Anda di halaman 1dari 20

PERBEDAAN MANAJEMEN KELAS DAN MANAJEMEN

PEMBELAJARAN BESERTA PENDEKATAN


DALAM MANAJEMEN KELAS
Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Terpadu
Dosen Pengampu : Novi Setyasto, S.Pd, M.Pd.

Disusun Oleh:
1. Purbo Wicaksono (1401415008)
2. Ika Kurniawati (1401415009)
3. Dwi Lestari (1401415013)
4. Endang Puji Kurniasih (1401415014)
5. Zumrotul Muflikhah ( 1401415025)

ROMBEL 002

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
Perbedaan Manajemen Kelas dan Manajemen Pembelajaran Beserta Pendekatan
Dalam Manajememn Kelas

1. Pembuka
1.1 Latar Belakang
Manajemen kelas berbeda dengan manajemen pembelajaran.
Manajemen atau Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar tercapai
kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar sebagaimana yang
diharapkan.Begitu pula manajemen pembelajaran berhubungan dengan
kurikulum atau dapat diartikan sebagai usaha ke arah pencapaian tujuan-
tujuan melalui aktivitas-aktivitas orang lain atau membuat sesuatu dikerjakan
oleh orang-orang lain. Dengan demikian Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah manajemen kelas. Selain itu untuk menambah
pemahaman penyusun mengenai manajemen kelas dan manajemen
pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah yang dimaksud manajemen kelas?
1.2.2 Apakah fungsi dan tujuan manajemen kelas?
1.2.3 Apakah yang dimaksud mnajemen pembelajaran?
1.2.4 Apakah fungsi-fungsi dan tujuan dari manajemen pembelajaran?
1.2.5 Apakah perbedaan manajemen kelas dan manajemen pembelajaran?
1.2.6 Apakah pengertian dari pendekatan manajemen kelas?
1.2.7 Apa saja macam- macam pendekatan manajemen yang sering
digunakan dalam kelas?
1.2.8 Bagaimana kefektifan pendekatan dan metode dalam manajemen
kelas?
1.2.9 Apa saja aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen
kelas?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian manajemen kelas
1.3.2 Untuk memahami fungsi dan tujuan menejemen kelas
1.3.3 Untuk mengetahui pengertian manajemen pembelajaran
1.3.4 Untuk memahami fungsi dan tujuan dari manajemen pembelajaran
1.3.5 Untuk mengetahui perbedaan menejemen kelas dan menejemen
pembelajaran
1.3.6 Untuk mengetahui pengertian dari Pendekatan Manajemen Kelas.
1.3.7 Untuk mengetahui macam- macam Pendekatan Manajemen Kelas.
1.3.8 Untuk mengetahui kefektifan pendekatan dan metode dalam
manajemen kelas?
1.3.9 Untuk memahami aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam
manajemen kelas?

2. Pembahasan
2.1 Manajemen Kelas
Pengertian manajemen / pengelolaan kelas adalah keterampilan guru
untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan
mengendalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Dalam menejemen kelas atau yang disebut dengan pengelolaan kelas yang
didalamnya terdapat unsur ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan,
pengadministrasian, pengaturan, atau penataan kegiatan yang berlangsung
didalam kelas. Selain itu juga ada pula pendapat yang dikutip oleh Abudin
Nata dalam menejemen pengajaran secara manusiawi mengatakan
pengelolaan kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan
belajar sesama yang mendapat pengajaran dari guru. Hal ini dilakukan sebagai
upaya mendayagunakan potensi kelas.
Dengan demikian menejemen kelas atau pengelolaan kelas dapat kita
pahami bahwa merupakan kegiatan yang berupaya menciptakan dan
mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar
mengajar. Berbagai upaya tersebut antara lain mengatur jadwal penggunaa
kelas dan berbagai sarana prasarana yang terdapat di dalamnya, serta
menertibkan perilaku peserta didik agar mereka berada didalam kelas dalam
keadaan yang teratur, rapi dan tertib. Dengan demikian, dalam pengelolaan
kelas ini termasuk pula menertibkan peserta didik yang melakukan berbagai
kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar, atau
suatu kegiatan yang mengganggu jalannya kegiatan belajar. Dalam kaitan ini,
maka pengelolaan kelas berkaitan pula upaya menertibkan peserta didik yang
bercanda, bergurau, berkelahi, bertengkar, dan berbagai tindakan lainnya yang
dapat mengganggu jalannya kegiatan proses belajar mengajar. Selain itu,
pengelolaan kelas juga termasuk pemberian hadiah bagi ketetapan waktu
penyelesasian tugas oleh siswa, atau penetapan norma, kelompok yang
produktif.

