Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak membantu manusia


dalam memenuhi kebutuhan dan peningkatan kesejahteraan hidupnya, termasuk
kebutuhan akan kesehatan. Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik
terhadap masyarakat maka diperlukan sarana dan prasarana yang baik pula. Salah
satu contohnya melalui pelayanan yang lebih mengutamakan pada pemakaian jasa-
jasa pelayanan. Untuk itu pelayanan di bidang kesehatan perlu mendapat perhatian
khususnya pada fasilitas penunjang berupa penyediaan dan penambahan alat-alat
kesehatan, contohnya peralatan Diagnostik.

Peralatan Diagnostik merupakan rangkaian alat medis yg membantu


pemeriksaan medis terhadap kondisi fisik pasien atau struktur lain yang terdapat pada
tubuh pasien untuk mendapatkan kesimpulan berupa diagnosis sebelum dokter
memberikan tindakan berikutnya.

Dari tahun ke tahun teknologi berkembang pesat khususnya di bidang Ilmu


Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), termasuk IPTEK dalam kedokteran dan
kesehatan .Dengan perkembangan alat-alat kedokteran tersebut, maka mahasiswa
sebagai calon-calon teknisi Teknik Elektromedik di harapkan dapat memahami dan
mengetahui dengan sfesifik alat-alat yang ada dalam bidang kedokteran contohnya
Cardiotocography (CTG), Holter Monitor, Electroencephalography (EEG),
Utrasonography (USG), Electromyography (EMG), Stress Test Monitor, dan
Audiometry

1.2 Rumusan Masalah


Memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang alat-alat diagnostik,
khususnya alat diagnostik yang penulis sajikan dalam makalah ini.

1.3 Tujuan Penulisan


Mengetahui fungsi, cara kerja, prosedur, serta pemeliharaan dari berbagai alat
diagnostik.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Holter Monitor

Gambar 1 Alat Holter Monitor

A. Pengertian Holter Monitor

Holter monitor merupakan alat praktis yang mampu memantau


berbagai aktivitas listrik selama 24 jam untuk menilai irama jantung,
posisi ruang jantung, dan evaluasi terapi (pemasangan pacemaker).
Bila terdapat keluhan berupa pusing, pingsan, tekanan darah rendah,
lelah berkepanjangan atau berdebar tanpa adanya perubahan pada
pemeriksaan EKG saat istirahat. Alat ini dapat berguna untuk
mengetahui adanya gangguan irama jantung (aritmia) atau kejadian
epileptic (EEG) yang sulit diketahui bila dipantau dalam jangka
pendek. Bersamaan dengan perekaman, pasien mencatat aktivitas dan
keluhan yang muncul saat perekaman.

Alat ini menggunakan elektroda yang dipasangkan di dada


yang dihubungkan ke alat yang berfungsi menyimpan informasi
mengenai aktivitas listrik jantung selama periode perekaman.

2
B. Persiapan Sebelum Tes

Selama pemeriksaan berlangsung alat tidak boleh basah, sehingga


anda disarankan mandi terlebih dahulu.
Pasien pria dengan bulu dada yang lebat diminta untuk mencukur dan
jangan gunakan lotion, minyak, atau bedak pada dada.
Untuk kenyamanan selama pemasangan alat sebaiknya kenakan baju
longgar (contohnya T-shirt besar dan bukan blus berleher rendah)
sebelum datang janji.
Pemeriksaan ini tidak membutuhkan perawatan anda tidak perlu
berpuasa.
Anda bisa meneruskan obat-obatan saat ini.
Anda boleh melakukan aktivitas seperti biasa.
Hati-hati jangan sampai mematikan tombol alat, atau tercabut
kabelnya, karena rekaman akan otomatis terhenti.
Sebaiknya Anda tidak melewati detektor logam saat menggunakan
Holter.

C. Cara Pemasangan

Prosedur pemasangan holter monitor antara lain:

Elektroda ECG dipasang pada dada dan disambungkan dengan kabel


lead.
Monitor ECG dengan ukuran kecil dibawa sepanjang masa
perekaman.
Pasien diberitahu agar elektroda harus selalu terpasang, tidak
membasahi elektroda, tidak menggunakan peralatan elektronik dan
alat yang menggunakan magnet selama masa perekaman agar tidak
mengganggu sinyal EKG, mencatat adanya gejala dan aktivitas yang
dilakukan selama masa perekaman, dan menghubungi dokter bila
terdapat masalah selama perekaman.

D. Cara Kerja

Prinsip alat ini tidak jauh berbeda dengan EKG, sejumlah


elektroda yang dipasangkan di dada akan dihubungkan ke alat yang
berfungsi menyimpan informasi mengenai aktivitas listrik jantung
selama periode perekaman. Alat ini menggunakan elektroda yang

3
dipasangkan di dada yang dihubungkan ke alat yang berfungsi
menyimpan informasi mengenai aktivitas listrik jantung selama
periode perekaman.

E. Indikasi

Menunjukan gejala aritmia.


Selain dari denyut jantung tak teratur, gejala lainnya adalah
pusing, pingsan mendadak, dan kelelahan yang tidak biasa serta
kesulitan bernapas bahkan ketika tidak melakukan aktivitas berat.
Mengkonsumsi obat namun gejalanya tidak hilang.
Holter Monitor dapat digunakan untuk memastikan
keefektivitasan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter.
Baru saja melakukan bedah jantung.
Perangkat dapat menentukan apakah alat pacu jantung bekerja
dengan baik. Perangkat juga dapat menunjukan apakah ada luka pada
jantung.

Penting juga jika EKG tidak memberikan informasi yang memadai


karena EKG hanya digunakan unutk memantau aktivitas jantung
selama sekitar satu jam. Penggunaan holter monitor bersifat aman,
rendah risiko, dan efektif.

Holter Monitor biasanya dipakai dalam waktu 24 hingga 48 jam


tergantung pada jumlah informasi yang diperlukan dokter ahli jantung.
Waktu ini juga tergantung pada parahnya kondisi. Hasil biasanya
diperoleh setelah beberapa minggu kecuali jika hasilnya menunjukan
adanya kondisi yang mengancam jiwa.

F. Risiko dan Komplikasi

Secara umum, penggunaan monitor Holter bersifat aman.


Namun ada sedikit ketidaknyamanan karena pasien harus membawa
monitor kemanapun selama dua hari. Dengan ukurannya yang kecil
(seukuran kamera modern), monitor sangatlah nyaman untuk dibawa
kemanapun. Monitor juga dapat disembunyikan di bawah pakaian.

