Anda di halaman 1dari 80

2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd.

MODUL TRIGONOMETRI
2016

EFUANSYAH, M.Pd.
STKIP PGRI LUBUKLINGGAU
Untuk Kalangan Sendiri

i
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah, Kami panjatkan kehadirat Allah, SWT karena
dengan rahmat dan karunia-Nya Modul Trigonometri ini dapat diselesaikan
tepat pada waktunya.
Dalam pembuatan modul ini, Kami menyampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak terutama mahasiswa angkatan 2015/2016 yang telah
berkontribusi. Berkat kerjasama dari berbagai pihak akhirnya modul ini dapat
diselesaikan walaupun masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, sepantasnya
Kami mengucapkan rasa terima kasih.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki modul ini.
Akhir kata Kami berharap semoga modul Trigonometri ini dapat
memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Lubuklinggau, September 2016

Penulis

ii
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN ...................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I SUDUT DAN UKURAN SUDUT


A. .. Definisi Sudut .......................................................................................... .. 1
B. Ukuran Sudut dalam Derajat ........................................................................ 2
C. Ukuran Sudut dalam Radian ........................................................................ 4
D. Mengubah Ukuran Sudut dari Derajat ke Radian dan Sebaliknya ............. 5
E. Jenis-jenis Sudut ........................................................................................... 8

BAB II FUNGSI TRIGONOMETRI


A. Definisi Fungsi Trigonometri ............................................................. 11
B. Nilai Fungsi Trigonometri .................................................................. 11
C. Fungsi Tangen .................................................................................... 13
D. Fungsi Trigonometri Lainnya ............................................................. 15

BAB III GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI


A. Grafik Fungsi Trigonometri ................................................................ 18
B. Grafik Fungsi Trigonometri Sinus ...................................................... 18
C. Grafik Fungsi Trigonometri Cosinus .................................................. 20
D. Grafik Fungsi Trigonometri Tangen ................................................... 21
E. Grafik Fungsi Trigonometri Cosecan ................................................. 23
F. Grafik Fungsi Trigonometri Secan ..................................................... 25
G. Grafik Fungsi Trigonometri Cotangen ................................................ 26

BAB IV IDENTITAS TRIGONOMETRI


A. Pengertian Identitas Trigonometri ..................................................... 29
B. Relasi Dasar ........................................................................................ 29
C. Pembuktian Identitas atau Kesamaan Trigonometri ........................... 30

BAB V RUMUS JUMLAH DAN SELISIH DUA SUDUT

iii
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

A. Rumus Jumlah dan Selisih Dua Sudut ................................................ 34


B. Rumus Cos .............................................................................. 34

C. Rumus Sin ............................................................................... 35

D. Rumus Tan .............................................................................. 36

E. Rumus Cot .............................................................................. 37

F. Latihan ............................................................................................... 40

BAB VI SUDUT-SUDUT DALAM SEGITIGA


A. Rumus Sudut Rangkap ....................................................................... 41
B. Rumus Sudut Pertengahan ................................................................. 43

BAB VII SUDUT-SUDUT DALAM SEGITIGA


A. Rumus Sudut Lipat ............................................................................ 48
B. Rumus Sudut Pangkat ......................................................................... 50

BAB VIII ATURAN SINUS, COSINUS DAN LUAS SEGITIGA


A. Aturan Sinus ....................................................................................... 56
B. Aturan Cosinus ................................................................................... 58
C. Luas Segitiga ...................................................................................... 60

BAB IX SISTEM PERSAMAAN TRIGONOMETRI


A. Sistem Persamaan Trigonometri ........................................................ 63
B. Persamaan Trigonometri Dasar .......................................................... 63
C. Persamaan Fungsi Trigonometri ........................................................ 64

BAB X PERTIDAKSAMAAN TRIGONOMETRI


A. Pertidaksamaan Trigonometri ............................................................ 70
B. Pertidaksamaan Sinus ........................................................................ 73
C. Pertidaksamaan Cosinus .................................................................... 73
D. Pertidaksamaan Tangen ..................................................................... 74

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 76

iv
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd.

BAB I
SUDUT DAN UKURAN SUDUT

A. DEFINISI SUDUT
Sudut adalah himpunan dari dua buah sinar garis dimana pangkal dari
kedua sinar garis tersebut bersekutu/bertemu.
P

R
Keterangan:
1. Sinar garis QP dan QR membentuk sudut PQR (PQR) atau RQP (RQP)
2. Sinar garis QP dan QR disebut kaki sudut
3. Q merupakan titik sudut
Menurut Gagne, sudut adalah suatu konsep dasar, maka dari beberapa
cara untuk mendefinisikan tentang pengertian sudut, dapat melalui salah satu
pendekatan melalui rotasi garis sebagai berikut.

Sebuah sudut adalah gabungan dua buah sinar tidak kolinier (sinar-sinar
itu tidak terletak pada sebuah garis) yang bersekutu pada pangkalnya. Sudut
yang terbentuk dari dua buah sinar garis adalah rentangan terkecil dan bukan
rentangan besarnya. Berikut adalah sudut yang terbentuk dari gabungan dua
sinar garis dimaksud.

1
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Memberi nama sebuah sudut dapat dilakukan dengan menggunakan


satu huruf misalnya , , atau yang diletakkan di daerah dalam sudut, atau
menggunakan tiga hurup besar, satu huruf diletakkan pada titik sudut dan dua
huruf yang lain diletakkan pada perpanjangan sinar-sinarnya. Berikut dua
cara penamaan sudut.
C


B A

Sudut di sebelah kiri adalah sudut , sedangkan sudut di sebelah kanan


adalah sudut ABC atau sudut CBA. Memberi nama sudut seperti yang di
sebelah kanan huruf yang terletak pada titik sudut harus diletakkan di tengah-
tengah. Notasi untuk sudut ABC dapat ditulis dengan < ABC.

B. UKURAN SUDUT DALAM DERAJAT


Besar suatu sudut dalam ukuran derajat dapat dijelaskan dengan
mengunakan konsep sudut sebagai jarak putar. Untuk tujuan itu, simaklah
deskripsi berikut ini.
Pada Gambar I diperlukan sebuah jarum jam yang dapat berputar bebas
terhadap titik pangkal jarum. Titik pangkal ini diberi nama titik O dan titik O
terletak pada garis mendatar OX. Misalkan titik ujung jarum mula-mula
berada pada titik A (A terdapat pada garis OX) sehingga sudut yang dibentuk
oleh jarum terhadap garis OX sama dengan nol derajat . Kemudian jarum
diputar berlawanan arah dengan arah gerak jarum jam biasa sehingga
diperoleh hasil seperti ditunjukkan pada Gambar I. Sudut antara jarum dengan

2
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

garis OX merupakan jarak putar dan sudut tersebut akan semakin besar jika
jarak putarannya diperbesar.

