Anda di halaman 1dari 14

MAKROEVOLUSI

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Evolusi


Yang Dibina Oleh Bapak Dr. H. Abdul Gofur, M.Si

Oleh:
Kelompok 9/Offering A
Fandi Tri Fajar Cahyo 140341601660
Ricky Angga Pratama 140341603378

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kelompok 9 panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul Makroevolusi dengan tepat waktu.
Pada kesempatan ini kelompok 9 mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Dr. H. Abdul Gofur, M.Si selaku dosen pembimbing matakuliah Evolusi
Universitas Negeri Malang dan seluruh anggota kelompok 9 yang telah
berpartisipasi dalam menuntaskan makalah ini.
Kelompok 9 menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, kelompok 9 mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Akhir
kata kelompok 9 mengucapkan terima kasih.

Malang, Februari 2017

Penyusun,
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang .................................................................................. 1
2. Rumusan Masalah ............................................................................. 1
3. Tujuan Penulisan ............................................................................... 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
1. Pengertian Makroevolusi .................................................................. 3
2. Perbedaan Makroevolusi dan Mikroevolusi...................................... 4
3. Bukti-bukti Adanya Makroevolusi .................................................... 9
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan ....................................................................................... 10
2. Saran .................................................................................................. 10
DAFTAR RUJUKAN ................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Evolusi merupakan salah satu topik yang masih terus menjadi perdebatan di
dunia pendidikan biologi, dan merambah di kehidupan masyarakat luas. Beberapa
tokoh evolusionis berusaha untuk menjelaskan tentang peristiwa evolusi, mereka
dari berbagai sudut pandang yang masing-masing, sehingga evolusi masih sulit
untuk diterima oleh semua orang. Hal ini terkendala oleh faktor X yang biasa
dikenal dengan istilah Missing Links. Hilangnya beberapa penghubung evolusi
menjadikan kendala yang masih sulit, untuk menghubungkan mata rantai kejadian
evolusi dapat dijelaskan secara terinci. Para ilmuwan yang menggunakan metode
ilmiah terus berusaha menyingkap kabut evolusi melalui sumbersumber purbakala
yang di dapat. Bukti uji Palaentologi, evolusi biologi, dan lempeng tektonik.
Evolusi berdasarkan skala perubahannya, terdiri dari 2 yaitu: 1)
Mikroevolusi yang merupakan perubahan proses evolusi yang dapat
mengakibatkan perubahan dalam skala kecil. Mikroevolusi hanya mengarah kepada
terjadinya perubahan frekuensi gen atau kromosom, dan 2) Makroevolusi yang
merupakan perubahan evolusi yang dapat mengakibatkan perubahan dalam skala
besar. Adanya makroevolusi dapat mengarah kepada terbentuknya spesies
baru.Kita mengetahui bahwa teori evolusi itu ada banyak, salah satunya teori yang
membahas tentang perbedaan makroevolusi dan mikroevolusi serta bukti-bukti
makroevolusi yang akan dibahas dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah
adalah sebagai berikut.
1. Apakah pengertian dari Makroevolusi?
2. Bagaimana perbedaan dari Makroevolusi dan Mikroevolusi?
3. Bagaimana bukti-bukti adanya Makroevolusi?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka dapat dibuat tujuan adalah
sebagai berikut.
1. Mengetahui pengertian dari Makroevolusi.
2. Mengetahui perbedaan dari Makroevolusi dan Mikroevolusi.
3. Mengetahui bukti-bukti adanya Makroevolusi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Makroevolusi
Menurut NABT (2006), makroevolusi merupakan studi evolusi dari waktu
ke waktu geologi(ribuan sampai jutaan tahun). Menurut Carrol (2001),
makroevolusi merupakan perubahan suatu spesies di tingkat lebih atas dari spesies
serta pembentukan spesies yang identik dengan morfologi evolusi. Menurut
Levinton (2001), makroevolusi studi yang berkaitan ekologi dengan skala waktu
ekologi dan tersedia hanya penelitian paleontologi sejarah perubahan.
Makroevolusi adalah skala analisis evolusi yang dipisahkan dari lungkang
gen (gen pool). Dalam genetika populasi, suatu lungkang gen (atau gene pool)
adalah populasi yang menampung berbagai alel yang mungkin tersedia dalam suatu
spesies. Populasi menjadi lungkang gen apabila di dalamnya terdapat keunikan
akibat proses saling kawin di dalamnya terjadi secara tertutup (terisolasi), terpisah
dari populasi lain. Kajian makroevolusi berfokus pada perubahan yang terjadi pada
tingkatan spesies atau populasi. Hal ini berbeda dengan mikroevolusi,yang merujuk
pada perubahan evolusi yang kecil (biasanya dideskripsikan sebagai perubahan
pada frekuensi gen atau kromosom) dalam suatu spesies ataupun
populasi. Makroevolusi pertama-tama menyangkut:
1. Suatu penyimpangan adaptif/pergeseran adaptif suatu spesies karena suatu
spesies turunan tersebut masuk ke dalam lingkungan dengan keadaan ekologi
yang tidak identik dengan lingkungan spesies induk. Agar suatu populasi dapat
menjadi mantap di dalam suatu lingkungan baru, maka harus ada keadaan yang
menguntungkan terjadi bersamaan.
Pertama, tidak akan ada pergeseran jika individu yang masuk dalam
lingkungan baru dapat hidup. Ini berarti bahwa perbedaan ekologi antara
lingkungan leluhur dengan lingkungan baru itu tidak boleh besar atau jika
perbedaan itu besar seperti dalam transisi dari air ke darat, hewan baru tersebut
harus sudah mengembangkan ciri-ciri yang diperlukan dalam habitat baru,
seperti paru-paru pada vertebrata dalam transisi air-darat. Hewan yang baru
masuk tersebut memerlukan sedikit pre-adaptasi.
Kedua, pergeseran tidak akan berhasil, bahkan pada spesies yang sudah
preadaptif, jika habitat yang akan dihuni spesies baru tersebut tidak mempunyai
makanan atau sumber lain yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dalam
periode ketika banyak spesies yang hidup dalam habitat tersebut menjadi penuh
Jika perbedaan lingkungan itu besar, maka populasi yang tergeser harus
mempunyai pre-adaptasi dan habitat yang akan dihuni spesies baru juga harus
mempunyai sumber-sumber yang belum dimanfaatkan sebelumnya.
2. Sifat makroevolusi
Perubahan evolusi jangka panjang dapat berlangsung dengan berbagai cara.
Suatu spesies yang hidup dalam lingkungan yang sedang berubah dapat
mengalami seleksi yang secara perlahan-lahan menggeser nilai rata-rata dan
kisaran variasi spesies tersebut kearah gradien lingkungan. Hal ini disebut
spesiasi filetik. Populasi pada awal dan akhir urutan ini cukup berbeda
sehingga ahli biologi membenarkan mengangapnya sebagai spesies yang
berlainan, meskipun menarik garis pemisah antara spesies tersebut merupakan
masalah, kerana generasi tersebut tumpang tindih dalam morfologi dan
mungkin juga dalam reproduksi jadi spesies filetik tidak sama dengan spesies
di atas, dimana divergensi terjadi agak cepat pada populasi kecil yang
semiterisolasi oleh perkembangan isolasi reproduksi
Analisis dari kelompok yang tercatat dengan baik dalam laporan fosil
menggambarkan bahwa spesies baru timbul agak lebih cepat (secara geologi)