2.2 Fungsi dan Tujuan Manajemen Kelas


Kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas sebagai
aspek-aspek manajemen kelas, seperti tertuang dalam Petunjuk Pengelolaan
Kelas di Sekolah Dasar adalah berikut ini:
a. Mengecek kehadiran siswa,
b. Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil
pekerjaan tersebut,
c. Pendistribusian bahan dan/alat,
d. Mengumpulkan informasi dari siswa,
e. Mencatat atat data,
f. Perneliharaan arsip,
g. Menyampaikan materi pelajaran,
h. memberikan tugas/PR.
Sementara itu hal-hal yang perlu diperhatikan para guru, khususnya guru
baru dalam pertemuan pertama dengan siswa di kelas adalah:
a. Ketika bertemu dengan siswa, guru harus
1) bersikap tenang dan percaya diri, .
2) tidak menunjukkan rasa cemas, muka masam, atau sikap tidak
simpatik.
3) memberikan salam lalu memperkenalkan diri,
4) memberikan format isian tentang data pribadi siswa atau guru
menyuruh siswa menulis riwayat hidupnya secara singkat.
b. Guru memberikan tugas kepada siswa dengan tertib dan lancer
c. Mengatur tempat duduk siswa secara tertib dan teratur.
d. Menentukan tata cara berbicara dan tanya jawab.
e. Membuat denah kelas (tempat duduk siswa).
f. Bertindak disiplin baik terhadap siswa maupun terhadap, diri serdiri
(Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:13).
Konsep dasar yang perlu dicermati dalam manajemen kelas adalah
penempatan individu, kelompok, sekolah, dan faktor lingkungan yang
mempengaruhinya. Di samping sifat kelas peranan dan motif individu dalam
kelompok, sifat-sifat kelompok, penyesuaian yang terjadi dalam perilaku
kolektif, dan pandangan guru dalam mengajar.
Adapun tujuan pengelolaan kelas dikemukakan Dirjen PUOD dan
Dirjen Dikdasmen (1996) yang dikutip Rachman (1998/1999: 15), adalah:
a. Mewujudkan kondisi kelas baik sebagai lingkungan belajar ataupun
sebagai kelompok belajar yang memungkinkan berkembangnya
kemampuan masing-masing siswa.
b. Menghilangkan berbagai hambatan yang merintangi interaksi belajar yang
efektif.
c. Menyediakan fasilitas atau peralatan dan mengaturnya hingga kondusif
bagi kegiatan belajar siswa yang sesuai dengan tuntutan pertumbuhan dan
perkembangan sosial, emosional dan intelektualnya.
d. Membina perilaku siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi,
budaya dan keindividualannya.
Konsep dasar yang perlu dicermati dalam manajemen kelas adalah
penempatan individu, kelompok, sekolah dan faktor lingkungan yang
mempengaruhinya. Tugas guru seperti mengontrol, mengatur atau
mendisiplinkan peserta didik adalah tindakan yang kurang tepat lagi untuk
saat ini. Sekarang aktivitas guru yang terpenting adalah memenej,
mengorganisir dan mengkoordinasikan segala aktivitas peserta didik menuju
tujuan pembelajaran. Mengelola kelas merupakan keterampilan yang harus
dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis dan kemampuan
bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek manajemen
kelas.

