Anda di halaman 1dari 25

i

MAKALAH STRATEGI BELAJAR MENGAJAR


MATEMATIKA
EQ DAN IQ DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Disusun Oleh:
Kelompok 3
1. Dwi Waryanti (1605045024)
2. Ayu Jumiarti (1605045041)
3. Asmariyah Athaillah (1605045025)
4. Sherly Indriana (1605045007)
5. Nur Alvidayanti (1605045031)

KELAS A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2017
ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya kepada kami sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya dengan judul EQ dan IQ dalam Pembelajaran Matematika.
Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra.
Ariantje Dimpudus, M.Pdyang sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk
menyusun makalah ini dengan sebaiknya dan juga kepada semua pihak yang
sudah membantu dan mendukung selama pembuatan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

Samarinda, 20 September 2017

Penyusun
iii

DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................... i
ABSTRAK ......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. LatarBelakang ......................................................................................... 1
B. RumusanMasalah .................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan .................................................................................... 2
D. Manfaat ................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3
A. PembelajaranMatematika ........................................................................ 3
B. KonsepDasarEmosional .......................................................................... 5
C. IntellegenceQuotient dan EmotionalQuotient...........................6
D. IQ vs EQ ................................................................................................ 14
E. Pengaruh IQ dam EQ ........................................................................... 16
F. FakotrFaktor yang MempengaruhiIntelegnsiSeseorrang. ..................... 17
BAB IV KESIMPULAN ................................................................................. 18
A. Simpulan................................................................................................ 18
B. Saran ...................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengansengaja,
teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkanperilaku
yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan saranadalam rangka
pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswabelajar berbagai
macam hal yang pada akhirnya bertujuan meningkatkan prestasibelajar.
Prestasi belajar adalah tingkat kemampuan anak didik dalam menerimasuatu
jenis pelajaran yang diberikan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar.Melalui
prestasi belajar seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yangtelah
dicapainya dalam belajar.Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya
kompleks danmenyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih
prestasi yangtinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki IntelligenceQuotient
(IQ) yangtinggi, karena inteligensi merupakan bekal potensial yang akan
memudahkandalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi
belajar yang optimal.
Menurut Binet dalam buku Winkel, hakikat inteligensi adalah kemampuan
untukmenetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan
penyesuaiandalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri
secara kritisdan objektif.Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di sekolah
sering ditemukansiswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara
dengan kemampuaninteligensinya.
Ada siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapimemperoleh
prestasi belajar yang relatif rendah, namun ada siswa yang walaupunkemampuan
inteligensinya relatif rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatiftinggi. Itu
sebabnya taraf inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yangmenentukan
keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhi.
2

Menurut Goleman, kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20%


bagikesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan
lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau EmotionalQuotient (EQ)
yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol
desakan hati,mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja
sama. Dalam proses belajar siswa, kedua inteligensi itu sangat diperlukan. IQ
tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional
terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah.
Namun biasanya kedua inteligensi itu saling melengkapi. Keseimbangan
antara IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah.
Pendidikan di sekolah bukan hanya perlu mengembangkan rational intelligence,
yaitu model pemahaman yang lazimnya dipahami siswa saja, melainkan juga
perlu mengembangkan emotional intelligence siswa .

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Proses Pembelajaran Matematika ?


2. Bagaimana Peran Emosional Pada Proses Pendidikan ?
3. Apa itu IQ danEQ ?.
4. Bagaimana Keseimbangan antara IQ dan EQ?
5. Bagaimana implementasi pengembangan IQ dan EQ dalam pembelajaran
Matematika ?
6. Apa pengaruh dalam menerapkan Strategi pengembangan IQ dan EQ
dalam pembelajaran Matematika ?.
7. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Intelegensi?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk menjelaskan proses pembelajaran matematika.
2. Untuk menjelaskan peran emosional dalam proses pendidikan.
3. Untuk mendeskripsikan IQ dan EQ.
4. Untuk menjelaskan keseimbangan antara IQ dan EQ.
3

5. Untuk mengetahui cara mengimplementasikan pengambangan IQ dan EQ


dalam pembelajaran Matematika
6. Untuk mengetahui pengaruh-pengaruh dalam menerapkan strategi
pengembangan IQ dan EQ dalam pembelajaran Matematika.
7. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Intelegensi
D. Manfaat
1. Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana proses pembelajaran
matematika
2. Agar pembaca dapat mengetahui peran emosional dalam proses
pendidikan
3. Agar pembaca dapat mengetahui deskripsi IQ dan EQ
4. Agar pembaca dapat mengetahui keseimbangan antara IQ dan EQ.
5. Agar pembaca dapat mengetahui cara mengimplementasikan
pengambangan IQ dan EQ dalam pembelajaran Matematika
6. Agar pembaca dapat mengetahui pengaruh-pengaruh dalam menerapkan
strategi pengembangan IQ dan EQ dalam pembelajaran Matematika
7. Agar pembaca dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
Intelegensi
4