Gerak jarum jam dalam deskripsi di atas dapat dituliskan oleh gerak dan
jari-jari lingkaran seperti diperlihatkan pada Gambar I, sehingga ukuran besar
sudut ditentukan oleh jarak putar jari-jari lingkaran terhadap garis OX.
Sekarang jika jarum digerakkan sehingga ujungnya yang semula di A
berpindah ke B, kemudian ke C, dan kembali lagi ke A, maka dikatakan jarum
ini bergerak dalam satu putaran. Panjang lintasan yang dilalui oleh titik ujung
jarum sama dengan keliling lingkaran dan besar sudut yang disapu oleh
jarum sama dengan .
Berdasarkan deskripsi di atas, ukuran sudut dalam derajat dapat
didefinisikan sebagai berikut:
Definisi: Ukuran Sudut dalam Derajat
Satu derajat (ditulis = 1 ) didefinisikan sebagai ukuran besar sudut yang

disapu oleh jari-jari lingkaran dalam jarak putar sejauh putaran.

Definisi ini secara singkat dituliskan sebagai berikut:


putaran

Ukuran-ukuran sudut yang lebih kecil dari ukuran derajat, dinyatakan


dalam ukuran menit dan ukuran detik. Ukuran-ukuran sudut dalam derajat,
menit, dan detik mengikuti aturan sebagai berikut.
a. 1 derajat menit atau 1 menit derajat

Ditulis:
1 atau 1

3
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

b. 1 menit = 60 detik atau 1 detik = menit

Ditulis:
1 = 60 atau 1 =

Contoh 1:
Diketahui besar sudut .
a) Nyatakan besar sudut itu dalam notasi desimal.
b) Hitunglah (nyatakan hasilnya dalam ukuran derajat, menit, dan detik) :
(i) (ii)

Jawab:
a) Untuk menyatakan sudut dalam bentuk desimal, maka bagian yang
berukuran menit (24) diubah terlebih dulu ke dalam ukuran derajat
sebagai berikut.

24 =

Dengan demikian,
Jadi, bentuk desimal dari adalah .

b) (i) (ii)

Jadi,

Jadi,

C. UKURAN SUDUT DALAM RADIAN


Berdasarkan Gambar (a) tampak bahwa juring atau sektor PMQ
diperoleh dari juring PMQ sebagai akibat perbesaran (dilatasi) yang berpusat
di M. oleh karena itu, juring PMQ sebangun dengan juring PMQ.
Kesebangunan ini menghasilkan hubungan:

4
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Nilai perbandingan merupakan ukuran sudut PMQ

yang dinyatakan dalam ukuran radian.

Gambar II
Sekarang perhatikan gambar (b). Misalkan panjang busur PQ = jari-jari
lingkaran = r atau panjang busur PQ = MP = r, maka nilai perbandingan:

Dalam hal demikian dikatakan bahwa besar sudut sama dengan 1


radian.
Definisi ukuran sudut dalam radian yaitu:
Satu radian (ditulis: 1 rad) didefinisikan sebagai ukuran sudut pada
bidang datar yang berada di antara dua jari-jari lingkaran dengan panjang
busur sama dengan panjang jari-jari lingkaran itu.

D. MENGUBAH UKURAN SUDUT DARI DERAJAT KE RADIAN DAN


SEBALIKNYA
Sekarang timbul pertanyaan bagaimana hubungan antara besar suatu
sudut yang dinyatakan dalam ukuran derajat dengan besar sudut itu jika
dinyatakan dalam ukuran radian?

Berdasarkan gambar dapat ditetapkan sebagai berikut:

5
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

a) Besar sudut PMQ dalam ukuran derajat


< PMQ = 180o, sebab < PMQ adalah sudut setengah lingkaran penuh.
b) Besar sudut PMQ dalam ukuran radian

sebab panjang busur PQ = setengah keliling lingkaran

Oleh karena 180o = radian, maka diperoleh:

a)

b) 1 radian =

Dalam beberapa perhitungan, seringkali digunakan nilai pendekatan


untuk . Sehingga hubungan dalam persamaan dapat ditulis
kembali sebagai berikut:
a)

b) .

Contoh 2:
Nyatakan ukuran sudut-sudut berikut dalam ukuran radian.
a) 100o
b) 42o 24 35
Jawab:
Untuk mengubah ukuran sudut dari derajat ke dalam radian, hubungan yang
digunakan adalah atau 1o = 0,017453 radian.

a)

Jadi, .

b) 42o 24 35 =

=
=

6
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

=
=
Jadi, 42o 24 35 =

Contoh 3:
Nyatakan ukuran sudut-sudut berikut dalam ukuran derajat:
a) radian

b) radian

Jawab:

a) radian = 1 radian = = 140o

Jadi, radian = 140o

b) radian = 1 radian = atau

radian = 1 radian = 57,296o = 14,324o

Jadi, radian = atau radian = 14,324o.

Contoh 4:
Sebuah roda berputar dengan laju sudut 36 rpm (revolusion per minute atau
putaran per menit). Nyatakan laju sudut radian itu dalam satuan:
a) Putaran/detik
b) Radian/menit
Jawab:
a) 36 rpm = 36 putaran per menit
= 36 putaran/menit
= putaran/detik

= 0,6 putaran/detik
Jadi, 36 rpm = 0,6 putaran/detik.
b) Satu putaran penuh menempuh sudut radian, maka:
36 putaran/menit = 36 ( radian)/menit = 72 radian/menit.

7
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi, 36 rpm = 72 radian/menit.

E. JENIS-JENIS SUDUT
Besar suatu sudut dapat diukur dengan menggunakan busur derajat.
Besar sudut yang dapat diukur adalah lebih dari 0 dan kurang dari 360.
Besar sudut-sudut dapat dibedakan seperti sudut lancip, sudut tumpul, sudut
siku-siku, sudut lurus, dan sudut refleks.
1. Sudut Lancip
Sudut lancip yaitu sudut yang besarnya kurang dari 90 .

2. Sudut Siku-siku
Penggunaan sudut siku-siku sangatlah penting dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya pada pintu rumah, pintu lemari, atau buku pelajaran
kalian yang masing-masing pojoknya membentuk sudut, yaitu sudut siku-
siku.
Coba kalian perhatikan pintu yang ada di rumah kalian (misalkan
pintu rumah kita angkat dan diletakkan), ternyata pintu tersebut
berbentuk persegi panjang dan semua pojok-pojoknya membentuk siku-
siku. Sudut siku-siku adalah sudut yang besarnya 90. Sudut siku-siku
biasa dinotasikan dengan .

