Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS KETIMPANGAN PEMBANGUNAN PROYEK DI KEPULAUAN

LOMBOK DAN KABUPATEN BADUNG PROVINSI BALI

Oleh:

KELOMPOK 1

Gek Aris Veratiani (1521205002)

Ni Putu Ayu Mia Darmayanthi (1521205005)

Dwi Sukma Rahmayanti (1521205020)

Aprilia Sari (1521205033)

Program Studi Administrasi Negara


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Udayana
Bali
2017
ANALISIS KETIMPANGAN PEMBANGUNAN PROYEK DI KEPULAUAN
LOMBOK DAN KABUPATEN BADUNG PROVINSI BALI
Dalam melaksanakan pembangunan daerah yang merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional dimana prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber daya nasional
yang memberikan kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Penyelenggaraan pemerintah daerah sebagai bagian dari
sistem pemerintahan negara dimaksudkan dalam rangka penyelenggaraan pemerintah dan
melayani masyarakat, sebagai daerah otonomi, daerah mempunyai peran atau kewenangan serta
tanggung jawab menyelenggarakan kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip
keterbukaan dan pertanggungjawaban kepada masyarakat (UU No. 32, 2004).
Kewenangan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan aktifitas pemerintahan
mencakup perencanaan tata ruang wilayah, perencanaan pembangunan wilayah, dan
pemanfaatan potensi wilayah secara optimal. Dengan adanya pelimpahan kewenangan dari
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah berarti ada pelimpahan tanggung jawab yang lebih
besar, dimana daerah menjadi penanggung jawab utama terhadap maju mundurnya suatu daerah.
Ini berarti daerah harus lebih mampu menetapkan skala prioritas yang tepat dalam memanfaatkan
potensi yang ada dimasing-masing daerah, sekaligus menjaga kelestariannya agar bisa digunakan
di kemudian hari secara berkesinambungan.
Disisi lain, secara simultan dengan adanya potensi sumber daya di daerah semestinya
pemerintah daerah harus lebih kreatif dalam menggali pendapatan asli daerah yang lebih besar,
tidak semata-mata mengandalkan penerimaan dari pemerintah pusat. Karena penerimaan daerah
yang dilimpahkan dari pusat sudah terbatas dan memiliki aturan pendistribusiannya. Memang
pada masa lalu bahkan sampai saat ini pemerintah daerah yang mengalami kesulitan keuangan
atau kuarng mampu membangun sarana dan prasarana yang sangat dibutuhkan di daerahnya,
masih memungkinkan untuk mendapatkan bantuan khusus dari pemerintah pusat. Tetapi kedepan
hal seperti itu akan berkurang mengingat kemampuan pemerintah pusat untuk memberikan
perlakuan khusus akan sangat terbatas. Ini artinya pemerintah daerah harus pinter-pinter
mengelola alokasi dana yang jumlahnya tertentu dari pemerintah pusat serta mampu dan kreatif
dalam menggali potensi untuk pendapatan asli daerah.
Sejarah mencatat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan di dunia,
sebagai negara dua musim yang kaya dengan berbagai potensi, baik yang ada di perut bumi,
permukaan bumi maupun di laut. Potensi sumber daya alam yang melimpah tersebut membuat
banyak negara iri dan ingin turut andil memanfaatkan kekayaan kita untuk kepentingan
negaranya. Namun disisi lain, menjadi ironis apabila melihat kondisi negara yang kaya dengan
potensi tetapi masyarakatnya masih banyak yang miskin dan daerah-daerahnya banyak yang
tertinggal.