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Matematika
Penyelenggaraan pendidikan dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia;
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi anggota masyarakat yang
bertanggung jawab dan demokratis; dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Untuk mencapai tujuan tersebut, disusunlah Kompetensi Lintas Kurikulum
(KLK) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). KLK meliputi kecakapan
hidup dan belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai peserta
didik melalui pengalaman belajar secara berkesimambungan (Depdiknas,
2003a). Sedangkan SKL merupakan seperangkat kompetensi yang dibakukan
dan harus dicapai peserta didik sebagai hasil belajar dalam setiap satuan
pendidikan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika tersebut, disusunlah
Standar Kompetensi Bahan Kajian Matematika yang merupakan kecakapan
atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai melalui belajar
matematika mulai dari SD sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).
Selanjutnya dilakukan penspesifikasian untuk setiap jenjang pendidikan
tersebut. Untuk SD dan MI ada Standar Kompetensi Mata Pelajaran
Matematika Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Kemampuan
matematika yang dipilih dalam Standar Kompetensi dirancang sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan peserta didik dengan memperhatikan
perkembangan pendidikan matematika di dunia (Depdiknas, 2003 b).
Dari kompetensi-kompetensi yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa
kompetensi tersebut terkait dengan kecerdasan akademik dan kecerdasan
emosional. Dengan demikian, sebenarnya kompetensi yang harus dimiliki
peserta didik telah disusun dengan baik. Penyusunan ini sudah sesuai dengan
hasil penelitian mutakhir yang mengatakan bahwa kecerdasan akademik
5

menyumbang kira-kira 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses hidup


seseorang, sedangkan 80% didukung oleh faktor lain (Goleman, 2000).
Salah satu di antara faktor lain itu adalah kecerdasan emosional yang
mencakup kecerdasan interpribadi dan intrapribadi (Goleman, 2001; Stein
dan Book, 2002). Dalam kaitannya dengan kecakapan hidup, kecerdasan
interpribadi terkait dengan kecakapan sosial dan kecerdasan intrapribadi
terkait dengan kecakapan personal. Penggunaan kata kecakapan lebih
ditekankan pada kemampuan untuk mengerjakan sesuatu, sedang kata
kecerdasan berkaitan dengan segala sesuatu yang cerdas, sempurna
(Depdiknas, 2001a). Dengan demikian, kecakapan lebih bersifat praktis,
sedangkan kecerdasan lebih bersifat teoretis. Kecerdasan sangat mendukung
terjadinya kecakapan. Masalah pendefinisian kecerdasan, sampai saat ini,
merupakan sesuatu yang sulit dan sedang diperdebatkan oleh para psikolog
dan pendidik (Shepard, 1999).
Kecerdasan interpribadi dan intrapribadi adalah dua dari delapan
kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner. Gardner (1999, 2001)
mengemukakan bahwa ada delapan kecerdasan yang meliputi: kecerdasan
musik, kecerdasan gerak badan, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan
linguistik, kecerdasan ruang, kecerdasan interpribadi, kecerdasan intrapribadi,
dan kecerdasan naturalistik. Selanjutnya Gardner juga mengemukakan bahwa
kecerdasan interpribadi dan intrapribadi belum dipahami sepenuhnya, sulit
untuk dipelajari, tetapi amat penting (Gardner, 1993; Wahl, 1998; Martin,
2000). Dryden dan Vos (2001) meyakini bahwa penemuan yang dilakukan
oleh Gardner sangat penting dalam perencanaan pendidikan masa depan.
Kondisi belajar terbaik dapat tercapai, bila guru dapat mengorekstrasikan
lingkungan, menyiapkan suasana yang kondusif dan mencuri perhatian
peserta didik, serta membuat aktivitas yang menarik. Kebanyakan proses
pembelajaran tradisional tidak memperhatikan hal-hal tersebut. Dengan
perkataan lain, guru perlu menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan.
Pintu untuk belajar harus terbuka sebelum proses pembelajaran terjadi.
Pintu itu bersifat emosional (Dryden dan Vos, 2001). Karena pintu itu
6

bersifat emosional, maka kecerdasan emosional peserta didik harus benar-


benar dilibatkan dalam proses pembelajaran. Jadi dengan melibatkan
kecerdasan interpribadi dan intrapribadi, yang tercakup dalam kecerdasan
emosional, pada proses pembelajaran, berarti guru berusaha untuk membuka
pintu agar proses pembelajaran yang berlangsung dapat menyenangkan
peserta didik.

