Anda di halaman 1dari 10

TUGAS FARMAKOTERAPI I

OLEH :
FELLY CAHYANA
NIM : 1501072
KELAS : SI VB

Dosen Pembimbing: Tiara tri agustini M.farm.,Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
2017
I. KASUS
Bapak M datang ke apotek anda untuk membeli obat gatal karena mengeluhkan rasa gatal hanya
dibeberapa bagian tubuhnya. Dari wawancara riwayat pengobatan diketahui beliau memang tidak
mempunyai alergi terhadap makanan, debu, cuaca, ataupun obat. Beliau didiagnosa terkena TBC
dan sekarang ini masih menjalani pengobatan pada fase lanjutan. Pasien juga menunjukkan adanya
warna kuning pada kulit dan sklera mata. Pasien ternyata dulu sempat terkena infeksi hepatitis A.

II. PEMBAHASAN
1. Subjective

Gatal-gatal di beberapa bagian tubuh

Kulit pasien berwarna kuning

Sklera mata pasien berwarna kuning

2. Objektif

- Pasien mengidap infeksi Hepatitis A satu bulan yang lalu

- Pasien menjalani pengobatan TBC fase lanjutan

- Obat yang digunakan dalam pengobatan fase lanjutan

Isoniazid

Rifampisin

Piridoksin

Hasil data lab

TES LABORATORIUM RENTANG NILAI

Bilirubin ( total ) 25 mmol/L

Bilirubin ( direct ) 6 mmol/L

AST / SGOT 40 U/L


ALT / SGPT 50 U/L

ALP 110 unit/L

GGT 70 UI/L

Albumin 60 g/L

PT 20 detik

Internasional Normalised Ratio 2,0


(INR)

3. Assessement

- Obat obat anti Tuberculosis dapat memicu terjadinya hepatitis

Rifampisin induksi enzim hati

Isoniazid inhibisi enzim yang ada di hati

- Isoniazid dapat menyebabkan defisiensi piridoksin

- Ikterus yang terjadi karena kadar bilirubin dalam tubuh meningkat

- Efek samping Rifampisin gatal gatal.

Bapak M merupakan pasien penderita TBC yang mengalami fase lanjutan dan mengalami
gangguan fungsi hati. Hal ini bisa dilihat dari data laboratorium yang menunjukkan adanya
gangguan fungsi hati dengan acuan kadar normal sebagai berikut :

- SGOT :0-35 U/L

- SGPT : 0-35 U/L

- GGT : 5-45 UI/L

- Billirubin direct : 1,7 5,1 mmol/L


Dari acuan tersebut maka bapak m mengalami gangguan fungsi hati sedangkan bapak m sendiri
menderita penyakit TBC fase lanjutan. Untuk gatal-gatal dan warna kuning disini dapat
dimungkinkan karena peningkatan bilirubin dan efek dari gangguan fungsi hati

4. Planning

Pasien datang ke apotek dengan keluhan gatal-gatal pada beberapa bagian tubuhnya.Dari hasil
wawancara diketahui pasien tidak mempunyai alergi terhadap makana,debu,cuaca,maupun obat
akan tatapi pasien saat ini sedang dalam pengobatan penyakit TBC fase lanjutan .Dalam
pengobatan TBC fase lanjutan obat-obatan yang sering diberikan biasanya adalah obat INH dan
Rifampisin.Obat-obat tersebut memiliki efek samping dapat menyebabkan gatal-gatal pada kulit
sehingga mungkin saja gatal gatal yang dirasakan pasien merupakan efek samping dari
pemakaian obat-obat tersebut. Dengan demikian untuk planning penyelesaiannya,pasien diberikan
obat gatal (caladin lotion) terlebih dahulu untuk memestikan apakah penyebab gatalnya itu benar
akibat dari pemakaian obat-obat TBC atau bukan.Semisal gatal-gatal pasien telah hilang atau
sembuh setelah pemakaian obat caladine lotion tersebut berarti pemakaian obat TBC tetap
dilanjutkan,tetapi apabila gatalnya tetap ada atau mungkin malah tambah parah maka sebaiknya
pemakaian obat TBC tersebut dihentikan sementara.

Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa pasien mempunyai riwayat penyakit hepatitis A
dimana ketika datang ke apotek kondisi pasien juga sedang kurang normal yaitu sklera mata dan
kulit pasien berwarna agak kekuning- kuningan mirip seperti jaundice,gejala penyakit
hepatitis.Mungkin saja penyakit hepatitis A pasien kambuh lagi akibat terpacu oleh obat-obat TBC
yang dikonsumsi pasien.Sehingga untuk mengantisipasi kondisi pasien menjadi lebih buruk lagi
lebih baik konsumsi obat-obat TBC dihentikan sementara lalu focus terhadap pengobatan hepatitis
pasien baik secara farmakologis yaitu dengan pemberian obat-obatan tertentu maupun secara non
farmakologis misalnya dengan minum seduhan temulawak setiap hari yang mampu berfungsi
sebagai hepatoprotector.Baru setelah penyakit hepatitis pasien sembuh dan fungsi hepar pasien
kembali normal,pengobatan TBC pasien dilanjutkan kembali.

Evaluasi obat terpilih

INH (Isoniazidum)
Mekanisme Kerja : menghambat sintesis asam mikrolat, komponen essesnsial dari dinding sel
Mycobacteria. Penetrasi hampir semua cairan tubuh dan terakumulasi dalam lesi. Dapat menembus
intraselluler penyebab infeksi

Indikasi : anti tuberkulosis

Efek samping : neuritis perifer karena defisiensi pyridoxine, metabolit bersifat hepatotoksik,
efek toksik terhadap saraf pusat, anorexia, nausea, sakit kepala, ataksia, tinnitus, konstipasi,
hepatotoksik nekrosis.

Dosis : 3-4 x 1tablet sehari atau menurut petunjuk dokter.

Rifampisin

Mekanisme Kerja : bekerja dengan menghambat sintesis DNA dan RNA, potensial menginduksi
enzim sitokrom P-450

Indikasi : terapi tubekulosis dan lepra

Efek samping : irtasi saluran pencernaan, gangguan hati, reaksi hipersensitif terhadap
rifampicin, mengalami warna merah pada urin,dahak, air mata, tinja dan warna merah menetap
pada lensa mata, acute renal failure.

Dosis : dewasa dan anak 600mg sehari; anak kurang dari 50kg 400mg sehari; untuk
penderita dengan gangguan fungsi hati, dosis tidak boleh lebih dari 8mg/kgBB

Piridoksin HCl

Mekanisme kerja : merupakan co-enzim yang berperan penting dalam metabolisme berbagai
asam amino diantaranya dekarboksilasi, transminasi dan rasemisasi triptofan, asam-asam amino
yang bersulfur dan asam amino hidroksida.

Indikasi : defisiensi vit B6, untuk mencegah atau mengobati neuritis perifer oleh obat
misalnya isoniazid, hidralazin yang bekerja sebagai antagonis piridoksin dan atau meningkatkan
ekskresinya melalui urine.

Efek samping : menyebabkan neuropatik sensorik dalam dosis antara 500mg-2g/hari untuk
jangka panjang.
Dosis : kebutuhan manusia akan piridoksin berhubungan dengan konsumsi protein
yaitu kira-kira 2mg/100mg protein.

Caladin lotion

Mekanisme kerja :

Indikasi : rasa gatal pada kulit akibat biang keringat, udara panas, dan gigitan serangga.

Dosis : oleskan pada bagian yang gatal 2x sehari

Monitoring

Tujuan monitoring pada terapi pengobatan ialah untuk memaksimalkan efek terapi serta
meminimalkan DRPs. Tahapan proses pemantauan terapi ini dapat dengan menggunakan
parameter monitoring yang spesifik terhadap pasien, obat dan efek sampingnya.Yang perlu
dimonitoring adalah karena Bapak M ini adalah :

1. Tuberkulosis (TBC)

Amnanesis dan pemeriksaan fisik

Pemeriksaan darah, bila penyakit mulai sembuh jumlah leukosit kembali normal dan jumlah
limfosit tetap tinggi. Laju endap darah mulai turun kearah normal kembali.

Pemeriksaan radiologi untuk mencari adanya lesi tubercolosis

Deteksi grouth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak oleh
Mycobacterium Tubercolosis

MYCODOT (deteksi antibodi)

Frekuensi batuk

Monitoring penggunaan INH dan rifampisin karena obat-obat TBC dimetabolisme dalam hati
sehingga dapat memicu terjadinya kerusakan hati.

Monitoring aktivitas aspartat-aminotransferase serum setiap satu bulan dan bila aktivitasnya
melebihi 5 kali normal maka pemberian INH diusulkan untuk dihentikan.
Monitoring adanya kombinasi obat TBC yang sering digunakan ini tidak lain karena selain
bertujuan untuk meningkatkan efek potensiasi, mencegah resistensi dan juga untuk memperingan
efek samping obat misalnya saja dengan adanya kombinasi antara isoniazid yang mempunyai efek
samping peradangan sel syaraf (neuritis) dapat diatasi dengan vitamin B6 yang khasiatnya sebagai
antineuritis.

Monitoring rasa gatal untuk mengetahui apakah rasa gatal yang dialami disebabkan karena
efek samping dari rifampisin ataukah dikarenakan adanya gangguan fungsi hati. Apabila rasa gatal
tersebut disebabkan oleh penggunaan rifampisin sebaiknya mengganti obat yang sesuai tetapi
harus terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dokter.

Karena Bapak M ini sedang menjalani pengobatan TBC yang bersifat hepatotoksik sehingga
perlu diperhatikan pengaruh obat yang diminum terhadap fungsi hatinya oleh sebab itu pemberian
hepatoprotektor sangat membantu untuk meminimalisir seperti terapi non farmakologi yaitu
pemberian seduhan temulawak yang mengandung kurkumin atau terapi farmakologi yaitu tablet
curcuma contohnya Verona.

2. Gangguan Hati

Pemantauan fungsi hati meliputi tes laboratorium

- Alanine aminotransferase

- Bilirubin direct

- Bilirubin total

- Aspartate aminotransferase

- Gamma glutamyl transferase

- Alkaline phosphatase

- Serum albumin

- Prothombin time

- Albumin
Pemantauan terhadap pengobatan yang sedang digunakan pasien, apakah obat tersebut
bersifat hepatotoksik atau tidak

Pemantauan warna kulit dan sklera mata

Semua pengobatan dapat berhasil apabila diikuti dengan perubahan pola gaya hidup sehat yaitu
selalu menjaga kebersihan badan bila alergi yang ditimbulkan yaitu seperti gatal-gatal di kulit,
apabila pasien mengkonsumsi alcohol harus mengurangi atau bahkan dihentikan. Pengobatan bagi
penderita penyakit TBC akan menjalani proses yang cukup lama, yaitu berkisar dari 6 bulan
sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih. Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila
penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya
tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik. Oleh karenanya diharapkan pasien memiliki
kepatuhan dalam mengkonsumsi obat yang diberikan, hal ini tentu saja memerlukan perhatian dari
keluarganya sendiri yang setiap saat dapat memantau perkembangan terapi pada pasien. Selain itu
aturan pakai obat yang diberikan juga harus jelas supaya pasien patuh minum obat. Selama proses
pengobatan, untuk mengetahui perkembangannya yang lebih baik maka disarankan pada penderita
untuk menjalani pemeriksaan baik darah, sputum, urine dan X-ray atau rontgen setiap 3 bulannya.

Komunikasi Informasi Edukasi

Komunikasi, informasi serta edukasi yang perlu diberikan kepada pasien di antaranya mengenai
cara pemakaian obat yang benar agar obat yang digunakan tersebut dapat berkhasiat secara optimal
karena dapat diabsorbsi secara maksimal dan mengenai aturan pakai. Untuk vitamin B6 yang
digunakan sebagai antidotum, diminum 3 x sehari 50 mg; untuk INH diminum 1 x sehari 1 tablet
100 mg; untuk Rifampisin diminum 1 x sehari 1 kapsul 300 mg. Untuk Caladin lotion digunakan
secukupnya dan seperlunya dengan cara dioleskan pada bagian yang gatal.

Diusahakan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, menjaga kesehatan diri
dan lingkungan, dan menghindari makanan berlemak. (American Guide Line Therapy for TB).
Pasien juga diharapkan untuk menghentikan atau mengurangi rokok jika pasien merokok, menutup
dengan sapu tangan ketika pasien batuk atau bersin. Selalu memperhatikan efek baru yang muncul
dan mengkonsultasikannya pada dokter.
Kepatuhan pasien juga harus diperhatikan dengan melakukan PMO (Pengawasan Menelan Obat).
Seorang PMO bertugas mengawasi pengobatan dari awal hingga selesai agar outcome terapi dapat
tercapai, biasanya yang menjadi PMO adalah keluarga (Depkes RI, 2002).

III. KESIMPULAN

Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium
tuberkulosa.

Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap, yaitu :

Tahap awal (intensif) , Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

Tahap Lanjutan Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama serta Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.

Pada kasus ini pasien menderita TBC fase lanjutan, maka terapi obat yang diberikan adalah
Isoniazid, Rifampisin, Piridoksin.

Bapak m merupakan pasien penderita TBC yang mengalami fase lanjutan dan mengalami
gangguan fungsi hati. Hal ini bisa dilihat dari data laboratorium yang menunjukkan adanya
gangguan fungsi hati dengan acuan kadar normal sebagai berikut :

SGOT :0-35 U/L

SGPT : 0-35 U/L

GGT : 5-45 UI/L

Billirubin direct : 1,7 5,1 mmol/L

Untuk gatal-gatal yang diderita pasien,diberikan terapi caladin lotion. Karena gatal yang
dirasakan pasien hanya bersifat lokal dan timbulnyapun hanya kadang-kadang, sehingga dipilih
terapi lotion.
Karena Tn M ini sedang menjalani pengobatan TBC yang bersifat hepatotoksik sehingga perlu
diperhatikan pengaruh obat yang diminum terhadap fungsi hatinya oleh sebab itu pemberian
hepatoprotektor sangat membantu untuk meminimalisir seperti terapi non farmakologi yaitu
pemberian seduhan temulawak yang mengandung kurkumin atau terapi farmakologi yaitu tablet
curcuma contohnya Verona.