2.3 Manajemen Pembelajaran


Gagne dan Briggs mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu
rangkaian events (kondisi, peristiwa, kejadian, dsb ) yang secara sengaja
dirancang untuk mempengaruhi pembelajar, sehingga proses belajarnya dapat
berlangsung mudah Pembelajaran bukan hanya terbatas pada kegiatan yang
dilakukan guru, seperti halnya dengan konsep mengajar. Pembelajaran
mencakup semua kegiatan yang mungkin mempunyai pengaruh langsung
pada proses belajar manusia. Pembelajaran mencakup pula kejadian-kejadian
yang diturunkan oleh bahan-bahan cetak, gambar, program radio, televisi,
film, slide maupun kombinasi dari bahan bahan itu.
Berpijak dari konsep manajemen dan pembelajaran, maka konsep
manajemen pembelajaran dapat diartikan proses mengelola yang meliputi
kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian (pengarahan) dan
pengevaluasian kegiatan yang berkaitan dengan proses membelajarkan si
pebelajar dengan mengikutsertakan berbagai faktor di dalamnya guna
mencapai tujuan. Dalam memanaje atau mengelola pembelajaran, manajer
dalam hal ini guru melaksanakan berbagai langkah kegiatan mulai dari
merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengarahkan
dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan.
Pengertian manajemen pembelajaran demikian dapat diartikan secara
luas dalam arti mencakup keseluruhan kegiatan bagaimana membelajarkan
siswa mulai dari perencanaan pembelajaran sampai pada penilaian
pembelajaran. Pendapat lain menyatakan bahwa manajemen pembelajaran
merupakan bagian dari strategi pembelajaran yaitu strategi pengelolaan
pembelajaran. Selain itu juga Manajemen pembelajaran dapat diartikan
sebagai usaha ke arah pencapaian tujuan-tujuan melalui aktivitas-aktivitas
orang lain atau membuat sesuatu dikerjakan oleh orang-orang lain berupa
peningkatan minat, perhatian, kesenangan, dan latar belakang siswa (orang
yang belajar), dengan memperluas cakupan aktivitas (tidak terlalu dibatasi),
serta mengarah kepada pengembangan gaya hidup di masa mendatang.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hal menajemen pembelajaran
sebagai berikut; jadwal kegiatan guru-siswa; strategi pembelajaran;
pengelolaan bahan praktik; pengelolaan alat bantu; pembelajaran ber-tim;
program remidi dan pengayaan; dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Pengertian manajemen di atas hanya berkaitan dengan kegiatan yang terjadi
selama proses interaksi guru dengan siswa baik di luar kelas maupun di dalam
kelas. Pengertian ini bisa dikatakan sebagai konsep manajemen pembelajaran
dalam pengertian sempit.Ada dasarnya manajemen pembelajaran merupakan
pengaturan semua kegiatan pembelajaran, baik dikategorikan berdasarkan
kurikulum inti maupun penunjang berdasarkan kurikulum yang telah
ditetapkan sebelumnya, oleh Departemen Agama atau Departemen
Pendidikan Nasional
2.4 Fungsi Manajemen Pembelajaran
Perencanaan adalah salah satu fungsi awal dari aktivitas manajemen
dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Menurut Anderson
(1989:47), perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan
kerangka kerja untuk mengarahkan tindakan seseorang dimasa depan.Yang
dimaksud dengan perencanaan pembelajaran menurut Davis (1996) adalah
pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk merumuskan tujuan
mengajar.
Dalam kedudukannya sebagai seorang manajer, guru melakukan perencanaan
pembelajaran yang mencakup usaha untuk :
1. Menganilisis tugas.
2. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan atau belajar.
3. Menulis tujuan belajar.
4. Mengorganisisr Sumber Daya Pembelajaran
Lebih jauh menurut Davis, proses pengorganisasian dalam pembelajaran
meliputi empat kegiatan, yaitu :
a. Memilih alat taktik yang tepat.
b. Memilih alat bantu belajar atau audio-visual yang tepat.
c. Memilih besarnya kelas (jumlah murid yang tepat).
d. Memilih strategi yang tepay untuk mengkomunikasikan peraturan-
peraturan, prosedur-prosedur serta pengajaran yang kompleks.
Ahmad Tafsir (1992:33) berpendapat bahwa metodologi pengajaran adalah
pengetahuan yang membicarakan berbagai metode mengajar yang dapat
digunakan oleh guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar.
Dalam hal ini metode mengajar adalah :
a. Merupakan salah satu komponen dari proses pendidikan.
b. Merupakan alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat-alat bantu
mengajar.
c. Merupakan kebulatan dalam satu sistem pengajaran.
Dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah taktik atau strategi yang
digunakan oleh guru dalam menyampaikan mata pelajaran kepada peserta
didik. Menurut Davis (1996) bahwa dalam memilih metode sangat tergantung
pada sifat tugas, tujuan pengajaran yang akan dicapai, kemampuan dan
pengetahuan sebelumnya serta umur murid. Guru sebagai manajer dapat
mengorganisasikan bahan pelajaran untuk disampaikan kepada murid dengan
beberapa metode, yaitu :
1. Metode Ceramah.
2. Metode Demontrasi.
3. Metode Diskusi.
4. Metode Tanya-Jawab.
5. Metode Driil atau Latihan Siap.
6. Metode Resitasi atau Pemberian Tugas Belajar
Setiap aktifitas yang akan dilakukan tentu memiliki tujuan yang ingin
dicapai, sama halnya dengan manajemen pembelajaran mempunyai tujuan
yang ingin dicapai. Dalam hal ini Rohman dan Sofan memaparkan (2012:251)
tentang tujuan manajemen pembelajaran secara garis besar sebagai berikut.
a. Untuk mengelola perancangan (disain) pembelajaran.
b. Untuk mengelola implementasi kurikulum pembelajaran.
c. Untuk mengelola pelaksanaan evaluasi kurikulum/pembelajaran.
d. Untuk mengelola perumusan penetapan kriteria dan pelaksanaan
kurikulum kelas/kelulusan dalam pembelajaran.
e. Untuk mengelola pengembangan bahan ajar, media dan sumber belajar.
f. Untuk mengelola pengembangan ekstrakurikuler dan ko-kurikuler.
g. Untuk mengelola penerapan uji coba atau merintis pembelajaran yang
dicenangkan pemerintah pusat.
2.5 Perbedaan Manajemen Kelas dan Manajemen Pembelajaran
Manajemen atau Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang
dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar
tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar
sebagaimana yang diharapkan. Dalam menejemen kelas atau yang disebut
dengan pengelolaan kelas yang didalamnya terdapat unsur ketatalaksanaan,
tata pimpinan, pengelolaan,pengadministrasian, pengaturan, atau penataan
kegiatan yang berlangsung didalam kelas. Manajemen pembelajaran
berhubungan dengan kurikulum atau dapat diartikan sebagai usaha ke arah
pencapaian tujuan-tujuan melalui aktivitas-aktivitas orang lain atau membuat
sesuatu dikerjakan oleh orang-orang lain berupa peningkatan minat, perhatian,
kesenangan, dan latar belakang siswa (orang yang belajar), dengan
memperluas cakupan aktivitas (tidak terlalu dibatasi), serta mengarah kepada
pengembangan gaya hidup di masa mendatang. menajemen pembelajaran
sebagai berikut; jadwal kegiatan guru-siswa; strategi pembelajaran;
pengelolaan bahan praktik; pengelolaan alat bantu; pembelajaran ber-tim;
program remidi dan pengayaan; dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Pengelolaan dan pembelajaran dapat dibedakan tapi memilki fungsi
zang sama. Pengelolaan tekannya lebih kuat pada aspek pengaturan
(management) lingkungan pembelajaran, sementara pembelajaran
(instruction) lebih kuat berkenaan dengan aspek mengelola atau memproses
materi pelajaran. Pada akhirnya dari kedua aktivitas tersebut, keduanya
dilakukan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang sama yaitiu tujuan
pembelajaran. Contoh aspek pengelolaan, jika di dalam kelas terdapat gambar
yang di anggap kurang baik atau tidak apada tempatnya untuk ditempelkan di
dinding karena akan menggangu konsentrasi siswa dalam belajar, maka guru
tersebut memindahkannya dan menempatkan pada tempat yang di anggap
paling cocok. Adapun pembelajaran, jika diperoleh siswa yang mengelami
kesulitan belajar untuk materi-materi tertentu, maka guru mengidentifikasi
sebab-sebabnya, dan membantu siswa mengahadapi kesulitan-kesulitan yang
dihadapinya itu Komponen-Komponen Pengelolaan Kelas. Pengelolaan kelas
dilakukan untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran zang lebih
berkualitas. Oleh karena itu pendekatan atau teori apapun zang dipilih dan
zang dijadikan dasar dalam pengelolaan kelas, harus diorientasikan pada
terciptanya proses pembelajaran secara aktif dan produktif.
2.6 Pengertian Pendekatan Manajemen Kelas
Keharmonisan hubungan guru dan siswa, tingginya kerjasama di antara siswa
tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung
dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.
(Djamarah 2006:179) Pendekatan yang dipilih guru senantiasa diselaraskan
dengan kebutuhandan karakteristik siswa. Pendekatan pada dasarnya
dikelompokkan menjadi dua, yaitu pendekatan manajerial dan pendekatan
psikologikal. Manajemen dari kata Management . Diterjemahkan pula
menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif
untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang
memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan
pencapaian tujuan. Maksud manajemen kelas adalah mengacu kepada
penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas
tersebut dapat belajar dengan efektif. Suharsimi Arikunto (1988) suatu usaha
yang dilakukan guru untuk membantu menciptkan kondisi belajar yang
optimal. Pengertian lain dikemukaan sebagai proses seleksi tindakan yang
dilaljukan guru dalam funsinya sebagai penanggung jawab kelas dan seleksi
penggunaan alat-alat belajar yang tepat sesuai masalah yang ada dan
karakteristik kelas yang dihadapi.
2.7 Macam-macam Pendekatan Manajemen Kelas
1. Pendekatan otoriter
Pendekatan otoriter adalah pendekatan yang menempatkan guru dalam
peranan menciptakan dan memelihara ketertiban di kelas dengan
menggunakan strategi pengendalian. Tujuan guru yang utama ialah
mengendalikan perilaku peserta didik hal ini dikarenakan gurulah yang
paling mengetahui dan berurusan dengan peserta didik. Pendekatan
otoriter jangan dipandang sebagai strategi yang bersifat mengintimidasi.
Guru otoriter bertindak untuk kepentingan peserta didik dengan
menerapkan disiplin yang tegas. Pendekatan otoriter menawarkan 5
strategi yang dapat diterapkan dalam mengelola kelas:
a. Menetapkan dan menegakkan peraturan Menetapkan dan menegakkan
peraturan adalah kegiatan guru menggariskan pembatasan-pembatasan
dengan memberitahukan kepada peserta didik apa yang diharapkan dan
mengaoa hal tersebut diperlukan.
b. Memberikan perintah, pengarahan dan pesan Memberikan perintah,
pengarahan dan pesan adalah strategi atau cara guru dalam
mengendalikan perilaku peserta didik agar peserta didik melakukan
sesuatu yang diinginkan guru.
c. Menggunakan teguran ramah Menggunakan teguran ramah adalah
strategi mengelola kelas yang digunakan guru dengan cara memarahi
peserta didik yang berperilaku tidak sesuai dan yang melanggar
peraturan dengan cara lemah lembut.
d. Menggunakan pengendalian dengan mendekati Menggunakan
pengendalian dengan mendekati adalah tindakan guru bergerak
mendekati peserta didik yang dilihatnya berperilaku menyimpang atau
cenderung menyimpang.
e. Menggunakan pemisahan dan pengucilan dan juga penskoran atau
penahanan Adalah strategi guru dalam mersepon terhadap perilaku
menyimpang peserta didik yang tingkat penyimpanganya cukup berat.
2. Pendekatan intimidasi
Berbeda dari pendekatan otoriter yang menekankan perilaku guru yang
manusiawi, pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku guru yang
mengintimidasi. Bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang kasar,
ejekan, hinaan, paksaan, ancaman, menyalahkan. Perana guru adalah
memaksa peserta didik berperilaku sesuai perintah guru. Pendekatan
intimidasi berguna dalam situasi tertentu dengan menggunakan teguran
keras. Teguran keras adalah perintah verbal yang keras yang diberikan
pada situasi tertentu agar segera menghentikan perilaku siswa yang
penyimpanganya berat. Dengan demikian, pendekatan intimidasi hanya
baik untuk menghentikan perbuatan yang salah berat dengan segera.
Apabila hal itu terselesaikan atau berhenti maka tindakan intimidasi tidak
akan seproduktif strategi lain. Kelemahan dari pendekatan ini adalah
bersifat pemecahan masalah secara sementara dan hanya menangani
gejala-gelaja masalahnya bukan masalahanya itu sendiri. Kelemahan
lainnya yaitu tumbuhnya sikap bermusushan dan hancurnya hubungan
antara gur dan peserta didik
3. Pendekatan permisif
Pendekatan permisif adalah pendekatan yang menekankan perlunya
memaksimalkan kebebasan siswa. Tema sentral pendekatan ini adalah
apa, kapan, dan dimanapun juga gurunya hendak membiarkan oeserta
didik bertindak bebas sesuai dengan yang diinginkannya. Peranan guru
adalah meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab hal itu akan
membantu pertumbuhanya secar awajar. Pendekatan permisif sedkit
penganjuranya. Pendekatan ini kurang menyadari bahwa sekolah dan kelas
adalah system social yang meiliki pranata-pranata social. Dalam system
social para anggotanya, dalam hal ini, gur dan peserta didik menyandang
kewajiban. Banyak pendapatan yang memyatakan bahwa pendekatan
permisif dalam bentuknya yang murni, tidak produktif diterapkan dalam
situasi atau lingkungan sekolah dan kelas. Dengan demikian, guru harus
dapat menemukan cara untuk meberikan kebebasan sebesar-besarnya
kepada peserta didik di satu sisi, di sisi lain tetap dapat mengendalikan
kebebasan itu dengan penuh tanggung jawab.
4. Pendekatan Buku Masak
Pendekatan Buku Masa adalah pendekatan berbetuk rekomendasi berisi
daftar hal yang harus di lakukan atau yang farus tudak di lakukan oleh
seorang guru apabila menghadapi berbagai tipe masalah managemen kels,
tanpa banyak berfikir lagi. Kelemahan Pendekatan ini adalah pendekatan
buku masak tidak dijabarkan atas dasar konsep yang jelas,sehingga tidak
di temukan prinsip- prinsip yang memungkinkan guru menerapkan secara
umum pada masalah- masalah lain. Pendekatan ini juga cenderung
menumbuhkan sikap reaktif pada diri guru dalam mengelola kelas.
Kelemahan lain pendekatan buku masak adalah apabila resep tertentu
gagal mencapai tujuan, guru tidak dapat memilih alternative lain, karena
pendekatan ini bersifat mekanistik. Guru yang bekerja dengan kerangka
acuan buku masak akan merugikan diri sendiri dan tidak mungkin menjadi
manajer kelas yang aktif.
5. Pendekatan Intruksional
Pendekatan intruksional Adalah pendekatan yang mendasarkan kepada
pendirian bahwa pengajran yang di rancang dan di alksanakan dengan
cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar masalah manajerial
kelas. Dengan demikian peranan guru adalah merencanakan dengan teliti
pelajaran yang baik , kegiatan belajar yang di sesuaikan dengan kebutuhan
dan kemampuan setiap peserta didik. Para pengembang pendekatan
intstruksional menyarankan guru dalam mengembangkan setrategi
managemen kelas memperhatikan hal- hal berikut ini :
a. Menyampaikan kurikulum dan pelajaran dengan cara yang menarik,
relevan, dan sesuai secara emperis di anggap sebagai penangkal perilaku
menyimpang para peserta didik di dalam kelas.
b. Menerapkan kegiatan yang efektif di dalam kelas adalah kemampuan
guru mengatur arus dan tempo kegiatan kelas oleh banyak orang sehinga
mencegah oeserta didik melalaikan tugasnya
c. Menyiapkan kegiatan rutin kelas Adalah kegiatan sehari hari yang perlu
di pahami dan di lakukan peserta didik. Informasi kegiatan ini di
sampaikan guru pada awal pertemuan dengan para peseta didik di kelas.
d. Memberikan pengarahan yang jelas adalah kegiatan mengkomunikasikan
harapan- harapan yang diinginkan guru. Intruksi yang jelas, sederhana,
ringkas, tepat pada sasaran, sistenatis akan membantu keefetivan
managemen kelas, sehingga masalah- masalah menyimpang yang
disebabkan oleh pengarahan yang buruk dapat di hindari.
e. Memberikan dorongan yang bermakna adalah suatu proses usaha guru
dalam menunjukan minat yang sungguh-sungguh terhadap perilaku
pesesrta didik yang menunjukan tanda tanda kebosanan dan keresahan,
kegiatannya misalnya guru daoat mendekati peserta didik, memeriksa
pekerjaannya, memberikan penghargaan pada usahanya dan memberikan
saran saran perbaikan lebih lanjut.
f. Memberikan bantuan mengatasi rintangan adalah bentuk pertolongan
yang di berikan oleh guru untuk membantu peserta didik menghadapi
persoalan yang mematahkan semangat pada saat mereka benar benar
memerlukannya.
g. Merencanakan perubahan lingkungan adalah proses mempersiapkan kelas
atau lingkungan mengahadapi perubahan- perubahan situasi misalnya,
peseta didik harus disiapkan atas kemungkinan guru tidak dapat hadir
selama beberapa hari dan akan digantikan oleh guru lain.
h. Mengatur kembali struktur situasi adalah setrategi menejerial kelas dalam
memulai suatu kegiatan atau mengerjakan tugas dengan cara yang lain
atau cara yang berbeda.
2.8 Keefektifan Penggunaan Pendekatan dan Metode dalam Manajemen
Kelas
Keefektifan pendekatan dan metode manajemen kelas dapat dilihat dari