Namun, salah satu masalah monitor adalah bahwa monitor


mungkin tidak merekam seluruh kejadian dan saat-saat ketika gejala

4
muncul. Jika banyak gejala yang tidak tercatat, seluruh pengujian tidak
dapat digunakan dan dokter akan tetap tidak dapat memeriksa pasien
dengan baik atau menentukan penyebab gejala. Karena itu, pasien
akan diminta untuk melakukan pengujian ulang.

Meskipun sangatlah jarang, monitor dapat memicu reaksi


alergi atau iritasi pada kulit pasien akibat bantalan elektroda yang
terpasang. Jika salah satu dari hal tersebut terjadi, pasien harus segera
memberitahukan dokter dan teknisi untuk pengambilan langkah
lanjutan.

Beberapa orang mungkin juga memiliki kesulitan untuk


memastikan perangkat menyala ketika kegiatan berlangsung dan
memantau gejala pada buku harian monitor. Data yang tidak lengkap
dapat memberikan dokter gambaran kondisi pasien yang tidak tetap.

G. Maintenance Holter Monitor

Elektroda tidak boleh basah atau terkena air.


Menjaga kebersihan elektroda.
Periksa penghubung elektroda dengan alat monitor.
Kalibrasi alat minimal 1 tahun sekali.
Periksa kondisi baterai.

2.2 Electroenchephalography (EEG)

Gambar 2 Ilustrasi Pemeriksaan dengan alat EEG

5
A. Pengertian Electroenchephalography (EEG)

Elektroenchephalography (EEG) adalah salah satu tes yang


dilakukan untuk mengukur aktivitas kelistrikan dari otak untuk
mendeteksi adanya kelainan dari otak. Tindakan ini menggunakan
sensor khusus yaitu elektroda yang dipasang di kepala dan
dihubungkan melalui kabel menuju komputer.

B. Cara Kerja Electroenchephalography (EEG)

Aktivitas listrik dari otak penderita direkam oleh elektroda


perak yang dipasang oleh teknisi yang terlatih pada kulit kepala.
Elektroda ini dihubungkan secara berpasangan diatas bagian otak yang
berdekatan sehingga arus terdeteksi oleh satu elektroda, akan berbeda
yang terdeteksi oleh elektroda pasangannya, perbedaan voltase ini
akan menggerakkan pena. Jika pada bagian otak bermuatan negative
dan satunya lagi pada bagian otak bermuatan positif, pena akan
bergerak ke bawah. Jika situasinya terbalik, pena akan bergerak ke
atas. Jika tidak ada arus dari kedua bagian otak di bawah elektroda
mempunyai arus yang sama, pena akan menggambar garis datar.
Biasanya ada 8 pena berurutan dan rangkaian akhir dari garis ini
mengukur baik kekuatan fluktuasi perbedaan voltase maupun
frekuensi. Pemeriksaan ini berlangsung selama 45-47 menit dan
menghasilkan gambar gelombang otak selama 5 menit. Jika seseorang
tegang, EEG akan menunjukkan pola pengaktifan yang tidak sinkron
dan bervoltase rendah. Meski demikian, pola ini mirip dengan pola
pada orang yang tenang, yang melakukan tugas mental seperti
menghitung. Dengan demikian bila seseorang tegang ketika
melakukan tes EEG, EEG hanya menunjukkan otak terangsang tetapi
tidak menunjukkan apa yang merangsangnya.

C. Prosedur Electroenchephalography (EEG)

Pertama rambut harus bersih, tetapi yang terpenting adalah


harus kering. Sejumlah elektroda akan ditempatkan ke kulit kepala
(biasanya antara 8-23 buah, tergantung kondisi yang diselidiki).
Semacam gel mungkin akan dioleskan untuk membantu elektroda agar
tetap pada posisinya dan untuk mengoptimalkan perekaman.

6
Pasien harus dalam keadaan berbaring dan diam untuk
menghindari gangguan listrik dari kontraksi otot lainnya. Adakalanya
dokter akan meminta pasien untuk membuka dan menutup mata dan
bernapas berat. EEG umumnya memakan waktu antara 30-60 menit.
Terkadang rekaman pada saat tidur juga diperlukan. Jika pasien adalah
bayi atau anak kecil, ada baiknya orangtua menunda tidur siang
anaknya hingga dilakukan EEG.

Sedatif (obat untuk membantu tidur) mungkin diperlukan jika


pasien tidak tertidur selama pemeriksaan.

D. Maintenance Electroenchephalography (EEG)

UNTUK PC
Untuk merawat komponen keras dan lunak pada PC, maka
dapat dioprasikan minimal sekali dalam sehari.
Untuk menjaga dari serangan virus, PC dapat diinstal anti
virus untuk mencegah virus yang masuk ketika PC
berinteraksi.

UNTUK ELEKTRODE
Ketika perangkat EEG selesai digunakan, elektrode harap
dibersihkan dari sisa gel dengan air hangat.
Ketika elektrode tidak digunakan harap disimpan pada
tempat yg steril untuk menghindari kontak dengan bakteri
secara berlebihan.
Untuk mendeteksi adanya gangguan pada elektrode dapat
dicelupkan kedalam air untuk meng-groundkan elektrode
agar terdeteksi sinyal netral.

UNTUK KABEL PENGHUBUNG ELEKTRODE (FO)


Karena kabel FO memiliki struktur yg berbeda dengan
kabel tembaga pada umumnya sehingga kabel FO tidak
boleh di lipat ketika akan merapikannya. Kabel FO harus
tergulung demi menghindari kerusakan kabel.

7
2.3 Cardiotocography (CTG)

Gambar 3 Alat Cardiotocography (CTG)

A. Pengertian Cardiotocography (CTG)

Alat Kardiotokografi (CTG) atau juga disebut Fetal Monitor


adalah alat yang digunakan untuk memeriksa kondisi kesehatan janin.
Pemeriksaan umumnya dapat dilakukan pada usia kehamilan 7-9 bulan
dan pada saat persalinan. Pemeriksaan CTG diperoleh informasi berupa
signal irama denyut jantung janin (DJJ), gerakan janin dan kontraksi
rahim. Bila terdapat perlambatan maka itu menandakan adanya gawat
janin akibat fungsi plasenta yang sudah tidak baik. Pada saat bersalin
kondisi janin dikatakan normal apabila denyut jantung janin dalam
keadaan reaktif, gerakan janin aktif dan dibarengi dengan kontraksi rahim
yang adekuat.

