Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Seandainya seseorang berkata kepada kita bahwa dia tahu bagaimana


cara bermain gitar, maka seorang lainnya mungkin bertanya, apakah
pengetahuan anda itu merupakan ilmu? Tentu saja dengan mudah dia dapat
menjawab bahwa pengetahuan bermain girt itu bukanlah ilmu, melainkan seni.
Demikian juga sekiranya seseorang mengemukakan bahwa sesudah mati semua
manusia akan dibangkitkan kembali, akan timbul pertanyaan serupa apakah
pengetahuan tentang sutu yang bersifat transendendetal (gaib atau abstrak)
yang menjorok keluar batas tentang sesuatu yang bersifat ilmu? Tentu saja
jawabannya adalah bukan, sebab pengetahuan yang berhubungan dengn
masalah semacam itu adalah agama. Pengetahuan pada hakekatnya merupakan
segenap apa yang kita ketahui tentang sesuatu objek tertentu, termasuk
kedalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang
diketahui oleh manusia. Bahkan seorang anak kecilpun telah mempunyai
berbagai pengetahuan sesuai dengan tahap pertumbuhan dan kecerdasannya.

Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara


langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk
dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak
ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban dari berbagai pertanyaan
yang muncul dalam kehidupan.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan


pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai
pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya
(survival). Seekor kera tahu mana jambu yang enak. Seekor tikus tahu mana
kucing yang ganas. Tetapi dalam hal ini berbeda dengan tujuan pendidikan
hidupnya. Manusia mengembangkan pengetahuannya untung mengatasi
kebutuhan kelangsungan hidup ini. Manusia itu dalam hidupnya mempunyai
tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang
menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan
inilah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka
bumi ini.

Pengetahuan manusia mampu dikembangkan disebabkan dua hal utama


yakni manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi
dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua yakni
kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Dua
kelebihan inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuan
yakni bahasa yang bersifat komunikatif dan pikiran yang mampu menalar. Tentu
saja tidak semua pengetahuan dari penalaran.
ISI
PENGETAHUAN NON ILMIAH (KNOWLEDGE)

Pengetahuan non ilmiah atau dikenal juga sains semu diperoleh terutama
dengan mengandalan perasaan,keyakinan dan tanpa diikuti proses pemikiran
yang cermat. Oleh karenya pencarian pengetahuan dengan cara ini presentase
kebenarannya rendah. Pengetahuan yang diperoleh bisa benar bahkan bisa salah
seperti pada cara prasangka dan intuisi, serta tidak efisien karena harus
mencoba-coba tanpa dasar dan kalaupun benar sering karena kebutulan saja.
Sampai saat ini belum ada metode tertentu atau khusus yang dapat digunakan
untuk mendekati kebenaran pengetahuan non ilmiah namun umumnya manusia
melakukan pendekatan dengan cara-cara berikut :

1. Mitos. Mitos merupakan gabungan dari pengamatan, pengalaman namun


sebagian lainnya berupa dugaan,imajinasi,kepercayaan. Mitos muncul
karena keterbatasan alat indera manusia. Contoh adalah cerita-cerita
legenda.
2. Wahyu. Wahyu merupakan komunikasi Sang Pencipta dengan
makhluknya dan merupakan pengetahuan yang disampaikan kepada
utusannya. Manusia dalam menerima pengetahuannya ini bersifat pasif,
namun dengan keyakinan bahwa semuanya adalah benar. Wahyu
merupakan kebenaran mutlak dan tidak dapat dipertanyakan dan
diperdebatkan kebenarannya dengan akal saja.
3. Otoritas dan Tradisi. Pengetahuan yang telah ada dn mapan sering
digunakan oleh pemimpin atau secara tradisi untuk menyatakan
kebenaran. Sebagai contoh sampai abad pertengahan manusia
menganggap bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta (geosentris).
4. Prasangka. Berupa dugaan yang kemungkinan bisa benar atau salah.
Dengan prasangka orang sering mengambil keputusan dan kesimpulan
yang keliru. Cara ini hanya berguna untuk mencari kemungkinan
kebenaran.
5. Intuisi. Intuisi merupakan kegiatan berfikir yang non analitik (tanpa
nalar), tidak berdasarkan pada pola berfikir tertentu dan biasa pendapat
tersebut diperoleh dengan cepat tanpa melalui proses yang dipikirkan
terlebih dahulu.
6. Penemuan kebetulan, beberapa pengalaman pada awalnyaditemukan
secara kebetulan dan beberapa di antaranya adalah sangat berguna.
7. Cara coba-coba ( Trial and Error ) merupakan serangkaian percobaan asal
saja yang tidak didasari oleh teori yang ada sebelumnya, sehingga
memungkinkan diperolehnya kepastian pemecahan suatu masalah atau
hal yang diketahui.