3. Sudut Tumpul
Sudut tumpul adalah sudut yang besarnya lebih dari 90 dan kurang
dari 180.

8
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

4. Sudut Lurus
Gambar di bawah menunjukkan dua buah segitiga siku-siku yang
dibuat sedemikian sehingga salah satu sisi siku-siku segitiga yang
pertama berimpit dengan salah satu sisi siku-siku segitiga yang kedua.
Sisi siku-siku yang tidak berimpit membentuk garis lurus.

Dua buah sudut siku-siku, jika dijumlahkan menghasilkan satu sudut


lurus.

Sudut lurus tersebut dapat disimpulkan yaitu sudut yang besarnya 180.

5. Sudut Refleks
Sudut refleks adalah sudut yang besarnya lebih dari 180 dan
kurang dari 360.

9
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

6. Sudut Penuh
Sudut Penuh merupakan sudut tepat 360.

10
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB II
FUNGSI TRIGONOMETRI

A. DEFINISI FUNGSI TRIGONOMETRI


Trigonometri (dari bahasa Yunani trigono = tiga sudut dan metro =
mengukur) adalah sebuah cabang matematika yang berhadapan dengan sudut
segitiga dan fungsi trigonometri seperti sinus, cosinus, dan tangen. Dasar
dari trigonometri adalah konsep kesebangunan segitiga siku-siku.
Fungsi trigonometri adalah suatu fungsi dalam matematika yang
digunakan untuk melakukan perhitungan terhadap suatu sudut.

Fungsi dasar:
sin = atau sin =

cos = atau cos =

tan = atau tan =

cot =

sec =

csc =

B. NILAI FUNGSI TRIGONOMETRI


Menentukan nilai fungsi trigonometri sama dengan cara menentukan
fungsi linier, fungsi kuadrat yang sudah kita pelajari yakni dengan cara
mensubtitusikan nilai variabel yang diberikan ke dalam fungsi.

11
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Contoh 1:
Tentukan nilai perbandingan sin dan cos dari sudut dan pada segitiga di
bawah ini:

Jawab:
Panjang sisi miring segitiga di samping adalah (dengan
rumus phytagoras) sehingga,
sin = dan cos =

sin = dan cos =

Contoh 2:
Lihat gambar segitiga pada soal 1. Jika dalam tabel diketahui bahwa sin =
0,363 dan panjang sisi tegaknya adalah 5, maka hitunglah panjang kedua sisi
yang lainnya?
Jawab:
Misalkan panjang sisi miring = r dan sisi alas = x, maka berdasarkan
ketentuan definisi, diperoleh:
sin = 0,363 = r = 13,774

dengan rumus Pythagoras,


x=

x=

=
= 12,834
Contoh 3:

12
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Tentukan nilai fungsi dari = 2 sin x, jika nilai x =


Jawab:
= 2 sin
= 2 sin (

2( )

C. FUNGSI TANGEN
Jika nilai perbandingan dan ditentukan oleh nilai maka nilai

perbandingan juga ditentukan oleh nilai . Untuk nilai yang berbeda

maka nilai perandingan juga berbeda. Misalkan untuk nilai

perbandingan adalah , nilai perbandingan adalah , nilai

perbandingan adalah dan seterusnya. Maka dapat dinyatakan dalam

diagram panah sebagai berikut.

13
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Dari diagram panah di atas tampak bahwa fungsi h menentukan ke c.

Hal ini dikatakan bahwa fungsi h yang menyatakan nilai perbandingan

untuk disebutkan fungsi tangen (disingkat tan) atau dituliskan tan = .

Dalam setiap siku-siku, jika r = sisi miring (proyektum, hypotenuse), x


= sisi alas (proyeksi) dan y = sisi tegak (proyektor) dan sebagai yang diapit
oleh sisi alas dan sisi miring, maka definisi tangen adalah:

Tangen sudut =

Definisi di atas dituliskan dalam bentuk fungsi sebagai berikut:

tan =
(1-3)

Contoh 4:
Tentukan nilai perbandingan tan dari sudut dan pada segitiga di bawah
ini.

14
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jawab:
Panjang sisi tegak segitiga di samping adalah =

= = 30

Sehingga tan = dan tan =

Contoh 5:
Lihat gambar segitiga pada soal 1 di atas. Jika dalam tabel diketahui bahwa
tan = 1,636 dan panjang sisi alasnya adalah 15, maka hitunglah panjang
kedua sisi yang lainnya?
Jawab:
Misalnya panjang sisi miring = r dan sisi alas = x, maka berdasarkan
ketentuan definisi, diperoleh:
tan = 1,636 = y = 24,540

Dengan rumus Pythagororas


r=

r=

=
= 28,76

D. FUNGSI TRIGONOMETRI LAINNYA


Selain ketiga fungsi di atas, kita mengenal juga fungsi trigonometri
lainnya yaitu: secant (sec), cosecant (csc), dan cotangent (cot). Ketiga fungsi
ini disebut fungsi kebalikan yang didefinisikan sebagai berikut:

15
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

(a) sec =

(b) cos =

(b) cot =

Dalam keenam definisi fungsi trigonometri di atas, kita mendapatkan


hubungan rumus yang disebut rumus kebalikan dan rumus
perbandingan
Rumus kebalikan adalah:

(a) sin = (b) cos = (c) tan =

(d) csc = (e) sec = (f) cot =

Rumus kebalikan di atasdapat juga ditulis sebagai berikut:


1.
2.
3.
Sedangkan rumus perbandingannya adalah

(a) tan = (b) cot =


16
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

17
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB III
GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI

A. GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI


Fungsi trigonometri merupakan fungsi yang memetakan himpunan
bilangan ke himpunan bilangan real oleh suatu relasi sinus, cosinus,
tangen, kotangen, secan, atau kosekan.

B. GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI SINUS


Grafik fungsi trigonometri sinus, , dapat diselesaikan
dengan dua cara yaitu grafik fungsi trigonometri dalam ukuran derajat dan
grafik fungsi trigonometri dalam ukuran radian.
1. Grafik Fungsi Trigonometri dalam Ukuran Radian
Nilai fungsi untuk x sudut-sudut
istimewa diberikan oleh tabel berikut!

0 1 0

Jadi grafik dari tabel diatas yaitu:

18
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

2. Grafik Fungsi Trigonometri dalam Ukuran Derajat


Nilai fungsi untuk x sudut-sudut
istimewa diberikan oleh tabel berikut.

