Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN

PEMILIHAN ALAT UKUR


BERDASARKAN TAHANAN DALAMNYA

DisusunOleh:
Ferlla Putri Yosita, S.Pd
Pendidikan Teknik Elektronika
Program Profesi Guru ( PPG)

Dosen Pengampu:
Drs. Elfi Tasrif M.T

Kemenristek Dikti
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Efek pembebanan itu adalah akibat dari proses pengukuran oleh alat ukur

ammeter dan voltmeter yang menyebabkan berkurangnya nilai arus yag mengalir

pada sebuah rangkaian tersebut. Karena arus yang mengalir pada rangkaian

terbagi oleh nilai tahanan pada alat ukur tersebut sehingga energi atau arus pada

tahanan digunakan untuk mengoperasikan alat ukur tersebut. Sehingga hasil

pengukuran yang dilakukan berbeda dengan cara hasil perhitungan teoritisnya.

Jika mengukur sebuah tegangan semakin besar nilai tahanan yang dimiliki alat

ukur tesebut, semakin kecil energi yang diambil oleh alat ukur sehingga hasil

pengukuran mendekati realnya. Jika terjadi kesalahan maka dapat melakukan

kompensasi terhadap kesalahan itu, maka tingkat errornya semakin kecil. Jika

mengukur arus yang mengalir , alat ukur yang digunakan adalah ampermeter.

Pada pengukurannya ampermeter dipasang secara seri pada rangkaian sehingga

bertambahnya nilai tahanan seri pada rangkaian tersebut. Untuk mendapatkan

hasil pengukuran ampermeter yang baik yaitu ampermeter yang memiliki nilai

tahanan yang kecil atau maksimal 0. karna arus yang mengalir pada rangkaian

resistancenya kecil atau nilai tahanannya kecil, maka pembacaaan pada

ampermeter dapat mendekati realnya. Oleh karena itu ketika dalam pengukuran

seharusnya dapat kita ketahui berapa nilai hambatan yang ada pada alat ukur

tersebut. Jadi ketika energi yang digunakan pada alat ukur tersebut dapat

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


diketahui dengan mengetahui besar efek pembebanan tersebut. Hasil pengukuran

mendekati realnya dan dapat melakukan kompensasi terhadap kesalahan itu ,

maka error kesalahan yang dihasilkan semakin kecil. Sehingga dapat diketahui

jenis multimeter yang baik untuk digunakan. Efek dari nilai resistansi dalam,

untuk hasil pengukuran voltmeter adalah jika nilai resistansinya besar terhadap

range yang digunakan maka persentase kesalahan yang dihasilkan akan kecil dan

semakin besar tahanan dalam voltmeter arus yang masuk ke alat ukur semakin

kecil. Sehingga efek pembebanan yang dihasilkan semakin kecil. Efek

pembebanan pada ammeter semakin kecil nilai tahanan dalam ammeter atau

maksimal nol pada suatu rangakaian yang terpasang seri . Maka persen kesalahan

yang dihasilkan akan kecil.

B. TUJUAN

Setelah selesai melaksanakan kegiatan pratikum ini diharapkan para Guru

PPG mampu memilih alat ukur listrik berdasarkan tahanan dalamnya, kelasnya,

batas ukurnya, dan jenisnya dengan tepat dan benar sesuai dengan kebutuhan.

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


BAB II
LANDASAN TEORI

Setiap alat ukur listrik mempunyai tahanan dalam dengan ukuran berbeda-

beda. Demikian juga amperemeter mempunyai tahanan dalam yang besarnya yang

berbeda-beda pula. Gambar di bawah memperlihatkan rangkaian Amperemeter DC

dengan tahanan dalam RA,dengan sumber tegangan DC Vs dan tahanan beban RB.

Dengan memperhitungkan tahanan dalam Amperemeter, arus I yang terukur

Amperemeter besarnya :

Vs
I = ------------ (1)
RA + RB

I . RA + I .RB = Vs

I . RA = Vs I . RB

Vs I . RB
RA = ---------------- (2)
I

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


Apabila Vs, I dan RB diketahui, maka besarnya tahanan dalam RA dapat

dihitung.Dari persamaan (1) diatas jika tahanan dalam Amperemeter jauh lebih kecil

daripada tahanan beban, maka tahanan dalam Amperemeter dapat diabaikan, karena

pengaruhnya sangat kecil terhadap besarnya arus yang terukur Amperemeter.

Tetapi jika besarnya tahanan dalam Amperemeter sama atau lebih besar dari

tahanan beban, maka tahanan dalam harus diperhitungkan sesuai dengan persamaan

(1). Jadi semakin kecil tahanan dalam Amperemeter, maka akan semakin teliti hasil

pengukurannya.

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


BAB III
PERCOBAAN

A. ALAT DAN BAHAN

1. Amperemeter DC dengan tahanan dalam yang berlainan ...............3 buah

2. Multimeter ....................................................................................... 1 buah

2. Tahanan 100 ohm .... 1 buah

3. Tahanan 2K2 ohm ... 1 buah

4. Sumber tegangan DC ........1 buah

5. Kabel penghubung ...............secukupnya

B. SKEMA PERCOBAAN

C. TATA LAKSANA PERCOBAAN

1. Siapkanlah alat dan bahan yang diperlukan.

2. Buatlah rangkaian seperti gambar di bawah, dengan RB sebesar 100 W dan

tegangan sumber Vs pada posisi minimum (0 Volt).

3. Tutuplah saklar S, kemudian aturlah sumber tegangan V sehingga

amperemeter menunjuk di tengah skala.

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


4. Amatilah penunjukkan amperemeter dan besar tegangan sumber, catat

hasilnya pada tabel pengamatan.

5. Matikanlah sumber tegangan, dan gantilah ampermeternya dengan

ampermeter lain yang tahanan dalamnya berbeda.

6. Ulangilah langkah 2 sampai dengan 5. Matikanlah sumber tegangan Vs, dan

lepas RB 100 ohm diganti dengan RB sebesar 2K2

7. Ulangi langkah 2 sampai dengan 7 untuk amperemeter C dan D dan masukkan

hasilnya dalam tabel pengamatan.

8. Matikanlah sumber tegangan kemudian lepaslah rangkaian dan

9. kembalikan semua alat dan bahan ke tempat semula dengan rapi.

D. HASIL PERHITUNGAN

Alat Ukur RB () Vs (Volt) I (mA) IB RA


Amperemeter 100 5,5 Volt 50 mA 55 mA 10
Model SK 2200 25 Volt 12,5 mA 11 mA 2,2
Amperemeter 100 5,5 Volt 49 mA 55 mA 12
2200 25 Volt 11,5 mA 11 mA 26
Multitester 100 1,5 Volt 14 mA 15 mA 7,1
2200 25 Volt 11,5 mA 11 mA 26
Keterangan:
Hasil Pengukuran
Hasil Perhitungan

E. ANALISIS PERHITUNGAN

1. Ameremeter Model SK
RB = 10
,
IB = =
,, ,
RA = = =
, ,

RB = 2200

Ferlla Putri Yosita, S.Pd



IB = =
, ,
RA = = = ,
, ,

2. Amperemeter
RB = 10
,
IB = =
,, ,
RA = = =
, ,

RB = 2200

IB = = ,
, ,
RA = = =
, ,

3. Multimeter
RB = 10
,
IB = =
,, ,
RA = = = ,
, ,

RB = 2200

IB = =
, ,
RA = = =
, ,

F. SOAL LATIHAN
1. Apakah tahanan dalam dari suatu alat ukur listrik itu ?
2. Bagaimanakah pengaruh tahanan dalam meter terhadap hasil pengukurannya ?
3. Tahanan dalam yang bagaimana yang dapat diabaikan pada Amperemeter ?
4. Tahanan dalam yang bagaimana yang harus diperhitungkan dalam
Amperemeter?
5. Tuliskanlah rumus untuk mencari tahanan dalam Amperemeter!
Jawab:

1. Tahanan dalam adalah suatu nilai hambatan atau resistansi yang terdapat di
dalam suatu alat ukur.

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


2. Pengaruh tahanan dalam dalam hasil pengukuran adalah akan mengurangi
ketelitian dari hasil pengukuran.
3. Tahanan dalam yang dapat diabaikan jika tahanan dalam yang jauh lebih kecil
dari tahanan bebannya.
4. Tahanan dalam yang diperhitungkan jika tahanan dalam yang jauh lebih besar
dari tahanan bebannya.
.
5. RA =

BAB IV

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


KESIMPULAN

Setiap alat ukur listrik mempunyai kelas tersendiri. Kelas suatu alat ukur

listrik menunjukkan besarnya kesalahan pengukuran alat tersebut. Semakin kecil

kelas suatu alat ukur listrik, maka kesalahan pengukurannya akan semakin kecil.

Standar IEC mengklasifikasikan dalam 8 kelas, yaitu kelas : 0,05; 0,1; 0,2; 0,5; 1; 1,5;

2,5; dan 5. Hal tersebut dimaksudkan bahwa kesalahan dari alat ukur tersebut masing-

masing 0,05 %; 0,1 %; 0,2 %; 0,5 %; 1 %; 1,5 %; 2,5 %; dan 5 %.

Hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan alat ukur listrik adalah :

1. Memilih alat ukur berdasarkan jenis yang akan di ukur.

Alat ukur listrik yang digunakan untuk arus searah dan arus bolak-balik pasti

berbeda. Dalam penggunaan arus bolak-balik ada beberapa hal yang

mempengaruhinya adalah frekuensi, bentuk gelombang, induksi pada frekuensi

tinggi. Jika digunakan untuk arus searah maupun untuk arus bolakbalik, maka

harus dipilih alat ukur yang mempunyai pemakaian daya sendiri sekecil

mungkin, sehingga tidak mempengaruhi rangkaian listrik yang diukur. Kadang-

kadang perlu diperhatikan pengaruh temperatur dan medan magnit pada alat ukur

tersebut.

2. Memilih alat ukur berdasarkan batas ukur yang akan di ukur.

Setiap alat ukur listrik pasti mempunyai batas ukur tertentu. Batas alat ukur

listrik adalah batas daerah skala pembacaan dari alat ukur itu sendiri. Batas ukur

alat ukur listrik akan mempengaruhi ketelitian hasil pengukuran, oleh karena itu

untuk memperoleh ketelitian hasil pengukuran yang baik haruslah dipilih batas

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


ukur yang tepat sesuai dengan skala dan besar besaran listrik yang diukur.

Apabila batas ukur yang dipilih lebih kecil dari pada yang diukur, maka dapat

menyebabkan kerusakan pada alat ukur tersebut. Sedangkan jika batas ukur yang

dipilih terlalu besar dibandingkan dengan besaran yang diukur, maka hasil

pengukuranya menjadi kurang teliti. Untuk mencegah kerusakan alat ukur listrik,

maka sebelum pengukuran dilakukan harus diperhitungkan lebih dahulu besarnya

besaran listrik yang diukur. Misalnya mengukur sumber tegangan DC dari batu

baterai, akumulator bisa melihat pada ukuran yang tertulis pada sumber tersebut.

Apabila mengukur arus listrik pada rangkaian, maka dapat dihitung

menggunakan I = V/R dan sebagainya.

Dapat dinyatakan bahwa makin peka suatu alat ukur dalam suatu

pengukuran, maka makin mendekati nilai sebenarnya dari obyek pengukuran.

Perubahan angka pengukuran untuk mencapai angka hasil pengukuran tiap waktunya.

Bila dilihat secara mutlak (kita tidak melihat positif atau negatifnya, karena itu

tergantung dimana angka sebelum pengukuran berada, apakah lebih besar atau lebih

kecil dari angka hasil pengukuran nantinya) maka semakin besar perubahan itu, alat

ukur dikatakan memiliki sensitivitas yang lebih baik.

Juga pada pengukuran akan terjadi Error yg dapat diartikan sebagai beda

aljabar antara nilai ukuran yang terbaca dengan nilaisebenarnya dari obyek yang

diukur. Tidak ada komponen atau alat ukur yang sempurna, semuanya mempunyai

kesalahan atau ketidak-telitian. Setiap hasil pengukuran selalu mengandung error.

Tidak ada pengukuran yang bebas error, ini merupakan sifat alamia, kecuali jika yang

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


diukur/dihitung adalah jumlah barang atau jumlah kejadian. Error dalam pengukuran

dikelompokan menjadi 3 jenis yaitu:

1. Spurious error

Penyebab spuroius error adalah karena kesalahan manusia (salah membaca, salah

melihat dan salah dalam mencatat) atau kesalahan alat ukur (alat ukur yang tidak

berfungsi dengan baik.

2. Systematic error

Dipengaruhi beberapa faktor yang secara sistematis mempengaruhi hasil

pengukuran. Ada yang karena kegaduhan kelas saat melakukan pengukuran.

Dalam prakteknya systematic error ini sangat sulit untuk

diidentifikasi/ditentukan.

3. Random error.

Salah satu faktor yang mempengaruhi random error adalah mood. Kinerja

seseorang akan mempengaruhi hasil pengukuran. Random error dapat

menyebabkan pengukuran berulang yang terhadap suatu besaran yang tidak

pernah menghasilkan nilai yang sama.

Ferlla Putri Yosita, S.Pd


DAFTAR PUSTAKA

A.J. Dirksen.(1981). Pelajaran Elektronika Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Cooper, W D. Trans. Sahat Pakpahan .(1985). Instrumentasi Elektronik dan Teknik


Pengukuran. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Errest O. Doebelin.(1983). Measurement System. Application and


Design.Singapore : Mc Graw Hill International Book.

Herry Sumual.(1988). Penuntun Praktek Laboratorium Listrik. Jakarta: P2LPTK


Dirjen Dikti Depdikbud.

Soedjana, S. (1979). Pengukuran dan Alat alat Ukur Listrik. Jakarta :Pradnya
Paramita.

Ferlla Putri Yosita, S.Pd