ANALISIS PEMBANGUNAN DI KEPULAUAN LOMBOK


Dalam RPJMN 2010-2014 menyatakan bahwa masih tingginya tingkat kesenjangan
pembangunan antar wilayah, belum optimal perkembangan kawasan pertumbuhan yang
diharapkan menjadi penggerak daerah tertinggal dan kawasan perbatasan. Ini menunjukkan
belum adanya keterkaitan dan integrasi ekonomi wilayah dalam sistem pengembangan wilayah.
Apabila dicermati dari 183 kabupaten tertinggal, diantaranya yang masuk kategori
kawasan/strategis adalah 14 kabupaten daerah tertinggal masuk dikawasan pengembangan
ekonomi terpadu, 20 kabupaten daerah tertinggal masuk dalam kawasan perbatasan dan 15
kabupaten daerah tertinggal masuk dalam Kawasan Strategis Nasional, namun belum signifikasi
memberikan dampak perkembangan bagi wilayah/daerah tertinggal maupun kawasan perbatasan.
Seperti dikatakan KPDT (2005), bahwa Daerah Tertinggal adalah daerah kabupaten yang
masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala
nasional. Suatu daerah dikategorikan sebagai daerah tertinggal, karena beberapa faktor
penyebab, yaitu:
1. Secara geografis daerah tertinggal relatif sulit dijangkau karena letaknya atau faktor
geomorfologis;
2. Beberapa daerah tertinggal tidak memiliki potensi atau terbatas sumberdaya alamnya;
3. Tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang relatif rendah serta
kelembagaan adat yang belum berkembang;
4. Keterbatasan prasarana dan sarana yang menyebabkan masyarakat di daerah
tertinggal mengalami kesulitan melakukan aktivitas ekonomi dan sosial;
5. Terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi akibat keterisolasian
daerah secara fisik, seringnya mengalami konflik sosial dan bencana alam.
Sebagai bagian dari daerah tertinggal tersebut, Provinsi Nusa Tenggara Barat yang
terletak di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sudah lama masuk sebagai daerah atau provinsi
tertinggal, bahkan sampai saat ini dari 10 kabupaten/kota yang ada, 8 diantaranya sebagai daerah
tertinggal. Ini sangat ironis dengan kenyataan seperti itu karena sebagai daerah yang kaya dengan
berbagai potensi alam maupun potensi lainnya, masyarakatnya masih banyak yang miskin dan
belum bisa mengejar ketertinggalnya dengan provinsi atau daerah lainya yang sudah maju
terlebih dahulu.
Provinsi Nusa Tenggara Barat yang terbentuk tanggal 17 Desember 1958 ini sampai
dengan sekarang masih berada dalam provinsi yang perkembangan wilayahnya lambat,
meskipun telah terjadi tujuh kali pergantian kepemimpinan sejak berdirinya provinsi ini. Pada
tahap awal, saat Pelita I sudah dimulai perbaikan ekonomi, sosial dan politik, yang dilanjutkan
oleh kepemimpinan yang ketiga, usaha pembangunan kian dimantapkan, dari daerah yang minus
bisa berubah menjadi daerah swasembada beras tingkat nasional dan sejak saat itulah
Provinsi Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai Bumi Gogo Rancah (Gora). Upaya
pembangunan terus dilakukan pada periode kepemimpinan keempat, yang difokuskan pada
pembangunan infrastruktur dan mulai dilakukan pengembangan di sektor pariwisata dan
berharap agar provinsi ini bisa setara dengan daerah lain di indonesia, dan dilanjutkan lagi pada
kepemimpinan kelima dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia
melalui program Gema Prima dan disambung lagi dengan program gerbang emas bangun desa
pada kepemimpinan yang keenam. Pada kepemimpinan terakhir sekarang ini upaya
pembangunan memang terus dilakukan baik disektor pendidikan, ekonomi, perhubungan,
infrastruktur, pertanian maupun pariwisata dalam upaya mewujudkan masyarakat yang beriman
dan berdaya saing.
Pulau Lombok merupakan salah satu dari dua pulau besar di Provinsi Nusa Tenggara