Pemeriksaan dengan CTG sangat diperlukan pada fasilitas


pelayanan persalinan. Dengan adanya kemajuan teknologi dan produksi
harga peralatan CTG dapat menjadi lebih ekonomis. Dahulu hanya rumah
sakit yang menyediakannya. Agar pelayanan pemantauan pada ibu hamil
dan bersalin berjalan dengan baik rumah bersalin, klinik dokter bahkan
bidan praktek swasta sebaiknya memiliki CTG agar tidak ada kasus
keterlambatan dalam mendiagnosis adanya masalah pada ibu hamil dan
melahirkan.

8
Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada
CTG yang ditempelkan 2 alat yang satu untuk mendeteksi DJJ yang satu
untuk mendeteksi kontraksi, alat ini ditempelkan selama kurang lebih 10-
15 menit

PENGERTIAN UMUM CARDIOTOCOGRAPHY (CTG)

Suatu alat untuk mengetahui kondisi janin di dalam rahim, dengan


merekam pola denyut jantung janin dan hubungannya dengan gerakan
janin atau kontraksi rahim. Pemeriksaan CTG penting dilakukan pada
setiap ibu hamil untuk pemantauan kondisi janin terutama dalam keadaan:

a). Kehamilan dengan komplikasi (darah tinggi, kencing manis, tiroid,


penyakit infeksi kronis, dll).

b). Kehamilan dengan berat badan janin rendah (Intra Uterine Growth
Retriction).

c). Oligohidramnion (air ketuban sedikit sekali).

d). Polihidramnion (air ketuban berlebih).

B. Mekanisme Pengaturan DJJ

a) Sistem Saraf Simpatis, yang bekerja pada miokardium, dimana dengan


obat (beta adrenergik) akan merangsang atau meningkatkan kekuatan otot
jantung, frekruensi & curah jantung.
b) Sistem Saraf Para Simpatis, sebagian besar dipengaruhi oleh N.Vagus
yang berasal dari batang otak. Bekerja pada nodul SA dan AV serta
neuron. Rangsangan N.Vagus (ex asetilkolin) akan menurunkan kerja
jantung, frekruensi dan curah jantung, sedangkan hambatan pada N.Vagus
(ex atropin) akan meningkatkan kerja, frekuensi dan curah jantung.
c) Baroreseptor, letaknya diarkus aorta dan sinus karotid, dimana saat
tekanan tinggi pada daerah tersebut, maka reseptor-reseptornya akan
merangsang N.Vagus untuk menurunkan kerja, frekruensi dan curah
jantung.
d) Kemoreseptor yang terletak di aorta dan badan karotid (bagian perifer)
serta di batang otak (sentral), dimana berf/ dalam pengaturan kadar CO2
dan O2 pd darah dan cairan otak. Pada saat O2 turun dan CO2 naik, maka

9
reseptor sentral akan mengakibatkan takhikardi sehingga aliran darah
bnayak dan O2 meningkat pd darah dan cairan otak.
e) Sistem Saraf Pusat, berfungsi mengatur variabilitas DJJ. Pd keadaan tidur
dimana aktivitas otak tidak ada, maka variabilitas menurun.
f) Sistem Hormonal, pada keadaan stress (asfiksia) maka adrenal
mengeluarkan epi & norepi untuk meningkatkan kerja, frekruensi dan
curah jantung.

Karakterisitik DJJ

a) Basa fetal hearth rate, yakni baseline dan variabilitas disaat tidak ada
gerakan dan kontraksi ut.
b) Reactivity, merupakan perubahan pola DJJ saat ada gerakan dan kontraksi.
c) Baseline Rate
Normal 120-160dpm, ada juga yang membuat 120-150 dpm.
Takhikardi jika DJJ > 160dpm, dan bradikardi jika DJJ < 120 dpm.
d) Takhikardi dapat terjadi pada keadaan : Hipoksia janin (ringan / kronik),
kehamilan preterm (<30 minggu), Infeksi ibu atau janin, Ibu febris atau
gelisah, Ibu hipertiroid, Takhiaritmia janin, Obat-obatan (mis. Atropin,
Betamimetik.).

Variabilitas DJJ

Suatu gambaran osilasi yang tidak teratur yang tampak pada


rekaman djj, dan merupakan hasil dari interaksi antara saraf simpatis
(kardioakselerator) dengan sistem para (kardiodeselerator). Pada keadaan
hipoksia variabilitas akan menurun sampai menghilang.

Dibedakan atas dua : variabilitas jangkla pendek dan jangka


panjang. Jangka panjang dibedakan lagi : normal (6-25dpm), berkurang
(2-5dpm), menghilang (<2dpm) dan saltatory (>25dpm).

Perubahan Periodik DJJ

Suatu perubahan pola djj yang berhubungan dengan kontraksi dan


gerakan janin (akselerasi dan deselerasi).

10
C. Indikasi Cardiotocography (CTG)

Hipertensi
DMG
Gerak janin kurang
RIW
Obstetri jelek
PRM
Postterm
Oligohidramnion
Polihidramnion
Gamelli
Iugr
Ibu dengan penyakit
Kehamilan dengan anemia

D. Syarat Pemeriksaan Cardiotocography (CTG)

Usia kehamilan mulai 28 minggu.


Ada persetujuan tindak medik dari pasien (secara lisan).
Punktum maksimun denyut jantung janin (DJJ) diketahui.
Prsedur pemasangan alat sesuai dengan petunjuk penggunaan.
Sebaiknya dilakukan 2 jam setelah makan..
Waktu pemeriksaan selama 20 menit.
Selama pemeriksaan posisi ibu berbaring nyaman dan tak
menyakitkan ibu maupun bayi.
Bila ditemukan kelainan maka pemantauan dilanjutkan dan dapat
segera diberikan pertolongan yang sesuai.
Konsultasi langsung dengan dokter kandungan

E. Cara Kerja Cardiotocography (CTG)

1. PERSIAPAN PEMERIKSAAN CTG

a) Sebaiknya dilakukan 2 jam setelah makan.

b) Waktu pemeriksaan selama 20 menit

11
c) Selama pemeriksaan posisi ibu berbaring nyaman dan tak
menyakitkan ibu maupun bayi.

d) Bila ditemukan kelainan maka pemantauan dilanjutkan dan


dapat segera diberikan pertolongan yang sesuai.

e) Konsultasi langsung dengan dokter kandungan.