B. Konsep Dasar Emosional


Kecerdasan emosional adalah suatu cara baru untuk membesarkan anak.
Mempelajari perkembangan kepribadian anak intelligencequotient (IQ)
merupakan salah satu alat yang banyak digunakan untuk mengetahuinya.
Namun belakangan berkembang suatu alat yang disebut
emotionalquotient(EQ) yang oleh para pakar dianggap salah satu alat yang
baik untuk mngukur kecerdasan anak. Menurut Lawrence Shapiro,
kecerdasan emosional anak dapat terlihat pada (a) keuletan, (b) optimisme,
(c) motivasi diri dan (d) antusiasme. Lawrence Shapori mengemukakan
kecerdasan emosional (EQ) pengukurannya bukan didasarkan pada
kepintaran seseorang anak, tetapi melalui suatu yang disebut dengan
karakteristik pribadi atau karakter. Berbagai penilitian menemukan
keterampilan sosial dan emosional akan semakin penting peranannya dalam
kehidupan daripada kemampuan intelektual. Atau dengan kata lain memiliki
EQ tinggi mungkin lebih penting dalam pencapaian keberhasilan daripada IQ
tinggi yang diukur berdasarkan uji standar terhadap kecerdasan kognitif
verbal dan nonverbal.
Istilah kecerdasan emosional pertama kali muncul pada tahun 1990 oleh
psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari
Universityof New Hampshireuntukmenerangkan kualitas-kualitas emosional
yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas ini antara lain:
1. Empati
2. Mengungkapkan dan memahami perasaan
3. Mengendalikan amarah
7

4. Kemandirian
5. Kemampuan menyesuaikan diri
6. Diskusi
7. Kemampuan memecahkan masalah antarpribadi
8. Ketekunan
9. Kesetiakawanan
10. Keramahan
11. Sikap hormat

Berperannya emosional dalam aktivitas kehidupan manusia, menjadikan


sebagaian orang sangat tertarik untuk mempelajarinya. Ketertarikan ini
terutama diarahkan pada konsep kecerdasan emosional yang dapat berperan
dalam membesarkan dan mendidik anak-anak. Berbagai penelitian telah
menunjukkan bahwa keterampilan EQ yang sama dapat membuat anak atau
siswa bersemangat tinggi dalam belajar, dan anak yang memiliki EQ yang
tinggi disukai oleh teman-temannya di area bermain, juga akan membantunya
dua puluh tahun kemudian ketika sudah masuk ke dunia kerja atau ketika
sudah berkeluarga.

C. Intellegence Quotient danEmotionalQuotient


1. Intellegence Quotient
a. PengertianIntellegenceQuotient
Menurut John. W. Santrock (2010), inteligensi adalah keahlian
memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada
pengalaman hidup serta belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.
Menurut Super &Cities(Dalyono, 2010: 182), pengertian inteligensi
dikatakan bahwa Inteligence has frequentlybeendefined as
theabilitytoadjusttotheenvironmentortolearnfromexperience artinya
inteligensi adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan
atau belajar dari pengalaman.
Selain itu, pendapat lain tentang pengertian inteligensi dikemukakan
oleh Heidentich (Haryu Islamudin, 2012:250) yaitu Intelligence refers
8

to the ability to learn and to utilize what has been learned in adjusting to
unfamiliar situation, or in the solving of problems artinya adalah
kecerdasan menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa
yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi
yang kurang dikenal, atau dalam pemecahan masalah-masalah.
b. Teori teori Intellegence Quotient
Kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan yang dimiliki
seseorang dalam belajar. Kecerdasan intelektual sering disebut sebagai
kecerdasan yang mengacu terhadap kemampuan kognitif seseorang, yaitu
kemampuan berpikir yang tinggi dalam usaha meningkatkan kemampuan
yang dimiliki.
1) Teori Uni-facktor
WilhelmStern memperkenalkan inteligensi dengan sebutan
Uni- factortheory. Menurut teori ini, inteligensi adalah
kemampuan umum. Reaksi terhadap lingkungan dalam
menyesuaikan diri mereka dan dalam memecahkan masalah bersifat
umum. Kapasitas umum itu dapat timbul akibat pertumbuhan
biologis atau akibat belajar.
2) Teori Two-faktors
Teori ini dikenal dengan sebutan Two kind of factors theory.
Artinya dalam teori belajar ini terdapat dua faktor mental terhadap
kecerdasan seseorang. Faktor G mewakili kekuatan mental yang
berfungsi dalam setiap tingkah laku mental individu, sedangkan
faktor S menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi
permasalahan. Faktor G yang terdapat dalam inteligensi seseorang,
memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mempelajari berbagai
ilmu pengetahuan. Sedangkan mereka yang inteligensinya terdapat
faktor S yaitu didasarkan pada gagasan. Artinya, fungsi otak
tergantung kepada ada dan tidaknya struktur atau koneksi yang tepat
bagi situasi atau masalah tertentu.
3) Teori Multi-Factors
9