Barat terdiri dari lima kabupaten/kota, di Pulau Lombok ini pula terletak ibu kota provinsinya
yaitu Mataram. Namun dilihat dari perkembangan pembangunan, secara umum kelima
kabupaten/kota ini masih rendah bila dibandingkan daerah lain. Salah satunya ditandai dengan
masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Nusa Tenggara Barat, dari 33
provinsi yang ada, provinsi NTB berada di urutan 32 dengan nilai 66, 23, satu tingkat diatas
papua dengan nilai 65,36 (BPS, 2012). Tingkat perkembangan masingmasing kabupaten/kota
yang masih rendah, ini ditunjukkan dengan tingkat kemiskinan dan angka penggangguran yang
cukup tinggi serta pendapatan perkapita yang masih rendah dan laju pertumbuhan Pendapatan
Domestik Regional Bruto (PDRB) yang belum optimal. Berikut ini gambaran tentang kondisi
lima kabupaten/kota di Pulau Lombok berdasarkan data BPS Tahun 2012.
Disisi lain Pulau Lombok secara potensi merupakan daerah yang sumber daya alam
cukup tinggi, ini terlihat dari areal pertaniannya yang subur, air yang cukup melimpah, stok
energi panas bumi yang banyak, dan obyek-obyek wisata yang indah. Ini menunjukkan bahwa
Pulau Lombok termasuk wilayah yang seharusnya bisa berkembang lebih baik dari yang ada
sekarang, apabila semua itu bisa dikelola dan dimanfaatkan secara optimal dan terencana.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ketertinggalan wilayah di Pulau Lombok, yaitu::
1. Kepemimpinan. Ini disebabkan karena lemahnya dalam mensinergikan dan
mendayagunakan potensi, kurangnya kapasitas manajerial kepemimpinan daerah,
lemahnya keteladanan dan upaya membangun kesadaran masyarakat,
pengimplementasian kebijakan yang belum optimal, lemahnya memanfaatkan daya
dorong agama, lemahnya menjaga konsistensi kebijakan serta akselerasi
pembangunan fisik non fisik.
2. Kesadaran Masyarakat (Public Awareness). Ini disebabkan karena rendahnya
pendidikan, pengaruh adat istiadat dalam konteks tradisi, mental terbiasa dibantu dan
selalu bergantung, esensi dan eksistensinya dalam pemaknaan agama sebatas ritual.
3. Sumber Daya Manusia. Segi kesehatan disebabkan karena belum optimalnya
pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, rendahnya kesadaran masyarakat tentang
kesehatan yang dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan serta masih kuatnya
tata nilai di masyarakat. Sedangkan dari segi pendidikan secara historis tren mulai
atau jam terbang pendidikan tidak sama dengan daerah yang sudah maju, perlakuan
serta dukungan pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan antara formal dan non
formal belum optimal, motivasi dan orientasi anak serta dukungan orang tua untuk
sekolah masih terbatas, terbatasnya kemampuan finansial dan pelibatan komponen
masyarakat seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam merayu sekaligus
memotivasi anak yang tidak mau sekolah belum ada.
4. Perekonomian Masyarakat. Segi kemiskinan disebabkan karena belum ada road
map serta implementasi kebijakan yang fokus dan berkesinambungan terhadap
penanggulangan kemiskinan yang dibuat pemerintah; tidak memiliki kemampuan dan
akses meskipun dekat dengan potensi; terbatasnya pola pikir dan keahlian (skill) serta
pendidikan sebagai penyebab kualitas sumberdaya manusia yang rendah dan terbatas;
masih adanya budaya malas, ikut-ikutan, gengsian, tidak suka melihat orang lain
berhasil, dan rendahnya motivasi untuk berubah ke arah yang lebih maju; masyarakat
atau rakyat masih dipandang sebagai obyek atau penerima pembangunan oleh
pemerintah daerah; perbedaan sudut pandang tentang miskin oleh pemerintah dan
masyarakat sehingga perlakuan (treatment) dalam penanggulangannya belum
optimal. Dari segi konsumsi perkapita karena orientasi tentang pengeluaran masih
sederhana yang disesuaikan dengan sumber pendapatan yang masih kecil; motivasi
hidup yang layak masih rendah sehingga kesadaran masyarakat dalam mengambil
manfaat untuk kesejahteraan mereka masih lemah; intervensi pemerintah dalam
memacu tingkat konsumsi masyarakat dari segi kebijakan belum terintegrasi dan
komprehensif.
5. Infrastruktur. Ini disebabkan karena belum optimalnya sistem pengelolaan, sistem
pelayanan dan kesiapan mental masyarakat (capacity building). Dengan kata lain,
disamping pembangunan secara fisik, hal lain yang mesti dibangun secara simultan
adalah kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan dan pemeliharaan, pelayanan
aparatur, serta pengelolaannya
6. Kemampuan Keuangan Daerah. Ini disebabkan karena rendahnya pendapatan yang
bersumber dari pengelolaan sumberdaya daerah berupa Pendapatan Asli Daerah
(PAD), pengalokasian dan pengelolaan anggaran lebih didominasi untuk belanja
pegawai dibandingkan untuk belanja modal atau pembangunan, manajemen
pengelolaan anggaran belum optimal terutama dalam penentuan skala prioritas
pembangunan, dan dalam pembiayaan program atau kegiatan persektor belum
dilakukan kajian atau analisis mendalam.
Rekomendasi
Rekomendasi penulis dalam upaya mempercepat kemajuan dan segera terlepas dari
ketertinggalan wilayah pada empat kabupaten tersebut adalah:
1. Untuk Pemerintah Daerah
a. Segi perencanaan, memperbaiki sistem perencanaan dengan lebih
mengedepankan partisipasi masyarakat dalam prosesnya, agar perencanaan yang
dihasilkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sementara fungsi pemerintah
disini adalah sebagai mediator, fasilitator dan sekaligus motivator dalam rangka
mensinkronkan antara kebutuhan masyarakat dengan target dan sasaran yang
ingin dicapai pemerintah. Hasil dari perencanaan tersebut pemerintah membuat
pemetaan (road map) terhadap rencana-rencana prioritas, baik yang bersifat
jangka pendek, menengah maupun jangka panjang;
b. Segi Pelaksanaan, Untuk menindaklanjuti (follow up) hasil perencanaan tadi,
pemerintah memberdayakan semua pranata-pranata atau perangkat yang ada
dilingkungannya untuk mensinergikan dan memaksimalkan fungsi koordinatif
agar dalam pelaksanaannya lebih fokus dalam mencapai target atau sasaran
pencapaian perencanaan. Ini ditandai dengan pola penganggaran yang kegiatan
dan programnya sesuai dengan arah dan tujuan dari visi-misi yang diemban;
c. Segi Operasional. Dalam hal ini pemerintah secara simultan mengembangkan
pembangunan yang bersifat kolaboratif, yaitu pembangunan yang sifatnya fisik
dan sekaligus pembangunan yang sifatnya non fisik. Ini dimaksudkan agar
pemerintah tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisikal saja tetapi juga
pembangunan kapasitas manusia (capacity building), dalam upaya memperbaiki
sekaligus meningkatkan manfaat dan layanannya terhadap masyarakat;
d. Segi Keberlanjutan. Untuk mempercepat terjadinya akselerasi serta menjaga
konsistensi dalam menjalankan komitmen yang tertuang dalam skala prioritas
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, maka pemerintah semestinya
berupaya mencari dan melakukan berbagai terobosan-terobosan, seperti; upaya
menggali potensi pendapatan daerah agar lebih optimal, menjaga kesinambungan
program dan kegiatan rutinitas tahunan sesuai dengan visi-misi, penciptaan iklim
investasi yang terus meningkat, mengikutsertakan berbagai komponen masyarakat
baik tokoh agama maupun tokoh masyarakat lainnya dalam pengimplementasian
rencana pembangunan di tengah masyarakat secara terpadu dan terus menerus
serta memanfaatkan potensi dan sumber daya secara terencana, terukur dan
berwawasan lingkungan.

ANALISIS PEMBANGUNAN DI PROVINSI BALI (KABUPATEN BADUNG)


Dengan pesatnya perkembangan pariwisata di Bali, menuntut pula perkembangan sarana
akomodasi yang terus berkembang. Penyediaan fasilitas-fasilitas tersebut merupakan sebuah
tujuan untuk mendukung pariwisata dan para wisatawan yang datang. Penyediaan sarana
akomodasi pariwisata (hotel) merupakan prioritas untuk menyokong pembangunan pariwisata di
Bali. Menurut data BPS Bali tahun 2013, pertumbuhan akomodasi pariwisata yaitu hotel
mengalami peningkatan pertumbuhan yang sangat pesat, pertumbuhan jumlah hotel pada tahun
2013 sebanyak 227 yang tersebar di seluruh Kabupaten dan Kota di Bali. Hotel-hotel tersebut
meliputi kelas hotel bintang, hotel melati, pondok wisata, dan kondonium. Dari data tersebut
konsentrasi lokasi pertumbuhan hotel berada di wilayah Bali selatan yaitu di Kabupaten Badung,
Kabupaten Gianyar dan Kota Denpasar. Hal ini dapat ditambah dengan jumlah kunjungan
wisatawan ke Bali pada bulan mei 2014 mencapai orang, presentase jumlah wisatawan yang
berkunjung tersebut naik sebesar 15,35 persen. Dengan peluang dari sektor pariwisata yang
dimiliki dan presentase jumlah wisman yang datang ke Bali, memberikan peluang dalam
meningkatkan taraf perekonomian bagi masyarakat lokal, memberikan pemasukan bagi daerah,
memperluas lapangan kerja, dan memperkenalkan keindahan alam dan budaya yang dimiliki Bali
ke mata dunia. Menyadari besarnya potensi dari sektor pariwisata bagi perekonomian di suatu
negara, khususnya Indonesia yang memiliki potensi alam dan budaya yang luar biasa.
Pemerintah Pusat pun memiliki perhatian khusus kepada Bali sebagai daerah yang memiliki
potensi pariwisata yang sangat besar dan menyumbangkan banyak devisa ke negara. Pemerintah
Pusat dan Pemerintah daerah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menyokong pembangunan
pariwisata di Bali dan menjadikan Bali sebagai daerah pariwisata berskala Internasional. Dari
sarana akomodasi yang tumbuh dengan pesat di kawasan Kabupaten Badung, memberikan hal
positif terhadap perekonomian kabupaten Badung. Banyaknya PAD (Pendapatan Asli Daerah)
yang diperoleh dari Pajak Hotel dan Pajak Restoran (PHR) yang memberikan kontribusi besar
terhadap peningkatan PAD Kabupaten Badung. Hal ini dikarenakan banyaknya hotel dan
restoran yang berada di kawasan pariwisata di Kabupaten Badung.

Menurut data Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Badung, dari
tahun 2010 hingga tahun 2014 PAD Kabupaten terus mengalami peningkatan yang signifikan.
Pajak Hotel dan Restoran (PHR) yang diperoleh Kabupaten Badung pada tahun 2014 sebesar 1,3
triliun rupiah. Dengan adanya kejenuhan pembangunan akomodasi infrastruktur pariwisata di
wilayah Bali Selatan. Maka dirasa perlu adanya kebijakan moratorium dalam pembangunan
pariwisata yaitu pemberhentian sementara akomodasi infrastruktur pariwisata dan pemerintah
mengevaluasi pembangunan tersebut dalam rentan waktu yang ditentukan. Kebijakan
Moratorium ini diterapkan di wilayah Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar dan menjadi perhatian
utama di Kabupaten Badung. Karena di wilayah Bali selatan ini mengalami pertumbuhan
akomodasi pariwisata yang pesat dan tidak terkendali sehingga mengalami overcapacity.
Kebijakan moratorium pembangunan akomodasi infrastruktur ini juga dengan harapan agar
pembangunan hotel dan sarana akomodasi pariwisata lainnya dapat menyebar secara merata
sehingga tidak terjadinya penumpukan di kawasan Bali Selatan saja. Namun, rencana tersebut
tidak didukung dengan pembangunan dan penyediaan sarana infrastruktur yang layak dan
memadai pada daerah-daerah yang juga memiliki potensi kunjungan wisata di Bali yaitu
kawasan Bali Utara dan Bali Barat. Sehingga rencana untuk adanya pemerataan pembangunan
sarana akomodasi pariwisata dan mengalihkan investor untuk berinvestasi di daerah-daerah
tersebut sangat sulit. Karena kondisi infrastruktur yang tidak menunjang untuk menjadikan
daerah tersebut destinasi pariwisata yang populer dan menguntungkan. Bila pemerataan
pembangunan akomodasi pariwisata dan investasi di daerah tersebut terlaksana, akan membawa
hal positif terhadap perekonomian masyarakat lokal dan pemasukan bagi PAD daerah tersebut.

