Anda di halaman 1dari 19

PENDALAMAN MATERI BIDANG ILMU KONSERVASI

GLASS IONOMER CEMENT (GIC)

Disusun Oleh:

Estika Winta Khairiyah G4B017013

Rima Fitriani G4B017014

Nabilah G4B017016

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2017
Glass Ionomer Cement (GIC)

A. Gambaran Umum
Perkembangan amalgam, emas, dan restorasi porselain pada abad 19
menstimulasi perkembangan bahan-bahan dental material yang digunakan
sebagai material luting dan material lining serta bahan-bahan dental material lain
yang memiliki nilai estetika yang baik. Sehingga pada awal abad 20, beberapa
bahan digunakan untuk lining, basis, serta bahan penumpatan, seperti zinc oxide
eugenol (1875), zinc phospate (1879), dan semen silikat (1908). Selain itu,
bahan-bahan tersebut juga dapat digunakan untuk luting inlay, mahkota, post,
bridge, serta band ortodonti. Tahun 1963, penggunaan asam poliakrilat untuk
berikatan dengan jaringan gigi diteliti untuk pertama kali (Saito, et al., 1999).
Akhir-akhir ini, perkembangan material restorasi direk terus meningkat.
Material yang sering digunakan diantaranya ialah amalgam, resin komposit, dan
glass ionomer cement (GIC) (Roulet, 1997). Penggunaan amalgam sudah mulai
ditinggalkan karena amalgam memiliki merkuri yang bersifat toksik serta
memiliki nilai estetik yang buruk (Anusavice, 1996). Resin komposit merupakan
bahan restorasi yang memiliki nilai estetik yang baik dan sifat fisik yang baik,
namun resin komposit memiliki kekurangan yakni mahal, membutuhkan waktu
yang lama dalam prosedurnya, serta membutuhkan prosedur teknik sensitif
adesif. GIC dapat dijadikan pilihan untuk menumpat pada beberapa kasus karena
GIC memiliki sifat fisik yang memungkinkan untuk dimodifikasi dengan
merubah rasio bubuk dan cairannya. Selain itu, GIC juga memiliki beberapa tipe
sehingga cocok untuk digunakan sebagai bahan tumpatan sesuai indikasinya.
Macam aplikasi GIC bergantung pada konsistensi semen dari viskositas yang
tinggi ke rendah sesuai dengan distribusi partikel serta rasio bubuk dan cairan
GIC. Ukuran partikel bahan restoratif maksimal adalah 50 m, sedangkan bahan
luting 15 m (Sherwood, 2010). GIC memiliki biokompatibilitas yang baik serta
bersifat flour release sehingga dapat menghambat karies. Namun, GIC juga
memiliki beberapa kelemahan yakni sifat mekanis yang buruk seperti rapuh,
mudah aus, kekerasan rendah, dan kurang bisa ditempatkan pada area yang
memiliki tekanan yang besar (Xie et al., 2000).
GIC merupakan material yang dikenal sebagai semen berbahan dasar asam.
GIC berasal dari reaksi asam polimerik lemah dengan powdered glasses (Sidhu
dan Nicholson, 2016). GIC merupakan material restoratif yang terdiri atas
kalsium, stronsium, aluminosilikat (base), dan water-soluble polimer (asam).
Ketika bahan-bahan tersebut dicampur, maka akan terjadi reaksi pengerasan yang
terjadi karena adanya neutralisasi kelompok asam oleh bahan-bahan base
(Upadhya dan Kishore, 2005). Selanjutnya GIC akan berikatan dengan gigi
menggunakan mekanisme micromechanical interlocking dan true chemical
bonding (Sidhu dan Nicholson, 2016).

B. Klasifikasi
Menurut Wilson dan Mclean (1988) GIC di klasifikasikan sebagai berikut.
1. Tipe I : Luting
2. Tipe II : Restoratif
Tipe II.1 : Restoratif estetik (autocure resin-modified)
Tipe II.2 : Restoratif reinforced / Bis-reinforced filling materials
3. Tipe III : Lining atau base

Menurut Smith/Wright (1994) GIC di klasifikasikan sebagai berikut.


1. Tipe I : Luting cement
2. Tipe II-a : Aesthetic filling material
Tipe II-b : Reinforced resin filling material
3. Tipe III : Fast setting lining cement
4. Tipe IV : Fissure sealing cement
5. Tipe V : Orthodontic cement
6. Tipe VI : Core build up material

GIC tipe I : Luting


a. Penggunaan : luting semen pada crown, bridge, inlay, veneer
b. Kelarutan : rendah
c. Rasio P/L :1,5:1
d. Setting rate : fast setting
e. Ketebalan film : 10 20 m
f. Pelepasan fluoride
g. Translusens
h. Kekuatan tekan tinggi
(Khoroushi dan Keshani, 2013)

GIC tipe II.1 Restorative aesthetic


a. Penggunaan : restorasi gigi amterior (kelas III, V)
b. Rasio P/L : 2,9: 1 sampai 3,6: 1
c. Setting rate : autocure - awal mengaplikasikan sampai 4 menit dari
pengadukan ; resin modified 20-40 detik
d. Translusens
e. Fluouride reservoir
f. Radioopak
(Khoroushi dan Keshani, 2013)

GIC tipe II.2 Restorative reinforced


a. Penggunaan : restorasi gigi posterior (kelas I), inti pasak
b. Rasio P/L : 3:1 sampai 4: 1
c. Adesi lebih kuat
d. Tahan terhadap kehilangan air
e. Radioopak
f. Ketahanan abrasi : cocok dengan amalgam dan resin komposit
(Khoroushi dan Keshani, 2013)

GIC tipe III Liner dan Basis


a. Penggunaan : liner untuk melindungi pulpa, sedangkan basis untuk
meningkatkan adesi terhadap resin komposit (sandwich
technique)
b. Rasio basis P/L : 3:1
c. Rasio liner P/L :1,5 :1
d. Radioopak
(Khoroushi dan Keshani, 2013)

C. Indikasi dan Kontraindikasi


1. Indikasi
GIC memiliki beberapa indikasi klinis, diantaranya ialah:
a. Caries control pada restoratif provosional
b. Restorasi kelas V
c. Material basis
d. Restorasi sementara pada access opening PSA
e. Restorasi sementara gigi anterior dan posterior
f. Sementasi band orthodontik
g. Adhesif braket orthodontik
h. Memperbaiki lesi resorbsi akar eksternal
i. Restorasi pada gigi yang menerima tekanan tidak terlalu besar
j. Restorasi margin mahkota yang terdapat karies pada bagian subgingival
k. Memperbaiki perforasi akar pada perawatan endodontik
l. Teknik ART
m. Core kecil dimana masih tersisa sedikitnya 50% struktur gigi
n. Restorasi posterior pada gigi desidui
o. Menutup (blockout) undercut pada praparasi mahkota dan onlay
(Almuhaiza, 2016).
2. Kontraindikasi
Beberapa kontraindikasi penggunaan GIC diantaranya:
a. Restorasi gigi posterior sebagai pengganti restorasi amalgam
b. Restorasi gigi yang memiliki beban kunyah yang besar
c. Restorasi kelas IV dan kelas VI (Almuhaiza, 2016).

D. Komposisi
Komposisi GIC terdiri dari bubuk dan cairan. Bubuk GIC adalah calcium
fluoroaluminosilicate glass yang larut dalam cairan asam. (Anusavice et al.,
2013). Bubuk dapat terurai oleh asam karena adanya ion Al3+ yang dapat mudah
masuk ke jaringan silika (Mahesh et al., 2011).
1. Bubuk (Powder)
a. Kalsium Fluorida
Berfungsi untuk meningkatkan opasitas dan mengatur pelepasan fluor.
b. Alumina
Berfungsi untuk meningkatkan opasitas dan kekuatan kompresi.
c. Silika
Berfungsi untuk mempengaruhi transparansi.
d. Fluoride
Berfungsi untuk antikariogenesis, meningkatkan translusens, kekuatan,
menghambat pembentukan plak serta memperpanjang waktu kerja.
e. Fosfat Aluminium
Berfungsi untuk meningkatkan translusens.
f.
Berfungsi untuk meningkatkan transparansi
g. Stronsium
Berfungsi untuk mengatur radioopasitas.
((Anusavice, 2013); (Sherwood, 2010); (Mahesh, 2011)).

Gambar 1.1 Komposisi dan berat tiap bahan pada bubuk GIC
Sumber: Mount (2003)

2. Cairan (Liquid)
a. Tartaric acid (5-15%)
Berfungsi untuk meningkatkan waktu kerja, memperlambat setting time
translusens, dan kekuatan.
b. Polifosfat (40-55%)
Polifosfat terdiri atas acrylic acid , itaconic acid, maleic acid,
phosphonic acid. Polifosfat berfungsi untuk memperpanjang waktu kerja
dan melekat pada struktur gigi tanpa perlakuan khusus.
c. Oksida logam
Berfungsi untuk mempercepar setting tim.
((Anusavice, 2013); (Sherwood, 2010); (Mahesh, 2011)).

E. Sifat dan Karakteristik


GIC merupakan bahan kedokteran gigi yang memiliki berbagai sifat unik,
sehingga dapat digunakan untuk bahan restorasi ataupun bahan adesif. Beberapa
sifat GIC diantaranya ialah biokompatibilitas, rendah toksik, adesi pada struktur
gigi yang moist, flour release sehingga bersifat antikariogenik, dan
kompatibilitas termal pada enamel (Lohbauer, 2010).
1. Biokompatibilitas
GIC memiliki biokompatibilitas yang cukup baik. Respon pulpa terhadap
GIC baik dibandingkan dengan respon pulpa terhadap zinc oxide dan zinc
polikarboksilat. Jaringan periodontal juga memilii respon yang baik terhadap
GIC, selain itu GIC juga dapat mengurangi biofilm subgingiva dibandingkan
dengan restorasi resin komposit. PH awal GIC yang rendah dapat
menyebabkan sensitivitas pada sementasi mahkota (Sidhu dan Nicholson,
2016).
2. Linear-Elastic Mechanical Properties
Karakteristik parameter mekanik dasar pada material dental restoratif
diantaranya adalah modulus elastisitas, kekuatan fraktur, fracture toughness,
dan kekerasan permukaan. Produk komersial GIC memiliki modulus
elastisitas sebesar 2-10 Mpa (Lohbouer, 2003). Kontaminasi kelembaban
yang berlebihan pada sesaat setelah pencampuran semen menyebabkan
menurunnya modulus elastisitas dan kekuatan fraktur. GIC memiliki
kekuatan kompresif berkisar diantara 60-300 Mpa dan kekuatan fleksuralnya
hingga 50 Mpa. GIC memiliki resistensi terhadap cairan-cairan yang ber pH
asam dibandingkan dengan material restoratif lainnya. Penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa pada 6 bulan pertama terjadi uptake air
sebesar 5%. GIC memiliki sifat menyerap air yang lebih besar dibandingkan
dengan komposit (Small, et al., 1998).
3. Flour release
Flour diketahui sebagai agen yang paling ampuh dalam pencegahan karies.
GIC memiliki sifat flour release, sehingga apabila digunakan pada marginal
gaps antara material filling dengan gigi, akan menghindari dari terbentuknya
karies sekunder pada jaringan gigi. Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa GIC akan melepaskan flour sebesar 10 ppm pada awal restorasi dan
akan stabil sebesar 1-3 ppm selama 100 bulan (Forsten, 1998).
4. Performa klinis
Fatigue fractures setelah beberapa tahun merupakan kegagalan yang sering
terjadi pada restorasi GIC. Kerusakan restorasi seperti fraktur marginal
atauoun cusp sering ditemukan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
fraktur banyak ditemukan pada daerah posterior gigi yang banyak menerima
tekanan berat. Peneliti menyebutkan bahwa fraktur merupakan penyebab
utama dari kegagalan restorasi GIC (Klinge, et al., 1999).
5. Wear dan Fatique
Sifat mekanik jangka panjang GIC dipengaruhi oleh kekuatan mastikasi.
Kekuatan mastikasi akan berdampak pada permukaan restorasi. Penelitian
menunjukan bahwa tingkat keausan GIC lima kali lebih tinggi dari pada
amalgam dan tiga kali lebih tinggi dari pada resin komposit (Kunzelmann,
1994).
6. Thermal
Ekspansi dan kontraksi yang tadi saat mengonsumsi makanan panas dan
dingin akan mempengaruhi marginal seal pada bahan restoratif. Selisih dari
koefisien ekspansi termal dari GIC yang diukur dari 20oC dan 60oC adalah
10,2-11,4 (Craig, 2002).
7. Adhesi
Perlekatan kimia GIC terhadap jaringan keras gigi melalui kombinasi asam
polikarboksilat dengan hidroksiapatit. Kekuatan ikatan GIC dengan enamel
lebih besar daripada dentin. Namun, dengan pemberian conditioner seperti
polikarboksilat, asam sitrat atau fosfat dapat meningkatkan ikatan antara
GIC dan jaringan keras gigi. Conditioner berperan sebagai bahan etsa yang
menghilangkan smear liyer dari tubuli dentin (Powis et al., 2002).
Selain memiliki sifat-sifat tersebut, GIC juga memiliki beberapa
keterbatasan, seperti kekuatan mekanis dan kekerasan yang rendah
(Lohbauer, 2010). Gambar 1.2 menunjukan sifat-sifat yang dimiliki oleh
GIC.

Gambar 1.2 Sifat-sifat GIC


Sumber: Noort (2013)

F. Tahapan Pembuatan
1. Metode Pengadukan
Menurut Nagaraja dan Kishore (2005), metode pengadukan GIC berdasarkan
jenis bahannya antara lain sebagai berikut.
a. Powder dan Liquid
Powder diambil dengan menggunakan sendok khusus sesuai dengan
besar kavitas, ratakan di mulut botol, letakkan di atas kertas / kaca
pengaduk. Botol liquid didesain dengan prinsip dropper mechanism, di
mana hanya mengeluarkan satu tetes setiap aplikasinya. Setiap tetes
liquid yang mengandung gelembung udara, harus dibuang. Pengadukan
terjadi sekitar 20-30 detik.
b. Kapsul
Powder dan liquid dikemas dalam bentuk kapsul. Keduanya dicampur
menggunakan mixing machine. Perbandingan powder-liquid dapat
dikontrol.
c. Pasta
Bentuk pasta biasa digunakan untuk luting cements, lining cements,
endodontik dan orthodontic. Bentuk dua pasta dikemas dalam dua syringe
berbeda, setelah itu dicampur dengan teknik hand mixing. Ukuran partikel
yang halus dan memiliki setting time selama 3 menit. Campurkan
material pasta secara cepat dengan menggunakan spatula plastik selama
10-15 detik.
2. Teknik Aplikasi
Teknik aplikasi GIC untuk kavitas menurut Sherwood (2010) dan Noort
(2013), antara lain sebagai berikut.
a. Aplikasikan dentin conditioner yang mengandung asam poliakrilat 10%
diletakkan selama 10 detik Selain asam poliakrilat dapat juga
menggunakan bahan seperti EDTA, ferric chloride, atau asam sitrat.
b. Bersihkan dengan air selama 10 detik.
c. Buat permukaan kavitas dalam keadaan lembab.
d. Manipulasi bahan dengan handmixing apabila berupa bubuk dan cairan.
e. Aduk menggunakan spatula plastik yang dibawahnya dilembari kertas
dan glass slab.
f. Aplikasikan GIC ke tempat kavitas berada.
g. Setelah setting, aplikasikan varnish untuk mencegah kebocoran tepi

G. Reaksi Pengerasan
Reaksi pengerasan GIC terjadi pada saat pencampuran powder dengan liquid
terdiri dari 3 fase. Gambar 1.3 menunjukan fase-fase pada GIC.
Fase I Fase II Fase III

Gambar 1.3 Fase-fase GIC


Sumber: Noort (2013)

1. Fase I (Dissolution)
Pada tahap ini, saat terjadi pencampuran powder dan liquid , ion-ion
hidrogen terbentuk dari ionisasi asam poliakrilat dalam air. Ion hidrogen
akan bereaksi dengan partikel-partikel glass yang menyebabkan pelepasan
ion-ion kalsium, aluminium, dan fluor dan membentuk sebuah gel (Silica-
based hydogel) di sekitar partikel-partikel glass.
2. Fase II (Gelation / Hardering)
Pada tahap ini, ion-ion Ca2+ dan Al3+ dari silica hydrogel berikatan dengan
polianion pada gugus polikarboksilat semen yang memulai terbentuk pada
saat pH meningkat. Gugus karboksilat berikatan silang secara ionic dengan
ranyal polianionyang menyebabkan semen mulai mengeras. Kalsium
polikarboksilay mulai terbentuk pada 5 menit pertama sedangkan
alumunium karboksilat yang memiliki ikatan lebih stabil dan kuat terbentuk
setelah 24 jam. Awal pengerasan cenderung rapuh, namun sifat fisiknya
akan mulai meningkat bersamaan dengan terjadinya pembentukan
alumunium polikarboksilat.
3. Fase III (Hydration of Salts)
Pada tahap ini terjadi hidrasi pada gel (silica-based hydrogel) dan gugus
polikarboksilat yang menyebabkan peningkatan sifat-sifat fisik semen. Fase
ini terjadi selama beberapa bulan (Lohbauer, 2003).

H. Kelebihan dan Kekurangan


GIC memiliki beberapa kelebihan, antara lain:
1. Biokompatibel
2. Fluoride release (anti kariogenik)
3. Melekat secara kimia dengan struktur gigi
4. Sifat fisik yang stabil
5. Tingkat sensitivitasnya lebih rendah dibandingkan resin komposit
(Sherwood, 2010)
Selain memiliki beberapa keunggulan, menurut (Noort, 2013) kekurangan dari
GIC antara lain:
1. Working time pendek dan setting time panjang
2. Kekuatan tekan dan kekerasannya rendah
3. Resistensi terhadap abrasi rendah
4. Water in dan water out
5. Kurang estetis dibandingkan resin komposit
6. Mudah retak

I. Teknik Sandwich
Teknik sandwich pada GIC adalah restorasi berlapis yang menggunakan GIC
dan resin komposit, di mana GIC akan menggantikan dentin sedangkan resin
komposit akan menggantikan enamel (Hewlett and Mount, 2003). Istilah teknik
sandwich mengacu kepada tumpatan restorasi yang menggunakan GIC untuk
menggantikan dentin dan resin komposit untuk menggantikan enamel. Strategi
ini menggabungkan sifat paling baik dari kedua bahan tersebut seperti daya
tahan terhadap karies, adhesi secara kimia terhadap dentin, pelepasan fluor dan
proses remineralisasi, pengerutan pada lapisan dalam yang rendah, pengikatan
GIC dengan enamel, penyelesaian akhir enamel, durabilitas dan sifat resin
komposit yang estetis (Mount and Hewlett, 2003). Biasanya dalam penerapan
teknik sandwich biasanya diawali dengan pelapisan GIC tipe II pada dasar
kavitas, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan resin komposit untuk
memberikan ketahanan dan durabilitas (Annusavice, 2003).
GIC berfungsi untuk meningkatkan ikatan antara dentin dengan restorasi
menggunakan bahan komposit (Manappallil, 2003). Selain itu, keuntungan dari
penggunaan GIC yang lain adalah dapat melepaskan ion flour yang
memungkinkan untuk mencegah terjadinya karies sekunder. Namun di sisi lain
GIC juga memiliki kekurangan yaitu tidak dapat menerima tekanan kunyah yang
besar, mudah abrasi, erosi, dan dari segi estetisnya tidak sempurna karena
translusensinya lebih rendah dari resin komposit. GIC memiliki kelebihan
berikatan dengan dentin dan email lebih baik karena melepaskan fluor lebih
banyak daripada resin komposit. GIC berikatan dengan dentin melalui adhesi
kimia (Manapphallil, 2003), sedangkan komposit tidak memiliki ikatan kimia
terhadap email dan dentin. GIC memiliki biokompabilitas yang lebih baik
daripada resin komposit.
Resin komposit memiliki kelebihan yaitu memiliki sifat fisik lebih baik
daripada GIC, juga memiliki estetik yang lebih baik daripada GIC. Melihat dari
kelebihan dan kekurangan SIK dan resin komposit, 2 bahan ini dapat dipadukan.
GIC sebagai base dan resin komposit sebagai tumpatan di atas GIC yang dikenal
dengan teknik sandwich. Ikatan yang terjadi adalah ikatan GIC dengan email dan
dentin (ionic bond) dan ikatan GIC dengan material tumpatan (mechanics
bond). Akibat adhesi dengan dentin, bahan cenderung mengurangi terbentuknya
ruang pada tepi gingival yang berlokasi di dentin, sementum, atau keduanya
akibat penyusutan polimerisasi dari resin. Permukaan semen yang sudah
mengeras di etsa untuk menghasilkan permukaan yang lebih kasar sehingga
menambah retensi, yang menjamin adhesi dengan bahan restorasi komposit
(Manapphallil, 2003).

J. Modifikasi
1. Resin Modified Glass Ionomer Cement (RM-GIC)
RM-GIC merupakan bahan restorasi yang dihasilkan dari penggabungan
sifat GIC konvensional dengan resin komposit. Sifat yang dimiliki lebih
mendekati sifat GIC konvensional dibandingankan resin komposit. Hal ini,
menyebabkan reaksi pengerasan semen terjadi dalam 2 tahapan antara lain:
a. Reaksi asam basa
Reaksi asam basa terjadi pada saat pencampuran fluoroaluminosilicate
glass dengan cairan asam (polialkenoat).
b. Reaksi Polimerisasi
Reaksi polimerisasi dengan aktivator kimia/sinar dilakukan pada hibrid
ionomer untuk megaktifasikan monomer resin 2-
hydoxyethylmethacrylate (HEMA) yang terdapat di dalam bubuk dan
atau cairan hibrid ionomer (Ningsih, 2014).
Kombinasi ini menyebabkan RM-GIC tetap dapat melepaskan ion fluor.
Beberapa penelitian menunjukkan jumlah ion fluor yang ionomer yang
dilepaskan hibrid ionomer lebih banyak dibandingkan bahan restorasi lainnya
seperti resin komposit dan kompomer. Namun, jumlah ion fluor yang
dilepaskan oleh hibrid ionomer sedikit lebih rendah atau sama dengan jumlah
ion fluor yang dilepaskan oleh GIC. Sifat yang dimiliki RM-GIC hamper
sama dengan sifat GIC. Penambahan HEMA mampu memperbaiki
kekurangan GIC dari sifat mekanik dan estetik, tetapi penambahan HEMA
diduga juga dapat membahayakan jika langsung diletakan di dalam sel pulpa
karena kandungannya dapat menyebabkan toksisitas pada daerah sel pulpa
(Ningsih, 2014).
2. Kompomer
Kompomer yang disebut juga sebagai polyacid-modified composite resin,
merupakan bahan restorasi baru yang mengombinasikan resin komposit
dengan GIC yang dapat mengeluarkan fluor dan memiliki sifat adhesi yang
baik. Kompomer mengeras dengan aktivasi sinar pada matriks resin
komposit. Tanpa penyinaran, bahan ini tidak akan mengeras (monomer-
monomer tidak mengalami polimerisasi). Kekuatan kompomer dalam
menerima tekanan kunyah adalah berkisar 0,97-1,23 MPa. Oleh karena itu,
kompomer seharusnya tidak digunakan pada daerah yang menerima beban
yang besar (Nicholson, 2007).
Kompomer didesain untuk melepaskan flour, fluor akan dilepas terjadi
peningkatan kondisi lingkungan yangasam dan sebagai penyeimbang (buffer)
bagi asam laktat. Beberapa peneliti percaya bahwa kompomer mampu
bertindak sebagai reservoir fluorida dengan mengabsorpsi fluorida dari
lingkungannya. Selain itu,kompomer juga mampu melepaskan ion yang jauh
lebih besar pada kondisi lingkungan yang asam dan mampu bertindak sebagai
buffering untuk mengubah pH asam menjadi pH netral. Kompomer
diindikasikan untuk kelas I dan II desidui, kelas III, kelas V, serta pit dan
fissure sealant, sedangkan kontra indikasinya adalah untuk kelas I, II, IV, dan
VI (Ireland, 2006).
Sebelum melakukan preparasi kavitas kelas I kompomer gigi sulung,
harus ditentukan terlebih dahulu outline form nya, kemudian akses jaringan
karies menggunakan bur bulat dengan kecepatanrendah, perdalam kavitas
sekitar 0,5-1 mm, lalu perluas kavitas dengan menggunakan bur silindris.
Setelah selesai dipreparasi, bersihkan kavitas dengan menggunakan air atau
pumice dankeringkan sampai lembab. Kemudian aplikasikan liner yang
sesuai dan self etching resinbonding system. Injeksikan kompomer ke dalam
kavitas lalu light cure setiap lapisan selama 30detik, gunakan bur bulat besar
untuk membuang kelebihan kompomer, lalu periksa oklusi gigi dengan
menggunakan kertas artikulasi. Lakukan polishing dengan menggunakan
white stone dan brush yang halus. Adapun beberapa kelebihan daripada
kompomer adalah dapat melepaskan fluor, memiliki warna yang estetis
dengan gigi serta memiliki teknik penanganan yang sederhana sehingga
sangat cocok untuk kedokteran gigi anak, sedangkan kekurangan dari
kompomer adalah dapat terjadi polimerisasi shrinkage sekitar 2-3%, absorpsi
air akan menyebabkanterjadinya diskolorisasi pada permukaan dan marginal
dari tumpatan setelah beberapa tahun, serta sulit untuk melakukan diagnosa
dan interpretasi bila ditinjau dari segi radiografi (Croll, 2004).
DAFTAR PUSTAKA

Almuhaiza, M., 2016, Glass-ionomer Cements in Restorative Dentistry: A Critical


Apprasial, The Journal of Cotemporary Dental Practice, 17(4) : 331-336.
Anusavice, K.J., 1996, Challenges to The Development of Esthetic Alternatives to
Dental Amalgam in An Dental Research Center. Trans. Acad. Dent. Mater., 9:
2550.
Anusavice, K.J., Shen, C., Rawls, H.R., 2013, Phillips' Science of Dental Materials,
Elsevier: St. Louis.

Craig, R,G., 2002, Restorative Dental Materials, 11th ed, Mosby: London, UK,.

Croll, T.P., Helpin, M.L., Donly, K.J., 201,4 Multi-Colored Dual-Cured Compomer,
Pediatr Dent,26: 273-6.

Forsten, L., 1998, Fluoride release and uptake by glass-ionomers and related
materials and its clinical effect. Biomaterials, 19:503508.

Ireland, R., 2006, Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, United
Kingdom: Blackwell Munksgaard

Khoroushi, M., Keshani, F., 2013, A Review of Glass-Ionomers: From Conventional


Glass-Ionomer to Bioactive Glass-Ionomer, Dent Res J, 10 (4) : 411-420

Klinge, S., Kunstmann, K., Frankenberger, R., Krmer, N., 1999, Clinical Behavior
of Viscous Glassionomer Cement in Classes I and II Cavities. J. Dent. Res. 78:
2285.
Kunzelmann, K,H., 1996, Glass-ionomer Cements, Cemet Cements, Hybrid-Glass-
Ionomers and Compomers Laboratory Trials Wear Resistance, Trans Acad
Dent Mater, 9, 89104.

Lohbauer, U., Frankenberger, R., Krmer, N., Petschelt, A., 2003 Time-dependent
Strength and Fatigue Resistance of Dental Direct Restorative Materials. J.
Mater. Sci.: Mater. Med., 14:10471053.

Lohbauer, U., Frankenberger, R., Krmer, N., Petschelt, A., 2003 Time-dependent
Strength and Fatigue Resistance of Dental Direct Restorative Materials. J.
Mater. Sci.: Mater. Med., 14:10471053.
Mahesh, S.S., 2011, GIC In Dentistry: A Review, Dental Journal, 1(1):26-27.

Manappallil, J.J., 2003, Basic Dental Materials, 2nd edition, Jaypee Brothers Medical
Publishers (P) Ltd.: New Delhi.

Mount, G.J., 2003, An Atlas of Glass Ionomer Cement- A Clinicians Guide.

Mount, J.G., Hewlett, R.E., 2003, Glass Ionomers In Contemporary Restorative


Dentistry- A Clinical Update, Journal Dental California Association, 1:. 169-
170.

Nagaraja, U.P., Kishore, G., 2005, Glass Ionomer Cement The Different
Generations, Trends Biomater. Artif. Organs, 18(2): 158-165.

Nicholson, J.W..2007, Review: Polyacid Modified Composite Resins (Compomers)


and Their Use In Clinical Dentistry, Academy of Dental Materials, 23: 615-22.

Ningsih, D.J., 2014, Resin Modified Glass Ionomer Cement Sebagai Material
Alternatif Restorasi Untuk Gigi Sulung, Odonto Dental Journal, 1(2): 46-51.

Noort, R.V., 2013, Introduction to Dental Materials - E-Book, Elsevier: UK

Powis, D,R., Folleras, T.,Merson, SA., Wilson, A,D., 2002, Improved Adhesion of A
Glass-Ionomer Cement to Dentin and Enamel, J. Dent. Res., 61, 14161422.

Roulet, J.F., 1997, Benefits And Disadvantages of Tooth-Coloured Alternatives to


Amalgam. J. Dent, 25:459473.
Saito, S., Tosaki, S., Hirota, K., 1999, Advances in Glass Ionomer Cements:
Davidson C.L., Quintessence Publishing Co: Berlin.

Sherwood, I.A., 2010, Essentials of Operative Dentistry, Jaypee: New Delhi .

Small, I.C.B., Watson, T.F., Chadwick, A.V., Sidhu, S.K., 1998, Water Sorption in
Resin-Modified Glass-ionomer Cements: An in vitro Comparison with Other
Materials. Biomaterials, 19:545550.

Xie, D., Brantley, W.A., Culbertson, B.M., Wang, G., 2000, Mechanical Properties
and Microstructures of Glass-ionomer Cements. Dent. Mater. 16:129138.