Teori intelligensi Multi Faktors dikembangkan oleh E.L


Thorndike. Menurut teori ini, inteligensi terdiri dari bentuk-bentuk
hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan neural ini yang
dapat mengerahkan tingkah laku individu. Misalnya, ketika
seseorang mampu menghafal sebuah materi pembelajaran dengan
mudah, menghafal puisi.
4) Teori Primary-Mental-Abilities
Teori Primary-Mental-Abilities dikemukakan oleh L.L.
Thurstone. Menurut teori ini, inteligensi terbagi menjadi tujuh
kemampuan primer, yaitu sebagai berikut:
a) Kemampuan numerikal/matematis
b) Kemampuan verbal/ berbahasa
c) Kemampuan abstraksi berupa visualisasi atau berpikir
d) Kemampuan membuat keputusan, baik induktif maupun deduktif
e) Kemampuan mengenal dan mengamati
f) Kemampuan mengingat.
5) Teori Sampling
Menurut teori ini, inteligensi merupakan berbagai kemampuan
sampel. Masing masing bidang hanya terkuasai sebagian saja, dan
ini mencerminkan kemampuan mental seseorang.
2. EmotionalQuotient
a. Pengertian Emotional Quotient
Menurut Abu Ahmadi (1999: 32), kecerdasan emosional atau yang
biasa dikenal dengan EQ (bahasa Inggris: emotionalquotient)
adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola,
serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.
b. KemampuanKecerdasan Emotional
Menurut Ika Fauziah (2008), dalam jurnalnya berpendapat bahwa
beberapa kemampuan utama yang harus dimiliki yang berhubungan
dengan kecerdasan emosional. Kemampuan-kemampuan tersebut
10

mencakup lima wilayah utama kecerdasan emosional yaitu sebagai


berikut.
1) Kesadaran Diri ( Kemampuan Mengenali Emosi Diri )
Komponen pertama dari kecerdasan emosional adalah kesadaran
diri yaitu kemampuan untuk memahami emosi-emosi seseorang,
kekuatan dan kelemahan-kelemahannya.
2) Mengendalikan Emosi Diri ( SelfRegulation )
Pengendalian emosi oleh diri sendiri berarti berupaya untuk
meredam atau menahan gejolak nafsu yang sedang berlaku agar
emosi tidak terekspresikan secara berlebihan sehingga seseorang
tidak sampai dikuasai sepenuhnya oleh arus emosinya.
3) Motivasi Diri ( SelfMotivation )
Motivasi diri adalah dorongan hati untuk bangkit. Ia merupakan inti
secercah harapan dalam diri seseorang yang membawa orang itu
mempunyai cita-cita yang mendorongnya untuk meraih yang lebih
tinggi. Motivasi merupakan kepercayaan bahwa sesuatu dapat
dilakukan, bahkan ketika masalah menghadangnya. Jika seseorang
telah termotivasi, tidak ada seorang lain pun yang dapat mengambil
(merampas) kekuatan mereka untuk bergerak maju.
4) Empati
Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan jiwa dan
perasaan orang lain. Kemampuan empati ini sangat tergantung pada
kemampuan seseorang dalam merasakan perasaan diri sendiri dan
mengidentifikasi perasaan-perasaan tersebut.
5) Membina Hubungan (Relationship)
Membina hubungan merupakan keterampilan mengelola emosi
orang lain. Kecakapan jenis ini sangat membantu seseorang untuk
berkomunikasi dan menjalin hubungan serta kepercayaan dengan
orang lain.
c. Anatomi Saraf Emosi
11

Para ilmuwan sering membicarakan bagian otak yang digunakan


untuk berpikir, yaitu korteks. Kadang-kadang disebut neokorteks
sebagai bagian yang berbeda dari bagian otak yang mengurusi emosi
yakni sistem limbik tetapi sesungguhnya hubungan antara keduanya
yang menentukan kecerdasan emosional seseorang. Korteks terdir atas
empat lobus, dan kerusakan pada bagian lobusteretntu akan
menimbulkan masalah yang berbeda. Lobusoksipitalis misalnya, yang
terletak dibagian belakang kepala merupakan bagian otak yang
mengendalikan fungsi penglihatan. Luka pada bagian ini akan
menyebabkan sebagian medan penglihatan seseorang lenyap.
Sementara itu, kerusakan pada lobustemporalis, yang terletak tepat
dibagian belakang telinga di kedua sisi kepala, akan menyebabkan
masalah pada memori jangka panjang. Selain dipandang sebagai bagian
berpikir otak, korteks juga berperan penting dalam memahami
kecerdasan emosional. Korteks memungkinkan kita mempunyai
perasaan tentang perasaan kita sendiri.
Menurut Lawrence otak manusia dapat digolongkan dalam dua
fungsi, yaitu otak logika dan otak emosi. Bagian otak pengatur emosi
bekerja lebih cepat dan kuat, di bawah control korteks khususnya
lobusprontalmember makna terhadap situasi emosi yang dihadapi
sebelum bertindak. Itu sebabnya tanpa lobusprontal yang utuh,
seseorang terlihat tanpa normal, pandangan dari segi emosi orang itu
dangkal, tidak peduli, lesu, apatis, dan sangat tidak peka terhadap orang
lain.
Bagian terpenting dari emosi otak adalah sistem limbik. Sistem ini
mengatur emosi dan impuls. Bagian yang masuk dalam sistem ini
adalah Hippocampus tempat berlangsungnya pembelajaran emosi,
tempat disimpannya ingatan emosi, dan amigdala sebagai pusat
pengendalian emosi.
d. Menjadi orang tua ber EQ tinggi
12