0 1 0

Jadi, grafik fungsi sinus dari tabel tersebut yaitu:

Grafik atau kurva dinamakan sinusoida.

19
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

C. GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI COSINUS


Grafik fungsi trigonometri cosinus, , dapat diselesaikan
dengan dua cara yaitu grafik fungsi trigonometri dalam ukuran derajat dan
grafik fungsi trigonometri dalam ukuran radian.
1. Grafik Fungsi Trigonometri dalam Ukuran Radian
Nilai fungsi untuk x sudut-sudut
istimewa diberikan oleh tabel berikut!
0

0 0

Jadi, grafik fungsi cosinus dari tabel tersebut yaitu:

2. Grafik Fungsi Trigonometri dalam Ukuran Derajat


Nilai fungsi untuk x sudut-sudut
istimewa diberikan oleh tabel berikut.

20
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

0 0

Jadi, grafik fungsi cosinus dari tabel berikut adalah:

D. GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI TANGEN


Grafik fungsi trigonometri tangen, , dapat diselesaikan
dengan dua cara yaitu grafik fungsi trigonometri dalam ukuran derajat dan
grafik fungsi trigonometri dalam ukuran radian.
1. Grafik Fungsi Trigonometri dalam Ukuran Radian
Nilai fungsi untuk x sudut-sudut
istimewa diberikan oleh tabel berikut.

0 1

21
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi, grafik dari tabel diatas adalah:

2. Grafik Fungsi Trigonometri dalam Ukuran Derajat


Nilai fungsi untuk x sudut-sudut
istimewa diberikan oleh tabel berikut!

0 1

Jadi, grafik dari tabel diatas adalah:

22
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

E. GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI COSECAN


Grafik fungsi trigonometri cosecan, dapat diselesaikan
dengan dua cara yaitu grafik fungsi trigonometri dalam ukuran derajat dan
grafik fungsi trigonometri dalam ukuran radian.
1. Grafik Fungsi Trigonometri Cosecan, dengan

Selanjutnya nilai fungsi diubah kedalam bentuk desimal

menjadi (mendekati) 1,1547. Sehingga grafiknya dapat dilihat pada


gambar dibawah ini:

23
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

2. Grafik Fungsi Trigonometri Cosecan, dengan

Selanjutnya nilai fungsi diubah kedalam bentuk desimal

menjadi (mendekati) 1,1547. Sehingga grafiknya dapat dilihat pada


gambar dibawah ini:

24
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

F. GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI SECAN


Grafik fungsi trigonometri secan, dapat diselesaikan
dengan dua cara yaitu grafik fungsi trigonometri dalam ukuran derajat dan
grafik fungsi trigonometri dalam ukuran radian.
1. G
rafik Fungsi Trigonometri Secan, dengan

Selanjutnya nilai fungsi diubah kedalam bentuk desimal

menjadi (mendekati) 1,1547. Sehingga grafiknya dapat dilihat pada


gambar dibawah ini:

25
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

2. Grafik Fungsi Trigonometri Secan, dengan

G. GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI COTANGEN


Grafik fungsi trigonometri cotangen, dapat diselesaikan
dengan dua cara yaitu grafik fungsi trigonometri dalam ukuran derajat dan
grafik fungsi trigonometri dalam ukuran radian.
1. Grafik Fungsi Trigonometri Cotangen, dengan

26
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Keterangan:
dimaksudkan sebagai nilai x yang mendekati dari kiri yang
nilai cotangennya adalah , sedangkan dimaksudkan sebagai
nilai x yang mendekati dari kanan yang nilai cotangenya adalah
. Garis (putus-putus) pada (k bilangan bulat)
disebut garis asymptot, sedangkan nilai tidak terdefinisi.

2. Grafik Fungsi Trigonometri Cotangen, dengan

27
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Keterangan:
dimaksudkan sebagai nilai x yang mendekati dari kiri yang nilai
cotangennya adalah , sedangkan dimaksudkan sebagai nilai x
yang mendekati dari kanan yang nilai cotangenya adalah . Garis
(putus-putus) pada (k bilangan bulat) disebut garis
asymptot, sedangkan nilai tidak terdefinisi.

28
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB IV
IDENTITAS TRIGONOMETRI

A. DEFINISI IDENTITAS TRIGONOMETRI


Identitas trigonometri atau kesamaan trigonometri adalah identitas atau
kesamaan yang memuat perbandingan trigonometri. Identitas trigonometri
dimaksudkan sebagai bentuk kesamaan antara ruas kiri dan ruas kanan.
Ada beberapa rumus identitas trigonometri yang perlu diketahui.
Rumus-rumus yang digunakan untuk menunjukkan kebenaran suatu identitas
trigonometri antara lain adalah rumus-rumus kebalikan, rumus-rumus
perbandingan, rumus-rumus trigonometri untuk sudut yang berelasi, dan
rumus-rumus yang menghubungkan antar perbandingan trigonometri.

B. RELASI DASAR
Di antara 2 atau 3 fungsi trigonometri terdapat 3 macam relasi dasar,
yang banyak digunakan pada penyelesaian persoalan-persoalan dalam
trigonometri selanjutnya. Ketiga macam relasi dasar tersebut adalah:
1. Relasi Rasio Berbalik Nilai:
a)

atau

b)

atau

c)

atau

2. Relasi Hasil Bagi:

a)

b)

3. Relasi Pythagoras:
a)

29
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

b)

c)

Relasi-relasi dasar tersebut selalu benar untuk setiap sudut anggota


domain fungsi. Selanjutnya ketiga macam relasi dasar tersebut dinamakan
identitas atau kesamaan trigonometri.

C. PEMBUKTIAN IDENTITAS ATAU KESAMAAN TRIGONOMETRI


Untuk membuktikan suatu identitas trigonometri ada beberapa cara,
yaitu:
1) Bentuk ruas kiri identitas tersebut diubah sehingga sama dengan bentuk
ruas kanan.
2) Bentuk ruas kanan identitas tersebut diubah sehingga sama dengan bentuk
ruas kiri.

Contoh:
1. Buktikan identitas-identitas trigonometri berikut!

a.

b.

c.

Jawab:
a. Ruas kiri akan diuraikan sehingga menghasilkan bentuk di ruas
kanan

(terbukti)

30
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

b. Ruas kanan akan diuraikan sehingga menghasilkan bentuk di ruas


kiri

(terbukti)
c.

(terbukti)
2. Sederhanakanlah: !

