Anda di halaman 1dari 10

PATOLOGI TERJADINYA

HIPEREMI DAN HEMORAGI

Oleh :

HASMIATI

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017
A. Patologi Terjadinya Hiperemi
Hiperemi atau kongesti ialah suatu keadaan yang disertai
meningkatnya volume darah dalam pembuluh yang melebar pada suatu alat
atau bagian tubuh. kedua istilah ini mempunyai pengertian yang sama bila
dilihat dari sudut adanya peningkatan volume darah pada jaringan atau bagian
tubuh yang mengalami proses patologik. Namun demikian keduanya harus
dibedakan. Hiperemi, atau lebih lengkapnya hiperemi aktif, timbul jika dilatasi
pembuluh arteriol dan arteri menyebabkan peningkatan aliran darah ke dalam
jaringan kapiler dengan terbukanya kapiler-kapiler yang tidak aktif. Dilatasi
pembuluh darah ini disebabkan oleh lepasan zat-zat vasoaktif. Gerakan otot
dan demam yang menimbulkan panas tubuh yang sangat tinggi dan
memerlukan dilepaskannya suhu tersebut dapat dijumpai pada permukaan
kulit.
Hiperemi adalah suatu keadaan yang disertai meningkatnya volume
darah dalam pembuluh yang melebar pada suatu alat atau bagian tubuh. maka
hiperemi dibedakan atas hiperemi akut dan hiperemi kronik Hiperemi di bagi
menjadi dua, yaitu hiperemi aktif, terjadi karena jumlah darah pada arteriol
sebagian jaringan tubuh bertambah dan hiperemi pasif, terjadi karena aliran
darah vena dari suatu daerah berkurang dan disertai dilatasi pembuluh vena
dan kapiler. Contoh dari hiperemi aktif adalah hyperemia pada radang akut,
warna merah pada wajah, yang timbul akibat respon terhadap stimulus
neurogenik. Sedangkan hiperemi pasif: Pada pemasangan torniket, penekanan
aliran vena oleh tumor, atau obstruksi pada lumen karena thrombosis.
Menurut timbulnya, maka hiperemi dibedakan atas hiperemi akut dan
hiperemi kronik
1) Hiperemi akut, tidak ada perubahan yang nyata
2) Hiperemi kronik biasanya diikuti oleh oedem, aatrofi dan degenerasi
kadang-kadang sampai nekrosis atau juga proliferasi jaringan ikat.
Jenis hiperemi yang lain
1) Hiperemi aktif
Bendungan aktif ini timbul karena jumlah darah pada arteriol
sebagian jaringan tubuh bertambah. Biasanya terjadi akut karena arterial
dan kapiler berdilatasi akibat rangsangan saraf. Misal terjadi pada alat
tubuh yang sedang berfungsi aktif karena di perlukan jumlah darah lebih
banyak, maka arterial melebar ; kulit karena emosi marah atau malu ;
radang akut. Disini rangsang saraf vasodilator atau hambatan hantaran
saraf vasokonstriktor akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah.
Biasanya terjadi akut dan biasanya terjadi karena arterial atau kapiler
berdilatasi akibat ransangan saraf vasodilator atau karena kelumpuhan
vasokontriktornya.
Hiperemi aktif dapat terjadi pada:
a) Alat tubuh yang berfungsi aktif. Karena diperlukan jumlah darah lebih
banyak maka arteriol melebar.
b) Kulit, karena emosi marah atau malu.
c) Radang akut, akibat panas, perubahan warna merah setempat pada
radang sering dinamai eritema (erythema)
Contoh Hiperemi aktif :
hyperemia pada radang akut,
warna merah pada wajah, yang timbul akibat respon terhadap stimulus
neurogenik
2) Hiperemi pasif
Hiperemi pasif terjadi karena aliran darah vena dari suatu daerah
berkurang dan disertai dilatasi pembuluh vena dan kapiler. Dapat terjadi
akut, tetapi lebih sering kronik. Ada tidaknya pembuluh kolateral akan
menentukan berat ringannya hiperemi.
Obstruksi dari luar dapat terjadi karena:
a) Tekanan pada vena dari luar oleh suatu tumor
b) Ligatur atau ikatan
c) Jarinan parut yang menyebabkan jepitan
d) Hernia, volvolus, dll
Bendungan vena sistemik terjadi akibat payah jantung dan
mengenai banyak atau semua alat dan bagian tubuh. Bila bendungan
terjadi untuk waktu yang tidak lama. Pada bendungan yang akut biasanya
tidak meninggalkan perubahan-perubahan nyata, kecuali perubahan warna,
alat tubuh yang terkena terlihat menjadi biru (cyanotic). Bila bendungan
terjadi lebih lama maka biasanya akan diikuti oleh edema, biasanya juga
disertai atrofi dan degenerasi sel parenchyma akibat anoxia, kadang-
kadang sampai terjadi nekrosis.
Keluarnya eritrodit dari pembuluh (extravasation) dapat terjadi
karena reptura kapiler atau karena diapedesis aktif. Bila tejadi peruntuhan
eirtrosit, maka bisa tedapat pigmen-pigmen darah. Bila hiperemi berlarut-
larut, maka dapat terjadi poliferasi jaringan ikat.
Contoh Hiperemi pasif: Pada pemasangan torniket, penekanan aliran vena
oleh tumor, atau obstruksi pada lumen karena thrombosis.
Gejala Hyperemia
Gejala utama hyperemia adalah:
Kemerahan pada daerah di mana terjadi penyempitan pembuluh darah
Daerah yang terkena terasa hangat
Flushing atau kulit menjadi kemerahan terutama pada wajah
Penyebab
Terdapat beberapa jenis hyperemia. Salah satu jenisnya adalah
Hyperemia Aktif, yang juga disebut hyperemia olahraga atau
hyperemia fungsional. Kondisi ini biasanya terjadi ketika otot-otot tubuh
berkontraksi yang terjadi karena berbagai alasan seperti peningkatan
aktivitas mental, gastrointestinal, atau jantung. Hyperemia aktif terjadi
karena kombinasi jaringan hipoksia dan produksi metabolit vasodilator.
Jaringan hipoksia terjadi karena pasokan oksigen ke jaringan
pembuluh darah berkurang. Sebagai respon, jaringan mulai menuntut lebih
banyak oksigen sehingga pada gilirannya menyebabkan vasodilatasi.
Vasodilatasi adalah terjadinya pelebaran pembuluh darah akibat otot-otot
halus pada dinding pembuluh darah mengalami relaksasi. Zat yang disebut
vasodilator seperti ion kalium, oksida nitrat, karbon dioksida, dan
adenosin, biasanya memicu proses ini. Beberapa saat setelah
meningkatnya metabolisme jaringan, hyperemia aktif menjadi jelas
terlihat. Penyebab lain hyperemia adalah penyumbatan pembuluh darah
yang disebut Hyperemia Reaktif . Kondisi ini disebut pula hiperemia
pasif . Pada kasus ini, darah mengumpul di organ-organ tubuh tertentu
saat pembuluh darah tersumbat. Akibatnya, tingkat oksigen dalam darah
berkurang dan tingkat sisa metabolisme naik. Limbah sisa metabolisme
akan mulai terkumpul dalam organ tubuh yang pada gilirannya
menghambat aliran darah.

B. Patologi Terjadinya Hemoragi


Hemoragi (pendarahan) adalah kondisi yang ditandai dengan
keluarnya darah dari dalam vaskula akibat dari kerusakan dinding vaskula.
Kebocoran dinding ada dua macam melalui kerobekan (per reksis) dan melalui
perenggangan jarak antara sel-sel endotel dinding vaskula (per diapedisis).
Hemoragi per diapedisis umumnya terjadi pada pembuluh kapiler. Hemoragi
per reksis dapat terjadi pada vaskuler apa saja, bahkan dapat terjadi bila
dinding jantung robek atau bocor.
Berdasarkan besarnya vaskula yang rusak hemoragi dibagi menjadi
beberapa bentuk diantaranya:
1) Hemoragi kecil, dimana berbentuk titik darah tidak lebih besar dari ujung
peniti disebut ptechiae (tunggal, petechia)
2) Purpura atau hemoragi noktah yang memiliki besar noktah mencapai
hampir 1 cm
3) Hemoragi dengan spot yang agak besar mencapai 1 cm atau lebih di
permukaan tubuh atau di jaringan disebut ekimosis (tunggal, ekimosis)
4) Ektrafasasi merupakan hemoragi dalam jaringan yang sudah sangat
menyebar
Hemoragi berdasarkan pola bentuk pendarahan dibagi menjadi
beberapa bentuk diantaranya:
1) Hemoragi linier, yaitu pendarahan yang memiliki bentuk garis merah yang
sering terjadi pada mukosa kolon dan rektum
2) Hemoragi stria, yaitu hemoragi yang berbentuk seperti sapuan kuas cat.
Hemoragi ini sering terjadi pada lapisan serosa organ dan rongga perut
(peritoneum rongga pert, lapisan luar saluran digesti, kapsula ginjal, pleura
dada dan diagfragma)
3) Hematom, merupakan pendarahan yang berbentuk kantong atau benjolan
kerena gumpalan darah berada di bawah lapisan penutup seperti kulit dan
serosa penutup organ
Hemoragi dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya sebagai berikut:
1. Trauma yaitu kerusakan dalam bentuk fisik yang merusak sistem vaskula
jaringan di daerah benturan/ kontak.
2. Infeksi agen infeksius terutama mengakibatkan septisemia seperti
pasteurellosis dan anthrax, infeksi oleh virus seperti canine adenovirus.
Selain itu, infeksi parasit terutama parasit darah juga dapat menyebabkan
hemoragi seperti Haemonchus contortus yang hidup di mukosa abomasum
domba dan kambing dapat melukai mukosa dan mengeluarkan
antikoagulan sehingga pendarahan sulit terhenti.
3. Bahan toksik yang merusak endotel kapiler seperti keracunan arsen,
dicumarol (racun tikus) yang dapat menghambat penggumpalan darah
sehingga terjadi pendarahan dan toksin uremik yang dapat merusak
endotel pembuluh darah.
4. Faktor lain yang menyebabkan dinding vaskula lemah sehingga pembuluh
darah rentan untuk bocor seperti pada kasus atherosklerosis (dinding arteri
melemah terjadi pada kondisi kronis), defisiensi vitamin C yang dapat
menyebabkan pendarahan gusi karena vaskula setempat rapuh (skorbutus).
Efek lokal dari suatu hemoragi berkaitan dengan adanya darah yang
keluar dari pembuluh darah di dalam jaringan dan pengaruhnya dapat ringan
sampai berat yang dapat mengakibatkan kematian. Pengaruh lokal dari
hemoragi yang ringan yaitu memar. Perubahan warna memar menjadi
kebiruan secara langsung berkaitan dengan adanya eritrosit yang keluar dan
terkumpul di dalam jaringan. Eritrosit yang keluar dari pembuluh darah
dipecah dengan cepat dan difagositosis oleh makrofag yang terdapat di sekitar
jaringan yang mengalami peradangan. Pada saat hemoglobin dimetabolisme
dalam sel makrofag terbentuk suatu kompleks yang mengandung besi yang
disebut hemosiderin dan bersamaan juga dengan terbentuknya zat yang tidak
mengandung besi yang di dalam jaringan dinamakan hematoidin. Hemosiderin
berwarna coklat-karat dan hematoidin berwarna kuning muda. Interaksi
pigmen-pigmen ini berpengaruh pada perubahan warna memar yang berkisar
dari biru kehitaman kemudian memudar menjadi coklat dan kuning serta
akhirnya menghilang kerena difagositosis oleh makrofag (pemulihan jaringan
yang sempurna terjadi). Pada hematom yang bervolume besar penyembuhan
yang terjadi tidak sempurna sehingga masih meninggalkan sedikit jaringan
parut. Pada kondisi ektrim hemoragi lokal dapat menimbulkan efek
mematikan meskipun hemoragi hanya terjadi masih ringan, jika terjadi pada
organ vital seperti otak, jantung (kantong perikardium), paru-paru dan cabang
trakeobronkhial.
Pengaruh sistemik akibat dari hemoragi yaitu dapat mengakibatkan
anemia akibat dari banyaknya darah yang hilang dari tubuh yang berlangsung
lama (bersifat kronis) sehingga terjadi penurunan jumlah eritrosit atau
hemoglobin dan jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen. Individu
yang mengalami anemia ditandai dengan gejala mukosa pucat dan mudah
lelah. Kehilangan volume darah yang terlalu banyak dan cepat dapat
menimbulkan shok hipovolemik. Shok hipovolemik yaitu kondisi kehilangan
kesadaran karena volume darah yang mengalir ke jantung sedikit dan tidak
mencukupi untuk jantung memompa darah yang cukup ke otak. Shok
hipovolemik dapat mengakibatkan kematian karena denyut jantung tidak
kontinyu dan akhirnya berhenti. Kematian akibat langsung dari pendarahan
umumnya terjadi apabila tubuh kehilangan dari 1/3 volume darah, shok yang
berkepanjangan, hemoperikardium yang mengakibatkan gumpalan darah dan
menghambat aktivitas pemompaan darah (jantung tampon), pendarahan paru-
paru yang dapat menghambat pertukaran oksigen dan pendarahan otak.
Hemoragi adalah suatu pengertian untuk menunjukkan etrdapatnya
darah yang keluar dari susunan kardioveskuler. Biasanya hemoragi di
hubungkan dengan terdapatnya rukpura pada pembuluh darah atau jantung.
Hemoragi di bedakan menjadi eksternal dan internal;
1. Hemoragi eksternal; bila terjadi perdarahan sedemikian rupa sehingga
darah tampak keluar dari permukaan tubuh.
2. Hemoragi Internal; bila darah keluar dari pembuluh darah namun tetap
berada dalam tubuh.
Istilah- Isilah dalam hemoragi;
1. PETECHIAE; Perdarahan di bawah kulit yang kecil-kecil, biasanya terjadi
pada kapiler
2. ECCHYMOSES; Perdarahan berbercak bercak lebih besar.
3. PURPURA; Perdarahan yang timbul spontan, besarnya antara
PETECHIAE dan ECCHYMOSES.
4. HEMATOMA; Perdarahan setempat yang biasanya telah membeku.
5. APOPLEXIA; Penimbunan darah pada suatu alat tubuh biasanya terjadi
pada perdarahan otak (appoplexiacerebri) akibat tekanan yang meninggi.
6. EPISTAXIS; perdarahan pada hidung.
7. HEMOPTYSIS; Perdarahan dalam paru paru yang dibatuk kan ( batuk
darah).
8. HEMATEMESIS; Muntah darah dari saluran pencernaan.
9. MELENA; Berak darah.
10. HEMOTHORAX; Perdarahan pada TORAX (dada).
11. HEMATOCELE; Perdarahan kantong tunica vaginalis testis.
12. HEMARTHROS; Perdarahan dalam sendi.
13. MENORRHAGIA; Perdarahan Endometrium yang abnormal dan banyal,
yang terjadi pada masa haid.
14. METRORRHAGIA; Perdarahan indometrium yang terjadi diantara masa
haid.
15. HEMATOCOLPOS; Penimbunan darah pada vagina.
16. HEMATOMETRA; Penimbunan darah pada rahim.
17. HEMATOSALPINX; Penimbunan darah dalam tuba FALLOPII.
Etiologi Perdarahan;
1. Kerusakan pembuluh darah;
2. Trauma;
3. Proses Patologic;
4. Penyakit yang berhubungan dengan gangguan pembekuan darah;
5. Kelainan pembuluh darah
DAFTAR PUSTAKA

Himawan, Sutisna, 1973. Kumpulan Kuliah Patologi. Jakarta: FKUI

Himawan, Sutisna, dkk, 2002. Buku Ajar Patologi I (Umum) Edisi Satu. Jakarta:
Penerbit Sagung Seto

McGavin MD, Zachary JF. 2007. /Pathologic Basis of Veterinary Disease/. Edisi
ke-4. USA: Mosby Elsevier.

Pazra DF. 2008. Gambaran Histopatologi Insang, Otot dan Usus pada Ikan Lele
(Clarias spp.) Asal dari Daerah Bogor [Skripsi]. Bogor: FKH IPB.

Price SA, Wilson L M. 2006. /Patofisiologi/. Edisi VI. Volume I. Jakarta: EGC.

Robbins, dan Kumar, 1992. Buku Ajar Patologi I Edisi Empat. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC

Shapiro LS. 2010./Pathology and Parasitology for Veterinary Tecnicians/. Edisi


ke-2. USA: Delmar.

Smith HA, Jones TC. 1961. /Veterinary Pathology./ Philadelpia: Lea & Febiger.

Sudiono, Janti, dkk, 2003. Ilmu Patologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Tamher, Sayuti, dan Heryati, 2008. Patologi Untuk Mahasiswa Keperawatan.


Jakarta: Penerbit Trans Info Media