Perkembangan pembangunan industri pariwisata di Kabupaten Badung dapat


mengoptimalkan manfaatnya untuk kepentingan kesejahteraan masyarakatnya. Pembangunan
industri pariwisata yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat yang mengutamakan peran
dan partisipasi masyarakat lokal sebagai subjek pembangunan industri pariwisata. Untuk
mendukung pembangunan kepariwisataan yang menjadikan masyarakat sebagai subjek
pembangunan, maka perlu adanya pendidikan kepariwisataan terhadap masyarakat lokal, selalu
mengikutsertakan anggota masyarakat dalam proses pengambilan keputusan maupun pada
regulasi suatu kebijakan, pemerintah memastikan bahwa masyarakat lokal telah menerima
manfaat dari aktivitas industri pariwisata terutama bagi kesejahteraan masyarakat lokal. Kualitas
masyarakat dengan kualitas lingkungan harus dapat terjaga secara harmoni dan selaras. Karena
sumber daya alam dan budaya masyarakat lokal dapat berjalan secara beriringan dengan
kepuasan berwisata oleh wisatawan. Jadi, masyarakat lokal harus dapat menjaga
keberlangsungan lingkungan dan budaya masyarakatnya di tengah hantaman globalisasi di
wilayah destinasi paariwisata internasional seperti Kabupaten Badung. Jangan sampai kultur dan
lingkungan tercemar hingga tidak dapat menjadi daya tarik dan identitasnya sebagai wilayah
pariwisata. Pada konsep pariwisata berkelanjutan, yang menjadi focus adalah kerjasama antara
wisatawan dan masyarakat lokal, dan kebutuhan masyarakat lokal dalam perencanaan
manajemen kepariwisataan. Jangan sampai dampak negative dari aktivitas pariwisata merusak
tatanan kehidupan social budaya masyarakat lokal, karena pengalaman yang diperoleh oleh
wisatawan adalah keunikan dari pola tatanan kehidupan social budaya masyarakatnya. Dalam
pembangunan pariwisata yang terus berkembang secara dinamis selalu membawa perubahan,
perubahan tersebut ada yang berdampak positif maupun negative. Sehingga masyarakat lokal
harus tetap memegang teguh kultur dan budayanya. Seperti slogan Provinsi Bali yang sering kita
dengar yaitu Bali Shanti. Dari tagline tersebut menggambarkan bahwa pulau bali sebagai daerah
yang damai dan menawarkan sejuta pesona sumber daya alamnya dan keunikan budayanya.
Masyarakat lokal harus benar-benar memahami itu, karena wisatawan menginginkan rasa tenang
dan nyaman saat berlibur. Hubungan antara pariwisata dengan lingkungan juga harus saling
mendukung. Sehingga lingkungan dapat dikelola secara berkelanjutan dalam waktu jangka
panjang. Pada konsep pembangunan pariwisata keberlanjutan, aktivitas pariwisata tidak boleh
merusak sumber daya alam, sumber daya alam harus dapat dinikmati oleh generasi mendatang
dan harus peduli terhadap karakter tempat dan skala ukuran pembangunan. Seperti pembangunan
akomodasi yang terjadi di Kabupaten Badung.