Jawab:

3. Tunjukkan bahwa !

Jawab:

(terbukti)

Petunjuk untuk membuktikan identitas trigonometri:


1. Biasanya akan lebih mudah jika memanipulasi ruas persamaan yang lebih
rumit terlebih dahulu.
2. Carilah bentuk yang dapat disubstitusi dengan bentuk trigonometri yang
ada dalam identitas trigonometri, sehingga didapatkan bentuk yang lebih
sederhana.

31
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

3. Perhatikan operasi-operasi aljabar, seperti penjumlahan pecahan, sifat


distributif, atau pemfaktoran, yang mungkin dapat menyederhanakan ruas
yang dimanipulasi, atau minimal dapat membimbing kepada bentuk yang
dapat disederhanakan.
4. Jika tidak tahu apa yang harus dilakukan, ubahlah semua bentuk
trigonometri menjadi bentuk sinus dan cosinus. Mungkin hal tersebut
bisa membantu.
5. Selalu perhatikan ruas persamaan yang tidak dimanipulasi untuk
memastikan langkah-langkah yang dilakukan menuju bentuk dalam ruas
tersebut.
Selain petunjuk-petunjuk di atas, cara terbaik untuk menjadi mahir
dalam membuktikan identitas trigonometri adalah dengan banyak latihan.
Semakin banyak identitas trigonometri yang telah dibuktikan, maka akan
semakin ahli dan percaya diri dalam membuktikan identitas trigonometri
lainnya. Sebagian besar identitas trigonometri dapat dibuktikan dengan
menggunakan berbagai macam pembuktian. Beberapa pembuktian mungkin
lebih panjang dari pembuktian yang lain.

D. LATIHAN
1. Buktikan bahwa:
a)
b)

2. Sederhanakanlah !

3. Buktikan identitas trigonometri berikut.


a)
b)

c)

4. Buktikan bahwa:

a)

32
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

b)

c)

5. Buktikan bahwa:

33
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB V
RUMUS JUMLAH DAN SELISIH DUA SUDUT

A. RUMUS JUMLAH DAN SELISIH DUA SUDUT


Dari fungsi trigonometri jumlah dan selisih dua sudut dapat diturunkan
formula jumlah dan selisih dua fungsi trigonometri, yaitu: rumus cosinus,
rumus sinus, rumus tangen, dan rumus cotangen.

B. RUMUS COS
Perhatikan posisi titik-titik A, P, Q dan R yang terletak pada sumbu
kartesius, sedemikian sehingga AR = PQ di bawah ini:

Karena AR = PQ, maka (AR)2 = (PQ)2. Dengan menggunakan rumus

jarak titik ke titik , yaitu ,

maka:

34
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi,

cos ( ) = cos cos sin sin

Selanjutnya, rumus cos , sin , dan sin dapat


dicari dengan menggunakan rumus negatif dan rumus sudut lancip yang
saling berelasi. Untuk bentuk cos diubah dahulu menjadi bentuk cos
[ ]. Sehingga:
cos = cos [ ]

cos = cos cos sin sin

cos = cos cos sin sin


Jadi,

cos = cos cos sin sin

C. RUMUS SIN
Untuk menemukan rumus sin terlebih dahulu diubah ke bentuk
cos [90 atau cos [ ], sehingga:
sin = cos [ ] dengan rumus cos diperoleh

35
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

sin = cos cos sin


sin = sin
Jadi,

sin = sin

Sedangkan untuk bentuk sin diubah menjadi bentuk sin


[ ], sehingga:
sin = sin [
sin = sin + cos sin

sin = sin cos cos sin


Jadi,

sin = sin cos cos sin

D. RUMUS TAN sin = sin cos cos sin

Dengan mengingat tan = , diperoleh:

tan =

Ruas kanan masing-masing dibagi dengan cos cos , sehingga:

tan =

tan =

Jadi,

tan =

36
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Karena tan = tan [ ], maka tan =

Jadi,

tan =

E. RUMUS COT
Dari hubungan sudut yang saling berelasi cot = tan (90 )
diperoleh hubungan lain, yaitu cot ( = tan [90 atau cot
= tan [90 sehingga:
cot ( = tan [90

cot ( =

cot ( =

Jika ruas kanan masing-masing dibagi dengan tan , maka:

cot = .

Jadi,

cot =

Selanjutnya, karena cot = cot [ maka

cot = atau cot =

Jadi,

cot =

37
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Contoh:
Dengan menggunakan rumus penjumlahan dua sudut tentukan nilai dari:
a) sin 75
b) sin 15
c) sin 105
d) cos 75
e) cos 15
f) tan 105
g) tan (3x 2y)
Jawab:
a) Rumus jumlah dua sudut untuk sinus

sin = sin

sin 75 =
=

= )

b) Rumus selisih dua sudut untuk sinus

sin = sin cos cos sin


sin 15 = sin (45 30 )
sin 15 =
sin = sin cos cos
=
sin
=

c) Rumus jumlah dua sudut untuk sinus

sin = sin

38
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

sin 105 =
=

d) Rumus jumlah dua sudut untuk cosinus

cos ( ) = cos cos sin sin

cos 75 =
=

e) Rumus selisih dua sudut untuk cosinus

cos = cos cos sin sin

cos 15 =
=

f) Rumus jumlah dua sudut untuk tangen

tan =

tan 105 =

39
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

=
g) Rumus selisih dua sudut untuk tangen

tan =

F. LATIHAN
1. Dengan menggunakan rumus cos , tentukan nilai dari:
a)
b) , dimana:

c)
d)
2. Dengan menggunakan rumus , tunjukkanlah bahwa
!
3. Dengan menggunakan rumus sin , tentukan nilai dari:
a)
b)
4. Tanpa menggunakan tabel trigonometri atau kalkulator, tentukanlah nilai
dari tiap bentuk berikut:
a)
b)

5. Jika tan dan tan , hitunglah tan !

40
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB VI
SUDUT-SUDUT DALAM SEGITIGA

A. RUMUS SUDUT RANGKAP


Dari rumus penjumlahan
melalui penggantian dengan , diperoleh rumus sudut rangkap untuk sin,
yaitu:
=
=
=
Jadi,

Sedangkan rumus sudut rangkap untuk cos diperoleh dari rumus


penjumlahan melalui penggantian
dengan , sehingga:
=
=
=
Jadi,

Mengingat , maka:
=
=
= , atau
=

41
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

=
=
=
Jadi,

Untuk rumus sudut rangkap tangent diperoleh dari rumus


, melalui penggantian dengan , sehingga:

Jadi,

Begitu juga untuk diperoleh:


=

Jadi,

42
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi, rumus sudut rangkap dapat diringkas sebagai berikut:


1. =
2. =
=
=

3.

4. =

B. RUMUS SUDUT PERTENGAHAN


Dari rumus sudut rangkap kita dapat mencari rumus sudut pertengahan

dengan mengganti dengan sehingga diperoleh rumus sebagai

berikut:
(1) =

Jadi,

(2)

Jadi,

(3)

43
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi,

tan =

Bila ruas kanan bentuk terakhir ini dikalikan dengan , maka

akan diperoleh rumus tan sbb:

atau
tan =

atau
tan = csc cot

Rumus tan dapat diturunkan juga dari ,

sehingga didapat bentuk

atau

tan =

(4) Mengingat cot = , maka rumus cot menjadi:

cot =

44
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

cot = csc + cot

cot =

cot =

Jadi, rumus sudut pertengahan dapat diringkas sebagai berikut:

1. sin =

2. cos =

3.

a)

b)

c)

d)

4.

a)

b)

c)

d)

Contoh 1:
Diketahui sin A = 0,8 dan A adalah sudut lancip, Hitunglah nilai dari:
a. sin 2A

45
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

b. cos 2A
c. sin A

d. tan A

Jawab:
Berdasarkan rumus cos A = diperoleh:

cos A =

cos A =
cos A = 0,6 karena A lancip, maka cos A = 0,6
a.
b.

c.

d.

Contoh 2:
Dengan menggunakan rumus sudut pertengahan, hitunglah nilai dari:
a. cos
b. cot
Jawab:
a. Misalkan , maka , sehingga dengan memakai rumus

diperoleh:

b. Dengan rumus

46
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Contoh 3:
Diketahui dengan sudut x adalah lancip. Tentuan nilai dari ?

Jawab:
sin x sudah diketahui, tinggal cos x berapa nilainya

Berikutnya gunakan rumus sudut rangkap untuk sinus.

Contoh 4:
Diketahui , tentukan nilai dari .

Jawab:
Rumus sudut rangkap untuk cosinus.
cos 2x = cos2x sin2x
cos 2x = 2 cos2x 1
cos 2x = 1 2 sin2x
Gunakan rumus ketiga

cos 2x = 1 2 sin2x =

47
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB VII
SUDUT-SUDUT DALAM SEGITIGA

A. RUMUS SUDUT LIPAT


Bila bentuk dan seterusnya disebut sudut rangkap, maka
bentuk disebut sudut lipat. Dengan memakai rumus
sudut rangkap yang telah diketahui sebelumnya, kita dapat menentukan
rumus sudut lipat.
Di bawah ini beberapa rumus sudut lipat yang sederhana:
(1)

Jadi,

(2)
`

Jadi,

(3)

48
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi,

(4)

Jadi,

Dengan cara yang sama diperoleh rumus sudut lipat 4 dan 5 sebagai
berikut:
(1) Sudut lipat 4

49
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

(2) Sudut lipat

Secara umum, rumus sudut lipat untuk dapat ditulis sebagai berikut:

dimana bentuk merupakan simbol kombinasi dengan rumus

B. RUMUS SUDUT PANGKAT


Dari rumus sudut rangkap dan rumus sudut lipat diturunkan rumus
pangkat fungsi sinus dan cosinus sebagai berikut:
Dari rumus diperoleh rumus

Jadi,

Sedangkan dari rumus diperoleh rumus

50
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi,

Dengan cara yang sama, maka akan diperoleh rumus sinus dan cosinus
untuk pangkat 3, pangkat 4, dan pangkat 5 sebagai berikut:
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Secara umum, rumus pangkat sinus dan cosinus adalah:

Dimana bentuk merupakan simbol kombinasi dengan rumus

51
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Contoh 1:
Diketahui dengan . Tentukan nilai dari:
a)
b)
c)
d)

52
2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jawab:
Dengan rumus diperoleh

,karena A lancip, maka


a)

b)

c)

(nilai sin 3A diperoleh dari soal a)

d)

Nilai atau
Sedangkan nilai cos 4A telah diperoleh pada soal b. Sehingga:

Dosen Efuansyah, M.Pd 53


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Contoh 2:
Gunakan rumus umum sin nA untuk menentukan rumus sin 5A!
Jawab:
Rumus umumnya adalah:

Untuk n = 5, berarti:

Contoh 3:
Gunakan rumus umum pangkat cosinus untuk menentukan rumus
Jawab:
Karena pangkatnya ganjil, maka digunakan rumus , sehingga n = 4.
Rumus umumnya adalah:

Untuk n = 4, berarti:

Dosen Efuansyah, M.Pd 54


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Dosen Efuansyah, M.Pd 55


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB VIII
ATURAN SINUS, KOSINUS DAN LUAS SEGITIGA

A. ATURAN SINUS
Misalnya iberikan segitiga sembarang ABC dengan sudut-sudut A, B,
dan C dan sisi-sisi a, b, dan c. untuk mempeeroleh hubungan antara sisi-sisi
dan sudut-sudut tersebut, diperlukan garis penolong yang tegak lurus dengan
salah satu sisi atau perpanjangannya. Misalnya titik perpotongan garis
penolong dengan sisi atau perpanjangannya tersebut adalah D dengan panjang
h.
C

b a

h
h

A c B

Perhatikan bahwa

(1)

(2)
Dari persamaan (1) dan (2), diperoleh
a = sin B = b sin A (3)
Dengan membagi persamaan (3) dengan sin A sin B, diperoleh

Dosen Efuansyah, M.Pd 56


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Dengan cara yang sama diperoleh

dan

Dari uraian diatas diperoleh suatu aturan yaitu aturan sinus sebagai berikut.

Aturan sinus tersebut dapat digunakan dalam aturan segitiga untuk kasus
berikut.
a. Dua sudut dan sembarang sisi diketahui.
b. Dua sisi dan sudut dihadapan salah satu sisi tersebut diketahui.
Contoh 1:
Tentukan unsur-unsur yang lain pada segitiga ABC, jika

Jawab:
Pertama, kita tentukan sudut C


Kedua, mencari nilai a dan b menggunakan aturan sinus.

Dosen Efuansyah, M.Pd 57


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

=
Jadi, diperoleh , , dan .

B. ATURAN COSINUS
Misalnya diberikan ABC berikut ini. Dari titik C, kita buat garis CD
tegak lurus AB sehingga terbentuk segitiga siku-siku ADC dan BDC. Pada
segitiga ADC, dari perbandingan trigonometri diperoleh

cos A =

Pada ABC, menurut teorema Pythagoras berlaku

Dengan cara yang sama akan kita peroleh

Dosen Efuansyah, M.Pd 58


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Secara umum, aturan kosinus dapat dinyatakan sebagai berikut.


Pada suatu segitiga ABC dengan sudut-sudutnya A, B, dan C serta sisi-sisi
dihadapkan sudut-sudut tersebut berturut-turut a, b, dan c berlaku

Contoh 2:
1. Pada ABC panjang AC = 20 cm, AB = 25 cm, dan A = 65. Tentukan
panjang sisi BC!
2. Pada PQR panjang PQ = 6 cm, QR = 8 cm, dan PR = 12 cm. Tentukan
besar sudut terkecil dan terbesar pada segitiga tersebut!
Jawab:
1. Diketahui:
AC = b = 20 cm
AB = c = 25 cm
A = 65
Karena

= 400 + 625 423


= 602

Sehingga diperoleh BC = a = 24,54 cm.


2. Untuk PQ = 6, QR = 8, dan PR = 12, maka

cos = 0,806

cos =

Dosen Efuansyah, M.Pd 59


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi, sudut terkecil adalah = 26,45 dan sudut terbesar adalah =


117,26

C. LUAS SEGITIGA
Pada bahasan berikut, kita akan mempelajari luas segitiga dengan
menggunakan perbandingan trigonometri. Perhatikan gambar berikut.
C

b a

h
h

A c B

luas ABC tersebut adalah Perhatikan ADC

sin A =

sehingga luas ABC adalah

atau

Dengan cara yang sama, kamu akan memperoleh rumus untuk luas segitiga
sebagai berikut.

Dari uraian tersebut diperoleh


Luas segitiga sembarang ABC dengan sudut-sudutnya A, B, dan C serta sisi-
sisi dihadapan sudut tersebut berturut-turut a, b, dan c, sebagai berikut.

Dosen Efuansyah, M.Pd 60


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jika diketahui satu sisi dan dua sudut, rumus untuk menentukan luas segitiga
adalah sebagai berikut.

; ;

Jika diketahui ketiga sisinya, rumus untuk menentukan luas segitiga adalah
sebagai berikut.
dengan

Perhatikan contoh berikut agar kamu memahami cara menentukan luas


segitiga.
Contoh 3:
1. Tentukan luas ABC, jika diketahui a = 7, b = 13, dan C = 135
2. Tentukan luas ABC, jika diketahui b = 7, B = 45, dan C = 60
3. Tentukan luas ABC, jika diketahui a = 7, b = 8, dan C = 9
Jawab:
1. Dari rumus diperoleh

Jadi, luas segitiga tersebut adalah 32,17 satuan luas.


2. Dengan aturan sinus, diperoleh
A

Gunakan rumus

Jadi, luas segitiga tersebut adalah 21,29 satuan luas.


3. Gunakan rumus

Dosen Efuansyah, M.Pd 61


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Jadi, luas segitiga tersebut adalah satuan luas

Dosen Efuansyah, M.Pd 62


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB IX
SISTEM PERSAMAAN TRIGONOMETRI

A. SISTEM PERSAMAAN TRIGONOMETRI


Persamaan trigonometri adalah persamaan yang memuat perbandingan
trigonometri suatu sudut, dimana sudutnya dalam ukuran derajat atau radian.
Menyelesaikan persamaan trigonometri adalah menentukan nilai x yang
memenuhi persamaan tersebut sehingga jika dimasukkan nilainya akan
menjadi benar. Contoh persamaan trigonometri di antaranya adalah
1)

2)

3)

B. PERSAMAAN DASAR TRIGONOMETRI


1. Persamaan
Dengan mengingat rumus dan
maka diperoleh

Jika

2. Persamaan cos x = cos


Dengan mengingat rumus dan
maka diperoleh

Jika

3. Persamaan tan x = tan

Dosen Efuansyah, M.Pd 63


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Dengan mengingat rumus dan


maka diperoleh

Jika

Contoh 1:
Tentukan penyelesaian persamaan berikut ini untuk

a.

b.

c.
Jawab:
a.

b.

c.

C. PERSAMAAN FUNGSI TRIGONOMETRI


1. Persamaan bentuk
Penyelesaian:
a. Oleh karena fungsi trigononetri memiliki domain himpunan sudut,
karena a, b, c, dan d bersama-sama bilangan nyata, maka satuan yang
digunakan adalah satuan radian

b.

Dosen Efuansyah, M.Pd 64


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

HP:

Contoh 2:
1. Tentukan himpunan penyelesaian dari
Jawab:

a.

b.

HP :

2. Tentukan himpunan penyelesaian

Jawab:

a.

b.

Setelah diurutkan nilai-nilai x, diperoleh:

Dosen Efuansyah, M.Pd 65


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

HP :

2. Persamaan berbentuk
Penyelesaian:

Penyelesaian selanjutnya seperti bentuk 1.

3. Persamaan
Penyelesaian:
Dari dibentuk
. Ingat formula , sehingga
diperoleh

Bila
Contoh 3:
Tentukan himpunan penyelesaian dari

Jawab:

Dosen Efuansyah, M.Pd 66


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

a.

b.

Mengingat batas-batas x, maka HP nya adalah :

Catatan:
Terdapat persamaan-persamaan dengan bentuk semacam ini, yaitu:
a.
b.
c.
Perubahan-perubahan ruas kiri perlu mengingat kembali perkalian 2
fungsi trigonometri yaitu:

a.

b.

c.

Dosen Efuansyah, M.Pd 67


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

4. Persamaan berbentuk
Penyelesaian:

Mengingat salah satu sifat pecahan, yaitu:


maka diperoleh :

Ruas kanan adalah konstanta sehingga persamaan terakhir selanjutnya


dapat diselesaikan dengan bentuk yang telah dibahas sebelumnya.

Contoh 4:
Tentukan penyelesaian dari
?
Jawab:

Dosen Efuansyah, M.Pd 68


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Mengingat batas-batas x pada soal, yaitu , maka :


. Jadi HP nya adalah

5. Persamaan berbentuk
Penyelesaian:

Ruas kanan adalah suatu konstanta, sehingga persamaan terakhir seperti


persamaan sebelumnya.

Dosen Efuansyah, M.Pd 69


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

BAB X
PERTIDAKSAMAAN TRIGONOMETRI

A. PERTIDAKSAMAAN TRIGONOMETRI
Pertidaksamaan trigonometri adalah suatu pertidaksamaan yang
mengandung fungsi trigonometri seperti sin, cos, tan, sec, csc, dan cot dengan
peubah sudutnya belum diketahui. Himpunan penyelesaian pertidaksamaan
trigonometri dapat ditentukan dengan dua cara yaitu dengan diagram garis
bilangan dan sketsa kurva fungsi trigonometri.
1. Garis Bilangan
Menentukan himpunan penyelesaian pertidaksamaan trigonometri
dikerjakan seperti menyelesaikan pertidaksamaan suku banyak dengan
langkah-langkah sebagai berikut.
Langkah 1: tentukan nilai-nilai batas dari pertidaksamaan. Nilai-nilai
batas ini diperoleh dengan menyelesaikan persamaan trigonometrinya.
Karena periodiknya fungsi trigonometri maka nilainilai batas ini
banyaknya tak berhingga, untuk itu kita hanya perlu menentukan nilai-
nilai batas pertidaksamaan pada satu periode saja dan selanjutnya
himpunan penyelesaian pertidaksamaan akan terulang lagi setiap satu
periode dari fungsi yang terlibat dalam pertidaksamaan dengan periode
terbesar.
Langkah 2: gambarkan setiap nilai batas dari satu periode tersebut pada
garis bilangan. Nilai-nilai batas ini membagi satu periode tersebut
menjadi beberapa interval.
Langkah 3: tentukan tanda pertidaksamaan pada setiap interval pada
langkah 2. Tanda ini ditentukan dengan mengambil wakil dari setiap
interval untuk ditentukan tandanya. Selanjutnya tanda dari wakil itu akan
berlaku untuk seluruh interval yang memuatnya.
Langkah 4: tentukan himpunan penyelesaian pertidaksamaan, yaitu
mengambil interval yang bertanda sama dengan tanda dari
pertidaksamaan.

Dosen Efuansyah, M.Pd 70


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

2. Sketsa Kurva Fungsi Trigonometri


Misalnya pertidaksamaan trigonometri dengan
adalah fungsi trigonometri dan c adalah konstanta. Untuk
menentukan penyelesaian atau himpunan penyelesaiannya ditempuh
langkah-langkah sebagai berikut.
Langkah 1: gambarkan sketsa kurva fungsi trigonometri dan
garis .
Langkah 2: tentukan koordinat titik potong dari persamaan .
Langkah 3: tentukan daerah (interval) yang memenuhi pertidaksamaan
itu dengan melihat grafik fungsi trigonometri dan garis
dengan (diberi tanda arsiran.
Langkah 4: tentukan himpunan penyelesaiannya yang merupakan daerah
(interval) yang memenuhi pertidaksamaan trigonometri tersebut.
Contoh 1:
Tentukan himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan sin x

dalam interval .
Jawab:
Cara 1: diagram garis bilangan
Sin x = = sin

x= +2 k atau x = +2 k

Untuk k = 0 maka x = atau x = .

Cara menentukan tanda


Untuk k = maka sin =0 berarti daerah x 2 bertanda

negatif ( - ).

Dosen Efuansyah, M.Pd 71


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Tanda daerah ini berubah pada daerah lainnya (daerah disebelahnya),


tetapi bila pertidaksamaan itu berpangkat genap maka tanda daerah tetap
(tidak berubah tanda pada daerah disampingnya). Oleh karena tanda
pertidaksamaan adalah maka daerah yang memenuhi adalah bertanda
negatif.

Jadi, himpunan penyelesaian adalah

Cara 2: sketsa kurva fungsi trigonometri


Sketsa kurva fungsi terigonometri y = sin x dan garis y = .

Dari gambar terlihat bahwa sin sin x ditunjukkan pada daerah

yang diraster.

Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah

Contoh 2 :
Tentukan himpunan penyelesaian dari tan x 1 dalam interval 0 x
2 .
Jawab:
Cara 1: diagram garis bilangan

Dosen Efuansyah, M.Pd 72


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

tan x = 1 = tan

x= +k

Untuk k = 0 maka x =

Untuk k = 1 maka x = .

Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah

B. PERTIDAKSAMAAN SINUS
Perhatikan grafik berikut ntuk x . Berapakah nilai x pada

interval itu yang memenuhi pertidaksamaan x ? Untuk menjawabnya kita

dapat memperhatikan daerah grafik itu dimana x . Nilai x yang memenuhi

y adalah x , sehingga himpunan jawab untuk sin x

adalah x .

C. PERTIDAKSAMAAN COSINUS
Perhatikan grafik berikut ini untuk x . Berapakah nilai x

pada interval itu yang memenuhi pertidaksamaan cos ? Untuk

Dosen Efuansyah, M.Pd 73


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

menjawabnya kita dapat memperhatikan daerah grafik itu dimana y .

Nilai x yang memenuhi y adalah x dan x .

Sehingga himpunan jawab untuk cos x adalah x dan

x .

D. PERTIDAKSAMAAN TANGEN
Perhatikan grafik berikut ini untuk x . Berapakah nilai x
pada interval itu yang memenuhi pertidaksamaan tan x 1? Untuk
menjawabnya kita dapat memperhatikan daerah grafik itu dimana y 1 .
Nilai x yang memenuhi y 1 adalah x dan x .
Sehingga himpunan jawab untuk tan x 1 adalah x ; x
dan x .

Dosen Efuansyah, M.Pd 74


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

Contoh 3:
Untuk x , tentukan nilai x yang memenuhi persamaan
a. sin x 0

b. cos

Jawab:
a. sin x 0
Perhatikan grafik fungsi y = sin x dalam interval x .
Jadi, himpunan jawab untuk pertidaksamaan sin x 0 pada interval
x adalah { x | x }.

b. cos x - Perhatikan grafik fungsi y = cos x dalam interval x

Jadi, himpunan jawab untuk pertidaksamaan cos x pada daerah

interval x adalah { x | x atau


x }.

Dosen Efuansyah, M.Pd 75


2016 [MODUL TRIGONOMETRI] EFUANSYAH, M.Pd

DAFTAR PUSTAKA

Marwanta, dkk. (2009). Matematika SMA Kelas X. Jakarta: Yudhistira.


Noormandiri. (2006). Matematika Untuk SMA Kelas XI . Jakarta: Erlangga.
Rusgianto. (2012). Trigonometri: Membangun Kekuatan Konstruksi Kognitif.
Yogyakarta: Grafika Indah.
Simangunsong, Wilson. (2005). Matematika Dasar. Jakarta: Erlangga.
Tampomas, Husein. (2003). Sukses Ulangan dan Ujian Trigonometri. Jakarta:
Grasindo.
Wirodikromo, Santono. (2006). Matematika untuk SMA Kelas X. Jakarta:
Erlangga.
Zen, Fathurin. (2011). Trigonometri. Bandung: Alfabeta.
. (2015). Trigonometri. Bandung: Alfabeta.

Dosen Efuansyah, M.Pd 76