Ada tiga gaya yang umum bagaimana orang tua menjalankan


perannya sebagai orang tua, yakni otoriter, permisif, dan otoritatif. Pada
umumnya, anak-anak yang berasal dari keluarga yang menerapkan
keotoriteran dan pengawasan ketat tidak menunjukkan pola yang
berhasil. Mereka cenderung tidak bahagia, penyendiri, dan sulit
mempercayai orang lain. Sebaliknya, orang tua yang permisif, berusaha
menerima dan mendidik sebaik mungkin tetapi cenderung sangat pasif
dalam memberikan batasan-batasan dalam melakukan sesuatu.
Orang tua otoritatif, berbeda dengan orang tua otoriter maupun
permisif. Mereka berusaha menyeimbangkan antara batas-batas yang
jelas dan lingkungan rumah yang baik untuk tumbuh. Orang tua
otoritatif menghargai kemandirian anak-anaknya, tetapi menuntut
mereka memenuhi standar tanggung jawab yang tinggi kepada
keluarga, teman, dan masyarakat. Dari setiap penelitian, orang tua
otoritatif dianggap mempunyai gaya yang lebih mungkin menghasilkan
anak-anak percaya diri, mandiri, imajinatif, mudah beradaptasi, dan
disukai banyak orang yakni anak-anak dengan kecerdasan emosional
berderajat tinggi. Kasih sayang afirmatif berarti menyediakan situasi
yang baik bagi perkembangan emosi anak, dan mendukung melalui cara
yang dengan jelas dikenal oleh anak. Kasih sayang ini berarti
melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan emosi anak. Hubungan
yang terbuka dan saling menyayangi dengananak akan memberikan
efek jangka panjang berupa meningkatnya citra diri, keterampilan
menguasai situasi, dan mungkin kesehatan anak.
Dr. RussellBarkley, salah satu pakar terkemuka Amerika dalam
penanganan gangguan akibat kurangnya perhatianpada anak,
mengemukakan dalam bukunya TakingChargeof ADHD, bahwa orang
tua dianjurkan meluangkan waktu khusus selama 20 menit per hari
bersam anaknya sebagai cara untuk menjamin anak-anak mendapatkan
manfat dari ungkapan kasih sayang yang afirmatif. Metode ini baik
diterapkan kepada semua anak, walaupun dalam banyak kasus
13

menyediakan waktu khusus dua atau tiga kali dalam seminggu akan
lebih realistis.
Bagi anak-anak berusia di bawah 9 tahun, Barkley menganjurkan
agar orang tua menetapkan waktu khusus untuk berpartisipasi dengan
anak-anaknya dalam kegiatan bermain. Menurut Barkley, prinsip umum
waktu khusus ini antara lain:
1. Memuji anak anda apabila ia berperilaku benar, tetapi pujian itu
harus akurat, jujur, dn tidak dibuat-buat
2. Tunjukkan minat anda akan apa yang sedang dilakukan anak
3. Jangan bertanya atau memerintah

Ada banyak buku tentang cara terbaik untuk mendisiplinkan anak,


namun disiplin yang efektif sebagaimana disebutkan dalam beberapa
buku dapat disarikan menjadi beberapa prinsip dan strategi sederhana
seperti membuat aturan dan batas yang jelas yang saling berkaitan dan
berlakukan dnegan tegasberbagai penelitian menunjukkan bahwa
keterampilan EQ yang sama membuat anak atau siswa yang
bersemangat tinggi dalam belajar dan disukai oleh teman-teman nya di
arena bermain.

Walaupun kecerdasan emosional belum lama menjadi istilah


popular seperti sekarang, penelitian tentang bidang ini tidak minim.
Selama lima puluh tahun terakhir, sudah ribuan penelitian yang
mempelajari perkembangan keterampilan EQ pada anak-anak.
Sayangnya, hanya sedikit diantara temuan ini yang memperoleh jalan
untuk diterapkan dalam praktik, terutama karena skisma antara
akademik yang terpaku pada paradigm statistik yang terencana dengan
cermat dan dunia para pejuang di garis depan yang harus menghadapi
keadaan yang berubah-ubah, yakni para guru dan profesional bidang
kesehatan mental.

e. Emosi Dari Segi Moral


14

Penelitian ilmiah tentang moralitas anak mempunyai potensi besar


untuk membantu dalam upaya memperbaiki nilai-nilai moral anak.
William Damon, seorang profesor Amerika dalam perkembangan moral
anak-anak dan remaja menyatakan anak-anak harus mendapatkan
keterampilan emosional sebagai berikut:
1) Mereka harus mengikuti dan memahami perbedaan antara perilaku
yang baik dan buruk serta mengembangkan kebiasaan dalam hal
perbuatan yang konsisten dengan sesuatu yang dianggap baik;
2) Mereka harus mengembangkan kepedulian, perhatian, dan rasa
tanggung jawab atas kesejahteraan dan hak-hak orang lain, yang
diungkapkan melalui sikap peduli, dermawan, ramah, dan pemaaf;
3) Mereka harus merasakan reaksi emosi negatif seperti malu,
bersalah, marah, takut, dan rendah diri bila melanggar aturan
moral.

Menurut William Damon, ada dua kelompok emosi, yakni emosi


negatif dan emosi positif. Emosi negatif sifatnya dapat memotivasi
anak-anak untuk belajar dan mempraktikkan perilaku prososial,
termasuk takut dihukum, kekhawatiran tidak diterima oleh orang lain,
rasa bersalah bila gagal memenhi harapan seseorang, dan malu
ketahuan berbuat sesuatu yang salah. Sementara itu, emosi positif akan
membentuk moral anak adalah empati dan apa yang disebut dengan
naluri pengasuhan, yang meliputi kemampuan untuk menyayangi.

f. Aplikasi pertimbangan faktor Emosional Anak Dalam Perencanaan


Perencanaan
Perlu adanya pertimbangan karakteristik siswa dalam merancang
pembelajaran. Satu diantaranya adalah emosional siswa. Ada suatu
pendapat bahwa melalukan pembelajaran dengan mempertimbangkan
faktor emosional, lebih banyak berhasil daripada lebih menonjolkan
faktor intelektual. Dengan demikian, faktor emosional anak
sebagaimana digambarkan diatas bukan sj menjadi acuan utama bagi
guru dalam merancang pembelajaran, tetapi lebih dari itu ternyata factor
emosional ini telah dijadiakan kondisi pembelajaran. Untuk itu
15

disarankan bagi guru atau calon guru yang merancang pembelajaran,


hendaknya mempertimbangkan factor emosional anak menjadi hal yang
tidak dapat diabaikan.

g. Keterkaitan Kecerdasan Emosional dalam Matematika


Menurut Robert K. Cooper dan AymanSawaf, membuat satu
konsep bahwa Kecerdasan emosional dianggap akan dapat membantu
siswa dalam mengatasi hambatan-hambatan psikologis yang ditemuinya
dalam belajar. Kecerdasan emosional yang dimiliki siswa sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar, karena emosi memancing tindakan
seorang terhadap apa yang dihadapinya. Pembelajaran matematika
merupakan pengembangan pikiran yang rasional bagaimana kita dapat
mereflesikan dalam kehidupan sehari-hari.

D. EQ Versus IQ
Para ilmuwan sosial berdebat tentang apa yang sebenarnya yang
membentuk IQ seseorang. Mereka mengungkapkan bahwa IQ dapat diukur
dengan menggunakan uji-uji kecerdasan standar, misalnya yang mengukur
baik kemampuan verbal maupun nonverbal, termasuk ingatan perbendaharaan
kata, wawasan, pemecahan masalah, abstraksi logika, persepsi, pengolahan
informasi, dan keterampilan motorik visual. Faktor inteligensia umum yang
diturunkan dari skala ini yang disebut IQ dianggap sangat stabil sesudah anak
berusia enam tahun dan bisanya berkorelasi dengan uji-uji bakat seperti ujian
masuk perguruan tinggi.
Salovey dan Mayer mula-mula mendefinisikan kecerdasan sosial yang
melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri
maupun pada orang lain, memili-milih semuanya, dan menggunakan
informasi untuk membimbing pikiran dan tindakan. Mereka keberatan istilah
EQ dipakai sebagai sinonim kecerdasan emosional, karena khawatir akan
menyesatkan sehingga dapat memunculkan anggapan bahwa ada pengujian
yang akurat untuk mengukur EQ atau ini dapat diukur. Namun, kenyataannya
16

meskipun EQ mungkin tidak pernah bisa diukur, tetapi masih mengandung


konsep yang bermakna. Walaupun kita tidak dapat begitu saja mengukur
bakat atau sifat-sifat khas seseorang misalnya keramahan, percaya diri atau
sikap hormat pada orang lain dan dapat mengenali sifat pada anak-anak dan
sepakat bahwa sifat-sifat tersebut mempunyai nilai penting. kepopuleran dan
besarnya perhatian media akan buku Goleman membuktikan kenyataan
bahwa orang secara intuitif memahami makna dan pentingnya kecerdasan
emosional, dan mengenal EQ sebagai sinonim konsep ini, sebagaimana
mereka mengenal IQ sebagai sinonim kecerdasan kognitif. Keterampilan EQ
bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya
berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia
nyata. Idealnya, seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus
keterampilan sosial dan emosional.

E. Implementasi pengembangan IQ dan EQ


Selain dengan asupan gizi yang cukup dan seimbang ke dalam tubuh,
untuk mengoptimalisasikan kecerdasan intelektual atau IQ dapat diupayakan
dengan melatih 7 kemampuan primer dari inteligensi umum, yaitu :
1. Pemahaman verbal,
2. Kefasihan menggunakan kata-kata,
3. Kemampuan bilangan,
4. Kemampuan ruang,
5. Kemampuan mengingat,
6. Kecepatan pengamatan,
7. Kemampuan penalaran.
Untuk mengoptimalisasikan kecerdasan emosi (EQ) seseorang dapat
dilakukan dengan mengasah kecerdasan emosi setiap individu yang meliputi :
1. Membiasakan diri menentukan perasaan dan tidak cepat-cepat menilai
orang lain/situasi
2. Membiasakan diri menggunakan rasa ketika mengambil keputusan
3. Melatih diri untuk menggambarkan kekhawatiran
17

4. Membiasakan untuk mengerti perasaan orang lain


5. Melatih diri menunjukan empati
6. Melatih bertanggungjawab terhadap perasaannya sendiri
7. Melatih diri untuk mengelola perasaan dengan baik
8. Menghadapi segala hal secara positif.

F. Pengaruh IQ dan EQ
Individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik,
dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, lebih
terampil dalam memusatkan perhatian, lebih baik dalam berhubungan dengan
orang lain, lebih cakap dalam memahami orang lain dan untuk kerja akademis
di sekolah lebih baik. Keterampilan dasar emosional tidak dapat dimiliki
secara tiba-tiba, tetapi membutuhkan proses dalam mempelajarinya dan
lingkungan yang membentuk kecerdasan emosional tersebut besar
pengaruhnya.
Hal positif akan diperoleh bila anak diajarkan keterampilan dasar
kecerdasan emosional, secara emosional akan lebih cerdas, penuh pengertian,
mudah menerima perasaan-perasaan dan lebih banyak pengalaman dalam
memecahkan permasalahannya sendiri, sehingga pada saat remaja akan lebih
banyak sukses di sekolah dan dalam berhubungan dengan rekan-rekan sebaya
serta akan terlindung dari resiko-resiko seperti obat-obat terlarang,
kenakalan, kekerasan serta seks yang tidak aman.
Hasil beberapa penelitian di University of Vermont mengenai analisis
struktur neurologis otak manusia dan penelitian perilaku oleh Le Doux (1970)
Menunjukkan bahwa dalam peristiwa penting kehidupan seseorang, EQ
selalu mendahului intelegensi rasional. EQ yang baik dapat menentukan
keberhasilan individu dalam prestasi belajar membangun kesuksesan karir,
mengembangkan hubungan suami-istri yang harmonis dan dapat mengurangi
agresivitas, khususnya dalam kalangan remaja.
Menurut Goleman, khusus pada orang-orang yang murni hanya memiliki
kecerdasan akademis tinggi, mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang
18

tidak beralasan, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin
dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara
tepat. Bila didukung dengan rendahnya taraf kecerdasan emosionalnya, maka
orang-orang seperti ini sering menjadi sumber masalah. Karena sifat-sifat di
atas, bila seseorang memiliki IQ tinggi namun taraf kecerdasan emosionalnya
rendah maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit
bergaul, mudah frustrasi, tidak mudah percaya kepada orang lain, tidak peka
dengan kondisi lingkungan dan cenderung putus asa bila mengalami stress.
Kondisi sebaliknya, dialami oleh orang-orang yang memiliki taraf IQ rata-
rata namun memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, sehingga sering kita
dapati seseorang yang sudah terbiasa dengan kehidupan organisasi yang
banyak melibatkan kecerdasan emosional lebih berhasil.

G. Faktor-Faktoryang Mempengaruhi Inteligensi Seseorang


a. Pembawaan
Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat yang telah ada sejak lahir. Hal
demikian terjadi karena kemampuan peserta didik yang berbeda yaitu
memiliki kecerdasan yang baik dan tidak memiliki kecerdasan yang
kurang baik.
b. Kematangan
Kematangan itu dapat disebut sebagai kesanggupan organ tubuh
dalam menjalankan fungsinya masing-masing. Misalnya, seorang siswa
menerima soal namun tidak dapat mengerjakan dengan baik, dan merasa
sukar karena soal tersebut masih sangat sukar baginya. Hal demikian
terjadi karena, kapasitas soal yang diterima belum sesuai dengan usia anak
didik.
c. Pembentukan
Pembentukan dapat diartikan sebagai segala keadaan diluar diri
seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Pembentukan
itu dapat dilakukan dengan sengaja (belajar disekolah) dan pembentukan
tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
19

d. Minat dan pembawaan yang khas


Minat mengarahkan perbuatan manusia kepada tujuan yang hendak
dicapai. Dalam diri manusia terdapat dorongan dorongan yang
mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.
e. Kebebasan
Kebebasan berarti manusia dapat memilih metode-metode yang
hendak digunakan dalam memecahkan masalah.
20

BAB III

Penutup

A. Kesimpulan
1. Kemampuan matematika yang dipilih dalam Standar Kompetensi
dirancang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik dengan
memperhatikan perkembangan pendidikan matematika di dunia Dari
kompetensi-kompetensi yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa
kompetensi tersebut terkait dengan kecerdasan akademik dan kecerdasan
emosional.
2. Berbagai penilitian menemukan keterampilan sosial dan emosional akan
semakin penting peranannya dalam kehidupan daripada kemampuan
intelektual. Atau dengan kata lain memiliki EQ tinggi mungkin lebih
penting dalam pencapaian keberhasilan daripada IQ tinggi yang diukur
berdasarkan uji standar terhadap kecerdasan kognitif verbal dan nonverbal.
3. Kecerdasan intelektual sering disebut sebagai kecerdasan yang mengacu
terhadap kemampuan kognitif seseorang, yaitu kemampuan berpikir yang
tinggi dalam usaha meningkatkan kemampuan yang dimiliki. kecerdasan
emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (bahasa
Inggris: emotionalquotient)adalah kemampuan seseorang
untuk menerima,menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan
orang lain di sekitarnya.
4. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan
kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan
konseptual maupun di dunia nyata. Idealnya, seseorang dapat menguasai
keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial dan emosional.
5. Penerapanpengemabangan IQ dan EQ
dapatterlihatapadakemampuannyadalammenilaisituasi..
21

6. Menurut Goleman, khusus pada orang-orang yang murni hanya memiliki


kecerdasan akademis tinggi, mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang
tidak beralasan, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan
dingin dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya
secara tepat. Bila didukung dengan rendahnya taraf kecerdasan
emosionalnya, maka orang-orang seperti ini sering menjadi sumber
masalah. Karena sifat-sifat di atas, bila seseorang memiliki IQ tinggi
namun taraf kecerdasan emosionalnya rendah maka cenderung akan
terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit bergaul, mudah frustrasi,
tidak mudah percaya kepada orang lain, tidak peka dengan kondisi
lingkungan dan cenderung putus asa bila mengalami stress. Kondisi
sebaliknya, dialami oleh orang-orang yang memiliki taraf IQ rata-rata
namun memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, sehingga sering kita
dapati seseorang yang sudah terbiasa dengan kehidupan organisasi yang
banyak melibatkan kecerdasan emosional lebih berhasil.
7. Faktor-faktor yang meliputi intellegensi seseorang dapat meliputi
:pembawaan, kematangan, pembentukan, minat dan pembawaan yang khas
dan kebebasan.

B. Saran
Keterlibatan kecerdasan intrapribadi dan interpribadi tidak hanya dilihat
secara klasikal, tetapi juga dilihat bagaimana keterlibatan kedua kecerdasan
tersebut pada setiap siswa. Untuk calon guru, hendaknya mempelajari tentang
IQ dan EQ agar kelak saat menghadapi siswa-siswi, sudah memahami
bagaimana menghadapi siswa yang berbeda IQ dan EQ nya.
DAFTAR PUSTAKA

Hamzah,Uno.2010. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta. PT Bumi Aksara

George, Boeree. 2010. Metode Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta. Ar-


Ruzz Media

Amin, Siti. 2007. Pembelajaran Matematika Yang Melibatkan Kecerdasan


Intrapribadi Dan Interpribadi. Jurnal pendidikan Matematika. Diambil
dari ejournal.unsri.ac.id/index.php./jpm/article/viem/809. (20
September 2017)

Hanifah, Ifa. 2008. Hubungan Antara Prestasi Belajar Dengan Kecerdasan


Emosional. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Februari 2013. VOL. XIII, NO.
2, 384-399. Diambil dari
jurnal.arraniry.acid./index.php/didaktika/article /view/485. (20 Januari
2017).