Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Antropometri adalah ilmu yang mempelajari berbagai ukuran tubuh manusia.Dalam


bidang ilmu gizi digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang seringdigunakan adalah
berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga ukuran tubuhlainnya seperti lingkar lengan atas,
lapisan lemak bawah kulit, tinggi lutut,lingkaran perut, lingkaran pinggul. Ukuran-ukuran
antropometri tersebut bisaberdiri sendiri untuk menentukan status gizi dibanding baku atau
berupa indeksdengan membandingkan ukuran lainnyaseperti BB/U, BB/TB. TB/U
(Sandjaja,dkk., 2010).
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia.Ditinjau darisudut pandang
gizi, maka antropometri gizi berhubungan berbagai macampengukuran dimensi tubuh dan
komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkatgizi (Supariasa, dkk., 2001).
Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensitubuh
manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika danukuran persentil. Jika
seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampaiterbesar dalam suatu urutan, hal ini
akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentilesampai 100 persentil. Data dimensi manusia ini
sangat berguna dalamperancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan
manusiayang memakainya (Nugroho, 2002).
Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakanadalah
antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi masyarakat, pemantauanstatus gizi anak
balita menggunakan metode antropometri,sebagai cara untuk menilai status gizi. Di samping
itu pula dalam kegiatan penapisan status gizimasyarakat selalu menggunakan metode tersebut
(Supariasa, dkk., 2001).
Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat kurang, kemakmuran ternyatadiikuti
oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di perkotaan bergeserdari pola makan
tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat, sayuran,makanan berserat ke pola makan
masyarakat barat yang komposisinya terlalubanyak mengandung lemak, protein, gula, garam tetapi
miskin serat. Sejalandengan itu setahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan angka
prevalensikegemukan/obesitas pada sebagian penduduk perkotaan, yang diikuti pula
padaakhir-akhir ini di pedesaan (Asmayuni, 2007).
Perhatian utama adalah mempersiapkan dan meningkatkan kualitas penduduk usia
kerja agar benar-benar memperoleh kesempatan serta turut berperan dan memiliki
kemampuan untuk ikut dalam upaya pembangunan.Salah satu upaya penting untuk
mewujudkan hal tersebut adalah pembangunan di bidang kesehatan dan gizi.Antropometri
sebagai teknik yang mula-mula dikembangkan dikalangan antropologi biologis,kini
aplikasinya menyentuh berbagai bidang antara lain kedokteran,olahraga,antropologi gizi,
keperawatan,dan pediatric dalam ilmu pertumbuhan anak.Antropologi seperti
Tanner,Bogin,Boucher,Malina,dan Ulijaszek mengembangkan teknik antropometri yang
dihubungkan dengan teori pertumbuhan manusia dari intra-uterine sampai adolesentia akhir
(sekitar 20tahun) (Barasi, 2008).
Aplikasi antropometri sebagai metode bioantropologi ke dalam kedokteran menjadi
bermakna apabila disertai latar belakang teori yang adekuat tentang pertumbuhan.
Berdasarkan tujuan penelitian pengukuran antropometri,setidak-tidaknya ada lima hal penting
yang mewakili tujuan pengukuran yaitu mengetahui kekekaran otot,kekekaran tualng,ukuran
tubuh secara umum,panjang tungkai dan lengan,serta kandungan lemak tubuh di ekstremitas
dan di torso.Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi,antropometri disajikan dalam
bentuk indeks, misalnya berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut
umur(TB/U) atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB),lingkar lengan atasmenurut
umur (LLA/U) dan sebagainya (Barasi, 2008).

B.Tujuan Praktikum
1. Untuk mengetahui tinggi badan dalam penilaian status gizi yang menggunakan
indeks massa tubuh (BMI)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan


protein dan energy.Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi
jaringan tubuh seperti lemak,otot dan jumlah air dalam tubuh(Supariasa, dkk., 2001).
Pemakaian data antropometri mengusahakan semua alat disesuaikan dengan
kemampuan manusia,bukan manusia disesuaikan dengan alat.Rancangan yang mempunyai
kompatibilitas tinggi dengan manusia yang memakainya sangat penting untuk mengurangi
timbulnya bahaya akibat terjadinya kesalahan kerja akibat adanya kesalahan desain (design-
induced error )(Nugroho, 2002).
Dilihat dari penggunaan antropometri yang sangat luas,maka salah satu keahlian yang harus
dimiliki oleh seorang sarjana gizi adalah mampu mengukur status gizi mengenai konsep pertumbuhan,
ukuran antropometri, control kualitas data antropometri dan evaluasi indeks antropometri, kelemahan
dan keunggulan penggunaan antropometri dalam penilaian status gizi (Supariasa, dkk., 2001).
Dari definisi tersebut di atas dapat ditarik pengertian bahwa antropometri gizi adalah
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai
tingkat umur dan tingkat gizi.Berbagai jenis tingkat ukuran tubuh antara lain berat badan,tinggi
badan,lingkar lengan atas,dan tebal lemak di bawahkulit (Supariasa, dkk.2001).
Beberapa syarat yang mendasari penggunaan dari antropometri adalah (Supariasa,
dkk., 2001):
a) Alatnya mudah didapat dan digunakan,seperti dacin,pita lingkar lengan atas,mikrotoa,
dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri di rumah.
b) Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif.Contohnya
apabila terjadi kesalahan pada pengukuran lingkar lengan atas padaanak balita.
c) Pengukuran buka hanya dilakukan dengan tenaga khusus professional,juga oleh
tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
d) Biaya relative murah,karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan
lainnya.
e) Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas (cut off points) dan baku rujukan
yang sudah pasti.
f) Secara ilmiah diakui kebenarannya.Hampir semua negara menggunakan antropometri
sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat,khususnya untuk penapisan
(screening) status gizi.Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebenarannya secara
ilmiah.
Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai
ketidakseimbangan antara asupan protein dan energy.Gangguan ini biasanya terlihat dari
pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak,otot,dan jumlah air
dalam tubuh (Supariasa,dkk.,2001).
Antropometri adalah suatu studi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh
manusia.Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam
proses perencanaan (design) produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia.
Dimensi yang diukur pada antropometri statis diambil secara linear (lurus) dan dilakukan pada
permukaan tubuh.Agar hasilnya dapat representatif,maka pengukuran harus dilakukan dengan
metode tertentu terhadap individu (Gibson, 2005).
Indikator antropometri antara lain berat badan(BB),Tinggi Badan(TB),Lingkar
Lengan Atas(LILA),dan Lapisan Lemak Bawah Kulit(LLBK).Dalam pemakaian untuk
penilaian status gizi,antropometri disajikan dalam bentuk indeks,misalnya berat badan
menurut umur (BB/U),tinggi badan menurut umur (TB/U) atau berat badan menurut tinggi