tingkat tercapainya tujuan dari pengelolaan dan manajemen kelas . Guru
dalam melakukan tugas mengajar di suatu kelas, perlu merencanakan dan
menentukan pengelolaan kelas yang bagaimana yang perlu dilakukan dengan
memperhatikan kondisi kemampuan belajar siswa serta materi pelajaran yang
akan diajarkan di kelas tersebut. Menyusun strategi untuk mengantisipasi
apabila hambatan dan tantangan muncul agar proses belajar mengajar tetap
dapat berjalan dan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai.
Dalam penggunaan pendekatan dan metode di dalam pengelolaan kelas tidak
ada yang paling baik, melainkan saling melengkapi. Penggunaan pendekatan
akan efektif jika dapat diterapkan dengan tepat sesuai dengan situasi dan
kondisi yang tepat pula, begitu pun dengan metode manajemen kelas. Dari
sekian banyak pendekatan yang ada dalam manajemen kelas, pendekatan yang
efektif digunakan dalam manajemen kelas yaitu Pendekatan Elektis atau
Pluralistik karena dalam pendekatan elektis (electic approach) menekankan
pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam
memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya.
Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah
satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dua atau ketiga
pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik,
yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam
pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan
mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar
berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas
pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan, kondisi riil gaya
mengajarnya, tujuan belajar, kebutuhan siswa dan berbagai variabel
kontekstual untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang
memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan
efisien. Dalam menerapkan pendekatan-pendekatan manajemen kelas, guru
juga harus melibatkan metode dalam memanage kelas. Metode digunakan
melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa
metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat
divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan
dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam pembelajaran maupun manajemen kelas perlu adanya metode yang
tepat agar pelaksanaan pembelajaran efektif dan kondusif. Metode yang
efektif digunakan ialah metode pembelajaran behavoristik. Inti metode
behavioristik adalah memodifikasi perilaku siswa, yang modifikasi itu
dilakukan oleh guru, sedangkan perubahan perilaku umat bergantung pada
kesadaran siswa. Pelatihan diberikan kepada guru berfokus pada upaya
mencari pemecahan atas perilaku menyimpang yang dilakukan para siswa
dengan jalan menerapkan teknik-teknik modifikasi perilaku (behavior
modification techniques) menuju perilaku yang dikehendaki, tanpa berarti
mengabaikan kebebasan siswa.
2.9 Aspek-aspek Manajemen Kelas
Lois V. Johnson dan Mary Bany (1970 dalam Sudarwan Danim dan Yunan
Danim, 2010) mengemukakan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam
manajemen kelas, yaitu sebagai berikut:
1. Sifat-sifat kelas Sebagai wahana belajar, kelas memiliki berbagai aneka
varians yang memengaruhinya, seperti jumlah siswa, ventilasi, ukuran
ruang kelas, kepengapan, kebisingan, teknologi yang tersedia, fasilitas
pembelajaran, homogenitas, atau heterogenitas siswa di kelas dan yang
lainnya
2. Pendorong kekuatan kelas Misalnya kondisi siswa sebagai masukan, iklim
interaksi guru dengan siswa, kewibawaan sekolah dan sebagainya.
3. Memahami bagian kelas Misalnya, pemahaman tentang lingkungan kelas,
sumber daya kelas, pencahayaan, kebisingan, dan sebagainya.
4. Mendiagnosis situasi kelas. Misalnya, kemampuan guru mendiagnosis
kemampuan siswa, mempertimbangkan keputusan yang dilematis, dan
lain-lain
5. Bertindak selektif Yakni guru tidak gegabah dan pukul rata dalam
memberi pertimbangan atau tindakan terhadap siswa
6. Bertindak kreatif Yakni guru memberikan paluang kepada siswa untuk
membuat keputusan sendiri, mencari terobosan baru dalam disiplin kelas
dan lain-lain
7. Untuk memperbaiki kondisi kelas Misalnya, melakukan penyempurnaan
atas tata kelas, disiplin kelas, sistem pembelajaran dan lain-lain

Kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas sebagai


aspek-aspek manajemen kelas seperti tertuang dalam Petunjuk Pengelolaan
Kelas di Sekolah Dasar (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996 dalam
Rasdi Ekosiswoyo dan Maman Rachman, 2000) adalah sebagai berikut:

1. Mengecek kehadiran siswa


2. Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa
3. Mendistribusikan bahan dan alat
4. Mengumpulkan informasi identitas siswa
5. Mencatat data
6. Memelihara arsip
7. Menyampaikan bahan pelajaran
8. Memberikan tugas/PR
3. Penutup
3.1 Simpulan
Manajemen kelas berbeda dengan manajemen pembelajaran.
Manajemen / Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar tercapai
kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar sebagaimana yang
diharapkan. Atau pengelolaan kelas adalah suatu keterampilan untuk
bertindak dari seorang guru berdasarkan atas sifat-sifat kelas dengan tujuan
menciptakan situasi pembelajaran ke arah yang lebih baik. Sedangkan
manajemen pembelajaran berhubungan dengan kurikulum atau dapat diartikan
sebagai usaha ke arah pencapaian tujuan-tujuan melalui aktivitas-aktivitas
orang lain atau membuat sesuatu dikerjakan oleh orang-orang lain berupa
peningkatan minat, perhatian, kesenangan, dan latar belakang siswa (orang
yang belajar), dengan memperluas cakupan aktivitas (tidak terlalu dibatasi),
serta mengarah kepada pengembangan gaya hidup di masa mendatang.
3.2 Saran
Diharapkan guru kelas diwajibkan untuk memiliki kompetensi khusus dalam
mengelola kelas dan mengelola pembelajaran agar suasana belajar yang
menyenangkan, efektif dan efisien dapat terlaksana dengan baik. Dalam
pelaksanaan manajemen kelas yang memiliki banyak cara atau pendekatan
yang dilakukan. Seorang pendidik atau guru harus pandai dan selektif dalam
memilih dan melaksanakan pendekatan yang ada agar sesuai dengan situasi
dan kondisi kelas agar dapat meningkatkan minat siswa untuk mencapai
kompetensi belajar. Selanjutnya, guru hendaknya memperhatikan aspek-aspek
dalam mengelola kelas, karena aspek-aspek tersebut akan berpengaruh
terhadap keberhasilan suatu pembelajaran yang dikelola guru.
DAFTAR PUSTAKA

Prof.Dr.abudin nata,Perspekif islam tentang strategi pembelajaran,(jakarta: Kencana


media gruop. )2009 :340
Racman, Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

Salman, Rusydi. 2011. Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas. Jakarta : Diva Press