2. PROSEDUR

a) Persetujuan tindak medik (Informed Consent) : menjelaskan


indikasi, cara pemeriksaan dan kemungkinan hasil yang akan
didapat. Persetujuan tindak medik ini dilakukan oleh dokter
penanggung jawab pasien (cukup persetujuan lisan).

b) Kosongkan kandung kencing.

c) Periksa kesadaran dan tanda vital ibu.

d) Ibu tidur terlentang, bila ada tanda-tanda insufisiensi utero-


plasenter atau gawat janin, ibu tidur miring ke kiri dan diberi
oksigen 4 liter / menit.

e) Lakukan pemeriksaan Leopold untuk menentukan letak,


presentasi dan punktum maksimum DJJ

f) Hitung DJJ selama satu menit; bila ada his, dihitung sebelum
dan segera setelah kontraksi berakhir..

g) Pasang transduser untuk tokometri di daerah fundus uteri


dan DJJ di daerah punktum maksimum.

h) Setelah transduser terpasang baik, beri tahu ibu bila janin


terasa bergerak, pencet bel yang telah disediakan dan hitung
berapa gerakan bayi yang dirasakan oleh ibu selama
perekaman KTG.

i) Hidupkan komputer dan CTG.

j) Lama perekaman adalah 30 menit (tergantung keadaan janin


dan hasil yang ingin dicapai).

12
k) Lakukan dokumentasi data pada disket komputer (data
untuk rumah sakit).

l) Matikan komputer dan mesin kardiotokograf. Bersihkan dan


rapikan kembali.

F. Maintenance Cardiotocography (CTG)

a).Bersihkan semua peralatan dengan seksama. Lakukan


dekontaminasi, terutama limbah infeksious.

b).Kabel-kabel pada peralatan CTG jangan dilepas.

c).Simpan kembali semua peralatan pada tempatnya dengan rapih.

2.4 Ultrasonography (USG)

Gambar 4 Alat Ultrasonography (USG)

A. Pengertian Ultrasonography (USG)

Ultrasonografi (USG) adalah pemeriksaan dalam bidang


penunjang diagnostik yang memanfaatkan gelombang ultrasonik dengan
frekuensi yang tinggi dalam menghasilkan imajing, tanpa menggunakan
radiasi, tidak menimbulkan rasa sakit (non traumatic), tidak menimbulkan
efek samping (non invasif). Selain itu ultrasonografi relatif murah,
pemeriksaannya relatif cepat, dan persiapan pasien serta peralatannya

13
relatif mudah. Gelombang suara ultrasonik memiliki frekuensi lebih dari
20.000 Hz, tapi yang dimanfaatkan dalam teknik ultrasonografi
(kedokteran) gelombang suara dengan frekuensi 1-10 MHz.

Ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekuensi lebih tinggi


dari pada kemampuan pendengaran telinga manusia, sehingga kita tidak
bisa mendengarnya sama sekali. Suara yang dapat didengar manusia
mempunyai frekuensi antara 20 Hz 20.000 Hz. Gelombang ultrasonik ini
dapat dihasilkan oleh getaran mekanik pada kwarsa yang diberi tegangan
listrik bolak-balik dengan frekuensi ultrasonik.

Salah satu aplikasi gelombang dalam bidang kedokteran adalah


dalam ultrasonografi (USG). Ultrasonografi ini memanfaatkan gelombang
ultrasonik yang merupakan gelombang elektromagnetik, untuk membantu
para petugas kesehatan (dokter atau bidan) dalam mendiagnosa penyakit
ataupun mendeteksi yang ada dalam tubuh pasiennya.

Ultrasonografi dalam bidang kesehatan bertujuan untuk


pemeriksaan organ-organ tubuh yang dapat diketahui bentuk, ukuran
anatomis, gerakan, serta hubungannya dengan jaringan lain disekitarnya.
Sifat dasar ultrasound :

a) Sangat lambat bila melalui media yang bersifat gas, dan sangat
cepat bila melalui media padat.

b) Semakin padat suatu media maka semakin cepat kecepatan


suaranya.

c) Apabila melalui suatu media maka akan terjadi atenuasi.

B. Manfaat Ultrasonography (USG)

Manfaat dari ultrasonografi adalah untuk pemeriksaan kanker pada


hati dan otak, melihat janin di dalam rahim ibu hamil, melihat pergerakan
serta perkembangan sebuah janin, mendeteksi perbedaan antar jaringan-
jaringan lunak dalam tubuh, yang tidak dapat dilakukan oleh sinar x,
sehingga mampu menemukan tumor atau gumpalan lunak di tubuh
manusia.

14
Selain manfaat di atas, ultrasonografi dimanfaaatkan untuk
memonitor laju aliran darah. Pulsa ultrasonik berfrekuensi 5 10 MHz
diarahkan menuju pembuluh nadi, dan suatu reciever akan menerima
signal hamburan gelombang pantul. Frekuensi pantulan akan bergantung
pada gerak aliran darah. Tujuannya untuk mendeteksi thrombosis
(penyempitan pembuluh darah) yang menyebabkan perubahan laju aliran
darah.

Pemeriksaan dengan ultrasonografi lebih aman dibandingkan


dengan pemeriksaan menggunakan sinar-x (sinar Rontgen) karena
gelombang ultrasonik yang digunakan tidak akan merusak material yang
dilewatinya sedangkan sinar x dapat mengionisasi sel-sel hidup. Karena
ultrasonik merupakan salah satu gelombang mekanik, maka pemeriksaan
ultrasonografi disebut pengujian tak merusak (non destructive testing) .
Aplikasi gelombang bunyi dalam bidang kedokteran yang lain adalah
penggunaan ultrasonografi untuk pemeriksaan kanker pada hati dan otak.
Selain itu, ultrasonografi dapat mengukur kedalaman suatu benda di
bawah permukaan kulit melalui selang waktu dipancarkan sampai
dipantulkan kembali gelombang ultrasonik.

Adapun manfaat USG pada pemeriksaan kendungan sesuai usia kehamilan


:

Trimester I :

a) Memastikan hamil atau tidak.Mengetahui keadaan janin, lokasi


hamil, jumlah janin dan tanda kehidupannya.

b) Mengetahui keadaan rahim dan organ sekitarnya.

c) Melakukan penapisan awal dengan mengukur ketebalan


selaput lendir, denyut janin, dan sebagainya.

Trimester II :

a) Melakukan penapisan secara menyeluruh

b) Menentukan lokasi plasenta.

c) Mengukur panjang serviks.

15
Trimester III :

a) Menilai kesejahteraan janin.

b) Mengukur biometri janin untuk taksiran berat badan.

c) Melihat posisi janin dan tali pusat.

d) Menilai keadaan plasenta.

C. Komponen dalam Alat Ultrasonography (USG)

Pada prinsipnya, ada tiga komponen mesin USG. Pertama,


transduser, komponen yang dipegang dokter atau tenaga medis, berfungsi
mengalirkan gelombang suara dan menerima pantulannya dan mengubah
gelombang akusitik ke sinyal elektronik. Kedua, monitor, berfungsi
memunculkan gambar. Ketiga, mesin USG sendiri, berfungsi mengubah
pantulan gelombang suara menjadi gambar di monitor. Tugasnya mirip
dengan central proccesing unit (CPU) pada komputer personal.

Peralatan Yang Digunakan :

1. Transducer

Gambar 5 Transducer

Transducer adalah komponen USG yang ditempelkan pada


bagian tubuh yang akan diperiksa, seperti dinding perut atau dinding
poros usus besar pada pemeriksaan prostat. Di dalam transducer
terdapat kristal yang digunakan untuk menangkap pantulan gelombang
yang disalurkan oleh transducer. Gelombang yang diterima masih
dalam bentuk gelombang akusitik (gelombang pantulan) sehingga
fungsi kristal disini adalah untuk mengubah gelombang tersebut

16
menjadi gelombang elektronik yang dapat dibaca oleh komputer
sehingga dapat diterjemahkan dalam bentuk gambar.

Transducer adalah alat yang berfungsi sebagai transmitter


(pemancar) sekaligus sebagai recevier (penerima). Dalam fungsinya
sebagai pemancar, transducer merubah energi listrik menjadi energi
mekanik berupa getaran suara berfrekuensi tinggi. Fungsi recevier
pada transducer merubah energi mekanik menjadi listrik.

2. Monitor yang digunakan dalam USG

Gambar 6 Monitor USG

3. Mesin USG

Mesin USG merupakan bagian dari USG dimana fungsinya


untuk mengolah data yang diterima dalam bentuk gelombang. Mesin
USG adalah CPUnya USG sehingga di dalamnya terdapat komponen-
komponen yang sama seperti pada CPU pada PC.

Adapun komponen USG selain tiga komponen di atas yaitu :

Pulser adalah alat yang berfungsi sebagai penghasil tegangan


untuk merangsang kristal pada transducer dan membangkitkan
pulsa ultrasonik.
Tabung sinar katoda adalah alat untuk menampilkan gambaran
ultrasound. Pada tabung ini terdapat tabung hampa udara yg
memiliki beda potensial yang tinggi antara anoda dan katoda.
Printer adalah alat yang digunakan untuk mendokumentasikan
gambaran yang ditampilkan oleh tabung sinar katoda.

17
Display adalah alat peraga hasil gambaran scanning pada TV
monitor.

D. Prinsip Kerja Ultrasonography (USG)

Transducer bekerja sebagai pemancar dan sekaligus penerima


gelombang suara. Pulsa listrik yang dihasilkan oleh generator diubah
menjadi energi akustik oleh transducer yang dipancarkan dengan arah
tertentu pada bagian tubuh yang akan dipelajari. Sebagian akan
dipantulkan dan sebagian lagi akan merambat terus menembus jaringan
yang akan menimbulkan bermacam-macam pantulan sesuai dengan
jaringan yang dilaluinya.

Pantulan gema yang berasal dari jaringan-jaringan tersebut akan


membentur transducer dan akan ditangkap oleh transducer, dan kemudian
diubah menjadi pulsa listrik lalu diperkuat dan selanjutnya diperlihatkan
dalam bentuk cahaya pada layar monitor. Gelombang ini kemudian
diteruskan ke tabung sinar katoda melalui recevier seterusnya ditampilkan
sebagai gambar di layar monitor.

Gambar 7 Blok Diagram USG

18
E. Jenis Pemeriksaan Ultrasonography (USG)
1) USG 2 Dimensi

Gambar 8 USG 2 Dimensi

Menampilkan gambar dua bidang (memanjang dan melintang).


Kualitas gambar yang baik sebagian besar keadaan janin dapat
ditampilkan.

2) USG 3 Dimensi

Gambar 9 USG 3 Dimensi

Dengan alat USG ini maka ada tambahan 1 bidang gambar lagi
yang disebut koronal. Gambar yang tampil mirip seperti aslinya.
Permukaan suatu benda (dalam hal ini tubuh janin) dapat dilihat
dengan jelas. Begitupun keadaan janin dari posisi yang berbeda. Ini
dimungkinkan karena gambarnya dapat diputar (bukan janinnya yang
diputar).

19
3) USG 4 Dimensi

Gambar 10 USG 4 Dimensi

Sebetulnya USG 4 Dimensi ini hanya istilah untuk USG 3


dimensi yang dapat bergerak (live 3D). Kalau gambar yang diambil
dari USG 3 Dimensi statis, sementara pada USG 4 Dimensi, gambar
janinnya dapat bergerak. Jadi pasien dapat melihat lebih jelas dan
membayangkan keadaan janin di dalam rahim.

4) USG Doppler

Pemeriksaan USG yang mengutamakan pengukuran aliran


darah terutama aliran tali pusat. Alat ini digunakan untuk menilai
keadaan/kesejahteraan janin. Penilaian kesejahteraan janin ini
meliputi:

a) Gerak napas janin (minimal 2x/10 menit).

b) Tonus (gerak janin).

c) Indeks cairan ketuban (normalnya 10-20 cm).

d) Doppler arteri umbilikalis.

e) Reaktivitas denyut jantung janin.

F. Maintenance Ultrasonography (USG)

a) Jangan lupa untuk memperhatikan tegangan listrik pada waktu


memakai usg, karena tegangan listrik yang tidak stabil atau naik turun

20
dapat memberikan dampak buruk kepada alat elektronik secara umum
termasuk pada mesin usg.

b) Perawatan umum yang dapat Anda lakukan terhadap alat ini adalah
membersihkan semua peralatan setiap kali pemeriksaan selesai dilakukan
terutama pada komponen transducer. Anda bisa menggunakan kain yang
lembut untuk mencuci alat tersebut ditambah cairan anti kuman yang
direkomendasikan oleh produsen alat ini. Hal ini sangat penting dilakukan
agar komponen tidak cepat rusak.

c) Setelah transducer dibersihkan letakkan kembali komponen ini pada


tempatnya lalu bersihkan dan rapikan kabel-kabelnya.

d) Kabel jangan sampai terjepit atau terinjak.

e) Setelah semua bagian dirapikan tutup kembali mesin ini dengan


plastiknya untuk menjaga agar alat tidak terkena siraman air secara tidak
sengaja atau bahkan cairan kimia lainnya. Untuk menjaga agar alat ini
tetap terpelihara secara baik.

f) Kalibrasi minimal satu tahun sekali.

2.5 Electromyography (EMG)

Gambar 11 Alat Electromyography (EMG)

A. Pengertian Electromyography (EMG)

Electromyography (EMG) adalah teknik untuk mengevaluasi dan


rekaman aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot rangka. EMG dilakukan

21
menggunakan alat yang disebut Electromyograph, untuk menghasilkan
rekaman yang disebut Elektromiogram. Sebuah. Electromyograph mendeteksi
potensial listrik yang dihasilkan oleh sel-sel otot ketika sel-sel ini elektrik atau
neurologis diaktifkan. Sinyal dapat dianalisis untuk mendeteksi kelainan
medis, tingkat aktivasi, perintah rekrutmen atau untuk menganalisa
biomekanik gerakan manusia atau hewan.

B. Cara Kerja Electromyography (EMG)

EMG mengukur sinyal otot satu kanal, memakai teknik 2 elektroda


utama dan satu elektroda ground, dengan daerah pengukuran 0,5-5 Mv dan
daerah frekuensi 0,5-1200 Hz.

Electromyography (EMG) menggunakan suatu teknik untuk


mengevaluasi dan merekam isyarat pengaktifan otot. EMG dilakukan dengan
menggunakan suatu instrumen suatu electromyograph, untuk menghasilkan
suatu electromyogram. Suatu electromyograph mendeteksi potensi yang
elektrik yang dihasilkan oleh sel otot ketika kontrak sel ini, dan juga ketika sel
pada posisi diam.

Sumber potensi elektrik ada pada selaput otot sekitar - 70mV. EMG
Yang mengukur cakupan potensial antara kurang dari 50 V dan atas 20-30
mV, tergantung pada otot dibawah pengamatan. Pengulangan tingkat
tembakan unit otot adalah sekitar 7-20 Hz, tergantung pada ukuran otot.

C. Tujuan Electromyography (EMG)

a) Membantu membedakan antara gangguan otot primer seperti distrofi otot


dan gangguan sekunder.

b) Membantu menetukan penyakit degeneratif saraf sentral.

c) Membantu mendiagnosa gangguan neuromuskular seperti myestania grafis.

D. Indikasi Electromyography (EMG)

a) Distrofi muskular

b) Radang/ inflamasi otot

c) Syaraf terjepit

22
d) Kerusakan syaraf tepi (kerusakan pada syaraf di kaki dan lengan)

e) Sklerosis lateral amiotrofik (penyakit syaraf yang menyerang sel-sel


syaraf yang mengendalikan otot sadar)

f) Miastenia gravis (gangguan/ kelainan autoimunitas yang menyebabkan


lemahnya otot tulang)

g) Herniasa diska (robeknya diska tulang belakang

h) Gangguan saraf tepi & akson (neuropati )

i) Penyakit otot primer ( DMP )

j) Membantu menegakkan diagnosis seperti Bells Palsy

E. Prosedur Electromyography (EMG)

a) Prosedur dapat dilakukan disamping tempat tidur atau diruang


tindakan khusus.

b) Elektroda ditempatkan pada syaraf-syaraf yang akan diperiksa.

c) Dimulai dengan dosis kecil rangsangan listrik melalui elektorda


kesaraf dan otot, apabila konduksi pada saraf selesai maka otot akan segera
berkontraksi.

d) Untuk mengetahui potensial otot digunakan macam-macam jarum


elektroda dari nomor 1,3 7,7 cm.

e) Pasien mungkin dianjurkan untuk melakukan aktifitas untuk menukur


potensila otot selama kontraksi minimal dan maksimal

f) Derajat aktifitas saraf dan otot direkam pada osiloskop dan


akanmmemberikan gambaran grafik yang dapat dibaca.

g) Perawat berusaha memberikan rasa nyaman dan memantau daerah


penusukan tarhadap kemungkinan terjadinya hematoama.

23
F. Maintenance Electromyography (EMG)
EMG memiliki elektroda sebagai sensor yang ditempelkan pada kuliat
pasien. Untuk itu, setelah penggunaan, elektroda harus dibersihkan dan
ditata kembali pada wadahnya agar sensor tetap terjaga responsibilitinya.
Kemudian untuk mendapatkan hasil yang akurat dan maksimal, harus
dilakukan kalibrasi alat secara berkala.

2.6 Audiometry

Gambar 12 Alat Audiometry

A. Pengertian Audiometry

Audiometry merupakan sebuah alat di mana penggunaannya yang


paling utama adalah sebagai pengukur level pendengaran dan seberapa tajam
pendengaran seseorang mampu dinilai dengan alat tersebut. Orang yang
membutuhkan tes audiometri adalah yang mempunyai masalah pada
pendengarannya. Biasanya, orang-orang yang bekerja dengan bekal ketajaman
pendengaranlah yang memerlukan tes semacam ini. Ada berbagai jenis
pemeriksaan audiometri contohnya otoscopy.

B. Cara Kerja Audiometry

Cara kerja audiometri adalah dengan menghasilkan nada tunggal pada


intensitas nada yg berbeda-beda. Intensitas nada atau derajat kebisingan yg
dapat di dengar oleh kebanyakan orang dewasa adalah 0-20 desibel (db).Hasil
dari pemeriksaan audiometri akan dicetak dalam bentuk audiogram.
Audiometer dapat mengidentifikasi jenis ketulian yg dialami oleh seseorang.
Terdapat beberapa jenis pemeriksaan telinga yg dapat dilakukan dengan

24
audiometer tetapi salah satu yg paling mendasar adalah pengukura air
conduction atau pengukuran kemampuan mendengar bunyi melalui media
rambat udara.

C. Jenis Pemeriksaan Audiometry


Audiometri Tutur

Uji pendengaran jenis ini merupakan sebuah sistem pengujian


pendengaran dengan memakai kata-kata terpilih yang tentunya telah
melewati proses pembakuan. Lalu dituturkan lewat sebuah alat yang
dinyatakan telah melalui kaliberasi dengan tujuan untuk mengukur
sejumlah aspek kemampuan pendengaran.

Audiometri pada jenis ini mirip dengan audiometri nada murni,


hanya saja memang di sini sarana yang dipakai adalah daftar kata yang
sudah dipilih dan penderita perlu menuturkannya. Pemeriksa melalui
mikrofon dapat menuturkan langsung kata-kata terpilih tersebut dan
kemudian dihubungkan dengan audiometri tutur. Kata-kata tersebut
disalurkan lewat headphone ke telinga pasien.

Prosedur dari pemakaian dari audiometri tutur ini pasien akan


diminta untuk mendengar kata-kata yang sebenarnya dibuat secara jelas.
Pengujian dilakukan mulai dari intensitas yang tinggi hingga 50 persen tak
mampu menirukan kembali kata-kata secara benar. Di bawah ini adalah
kriteria di mana menggambarkan bahwa kondisi seseorang tak bisa
mendengar alias tuli.

a) Pada intensitas 20-40 dB masih bisa mendengar (level ringan).

b) Pada intensitas 40-60 dB masih bisa mendengar (level sedang).

c) Pada intensitas 60-80 dB sudah tak mampu mendengar (level berat).

d) Pada intensitas >80 dB sudah tak mampu mendengar sama sekali


(level berat sekali).

Ketulian atau kehilangan pendengaran jelas akan mengakibatkan


gangguan ketika melakukan komunikasi dengan orang lain. Hanya saja,
ABD/hearing AID biasanya bisa menjadi alat bantu bagi seseorang yang
masih mempunyai sisa pendengaran. Penggunaan alat ABD tersebut

25
tujuannya adalah untuk membuat suara yang diamplifikasi menjadi lebih
keras.

Audiometri Nada Murni

Pada jenis audiometri ini, uji pendengaran bakal dilakukan dengan


memanfaatkan alat listrik yang diketahui dapat memroduksi nada-nada
murni sebagai bunyi. Bunyi tersebut pun memiliki berbagai frekuensi,
seperti 4000-8000, 1000-2000, dan 250-500. Pengaturan intensitas dapat
dilakukan dalam satuan (dB).

Headphone adalah salah satu dari alat untuk menyalurkan bunyi


yang sudah dihasilkan ke telinga pasien yang tengah diperiksa
pendengarannya. Ada audiogram yang kiranya lebih membantu dalam
memperoleh informasi detil akan gambaran dari pendengaran yang normal
berdasarkan usia seseorang. Pada normalnya, telinga manusia memiliki
kemampuan pendengaran akan bunyi dengan frekuensi 20-20000 Hz dan
500-2000 Hz adalah frekuensi yang vital dalam melakukan percakapan
sehari-hari.

a) Pendengaran dianggap normal ketika kehilangan pendengaran dalam


desibel 0-15.

b) Kehilangan pendengaran kecil adalah >15-25 desibel.

c) Kehilangan pendengaran ringan adalah >25-40 desibel.

d) Kehilangan pendengaran sedang adalah >40-55 desibel.

e) Kehilangan pendengaran sedang hingga berat adalah >55-70 desibel.

f) Kehilangan pendengaran berat adalah >70-90 desibel.

g) Kehilangan pendengaran berat sekali adalah >90 desibel.

Pada uji pendengaran ini kemudian akan dihasilkan grafik nilai


ambang pendengaran pasien yang didasarkan pada stimulus nada murni.
Pengukuran nilai ambang dilakukan dengan frekuensi yang berbeda-beda
dan grafik pun dibuat berdasar pada skala desibel.

26
D. Indikasi
Gangguan pendengaran akibat bekerja diare dengan tingkat kebisingan
tinggi.
Pasien dengan respon pendengaran yg kurang.
Kecurigaan tuli pada pasien.

E. Maintenance Audiometry

a) Hindari seuhu ekstrim,ketika mengelarkan alat dari perjalanan,


diamkan dulu selama kurang lebih 30 menit untuk menstabilkan suhunya
sebelum digunakan.

b) Hindari kontak dengan cairan, Cairan dapat merusa komponen


elektronika.

c) Gunakan audiometer dengan hati-hati, jangan biarkan alat ini jatuh


karna bisa meneyebabkan kerusakan komponen digital alat.

d) Jangan biarkan kabel alat kusut atau terlilit dan jangan mengikat kabel
terlalu kencang, kabel audiometer sangat sensitif, mengikat kabel terlalu keras
dapat membuat kawat di dalam kabel putus.

e) Bersihkan alat dan unit dengan kapas alkohol.

f) Lakukan pengecekan audiometry setiap hari, adanya perubahan


frekuensi,volume suara dan kualitas suaranya.

g) Lakukan pengecekan alat setiap hari.

h) Lakukan kalibrasi minimal 1 tahun sekali.

27
2.7 Stress Test Monitor

Gambar 13 Stress Test Monitor

A. Pengertian Stress Test Monitor

Sebuah tes stres treadmill, juga disebut stres test jantung, adalah tes
diagnostik kardiovaskular digunakan untuk menentukan seberapa baik jantung
bekerja dan merespon stres eksternal. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi
seberapa baik jantung menangani kegiatan atau pemakaian tenaga yang lebih
dari yang biasa digunakan. Jenis tes ini sangat efektif dalam mendeteksi
penyakit kardiovaskular dan mengevaluasi risiko atau kemungkinan seseorang
terjerumus ke penyakit jantung kronis.

Ini hanyalah salah satu dari sekian jenis tes stres jantung dan berada di
bawah kategori tes latihan stres. Tes berbasis latihan bervariasi, tergantung
pada jenis kegiatan yang diminta dilakukan pasien. Misalnya, untuk tes
treadmill, pasien diminta untuk berjalan di atas treadmill, tetapi pasien juga
bisa diminta menggunakan sepeda stasioner atau melakukan bentuk-bentuk
lain dari latihan. Di sisi lain, ada juga tes jantung yang tidak menggunakan
latihan; sebaliknya, demi meningkatkan tingkat aktivitas jantung, pasien bisa
mengonsumsi obat atau diberikan zat radioaktif intravena untuk memicu
respons jantung yang lebih kuat.

B. Cara Kerja Stress Test Monitor

Treadmill bergerak dengan bantuan penggerak motor. Treadmill akan


berlangsung 20-40 menit speed dinaikan secara berlahan dan menambah
kemiringan (hudrolik).Elektroda ini mengukur aktivitas listrik di jantung,
mengirim hasilnya ke monitor elektrokardiograf terpasang. Tes ini sering

28
dilakukan bersamaan dengan ECG untuk secara akurat mendiagnosis penyakit
kardiovaskular. Hasil dari treadmill bisa berupa print out atau CD. Hal ini
juga yang paling sering digunakan untuk diagnosis dan pengobatan penyakit
arteri koroner atau penyakit jantung iskemik.

C. Prosedur Stress Test Monitor

Tes stres treadmill dilakukan oleh dokter jantung, atau teknisi terlatih.
Pertama dimulai dengan menempatkan elektroda di dada, yang telah
dibersihkan sebelumnya, untuk memastikan kontak langsung. Sebelum tes,
pasien diberi instruksi yang jelas tentang bagaimana mempersiapkan hal ini.
Misalnya, pasien disarankan tidak mengkonsumsi makanan atau minuman
dengan kafein atau mengkonsumsi obat-obat jantung sehingga hasilnya tidak
akan dipengaruhi oleh faktor lain. Juga, tepat sebelum tes dimulai, statistik
jantung pasien dicatat sehingga dokter dapat membandingkan hasil sebelum
dan setelah tes.

Selama pengujian, ketika pasien berjalan di treadmill pada tingkat


yang semakin cepat, detak jantung, tekanan darah, dan elektrokardiogram
semua dipantau, dan setiap perubahan sebagai akibat dari aktivitas dan stres
tubuh meningkat levelnya, dicatat. Tingkat aktivitas yang dilakukan pasien
selama tes akan meningkat saat treadmill bergerak lebih cepat. Di beberapa
titik selama pengujian, dokter mungkin meminta pasien untuk bernapas ke
dalam tabung selama beberapa saat untuk mengukur jumlah udara yang
mampu ia tarik selama kegiatan. Meskipun pasien diminta untuk terus
berolahraga selama dia bisa, penting untuk menginformasikan teknisi atau
dokter jika ada gejala yang tidak normal seperti nyeri dada, lengan sakit,atau
pusing muncul. Fasilitator tes juga akan menghentikan tes jika dianggap perlu
berdasarkan hasilnya.

Setelah pasien berhenti berolahraga, ia akan diminta untuk beristirahat


dengan duduk atau berbaring. Pada titik ini, denyut jantung dan tekanan darah
akan kembali dicatat.

Pasien harus menyediakan waktu setidaknya 60 menit untuk tes


jantung treadmill. Tes itu sendiri akan memakan waktu kurang dari 12 menit
atau paling cepat 7 menit, tetapi ada persiapan yang dilakukan sebelum itu
yang mungkin memakan waktu. Hanya untuk memastikan, pasien harus
menghindari membuat jadwal lain sebelum dan sesudah tes.

29
D. Indikasi

a) Diduga memiliki masalah kardiovaskular karena munculnya beberapa


gejala.

b) Memiliki riwayat keluarga penyakit jantung kronis, atau pasien


dengan risiko sedang terpapar penyakit jantung koroner.

c) Perokok kronis atau perokok yang sudah lama.

d) Sedang menjalani pengobatan jantung.

e) Sudah memiliki kondisi jantung.

f) Memiliki hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

g) Sakit dada

h) Detak jantung tidak teratur atau abnormal

i) Kesulitan bernapas

E. Maintenance Stress Test Monitor

a) Elektroda tidak boleh basah atau terkena air

b) Menjaga kebersihan elektroda

c) Periksa penghubung elektroda dengan alat monitor

d) Periksa penggerak motor pada treadmill

e) Periksa selalu manset NIBP

f) Tabung gas

g) Kabel-kabel tidak noleh terlipat

h) Menjaga kebersihan alat

i) Kalibrasi alat minimal 1 tahun sekali

30
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari beberapa alat diagnostik di atas, dapat di simpulkan bahwa setiap


alat diagnostik memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan tujuannya di
ciptakan, dari beberapa alat diagnostik yang di jelaskan di atas, masih banyak
alat diagnostik yang digunakan di Indonesia, bahkan di dunia, kita sebagai
mahasiswa teknik medis setidaknya dapat mengetahui apa saja alat diagnostik,
khususnya yang ada di Indonesia ini.

3.2 Kritik dan Saran

Dari paparan makalah alat diagnostik di atas diharapkan kepada


pembaca untuk dapat memahami dengan baik sehingga dapat
mengamalkannya kepada masyarakat luas meskipun makalah ini jauh dari
kata sempurna, saya sangat mengharapkan kritik dan saran khususnya kepada
penulis yang bersifat membangun untuk kebaikan makalah ini.

31
DAFTAR PUSTAKA

http://www.medkes.com/2015/09/pengertian-prosedur-komplikasi-eeg-
electroencephalogram.html

https://www.slideshare.net/icha_icha/eeg-59323980

https://www.docdoc.com/id/info/condition/holter-monitor

http://mediasehat123.blogspot.co.id/2015/05/pemeriksaan-elektromyegrafi-emg.html

http://halosehat.com/review/tindakan-medis/audiometri

https://www.medicalogy.com/blog/pemeriksaan-telinga-menggunakan-otoskop/

https://www.docdoc.com/id/info/procedure/uji-ketahanan-di-alat-berlari

http://www.karisma-hospital.com/holter-ekg-24-jam.html

http://www.binawaluya.com/fasilitas/holter-monitor

http://www.rsi.co.id/fasilitas/fasilitas-penunjang/459-elektroensefalografi-eeg

http://kardiotokografi.blogspot.co.id/

https://mankbore.wordpress.com/2010/12/13/elektromiografi-emg/

http://rahmawatifattah.blogspot.co.id/2013/03/makalah-tentang-usg-
ultrasonografi.html

https://www.google.co.id/search?q=audiometri&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi
=2&ved=0ahUKEwjgm8ygju_UAhXBro8KHaYwB38Q_AUIBigB&biw=1366&bih
=651#imgrc=3Fn3HWTXWtgUSM:

https://www.google.co.id/search?q=audiometri&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi
=2&ved=0ahUKEwjgm8ygju_UAhXBro8KHaYwB38Q_AUIBigB&biw=1366&bih
=651&dpr=1#imgrc=2B0H827ebx_fLM:

32