Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Alhamdulillah atas rahmat dari Allah SWT saya telah menyelesaikan book
Report yang berjudul Filsafat Ilmu Sebuah Analisis Kontemporer dengan Dosen
Pengampu Prof. Dr. H. Dadang Suhardan, M.Pd., Bapak Dr. Diding Nurdin, M.Pd.,
dan Ibu Dr. Taufani Kurniatun, M.Si pada mata kuliah filsafat ilmu di Universitas
Pendidikan Indonesia pada semester 2 kelas Kerjasama Kemdikbud Program Studi
Administrasi Pendidikan, Sekolah Pasca Sarjana. Dalam penulisan book Report ini
penulis akan menyajikan Report materi filsafat ilmu yang disusun oleh Dr.
Zaprulkhan, S.Sos.I., M.S.I. pada buku Filsafat Ilmu Sebuah Analisis
Kontemporer. Semoga penulisan book Report ini menambah wawasan dan
pengetahuan. Penulis berharap kritik dan saran untuk kesempurnaan book Report
ini.
Filsafat ilmu bertugas mempertanyakan dan menilai metode pemikiran-
pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah
sebagai suatu keseluruhan. Dalam perkembangan kontemporer, hampir seluruh
cabang ilmu pengetahuan telah mengggunakan analisis kritis filsafat ilmu dalam
mengembangkan keilmuan. Filsafat ilmu bukan hanya berupaya mengkrtitisi dan
melakukan evaluasi terhadap berbagai metode pemikiran ilmiah, tapi juga selalu
berusaha menentukan nilai dan signifikasi wacana ilmiah secara holistic. Dengan
adanya perspektif keterbukaan: terbuka untuk di kritisi, diuji, diteliti, serta
dipertanyaakan relevansi dan signifikansinya bagi umat manusia, sehingga
menurunkan Aksiologinya secara kontekstual bagi kehidupan manusia. Filsafat
ilmu menjadi landasan filosofis bagi lahir, tumbuh kembang, dan kokohnya ilmu
pengetahuan yang dihasilkan oleh berbagai ilmuan yang dapat memajukan
kehidupan dan kebudayaan manusia.
Dalam buku ini akan menjelaskan lebih dalam mengenai Epistemologi
filsafat kontemporer dari para pemikir kritis yang membantu perkembangan ilmu
pengetahuan.
1.2. Tujuan Pembahasan
1. Memahami kontruksi filsafat ilmu
2. Memahami struktur fundamental ilmu (Ontology, Epistemology, dan
Aksiologi)
3. Memahami berbagai teori kebenaran
4. Memahami berbagai keilmuan dalam perspektif klasik (metode flasifikasi dan
metode saintifik)
5. Memahami epistemologi keilmuan sosial dan filsafat kontemporer terdiri dari
setrukturalisme, postrukturalisme, fenomenologi, hermeneutika, dan post
modernis.

1.3. Isi Book Report


1. Kejelasan Buku Sumber yang dibedah
2. Persoalan yang dibahas buku
3. Sudut pandang pembahasan/ metode pembahasan
4. Ringkasan isi buku
5. Pembahasan dan analisis materi buku
6. Komentar menurut pembedah, berdasarkan referensi
7. Daftar Pustaka yang digunakan

1|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Identitas Buku


Judul Buku: Filsafat Ilmu
(Sebuah Analisis Kontemporer)
Pengarang : Dr. Zaprulkhan, S.Sos.I., M.S.I.
Penerbit : Rajawali Pers
Cetakan : Cetakan Ke-1
Tahun Terbit : 2015
ISBN : 978-979-769-836-2
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : 341
Kertas Isi : HVS
Cover : Soft
Ukuran : 15 x 23
Berat : 400 gr

2.2. Persoalan yang dibahas setiap BAB


BAB 1 KONSTRUKSI FILSAFAT ILMU
Pada bab 1 konstruksi filsafat ilmu yang mendiskusikan bangunan filafat ilmu.
Dimulai dengan membahas bagaimana makna filsafat, faktor-faktor penyebab
lahirnya filsafat dan karakteristik filsafat; wacana ilmu pengetahuan, hubungan
filsafat dengan ilmu pengetahuan; filsafat ilmu dan ruang lingkupnya, signifikansi
filsafat ilmu dalam konstelasi keilmuan dan kehidupan manusia; serta diakhiri
dengan sebuah kesimpulan yang menyuguhkan urgensi ideal filsafat ilmu yang
diharapkan dapat membentuk visi integratif secara arif dan bijaksana dalam
kehidupan manusia.

BAB 2 STRUKTUR FUNDAMENTAL ILMU


Bab 2 membicarakan struktur fundamental ilmu yang tidak bisa dipisahkan satu
sama lain, yaitu Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi yang dipaparkan secara
sistematis. Dalam Ontologi dibahas mengenai monisme, dualisme, pluralisme,
materialisme, idealisme, nihilisme, agnostisisme, dan mistisisme. Dalam
epistemologi akan dipaparkan mengenai metode untuk memperoleh pengetahuan
yang mencakup empirisme, rasionalisme, kritisme, intuisionisme, metode ilmiah.
Sedangkan dalam Aksiologi akan diuraikan teori-teori tentang nilai, etika dan sekilas
estetika.

BAB 3 TEORI-TEORI KEBENARAN


Teori kebenaran yang disampaikan dalam bab ini meliputi makna kebenaran
dari sudut pandang filsafat khususnya filsafat ilmu. Teori kebenaran yang biasa
dianalisis dalam filsafat ilmu mencakup teori kebenaran korespondensi, teori
kebenaran koherensi, dan teori kebenaran pragmatis serta teori kebenaran
performatif dan kebenaran konsesus.

BAB 4 EPISTEMOLOGI FALSIFIKASI KARL R. POPPER


Pada bab 4 akan mengeksplorasi pemikiran-pemikiran filosofis Karl Popper
yang amat menantang nalar kita. Dimulai dengan bagaimana kritik Poper terhadap
metode induktif; wacana tentang problem demarkasi saintifik dan pemikiran
rasionalisme kritisnya; serta diakhiri dengan konklusi yang menyoroti sekilas
keistimewaan dan juga kelemahan.

2|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


BAB 5 EPISTEMOLOGI REVOLUSI SAINTIFIK THOMAS S. KUHN
Pada bab ini akan menelusuri analisis Thomas S. Kuhn mengenai sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan yang sering kali menghasilkan revolusi saintifik
dengan sejumlah eksemplar langsung dari karya Kuhn. Perubahan paradigma dalam
ranah ilmu pengetahuan dan Sekilas apresasi sekaligus catatan kritis terhadap
pandangan filsuf filsafat ilmu tersebut.

BAB 6 EPISTEMOLOGI STRUKTURALISME


Pembahasan mengenai Epistemologi Strukturalisme dari pengertian dan sejarah
munculnya Strukturalisme, Bagaimana Epistemologi Strukturalisme dalam format
filsafat bahasa yang dikonstruksi oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913), Konklusi
dengan Kontribusi filsafat bahasa saussure dan setitik catatan Kritis terhadapnya.

BAB 7 EPISTEMOLOGI POSTSTRUKTURALISME


Mendiskusikan sketsa epistemologi pemikiran Poststrukturalisme Michel
Foucault. Kita akan melihat bagaimana wacana, episteme, dan arkeologi; serta
bagaimana keterkaitan antara pengetahuan , kekuasaan dan kebenaran yg menjadi
core pemikiran Poststrukturalisme Foucault.

BAB 8 EPISTEMOLOGI FENOMENOLOGI


Mendiskusikan mengenai Epistemologi Fenomenologi yang digagas oleh
Edmund Husserl. Diskusi yang dibicarakan mengenai pengertian dasar
Fenomenologi; kemudian kita akan mengikuti bagaimana Husserl membangun
epistemologinya secara kokoh diatas fondasi-fondasi kesadaran, konstitusi, dari
kesadaran terhadap objek-objek yang dicandranya, reduksi, epoche untuk sampai inti
pengetahuan yang bersifat pasti dan absolut.

BAB 9 EPISTEMOLOGI HERMENEUTIKA


Pada BAB ini akan mendiskusikan mengenai Epistemologi Hermeneutika yang
mencakup pengertian Hermeneutika, sejarah dan perkembangan hermeneutika; tiga
tipologi hermeneutika kontemporer yaitu Hermeneutika teoritis (hermeneutical
theory), hermeneutika filsosofis (Philosophical hermeneutika), dan hermeneutika
kritis (Critical hermeneutika) dengan menghadirkan beberapa tokohnya yang
representatif. Pada bab ini juga akan menyampaikan mengenai sebuah konklusi yang
melukiskan hemeneutika yang sejatinya adalah sebagai salah satu metode penafsiran
yang mampuh membuka makna secara produktif.

BAB 10 EPISTEMOLOGI TEORI KRITIS


Pada bab 10 akan menelusuri bagaimana pengertian dan filosofis teori kritis;
menelisik Teori Kritis yang diwacanakan generasi pertama oleh Max Horkheimer,
Theodor W.Adorno, dan Herbert Marcuse; serta oleh generasi kedua dari Jurgen
Habermas.

BAB 11 EPISTEMOLOGI POSTMODERNISME


Pada bab terakhir buku ini, penulis menuliskan mengenai Postmodernisme. Di
awali dengan perbedaan antara Modernitas dengan Postmodernitas, dan Modernisme
dengan Postmodernisme serta transisinya. Penulis juga mengklasifikasikan
pemikiran Postmodernisme dengan sejumlah karateristik uniknya. Dengan
menuliskan gagasan dari salah satu tokoh Postmodernisme yaitu seorang filsuf yang
bernama Jean- Francois Lyotard.

3|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


2.3. Persoalan yang dibahas dibuku
Persoalan dari buku yang berjudul Filsafat Ilmu Sebuah Analisis
Kontemporer dapat terlihat bahwa buku ini membahas mengenai pernak pernik
Filsafat Ilmu yang mencakup Konstruksi Filsafat Ilmu yang meliputi korelasi antara
filsafat dengan ilmu dan ruang lingkup filsafat ilmu, serta Signfikansinya dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan selanjutnya. Sehingga kajian filsafat ilmu dalam
buku ini dapat memasuki berbagai wilayah keilmuan dengan dapat menempatkan
dan menghubungkannya dengan ilmu pengetahuan. Dengan filsafat ilmu dapat
menelisik struktur fundamental berbagai keilmuan yangg bersifat teori multidimensi
dan mengaplikasikannnya dalam pratek kehidupan manusia.
Struktur Fundamental Ilmu yang terdiri dari Ontologi, Epistemologi dan
Aksiologi. Ontologi melukiskan hakikat eksistensi sesuatu, sehingga melahirkan
beberapa aliran filosofis yang meliputi monisme, dualisme, pluralisme, materialisme,
idealisme, nihilisme, agnostisisme, dan mistisisme. Epistemologi membahas
mengenai sumber pengetahuan dan metode/ cara-cara memperoleh pengetahuan.
Metode dalam memperoleh pengetahuan mencakup lima aliran filsafat yaitu
empirisme, rasionalisme, kritisme, intuisionisme, metode ilmiah. Sedangkan
Aksiologi membahas mengenai nilai dari sesuatu. Sehingga aksiologi berhubungan
dengan nilai-nilai, Etika dan Estetika. Teori nilai meliputi Objektivitas nilai,
Subjektivitas nilai, dan relativitas nilai. Etika meliputi Etika Deskriptif, Etika
Normatif dan metaetika. Sedangkan Estetika meliputi estetika Deskriptif dan
Normatif.
Mengemukakan beberapa Teori Kebenaran, dimana makna kebenaran menurut
filsafat ilmu adalah tidak bersifat tunggal, tetapi bersifat Jamak jika dilihat dari sudut
pandang yang berbeda. Maka lahirlah beberapa teori kebenaran yang diantaranya
adalah korespondensi, koherensi, dan pragmatis serta teori kebenaran performatif
dan kebenaran konsesus.
Dalam buku ini lebih dalam membahas mengenai Epistemologi, yang diawali
dengan beberapa pemikiran pemikiran yang kritis dari filsuf yaitu dari Karl R.
Popper, Popper merupakan kritikus pertama terhadap Positivisme logis dan mampuh
meruntuhkannya melalui argumen-argumennya sehingga munculah Neo Positivisme.
Pemikir kritis selanjutnya adalah Thomas Kuhn yang mengkritik Neo Positivisme
yang digulirkan oleh Popper. Menurut Kuhn ada faktor lain yang mempengaruhi
sains, yaitu pergesaran paradigma dan konsesus sosial masyarakat ilmuan. Dari
revolusi pemikiran Kuhn, menghadirkan kriteria baru yaitu Immature Science atau
disebut dengan Metafisik, yang belum berparadigma atau memiliki banyak
paradigma. Dan Mature Science atau Normal Science yang sudah berparadigma
tunggal.
Sesuai judulnya buku ini membahas banyak mengenai Epistemologi Filsafat
Kontemporer beserta tokoh pemikirnya seperti Strukturalisme oleh Ferdinand De
Saussure, Post-Strukturalisme oleh Michel Foucault, Fenomenologi oleh Edmund
Husserl, Hermeneutika teoritis oleh Friedrich Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey,
Hermeneutika Filosofis oleh Martin Heidegger dan Hans G.Gadamer, Hermeneutika
kritis oleh Karl. O Apel dan Jurgen Habermas, Teori Kritis generasi Pertama oleh
Max Horkheimer, Theodor W. Adorno dan Herbert Marcuse. Sedangkan Teori Kritis
generasi kedua oleh Jurgen Habermas, serta yang terakhir mengenai epistemologi
filsafat kontemporer Postmodernisme oleh Jean- Francois Lyotard.

2.4. Sudut Pandang Pembahasan Buku/ Metode Pembahasan


Metode dalam pembahasan buku yang berjudul Filsafat Ilmu Sebuah Analisis
Kontemporer yaitu, Pemakalah menyampaikan persoalan-persoalan yang ditulis
oleh Zaprulkhan serta menjelaskan sedikit mengenai masalah filsafat ilmu, dan lebih
banyak menjelaskan mengenai masalah pokok yaitu tentang Epistemologi Filsafat

4|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


Kontemporer. Dari penjelaskan tersebut, Pemakalah menyampaikan gagasan atau
pemikiranya serta menganalisis pemikiran tersebut dengan beberapa buku referensi
lainya. Serta pemakalah juga menyampaikan beberapa keunggulan atau kelebihan
buku yang berjudul Filsafat Ilmu Sebuah Analisis Kontemporer yang ditulis oleh
Zaprulkhan serta kekurangan atau kelemahan buku tersebut dibandingkan dengan
buku Filsafat Ilmu lainnya seperti FILSAFAT ILMU: SEBUAH PENGANTAR
POPULER buah karya dari Jujun S. Suriasumantri yang diterbitkan tahun 2009 dan
Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan oleh Tim Dosen
Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM yang diterbitkan oleh Liberty Yogyakarta pada
tahun 2012 cetakan keenam serta Filsafat Ilmu: mengurai Ontologi, Epistemologi
dan Aksiologi Pengetahuan karangan Prof. Dr. Ahmad Tafsir.

2.5. RINGKASAN ISI BUKU


1. Makna Filsafat, Lahirnya Filsafat, Definisi Ilmu, Signifikasi Filsafat Ilmu, Dan
Konklusi Ideal Membentuk Visi Integratif
a. Makna Filsafat Ilmu
Secara etimologis, istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani Philosophia.
Kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata yaitu philos
(cinta) dan Sophia (kebijaksanaan/kearifan). Secara harfiah filsafat berarti
mencintai kebijaksanaan. Sedangkan secara umum filsafat merupakan sebuah
kegiatan pencarian dan tanpa henti mengenai makna kebijaksanaan dan
kebenaran dalam pentas kehidupan, baik tentang Tuhan Sang Pencipta, ekstensi
dan tujuan hidup manusia, maupun realitas alam semesta. Bijaksana mengandung
dua makna yang tidak dipisahkan antara keduanya yang pertama yaitu, insight
yang berarti pengertian yang mendalam, meliputi seluruh aspek kehidupan
manusia dan seluruh dunia dengan segala lapangannya dan hubungan antara
semuanya itu. Dan yang kedua adalah sikap hidup yang benar yang baik dan
tepat, yang mendorong akan hidup, yang sesuai dengan pengertian yang dicapai.

b. Lahirnya Fisafat Dan Karakteristik Filsafat


Faktor yang memotivasi manusia untuk berfilsafat adalah:
1) Ketakjuban, Banyak filsuf mengatakan bahwa awal kelahiran filsafat
adalah Thaumasia (kekaguman, keheranan, atau ketakjuban). Aristoteles
mengatakan bahwa karena ketakjuban manusia mulai berfilsafat, objek
ketakjuban adalah segala sesuatu yang ada dan yang dapat diamati.
Begitu juga dalam perspektif Driyakarya, keheranan, ketakjuban, atau
perasaan ingin tahu dalam diri seseorang merupakan motif awal
timbulnya filsafat.
2) Ketidakpuasan, membuat manusia terus menerus mencari penjelasan dan
keterangan yang lebih pasti dan meyakinkan dan berpikir secara rasional.
3) Hasrat bertanya, yang membuat manusia mempertanyakan segalanya.
Filsafat selalu mempertanyakan sesuatu dengan cara berpikir radikal
sampai ke akar-akarnya, tetapi juga bersifat universal.
4) Keraguan, pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh kejelasan dan
keterangan yang pasti pada hakikatnya merupakan suatu pertanyaan
tentang adanya keraguan atau ketidak pastian dan kebingungan.
Menurut para ahli, pemikiran filsafat yang benar-benar filosofis, paling tidak
mengandung beberapa karakteristik berikut yaitu,
1) Spekulatif, menentukan perkiraan awal/ hipotesis, proses sampai
pembuktian kesimpulan, dengan ciri dapat menerangkan pertanyaan2
seperti apakah benar/ kebenaran itu?, apakah yang disebut logis?, apa
yang disebut baik dan buruk?. Sebagai contoh, tanpa kita menetapkan apa

5|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


yang disebut baik dan buruk, tidak mungkin kita berbicara tentang etika,
moral atau kesusilaan.
2) Radikal, seorang filsuf harus berpikir radikal, yaitu berpikir secara
mendalam, untuk mencari akar persoalan yang dipermasalahkan sehingga
dapat memperjelas realitas.
3) Mencari asas, selalu berupaya untuk menemukan asas yang paling hakiki
dari realitas. Dengan menemukan esensi realitas, maka dapat diketahui
dengan pasti dan menjadi jelas.
4) Memburu kebenaran, kebenaran yang diburu oleh filsuf adalah kebenaran
hakiki tentang seluruh realitas dan setiap yang dipersoalkan. Karena
kebenaran tidak bersifat mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari
suatu kebenaran menuju kebenaran baru yang lebih pasti.
5) Mencari kejelasan, berawal dari keraguan, maka perlu kejelasan untuk
menghilangkan keraguan, kejelasan dari seluruh realitas, pengertian atau
kejelasan intelektual.
6) Rasional, berarti berpikir logis (dapat diterima oleh akal), sistematis
(rangkaian pemikiran yang berhubungan/saling berkaitan) dan kritis
(tidak mudah percaya sebelum diuji kebenarannya).
7) Menyeluruh atau bersifat universal, melakukan penalaran terhadap
sesuatu yang bersifat umum, bukan berpikir partikular, hanya terbatas
pada sesuatu yang khusus.

c. Tentang Ilmu
1) Perbedaan Ilmu dan Pengetahuan
Pengetahuan Ilmu
1. Knowledge 1. Science
2. Tidak memandang betul-betul 2. Mementingkan sebab-sebabnya
sebab-sebab 3. Mencari rumusan yang sebaik-
3. Tidak mencari rumusan yang baiknya
seobjektif-objektifnya 4. Menyelidiki objek selengkap-
4. Tidak menyelidiki objek lengkapnya, sampai habi-habisan
objeknya sampai habis-habisan 5. Hendak memberikan sintesis yakni
5. Tidak ada sistesis satu pandangan yang bergandengan,
6. Tidak bermetode 6. Bermetode
7. Tak bersistem 7. Bersistem

2) Definisi Ilmu secara Saintifik


Ilmu dapat didefinisikan secara komprehensif sebagai rangkaian aktifitas
manusia yang rasional dan kognifitif dengan berbagai metode berupa
aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan
pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman,
kemasyrakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran
memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, melakukan
penerapan.
Dari definisi tersebut ilmu meliputi 3 aspek: sebagai aktifitas penelitian,
metode ilmiah, dan pengetahuan ilmiah. Dapat dilihat pada bagan
berikut:
Sebagai
Sebagai Proses
Proses Aktivitas
Aktivitas Penelitian
Penelitian
Pengertian
Pengertian ilmu
ilmu Sebagai
Sebagai Prosedur
Prosedur Metode
Metode Ilmuah
Ilmuah
Pengetahuan
Pengetahuan
Sebagai
Sebagai Produk
Produk
sistematis
sistematis

6|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


a) Pengertian Ilmu sebagai rangkaian aktivitas pemikiran manusia atau
proses penelitian dapat dilhat pada bagan berikut:

Proses
Prosespemikiran
pemikiranyang
yang
berpegang
berpegangpada
padakaidah
kaidah
Rasional
Rasional kadah
kadahlogika
logika

Ilmu
Ilmu sebagai
sebagai Proses
Prosesmengetahui
mengetahuidan
dan
Kognitif
Kognitif memperoleh
memperolehpengetahuan
aktivitas
aktivitas pengetahuan

Mencapai
Mencapaikebenaran
kebenaran
Memperoleh
Memperolehpemahaman
pemahaman
Teleologis
Teleologis Memberikan
Memberikanpenjelasan
penjelasan
Melakukan
Melakukanpenerapan
penerapan

b) Pengertian ilmu sebagai Metode ilmiah, merupakan prosedur yang


mencakup berbagai tindakan, pola kerja, tata langkah, dan cara
teknis dalam menemukan pengetahuan baru atau mengembangkan
pengetahuan yang sudah ada. Ada 6 prosedur dalam metode ilmiah
yaitu: (1) Kesadaran dan rumusan ilmiah, (2) Pengamatan dan
pengumpulan data, (3) penyusunan dan klasifikasi data, (4)
perumusan hipotesis, (5) Dedukasi dan hipotesis, dan (6) tes dan
pengujian kebenaran (verifikasi) hipotesis.
c) Pengertian ilmu sebagai pengetahuan sistematis, merupakan
kumpulan-kumpulan pengetahuan yang mempunyai hubungan,
ketergantungan dan teratur.

3) Hubungan Fisafat Dengan Ilmu Pengetahuan


Aspek persamaan antar filsafat dan ilmu pengetahuan keduanya
menggunakan metode pemikiran reflektif dalam usaha menghadapi fakta
kehidupan. Keduanya menunjukkan sikap, kritik, dengan pikiran yang
terbuka, tidak memihak, untuk mengetahui hakikat kebenaran. Ilmu
membekali filsafat dengan bahan-bahan yang deskriptif dan faktual yang
sangat penting untuk membangun filsafat. Filsafat mengambil pengetahuan
yang terpotong-potong dari berbagai ilmu kemudian mengaturnya dalam
pandangan hidup yang lebih sempurna dan terpadu. Bahwa perbedaan antara
filsafat dan ilmu ialah perbedaan derajad dan penekanan. Ilmu lebih
menekankan kebenaran yang bersifat logis dan objektif dan filsafat lebih
bersifat radikal dan subjektif. Ilmu bisa berjalan dengan penelitian,
sedangkan filsafat justru mulai bekerja manakala ilmu tidak bisa berbicara
apa-apa tentang suatu objek. Dengan demikian filsafat merupakan mata
rantai yang menghubungkan dengan semua ilmu pengetahuan.

d. Filsafat ilmu dan ruang lingkupnya


Ruang lingkup kajian filsafat ilmu, yakni
1) Membicarakan dan menilai asumsi-asumsi, landasan-landasan, metode-
metode, dan teori teori ilmiah.
2) Analisis tehadap struktur-struktur fundamental ilmu pengetahuan dan
melihat hubungannya dengan ilmu secara keseluruhan.
3) Menyikap struktur rasionalitas ilmu-ilmu empiris dan prediksi-prediksi bagi
kehidupan.
4) Mengkritisi sekaligus memperbaiki ketidaktetapan dan kesalahan teori-teori
ilmu pengetahuan.

7|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


5) Analisis tanpa henti terhadap perkembangan ilmu pengetahuan untuk
menggapai kebenaran, dan
6) Menyelidiki hakikat dan metode semua ilmu pengetahuan.

e. Signifikansi Filsafat Ilmu


Terdapat signifikansi filsafat ilmu antara lain: pertama, membuka cakrawala
berpikir terhadap struktur fundamental ilmu, kedua, memahami hakikat ilmu dan
seluk beluk keilmuan baik dari kekurangan, kelemahan dan kekeliruannya.
Ketiga, membuahkan pemahaman yang holistic bagi pemikiran kita. Keempat
menumbuhkan kesadaran dalam diri betapa pentingnya memiliki perspektif
holistik. Setiap wacana ilmu pengetahuan pasti mempunyai akar dan konteks
yang spesifik yang tidak bisa dilepaskan dari bingkai ruang dan waktu. Kelima
dapat mensistematiskan, meletakan dasar, serta memberi arah perkembangan
suatu ilmu. Keenam berhubungan dengan etika, memberikan nilai aksiologi agar
tidak merugikan dan mencelakakan manusia, Ketujuh, sebagai upaya
fungsionalisasi eksistensi keilmuan secara moral, intelektual, maupun sosial.

f. Konklusi ideal membentuk visi integratif


Landasan, metode, dan teori-teori ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti
pada analisis kritis semata, melainkan muara akhirnya mesti membuahkan sebuah
visi integratif yang merupakan sebuah kemampuan dalam mempersatukan
berbagai aspek pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki menjadi suatu
keseluruhan yang bermakna. Berdasarkan visi integrative tersebut kita dapat
menempatkan berbagai hal satu sama lain, dapat menemukan arti dan nilai dalam
kehidupan kita secara keseluruhan serta mampuh menyikapi problematika
kehidupan dengan arif dan bijaksana sekaligus penuh makna.

2. Struktur Fundamental Ilmu : Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi


a. Ontologi
Secara etimologis, istilah Ontologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri
dari dua kata ontos (keberadaan) logos (ilmu) jadi secara harfiah, Ontologi berarti
ilmu tentang keberadaan. Secar terminologis Ontologi adalah sebuah studi yang
mempelajari hakikat keberadaan sesuatu, yang terbentuk dari benda konkret
sampai yang berbentuk abstrak, tentang sesuatu yang tampak sampai sesuatu
yang tidak tampak.
Beberapa aliran Ontologi yang berupaya menjelaskan hakikat realitas antara
lain:
monisme (teori yang menyatakan hanya ada suatu realitas yang fundamental,
realitas adalah satu dan yang lain adalah ilusi,realitas itu mungkin Tuhan,
Jiwa, Materi ),
Dualisme (Teori yang menyatakan bahwa realitas terdiri atas dua substansi
dalam kehidupan ini, sebagai contoh ada dunia ada tuhan, antara jasad dan
roh, baik dan jahat),
Pluralisme (Teori yang mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak
subtansi, ciri-ciri pluralism yaitu: realitas fundamental bersifat jamak,
banyak tingkatan hal-hal dalam alam semesta yang terpisah),
Materialism (Suatu paham bahwa segala yang ada hanya bersifat materi, dan
makna kehidupan hanya dibangun di dunia yang juga bersifat materi),
Idealisme (Teori yang mengatakan bahwa realitas dasar yang terdiri atas ide,
pikiran, atau jiwa dan bukan materi. Terdapat bermacam-macam corak
Idealisme),

8|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


Nihilisme (keberadaan dan hidup di dunia sama sekali tidak berarti dan sama
sekali tidak bermanfaat),
Agnostisisme (Sikap tidak tahu, khususnya anggapan bahwa mustahil untuk
membuktikan ada atau tidaknya tuhan), dan
Mistisisme ( Eksistensi tuhan sebagai realitas tertinggi yang menjadi sumber
eksistensi sesuatu).

b. Epistemologi
Secara Spesifik, Epistemologi berkaitan dengan Karater, sumber, batasan,
dan validitas pengetahuan. Karena dengan Epistemologi, dapat menempatkan
sesuatu baik pikiran, pengetahuan, perkataan, maupun ilmu ditempat kedudukan
yang sesuai atau setepatnya.
Sebagai cabang ilmu filsafat, Epistemologis bermaksud mengkaji dan
mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengetahuan manusia.
Epistemologi bermaksud secara kritis mengkaji pengandaian-pengandaian dan
syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan serta mencoba
memberi pertanggung jawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan
objektivitasnya. Epistemologi sebagai cabang ilmu filsafat tidak cukup hanya
memberi deskripsi atau paparan tentang bagaimana proses manusia mengetahui
itu terjadi, tetapi perlu membuat penentuan mana yang betul dan mana yang
keliru berdasarkan norma epistemik.
Dengan perspektif Epistemologis dibalik fenomena sederhana menyimpan
kerumitan, kerumutian ini merupakan problematika epistemologi, menurut
pandangan Zaine Ridling dalam buku ini, ada beberapa problematika
epistemologi antara lain: pengetahuan kita tentang dunia eksternal dan problem
pemikiran orang lain.
Berhubungan dengan Epistemologis, paling tidak ada lima metode untuk
mengkonstruksi pengetahuan secara filosofis yaitu empirisme (menekankan pada
peran pengalaman/ fakta yang dirasakan dari pada peran akal dalam memperoleh
pengetahuan), rasionalisme (mengetahui apa yang kita pikirkan dan bahwa akal
mempunyai kemampuan mengungkapkan kebenaran), kritisisme (adanya
pertanyaan yang fundamental), intuisionisme (tidak ada pemisah antara yang
mengetahui dan yang diketahui), dan metode ilmiah (mencoba menggabungkan
antara empiris dengan akal dalam memperoleh pengetahuan).

c. Aksiologi
Aksiologi merupakan studi yang menyangkut teori umum tentang nilai atau
suatu studi yang menyangkut segala yang bernilai. Nilai sekurang-kurangnya
memiliki tiga ciri yaitu: 1). Nilai berkaitan dengan subjek. Kalau tidak ada subjek
yang menilai, maka tidak ada nilai juga. 2). Nilai tampil dalam suatu konteks
praktis, di mana subjek ingin membuat sesuatu. 3). Nilai-nilai yang menyangkut
sifat-sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat-sifat yang dimiliki oleh objek.
Secara umum dalam wacana aksiologi terdapat tiga macam teori tentang nilai:
a) Objektivitas nilai adalah teori yang menyatakan nilai kebaikan, kebenaran,
keindahan , ada dalam dunia nyata dan dapat ditemukan sebagai etentitas-
etentitas, kualitas-kualitas, atau hubungan nyata sebagaimana kita dapat
menemukan objek-objek atau hubungan-hubungan.
b) Subjektivitas nilai adalah pandangan bahwa nilai-nilai seperti kebaikan,
kebenaran, keindahan tidak dalam dunia real objektif, tetapi merupakan perasaan-
perasaan, sikap-sikap pribadi, dan merupakan penafsiran atas kenyataan.
c) Relativisme nilai adalah pandangan yang memiliki beberapa prinsip nilai yaitu:
1). nilai bersifat relatif, 2). nilai-nilai berbeda dari suatu budaya ke budaya

9|Book Report Filsafah Ilmu :Sebuah Analisis Kontemporer


lainnya, 3). penilaian seperti benar/salah, baik/buruk tidak dapat diterapkan
padanya, 4). tidak ada nilai-nilai universal, mutlak, dan objektif manapun yang
dapat diterapkan pada semua orang.
Aksiologi dalam wacana filsafat mengacu pada persoalan etika dan estetika.
Sebagaimana dapat dijelaskan sebagai berikut:
Etika merupakan teori tentang tingkah laku perbuatan manusia, dipandang
dari nilai baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Etika
dapat diklasifikasikan dalam bidang studi, yaitu:
o Etika deskriptif, yang menjelaskan tentang kesadaran dan pengalaman
moral. Mulai dari sejarah moral dan fenomenologi moral atau upaya
menemukan arti dan makna dari moral.
o Etika Normatif, memberikan petunjuk, arahan atau tuntunan dalam
mengambil keputusan, Etika Normatif terdiri dari Teleologis yang
memandang dari ke Etisan sebuah tindakan dan Deontologis yang
mengukur baik tidaknya sebuah tindakan serta Mataetika yang
menyelidiki dan menetapkan arti dari serta makna dari istilah
normatif. Metaetika meliputi naturalistis, intuitif, kognitivis, subjektif,
emotif, imperatif dan skeptis.
Estetika merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan seni dan
keindahan, terbagi menjadi dua bagian yaitu estetika Deskriptif yang
menjelaskan fenomena pengalaman keindahan dan estetika normatif yang
menyelidiki hakikat dasar, dan ukuran pengalaman keindahan.
Ketiga struktur fundamental keilmuan yaitu Ontologi, Epistemologi dan
Aksiologi, membuat ilmu pengetahuan bukan hanya sebatas teoritis saja tetapi
mempunyai implikasi praktis secara fungsional dalam kemajuan dan kehidupan
manusia.

3. Teori Kebenaran
Kebenaran merupakan kesesuaian antara apa yang dipikirkan, diucapkan, dan
dilakukan dengan kenyataan yang sesunggunya. Ada beberapa teori kebenran antara
lain:

a. Teori kebenaran korespondensi


Teori kebenaran korespondensi merupakan teori kebenaran yang paling
popular dan sekaligus paling tertua. Teori kebenaran korespondensi adalah teori
kebenaran yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu benar kalau isi
pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berkorespondensi
(sesuai) dengan objek yang dirujuk oleh pernyataan tersebut.
Teori kebenaran korespondensi dengan tegas menyatakan bahwa truth is
an between a proposition and fact, kebenaran adalah sebuah kesesuaian antara
sebuah proposisi (pernyataan) dan sebuah fakta. Contoh dari teori kebenaran
Korenpondensi adalah Jika saya mengatakan bahwa negara Indonesia
mempunyai tiga puluh empat provinsi yang terbentang dari Sabang sampai
Merauke, maka dari prespektif teori korespondensi, pernyataan tersebut benar.
Sebab proposisi yang saya ungkapkan itu sesuai dengan fakta geografis negara
Indonesia memiliki tiga puluh empat provinsi.

b. Teori kebenaran koherensi/konsistensi


Teori kebenaran koherensi secara etimologis berasal dari Bahasa Latin,
cohaerere yang berarti melekat, tetap menyatu, atau bersatu. Sedangkan secara
terminologis, teori koherensi merupakan teori yang menyatakan bahwa
kebenaran harus berdasarkan harmoni internal proposisi-proposisi dalam suatu

10 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
system tertentu. Suatu preposisi dikatakan benar kalau proposisi itu konsisten
dengan proposisi yang lain yang sudah diterima atau diketahui kebenarannya.
Teori koheren memandang kebenaran itu ada di dalam dunia ide, karena objek
yang dianggapnya nyata adalah bukan hanya yang ada di dalam realitas konkret,
seperti manusia yang satu dalam keanekaragaman melainkan manusia yang satu
dalam dunia ide.
Teori kebenaran koherensi, secara sangat luas selain mencakup bidang
sains, secara prinsipil berpijak pada system matematika dan logika formal.
Pijakan fundamental terhadap aturan-aturan formal dalam logika dan
matematika menjadi prinsip-prinsip yang tidak bisa dilepaskan oleh teori
koherensi. Teori koherensi memiliki prinsip-prinsip logika yang ketat, pasti atau
konsisten. Apabila salah satu prinsip yang lain terkait satu sama lain itu
dilanggar, maka teori koherensi akan hilang kevaliditasannya. Dengan
demikian, teori koherensi seakan akan memiliki kebenaran yang pasti secara
logis tanpa tersentuh kekurangan dan kelemahan sedikitpun.
Sebagai contoh 2+2= 4, dibelahan bumi manapun akan tetap sama
hasilnya.

c. Teori Kebenaran Pragmatis


Teori kebenaran pragmatis secara etimologis berasal dari Bahasa Inggris,
pragmatic yang berarti kebenaran dengan hasil praktik. Sedangkan pragmatisme
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang
membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantara akibat-akibatnya yang
bermanfaat secara praktis. Kebenaran dalam prespektif pragmatise harus dilihat
dari kegunaan praktisnya.
Charles S. Peirce, sebagai bapak pragmatisme, berpendirian bahwa ujian
kebenaran yang terbaik tentang suatu ide adalah melalui pertanyaan: Jika ide itu
benar, apakah akibatnya kepada tindakan kita dalam hidup? Bagi Peirce, ide itu
menjadi betul-betul benar, jika dilihat secara faktual akibat-akibat praktisnya
dalam kehidupan manusia sebagai perjuangan hidup dan makna terpenting
dalam perjuangan hidup itu adalah konsekuensi-konsekuensi yang bersifat
praktis. Untuk memastikan apakah yang dikandung oleh suatu konsepsi akal,
maka kita harus memperhatikan konsekuensi-konsekuensi praktis apakah yang
niscaya akan timbul dari kebenaran-kebenaran konsepsi tersebut. Dengan kata
lain jika tidak menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang praktis, maka sudah
tentu tidak ada makna yang dikandung oleh konsepsi-konsepsi yang dianggap
benar tersebut.
Contoh: suatu Agama bukan benar karena Tuhan itu ada, tetapi karena
pengaruhnya yang positif atas kehidupan manusia.

d. Teori Kebenaran Performatif


Teori kebenaran performatif adalah teori yang menegaskan bahwa suatu
pernyataan itu benar apabila yang dinyatakan itu sungguh terjadi ketika
pernyataan itu dilakukan. ada dua macam ucapan dalam teori performative
yaitu:
1) Ucapan konsatif, adalah salah satu jenis ucapan yang melukiskan suatu
keadaan faktual, yang menyatakan terdapat sesuatu yang konstatir dalam
ucapan tersebut. Contoh ucapan konsatif: Undang-undang dasar 1945
disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Contoh tersebut merupakan ucapan
konsatif, yang mana melukiskan suatu fakta atau kejadian pada waktu yang
telah lampau.
2) Ucapan performativf, ucapan performartif tidak dapat ditentukan benar salah
berdasarkan peristiwa atau fakta yang telah lampau, melainkan suatu ucapan

11 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
yang memiliki konsekuensi perbuatan bagi penuturnya. Contoh: Saya
menunjuk saudara sebagai ketua panitia ujian negara kelompok ilmu
ekonomi. Ucapan-ucapan semacam itu tidak dibuktikan benar/salahnya baik
berkaitan dengan logika maupun fakta yang terjadi, melainkan berkaitan
layak atau tidak layak diucapkan oleh seseorang.

e. Teori Kebenaran Konsensus


Teori kebenaran konsensus sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomas
Kuhn adalah teori yang mengajarkan bahwa suatu teori ilmiah dikatakan benar
kalau dapat disetujui oleh komunitas ilmuan bidang yang bersangkutan sebagai
benar.
Sedangkan dalam teori kebenaran konsensus yang dikemukakan oleh Jurge
Habernas, syarat kebenaran pernyataan-pernyataan adalah kemungkinan adanya
persetujuan dari para partisipan rasional dalam suatu diskursus.

Ragam teori kebenaran dari berbagai filsafat yang berupaya menguraikan


makna kebenaran secara filosofis, ternyata telah kita temukan bahwa makna
kebenaran dalam wacana filsafat ilmu tidak bersifat tunggal tapi justru bersifat
plural. Kita sebagai manusia hanya mampu menangkap sekeping kebenaran dari
semesta kebenaran yang membentang dihadapan kita. Semua gagasan, wawasan, dan
pengetahuan tentang seluruh fenomena kehidupan yang kita konstruksi merupakan
konstruksi dari sudut pandang tertentu.

4. Pemikiran Karl R. Popper (Epistemologi Falsifikasi)


Menurut Popper metode induksi meninggalkan banyak masalah dan dengan
serentak juga ia mengubah seluruh pandangan tradisional tentang ilmu pengetahuan.
Menurutnya, suatu ucapan atau teori tidak bersifat ilmiah karena sudah dibuktikan,
melainkan karena dapat diuji. Teori yang baik adalah teori yang memiliki daya
penjelasan yang lebih besar yang mampu menjelaskan dengan presisi yang lebih
besar, dan mengizinkan kita untuk membuat prediksi-prediksi yang lebih baik.
Dalam hal-hal yang berhubungan dengan sains, Popper mengerjakan ide-idenya
yang paling fundamental yaitu, bahwa kita tidak akan pernah bisa benar-benar merasa
pasti akan kebenaran sebuah pernyataan umum mengenai dunia, dan karena itu, juga
tidak akan bisa benar-benar merasa pasti akan kebenaran dari setiap hukum saintifik
atau setiap teori saintifik. Proses kritis-kritis Popper selanjutnya adalah berupaya
menelisik problem demarkasi dalam wacana saintifik. Beberapa unsur kritik yang
dikemukakan Popper diantaranya:
Ia menekankan bahwa dengan digunakannya prinsip verifikasi tidak pernah
mungkin untuk menyatakan kebenaran hukum-hukum umum.
Berdasarkan prinsip verifikasi metafisika tidak bermakna.
Tidak ada sumber-sumber puncak pengetahuan karena semuanya bersifat
terbuka untuk di uji secara kritis.
Secara kualitatif dan kuantitatif, sumber pengetahuan kita adalah yang paling
penting sebagai bagian dari Pengetahuan bawaan adalah tradisi.
Pengetahuan tidak dapat dimulai dari kehampaan
Baik akal maupun observasi bukanlah sebagai otoritas. Ada intuisi intelektual
dan imajinasi.
Setiap solusi akan melahirkan masalah/ problem baru.
Tidak ada otoritas manusia yang menetapkan kebenaran secara mutlak

Popper juga mengkombinasikan sebuah pandangan secara fundamental bersifat


empiris dengan sebuah pandangan yang secara fundamental bersifat rasionalis

12 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
terhadap pengetahuan, jadi merupakan kombinasi antara Ontologi empiris dan
epistemologi rasionalis. Proses Perkembangan ilmu pengetahuan Menurut Popper
harus berkemungkinan adanya kesalahan, untuk membuktikan salah dari suatu teori
ilmu, Popper menggunakan Falsifikasi atau proses eksperimentasi pembuktiaan
kesalahan dan Refutasi atau penyangkalan teori ilmu. Prinsip Falsifikasi yaitu
keterujian sebuah teori pada prinsipnya harus membuka ruang untuk dapat disalahkan
(Be Falsifiable). Popper menggunakan sejarah ilmu sebagai bukti dalam
mempertahankan pendapatnya.

5. Revolusi Saintifik Thomas S. Kuhn


Thomas S. Kuhn menolak pandangan mengenai pemikiran Positivistik-
objektifistik dan proses evolusi, akumulasi, dan eliminasi dalam proses
perkembangan ilmu melalui buku yang dikarang oleh Kuhn yaitu The Structure og
Scientific Revolution yang berisikan tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
(Science). Kuhn memandang ilmu dari Perspektif sejarah yaitu arti sejarah ilmu,
hakikat ilmu dan aktivitas ilmiah yang sesungguhnya.
Beberapa tulisan Kuhn yang membawa revolusi saintifik bagi perkembangan
ilmu pengetahuan yaitu:
Paradigma baru memberi kita cara-cara baru dalam melihat dunia, cara-cara baru
dalam bepikir, serta tujuan dan metode-metode baru dalam mengkaji alam
semesta.
Sebuah paradigma baru perlu membuang paradigma lama, bukan hanya sekedar
sebuah pengembangan terhadap teori-teori sebelumnya. Karena itu, Revolusi
saintifik meniscayakan penolakan terhadap paradigma lama, bukan Cuma sekedar
penambahan terhadap paradigma baru; sehingga konsep yang digunakan oleh
Einstein dan Newton tidak lagi memiliki makna yang sama.
Dari tulisan dan gambar skerta di bawah ini, kita dapat melihat bahwa setelah
paradigma lama tidak mampuh bertahan maka digantikan dengan paradigma baru,
dimana paradigma baru bukan hasil dari perkembangan paradigma yang lama.
Dengan demikian perubahan tersebut berlangsung secara radikal, yang satu
menghilangkan yang lain. Dari pemikiran Kuhn ini lah bahwa, Sain tidak dapat
memberikan kebenaran objektif dan satu-satnya, tetapi kebenaran yang tentatif,
sehingga kebenaran itu bersifat relatif, dapat berubah sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan. Berikut sketsa revolusi Santifik oleh Kuhn.
Pre-
Paradigmatic
Stage
Paradigmatic Normal
War Science

Paradigmatic

Anomaly Paradigma Shift


(Scientifik
Revolution)

Crisis

New Normal
Paradigmatic
Science
War

New
Paradigmatic

13 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
Contoh paradigma pada kasus kedokteran, setelah berkembang ilmu pengetahuan
di bidang kedokteran, orang sakit tidak perlu lagi ke kedukun atau percaya akan
tahayul tetapi bisa pergi ke Dokter atau paramedik.
Kritikan terhadap pemikiran Kuhn yaitu:
Tidak dapat memberikan definisi tegas tentang istilah paradigma
Terlalu mendramatisir pertentangan sehingga menjadi revolusi antara normal
science baru dengan yang lama atau paradigma baru dengan yg lama.
Menurut Ian Barbour tidak semua ilmu pengetahuan baru menghilangkan yang
lama, ada kontinuitas bagi ilmu pengetahuan yang matang.
Menurut Imre Lakatos, Revolusi sentifik Kuhn kurang akan metodologi normatif.

6. Epistemologi Strukturalisme pemikiran Ferdinand de Saussure


Strukturalisme muncul sebagai filsafat bahasa yang berkembang di Prancis,
dengan tokoh pionernya adalah Ferdinand de Saussure. Struktur menurut teori
bahasa Saussure, dapat mengarah pada nilai dari unsur-unsur dalam sistem, atau
konteks, bukan hanya pada eksistensi fisik saja. Lima pembedaan yang berperan
penting dalam perkembangan Strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure,
yaitu :
Signified (tinanda/ yang ditanda) dan Signifier (penanda)
Eleman dasar bahasa adalah tanda-tanda kebahasaan atau kata-kata, suara atau
bunyi yang menyampaikan, mengekspresikan, menyatakan ide, pikiran, atau
pengertian tertentu.
Form (bentuk) dan content (isi)
Bahasa yang diwujudkan, dan memiliki sistem nilai, sehingga dapat diartikan
bahasa adalah seperangkat perbedaan-perbedaan bunyi yang dikomukasikan
dengan perbedaan ide.
Langue (bahasa) dan parole (ujaran, tuturan)
Langue untuk menjelaskan bahasa sebagai sistem dan praktik, sedangkan Parole
merupakan praktik penggunaan bahasa dan sistemnya secara konkret di dalam
masyarakat.
Synchronic (Sinkronis) dan Diachronic (diakronis)
Synchronic pendekatan dalam mengkaji suatu fenomena pada suatu penggalan
waktu yang ditentukan, dari pada pekembangan historisnya. Sedangkan
Diachronic merupakan pendekatan berkaitan dengan perubahan historis di
sepanjang waktu.
Syntagmatic (sintagmatik) dan Associative (paradigmatik)
Hubungan sintagmatik sebuah kata adalah hubungan sebuah kata dengan kata
yang di ikuti maupun yang mengikuti. Hubungan Asosiatif adalah hubungan
pengertian antara suatu kata dengan kata yang diluar kalimat
Ajaran pokok strukturalisme adalah semua masyarakat dan kebudayaan memiliki
suatu struktur yang sama dan tetap. Hakikat dari pendekatan strukturalisme adalah
bahwa tidak menyoroti mekanisme sebab-akibat dari suatu fenomena, melainkan
tertarik pada konsep bahwa satu totalitas yang kompleks dapat dipahami sebagai
suatu rangkaian unsur-unsur yang saling berkaitan.
Pemikiran strukturalisme secara singkat dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Strukturalisme tidak menganggap penting individu sebagai pencipta, dan
melihatnya lebih sebagai penggunaan kode yang tersedia,
b. Strukturalisme memberikan perhatian yang sedikit pada masalah sebab akibat dan
memusatkan dirinya pada kajian tentang struktur,
c. Strukturalisme tidak menganggap penting pernyataan tentang sejarah dan
perubahan.
Kritikan tentang Strukturalisme:

14 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
Strukturalisme mengungkapkan bahwa Makna kan menetap setelah struktur
oposisi biner terbangun. Tetapi menurut pandangan Poststrukturalisme, bahwa
Makna tidak stabil, plural dan senantiasa berubah. Dimana kebenaran suatu
pernyataan atau bahasa,sangat tergantung kepada status subjek, tempat, waktu,
dan astribut-atribut.

7. Epistemologi Poststrukturalisme Pemikiran Foucault


Epistemologi poststrukturalisme Foucault menyadarkan kita bahwa apa yang kita
katakan, apa yang kita ketahui, apa yang kita lakukan, bahkan menjadi siapa kita
sebenarnya, ternyata dipengaruhi oleh wacana yakni, cara berpikir, mengetahui, dan
bertindak yang berbasis pengetahuan yang dimiliki. Episteme merupakan pandangan
dunia yang dipromosikan oleh suatu wacana tertentu atau pengandaian. Analisis
Arkeolog Foucault merupakan upaya untuk mengeksplisitkan atau menggali episteme
yang menentukan suatu periode tertentu.
Paradigma poststrukturalisme Foucault juga membongkar hubungan antara
kekuasaan, pengetahuan, dan kebenaran yang disembunyikan, sehingga mendorong
tumbuhnya perlawanan, dan semakin memperluas lingkup kebebasan.
Pemikiran Foucault membawa sikap kritis terhadap para pembacanya, mengajak
perpikir secara lain terhadap aktualitas yang ada.
Pandangan Foucault mengenai kekuasaan yaitu:
Kekuasaan bukanlah kepemilikan melainkan Strategi.
Kekuasaan bekerja melalui Normalisasi dan Regulasi
Kekusaan tidak terpisahkan dari pengetahuan
Tujuan kekuasaan adalah tubuh dan kepatuhan.
Kelemahan Epistemologi Poststrukturalisme pemikran Foucault:
Foucault menghilangkan peran subjek secara penuh dalam kehidupan sosial.
Foucault begitu terfokus dan mereduksi semua hal menjadi wacana dengan
mengabaikan pengaruh ekonomi dan struktur didalam bekerjanya kekuasaan
pengetahuan.
Menolak kriteria kebenaran tetapi mengutamakan gagasan rezim kebenaran dan
keinginan akan kekuasaan (membuat sesuatu benar)
Kritik terhadap Epistemologi Poststrukturalisme pemikran Foucault:
Dari Habermas, pendekatan Foucault dianggapnya penuh dengan reduksi-reduksi.
Sehingga terjebak didalam reduksionisme bahasa.
Analisis Foucault terjebah didalam kerangka besar yaitu Presentisme, karena
Foucault meredusir makna setiap penggal sejarah yang tidak lebih sebagai
struktur khusus kekuasaan yang beroperasi dibaliknya, yang menentukan dan
membentuk fomasinya, terjebak dalam Relativisme, karena dalam penafsiran
klaim kebenaran tidak lebih dari sebagai akibat saja dari relasi kekuasaan. Dan
Kriptonormativisme. Tidak mempunyai dasar bagi sikap kritis terhadap norma
atau aturan terhadap institusi yang dikritiknya karena pengaruh besar kekuasaan
dalam kehidupan dan tindakan sosial.

8. Epistemologi Fenomenologi Pemikiran Husserl


Husserl memahami fenomenologi sebagai suatu analisis deskriptif serta
instropektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman
langsung: religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Dengan metode reduksi
Husserl mendambakan fenomenologi menjadi suatu ilmu yang rigorus. Suatu ilmu
rigorus tidak boleh mengandung keraguan, ketidakpastian, atau kekhawatiran apapun
juga. ada tiga tahap reduksi yaitu:
Reduksi fenomenologis (reduksi ditempuh dengan menyisihkan atau menyaring
pengalaman pengamatan pertama yang terarah pada eksistensi fenomena),

15 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
Reduksi edetis (melakukan penyaringan atau penundaan penilaian dengan
menempatkan proses terhadap segala sesuatu, bukan intisari, bukan esensi dari
sebuah objek),
Reduksi fenomenologi transendental. Menunda penilaian atau menempatkan
sesuatu dalam kurung (Epoche).
Slogan yang terkenal dari Husserl adalah: Zuruch zu den sachen selbst :
kembalilah kepada benda benda itu sendiri. Yang maksudnya adalah hayatilah
objek-objek kehidupan secara lebih dalam maka engkau akan menemukan hakikat
kebenaran
Kritikan Epistemologi Fenomenologi Husserl:
Menurut para filsuf, dalam metode Fenomenologi transendental Husserl lebih
menekankan pada ego transendental sehingga cenderung menampakan ciri-ciri
idealisme. Dan inti dari fenomenologi yang mampuh menghilangkan semua
prasangka secara total, ditolak oleh para filsuf aliran Hermeneutika, karena mereka
beranggapan bahwa manusia sudah berada di dalam lingkungan ruang dan waktu,
baik masa lalu, kini dan akan datang.

9. Epistemologi Hermeneutika
Secara etimologis istilah hermeneutika secara etimologis berasal dari kata kerja
hermeneuein yang berarti menafsirkan dan kata benda hermenia yang secara harfiah
dapat diartikan sebagai penafsiran atau intepretasi.
Istilah hermeneutik yang diasosiasikan pada Hermes sebagai pembawa pesan,
dalam perspektif Richard E. Palmer mengemukakan tiga bentuk makna dasar yaitu:
Pertama mengekspresikan, menegaskan, atau mengatakan. Kedua menjelaskan dan
yang ketiga menerjemahkan.
Kelahiran Hermeneutika secara Historis-Sosiologis selalau berhubungan dengan
teks-teks suci atau teologi. Menurut perspektif Richard E. Palmer ada 6 tipologi
hermeneutika, anatar lain:
Hermeneutika teks-teks kitab suci
Dalam agama yahudi tafsir atas teks-teks Taurat (Tora), agama Kristiani
menerapkan hermeneutika pada teks kita suci injil sehingga melahirkan
Hermeneutika dari perjanjian lama dan perjanjian baru.
Hermeneutika sebagai metodologi filologis
Menafsirkan teks-teks klasik (yunani dan romawi) selain kitab suci
Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman Linguistik
Semua pikiran yang diungkapkan ke dalam tanda-tanda, lisan atau tulisan.
Hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi ilmu-ilmu kemanusiaan
Menangkap dan memahami seni, aksi dan tulisan manusia, yang berupa
kebudayaan, nilai-nilai, simbol-simbol, pemikiran-pemikiran dan tingkah laku
manusia.
Hermeneutika sebagai Fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial.
Tidak mengacu pada pemahaman atau ilmu akan kaidah interpretasi teks atau
pada metodologi tetapi pada penjelasan fenomenologis keberadaan manusia.
Hermeneutika sebagai sistem penafsiran
Hermeneutika menjadi sebuah teori tentang seperangkat aturan yang menentukan
suatu interpretasi terhadap sebuah teks.
Dari uraian tersebut hermeneutik terlihat jelas bahwa hermenutik mencangkup
pengertian yang luas. Dalam perspektif Josef Bleicher, paling tidak terdapat tiga
tipologi hermeneutika kontemporer yaitu hermeneutika teoritis, hermeneutika
filosofis, hermeneutika kritis.
Hermeneutika Teoritis,

16 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang penafsir yaitu kompetensi
Linguistik dan kemampuan dalam mengakses alam kemanusian (psikologis
pengarang).
Hermeneutika Filosofis,
Menurut Gadamer, Pesan yang harus dilihat bukan makna literal teks, tetapi lebih
berarti dari sekedar literal (Meaningful sense)
Hermeneutika Kritis
Menurut Habermas, setiap ilmu pengetahuan yang lahir meniscayakan membawa
kepentingan sendiri, sehingga ilmu pengetahuan tidak ada yang steril dari
kepentingan.

10. Epistemologis Teori Kritis


Kritik adalah konsep untuk memahami teori kritis. Karena kritik merupakan akar
dari tradisi filsafat. Ada 4 kritik yang harus dipahami, antara lain:
Kritik dalam arti Kantian oleh Immanuel Kant
Kegiatan menguji sahih atau tidaknya klaim-klaim pengetahuan tanpa prasangka
dan kegiatan ini dilakukan dengan rasio berkala.
Kritik dalam arti Hegelian oleh Hegel
Kritik tak lain dari refleksi diri dari rintangan-rintangan, tekanan-tekanan, dan
kontradiksi-kontradiksi. Proses menjadi sadar. Kesadaran timbul karena adanya
melalui rintangan-rintangan atau mengingkari rintangan tersebut
Kritik dalam arti Marxian oleh Karl Marx
Yaitu kritik dengan tujuan emansipatoris, membuka kesadaran akan adanya
mekanisme objektif hubungan penindasan dan menunjuk cara pemecahannya.
Pembebasan manusia dari segala belenggu penghisapan dan penindasan.
Kritik dalam arti Freudian oleh Sigmund Freud
Pembebasan individu dari masyarakat, dari irrasionalitas menjadi rasional, dari
ketidaksadaran menjadi sadar.
Teori kritis pada hakikatnya mau menjadi pencerahan, mengungkap segala tabir
yang menutup kenyataan dari kesadaran, ciri khas dari teori kritis yaitu bahwa yang
dikritik bukan lah kekurangan semata tetapi keseluruhan. Ada beberapa teori kritis
antara lain:
Teori Kritis Horkheimer
Memberikan cahaya, pengertian atau pencerahan, sehingga Teori kritis memiliki
empat karakter yaitu Teori kritis bersifat Historis, kritis terhadap diri sendiri,
memiliki kecurigaan kritis terhadap masyarakat actual, dan teori kritis dengan
maksud praktis
Teori Kritis Adorno
Adorno mengusulkan prinsip Dialektika negatif yang artinya prinsip yang
menolak segala jenis pembenaran/ positivitas.
Teori Kritis Marcuse
One Dimensional Men yang artinya masyarakat modern sudah menjadi
masyarakat yang satu dimensi dalam selera, teknonogi, budaya, politik, bahkan
dalam pemikiran filosofis.
Teori kritis Jurgen Habermas
Merupakan teori kritis yang menggunakan kritik ideologi. Teori tindakan
Komunikatif oleh Habermas, mendambakan komunikasi ideal, komunikasi yang
bebas dari penguasaan, tekanan, dominasi dan hegemoni.

11. Pemikiran Postmodernisme


Wacana postmodernisme dan saling bersinggungan dengan beberapa istilah yang
serupa, maka untuk menguraikan pengertian postmodernisme kita mesti membahas

17 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
pula sekilas keluarga post modernisme yakni modernitas, postmodernitas,
modernisme, dan postmodernisme.
Modernitas
Modernitas bukan hanya menunjuk pada periode, melainkan juga suatu bentuk
kesadaran yang terkait dengan kebarua. Karena itu istilah perubahan , kemajuan,
revolusi, pertumbuhan adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern. Perubahan
kesadaran yang terkait dengan kebaharuan, kemajuan, revolusi dan pertumbuhan
dibidang sosial dan ekonomi, politik, militer serta ilmu pengetahuan karena
adanya semangat pemikiran bebas dan humanisme.
Postmodernitas,
Postmodernitas dalam pandangan Madan Sarup menekankan berbagai bentuk
identitas individu dan sosial yang berbeda-beda. Sementara Dony Gahral Adian
melihat postmodernis sebagai babakan baru yang diwarnai dengan berbagai
fenomena.
Modernisme, dan
Modernisme memiliki keyakinan bahwa manusia dengan menggunakan akal
sehat, dapat menemukan kebenaran objektif tertentu mengenai alam dan makna
segala sesuatu dan kejadian-kejadian dan menggunakan pengetahuan ini untuk
memperbaiki eksistensi manusia. Pemikiran yang meyakini adanya kebenaran
mutlak sebagai objek representasi bagi subjek yang sadar, rasional dan otonom.
Postmodernisme
Postmodernisme diterapkan untuk membicarakan organisasi sosial, segala
aktivitas manusia, produksi manusia yang fokusnya adalah Plurarisme,
keanekaragaman dan hakikat dari baik dan buruk, gaya, kebenaran dan
ketidakbenaran.
Menurut intelektual-intelektual postmodern kunci seperti Jean-Francois Lyotard,
respon intelektual terhadap perubahan sosial yang semakin cepat memastikan
terjadinya revisi radikal terhadap sejumlah asumsi-asumsi metateoritik kunci seperti
pilar-pilar ideologis, kepercayaan terhadap kemajuan sosial, emansipasi, dan
efektivitas.
Postmodernis skeptis dibangun berdasarkan prinsip relativisme radikal, yang
didalamnya tidak ada satu hal pun yang dominan, yang benar, yang bermakna.
Postmodernisme skeptis telah menciptakan ketidakpastian arah, kekacauan kategori,
dan indeterminasi radikal dalam setiap aspek kehidupan sosial.
Postmodernisme afirmatif yang tampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh
pemikir-pemikir Romantisisme yang tidak antiepistemologi, antiideologi, antisosial,
dan lebih menekankan pluralisme dalam epistemologi dan ideologi. Postmodernis
afirmatif juga menekankan afirmatif politik yang sangat beragam dan luas, yang
menciptakan pandangan-pandangan politik yang terfragmentasi dan heterogen, yang
tidak memperlihatkan tujuan bersama dan seringkali bertentangangan satu sama
lainnya.
Kritik terhadap pardigma Postmodernisme yaitu:
Postmodernisme yang sangat semangat mempromosikan narasi-narasi kecil,
ternyata buta terhadap kenyataan bahwa banyak juga narasi kecil yang
mengandung banyak kebusukan.
Postmodernisme tidak membedakan antara ideologi dengan prinsip-prinsip
universal etika terbuka.
Postmodernisme menyingkirkan cerita-cerita besar demi cerita-cerita kecil,
merupakan cerita besar dengan klaim universal atau dengan kata lain kontradiktif.

18 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
BAB III
ANALISIS BUKU

3.1. Analisis Buku


Setelah membaca buku Filsafat Ilmu Sebuah Analisis Kontemporer yang
ditulis oleh Zaprulkhan dibanding dengan buku lain yang sejenis seperti buku
Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer karangan Jujun S. Suriasumantri dan
Filsafat Ilmu yang ditulis oleh Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat UGM,
yaitu pada umumnya buku filsafat ilmu yang beredar dikalangan mahasiswa
cenderung membahas filsafat ilmu secara Historis-Sosiologis, sejarah pertumbuhan
dan perkembangan ilmu pengetahuan, klasifikasi ilmu pengetahuan, Struktur
Fundamental ilmu, teori-teori kebenaran, dan beberapa metode keilmuan dalam
persfektif klasik. Sedangkan pembahasan mengenai Epistemologi Keilmuan Sosial
dan Filsafat Kontemporer kurang dikaji secara utuh.
Buku ini membahas secara lebih detail mengenai Epistemologi filsafat
kontemporer yang meliputi Epistemologi Strukturalisme, Post-Strukturalisme,
Fenomenologi, Hermeneutika, Teori kritis dan Modernisme.
Saya juga ingin menyampaikan beberapa hal yang terdapat dalam buku ini
setelah saya membacanya, saya sangat setuju dengan penulis bahwa landasan,
metode, dan teori-teori ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada analisis kritis
semata, melainkan muara akhirnya mesti membuahkan sebuah visi integrative yang
merupakan sebuah kemampuan dalam mempersatukan berbagai aspek pengalaman
dan pengetahuan yang kita miliki menjadi suatu keseluruhan yang bermakna.
Berdasarkan visi integrative tersebut kita dapat menempatkan berbagai hal satu
sama lain, dalam kehidupan kita.
Dalam membahas berbagai teori kebenaran penulis berupaya untuk
menunjukkan ragam teori kebenaran dari berbagai filsafat yang berupaya
menguraikan makna kebenaran secara filosofis, ternyata telah kita temukan bahwa
makna kebenaran dalam wacana filsafat ilmu tidak bersifat tunggal tapi justru
bersifat plural.
Tetapi dalam buku ini hanya sedikit menyampaikan mengenai metode
keilmuan dalam perspektif klasik yaitu hanya mengenai Falsifikasi Popper dan
Revolusi Saintifik Kuhn. Untuk memahami metafisika yang disampaiakn Thomas
S. Kuhn lebih mendalam, dapat membaca buku Filsafat Ilmu Karangan Prof. Dr.
Ahmad Tafsir yang banyak mengupas mengenai Metafisik atau pengetahuan Mistik
dan beberapa contoh dari ilmu mistik tersebut.

3.2. Komentar
Pada setiap akhir bab, penulis selalu memberikan konklusi atau penutup
yang berisikan komentar dari penulis, baik bisa dipandang sebagai Apresiasi,
kontribusi atau kritik dari penulis sendiri. Sehingga konklusi tersebut dapat
menjembatani keterkaitan antara teori satu dengan teori yang lain sehingga dapat
memudahkan pembaca untuk memahami dan menyikapi adanya berbagai sudut
pandang yang dibahas dalam setiap teori.
Selain adanya konklusi atau penutup pada setiap bab, oleh penulis juga
selalu diberikan adanya pengantar yang berupa Prawacana, sehingga para pembaca
dimudahkan yang akan menyelami setiap baba dalam buku tersebut.
Buku pembanding dalam laporan bacaan (book report) ini adalah buku yang
berjudul Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer karangan Jujun S.
Suriasumantri. yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan. Jakarta pada 2009.
Perbandingan ini sebagai bahan telaah persamaan maupun perbedaan dari isi
kandungan kedua buku tersebut. Hasil telaah buku yang dibaca tersebut berwujud
komentar.

19 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
Komentar pertama dari buku pembanding yakni bahasa yang disajikan lebih
mudah dipahami karena struktur kalimat yang ditulis pengarang sudah lebih baik
jika dibandingkan dari buku Jujun yang kalimat terkesan panjang-panjang. Selain
itu, kata-kata pun sederhana sedangkan pada buku Jujun banyak pemubaziran kata
dan ketidakbakuan kata. Tetapi ada kekurangan dari buku Zaprulkhan yaitu tidak
disisipkan karikatur, syair, dan anekdot. Terkesan serius. Jika buku Jujun, disela-
sela isi buku sengaja memanjakan pembaca dengan ilustrasi gambar yang agak
bernuansakan humor sehingga pembaca diberi kesempatan untuk rileks sebentar
ketika membaca buku tersebut.

20 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Filsafat ilmu bertugas mempertanyakan dan menilai metode-metode
pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan signifikansi usaha ilmiah
secara holistik. Dengan filsafat ilmu kita dapat melihat berbagai macam bentuk
Ilmu pengetahuan dengan pandangan ketebukaan, yaitu terbuka untuk dikritisi,
diuji, diteliti serta relevansi dan kebermanfaatannya bagi kehidupan manusia secara
Kontekstual. Sehingga ilmu pengetahuan dicari bukan hanya untuk kepentingan
ilmu pengetahuan semata tetapi bagaimana ilmu pengetahuan dicari agar manusia
dapat bertindak dengan arif dan bijaksana serta untuk kemajuan dan kepentingan
manusia dalam kehidupan yang akan datang. Berdasarkan pembahasan Report
tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
1. Filsafat merupakan sebuah kegiatan pencarian dan tanpa henti mengenai
makna kebijaksanaan dan kebenaran dalam pentas kehidupan, baik tentang
Tuhan Sang Pencipta, ekstensi dan tujuan hidup manusia, maupun realitas
alam semesta.
2. Struktur fundamental ilmu meliputi wacana ontologi, epistemology, dan
aksiologi.
3. Terdapat 5 teori kebenaran yaitu teori kebenaran korespondensi, koherensi,
pragmatis, performative, dan Konsensus.
4. Terdapat beberapa metode keilmuan dalam perspektif klasik, yaitu metode
flasifikasi, dan metode saintifik.
5. Epistemologi keilmuan sosial dan filsafat kontemporer terdiri dari
strukturalisme, poststrukturalisme, fenomenologi, hermeneutika, dan
postmodernisme.
4.2. Saran
Buku ini sangat direkomendasi bagi para pembaca khususnya kalangan
akademisi dan kaum intelektual karena dapat membantu para pembacanya
bagaimana memahami ilmu pengetahuan lebih dalam, mulai dari awal
perkembangan, proses perkembangan, bagaimana mengmbnagkan ilmu
pengetahuan, sampai makna dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Melalui wacanan
dan kajian filsafat ilmu yang tertuang dalam buku Filsafat Ilmu Sebuah Analisis
Kontemporer yang ditulis oleh Zaprulkhan, para pembaca dapat memahami
Epistemologi yang membahas mengenai sumber pengetahuan dan metode/ cara-
cara memperoleh pengetahuan karena dalam buku ini dibahas lebih dalam
mengenai keilmuan sosial dan filsafat kontemporer.
Saran lebih jauh para pembaca yang ingin memahami revolusi saintifik dari
Thomas S. Khun dapat membaca buku Filsafat Ilmu Karangan Prof. Dr. Ahmad
Tafsir yang banyak mengupas mengenai Metafisik atau pengetahuan Mistik dan
beberapa contoh dari ilmu mistik tersebut. Dan jika ingin memperdalam filsafat
dari pendekatan historis sosiologis dapat membaca buku filsafat ilmu karangan
Tim dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, karena berisikan rangkuman dan
pokok-pokok mengenai filsafat ilmu dan perkembangannya.

21 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r
DAFTAR PUSTAKA

Suriasumantri, Jujun Suparjan. 2009. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Tafsir, Ahmad. 2012. Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Pengetahuan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. 2012. Filsafat Ilmu: Sebagai Dasar
Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Liberty.
Zaprulkhan. 2015. Filsafat Ilmu: Sebuah Analisis Kontemporer. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.

22 | B o o k R e p o r t F i l s a f a h I l m u : S e b u a h A n a l i s i s K o n t e m p o r e r

Anda mungkin juga menyukai