PENGETAHUAN ILMIAH / ILMU PENGETAHUAN ( SCIENCE )

Pencarian pengetahuan dengan cara ilmiah dilakukan berdasarkan


pemikiran rasional, pengalaman empitis ( fakta ) maupun referensi pengalaman
sebelumnya. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara atau metode ilmiah
(scientific method) disebut ilmu.

a. Pengertian ilmu pengetahuan


Menurut para ahli memiliki pengertian sebagai berikut.
1. Ralph Ross and Ernest Van Den Haag dalam bukunya The Fabric of
Society menuliskan bahwa science is empirical, rational, general and
cumulative, and it is all four at once. Artinya, ilmu adalah empiris,
rasional, umum dan kumulatif serta keempatnya serentak.
2. Ashley Montagu dalam bukunya The Curtured Man menyebutkan
bahwa : science is a systematized knowledge services from
observation, study and experimentation carried on order to
determine the nature or principles of what being studied. Artinya ilmu
pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam satu system
yang berasal dari pengalaman, studi dari percobaan untuk
menentukan hakekat prinsip tentang hak yang sedang dipelajari.
3. Helmi A. Kotto, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah
kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, konsisten
dan berkesinambungan serta telah teruji kebenarannya dan dapat
diandalkan kegunaannya bagi manusia.
4. Dadang Ahmad, menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu
proses pembentukan ( konstruksi ) yang menerus sampai dapat
menjelaskan fenomena alam dan keberadaan alam itu sendiri.
b. Fungsi Ilmu Pengetahuan
Fungsi ilmu pengetahuan di antaranya adalah :
1. Menjelaskan (Explaining, Discribing)
Fungsi menjelaskan mempunyai empat bentuk yaitu :
a) Dediktif : suatu imu harus dapat menjelaskan sesuatu berdasarkan
premis pangkal ilir yang telah ditetapkan sebelumnya.
b) Probabilistic : ilmu dapat menjelaskan berdasarkan pola pikir
induktif dari sejumlah kasus yang jelas, sehingga hanya dapat
memberikaan kepastian (tidak mutlak) yang bersifat kemungkinan
besar atau hamper pasti
c) Funsional : ilmu dapat menjelaskan letak suatu komponen dalam
suatu system secara keseluruhan
d) Genetik : ilmu dapat menjelaskan suatu factor berdasarkan
gejala-gejala yang sudah sering terjadi sebelumnya.
2. Meramalkan (Prediction)
Ilmu harus dapat menjelaskan factor sebab akibat suatu peristiwa
atau kejadian, misalnya apa yang akan terjadi jika harga naik.
3. Mengendalikan (Controlling)
Ilmu harus dapat mengendalikan gejala alam berdasarkan suatu teori,
misalnya bagaimana mengendalikan kurs rupiah.

c. Kriteria Ilmu Pengetahuan


Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, karena ilmu merupakan pengetahuan

yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu.

1. Logis atau masuk akal

Sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang telah diakui

kebenarannya.

2. Objektif

Pengetahuan yang didapat harus sesuai dengan obyeknya dan didukung oleh

fakta empiris.

3. Metodik

Berarti bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara-cara tertentu yang teratur,

dirancang, diamati dan terkontrol,

4. Sistematik

Berani bahwa pengetahuan tersebut disusun dalam satu sitem yang satu

dengan Iainnya saling berkaitan dan saling menjelaskan sehingga merupakan

satu kesatuan yang utuh.

5. Berlaku Umum atau Universal

Pengetahuan berlaku untuk siapa saja dan di mana saja yaitu dengan cara

eksperimentasi yang sama akan diperoleh hasil yang sama atau konsisten.

6. Kumulatif berkembang dan tentatif

Khasanah ilmu pengetahuan selalu bertambah dengan hadirnya ilmu

pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan yang terbukti salah harus diganti dengan

pengetahuan yang benar (tentative).


d. Tinjauan Konstruksi Ilmu Pengetahuan

Di antara berbagai prosedur pengembangan ilmu pengetahuan, Soeparmo (

1984) menyatakan bahwa sering kali digunakan proses induktif-deduktif dalam

suatu hubungan yang saling melengkapi dan terpadu. Proses induksi dimulai

dengan fakta-fakta yang teramati. Dari pengamatan ini ditarik kesimpulan-

kesimpulan logik, matematika dan intuitif sehingga terbentuk kerangka konsep

(verbal). Bilamana kerangka konsep telah berkembang meradi suatu item

proporsisi (himpunan asumsi) tersusunlah suatu teori. Bentuk prinsip-prinsip

tersebut termasuk kata-kata dan rumus matematik, yang terorganisasi menurut

pola-pola logika deduktif dan aturan-aturan sintaksis.

Kemajuan ilmu pengetahuan melibatkan kombinasi dari 1) perumusan

hipotesis atau 'conjecturc' secara intuitif, komprehensif, dan referensial; 2)

ekperimentasi dengan seperangkat peralatan dan fasilitas yang

memungkinkan gejala yang akan ditinjau (dimodelkan) dapat berlangsung,

dan 3) interpretasi melalui kompilasi, seleksi dan memproses data sesuai

dengan keperluan metode inferensi yang digunakan dengan melibatkan

konsep, hukum dan teori yang tersedia. Konstruksi/pembentukan ilmu

pengetahuan melalui langkah-langkah Metode ilmiah (Scientific Method)

yang dijabarkan dalam tahapan berikut :

1. Perumusan Masalah

Masalah adalah topik atau obyek yang diteliti dengan batasan yang

jelas serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait.

2. Penyusunon Hipotesis
Hipotesis merupakan argumentasi tentang kemungkinan jawaban
sementara tentang masalah yang ditetapkan, disusun berdasarkan
pengetahuan atau teori yang ada dan harus diuji kebenarannya dengan
observasi atau eksperimentasi.
3. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis merupakan usaha pengumpulan fakta yang relevan


dengan hipotesis dan diuji apakah fakta tersebut mendukung hipotesis
yang diajukan.

4. Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan diambil berdasarkan hasil analisis data untuk melihat apakah


hipotesis yang diajukan dapat diterima atau tidak. Hipotesis yang
diterima merupakan pengetahuan yang kebenarannya teruji secara
ilmiah dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.

e. Unsur-Unsur Pembentuk Ilmu Pengctahuan

Keberadaan ilmu pengetahuan terbentuk dari hukum secara khusus dan teori

yang Jebih general. Baik dalam rumusan hukum maupun teori melibatkan unsur konsep
yang mcrupakan kontruksi mental dalam mengintcrpretasi hasil observasi. Konsep

merupakan simbol-simbol yang membantu untuk mengorganisasikan pengalaman.

Hukum adalah korelasi antara dua konsep atau lebih yang dekat kaitannya dengan hat-

hal yang terobservasi. Mukum mencerminkan urutan sistematik suatu pengalaman dan

berfungsi untuk memberikan pengalaman menurut pola yang beraturan dan dapat

dinyatakan dalam bentuk grafik, persamaan atau ekspresi verbal tentang interrelasi

antara konsep yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan teori adalah kerangka

konsepsi yang terorganisasi menjadi suatu generalisasi yang dapat dijabarkan menjadi

hukum-hukum. Dibandingkan dengan hukum, teori memiliki generalisasi yang jauh

lebih luas dan komprehensif.

Konsep-konsep yang digunakan dalam teori adalah konstruksi mental yang


disusun darl hasil penangkapan (encoding) pertanda alam dan sosial melalui survey atau
eksperimentasi. Konsep-konscp ini mempunyai ciriciri yang berbeda dari bahan
mentahnya (data), dan sudah siap untuk masuk ke fase penjelasan tentang fenomena
yang sedang ditinjau. PenjeJasan tersebut bukan sekedar danar konsep yang bcrhasil
dirumuskan tetapi merupakan kaitan langsung antara dua atau lebih konsep yang
memiliki tingkat keterkaitan. Kualitas teori yang terumuskan kemudian
diuji/dievaluasi wilayah keberlakuannya dan kemampuan peramalannya.

Kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi teori diantaranya adalah:


kesesuaiannya dengan observasi, konsistensi internal hubungan konsep
konsepnya, dan sifat komprehensif cakupannya. Kriteria pertama adalah
hubungannya dengan data yang dapat direproduksi dalam masyarakat keilmuan,
atau kesesuaiannya dengan pengalaman empiris. Kriteria kedua menyangkut
konsistensi dan koherensi. Kedua syarat ini mengkonfirmasikan ketidakhadiran
suatu kontradiksi di antara konsep - konsep yang menyusun teori. Jika ini
dipenuhi maka teori tersebut memiliki validitas seperti yang telah diperlihatkan
oleh teori teori lain yang telah lebih dulu lahir. Hasil Iain dari pemeriksaan
kedua kriteria tersebut adalah tercapainya simplisitas (kebersahajaan)
teori yang dicirikan oleh jumlah minimal asumsi yang dijadikan dasar
penyusunannya. Kelompok kriteria ketiga berkenaan dengan sifat komprehensif
suatu teori, termasuk generalitasnya, atau kemampuan untuk menunjukkan
kepaduan yang melatarbelakangi fenomena yang beragam. Kebenaran suatu
teori adalah tujuan ilmu pengetahuan, tetapi dalam prosesnya yang
dipertimbangkan adalah derajat kesesuaiannya (adekuasi) dengan data yang
diketahui dan sifat koherensi dan komprehensifnya dibandingkan teori teori lain
yang tersedia. Semua rumusan teori bersifat tentatif dan tidak kebal untuk
direvisi, sebagaimana tujuan utama ilmu pengetahuan adalah pemahaman terus
menerus menuju kesempurnaan penjelasan intelektual terhadap fenomena alam
dan sosial.

f. Sikap Ilmiah
Berdasarkan pada syarat, kriteria, langkah operasional dan unsur pembentukan
ilmu pengetahuan menuntun pembentukan seorang ilmuwan mempunyai sikap
ilmiah, antara lain

1. Jujur
Ilmuwan wajib melaporkan hasil pengamatannya secara objektif dan jujur
sehingga bila hasil penelitiannya tersebut diuji kembali oleh peneliti lain
akan memberikan hasil yang sama.
2. Terbuka
Ilmuwan harus mempunyai pandangan yang luas, terbuka terhadap
pendapat orang lain, jauh dari praduga dan menghargai gagasan baru
orang lain meskipun untuk menerimanya harus melakukan pengujian
terlebih dahulu.
3. Toleran
Seorang ilmuwan tidak akan merasa dirinya paling hebat, bersedia belajar
dari orang lain atau membandingkan pendapatanya dengan yang lain
serta tidak pernah memaksakan pendapatnya pada orang lain.
4. Skeptis
Dalam mencari kebenaran, seorang ilmuwan akan bersikap hati-hati,
meragukan sesuatu dan skeptis tetapi kritis sehingga akan menyelidiki
(memverifikasi) dahulu bukti-bukti (informasi) yang mendasari suatu
kesimpulan, keputusan atau pemecahan masalah.
5. Optimis
Seorang ilmuwan tidak akan mengatakan sesuatu tidak dapat dikerjakan
sebelum memikirkan dan mencoba mengerjakannya terlebih dahulu.
6. Pemberani
Sifat ilmuwan yang selalu mencari kebenaran. maka akan berani melawan
ketidakbenaran, kepura-puraan yang menghambat kemajuan, meskipun
merugikan dirinya sendiri, Sifat pcmberani ini dicontohkan oleh
Copernicus dan dan Galilei mengenai keyakinan tentang heliosentrisnya
yang sangat bertentangan dengan kepercayaan dan penguasa saat itu
yang memercayai paham geosentris.

7. Kreatif dan Inovatif


Selalu ingin mendapatkan, menciptakan, memvariasikan sesuatu yang
baru terutama guna mendapatkan nilai tambah.

Kaitan Konsep Pengetahuan dengan Visi Misi Prodi

Visi
Sebagai pusat unggulan dalam penggunaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang berwawasan lingkungan guna tercapainya penggunaan
teknologi yang bersifat ramah lingkungan dalam jaringan global sains-teknologi
dan infrastruktur benua maritim.

Misi
Meningkatkan Tridarma Perguruan Tinggi secara berkelanjutan,menghasilkan
lulusan yang menguasai ilmu Teknik lingkungan, menciptakan media dan
atmosfer akademik dalam peningkatan pengetahuan dan teknologi berbasis riset
dan sains teknologi dan infrastruktur benua maritim, meninggkatkan citra
program studi melalui kerja sama strategis dengan pemerintah,institusi
Pendidikan dan dunia industri pada tingkat local,regiona,dan internasional
dengan mengaplikasikan dua pengetahuan yakni pengetahuan ilmiah dan non-
ilmiah.