sembuh dalam 7-10 hari setelah timbul ruam. Bila ada penyulit infeksi
sekunder/malnutrisi berat, maka penyakit menjadi berat. Kematian disebabkan karena
penyulit (pneumonia dan ensefalitis).

PENCEGAHAN

1. Imunisasi aktif

Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi


berumur 9 bulan atau lebih. Dosis baku minimal pemberian vaksin campak yang
dilemahkan adalah 0,5 ml, secara subkutan, namun dilaporkan bahwa pemberian secara
intramuskular mempunyai efektivitas yang sama.

Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis
epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, difteri-tetanus-polio vaksin dan lain-
lain. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebut pada umumnya
aman dan tetap efektif.

2. Imunisasi pasif

Bayi berusia < 12 bulan yang terpapar langsung dengan pasien campak dapat dicegah
dengan Immune serum globulin (gamma globulin)
Dosis anak : 0,2 ml/kgBB IM pada anak sehat
0,5 ml/kgBB untuk pasien dengan HIV
maksimal 15 ml/dose IM dalam waktu 5 hari sesudah terpapar, atau sesegera
mungkin.

17
18

KESIMPULAN

Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat insidensi yang
tinggi pada anak-anak. Penularan yang cepat, terutama pada kelompok dengan daya tahan
imun rendah, kepadatan yang tinggi, serta kurangnya akses pelayanan kesehatan dan
pelaksanaan vaksinasi, terutama di daerah pedesaaan. Kematian pada campak sering kali
disebabkan oleh komplikasi-komplikasinya, seperti pneumonia dan ensefalitis. Penyakit ini
dapat dicegah melalui vaksinasi, karena vaksin campak telah terbukti efektif menurunkan
insidensi penyakit.

18
19

DAFTAR PUSTAKA

Pudjiadi, Antonius dkk. 2010. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia, jilid 1. Hal 33-35. Jakarta. Badan Penerbitan IDAI

Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk. 2010. Campak dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi II. Jakarta. Badan Penerbitan IDAI. Hal. 109-118

Campak dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Hal. 180-183.
2009. Jakarta. WHO

Soegeng Soegijanto. 2001. Vaksinasi Campak. Dalam: I.G.N. Ranuh, dkk. (ed) Buku
Imunisasi di Indonesia. Jakarta. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hal. 105

Maldonado, Y. 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC.

Cherry J.D. 2004. Measles Virus. In: Feigin, Cherry, Demmler, Kaplan (eds) Textbook of
Pediatrics Infectious Disease. 5th edition. Vol 3. Philadelphia. Saunders. p.2283 2298

19