badan (BB/TB), lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U) dansebagainya (Barasi, 2008).
IMT berguna sebagai indikator untuk menentukan adanya indikasi kasus
KEK(Kurang Energi Kronik) dan kegemukan (obesitas).Namun untuk memperoleh
pengukuran TB yang tepat pada usila cukup sulit karena masalah postur tubuh,kerusakan spinal,
atau kelumpuhan yang menyebabkan harus duduk di kursi roda ataudi tempat tidur.Beberapa penelitian
menunjukkan perubahan TB usila sejalan dengan peningkatan usia dan efek beberapa
penyakit seperti osteoporosis.Oleh karena itu,pengukuran tinggi badan usila tidak dapat
diukur dengan tepat sehingga untuk mengetahui tinggi badan usila dapat dilakukan dari
prediksi tinggi lutut (knee height )(Barasi, 2008).
Tinggi badan adalah salah satu indikator klinik utama dalam menentukan Indeks
Massa Tubuh (IMT) dalam menentukan status gizi individu/populasi.Namun,pengukuran
tinggi badan manusia usia lanjut (manula) cukup sulit dilakukan dan reliabilitasnya
diragukan.Persamaan estimasi tinggi badan dari pengukuran tinggi lutut untuk memprediksi
tinggi badan manula yaitu persamaan Chumlea telah dikembangkan beberapa tahun
lalu,tetapi belum ada studi yang dilakukan diIndonesia untuk mengembangkan suatu persamaan bagi
pengukuran tinggi badan populasi usia lanjut menurut bermacam-macam kelompok etnis.Oleh
karena itu,suatu crosssectional studi untuk mengembangkan persamaan tinggi badan manula
berdasarkan pengukuran dua parameter yaitu tinggi lutut dan panjang depa (kneeheight dan
arm span)telah dilakukan pada bulan Desember 2005 lalu.Total 217 manula (usia 60-92
tahun)dari 3 kelompok etnik yaitu:Jawa(56,7%),Cina(31,3%),dan lain-lain(12,0%)
berpartisipasi dalam studi ini(Fatmah, 2005).
Pengukuran antropometri termasuk berat badan, tinggi badan,panjang depa,dan tinggi
lutut dilakukan oleh ahli gizi terlatih.Kesalahan inter dan intra observer dilakukan untuk
pengukuran antropometri tinggi lutut dan panjang depa manula.Temuan utama studi adalah
rata-rata usia manula asal Cina adalah tertinggi di antara suku lainnya; kebanyakan manula
mengalami gizi kurang (43%); distribusi rata-rata tinggi lutut dan panjang depa hampir sama
di tiap kelompok etnis (Fatmah, 2005).
IMT dihitung dengan pemberian berat badan (dalam kg) oleh tinggi badan (dalam)
pangkat dua. Kini IMT banyak digunakan di rumah sakit untuk mengukur statusgizi pasien
karena IMT dapat memperkirakan ukuran lemak tubuh yang sekalipun hanya estimasi tetapi lebih
akurat daripada pengukuran berat badan saja.Di samping itu,pengukuran IMT lebih banyak
dilakukan saat ini karena orang yang berlebihan berat badan atau yang gemuk yang lebih
beresiko untuk menderita penyakit diabetes,penyakit jantung,stroke, hipertensi dan beberapa
bentuk penyakit kanker (Hartono,2006).
Berat untuk rasio tinggi menunjukkan berat badan dalam kaitannya dengan tinggi dan
sangat berguna untuk menyediakan ukuran kelebihan berat badan dan obesitas dalam
populasi orang dewasa. Oleh karena itu jatah ini kadang-kadang disebut sebagai indeks
obesitas. Indeks massa tubuh digunakan dalam preperences untuk lainnya berat/tinggi indeks,
termasuk rasio berat/tinggi,indeks Ponderal, dan indeks Benn. Hal ini sekarang digunakan
secara ekstensif secara internasional untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan
obesitas pada orang dewasa (Gibson,2005).

Kategori Ambang batas IMT untuk Indonesia yaitu (Gibson, 2005) :

Kategori IMT
Kurus Kekurangan BB tingkat berat < 17,0
Kekurangan BB tingkat Ringan 17,0 18,5

Normal >18,5 25,0

Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan >25,0 27,0

Kelebihan BB tingkat Berat >27


Berat badan yang kurang ataupun berlebih akan menimbulkan risiko penyakitterhadap
penyakit, seperti yang terdapat pada table berikut (Sirajuddin, 2011) :

Berat badan Kerugian


Kurang (kurus) 1. Penampilan kurang baik (ceking)
2. Mudah letih
3. Risiko penyakit, antara lain penyakit
infeksi,depresi, anemia, diare
4. Pada wanita usia subur yang hamil
mempunyairisiko tinggi melahirkan
bayi dengan BBLR
5. Produktivitas rendah

Berlebihan (Gemuk) 1. Penampilan kurang menarik


2. Gerakan lamban
3. Risiko sakit, antara lain jantung,
kencing manis(Diabetes Melitus),
hipertensi, gangguan sendidan tulang,
gangguan ginjal
4. Pada wanita usia subur,dapat
mengganggu siklusmenstruasi dan
faktor penyakit pada persalinan

Gizi kurang akut biasanya mudah untuk dideteksi, berat badan anak akan kurang dan
kurus mereka akan memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan dan
meningkatkan resiko terkena infeksi.Gizi kurang yang kronik lebihsulit diidentifikasi oleh
suatu komunitasanak akan tumbuh lebih lambat daripadayang diharapkan baik dari segi berat
badan maupun tinggi badan, dan tidak kelihatan terlalu kurus, namun pemeriksaan berat dan
tinggi badan akan menunjukanbahwa mereka memiliki berat yang kurang pada grafik pertumbuhan
anak misalnya kerdil.Gizi kurang kronik dapat mempengaruhi perkembangan otak dan
psikologianak dan meningkatkan resiko terkena infeksi.Perempuan yang kurang makan (kurang gizi)
punya kecenderungan untuk melahirkan anak dengan berat badanrendah, yang punya resiko
lebih besar terkena infeksi (Gibson, 2005).
Jumlah lemak tubuh yang normal untuk pria dewasa berkisar 10-20% dari
beratbadannya,dan untuk perempuan dewasa sekitar 25%.Untuk mengetahui dengan
cepatapakah Anda menyimpan lemak berlebih, cobalah mencubit daging di perut Andatepat
di atas pusar.Bila jarak antara ibu jari dengan telunjuk lebih dari 2,5 cm, makaAnda termasuk
obesitas. Atau,untuk menentukan apakah Anda mengalami besar disekitar perut, ukur lingkar
pinggang dengan mencari titik tertinggi di tulang pinggang,lalu ukur lebarnya. Seorang pria
yang berlingkar pinggang lebih dari 102 cm(Indonesia 90 cm) dan perempuan lebih dari 88
cm (Indonesia 80 cm), menunjukkanfaktor risiko tinggi kena penyakit. Apalagi, bila IMT-nya
(Indeks Masa Tubuh) adalah25 atau lebih (Asmayuni, 2007).
Kegemukan disebabkan oleh ketidak imbangan kalori yang masuk dibanding yang
keluar.Kalori diperoleh dari makanan sedangkan pengeluarannya melaluiaktivitas tubuh dan
olah raga.Kalori terbanyak (60-70%) dipakai oleh tubuh untuk kehidupan dasar seperti
bernafas,jantung berdenyut dan fungsi dasar sel.Besarnyakebutuhan kalori dasar ini
ditentukan oleh genetik atau keturunan.Namun aktifitasfisik dan olah raga dapat
meningkatkan jumlah penggunaan kalori keseluruhan(Asmayuni, 2007).
Alat yang digunakan adalah alat ukur tinggi lutut terbuat dari kayu. Subyek yang
diukur dalam posisi duduk atau berbaring/tidur. Pengukuran dilakukan pada kakikiri subyek
antara tulang tibia dengan tulang paha membentuk sudut 90 derajat. Alat ditempatkan di
antara tumit sampai bagian proksimal dari tulang platela. Pembacaanskala dilakukan pada
alat ukur dengan ketelitian 0,1 cm (Gibson, 2005).
Hasil penguluran dalam cm dikonversikan menjadi tinggi badan menggunakan rumus
(Gibson, 2005):

TB pria = 64,19 (0,04 x usia dalam tahun) + (2,02 x tinggi lutut dlm cm)
TB wanita = 84,88 (0,24 x usia dalam tahun) + (1,83 x tinggi lutut dlm cm)
Beberapa peneliti menyarankan untuk menerapkan tekanan lembut denganproses
mastoid untuk meregangkan tulang belakang dan meminimalkan efek yang dihasilkan oleh
variasi diurnal. Pengukuran ketinggian diambil di inspirasi maksimal,dengan tingkat mata
pemeriksa dengan kepala tempat tidur untuk menghindari kesalahan paralaks. Tinggi tercatat
milimeter terdekat, atau bahkan lebih tepat dengan peralatan modem digital. Oleh karena itu,
jika berdiri tinggi daripada data referensi berbaring panjang digunakan. Dilaporkan sendiri
tinggi cenderung menghasilkan perkiraan sedikit lebih tinggi dari tinggi dan harus dihindari
(Gibson, 2005).WHR adalah suatu metode sederhana untuk mengetahui obesitas sentral pada
orang dewasa dengan mengukur distribusi jaringan lemak pada tubuh terutama bagian
pinggang dengan membandingkan antara ukuran lingkar pinggang dibanding dengan lingkar
perut. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa
penyakit degeneratif (Sandjaja, 2010).
Rumus Waist to Hip Ratio(WHR) (Sirajuddin, 2011)
()
WHR = ()
Klasifikasi Waist to Hip Ratio(WHR) (Sirajuddin, 2011)

Jenis Kelompok umur Resiko


kelamin (thn) Low Moderate High Very high
Laki-laki 20 29 < 0.83 0.83 - 0.88 0.89 0.94 > 0.94

