Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

Post Natal Care


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas

Disusun Oleh :
Via Ariani
220112170050

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
Postpartum
A. Pengertian
Masa puerpurium atau postpartum adalah jangka waktu 6 minggu yang
dimulai setelah kelahiran bayi sampai pemulihan kembali organ-organ reproduksi
seperti sebelum kehamilan. Masa ini dibagi tiga tahap yaitu:
a. Immediate postpartum : Masa setelah postpartum sampai 24 jam setelah
melahirkan.
b. Early postpartum : Masa setelah hari pertama sampai minggu pertama
postpartum.
c. Late postpartum : Masa minggu pertama postpartum sampai dengan minggu
keempat postpartum.
Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang terjadi segera setelah
persalinan melebihi 500 cc yang dibagi menjadi bentuk perdarahan primer dan
perdarahan postpartum sekunder (). Perdarahan postpartum adalah perdarahan kala
ketiga yang melebihi 400 cc, disebut perdarahan primer apabila terjadi pada 24 jam
pertama dan perdarahan sekunder apabila terjadi setelah 24 jam (Manuaba, 2000).
a. Perdarahan postpartum primer
Perdarahan berlangsung dalam 24 jam dengan pertama jumlah 500 cc atau
lebih. Penyebabnya adalah atonia uteri, retensio plasenta, robekan jalan lahir
seperti, ruptura uteri inkomplet atau komplet, hematoma parametrium, perlukaan
servikal, perlukaan vagina atau vulva, dan perlukaan perineum.
b. Perdarahan postpartum sekunder
Perdarahan postpartum setelah 24 jam pertama dengan jumlah 500 cc atau
lebih. Penyebabnya adalah tertinggalnya sebagian plasenta atau membrannya,
perlukaan terbuka kembali dan menimbulkan perdarahan serta infeksi pada tempat
implantasi plasenta.
B. Perubahan Fisiologis Postpartum
1. Tanda-tanda vital
a. Suhu : Selama 24 jam pertama mungkin meningkat sampai 38oC
sebagai akibat dari dehidrasi persalinan.
b. Nadi : Bradikardi umumnya ditemukan pada 6-8 jam pertama
setelah persalinan. Bradikardi merupakan suatu konsekuensi peningkatan
cardiac output dan stroke volume. Nadi akan kembali seperti keadaaan
sebelum hamil 3 bulan setelah persalinan. Nadi 50 70 kali/menit dianggap
normal.
c. Respirasi : Menurun sampai pada keadaan normal seperti sebelum
hamil.
d. Tekanan darah : Tekanan darah sedikit berubah atau tidak berubah sama
sekali. Hipotensi yang diindikasikan dengan perasaan pusing atau pening
setelah berdiri dapat berkembang dalam 48 jam pertama sebagai akibat
gangguan pada daerah persarafan yang terjadi setelah persalinan.
e. Adaptasi sistem kardiovaskuler : Pada dasarnya tekanan darah stabil, tetapi
biasanya terjadi penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg jika ada
perubahan dari posisi tidur ke posisi duduk yang disebut hipotensi
orthostatik. Segera setelah persalinan, ibu kadang menggigil yang
disebabkan oleh instabilitas vasomotor secara klinis, hal ini tidak berarti jika
tidak disertai demam.
f. Adaptasi kandung kemih : Selama proses persalinan kandung kemih
mengalami trauma akibat tekanan dan menurunnya sensitifitas terhadap
tekanan cairan. Perubahan ini menyebabkan tekanan yang berlebihan dan
pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas. Biasanya ibu mengalami
kesulitan BAK sampai 2 hari pertama postpartum.
g. Adaptasi sistem endokrin : Mulai mengalami perubahan pada kala IV
persalinan mengikuti lahirnya plasenta. Terjadi penurunan yang cepat dari
estrogen, progesteron dan proaktin. Ibu yang tidak menyusui akan
meningkat secara bertahap dimana produksi ASI dimulai sekitar hari ketiga
postpartum. Adanya pembesaran payudara terjadi karena peningkatan
sistem vaskulan dan limfatik yang mengelilingi payudara menjadi besar,
kenyal, kencang, dan nyeri bila disentuh.
h. Adaptasi sistem gastrointestinal : Pengembangan fungsi defekasi terjadi
secara lambat dalam minggu pertama postpartum. Hal ini terjadi karena
penurunan motilitas usus, kehilangan cairan dan ketidaknyamanan perineal.
i. Adaptasi muskuloskeletal : Otot abdomen terus terganggu selama
kehamilan yang mengakibatkan berkurangnya tonus otot yang tampak pada
masa postpartum. Dinding perut terasa lembek, lemah dan kotor. Selama
kehamilan otot abdomen terpisah yang disebut distasi recti abdominalis,
maka uteri dan kandung kemih mudah dipalpasi.
j. Adaptasi integumen : Cloasma gravidarum biasanya tidak akan terlihat pada
akhir kehamilan, hiperpigmentasi pada aerola mamae dan linea nigra belum
menghilang sempurna.
k. Adaptasi sistem reproduksi
- Uterus : Berangsur-angsur menjadi kecil (involusio) sehingga akhirnya
kembali seperti sebelum hamil.
Tinggi Fundus
Involusio
Uterus Berat Uterus
a. Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
b. Plasenta lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
c. 1 minggu Pertengahan pusat 500 gram
simfisis
d. 2 minggu Tidak teraba diatas 350 gram
simfisis
e. 6 minggu Bertambah kecil 50 gram
f. 8 minggu Sebesar normal 30 gram

- Lochea : Pengeluaran darah dan jaringan yang nekrotik dari dalam


uterus selama masa nifas. Jumlah dan warna lochea akan berkurang
secara progresif.
Lochea Waktu Warna Ciri-ciri
Rubra 1 3 hari Merah kehitaman Terdiri dari sel
desidua, verniks
caseosa, rambut
lanugo, sisa
mekonium, dan
sisa darah.
Sangunolenta 3 7 hari Merah kekuningan Sisa darah
bercampur lendir
Serosa 8 14 hari Kekuningan/kecoklatan Lebih sedikit
darah dan lebih
banyak serum,
juga terdiri dari
leukosit dan
robekan laserasi
plasenta.
Alba > 14 hari Putih Mengandung
leukosit, selaput
lendir serviks
dan serabut mati.

- Serviks : Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah


persalinan, ostium ekstern dapat dimasuki oleh dua hingga tiga tangan.
Setelah 6 minggu postnatal, serviks menutup. Karena robekan kecil-
kecil yang terjadi selama dilatasi. Serviks tidak pernah kembali
kekeadaan sebelum hamil (nulipara) yang berupa lubang kecil seperti
mata jarum, serviks hanya kembali pada keadaan tidak hamil yang
berupa lubang yang sudah sembuh, tertutup tapi berbentuk celah.
Dengan demikian, os servisis wanita yang sudah pernah melahirkan
merupakan salah satu tanda yang menunjukkan riwayat kelahiran lewat
vagina.
- Vulva dan vagina : Mengalami penekanan serta perenggangan yang
sangat besar selama proses melahirkan bayi dan dalam beberapa hari
pertama sesudah proses tersebut. Kedua organ ini tetap berada dalam
keadaan kendur. Setelah tiga minggu vulva dan vagina kembali kepada
keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur
akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol.
- Perineum : Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena
sebelumnya tegang oleh tekanan kepada bayi yang bergerak maju. Pada
postnatal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan kembali bagian besar
tonusnya sekaligus tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum
melahirkan (nulipara).
- Payudara : Mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali
jika laktasi disupresi. Payudara akan menjadi lebih besar lebih kencang
dan mula-mula lebih nyeri tekan status hormonal serta dimulainya
laktasia.
- Traktus urinarius : Buang air kecil sulit selama 24 jam pertama.
Kemungkinan terdapat spasme sfigner dan edema leher buli-buli
sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang
pubis selama persalinan.
C. Adaptasi Psikososial pada Postpartum
1. Taking In
Fase ini merupakan periode ketergantungan, yang berlangsung dari hari
pertama sampai hari ke dua setelah melahirkan. Ibu terfokus pada dirinya sendiri,
sehingga cenderung pasif terhadap lingkungannya. Ketidaknyamanan yang dialami
antara lain rasa mules, nyeri pada luka jahitan, kurang tidur, kelelahan. Hal yang
perlu diperhatikan pada fase ini adalah istirahat cukup, komunikasi yang baik dan
asupan nutrisi.
Gangguan psikologis yang dapat dialami oleh ibu pada fase ini adalah:
- Kekecewaan pada bayinya
- Ketidaknyamanan sebagai akibat perubahan fisik yang dialami
- Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya
- Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan bayinya

2. Fase Taking Hold

Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Ibu merasa
khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawab dalam perawatan
bayinya. Perasaan ibu lebih sensitif sehingga mudah tersinggung. Hal yang perlu
diperhatikan adalah komunikasi yang baik, dukungan dan pemberian
penyuluhan/pendidikan kesehatan tentang perawatan diri dan bayinya. Tugas bidan
antara lain: mengajarkan cara perawatan bayi, cara menyusui yang benar, cara
perawatan luka jahitan, senam nifas, pendidikan kesehatan gizi, istirahat,
kebersihan diri dan lain-lain.

3. Fase Letting Go

Fase ini merupakan fase menerima tanggungjawab akan peran barunya.


Fase ini berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai dapat
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Terjadi peningkatan akan
perawatan diri dan bayinya. Ibu merasa percaya diri akan peran barunya, lebih
mandiri dalam memenuhi kebutuhan dirinya dan bayinya. Dukungan suami dan
keluarga dapat membantu merawat bayi. Kebutuhan akan istirahat masih
diperlukan ibu untuk menjaga kondisi fisiknya.

D. Penanganan Masa Nifas (Puerperium)

1. Kebersihan diri

- Anjurkan menjaga kebersihan seluruh tubuh


- Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah alat kelamin dengan
sabun dan air. Pastikan bahwa klien mengerti untuk membersihkan daerah
vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan
daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan vulva setiap kali
buang air kecil atau besar.
- Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2x
sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan
dikeringkan dibawah matahari dan disetrika.
- Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
- Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk
menghindari menyentuh daerah luka.
2. Istirahat
- Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan berlebihan.
- Sarankan untuk kembali melakukan kegiatan rumah tangga secara perlahan-
lahan serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
- Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam mengurangi jumlah asi yang
diproduksi
- Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
- Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya
sendiri.
3. Latihan
- Diskusikan pentingnya otot-otot panggul kembali normal. Ibu akan merasa
lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga
mengurangi rasa sakit pada panggul.
- Jelaskan pentingnya latihan untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan
dasar panggul (kelgel exercise). Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan
untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih
banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap
gerakan sebanyak 30 kali.
4. Gizi
- Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
- Makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan
vitamin yang cukup.
- Minum sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali
menyusui.
- Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40
hari post partum.
- Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A
kepada bayi melalui air asinya.
5. Perawatan payudara
- Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama pada puting susu
- Menggunakan Bra yang menyokong payudara
- Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada
sekitar puting susu setiap kali menyusui. Tetap menyusui dimulai dari puting
susu yang tidak lecet.
- Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI
dikeluarkan dan diminumkan menggunakan sendok.
- Urut payudara dari arah pangkal menuju puting susu dan gunakan sisi tangan
untuk mengurut payudara.
- Keluarkan ASI sebagian dari depan payudara sehingga puting susu menjadi
lunak.
- Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI,
sisanya keluarkan dengan tangan.
- Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
6. Senggama
- Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah
berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jarinya kedalam vagina tanpa
rasa nyeri
- Banyaknya budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri
sampai pada masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu
setelah persalinan. Keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan.
Daftar Pustaka

. (2016). Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas. Kebidanan


https://www.kebidanan.org/adaptasi-psikologis-ibu-masa-nifas (Diakses
pada tanggal 7 September 2017)
Bobak. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta: EGC
Hamilton, Persis Mary. (1995). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta:
EGC
Manuaba, I.B.G, Manuaba, Chandranita & Fajar Manuaba. (2003). Pengantar
Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC