Disusun Oleh:
Nabilah G4B017016
2017
Glass Ionomer Cement (GIC)
A. Gambaran Umum
Perkembangan amalgam, emas, dan restorasi porselain pada abad 19
menstimulasi perkembangan bahan-bahan dental material yang digunakan
sebagai material luting dan material lining serta bahan-bahan dental material lain
yang memiliki nilai estetika yang baik. Sehingga pada awal abad 20, beberapa
bahan digunakan untuk lining, basis, serta bahan penumpatan, seperti zinc oxide
eugenol (1875), zinc phospate (1879), dan semen silikat (1908). Selain itu,
bahan-bahan tersebut juga dapat digunakan untuk luting inlay, mahkota, post,
bridge, serta band ortodonti. Tahun 1963, penggunaan asam poliakrilat untuk
berikatan dengan jaringan gigi diteliti untuk pertama kali (Saito, et al., 1999).
Akhir-akhir ini, perkembangan material restorasi direk terus meningkat.
Material yang sering digunakan diantaranya ialah amalgam, resin komposit, dan
glass ionomer cement (GIC) (Roulet, 1997). Penggunaan amalgam sudah mulai
ditinggalkan karena amalgam memiliki merkuri yang bersifat toksik serta
memiliki nilai estetik yang buruk (Anusavice, 1996). Resin komposit merupakan
bahan restorasi yang memiliki nilai estetik yang baik dan sifat fisik yang baik,
namun resin komposit memiliki kekurangan yakni mahal, membutuhkan waktu
yang lama dalam prosedurnya, serta membutuhkan prosedur teknik sensitif
adesif. GIC dapat dijadikan pilihan untuk menumpat pada beberapa kasus karena
GIC memiliki sifat fisik yang memungkinkan untuk dimodifikasi dengan
merubah rasio bubuk dan cairannya. Selain itu, GIC juga memiliki beberapa tipe
sehingga cocok untuk digunakan sebagai bahan tumpatan sesuai indikasinya.
Macam aplikasi GIC bergantung pada konsistensi semen dari viskositas yang
tinggi ke rendah sesuai dengan distribusi partikel serta rasio bubuk dan cairan
GIC. Ukuran partikel bahan restoratif maksimal adalah 50 m, sedangkan bahan
luting 15 m (Sherwood, 2010). GIC memiliki biokompatibilitas yang baik serta
bersifat flour release sehingga dapat menghambat karies. Namun, GIC juga
memiliki beberapa kelemahan yakni sifat mekanis yang buruk seperti rapuh,
mudah aus, kekerasan rendah, dan kurang bisa ditempatkan pada area yang
memiliki tekanan yang besar (Xie et al., 2000).
GIC merupakan material yang dikenal sebagai semen berbahan dasar asam.
GIC berasal dari reaksi asam polimerik lemah dengan powdered glasses (Sidhu
dan Nicholson, 2016). GIC merupakan material restoratif yang terdiri atas
kalsium, stronsium, aluminosilikat (base), dan water-soluble polimer (asam).
Ketika bahan-bahan tersebut dicampur, maka akan terjadi reaksi pengerasan yang
terjadi karena adanya neutralisasi kelompok asam oleh bahan-bahan base
(Upadhya dan Kishore, 2005). Selanjutnya GIC akan berikatan dengan gigi
menggunakan mekanisme micromechanical interlocking dan true chemical
bonding (Sidhu dan Nicholson, 2016).
B. Klasifikasi
Menurut Wilson dan Mclean (1988) GIC di klasifikasikan sebagai berikut.
1. Tipe I : Luting
2. Tipe II : Restoratif
Tipe II.1 : Restoratif estetik (autocure resin-modified)
Tipe II.2 : Restoratif reinforced / Bis-reinforced filling materials
3. Tipe III : Lining atau base
D. Komposisi
Komposisi GIC terdiri dari bubuk dan cairan. Bubuk GIC adalah calcium
fluoroaluminosilicate glass yang larut dalam cairan asam. (Anusavice et al.,
2013). Bubuk dapat terurai oleh asam karena adanya ion Al3+ yang dapat mudah
masuk ke jaringan silika (Mahesh et al., 2011).
1. Bubuk (Powder)
a. Kalsium Fluorida
Berfungsi untuk meningkatkan opasitas dan mengatur pelepasan fluor.
b. Alumina
Berfungsi untuk meningkatkan opasitas dan kekuatan kompresi.
c. Silika
Berfungsi untuk mempengaruhi transparansi.
d. Fluoride
Berfungsi untuk antikariogenesis, meningkatkan translusens, kekuatan,
menghambat pembentukan plak serta memperpanjang waktu kerja.
e. Fosfat Aluminium
Berfungsi untuk meningkatkan translusens.
f.
Berfungsi untuk meningkatkan transparansi
g. Stronsium
Berfungsi untuk mengatur radioopasitas.
((Anusavice, 2013); (Sherwood, 2010); (Mahesh, 2011)).
Gambar 1.1 Komposisi dan berat tiap bahan pada bubuk GIC
Sumber: Mount (2003)
2. Cairan (Liquid)
a. Tartaric acid (5-15%)
Berfungsi untuk meningkatkan waktu kerja, memperlambat setting time
translusens, dan kekuatan.
b. Polifosfat (40-55%)
Polifosfat terdiri atas acrylic acid , itaconic acid, maleic acid,
phosphonic acid. Polifosfat berfungsi untuk memperpanjang waktu kerja
dan melekat pada struktur gigi tanpa perlakuan khusus.
c. Oksida logam
Berfungsi untuk mempercepar setting tim.
((Anusavice, 2013); (Sherwood, 2010); (Mahesh, 2011)).
F. Tahapan Pembuatan
1. Metode Pengadukan
Menurut Nagaraja dan Kishore (2005), metode pengadukan GIC berdasarkan
jenis bahannya antara lain sebagai berikut.
a. Powder dan Liquid
Powder diambil dengan menggunakan sendok khusus sesuai dengan
besar kavitas, ratakan di mulut botol, letakkan di atas kertas / kaca
pengaduk. Botol liquid didesain dengan prinsip dropper mechanism, di
mana hanya mengeluarkan satu tetes setiap aplikasinya. Setiap tetes
liquid yang mengandung gelembung udara, harus dibuang. Pengadukan
terjadi sekitar 20-30 detik.
b. Kapsul
Powder dan liquid dikemas dalam bentuk kapsul. Keduanya dicampur
menggunakan mixing machine. Perbandingan powder-liquid dapat
dikontrol.
c. Pasta
Bentuk pasta biasa digunakan untuk luting cements, lining cements,
endodontik dan orthodontic. Bentuk dua pasta dikemas dalam dua syringe
berbeda, setelah itu dicampur dengan teknik hand mixing. Ukuran partikel
yang halus dan memiliki setting time selama 3 menit. Campurkan
material pasta secara cepat dengan menggunakan spatula plastik selama
10-15 detik.
2. Teknik Aplikasi
Teknik aplikasi GIC untuk kavitas menurut Sherwood (2010) dan Noort
(2013), antara lain sebagai berikut.
a. Aplikasikan dentin conditioner yang mengandung asam poliakrilat 10%
diletakkan selama 10 detik Selain asam poliakrilat dapat juga
menggunakan bahan seperti EDTA, ferric chloride, atau asam sitrat.
b. Bersihkan dengan air selama 10 detik.
c. Buat permukaan kavitas dalam keadaan lembab.
d. Manipulasi bahan dengan handmixing apabila berupa bubuk dan cairan.
e. Aduk menggunakan spatula plastik yang dibawahnya dilembari kertas
dan glass slab.
f. Aplikasikan GIC ke tempat kavitas berada.
g. Setelah setting, aplikasikan varnish untuk mencegah kebocoran tepi
G. Reaksi Pengerasan
Reaksi pengerasan GIC terjadi pada saat pencampuran powder dengan liquid
terdiri dari 3 fase. Gambar 1.3 menunjukan fase-fase pada GIC.
Fase I Fase II Fase III
1. Fase I (Dissolution)
Pada tahap ini, saat terjadi pencampuran powder dan liquid , ion-ion
hidrogen terbentuk dari ionisasi asam poliakrilat dalam air. Ion hidrogen
akan bereaksi dengan partikel-partikel glass yang menyebabkan pelepasan
ion-ion kalsium, aluminium, dan fluor dan membentuk sebuah gel (Silica-
based hydogel) di sekitar partikel-partikel glass.
2. Fase II (Gelation / Hardering)
Pada tahap ini, ion-ion Ca2+ dan Al3+ dari silica hydrogel berikatan dengan
polianion pada gugus polikarboksilat semen yang memulai terbentuk pada
saat pH meningkat. Gugus karboksilat berikatan silang secara ionic dengan
ranyal polianionyang menyebabkan semen mulai mengeras. Kalsium
polikarboksilay mulai terbentuk pada 5 menit pertama sedangkan
alumunium karboksilat yang memiliki ikatan lebih stabil dan kuat terbentuk
setelah 24 jam. Awal pengerasan cenderung rapuh, namun sifat fisiknya
akan mulai meningkat bersamaan dengan terjadinya pembentukan
alumunium polikarboksilat.
3. Fase III (Hydration of Salts)
Pada tahap ini terjadi hidrasi pada gel (silica-based hydrogel) dan gugus
polikarboksilat yang menyebabkan peningkatan sifat-sifat fisik semen. Fase
ini terjadi selama beberapa bulan (Lohbauer, 2003).
I. Teknik Sandwich
Teknik sandwich pada GIC adalah restorasi berlapis yang menggunakan GIC
dan resin komposit, di mana GIC akan menggantikan dentin sedangkan resin
komposit akan menggantikan enamel (Hewlett and Mount, 2003). Istilah teknik
sandwich mengacu kepada tumpatan restorasi yang menggunakan GIC untuk
menggantikan dentin dan resin komposit untuk menggantikan enamel. Strategi
ini menggabungkan sifat paling baik dari kedua bahan tersebut seperti daya
tahan terhadap karies, adhesi secara kimia terhadap dentin, pelepasan fluor dan
proses remineralisasi, pengerutan pada lapisan dalam yang rendah, pengikatan
GIC dengan enamel, penyelesaian akhir enamel, durabilitas dan sifat resin
komposit yang estetis (Mount and Hewlett, 2003). Biasanya dalam penerapan
teknik sandwich biasanya diawali dengan pelapisan GIC tipe II pada dasar
kavitas, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan resin komposit untuk
memberikan ketahanan dan durabilitas (Annusavice, 2003).
GIC berfungsi untuk meningkatkan ikatan antara dentin dengan restorasi
menggunakan bahan komposit (Manappallil, 2003). Selain itu, keuntungan dari
penggunaan GIC yang lain adalah dapat melepaskan ion flour yang
memungkinkan untuk mencegah terjadinya karies sekunder. Namun di sisi lain
GIC juga memiliki kekurangan yaitu tidak dapat menerima tekanan kunyah yang
besar, mudah abrasi, erosi, dan dari segi estetisnya tidak sempurna karena
translusensinya lebih rendah dari resin komposit. GIC memiliki kelebihan
berikatan dengan dentin dan email lebih baik karena melepaskan fluor lebih
banyak daripada resin komposit. GIC berikatan dengan dentin melalui adhesi
kimia (Manapphallil, 2003), sedangkan komposit tidak memiliki ikatan kimia
terhadap email dan dentin. GIC memiliki biokompabilitas yang lebih baik
daripada resin komposit.
Resin komposit memiliki kelebihan yaitu memiliki sifat fisik lebih baik
daripada GIC, juga memiliki estetik yang lebih baik daripada GIC. Melihat dari
kelebihan dan kekurangan SIK dan resin komposit, 2 bahan ini dapat dipadukan.
GIC sebagai base dan resin komposit sebagai tumpatan di atas GIC yang dikenal
dengan teknik sandwich. Ikatan yang terjadi adalah ikatan GIC dengan email dan
dentin (ionic bond) dan ikatan GIC dengan material tumpatan (mechanics
bond). Akibat adhesi dengan dentin, bahan cenderung mengurangi terbentuknya
ruang pada tepi gingival yang berlokasi di dentin, sementum, atau keduanya
akibat penyusutan polimerisasi dari resin. Permukaan semen yang sudah
mengeras di etsa untuk menghasilkan permukaan yang lebih kasar sehingga
menambah retensi, yang menjamin adhesi dengan bahan restorasi komposit
(Manapphallil, 2003).
J. Modifikasi
1. Resin Modified Glass Ionomer Cement (RM-GIC)
RM-GIC merupakan bahan restorasi yang dihasilkan dari penggabungan
sifat GIC konvensional dengan resin komposit. Sifat yang dimiliki lebih
mendekati sifat GIC konvensional dibandingankan resin komposit. Hal ini,
menyebabkan reaksi pengerasan semen terjadi dalam 2 tahapan antara lain:
a. Reaksi asam basa
Reaksi asam basa terjadi pada saat pencampuran fluoroaluminosilicate
glass dengan cairan asam (polialkenoat).
b. Reaksi Polimerisasi
Reaksi polimerisasi dengan aktivator kimia/sinar dilakukan pada hibrid
ionomer untuk megaktifasikan monomer resin 2-
hydoxyethylmethacrylate (HEMA) yang terdapat di dalam bubuk dan
atau cairan hibrid ionomer (Ningsih, 2014).
Kombinasi ini menyebabkan RM-GIC tetap dapat melepaskan ion fluor.
Beberapa penelitian menunjukkan jumlah ion fluor yang ionomer yang
dilepaskan hibrid ionomer lebih banyak dibandingkan bahan restorasi lainnya
seperti resin komposit dan kompomer. Namun, jumlah ion fluor yang
dilepaskan oleh hibrid ionomer sedikit lebih rendah atau sama dengan jumlah
ion fluor yang dilepaskan oleh GIC. Sifat yang dimiliki RM-GIC hamper
sama dengan sifat GIC. Penambahan HEMA mampu memperbaiki
kekurangan GIC dari sifat mekanik dan estetik, tetapi penambahan HEMA
diduga juga dapat membahayakan jika langsung diletakan di dalam sel pulpa
karena kandungannya dapat menyebabkan toksisitas pada daerah sel pulpa
(Ningsih, 2014).
2. Kompomer
Kompomer yang disebut juga sebagai polyacid-modified composite resin,
merupakan bahan restorasi baru yang mengombinasikan resin komposit
dengan GIC yang dapat mengeluarkan fluor dan memiliki sifat adhesi yang
baik. Kompomer mengeras dengan aktivasi sinar pada matriks resin
komposit. Tanpa penyinaran, bahan ini tidak akan mengeras (monomer-
monomer tidak mengalami polimerisasi). Kekuatan kompomer dalam
menerima tekanan kunyah adalah berkisar 0,97-1,23 MPa. Oleh karena itu,
kompomer seharusnya tidak digunakan pada daerah yang menerima beban
yang besar (Nicholson, 2007).
Kompomer didesain untuk melepaskan flour, fluor akan dilepas terjadi
peningkatan kondisi lingkungan yangasam dan sebagai penyeimbang (buffer)
bagi asam laktat. Beberapa peneliti percaya bahwa kompomer mampu
bertindak sebagai reservoir fluorida dengan mengabsorpsi fluorida dari
lingkungannya. Selain itu,kompomer juga mampu melepaskan ion yang jauh
lebih besar pada kondisi lingkungan yang asam dan mampu bertindak sebagai
buffering untuk mengubah pH asam menjadi pH netral. Kompomer
diindikasikan untuk kelas I dan II desidui, kelas III, kelas V, serta pit dan
fissure sealant, sedangkan kontra indikasinya adalah untuk kelas I, II, IV, dan
VI (Ireland, 2006).
Sebelum melakukan preparasi kavitas kelas I kompomer gigi sulung,
harus ditentukan terlebih dahulu outline form nya, kemudian akses jaringan
karies menggunakan bur bulat dengan kecepatanrendah, perdalam kavitas
sekitar 0,5-1 mm, lalu perluas kavitas dengan menggunakan bur silindris.
Setelah selesai dipreparasi, bersihkan kavitas dengan menggunakan air atau
pumice dankeringkan sampai lembab. Kemudian aplikasikan liner yang
sesuai dan self etching resinbonding system. Injeksikan kompomer ke dalam
kavitas lalu light cure setiap lapisan selama 30detik, gunakan bur bulat besar
untuk membuang kelebihan kompomer, lalu periksa oklusi gigi dengan
menggunakan kertas artikulasi. Lakukan polishing dengan menggunakan
white stone dan brush yang halus. Adapun beberapa kelebihan daripada
kompomer adalah dapat melepaskan fluor, memiliki warna yang estetis
dengan gigi serta memiliki teknik penanganan yang sederhana sehingga
sangat cocok untuk kedokteran gigi anak, sedangkan kekurangan dari
kompomer adalah dapat terjadi polimerisasi shrinkage sekitar 2-3%, absorpsi
air akan menyebabkanterjadinya diskolorisasi pada permukaan dan marginal
dari tumpatan setelah beberapa tahun, serta sulit untuk melakukan diagnosa
dan interpretasi bila ditinjau dari segi radiografi (Croll, 2004).
DAFTAR PUSTAKA
Craig, R,G., 2002, Restorative Dental Materials, 11th ed, Mosby: London, UK,.
Croll, T.P., Helpin, M.L., Donly, K.J., 201,4 Multi-Colored Dual-Cured Compomer,
Pediatr Dent,26: 273-6.
Forsten, L., 1998, Fluoride release and uptake by glass-ionomers and related
materials and its clinical effect. Biomaterials, 19:503508.
Ireland, R., 2006, Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, United
Kingdom: Blackwell Munksgaard
Klinge, S., Kunstmann, K., Frankenberger, R., Krmer, N., 1999, Clinical Behavior
of Viscous Glassionomer Cement in Classes I and II Cavities. J. Dent. Res. 78:
2285.
Kunzelmann, K,H., 1996, Glass-ionomer Cements, Cemet Cements, Hybrid-Glass-
Ionomers and Compomers Laboratory Trials Wear Resistance, Trans Acad
Dent Mater, 9, 89104.
Lohbauer, U., Frankenberger, R., Krmer, N., Petschelt, A., 2003 Time-dependent
Strength and Fatigue Resistance of Dental Direct Restorative Materials. J.
Mater. Sci.: Mater. Med., 14:10471053.
Lohbauer, U., Frankenberger, R., Krmer, N., Petschelt, A., 2003 Time-dependent
Strength and Fatigue Resistance of Dental Direct Restorative Materials. J.
Mater. Sci.: Mater. Med., 14:10471053.
Mahesh, S.S., 2011, GIC In Dentistry: A Review, Dental Journal, 1(1):26-27.
Manappallil, J.J., 2003, Basic Dental Materials, 2nd edition, Jaypee Brothers Medical
Publishers (P) Ltd.: New Delhi.
Nagaraja, U.P., Kishore, G., 2005, Glass Ionomer Cement The Different
Generations, Trends Biomater. Artif. Organs, 18(2): 158-165.
Ningsih, D.J., 2014, Resin Modified Glass Ionomer Cement Sebagai Material
Alternatif Restorasi Untuk Gigi Sulung, Odonto Dental Journal, 1(2): 46-51.
Powis, D,R., Folleras, T.,Merson, SA., Wilson, A,D., 2002, Improved Adhesion of A
Glass-Ionomer Cement to Dentin and Enamel, J. Dent. Res., 61, 14161422.
Small, I.C.B., Watson, T.F., Chadwick, A.V., Sidhu, S.K., 1998, Water Sorption in
Resin-Modified Glass-ionomer Cements: An in vitro Comparison with Other
Materials. Biomaterials, 19:545550.
Xie, D., Brantley, W.A., Culbertson, B.M., Wang, G., 2000, Mechanical Properties
and Microstructures of Glass-ionomer Cements. Dent. Mater. 16:129138.