Anda di halaman 1dari 22

Sri Hermawati D.

A, dkk

Seni Teater 1
SENI TEATER

A.Sejarah Teater

Kata tater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti gerak.
Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik
para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu
memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton
dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan.

Teater sebagai tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis
pengungkapan bahwa teater sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini
didasarkan temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang
hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk
memohon kepada dewa-dewa.

Lahirnya adalah bermula dari upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka
agama, lambat laun upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa
nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan
lantang, selanjutnya upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan.

Sebenarnya istilah teater merujuk pada gedung pertunjukan, sedangkan istilah


drama merujuk pada pertunjukannya, namun kini kecenderungan orang untuk
menyebut pertunjukan drama dengan istilah teater.

Mengapresiasikan Karya Seni Teater


Kegiatan berteater dalam kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia bukan
merupakan sesuatu yang asing bahkan sudah menjadi bagian yang tidak
terpisahkan, kegiatan teater dapat kita lihat dalam peristiwa-peristiwa Ritual
keagamaan, tingkat-tingkat hidup, siklus hidup (kelahiran, pertumbuhan dan
kematian) juga hiburan. Setiap daerah mempunyai keunikan dan kekhasan
dalam tata cara penyampaiannya. Untuk dapat mengapresiasi dengan baik
mengenai seni teater terutama teater yang ada di Indonesia sebelumnya kita
harus memahami apa seni teater itu ? bagaimana ciri khas teater yang
berkembang di wilayah negara kita.

B. Pengertian Teater
• arti luas teater adalah segala tontonon yang dipertunjukan didepan orang
banyak, misalnya wayang golek, lenong, akrobat, debus, sulap, reog,
band dan sebagainya.

Seni Teater 2
• arti sempit adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan
diatas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media :
percakapan,gerak dan laku dengan atau tanpa dekor, didasarkan pada
naskah tertulis denga diiringi musik, nyanyian dan tarian.

Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar
menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang
diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur
gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang
kehidupan manusia.

Unsur-unsur teater menurut urutannya :

• Tubuh manusia sebagai unsur utama (Pemeran/ pelaku/ pemain/actor)


• Gerak sebagai unsur penunjang (gerak tubuh,gerak suara,gerak bunyi dan
gerak rupa)
• Suara sebagai unsur penunjang (kata, dialog, ucapan pemeran)
• Bunyi sebagai efek Penunjang (bunyi benda, efek dan musik)
• Rupa sebagai unsur penunjang (cahaya, dekorasi, rias dan kostum)
• Lakon sebagai unsur penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi)

Teater sebagai hasil karya (seni) merupakan satu kesatuan yang utuh antara
manusia sebagai unsur utamanya dengan unsur –unsur penunjang dan
penjalinnya. Dan dapat dikatakan bahwa teater merupakan perpaduan segala
macam pernyataan seni.

Sumber :Dok.Pribadi ( Foto istimewa)

Seni Teater 3
Gambar 4.1 Pertunjukan Teater sanggar KITA Bandung, Judul : Orang Baru,
Karya : Saini KM,
Sutradara : Yoyo C Durachman,
Merupakan salah satu pertunjukan tater yang menggunakan
semua unsur teater misalnya tubuh, gerak, rupa, suara, bunyi/
musik dan cerita atau lakon

C. Bentuk Teater Indonesia berdasarkan pendukungnya :

1. Teater rakyat yaitu teater yang didukung oleh masyarakat kalangan


pedesaan, bentuk teater ini punya karakter bebas tidak terikat oleh kaidah-
kaidah pertunjukan yang kaku, sifat nya spontan,improvisasi.

Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dll.


Sumber : Video Teater PSN (foto Istimewa)
Gambar 4.2 Pertunjukan teater rakyat tradisional Ludruk yang hidup dan
berkembang di daerah Jawa timur

2. Teater Keraton yaitu Teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton
dan kaum bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan
terbatas dengan tingkat artistik sangat tinggi,cerita berkisar pada kehidupan
kaum bangsawan yang dekat dengan dewadewa

Seni Teater 4
Contoh : teater Wayang
Sumber : Video Teater PSN
(foto Istimewa)

Gambar 4.3 Pertunjukan


Wayang Golek, yang
merupakan salah satu
kesenian masyarakat Jawa Barat, yang merupakan bentuk teater yang
berasal dari keraton

3. Teater Urban atau kota-kota. Teater ini Masih membawa idiom bentuk rakyat
dan keraton . teater jenis ini lahir dari kebutuhan yang timbul dengan
tumbuhnya kelompok-kelompok baru dalam masyarakat dan sebagai produk
dari kebutuhan baru , sebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di
Indonesia.

Sumber : Dok. Pribadi (foto Istimewa)

Gambar : 4.4
Pertunjukan komedi antar pulau dengan lakon ”cinta robot” ini merupakan
salah satu pertunjukan teater masyarakat urban dimana pertunjukannya
menampilkan permasalahan masyarakat urban dengan budaya yang
heterogen(beragam) sesuai dengan asal masyarakat pendukungnya.

d. Teater kontemporer,yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan


sebagai tipe melainkan sebagai individu . Dalam dirinya terkandung potensi

Seni Teater 5
yang besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang tanpa batas. Pendukung
teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang menggeluti teater secara
serius mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan pencarian,
eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia
masa kini.

Sumber : Dok. Pribadi ( Foto Istimewa)

Gambar 4.5
Pertunjukan Teater Kontemporer yang menggunakan bahasa ungkap
ekspresi gerak dengan judul ”Pramuwisma stories”.

Sebagian besar daerah di Indonesia mempunyai kegiatan berteater yang


tumbuh dan berkembang secara turun menurun. Kegiatan ini masih bertahan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat hubungannya dengan budaya
agraris (bertani) yang tidak lepas dari unsur-unsur ritual kesuburan, siklus
kehidupan maupun hiburan. Misalnya : untuk memulai menanam padi harus
diadakan upacara khusus untuk meminta bantuan leluhur agar padi yang
ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai gangguan. Juga ketika panen,
sebagai ucapan terima kasih maka dilaksanakan upacara panen. Juga
peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (kelahiran, khitanan, naik pangkat/
status dan kematian dll) selalu ditandai dengan peristiwa-peristiwa teater

Seni Teater 6
dengan penampilan berupa tarian,nyanyian maupun cerita, dengan acara, tata
cara yang unik dan menarik.
Teater rakyat adalah teater yang hidup dan berkembang dikalangan masyarat
untuk memenuhi kebutuhan ritual dan hiburan rakyat.

D. Fungsi – Fungsi Teater Rakyat

Fungsi – Fungsi Teater Rakyat :

1. Pemanggil kekuatan gaib


2. Menjemput roh-roh pelindung untuk hadir ditempat terselenggaranya
pertunjukan
3. Memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat.
4. Peringatan pada nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan
maupun kepahlawanannya.
5. Pelengkap Upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup
seseorang.
6. Pelengkap upacara untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu.
7. Sebagai media hiburan.

Ciri-ciri umum teater rakyat diantaranya :

1. Cerita tanpa naskah dan digarap berdasarkan peristiwa sejarah, dongeng,


mitologi atau kehidupan sehari-hari.
2. Penyajian dengan dialog, tarian dan nyanyian
3. Unsur lawakan selalu muncul
4. Nilai dan laku dramatik dilakukan secara spontan dan dalam satu adegan
terdapat dua unsur emosi sekaligus yaitu tertawa dan menangis.
5. Pertunjukan mempergunakan tetabuhan atau musik tradisional .
6. Penonton mengikuti pertunjukan secara santai dan akrab bahkan terlibat
dalam pertunjukan dengan berdialog langsung dengan pemain.
7. Mempergunakan bahasa daerah.
8. Tempat Pertunjukan terbuka dalam bentuk arena (dikelilingi penonton)

Seni Teater 7
Gambar 4.6
Pertunjukan teater arja di Bali, merupakan salah satu contoh teater rakyat yang
masih hidup dikalangan masyarakat Bali. Teater berfungsi sebagai salah satu
upacara keagamaan

Sumber : Video Teater PSN (foto : Istimewa)

E. Seni Peran

Sumber : Dok. Pribadi (foto :Hermana HMT)

Gambar 4.7 Pertunjukan “Kekawen Kawin” karya Nikolai Gogol, STB, Sutradara
Yusep Muldiyana. Dalam pertunjukan ini kekuatan pemeranan dari masing
masing aktor sangat ditonjolkan untuk menampilkan daya tarik pertunjukan
secara keseluruhan.

Kekuatan utama yang menjadi daya tarik sebuah pertunjukan teater adalah
akting atau tingkah laku para pemain dalam memerankan tokoh yang sesuai
dengan tuntutan karakter dalam naskah. Kekuatan inilah yang akan menjadi
magnit , bagus , menarik ,indah, punya kekuatan atau tidak berkarakter, tidak
menarik bahkan membosankan akan menentukan penonton bertahan tidaknya
ditempat duduknya. Virtuositas adalah kekuatan atau daya tarik seniman yang
Seni Teater 8
dilahirkan dari keterampilan,kecerdasan serta pendalaman sepenuh hati dan
jiwa pada karya yang ditampilkan, sehingga menimbulkan rasa empati dan
simpati bagi yang melihatnya.

Untuk tampil bagus dan menarik dipanggung teater,seorang aktor harus


menguasai berbagai tehnik dan keterampilan seni peran. Seperti dikatakan oleh
stanislavsky, seorang aktor harus menguasai olah tubuh, vokal, dan harus
mempunyai daya konsentrasi, imajinasi, fantasi, observasi serta mempunyai
kecerdasan, wawasan, pengetahuan yang luas tentang berbagai hal dalam
kehidupannya. Sehingga ketika sorang aktor membawakan peran tokoh dalam
sebuah pementasan akan tampil dengan kedalaman karakter yang indah,
menarik dan penuh penghayatan yang sesuai dengan tuntutan naskah
pertunjukan.

Pemahaman mengenai karakter ini adalah penggambaran sosok tokoh peran


dalam tiga dimensi yaitu keadaan fisik, psikis dan sosial.

Keadaan fisik meliputi ; umur, jenis kelamin,cirri-ciri tubuh, cacat jasmaniah,cirri


khas yang menonjol,suku bangsa, raut muka, kesukaan, tinggi/pendek, kurus
gemuk, suka senyum/ cemberut dan sebagainya.
Keadaan psikis meliputi ; watak, kegemaran, mentalitas,standar moral,
temperamen,ambisi, kompleks psikologis yang dialami, keadaan emosi dan
sebagainya.Keadaan sosiologis meliputi ; jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras,
agama, ideologi dan sebagainya, keadaan sosiologis seseorang akan
berpengaruh terhadap prilaku seseorang, profesi tertentu akan menuntut tingkah
laku tertentu pula. Pencapaian seorang aktor dalam mewujudkan sosok peran
sesuai karakter ini juga ditentukan oleh pengalaman dan kepekaannya dalam
menghayati kehidupan serta pengalaman tampil dalam berbagai pementasan.

WS. Rendra menyebutkan bahwa dalam pementasan ada empat sumber gaya
yaitu aktor atau bintang, sutradara, lingkungan dan penulis. Aktor atau bintang
menjadi sumber gaya artinya kesuksesan pementasan ditentukan oleh pemain-
pemain kuat yang mengandalkan kepopuleran, kemasyuran , ketampanan atau
kecantikan atau daya tarik sensualnya. Pemain bintang akan menjadi pujaan
penonton dan akan menyebabkan pementasan berhasil . jika yang dijadikan
sumber gaya adalah actor dan bukan bintang maka kecakapan berperan
diandalkan untuk memikat penonton . aktor harus menghayati setiap situasi
yang diperankan dan mampu secara sempurna menyelami jiwa tokoh yang
dibawakan serta menghidupkan jiwa tokoh sebagai jiwa sendiri.

Seni Teater 9
Sumber : Dok.Pribadi (Foto Bedeng Siregar)

Gambar 4.8
Pertunjukan Teater “Pelajaran” Karya Ionesco
Sutradara : Deden Rengga
Dalam pertunjukan ini semua pemain harus menguasai tehnik akting yang
memadai untuk mewujudkan peran yang sesuai dengan tuntutan naskah.

F. Akting

Ajaran akting menurut Boleslavsky dalam buku Enam Pelajaran Pertama

Bagi Calon Aktor :


1. Pelajaran pertama : Konsentrasi
Pemusatan pikiran merupakan latihan yang penting dalam akting, konsentrasi
bertujuan aagar actor dapat mengubah diri menjadi orang lain , yaitu peran
yang dibawakan . juga berarti aktor mengalami dunia yang lain dengan
memusatkan segenap cita, rasa dan karsanya pada dunia lain itu. Jadi tidak
boleh perhatiannya goyah pada dirinya sendiri dan pada penonton.
Meskipun lakon berjalan, konsentrasi aktor tidak boleh mengendor, juga jika
saat itu tidak kebagian dialog atau gerakan .kesiapan batin untuk mengikuti
jalannya cerita sampai berakhir, memerlukan konsentrasi. Latihan konsentrasi
dapat dilakukan melalui fisik (seperti yoga), latihan intelek atau

Seni Teater 10
kebudayaan(misalnya menghayati musik, puisi,seni lukis) dan latihan sukma
(melatihan kepekaan sukma menanggapi segala macam situasi).

Sumber : Dok Pribadi (foto : Hermana HMT)

Gambar 4.9
Adegan Pertunjukan “ Kekawen Kawin” Karya Nikolai Gogol, STB,
Sutradara Yusef Muldiyana.
Konsentrasi merupakan salah satu latihan penting dalam mewujudkan
sebuah peran contoh pad adegan diatas seorang pemain sedang
berkonsentrasi pada peran, dialog dirinya dan dialog lawan mainnya.

2. Pelajaran kedua : Ingatan Emosi.


The transfer of emotion merupakan cara efektif untuk menghayati suasana
emosi peran secara hidup wajar dan nyata. Jika pelaku harus bersedih ,
dengan suatu kadar kesedihan tertentu dan menghadirkan emosi yang
serupa, maka kadar kesedihan itu takatannya tidak akan berlebihan, sehingga
tidak terjadi over acting. Banyak peristiwa yang menggoncangkan emosi
secara keras dan hanya aktor yang pernah mengalami goncangan serupa
dapat menampilkan emosi serupa kepada penonton dengan takaran yang
tidak berlebihan.

3. Pelajaran ketiga : Laku Dramatik


Tugas utama aktor menghidupkan atau memperagakan karakter tokoh yang
diperankannya, dan menghidupkan aspek dramatisasi melalui ekspresi atau

Seni Teater 11
mimik wajah melalui dialog, dan pemanfaatan seting pendukung (misal
membanting).

Aktor harus selalu mengingat apa tema pokok dari lakon itu dan dari
perannya, untuk menuju garis dan titik sasaran yang tepat dengan begitu ia
dapat melatih berlaku dramatik . Artinya bertingkah laku dan berbicara bukan
sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai pemeran, untuk itu memang diperlukan
penghayatan terhadap tokoh itu secara mendalam sehingga dapat diadakan
adaptasi

4. Pelajaran keempat : Pembangunan watak


Setelah menyadari perannya dan titik sasaran untuk peranannya itu aktor
harus membangun wataknya sehingga sesuai dengan tuntutan lakon.
Pembangunan watak itu didahului dengan menelaah struktur fisik, kemudian
mengidentifikasiannya dan menghidupkan watak itu seperti halnya wataknya
sendiri. Dalam proses terakhir itu diri aktor telah luluh dalam watak peran
yang dibawakannya, atau sebaliknya watak peran itu telah merasuk kedalam
diri sang aktor.

Sumber : Dok Pribadi (foto : Bedeng Siregar)

Gambar 4.10
Adegan Pertunjukan “Lawan Catur “ Karya Kenneth Arthur,
Sutradara : Deden Rengga.
Pemain yang baik adalah pemain yang kalu sudah diatas panggung tidak
tampak lagi pribadinya, dia sudah berubah menjadi sosok yang lain. Dengan
pembangunan watak hal ini dapat terwujud

Seni Teater 12
5. Pelajaran Kelima : Observasi
Jika ingatan emosi, laku dramatik dan pembangunan watak sulit dilakukan
secara personal, maka perlu diadakan observasi untuk tokoh yang sama
dengan peran yang dibawakan. Untuk memerankan tokoh pengemis dengan
baik , perlu mengadakan observasi terhadap pengemis dengan ciri fisik, psikis
dan sosial yang sesuai .

6. Pelajaran Keenam : Irama


Semua kesenian membutuhkan irama, akting seorang aktor juga harus diatur
iramanya, agar titik sasaran dapat dicapai , agar alur dramatik dapat
mencapai puncak dan penyelesaian. Irama juga memberikan variasi adegan,
sehingga tidak membosankan. Irama permainan ditentukan oleh konflik yang
terjadi dalam setiap adegan.

7. Suara dan Cakapan


Suara dan cakapan adalah dua hal pokok yang harus digarap dengan nada
yang sesuai, karena keduanya sangat menentukan suksesnya pementasan.
Siswa perlu dilatih mengucapkan vocal a, I, u, e, o dengan mulut terbuka
penuh. Mungkin dalam percakapan sehari-hari ini tidak perlu; akan tetapi di
pentas, hal-hal yang sehari-hari perlu diproyeksikan karena suara diharapkan
dapat sampai pada penonton di deretan tempat duduk paling belakang.

Ada kalanya seorang pemain mampu mengucapkan kata dengan jelas atau
“las-lasan”, tetapi toh dialog yang diucapkannya tidak merangsang
pengertian. Jika ini terjadi, maka persoalannya pada apa yang lazim disebut
phrasering technique atau teknik mengucapkan dialog. Kalimat atau dialog
yang panjangharus dipenggal-penggal lebih dahulu, sesuai denga
satuansatuan pikiran yang dikandungnya.

Satu hal lagi yang masih berhubungan dengan latihan vokal ialah perlunya
dipahami adanya nada ucapan. Kata “gila” dapat berarti umpatan keras,
pujian, kekaguman, jika diucapkan dengan nada yang berbeda-beda. Ini
artinya nada ucapan tidak hanya berfungsi untuk menciptakan dinamika,
tetapi juga menciptakan makna.

Pada saat pemain mengucapkan dialog, kata-kata ternyata tidak diucapkan


datar, tetapi terkandung di dalamnya lagu kalimat. Lagu kalimat itu
menyarankan pertanyaan, perintah, kekaguman, kemarahan, kebencian,
kegembiraan, dan sebagainya. Di samping itu, lagu kalimat juga
menyarankan dialek tertentu, misalnya dialek Jawa seperti terdengar dari
lagu kalimat yang diucapkan pemeran dalam drama seri Losmen; dalam film
Naga Bonar terdengar lagu kalimat yang menyarankan dialek Batak.

Seni Teater 13
G. Gaya Akting

Pemahaman dan penafsiran tentang prinsip berteater, dalam proses


aktualisasinya oleh para seniman penggarap atau sutradara, terbagi dalam dua
pemahaman yang berbeda yaitu :

• Teatrikalisme adalah praktek berteater yang bertolak dari anggapan


bahwa teater adalah Teater. Suatu dunia dengan kaidah-kaidah tersendiri
yang berbeda dgn kaidah-kaidah kehidupan, teater tidak perlu sama
dengan kehidupan kehidupan distilasi (digayakan) dan di Distorsi
(dirusak), prinsip seperti ini dapat kita lihat dalam teater-teater tradisional.
atau teater- teater kontemporer.
Melahirkan gaya akting grand style ( akting di besar-besarkan ) dan
kKmikal yaitu gaya akting dengan mengekplorasi kelenturan tubuh
sehingga menampilkan tubuh-tubuh dengan gestikulasi yang unik dan
lucu

• Realisme adalah eater harus merupakan ilusi atau cermin kehidupan


nyata (Realitas). Teater Ilusionis, kehidupan ditiru setepat mungkin agar
ilusi tercapai. pemahaman ini berkembang dalam teater barat
(konvensional). Gaya aktingnya adalah gaya realis yaitu wajar mirip
dengan gaya kehidupan sehari-hari.

Untuk melatih tehnik keaktoran maka diperlukan naskah sebagai pijakan dalam
mewujudkan suatu peranan. Dibawah ini terdapat beberapa cuplikan naskah
dari beberapa penulis drama yang sudah terkenal, dengan berbagai gaya
penulisan naskah yang dapat kalian mainkan sebagai latihan pemeranan.

H. Beberapa istilah dalam teater

Dalam membicarakan drama banyak kita jumpai istilah yang erat hubungannya
dengan pementasan drama, antara lain sebagai berikut :

1. Babak
Babak merupakan bagian dari lakon drama. Satu lakon drama mungkin saja
terjadi dari satu, dua, atau tiga babak mungkin juga lebih. Dalam pementasan,
batas antara babak satu dan babak lain ditandai dengan turunnya layar, atau
lampu penerang panggung dimatikan sejenak. Bila lampu itu dinyalakan
kembali atau layar ditutup kembali, biasanya ada perubahan penataan
panggung yang menggambarkan setting yang berbeda. Baik setting tempat,
waktu, maupun suasana terjadinya suatu peristiwa.

Seni Teater 14
2. Adegan
Adegan adaalh bagian dari babak. Sebuah adegan hanya menggambarkan
satu suasana yang merupakan bagian dari rangkaian suasana-suasana
dalam babak. Setiap kali terjadi penggantian adegan tidak selalu diikuti
dengan penggantian setting.

3. Prolog
Prolog adalah kata pendahuluan dalam lakon drama. Prolog memainkan
peran yang besar dalam menyiapkan pikiran penonton agar dapat mengikuti
lakon(cerita) yang akan disajikan. Itulah sebabnya, prolog sering berisi lakon,
perkenalan tokoh-tokoh dan pemerannya, serta konflik-konflik yang akan
terjadi di panggung.

4. Epilog
Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri pementasan. Isinya, biasanya
berupa kesinpulan atau ajaran yang bisa diambil dari tontonan drama yang
baru disajikan.

5. Dialog
Dialog adalah percakapan para pemain. Dialog memainkan peran yang amat
penting karena menjadi pengarah lakon drama. Artinya, jalannya cerita drama
itu diketahui oleh penonton lewat dialog para pemainnya. Agar dialog itu tidak
hambar, pengucapannya harus disertai penjiwaan emosional. Selain itu,
pelafalannya harus jelas dan cukup keras sehingga dapat didengar semua
penonton. Seorang pemain yang berbisik, misalnya harus diupayakan agar
bisikannya tetap dapat didengarkan para penonton.

6. Monolog
Monolog adlah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri. Apa yang
diucapkan itu tidak ditujukan kepada orang lain. Isinya, mungkin ungkapan
rasa senang, rancana yang akan dilaksanakan, sikap terhadap suatu
kejadian, dan lain-lain.

7. Mimik
Mimik adalah ekspresi gerak-gerik wajah (air muka) untuk menunjukkan
emosi yang dialami pemain. Ekspresi wajah pemain yang sedang sedih tentu
saja berbeda dengan ketika sedang marah.

8. Gestur
Gestur adalah gerak-gerak besar, yaitu gerakan tangan kaki, kepala, dan
tubuh pada umumnya yang dilakukan pemain.

9. Bloking
adalah aturan berpindah tampat dari tempat yang satu ke tempat yang lain
agar penampilan pemain tidak menjemukan.

Seni Teater 15
10. Gait
Gait berbeda dengan bloking karena gait diartikan tanda-tanda khusus pada
cara berjalan dan cara bergerak pemain. Layar adalah kain penutup
panggung bagiandepan yang dapar dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan.
Tidak semua panggung dilengkapi layar

I. Unsur-unsur Lakon Teater

1. Tema cerita
Agar cerita menarik perlu dipilih topik, contoh tema masalah Keluarga
topiknya misal Pilih Kasih

2. Amanat
Sebuah sajian drama yang menarik dan bermutu adalah memiliki pesan moral
yang ingin disampaikan kepada penonton.

3. Plot
Lakon drama yang baik selalu mengandung konflik, plot adalah jalan cerita
drama. Plot drama berkembang secara bertahap, mulai dari konflik yang
sederhana hingga menjadi konflik yang kompleks sampai pada penyelesaian
konflik. Penyelesaian konflik ada yang happy ending, atau berakhir sedih atau
penonton disuguhkan cerita dengan menafsirkan sendiri akhir cerita.

Ada enam tahapan plot :

a. Eksposisi ; Tahap ini disebut tahap pergerakan tokoh


b. Konflik ;dalam tahap ini mulai ada kejadian
c. Komplikasi ; kejadian mulai menimbulkan konflik persoalan yang kait-
mengkait tetapi masih menimbulkan tanya tanya.
d. Krisis ;alam tahap ini berbagai konflik sampai pada puncaknya
e. Resolusi ; dalam tahap ini dilakukan penyelesaian konflik
f. Keputusan adalah akhir cerita

4. Karakter
Karakter atau perwatakan adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh
dalam drama. Ada tokoh berwatak sabar, ramah dan suka menolong,
sebaliknya bisa saja tokoh berwatak jahat ataupun bisa juga tokoh berdialek
suku tertentu.

5. Dialog
Jalan cerita lakon diwujudkan melalui dialog dan gerak yang dilakukan para
pemain. Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang
diperankan dan dapat menghidupkan plot lakon.

Seni Teater 16
6. Setting
Setting adalah tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu adegan. Karena
semua adegan dilaksanakan di panggung maka panggung harus bisa
menggambarkan setting apa yang dikehendaki. Panggung harus bisa
menggambarkan tempat adegan itu terjadi: di ruang tamu, di rumah sakit, di
tepi sungai, di kantin, atau di mana? Penataan panggung harus mengesankan
waktu: zaman dahulu, zaman sekarang, tengah hari, senja, dini hari, atau
kapan?

Demikian pula unsur panggung harus diupayakan bisa menggambarkan


suasana: gembira, berkabung, hiruk pikuk, sepi mencekam, atau suasana-
suasana lain. Semua itu diwujudkan dengan penataan panggung dan
peralatan yang ada.

Panggung dan peralatan biasanya amat terbatas. Sementara itu,


penggambaran setting sering berubah-ubah hampir setiap adegan.
Bagaimana caranya? Penata panggung yang mengatur semua itu. Karena itu,
penata panggung harus jeli dan pandai-pandai memanfaatkan dan mengatur
peralatan yang terbatas itu untuk sedapat-dapatnya menggambarkan tempat,
waktu, dan suasana seperti yang dikehendaki lakon drama.

7. Interpretasi
Apa yang dipertontonkan ceritanya harus logis, dengan kata lain lakin yang
dipentaskan harus terasa wajar. Bahkan harus diupayakan menyerupai
kehidupan yang sebenarnya.

J. Unsur-unsur Pementasan

a. Naskah
b. Pemain
c. Sutradara
d. Tata rias
e. Tata biarama
f. Tata panggung
g. Tata lampu
h. Tata Suara
i. Pentonton

a. Naskah
Naskah adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Dalam naskah tersebut
termuat nama-nama dan lakon tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan
para tokoh dan keadaan panggung yang diperlukan. Bahkan kadang-kadang

Seni Teater 17
juga dilengkapi penjelasan tentang tata busana, tata lampu dan tata suara
(musik pengiring)

b. Pemain
Pemain adalah orang yang memeragakan cerita, berapa jumlah pemain yang
disesuaikan dengan tokh yang dibutuhkan dalam cerita, setiap tokoh akan
diperankan seorang pemain

c. Sutradara
Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan, tugas sutradara sangat
banyak dan beban tanggung jawabnya cukup berat, sutradara memilih
naskah, menentukan pokok-pokok penafsiran naskah, pemilihan pemain,
melatih pemain dan mengkoordinasikan setiap bagian

d. Tata Rias
Fungsi tata rias adalah menggambarkan tokoh yang dituntut misalnya seorang
pemain memerankan tokoh kakek maka wajah dan rambutnya dibuat amat
tua.

e. Tata Busana
Penata rias dan penata b usana harus bekerjasama saling memahami, saling
menyesuaikan, penata ris dan penata busana harus mampu menafsirkan dan
memantaskan ris dan pakaian yang terdapat dalam naskah cerita misal tokoh
nenek melarat, maka pakaian yang dikenakan tidak menggunakan pakaian
yang bagus dan mahal, karena kesalahan dalam busana dapat juga
mengganggu jalannya cerita.

f. Tata Lampu
Pengaturan cahaya di panggung dibutuhkan untuk mendukung jalan cerita
yang menerangkan tempat dan waktu kejadian pada sebuah cerita, untuk
menggambarkan kejadian pada malam hari atau siang hari, menggambar
kejadian misal di tempat romantis.

g. Tata Suara
Musik dalam pertunjukan drama adalah untuk mendukung suasana,
misalpenggambaran kesedihan, ketakutan, kemarahan dan lain-lain misal
penggambaran cerita kesedihan seorang anak, kalau diiringi musik yang
sesuai, tentu kesedihan ini akan lebih terasa diiringi musik berirama lembut,
alat musik yang digunakan hanya seruling yang mendayu-dayu, ketika adegan
kemarahan diiringi musik berirama cepat dan keras, penata musik berirama
cepat lagu yang sudah ada ataupun menciptakan lagu sendiri, penata suara
harus memiliki kreativitas yang tinggi.

h. Penonton
Penonton termasuk unsur penting dalam pementasan. Bagaimanapun
sempurnanya persiapan, kalau tak ada penonton rasanya tak akan dimainkan.

Seni Teater 18
Jadi, segala unsur yang telah disebutkan sebelumnya pada akhirnya untuk
penonton.

Contoh Naskah untuk latihan pemeranan

SANGKURIANG

Karya UTUY TATANG SONTANI

BABAK IV- ADEGAN 1

Malam hari

LAKONPERTAMA

Di halaman rumah. Sayup-sayup sampai di kejauhan terdengar suara gemuruh


Dayang Sumbi keluar dan rumah dengan suluh ditangan

1.DAYANG SUMBI : Rasa-rasa dalam mimpi bahwa di malam ini sedang


diciptakan telaga
beserta perahunya, dimana aku akan berlayaran sebagai
istri dan anakku sendiri
Rasa-rasa dalam mimpi bahwa tadi aku dipinang anakku
dan nanti akan menjadi ibu dari cucuku sendiri
Ah, satu diantara dua : aku atau anakku, itulah yang
sebenarnya bermimpi di malam ini .Dan karena kini asal
tadi dan bakal nanti, maka siapa yang bermimpi malam
ini, itulah yang besok pagi kesiangan, itulah pemimpi
sepanjang jaman

BUJANG MUNCUL
2.DAYANG SUMBI : Bagaimana ? Apa yang nampak di mata ?

3. BUJANG : Bagai tenaga raksasa yang dicurahkan.


4.DAYANG SUMBI : Bagaimana ?

5. BUJANG : Bumi gemuruh pohon-pohon pada tumbang batu-batu


bergulingan membendung air, dilanda air
Dan siapa yang mengerjakan alam tidak kelihatan
Tapi yang tidak bisa dipungkiri lagi telaga luas akan
segera terbukti
6.DAYANG SUMBI : Dan perahu ?

Seni Teater 19
7. BUJANG : Itupun hampir selesai
8.DAYANG SUMBI : Kalau begitu, kita tidak boteh lalai .Mang Aida Lepa dan
kawan-kawannya, mesti segera diminta datang
9. BUJANG : Baik, Nyai, biar sekarang juga bibi bangunkan semua

BUJANG TURUN

10.DAYANGSUMBI : Riuh gemuruh dikejauhan, alamat telaga sedang


dibangun.
Riuh gemuruh di dalam dadaku, karena hati naik turun
Ah, hatiku ! hati manusia yang tahu tiada upaya, tapi juga
hati seoiang ibu
yang diancam bahaya
Sebagai manusia,
Ya. Dewata
Hatiku turun ke bawah telapak kaki-Mu, hidmat
menyembah kebesaran-Mu,
menyerah mengalah kepada kehendak-Mu yang benar
selalu
Tapi sebagai ibu,
ya, anakku !
Hatiku naik ke atas puncak citamu, keras menolak
keinginanmu,
bertindak berontak menentang kebenaranmu yang tiada
benar bagiku

BUJANG MUNCUL DIIRINGI ARDA LEPA DAN KAWAN-KAWAN


11. ARDA LEPA : Ada apa, Nyai ? kami dipanggil di malam sepi ?
12.DAYANG SUMBI : Mamang, malam ini bukan malam sepi. Malam ini malam
yang seram malam yang berat mengancam
Anakku Sang Kuriang mulai tadi siang menyatakan
pendapatnya yang tidak disangka-sangka
Dia tidak mau percaya bahwa ini bukan ibunya
13. ARDA LEPA : Tapi jika semua orang sependapat dengan Sang
Kunang, apa yang hendak kite katakan, kawan?
Kita semua tidak menyaksikan kapan Sang Kunang
dilahirkan, bukan?
14. BERSAMA : Biar buta I Biar mati! Tak pernah kita mengetahui.
15.DAYANG SUMBI : Memang, kalau semua orang sependapat dengan Sang
Kuriang, itu terserah kepada mereka Tapi bagiku aku
adalah ibunya.
Kalau aku bukan ibu Sang Kuriang aku tidak akan
menolak dia meminang.
Dan mamang sekarang tidak akan diminta datang
Apakah mamang setuju anak mengawini ibu ?
16. ARDA LEPA : Anak mengawini ibu ? Yey, itu tidak lucu !

Seni Teater 20
17. BERSAMA : Itu mesti disapu !
Lebih haram dan jinah !
Lebih hewan dari hewan !
18. ARDA LEPA : Kalau betul Nyai ibu Sang Kunang kalau betul Sang
Kuriang meminang
Sang Kunang mesti kami buang !
Kalau tidak, kami semua ikut berjinah
Kami menjadi hewan.
19.DAYANG SUMBI : Nantidulu dengar dulu!
Sebagai ibu yang kasih sayang terhadap anak, pinangan
anakku tidak terang- terangan ditolak,
Aku berjanji mau kawin dengan dia, asal besok pagi
tersesedia perahu dan telaga,
Ternyata sekarang perahu dan telaga sudah hampir siap
Berarti Sang Kuriang akan dapat memenuhi
permintaanku.
20. ARDA LEPA : Jadi sekarang Nyai ingin supaya tidak jadi kawin ?
supaya perahu dan telaga besok tidak terbukti ?
21 DAYANG SUMBI : Betul.
Karena itu ku menginginkan supaya kalian membakar
hutan,
biar apinya bersinar-sinar; menyerupai sinar fajar,
biar anakku Sang Kuriang melihat siang akan mendatang
!
biar maksudnya diurungkan, lantaran merasa kesiangan

22. ARDA LEPA : Ai, ai, Nyai ingin


Sang Kunang diajak bermain ? Itu lucu !
23. BERSAMA : Tapi apa mungkin ?
Sang Kuriang lain dari yang lain
24.DAYANG SUMBI : Sang Kuriang memang lain dari yang lain ,tapi Sang
Kuriang manusia
Dan kepada manusia aku tetap yakin ada Dewata dalam
dirinya
Dan selama ada Dewata di dalam manusia ,kewajiban
kita
bukan menundukan ,membinasakan , tapi menyalakan
api keDewataan yang bersemayam di tubuh lawan
Semoga api pembakar hutan menjadi api kedewataan
yang bersinar terang-benderang dalam tubuh Sang
Kunang !
25 ARDALEPA : Bagaimana kawan. kita sekarang membakar hutan ?
26. BERSAMA : Asal terang
ada anak meminang ibu
27. ARDA LEPA : Yang sudah terang semua manusia adalah satu
Orang lain masih kita juga.

Seni Teater 21
Karena itu, marilah kita ajak Sang Kuriang bermain
bersama kita dengan api di tangan kita
Inilah panggilan kita di dalam hidup bersama
28.BERSAMA : Semua orang adalah satu , orang lain masih kita juga
(SAMBILTERUS kewajiban kita, biar gigi tinggal dua, mengisi ini dunia
TURUN) dengan bermain bersama,
tanpa yang diharapkan, tanpa yang diidamkan, salam
damai bagi semu
SEMUA TURUN

Seni Teater 22