Anda di halaman 1dari 6

Sikap

Sikap yang ada pada seseorang akan membawa warna dan corak pada tindakan, baik
menerima maupun menolak dalam menanggapi sesuatu hal yang ada diluar dirinya. Melalui
pengetahuan tentang sikap akan dapat menduga tindakan yang akan diambil seseorang
terhadap sesuatu yang dihadapinya. Meneliti sikap akan membantu untuk mengerti tingkah
laku seseorang. Menurut Ahmadi (2007:151), sikap adalah kesiapan merespon yang bersifat
positif atau negatif terhadap objek atau situasi secara konsisten. Pendapat ini memberikan
gambaran bahwa sikap merupakan reaksi mengenai objek atau situasi yang relatif stagnan
yang disertai dengan adanya perasaan tertentu dan memberi dasar pada orang tersebut untuk
membuat respon atau perilaku dengan cara tertentu yang dipilihnya.

Sikap (attitude) menurut Purwantu (2000:141) merupakan suatu cara bereaksi terhadap suatu
perangsang. Suatu kecenderumgan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu
perangsang atau situasi yang dihadapinya. Dalam hal ini, sikap merupakan penentuan penting
dalam tingkah laku manusia untuk bereaksi. Oleh karena itu, orang yang memiliki sikap
positif terhadap suatu objek atau situasi tertentu ia akan memperlihatkan kesukaan atau
kesenangan (like), sebaliknya orang yang memiliki sikap negatif ia akan memperlihatkan
ketidaksukaan atau ketidaksenangan (dislike).

Sikap terbentuk atas dasar pengalaman dalam hubungannya dengan objek diluar dirinya.
Sikap seseorang akan bertambah kuat atau sebaliknya tergantung pada pengalaman-
pengalaman masa lalu, oleh situasi saat sekarang dan oleh harapan-harapan di masa yang
akan datang. Pada dasarnya sikap itu merupakan faktor pendorong bagi seseorang untuk
melakukan kegiatan. Untuk dapat memahami sikap perlu diketahui ciri-ciri yang melekat
pada sikap. Menurut Gerungan (1991:151-152) ciri-ciri sikap atau attitude adalah :

1. Attitude bukan dibawa orang sejak ia dilahirkan, melainkan dibentuk atau dipelajari
sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objeknya.
2. Attitude dapat berubah-ubah karena attitude dapat diplajari orang atau sebaliknya,
attitude-attitude itu dapat dipelajari, karena attitude dapat berubah pada orang-orang
bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah
berubahnya attitude pada orang itu.
3. Attitude tidak dapat berdiri sendiri, tetapi senantiasa mengandung relasi tertentu
terhadap suatu objek.
4. Objek attitude itu dapat merupakan satu hal tertentu, tetapu dapat juga merupakan
kumpulan dari hal-hal tersebut. Jadi attitude itu dapat berkenaan dengan satu objek
saja, tetapi juga berkenaan dengan sederetan objek-objek yang serupa.
5. Attitude mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan

Unsur dan fungsi sikap

Travers (1977), Gagne (1977), dan Cronbach (1977) yang dikutip Ahmadi (2007:151-152)
mengungkapkan ada tiga unsur yang terhadap sikap, yaitu :

1. Komponen cognitive, berupa pengetahuan, kepercayaan atau pikiran yang didasarkan


pada informasi yang berhubungan dengan objek.
2. Komponene affective, menunjuk pada dimensi emosional dari sikap, yaitu emosi yang
berhubungan dengan objek. Objek disini dirasakan sebagai menyenangkan atau tidak
menyenangkan.
3. Komponen behavior atau conative, melibatkan salah satu predisposisi (keadaan
mudah terpengaruh) untuk bertindak terhadap objek.

Cara mengukur sikap

Salah satu aspek yang sangat penting guna mempelajari sikap dan perilaku manusia adalah
masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran (measurement) sikap. Berbagai teknik
dan metode telah dikembangkan oleh para ahli guna mengungkapkan sikap manusia dan
memberikan interpretasi yang valid.

Menurut Azwar (2005:87-104) terdapat beberapa metode pengungkapan (mengukur) sikap,


diantaranya:

1. Observasi perilaku. Untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu dapat


diperhatikan melalui perilakunya, sebab perilaku merupakan salah satu indikator sikap
individu.
2. Pertanyaan langsung. Ada dua asumsi yang mendasari penggunaan metode
pertanyaan langsung guna mengungkapkan sikap. Pertama, asusmsi bahwa individu
merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri. Kedua, asumsi
keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang
dirasakannya. Oleh karena itu dalam metode ini, jawaban yang diberikan oleh mereka
yang ditanyai dijadikan indikator sikap mereka. Akan tetapi, metode ini akan
menghasilkan ukuran yang valud hanya apabila situasi dan kondisinya
memungkinkan kebebasan berpendapat tanpa tekanan psikologis maupun fisik.
3. Pengungkapan langsung. Pengungkapan langsung (directh assessment) secara tertulis
dapat dilakukan dengan menggunakan item tunggal maupun dengan menggunakan
item ganda.
4. Skala sikap (attitude scales) berupa kumpulan pernyataan-pernyataan mengenai suatu
objek sikap. Salah satu sifat skala sikap adalah isi pernyataannya yang dapat berupa
pernyataan langsung yang jelas tujuan pengukurannya akan tetapi dapat pula berupa
pernyataan tidak langsung yang tampak kurang jelas tujuan pengukurannya bagi
responden.
5. Pengukuran terselubung. Dalam metode ini objek pengamatan bukan lagi perilaky
yang tampak didasari atau disengaja dilakukan oleh seseorang melainkan reaksi-
reaksi fisiologis yang terjadi di luar kendali orang yang bersangkutan.

Darmadi. Pengembangan model metode pembelajaran dalam dinamika belajar siswa.


Deepublish: Yogyakarta; 2017. Hal. 138-144

Faktor yang Mempengaruhi Sikap


Antara faktor-faktor yang mempengaruhi sikap adalah:
a) Pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi dapat menjadi dasar pembentukan sikap apabila pengalaman tersebut
meninggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman
pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.

b) Pengaruh orang lain

Individu pada umumnya cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan
sikap seseorang yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh
keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

c) Kebudayaan
Kebudayaan dapat memberi corak pengalaman individu. Sebagai akibatnya, tanpa disadari
kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah.
d) Media massa

Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang
seharusnya faktual disampaikan secara objektif berpengaruh terhadap sikap konsumennya.

e) Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan
sistem kepercayaan. Tidaklah mengherankan apabila pada gilirannya konsep tersebut
mempengaruhi sikap.

f) Faktor emosional
Bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai penyaluran
frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

Notoadmodjo S. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: PT Rineka Cipta;


2007. hal 118
PERILAKU

Menurut sebagian psikolog, perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri
manusia dan dorongan itu merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada
dalam diri manusia. Dengan adanya dorongan tersebut, menimbulkan seseorang melakukan
tindakan atau perilaku khusus yang mengarah pada tujuan. Soekidjo Notoatmodjo dengan
memerhatikan bentuk respon terhadap stimulus, membedakan perilaku manusia menjadi dua
bentuk, yaitu

1. Perilaku tertutup atau covert behavior yang ditujukan dalam bentuk perhatian,
persepsi, pengetahuan/kesadaran dan reaksi lain yang tidak tampak.
2. Perilaku terbuka atau overt behavior yaitu dalam bentuk tindakan nyata misalnya
meminum obat ketika merasa sakit.

Berdasarkan pandangan ini, maka yang dimaksud perilaku kesehatan menurut Soekidji
Notoatmodjo mengatakan bahwa perilaku kesehatan yaitu suatu respon seseorang terhadap
stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan, minuman serta lingkungan. Dari definisi tersebut kemudian dirumuskan bahwa
perilaku kesehatan terkait dengan:

1. Perilaku pencegahan, penyembuhan penyakit serta pemulihan penyakit


2. Perilaku peningkatan kesehatan
3. Perilaku gizi (makanan dan minuman)

Berbeda dengan Notoatmodjo, Kasl dan Cobb (1966, dalam Neil Niven, 2002:184) membuat
perbedaan di antara tiga tipe yang berbeda, yaitu :

1. Perilaku kesehatan yaitu suatu aktivitas dilakukan oleh individu yang menyakini
dirinya sehat untuk tujuan mencegah penyakit atau mendeteksinya dalam tahap
asimptomatik.
2. Perilaku sakit yaitu aktivitas apapun yang dilakukan oleh individu yang merasa sakit
untuk mendefinisikan keadaan kesehatannya dan untuk menemukan pengobatan
mandiri yang tepat.
3. Perilaku peran sakit yaitu aktivitas yang dilakukan untuk tujuan mendapatkan
kesejahteraan oleh individu yang mempertimbangkan diri mereka sendiri sakit. Hal
ini mencakup mendapatkan pengobatan dari ahli terapi yang tepat, secara umum
mencakup seluruh rentang perilaku mandiri dan menimbulkan beberapa derajat
penyimpangan terhadap tugas kebiasaan seseorang.

Sudarma momon. Sosiologi untuk kesehatan. Jakarta: Salemba Medika; 2008. Hal.
51-3.