30 39 < 0.84 0.84 0.91 0.92 0.96 > 0.96

40 49 < 0.88 0.89 0.95 0.96 1.00 > 1.00

Perempuan 20 29 < 0.71 0.71 0.77 0.77 0.82 > 0.82

30 39 < 0.72 0.73 0.78 0.79 0.84 > 0.84

40 49 < 0.73 0.74 0.79 0.80 0.87 > 0.87

Lingkar pinggang adalah ukuran antropometri yang dapat digunakan untuk menentukan
obesitas sentral,dan kriteria untuk Asia Pasifik yaitu 90 cm untuk pria,dan 80 cm untuk
wanita. Lingkar pinggang dikatakan sebagai indeks yang berguna untuk menentukan obesitas
sentral dan komplikasi metabolik yang terkait. Lingkarpinggang berkorelasi kuat dengan
obesitas sentral dan risiko kardiovaskular. Lingkarpinggang terbukti dapat mendeteksi
obesitas sentral dan sindroma metabolik denganketepatan yang cukup tinggi dibandingkan
indeks massa tubuh (IMT) dan lingkarpanggul. Bila lingkar pinggang dan kadar trigliserida
untuk mendeteksi sindroma metabolik, ditemukan lingkar pinggang 90 cm dikombinasikan
dengan kadar trigliserida plasma puasa >150 mg/dl dapat mendeteksi penderita sindroma
metabolik.Hal ini membuktikan bahwa pemeriksaan lingkar pinggang dapat digunakan
sebagaipemeriksaan uji saring yang mudah, murah dan berguna untuk mendeteksi
sindromametabolic (Karina, 2010).
Pengerdilan hasil dari perpanjangan masa asupan makanan tidak
memadai,berdasarkan kekurangan makanan, morbiditas meningkat, atau kombinasi dari
faktor-faktor. Hal ini umumnya ditemukan di negara kondisi ekonomi yang miskin.
Dibeberapa negara berpendapatan rendah, yang populasinya rendah tinggi-untuk-usiapada
anak-anak bisa sangat tinggi, mulai dari 18% di Amerika Selatan menjadi 60%di Asia Selatan.
Dalam keadaan seperti itu, kebanyakan anak pendek dapatdiasumsikan akan terhambat.Namun, ketika
prevalensinya jauh lebih rendah danmendekati tingkat yang diharapkan, maka mereka dengan
rendah tinggi-untuk-usiacenderung secara genetik pendek (Gibson, 2005).
Seorang peneliti dari Swedia menemukan bahwa lingkar pinggang dapatdigunakan
untuk mengukur resistensi insulin, dan dapat menjadi indikator yang baik untuk melihat
apakah seseorang berisiko untuk terkena diabetes. Resistensi insulinmerupakan suatu keadaan
dimana tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara baik.Bila dilakukan pemeriksaan
darah, dapat ditemukan kadar gula darah yang lebihtinggi dari normal tetapi belum sampai
menjadi diabetes. Keadaaan ini disebutsebagai pra-diabetes (Karina, 2010).
Pengukuran lingkar perut (Waist Circumference) kini menjadi metode palingpopular
kedua (seudah IMT) untuk menetukan status gizi.Cara pengukuran lingkar perut ini dapat
membedakan obesitas menjadi jenis abdominal (obesitas tipe android)dan perifer (obesitas
tipe ginoid). Pasien dengan obesitas obdominal yang merupakanfactor risiko untuk berbagai
penyakit metabolic, vaskuler, dan generatif memilikilingkaran perut yang lebih besar dari
normal. Untuk diagnosis obesitas abdominal,lingkaran perut bagi wanita Asia adalah 80 cm
dan bagi pria Asia adalah
90 cm(Hartono, 2006)
Penilaian persentase lemak tubuh pada anak tidak mudah karena komposisi kimiamassa lemak
bebas pada anak berbeda dengan pada orang dewasa dan komposisikimia tersebut akan mengalami
perubahan selama masa pertumbuhan. Oleh karenanyaasumsi yang digunakan untuk
menghitung komposisi tubuh pada dewasa yangberdasarkan densitas tubuh tidak dapat diterapkan
pada anak yang sedang tumbuh.Beberapa usaha telah dilakukan untuk memperkirakan massa
lemak tubuh sebagaiindex obesitas, karena jaringan adiposa adalah bagian utama tempat
penyimpananlemak yang mengandung lebih dari 90% jumlah total simpanan kalori. Namun
tidak ada satupun metode yang dapat menetapkan dengan tepat komposisi tubuh yanghidup. Persamaan
Deurenberg merupakan salah satu formula untuk memprediksilemak tubuh sesuai dengan
umur, jenis kelamin dan indeks massa tubuh (Hartono,2006).Pengukuran lipatan triceps
dimaksudkan untuk menentukan status lemak tubuhsementara pengukuran LILA dan LOLA
untuk mengetahui status protein otot. Kuranglebih separuh jaringan adiposa tubuh terdapat
dalam jaringan adiposa tubuh terdapatdalam jaringan bawah kulit (subkutan) sehingga
pengukuran status lemak tubuh dapatdilakukan pada lipatan kulit triceps, subskapular,
abdominal, panggul, serta paha.Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penilaian lemak
subkutan lewat pengukuranlipatan kulit merupakan cara yang cukup akurat. Pengukuran
lipatan triseps dilakukandengan menggunakan caliper oleh para ahli gizi atau perawat yang sudah
terlatihdalam teknik pengukuran antropometri (Hartono, 2006).Berdasarkan tujuan pengukuran
antropometri, setidak-tidaknya ada lima halpenting yang mewakili tujuan pengukuran yaitu
mengetahui kekern otot, kekekarantualng, ukuran tubuh secara umum, panjang tungkai dan
lengan, serta kandunganlemak tubuh di ekstremitas dan di torso. Dalam pemakaian untuk
penilaian status gizi,antropometri disajikan dalam bentuk indeks, misalnya berat badan
menurut umur

(BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) atau berat badan menurut tinggi badan(BB/TB),
lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U) dan sebagainya (Barasi, 2008).
Klasifikasi persentase Body Fat (Sirajuddin, 2011).
Klasifikasi Laki-laki Wanita
Lean <8% < 13 %
Optimal 8 % - 15 % 14 % - 23 %
Slightly overfat 16 % - 20 % 24 % - 27 %
Fat 21 % - 24 % 28 % - 32 %
Obesitas 25 % 33 %
Pengukuran lingkar lengan atas dapat memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan
lapisan bawah kulit. Lingkar lengan atas biasanya digunakan untuk mengidentifikasi adanya
malnutrisi pada anak-anak. Pada ibu hamil lingkar lenganatas digunakan untuk memprediksi
kemungkinan bayi yang dilahirkan berat badanlahir rendah (Hartono, 2005).
Indeks seperti lingkar kepala-untuk usia, berat badan-untuk-umur, beratbadan-untuk-
tinggi dan tinggi-untuk-usia dan rasio berat, tinggi berasal daripengukuran. Dari jumlah
tersebut, tinggi untuk-usia dan berat badan-untuk-tinggibadan telah direkomendasikan oleh
organisasi kesehatan dunia untuk digunakan dinegara-negara berpenghasilan rendah. Dalam
kombinasi, mereka dapat membedakanantara pengerdilan dan wasting. Indeks massa tubuh
(BMI) digunakan dalam studiepidemiologi sebagai indikator yang direkomendasikan untuk
mendefinisikankelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa, anak-anak, dan usia
lanjut. Dirumah sakit, indeks antropometri ukuran tubuh yang digunakan terutama
untuk mengidentifikasi kekurangan gizi atau kelebihan gizi dan obesitas, dan
untuk memantau setelah intervensi gizi (Gibson, 2005).
Lingkar perut adalah parameter penting untuk menentukan resiko terjadinyapenyakit
jantung.Semakin besar lingkar perut seseorang, resiko terjadinya penyakit jantung pada orang
tersebut lebih besar.Pengukuran Lingkar Perut,dengan menggunakan pita meteran. Caranya
pertama tentukan letak tulang rusuk terbawah dan tulang panggul.Kemudian tempatkan pita
meteran pada jarak pertengahan antarakedua tulang tadi, dan harus sejajar dengan lantai tanpa
memperhatikan letak pusar(Asmayuni, 2007).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah

B.Prosedur

1.Subjek berdiri tegak lurus membelakangi dinding


2.Untuk menjaga agar posisi subjek simetris, temapatkan alat bantu berupa pita yang
menempel di dinding setinggi bahu subjek
3.rentangkan kedua tangan subjek
4.tempatkan pengukur panjang depa hingga tepat dari ujung jari tengah kedua tangan.
5.ukur panjang depa subjek
6.lakukan pengukuran sebanyak 3 kali