daripada jika dengan cara spesiasi normal. Sekali terbentuk spesies baru, maka
spesies tersebut tetap tidak berubah selama jutaan tahun dan kemudian
seringkali menjadi punah. Sebelum punah, spesies turunan bercabang-cabang
ke arah yang berbeda-beda. Pola spesies yang timbul dan tengggelam tiba-tiba
ini disebut ekuilibria yang tepat. Arah kemana percabangan ini diutamakan
atau dimana terjadi kepunahan ditentukan oleh keberhasilan adaptasi pada
lingkungan atau oleh faktor yang mempengaruhi laju spesiasi, yang tidak
semunya adaptif; tekanan mutasi; pola distribusi; cara reproduksi yang
mempengaruhi mudahnya suatu spesies terpecah menjadi kelompok-kelompok
kecil yang semiterisolasi dan kesuburan (Panjaitan, 2008)
B. Perbedaan Makroevolusi dan Mikroevolusi
Makroevolusi berfokus pada pembentukan kelompok-kelompok taksonomik
baru diatas tingkat spesies. Walaupun banyak mekanisme sama yang terlibat dalam
spesiasi bekerja juga dalam makroevolusi, rentang waktu yang diperlukan jauh
lebih besar. Banyak yang tidak mengetahui tren luas makroevolusi berasal dari
rekaman fosil. Akan tetapi, perubahan-perubahan dalam sebuah kelompok yang
mengarah pada terjadinya modifikasi-modifikasi yang tak seberapa drastis pada
populasi atau bahkan pembentukan spesies baru (mikroevolusi) dapat dipelajari
melalui pengukuran frekuensi gen dalam populasi. Pola-pola seleksi mencakup :
1. Seleksi penstabilisasi, dengan ekstrem-ekstrem pada kedua ujung spektrum
dideteksi secara tak proporsional hingga populasi cenderung mengelompok
disekitar rata-rata, walaupun pada setiap dihasilkan variasi
2. Seleksi terarah (directional selection), dengan salah satu ekstrem lebih disukai
daripada ekstrem yang satu lagi, sehingga nilai rata-rata cenderung bergerak ke
arah ekstrem yang lebih disukai
3. Seleksi pendiversifikasi (seleksi disruptif), dengan dua atau lebih suptipe lebih
disukai dan populasi cenderung berevolusi menjadi sebuah subkelompok
ataupun spesies baru.
Seleksi pendiversifikasi beroperasi sangat baik pada mikroevolusi maupun
makroevolusi, dan seleksi terarah mirip dengan proses makroevolusioner yang
dikenal sebagai perubahan filetik. Pola-pola dasar perubahan luas pada
makroevolusi yang ditunjukkan oleh rekaman fosil adalah :
1. Perubahan filetik (anagenesis), perubahan bertahap pada satu garis keturunan
sehingga pada akhirnya keturunannya sangat berbeda dengan nenek
moyangnya. Anagenesis dapat disamakan dengan seleksi terarah dalam jangka
waktu yang lama.
2. Kladogenesis, tren makroevolusioner dengan terjadinya percabangan.
Sehingga satu garis keturunan menghasilkan dua atau lebih garis keturunan.
Populasi-populasi kecil yang muncul dari garis keturunan itu dapat berada pada
posisi yang sangat memadai untuk menghasilkan kelompok-kelompok baru.
Kladogenesis telah ditekankan sebagai salah satu pola makroevolusiner utama
oleh Ernst Mayr.
3. Radiasi adaptif, pembentukan secara relatif mendadak banyak kelompok baru,
yang mampu bergerak menuju lingkungan baru dan mengeksploitasinya.
Diverifikasi yang relatif cepat dari mamalia awal selama terjadi kepunahan
dinosaurus merupakan contoh yang baik dari diverifikasi semacam itu. Radiasi
adaptif menggabungkan sifat-sifat kladogenesis dan anagenesis, sebab garis-
garis keturunan baru yang terbentuk selama masa evolusioner yang berubah
dengan cepat itu mungkin mengalami transisi-transisi yang progresif.
4. Kepunahan, lebih dari 99,99 spesies yang pernah di evolusikan kini tak ada
lagi. Hilangnya keberagaman itu merupakan sifat tak terelakkan dari evolusi
pada semua kingdom. Lingkungan yang berubah membuat organisme yang
kemarin fit, tak lagi fit dan terancam kepunahan (Fried dan Hademenos, 2006).

Gambar (1). Perbedaan Makroevolusi dan mikroevolusi


(hcevolution.wikispaces.com)

C. Bukti-bukti adanya Makroevolusi


Sebagian besar bukti perubahan evolusi berskala besar (disebut evolusi
makro) bersumber dari peninggalan berupa fosil. Hanya pada fosil kita dapat
mengamati evolusi untuk jangka waktu cukup lama agar bisa mengetahui pola skala
besar. Dengan fosil dapat menunjukkan jatuh bangunnya kelompok pada semua
peringkat taksonomi, Species, Genus datang dan pergi, demikian pula halnya
Familia, Ordo dan Classis yang mengandung spesies itu. Semakin besar kelompok
semakin inklusif kelompok tersebut, tetapi pola bagi semua kelompok sama saja.
Kemudian ada kepunahan masal, dimana beberapa kelompok besar punah pada
waktu yang kurang lebih sama. Kita juga dapat melihat kecenderungan evolusi,
menurut garis silsilah, dimana anggota-anggota garis silsilah tersebut berevolusi
secara berkesinambungan pada arah yang sama, melalui banyak spesies dan selama
waktu yang panjang. Seperti itulah gejala evolusi makro.
Paleontologi, biologi perkembangan evolusioner, genomika perbandingan,
dan filostratigrafi genomik berkontribusi terhadap kebanyakan bukti-bukti akan
pola-pola dan proses-proses alam yang dapat diklasifikasikan sebagai
makroevolusi. Sebagai contoh makroevolusi adalah kemunculan bulu selama
evolusi burung dari dinosaurus teropoda.
Kehidupan di bumi berevolusi dengan cara bereaksi terhadap perubahan
kondisi geologis. Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli paleontologi terkenal,
Alfred Roman, alam telah menghasilkan sejumlah model eksperimental yang dapat
menyesuaikan diri dengan bumi yang selalu berubah. Pada kenyataannya ahli ilmu
buni membagi waktu geologis dengan jalan mengkhususkan interval waktu tertentu
terhadap bentuk kehidupan yang dominan.
Tidak seperti planet-planet lain pada sistem matahari, bumi terus aktif secara
geologis. Sesudah pengendapan dari pengumpulan debu kosmis 4,6 milyar tahun
yang lalu, bahan-bahan dari planet mulai mengatur dirinya menjadi unit-unit yang
terus berinteraksi satu sama lain secara dinamis. Pengumpulan partikel tekanan
menyebabkan bumi memanas sebagai akibat dari friksi (benturan) dan aktivitas
radioaktif. Perkiraan temperatur pada tahap permulaan bumi menunjukkan sekitar
1.000C. Panas dalam bumi tetap menjadi sumber energi untuk proses diferensiasi
proto bumi yang homogen, untuk dijadikan komponen yang tetap. Tahap mula dari
diferensial adalah mencairnya besi dan pengerasan sesudahnya dari elemen ini
menjadi core/inti yang berdiameter lebih dari 10.000 kilometer.
Ketika pemanasan terus berlangsung, elemen yang lebih ringan naik dan
elemen yang lebih berat tenggelam ke inti bumi. Sementara itu yang mengelilingi
inti bumi, namun berada tepat di bawah lapisan terluar adalah matel (selimut).
Lapisan terluar di atas matel terdiri dari atmosfer, litosfer dan crust/debu-debu
halus. Karena perbedaan temperatur diantara lapisan-lapisan, termo arus
convention membentuk apa saja yang seperti yang dilakukan dalam atosfer.
Pergeseran dari arus-arus batu ini merupakan kunci untuk mengerti mengapa
lapisan terluar bumi selalu mengatur kembali dirinya melalui pergeseran benua,
vulkanisme dan daerah-daerah/zona-zona subduction. Fenomena ini merupakan
salah satu bagian dari plate tecnonics. Piringan tektonik merupakan hal penting
untuk mengetahui biostratigrafi bumi. Jika ingin menelusuri sejarah kehidupan
bumi, maka harus kerap kembali pada pembicaraan mengenai piringan tektonis.
Bukti bukti yang dapat diklasifikasikan sebagai makroevolusi diantaranya
adalah Paleontologi. Paleontologi didefinisikan adalah ilmu yang mempelajari
kehidupan praaksara. Paleontologi mencakup studi fosil untuk
menentukan evolusi suatu organisme dan interaksinya dengan organisme lain dan
lingkungannya (paleoekologi). Pengamatan paleontologi telah didokumentasikan
sejak abad ke 5 sebelum masehi. Sains paleontology berkembang pada abad ke 18
ketika Georges Cuvier melakukan anatomi komparatif, dan berkembang secara
cepat pada abad ke 19. Paleontologi berada pada batas antara biologi dan geologi,
namun berbeda dengan arkeologi karena paleontologi tidak memasukkan
kebudayaan Homo sapien modern. Paleontologi kini mendayagunakan berbagai
metode ilmiah dalam sains, mencakup biokimia, matematika, dan teknik.
Penggunaan berbagai metode ini memungkinkan paleontologi untuk
menemukan sejarah evolusioner kehidupan, yaitu ketika bumi menjadi sesuatu
yang mampu mendukung terciptanya kehidupan, sekitar 3.800 juta tahun silam.
Dengan pengetahuan yang terus meningkat, paleontologi kini memiliki subdivisi
yang terspesialisasi, beberapa fokus pada jenis fosil tertentu, yang lain mempelajari
sejarah lingkungan dalam paleoekologi, dan yang lain mempelajari
dalam iklim dalam paleoklimatologi.
Secara sempit, Paleontologi dapat diartikan ilmu mengenai fosil sebab jejak
kehidupan zaman purba terekam dalam fosil. Fosil adalah sisa kehidupan purba
yang terawetkan secara alamiah dan terekam pada bahan-bahan dari kerak
bumi.sisa kehidupan tersebut dapat berupa cangkang binatang,jejak atau cetakan
yang mengalami pembentukan atau penggantian oleh mineral. Catatan fosil ( fossil
record ) adalah susunan teratur di mana fosil mengendap dalam lapisan/ strata,pada
batuan sedimen yang menandai berlalunya waktu geologis.Semakin atas letak strata
tempat fosil ditemukan,semakin muda usia fosil tersebut.
Ada bermacam-macam fosil bila ditinjau dari dari kejadiannya, antara lain:
Bagian keras yang terawetkan dan menjadi fosil seperti keadaannya semula.
Misalnya: tulang,gigi, cangkang.
Hasil pembatuan.
Awetan yang terdapat dalam lapisan seperti batu amber.
Jejak, lubang, tempat tinggal, kotoran
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Makroevolusi adalah skala analisis evolusi yang dipisahkan dari lungkang gen
(gen pool). Dalam genetika populasi, suatu lungkang gen (atau gene pool)
adalah populasi yang menampung berbagai alel yang mungkin tersedia dalam
suatu spesies.
2. Mikroevolusi merupakan evolusi pada tingkat populasi, perubahan frekuensi
alel atau genotip di dalam suatu populasi dari generasi ke generasi, sedangkan
Makroevolusi merupakan pembentukan kelompok-kelompok taksonomik baru
diatas tingkat spesies yang terjadi berulang kali selama jangka waktu yang
panjang dan mengarah ke pembentukan spesies baru.
3. Bukti bukti yang dapat diklasifikasikan sebagai makroevolusi diantaranya
adalah Paleontologi. Paleontologi mencakup studi fosil untuk
menentukan evolusi suatu organisme dan interaksinya dengan organisme lain
dan lingkungannya (paleoekologi).

B. Saran
Sebagai calon pendidik, hendaknya mampu menjelaskan dan menganalisis
berbagai contoh peristiwa makroevolusi dan mikroevolusi dalam kegiatan belajar
mengajar agar tidak terjadi miskonsepsi antara pendidik dan peserta didik di
kemudian hari.
DAFTAR RUJUKAN

BSCS, 2006, Biology, A Molecular Approach, ninth edition, Mc Graw Hill,


Glencoe, New York

Campbell, N. A., J. B. Reece dan L.G. Mitchell, 1999, Biology, Fifth Edition,
Addison Wesley Longman, Inc. New York

Futuyma, D. J., 2005, Evolution, Sinauer associates, Inc. Publishers Sunderland,


Massachusetts USA

Fried, George H. dan Hademenos, George J. 2006. Schaums Outlines: Biologi,


Edisi Kedua. Jakarta. PT. Gelora Aksara Pratama.

Gardner, E. J. and D. P. Snustad, 1984, Principle of Genetics, John Wiley and Sons,
New York

Henuhili, Victoria. 2008. Genetika dan Evolusi. Yogyakarta: Jurdik Biologi


FMIPA UNY

Panjaitan, Sita. 2008. Makroevolusi. (Online)


(https://sitapanjaitan.wordpress.com/2008/12/- 22/makroevolusi/), diakses
pada tanggal 05 Februari 2017

Stearns, Stepen C & Hoekstra, Rolf F. 2003. Evolution an Introduction. New York:
Oxford University Press

Suryo, 1984, Genetika, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta