Anda di halaman 1dari 16

Selamat malam rekan2 HR and Legal seluruh Indonesia khususnya Korwil Jamur dan sekitarnya

perkenal kan Nama saya Syaiful Hardyansyah atau biasa dipanggil oleh rekan2 serta sahabat HR
seluruh Indonesai dengan sebutan KangSyai,
Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara keturunan Jawa Timur(Ibu) dan Jawa Tengah(Ayah)
dan diberikan kesempatan lahir di Jakarta 20 March 1978, Di tengah kehidupan metropolis saya
sudah memulai mengecap dunia kerja pada Tahun 1994 diPerusahaan Pelabuhan Indonesia
Pelindo.2 sebagai Worker (O.B) untuk bersekolah, diTanjung Priuk, Alhamdulilah setelah
menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) Boedi Utomo Jakarta,
- Pada tahun 1997, Setelah kelulusan saya mendapat kesempatan diterima disalah satu
Perusahaan Group Astra Internasional Daihatsu dan Nissan di Sunter Jakarta Utara sebagai
General Affair Staff untuk bagian I,T dan General services, sempat Mengambil S1 Hukum di
Unkris hanya smpai semesester-3 (tdk selesai)

Karir yang tidak mudah untuk bekerja tetapi tetap mengucap syukur dan terus berupaya menjadi
terbaik sampai dimanapun berada, berikut Biograpy sy pribadi jd cerite deh ahcc,,,,
- Tahun 2000 saya di berikan kesempatan oleh perusahaan untuk mengikuti Seleksi
Improvement pada Line Welding and Assembling dan diberikan kesempatan kembali
mengikuti Program pemagangan JICA (Japan international competition Automotive)sebagai
Staff Payroll dan Building safety selama 3tahun di Hamatetsu Japan.
- Pada tahun 2003 saya kembali ke Tanah air dan melanjutkan Karir di PT Kawai Piano Japan
co,ltd(diKarawang) sebagai HR Officer dan inteprt Japan Nihongo Kiso-N3, dalam bekerja
saya sambil berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi UNSIKA- dengan Jurusan Sistem
Informasi Managemen
- Pada Tahun 2005 di berikan kesempatan di salah satu Perusahaan Joint venture Taiwan -
Korea Samwoo Nike Coporation sebagai HR and IR Supervisor
- Pada tahun 2007 Pernah bekerja di salah satu perusahaan Farmasi terbesar Dexa Medica
sebagai HR GA Asst, Mgr dan melanjutkan S.2 Hukum Bisnis perusahaan dan Perburuhan
tetapi hanya sampai semester 4 dikarenakan kesibukan dan tuntutan pekerjaan Tidak dapat
melanjutkan.
- Tahun 2009 Pernah bekerja di PT. Indosoftware services (Auotomotive) sebagai GA Asst.
Mgr
- Tahun 2010 Pernah bekerja di PT Timas Suplindo sebagai Dept Head HR GA untuk Site
Project Cevron / Caltex di Pekanbaru Riau
- Tahun 2013 Pernah Bekerja di PT Tokai Rika Indonesia sebagai HR and IR Mgr
- Tahun 2014 Pernah bekerja di perusahaan PT Posco Engineering sebagai HR Mgr
- Tahun 2015 mendirikan INDO HR Profesional bersama rekan rekan organisasi MSDM dan
HR seluruh Indonesia dan kembali di berikan kesempatan bekerja di salah satu perusahaan
Japan PT. Sanko-Goshai Indonesia (Automotive) sebagai HR GA Mgr
- Tahun 2016 s/d sekarang bekerja Di PT Mega Duta Konstruksi sebagai Senior HR Mgr
(G.M) dan 2017 sedang melanjutkan Kuliah S2 Hukum Bisnis Perusahaan di Unkris Jakarta
Demikian Profile saya untuk waktu dan tempatnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya.

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
PKWT vs PEMAGANGAN

Jenis - Jenis Perjanjian Kerja ~Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja /
buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak,
dan kewajiban para pihak. Dalam ketentuan Pasal 1 (14) Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan :
"Perjanjian kerja pada dasarnya harus memuat pula ketentuan-ketentuan yang berkenaan
dengan hubungan kerja itu, yaitu hak dan kewajiban pekerja/buruh dan hak dan kewajiban
pengusaha". Ketentuan-ketentuan ini dapat pula ditetapkan dalam peraturan
perusahaan yaitu peraturan yang secara sepihak ditetapkan dalam peratuan
perusahaan. Dapat pula ditetapkan dalam suatu perjanjian, hasil musyawarah
antara serikat pekerja (serikat pekerja seluruh Indonesia misalnya) dengan pihak
pengusaha, perjanjian ini disebut Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Secara hukum dikenal 2 (dua) macam Perjanjian Kerja (PK) ataupun Pekerja yaitu :

1. Pekerja Kontrak (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu = PKWT); dan


2. Pekerja Tetap (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu = PKWTT).

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)

PKWT adalah Perjanjian Kerja antara Buruh dengan pengusaha yang ditentukan
berdasarkan pada jangka wqaktu tertentu. Menurut Pasal 56 ayat 2 (UU No.13
Tahun 2003, Pembuatan PKWT berdarkan atas :

1. Jangka waktu; dan


2. Selesainya pekerjaan tertentu.

Prinsip hukum dari PKWT yang mendasarkan pada jangka waktu tertentu , dapat
diadakan untuk paling lama dua tahun dan diperpanjang satu kali paling lama satu
tahun.

Pekerja Kontrak diartikan secara hukum adalah Pekerja dengan status bukan Pekerja
tetap atau dengan kalimat lain Pekerja yang bekerja hanya untuk waktu tertentu
berdasar kesepakatan antara Pekerja dengan Perusahaan pemberi kerja. Dalam
istilah hukum Pekerja kontrak sering disebut Pekerja PKWT, maksudnya Pekerja
dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.

Pengusaha tidak boleh mengubah status Pekerja Tetap menjadi Pekerja Kontrak.
Apabila itu dilakukan akan melanggar hukum. Secara aturan hukum tidak
mengatur eksplisit mengenai hal ini, namun justifikasi yang dapat disampaikan
adalah bahwa status pekerja dari pekerja tetap menjadi pekerja kontrak adalah sama
saja dengan penurunan status. Penurunan status pekerja dari tetap menjadi kontrak
Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani
No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
adalah masuk kategori Pemutusan Hubungan Kerja
(PHK) sepihak dari perusahaan dan dalam satu waktu yang sama pengusaha
mengangkat kembali pekerja (tetap) tersebut menjadi pekerja kontrak.

UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Pasal 56 menyatakan :

Perjanjian kerja dibuat untuk waktu tertentu atau untuk waktu tidak tertentu.
Perjanjian kerja untuk waktu tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
didasarkan atas:

1. jangka waktu; atau


2. selesainya suatu pekerjaan tertentu.

Salah satu hal yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh Pekerja Kontrak
adalah Pekerja Kontrak harus memiliki/mendapatkan Surat Perjanjian Kerja yang
ditandatangani oleh Pengusaha dan Pekerja yang bersangkutan.

Berpendapat hubungan hukum antara pekrja/buruh dengan pengusaha, terjadi


setelah diadakan perjanjian, dimana pekerja/buruh menyatakan kesanggupannya
untuk bekerja pada majikan dengan menerima upah, dan dimana pengusaha
menyatakan kesanggupannya untuk mempekerjakan buruh denan membayar upah.
Perjanjian kerja yang menimbulkan hubungan kerja mempunyai unsur :

1. Pekerjaan;
2. Upah; dan
3. Perintah.

Dengan demikian agar dapat disebut perjanjian kerja harus dipenuhi tiga unsur,
yaitu sebagai berikut :

a. Ada orang dibawah pimpinan orang lain

Adanya unsur perintah menimbulkan adanya pimpinan orang lain. Dalam


perjanjian kerja unsur perintah ini memegang peranan yang pokok, sebab tanpa
adanya unsur perintah, hal itu bukan perjanjian kerja. Dengan adanya unsur
perintah dalam perjanjian kerja, kedudukan kedua belah pihak tidak sama yaitu
pihak satu kedudukannya diatas (pihak yang memerintah) sedangkan pihak lain
kedudukannya dibawah (pihak yang diperintah). Kedudukan yang tidak sama ini
disebut hubungan subordinasi serta ada yang menyebutnya hubungan kedinasan.

Oleh karena itu kalau kedudukan kedua belah pihak tidak sama atau ada
subordinasi, disitu ada perjanjaian kerja. Sebaliknya jika kedudukan kedua belah
pihak sama atau ada koordinasi , disitu tidak ada perjanjian kerja, melainkan
perjanjian yang lain .

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
b. Penunaian kerja

Penunaian kerja maksudnya melakukan pekerjaan. Disini tidak dipakai istilah


melakukan pekerjaan sebab istilah tersebut mempunyai arti ganda. Istilah
melakukan pekejaan dapat berarti persewaan tenaga kerja atau penunaian kerja.
Dalam penunaian kerja yang tersangkut dalam kerja adalah tenaga manusia ,
sehingga upah sebagai kontraprestasi dipandang dari sudut ekonomis. Dalam
penunaian kerja yang tersangkut dalam kerja adalah manusia itu sendiri sehingga
upah segbagi kontraprestasi dipandang dari sudut social ekonomis.

c. Adanya upah.

Upah menurut Pasal 1 angka 30 undang-undang ketenagakerjaan adalah hak


pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan
dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan
dibayarkan menurut suatu perjanjain kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-
undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu
pekerjaan dan/atau jasa yang telah dan/atau akan dilakukan. Jadi, upah adalah
imbalan termasuk tunjangan yang diterima pekerja/buruh.

Ketentuan Umum PKWT Menurut Kepmenaker No. 100 Tahun 2004 Tentang
Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu yang selanjutnya disebut PKWT adalah


perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan
hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerja tertentu.
Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu yang selanjutnya disebut PKWTT
adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk
mengadakan hubungan kerja yang bersifat tetap.
Pengusaha adalah :

1. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan


suatu perusahaan milik sendiri;
2. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri
sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;
3. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di
Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b
yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.

Perusahaan adalah :

1. Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang
perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta
maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan
membayar upah atau imbalan dalam entuk lain;
Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani
No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
2. Usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang
mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar
upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau
imbalan dalam bentuk lain.

Syarat kerja yang diperjanjikan dalam PKWT, tidak boleh lebih rendah daripada
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menteri dapat
menetapkan ketentuan PKWT khusus untuk sektor usaha dan atau pekerjaan
tertentu.

Jenis Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)

Perjanjian kerta waktu tertentu selanjutnya disebut PKWT diatur secara khusus
dalam Pasal 56 s/d 63 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
ketenagakerjaan dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor : KEP.100/MEN/VI/2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), dalam praktek sebagai panduan teknis
adalah Keputusan Menteri terebut diatas.

Jenis-jenis PKWT yang dapat dilakukan Pekerja/Pekerja Kontrak Berdasar Pasal 59


UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yaitu :

1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan
tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam
waktu tertentu, yaitu :

pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;


pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak
terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun;
pekerjaan yang bersifat musiman; atau
pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau
produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.

2) Perjanjian Kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang
besifat tetap.
Penjelasan Pasal 59 ayat (2) :

Yang dimaksud dengan pekerjaan yang bersifat tetap dalam ayat ini adalah
pekerjaan yang sifatnya terus menerus, tidak terputus-putus, tidak dibatasi waktu
dan merupakan bagian dari suatu proses produksi dalam satu perusahaan atau
pekerjaan yang bukan musiman.

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
Pekerjaan yang bukan musiman adalah pekerjaan
yang tidak tergantung cuaca atau suatu kondisi tertentu. Apabila pekerjaan itu
merupakan pekerjaan yang terus menerus, tidak terputus-putus, tidak dibatasi
waktu, dan merupakan bagian dari suatu proses produksi, tetapi tergantung cuaca
atau pekerjaan itu dibutuhkan karena adanya suatu kondisi tertentu maka pekerjaan
tersebut merupakan pekerjaan musiman yang tidak termasuk pekerjaan tetap
sehingga dapat menjadi obyek perjanjian kerja waktu tertentu.

Sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Tranmigrasi Republik Indonesia : Kep.
100/Men/VI/2004 Ketentuan PKWT khusus untuk sector usaha dan atau pekerjaan
tertentu, yaitu :

a. Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya

PKWT Untuk Pekerjaan Yang Sekali Selesai Atau Sementara Sifatnya Yang
Penyelesaiannya Paling Lama 3 (tiga) Tahun :

PKWT untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya adalah
PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu. Dibuat untuk
paling lama 3 (tiga) tahun.
Dalam hal pekerjaan tertentu yang diperjanjikan dalam PKWT sebagaimana
dimaksud dapat diselesaikan lebih cepat dari yang diperjanjikan maka PKWT
tersebut putus demi hukum pada saaat selesainya pekerjaan.
Dalam PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu harus
dicantumkan batasan suatu pekerjaan dinyatakan selesai.
Dalam hal PKWT dibuat berdasarkan selesainya pekerjaan tertentu namun
karena kondisi tertentu pekerjaan tersebut belum dapat diselesaikan, dapat
dilakukan pembaharuan PKWT.
Pembaharuan sebagaimana dimaksud dilakukan setelah melebihi masa
tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya perjanjian kerja.
Selama tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud tidak ada
hubungan kerja antara pekerja/buruh dan pengusaha.
Para pihak dapat mengatur lain dari ketentuan dalam ayat (5) dan ayat (6)
yang dituangkan dalam perjanjian.

Dalam Pasal 3 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik


Indonesia Nomor KEP.100/MEN/VI/2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), yaitu :

1. PKWT untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya adalah
PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu.
2. PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibuat untuk paling lama 3
(tiga) tahun.
3. Dalam hal pekerjaan tertentu yang diperjanjikan dalam PKWT sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dapat diselesaikan lebih cepat dari yang
Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani
No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
diperjanjikan maka PKWT tersebut putus
demi hukum pada saaat selesainya pekerjaan.

b. PKWT Untuk Pekerjaan Yang Bersifat Musiman

Dalam Pasal 4 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik


Indonesia Nomor KEP.100/MEN/VI/2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), yaitu :

1. Pekerjaan yang bersifat musiman adalah pekerjaan yang pelaksanaannya


tergantung pada musim atau cuaca.
2. KWT yang dilakukan untuk pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
hanya dapat dilakukan untuk satu jenis pekerjaan pada musim tertentu.

Pasal 5 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia


Nomor KEP.100/MEN/VI/2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja
Waktu Tertentu (PKWT), yaitu :

1. Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan untuk memenuhi pesanan atau


target tertentu dapat dilakukan dengan PKWT sebagai pekerjaan musiman.
2. PKWT yang dilakukan untuk pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) hanya diberlakukan untuk pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan
tambahan.

c. PKWT Untuk Pekerjaan Yang Berhubungan Dengan Produk Baru

Dalam Pasal 8 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik


Indonesia Nomor KEP.100/MEN/VI/2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), yaitu :

1. PKWT dapat dilakukan dengan pekerja/buruh untuk melakukan pekerjaan


yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk
tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
2. PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan untuk
jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk satu
kali paling lama 1 (satu) tahun.
3. PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dilakukan
pembaharuan.

d. Perjanjian Kerja Harian Atau Lepas

Dalam Pasal 10 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik


Indonesia Nomor KEP.100/MEN/VI/2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), yaitu :

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
1. Untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu yang
berubah-ubah dalam hal waktu dan volume pekerjaan serta upah
didasarkan pada kehadiran, dapat dilakukan dengan perjanjian kerja harian
atau lepas.
2. Perjanjian kerja harian lepas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
dengan ketentuan pekerja/buruh bekerja kurang dari 21 (dua puluh satu )
hari dalam 1 (satu)bulan.
3. Dalam hal pekerja/buruh bekerja 21 (dua puluh satu) hari atau lebih selama 3
(tiga) bulan berturut-turut atau lebih maka perjanjian kerja harian lepas
berubah menjadi PKWTT.

Perjanjian kerja harian lepas yang memenuhi ketentuan sebagaimana


dimaksud dikecualikan dari ketentuan jangka waktu PKWT pada umumnya.
Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh pada pekerjaan sebagaimana
dimaksud wajib membuat perjanjian kerja harian lepas secara tertulis dengan
para pekerja/buruh.
Perjanjian kerja harian lepas sebagaimana dimaksud dapat dibuat berupa
daftar pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud
sekurang-kurangnya memuat :

a. nama/alamat perusahaan atau pemberi kerja.


b. nama/alamat pekerja/buruh.
c. jenis pekerjaan yang dilakukan.
d. besarnya upah dan/atau imbalan lainnya.

Daftar pekerja/buruh sebagaimana dimaksud disampaikan kepada instansi


yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat selambat-
lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak mempekerjakan pekerja/buruh.

JIka Buruh bekerja pada hari minggu atau hari hari besar yang ditetapkan
Pemerintah, maka itu dikategorikan sebagai Lembur dengan perhitungan Upah
Lembur. Cara Perhitungan Upah lembur adalah kini diatur dalam Keputusan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor
KEP.102/MEN/VI/2004 dengan Ketentuan sebagai berikut :

1. Pada hari Kerja Biasa. Untuk satu Jam pertama dibayar 1 ,5 upah sejam dan
untuk tiap-tiap jam berikutnya dibayar 2 x upah sejam.
2. Pada Hri Istrahat, mingu dan libur resmi. Untuk batas 7 jam kerja pada hari
minggu atau (senin-Jumat) dan 5 Jam kerja pada hari kerja pendek (sabtu)
dibayar 2 x upah sejam dan untuk satu jam berikutnya dibayar 3 x upah
sejam sedangkan untuk tiap-tiap jam beikutnya dibayar 4 x upah sejam.

Pencatatan PKWT :

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
PKWT wajib dicatatkan oleh pengusaha
kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan
kabupaten/kota setempat selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak
penandatanganan.
Untuk perjanjian kerja harian lepas maka yang dicatatkan adalah daftar
pekerja/buruh.

Pembatasan waktu maksimal bagi masa kerja bagi Pekerja Kontrak berdasarkan UU
No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 59 ayat (4) yang menyatakan
: "Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat
diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk
jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun". Dan Pasal 59 ayat (6) yang menyatakan
: "Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah melebihi masa
tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu yang lama,
pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling
lama 2 (dua) tahun".

Jadi, Pekerja Kontrak dapat dikontrak maksimal selama 2 (dua) tahun dan dapat
diperpanjang 1 (satu) kali untuk selama maksimal 1 (satu) tahun.

Namun apabila Pengusaha merasa cocok dengan kinerja Pekerja Kontrak, dapat
dilakukan pembaruan PKWT dengan ketentuan hanya boleh dilakukan sekali untuk
waktu maksimal 2 (dua) tahun.

Akibat hukum bagi Pengusaha yang mempekerjakan Pekerja Kontrak namun tidak
seperti aturan diatas Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
Pasal 59 ayat (7) yang menyatakan : "Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan
ayat (6) maka demi hukum menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu".

Berdasar aturan hukum tersebut misalnya jika ada Pekerja yang dikontrak 5 (lima)
tahun maka Pekerja tersebut secara hukum, setelah 3 (tiga) tahun waktu ia bekerja
menjadi Pekerja tetap.
Masa Percobaan tidak dapat di terapkan pada Pekerja Kontrak/PKWT. Hal ini
berdasar Pasal 58 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, yang
menyatakan :

1. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat mensyaratkan adanya masa
percobaan kerja.
2. Dalam hal disyaratkan masa percobaan kerja dalam perjanjian kerja
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), masa percobaan kerja yang
disyaratkan batal demi hukum.

Jadi, Pekerja Kontrak yang diminta oleh Perusahaan untuk menjalani Masa
Percobaan secara hukum tidak benar.
Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani
No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
PKWT yang sudah ditandantangani tidak dapat diputuskan secara sepihak oleh
pengusaha. Jika salah satu pihak melakukan pemutusan PKWT secara sepihak maka
sesuai dengan Pasal 62 UU No. 13 Tahun 2003 menetapkan bahwa Apabila Salah
satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan
dalam PKWT, atau akhirnya hubungan kerja bukan karena ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 61 ayat (1), pihak yang mengakhiri hubungan keja wajib membayar ganti-rugi
kepada pihak lainnya sebesar upah buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu
perjanjian kerja".

Semetara itu, Pasal 61 Ayat (1) UU No. 13 /2003 mengatur Perjanjian Kerja Berakhir
apabila :

Pekerja Meninggal Dunia;


Berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja;
Adanya putusan pengadilan dan/atau putusan atau penetapan lembaga
penyelesaian Perselisihan hubungan industrial yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap; atau
Adanya keadaan atau kejadian tertentu yang dicantumkan dalam perjanjian
kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama yang dapat
menyebabkan berkahirnya hubungan kerja.

Dari uraian diatas sangat jelas, bahwa PKWT tidak dapat diadakan untuk pekerjaan
yang bersifat menetap yaitu pekerjaan yang sifatnya terus-menerus, tidak terputus-
putus, tidak dibatasi waktu dan merupakan bagian dari suatu proses produksi
dalam satu perusahaan atau pekerjaan yang bukan musiman. Apabila pekerjaan itu
tidak terus-menerus, terputus-putus, dibatasi waktu dan bukan merupakan bagian
dari suatu proses produksi, tergantung cuaca atau pekerjaan tersebut merupaka
pekerjaan musiman \yang tidak termasuk pekerjaan tetap. Sehingga dapat dijadikan
objek perjanjian kerja waktu tertentu.

II. Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu

Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu yang selanjutnya disebut PKWTT adalah
perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan
hubungan kerja yang bersifat tetap.

Dalam Pasal 15 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik


Indonesia Nomor KEP.100/MEN/VI/2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) :

1. PKWT yang tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin berubah
menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja.

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
2. Dalam hal PKWT dibuat tidak memenuhi
ketentuan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), atau Pasal 5 ayat (2),
maka PKWT berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja.
3. Dalam hal PKWT dilakukan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan
produk baru menyimpang dari ketentuan Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3), maka
PKWT berubah menjadi PKWTT sejak dilakukan penyimpangan.

Dalam hal pembaharuan PKWT tidak melalui masa tenggang waktu 30 (tiga
puluh) hari setelah berakhirnya perpanjangan PKWT dan tidak diperjanjikan
lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, maka PKWT berubah menjadi
PKWTT sejak tidak terpenuhinya syarat PKWT tersebut.
Dalam hal pengusaha mengakhiri hubungan kerja terhadap pekerja/buruh
dengan hubungan kerja PKWT sebagaimana dimaksud di atas, maka hak-hak
pekerja/buruh dan prosedur penyelesaian dilakukan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan bagi PKWTT.
PKWTT hanya mempunyai masa kerja Tidak Boleh lebih 3 Bulan
PKWTT tidak dapat diperbaharui atau diperpanjang

III. Perjanjian Magang

Dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, dikenal berbagai macam


bentuk pemagangan (magang) yakni pemagangan dalam rangka pelatihan kerja,
pemagangan untuk tujuan akademis, dan magang untuk pemenuhan kurikulum
atau persyaratan suatu profesi tertentu. Pemagangan untuk tujuan akademis,
pemenuhan kurikulum atau persyaratan suatu profesi tertentu, contohnya adalah :

Ketentuan pendidikan dan pelatihan praktek kedokteran (koas/magang)


dalam rangka uji kompetensi dokter Indonesia berdasarkan Pasal 28 ayat (1)
UU Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran;
Pemagangan untuk memenuhi persyaratan menjadi seorang advokat yang
dilakukan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun (vide Pasal 3 ayat [1] huruf g
UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat Jo Pasal 6 Peraturan Perhimpunan
Advokat Indonesia No. 1 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Magang Untuk
calon Advokat);
Persyaratan magang bagi calon Notaris dalam waktu 12 (dua belas) bulan
berturut-turut (vide Pasal 3 huruf f UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris jo Pasal 2 ayat [1] huruf I Peraturan Menteri Hukum dan HAM No.
M.01-HT.03.01 Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan,
Perpindahan dan Pemberhentian Notaris).

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
Jadi, pemagangan dalam UU 13 tahun 2003 tntang
Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk pelatihan kerja dan peningkatan kompetensi
kerja, bukan untuk tujuan untuk Bekerja secara full working akademis, dan Goalnya
adalah suatu pemenuhan kurikulum/persyaratan suatu profesi tertentu.

Pemagangan adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara
terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara di bawah
bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja/buruh yang lebih
berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam
rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu ( kententuan Pasal 1 ayat (11)
UU NO 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan junto Pasal 1ayat (1) Peraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia
No:PER.22/MEN/IX/2009 Tentang Penyelenggaraan Pemagangan Di Dalam
Negeri.

Salah satu ciri utama pemagangan adalah bahwa para peserta terlibat langsung
dalam proses produksi (barang atau jasa), sehingga dalam penyelenggaraan
pemagangan mutlak adanya perusahaan. Pemagangan dilaksankan berdasarkan
perjanjian pemagangan bukan Perjanjian Kerja, dan tidak sesuai dengan Jam kerja
seprti krywan perusahaan.

Perjanjian pemagangan adalah perjanjian antara peserta pemagangan dengan


penyelenggara pemagangan yang dibuat secara tertulis yang memuat hak dan
kewajiban serta jangka waktu pemagangan dan telah dperbaharui dari
PER.22/MEN/IX/2009 Tentang Penyelenggaraan Pemagangan Di Dalam Negeri ke
Peraturan Menteri Tenaga kerja RI No: 36 tahun 2016.

Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh,


meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin,
sikap,dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan
jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan (Pasal 1 (9) UU No 13/2003).
Sebagai upaya memaksimalkan pelatihan kerja, perusahaan yang wajib
meningkatkan kompetensi pekerja/buruh melalui pelatihan kerja adalah
perusahaan yang mempekerjakan seratus orang atau lebih, dan pelatihan
sebagaimana dimaksud harus sekurang-kurangnya 5 % dari jumlah pekerja/buruh
diperusahaan tersebut setiap tahun ( Pasal 2 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No:
KEP.261/MEN/XI/2004.

Selanjutnya perusahan dan atau lembaga yang menyelenggarakan pelatihan kerja


wajib memberikan surat tamat pelatihan kerja bagi peserta yang dinyatakan lulus
(Pasal 7 ayat1) dan perusahaan melaporkan pelaksanaan kegiatan pelatihan kerja

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
secara piodik sesuai dengan Undang-undang No 7
tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan.
Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI pemagangan
dalam negeri pada 2010 mencapai 10.000 orang sementara luar negeri 2.250 orang.
peserta pemagangan mulai dari 1993 hingga 2010 di negeri Sakura itu telah
mencapai 41.057 orang. Sedangkan jumlah pemagangan dalam negeri dari 2007-
2010 mencapai 27.740 orang.
Sementara untuk rencana pemagangan dalam negeri pada 2011 ini mencapai 10.000
orang. Upaya pemerintah tersebut dalam rangka meningkatkan kompetensi kerja.
Bahwa magang dimaksudkan untuk melatih calon tenaga kerja agar memiliki
keahlian dan ketrampilan yang matang sehingga mudah terserap di dunia kerja.
Kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek
pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang
ditetapkan.(pasa1 (10) Peraturan Menteri tenaga kerja NO: 21/MEN/X/2007.

Ketentuan-ketentuan mengenai perjanjian magang telah ditentukan secara lengkap


berdasarkan Permen No 36 tahun 2016:
* Pasal 1 disebutkan Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud Adalah:
1. Pemagangan adalah bagian dari sistem pelatihan keija yang diselenggarakan
secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara
langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekeija yang
lebih berpengalaman dalam proses produksi barang dan/atau jasa di
perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.
2. Penyelenggara Pemagangan adalah perusahaan yang memenuhi persyaratan
untuk menyelenggarakan pemagangan

Perusahaan wajib memberikan perjanjian kerja magang. Program magang


dilaksanakan atas dasar perjanjian tertulis yang telah disepakati bersama antara
peserta magang dengan perusahaan. Perjanjian magang tersebut harus diketahui
dan disahkan oleh dinas kabupaten/kota setempat.

Pemagangan hanya dapat dilakukan dan diselenggarakan oleh Perusahaan yang


memiliki Unit Pelatihan. Apabila Dalam hal lain perusahaan tidak memiliki unit
pelatihan, maka Perusahaan dapat melakukan kerjasama dengan LPK yang
terakreditasi dan mempunyai skema program yang sama.

Untuk kepesertaan pemagangan Perusahaan hanya dapat menerima peserta


pemagangan paling banyak 30% (tiga puluh persen} dari jumlah karyawan.

Peserta pemagangan di dalam negeri yaitu pencari kerja. Dimana Peserta


pemagangan dimaksud pada permenaker no 36 tahun 2016 harus memenuhi
persyaratan:
a. usia paling rendah 17 (tujuh belas) tahun;
Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani
No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
b. sehat jasmani dan rohani; dan
c. lulus seleksi.
(Peserta pemagangan yang berusia 17 (tujuh belas) tahun sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a harus melampirkan surat persetujuan dari orang tua atau
wali).

Bagi perusahaan / Lpk yang akan menyelenggarakan Pemagangan harus memiliki


program pemagangan dan tujuan jelas, harus mempunyai sarana dan prasarana
serta Pembimbing Pemagangan.
Adapun Program pemagangan sebagaimana dimaksud adalah mempunyai:
a. nama program pemagangan;
b. harus mempunyai tujuan program pemagangan;
c. kompetensi yang akan ditempuh;
d. perkiraan waktu pemagangan;
e. persyaratan peserta pemagangan;
f. persyaratan Pembimbing Pemagangan; dan
g. kurikulum dan silabus sesuai SKNI Standar Kompetensi Kerja Khusus; dan/atau
Standar Kompetensi Kerja Internasional.

Program pemagangan sebagaimana akan dilaksakan oleh pihak penyelanggara


maka harus meliputi:
a. pemberian teori dan praktik di Unit Pelatihan
b. praktik kerja di unit produksi perusahaan. Pemberian teori dan praktik
sebagaimana dimaksud dilaksanakan paling banyak 25% (dua puluh lima persen)
dari komposisi program pemagangan. Pemagangan itu sendiri mempunyai waktu
pelaksanaan paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen) dari komposisi program
pemagangan.
Sedangkan Jangka waktu Perjanjian Pemagangan Maksimal dibatasi paling lama 1
(satu) tahun sejak ditandatangani Perjanjian Pemagangan oleh kedua belah pihak
dan tidak dapat di perpanjang atau diperbaharui.

Dalam hal ini penyelanggara Pemagangan harus mempunyai Sarana dan prasarana
sebagaimana dimaksud dalam persayaratan Pasal 5 Permen no 36 tahun 2016 yaitu
harus memiliki:
a. ruang teori;
b. ruang simulasi/praktik;
c. kelengkapan alat keselamatan dan kesehatan kerja; dan
d. buku kegiatan (logbook) bagi peserta pemagangan

Pembimbing Pemagangan dalam perusahaan atau lembaga wajib memenuhi


persyaratan sebagai berikut:
a. karyawan tetap;
b. sehat jasmani dan rohani;
Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani
No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
c. memiliki kompetensi teknis dalam jabatan yang
sesuai dengan program pemagangan;
d. memiliki kompetensi metodologi pelatihan;
e. surat penunjukan pembimbing dari manajer personalia atau diatasnya; dan
f. memahami regulasi pemagangan.

Perusahaan atau lembaga Penyelenggara dalam hal ini melaksanakan proses


Pemagangan dilarang mengikutsertakan peserta pemagangan yang telah mengikuti
pemagangan pada program/jabatan/kualifikasi yang sama.

Proses Pemagangan dilaksanakan atas dasar Perjanjian Pemagangan secara tertulis


antara peserta pemagangan dengan Perusahaan.
Perjanjian Pemagangan wajib memuat:
a. hak dan kewajiban peserta pemagangan;
b. hak dan kewajiban Penyelenggara Pemagangan;
c. program pemagangan; dan
d. Untuk besaran uang saku (khusus: rata2 daerah jawa barat dsktr nya 80% dari
Umsk / UMK) yang telah di tetapkan oleh Gubernur atau Bupati.
e. Peserta pemagangan wajib di daftarkan ke Jaminan social tenaga kerja atau BPJS
dengan ini menjadi pertanggungan bagi badan penyelenggara.

Produk akhir dari pemagangan dalam rangka pelatihan kerja adalah sertifikasi
kompetensi kerja. Hal ini diakui dalam Pasal 23 UU Ketenagakerjaan: Tenaga kerja
yang telah mengikuti program pemagangan berhak atas pengakuan kualifikasi
kompetensi kerja dari perusahaan atau lembaga sertifikasi.
Sedangkan, produk dari pemagangan dalam rangka persyaratan akademis atau
pemenuhan kurikulum/persyaratan suatu profesi tertentu, adalah sertifikat magang
untuk persyaratan minimal (minimum requirement) suatu jabatan atau profesi.
Realitas kondisi kerja dengan hak-hak legalnya yang umumnya belum terpenuhi,
jika selama ini kita lebih terfokus pada pekerja tetap/PKWTT, sayangnya kita kerap
alpa juga memperhatikan hak-hak pekerja Pemagangan didalam perusahaan kita.
Mantan Menteri Tenaga Kerja Dr.Ir. Erman suparno, MSI.,MBA menyatkan dalam
bukunya National Manpower Strategy (strategi ketenagakerjaan Nasional ) : Pekerja
magang yang sebagaian mengisi tanggung jawab dalam mengerjakan berbagai tugas
diperusahaan layaknya pekerja permanen, umunya tidak memperoleh upah.

Demikian Kulwa dari saya semoga bermanfaat dan jaga kebersamaan sesame rekan2
HR professional Nasional

Pacu Terus Semangat Mu


K.S May 2016

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat
Dasar dan payung Hukum :

1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan,


2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor
PER.22/MEN/IX/2009
3. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia
Nomor : KEP.100/MEN/VI/2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian
Kerja Waktu Tertentu,
4. Putusan Mahkamah Agung No 131K/PDT.SUS/2007 dalam Farianto
&Himpunan Putusan Mahkamah Agung dalam Perkara PHI tentang
Pemutusan Hubungan Kerja disertai Ulasan Hukum. Jakarta,
PT.RajaGrafindo persada, 2009,
5. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerj,
6. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran,
7. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat
8. Permenaker No 36 Tahun 2016
9. Peraturan Perhimpunan Advokat Indonesia Nomor 1 Tahun 2006 Tentang
Pelaksanaan Magang Untuk Calon Advokat,
10. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
11. Peraturan Menteri Hukum Dan HAM No. M.01-HT.03.01 Tahun 2006
Tentang Syarat Dan Tata Cara Pengangkatan, Perpindahan dan
Pemberhentian Notaris).

Kav. H. Darmansyah, Jl. Pringgondani


No. 12A Kelurahan Margahayu Kecamatan
Bekasi Timur- Bekasi Jawa Barat
Kota Bekasi 17113 Jawa Barat

Anda mungkin juga menyukai