Titik Kritis :
Subjek berdiri tegak
Menggunakan alat bantu sehingga ketika subjek merentangkan tangan bisa dalam
keadaan lurus
Pada saat pengukuran, alat ukur menyentuh kedua ujung jari tengah
Panjang alat yang digunakan 200 cm
BAB IV
PEMBAHASAN
A.Hasil
No Nama Umur (tahun) Jenis kelamin Panjang Depa
1 Astriana Dewi 21 Perempuan 161,6
2 Ana Mardiana 19 Perempuan 152,4
3 Eka Riana Shinta 19 Perempuan 147,6
4 Deyi Anggryani Natalia 19 Perempuan 147,9
5 Restiana Kristin 19 Perempuan 157
6 M.Dodi Damara 19 Laki-laki 161,3

B.Perhitungan panjang depa


1. Nama : Astriana Dewi
JK : Perempuan
Umur : 21 tahun
P.depa : 161,6

= 63,18 + (0,63 x P.depa) (0,17 x Umur) cm


= 63,18 + (0,63 x 161,6) (0,17 x 21) cm
= 63,18 + 101,80 3,57
= 63,18 + 98,23
= 161,41 cm

2. Nama : Ana Mardiana


JK : Perempuan
Umur : 21 tahun
P.depa : 152,4

= 63,18 + (0,63 x P.depa) (0,17 x Umur) cm


= 63,18 + (0,63 x 152,4) (0,17 x 19) cm
= 63,18 + 96,01 3,23
= 63,18 + 92,78
= 155,96 cm

3. Nama : Eka Riana Shinta


JK : Perempuan
Umur : 19 tahun
P.depa : 147,6

= 63,18 + (0,63 x P.depa) (0,17 x Umur) cm


= 63,18 + (0,63 x 147,6) (0,17 x 19) cm
= 63,18 + 92,99 3,23
= 63,18 + 89,76
= 152,94 cm

4. Nama : Deyi Anggryani Natalia


JK : Perempuan
Umur : 19 tahun
P.depa : 147,9
= 63,18 + (0,63 x P.depa) (0,17 x Umur) cm
= 63,18 + (0,63 x 147,9) (0,17 x 19) cm
= 63,18 + 93,17 3,23
= 63,18 + 89,94
=153,12 cm

5. Nama : Restiana Kristin


JK : Perempuan
Umur : 19 tahun
P.depa : 157

= 63,18 + (0,63 x P.depa) (0,17 x Umur) cm


= 63,18 + (0,63 x 157) (0,17 x 19) cm
= 63,18 + 98,91 3,23
= 63,18 + 95,68
= 158,86 cm

6. Nama : M.Dodi Damara


JK : Laki-laki
Umur : 19 tahun
P.depa : 161,3

= 63,18 + (0,28 x P.depa) (0,07 x Umur) cm


= 63,18 + (0,28 x 161,3) (0,07x 19) cm
= 118,24 + 45,16 1,33
= 118,24 + 43,83
= 162,07 cm

C.Pembahasan
BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan

B.Saran
DAFTAR PUSTAKA

Asmayuni. 2007. Kegemukan (Overweight ) pada perempuan umur 25-50 tahun (dikota Padang
Panjang Tahun 2007).

Kesehatan Masyarakat. II:14-38 Barasi,Mary E.2008.At A Glance Imu Gizi.Jakarta: Erlangga

Fatmah.2005.Persamaan (Equation) tinggi Badan Manusia Usia Lanjut (Manula)Berdasarkan


Usia dan etnis pada 6 Panti terpilih di DKI Jakarta dan Tangerangtahun 2005.
Jurnal UI.X :ISSN 1693-6728

Gibson, Rosalind S. 2005.Principles Nutritional Assesment. Oxford: University Press

Hartono, Andry. 2006.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta : EGC

Karina, Esa. 2007. Besar Resiko Lingkar pinggang Pinggul dan Asupan NatriumTerhadap
Kejadian Hipertensi.Cermin Dunia Kedokteran.XXI : 239-298

Nogroho, Adi. 2002.Pengaruh Faktor Usia, Status Gizi dan Pendidikan TerhadapInternational
Prostat Symptom pada Penderita Hiperplasia.Cermin DuniaKedokteran.XI : 678-745

Sandjaja, dkk. 2010.Kamus Gizi. Jakarta: Kompas

Sirajuddin, Saifuddin. 2011.


Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Secara Biokimia dan Antropometri.Makassar:
Universitas Hasanuddin

Supariasa, dkk. 2001.Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai