Anda di halaman 1dari 8

1

BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi Surveilans Epidemiologi


Surveilans berasal dari bahasa Perancis yaitu survellance yang berarti
mengamati tentang sesuatu. Dalam bahasa Inggris yaitu Surveillance yang
berarti mengawasi perorangan yang sedang dicurigai. Dalam The Centers for
Disease Control (CDC) surveilans yaitu the ongoing systematic collection,
analysis and interpretation of health data essential to planning
implementation, and evaluation of public health practice, closely integrated
with the timely dissemination of these data to those who need to know. The
final link of the surveillance chains is the application of these data to
prevention and control. Definisi tersebut dapat diterjemahkan yaitu surveilans
adalah suatu kegiatan pengumpulan data kesehatan secara sistematis dan terus
menerus, dan dianalisis kemudian di interpretasikan untuk perencanaan dan
evaluasi praktik kesehatan masyarakat. Data tersebut disebarluaskan pada
orang-orang yang berkaitan. Pada akhirnya pemantauan ini bertujuan untuk
pencegahan dan pengendalian ( Nasry Noor,2008 ).
Adapun definisi Surveilans yaitu pengumpulan data epidemiologi yang
akan digunakan sebagai dasar dari kegiatan-kegiatan dalan bidang
penanggulangan penyakit, yaitu :
1. Perencanaan program pemberantasan penyakit;
2. Evaluasi program pemberantasan penyakit;
3. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ Wabah (Karyadi, 1994).
Definisi Surveilans lainnya yaitu kegiatan analisis secara sistematis dan
terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi
yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau
masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data,

1
2

pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada


penyelenggara program kesehatan (Kemenkes RI, 2012)
Berdasarkan kedua definisi diatas, maka surveilans merupakan kegiatan
pengumpulan data secara sistematis dan terus-menerus, lalu data diolah dan
dianalisis sehingga menjadi informasi. Informasi tersebut disebarluaskan ke
orang-orang yang berkepentingan sehingga informasi tersebut dapat
digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian secara
efektif dan efisien.
Adapun sistem surveilans merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan
surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara
surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat
kajian dan penyelenggara program kesehatan meliputi tata hubungan
surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/ Kota, Provinsi dan Pusat.

B. Tujuan Surveilans Epidemiologi


Tujuan utama epidemiologi surveilans adalah untuk memperoleh
gambaran kejadian morbiditas dan mortalitas serta kejadian peristiwa vital
secara teratur sehingga dapat digunakan dalam berbagai kepentingan
perencanaan dan tindakan yang berkaitan dengan kesehatan dalam
masyarakat. Secara rinci tujuan tersebut dapat meliputi hal berikut ini (
Nasry Noor,2008 ).
1. Identifikasi, investigasi dan penanggulangan situasi luar biasa atau wabah
yang terjadi dalam masyarakat sedini mungkin.
2. Identifikasi kelompok tertentu dengan risiko tinggi.
3. Untuk penentuan penyakit dengan prioritas penanggulangannya.
4. Untuk bahan evaluasi antara input pada berbagai program kesehatan
dengan hasil luarannya berupa insiden dan prevalensi penyakit dalam
masyarakat.
5. Untuk memonitoring kecenderungan (tren) perkembangan situasi
kesehatan maupun penyakit dalam masyarakat.
3

C. Klasifikasi Jenis Pendekatan Surveilans Epidemiologi


Pendekatan surveilans dapat dibagi menjadi dua jenis:
(1) Surveilans pasif; Surveilans pasif memantau penyakit secara pasif,
dengan menggunakan data penyakit yang harus dilaporkan (reportable
diseases) yang tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan. Kelebihan surveilans
pasif, relatif murah dan mudah untuk dilakukan. Negara-negara anggota
WHO diwajibkan melaporkan sejumlah penyakit infeksi yang harus
dilaporkan, sehingga dengan surveilans pasif dapat dilakukan analisis
perbandingan penyakit internasional. Ciri surveilans pasif yaitu:
a. Unit surveilans epidemiologi membiarkan penderita melaporkan diri pada
klinik/rumah sakit/unit pelayanan yang berfungsi sebagai unit-unit
surveilans terdepan dalam pengumpulan data surveilans.
b. Unit surveilans epidemiologi membiarkan klinik/rumah sakit/unit
pelayanan sebagai unit surveilans terdepan melaporkan data surveilans
yang ada di tempatnya.
Kelebihan surveilans pasif, relatif murah dan mudah untuk dilakukan.
Negara-negara anggota WHO diwajibkan melaporkan sejumlah penyakit
infeksi yang harus dilaporkan, sehingga dengan surveilans pasif dapat
dilakukan analisis perbandingan penyakit internasional. Kekurangan
surveilans pasif adalah kurang sensitif dalam mendeteksi kecenderungan
penyakit. Data yang dihasilkan cenderung under-reported, karena tidak semua
kasus datang ke fasilitas pelayanan kesehatan formal. Selain itu, tingkat
pelaporan dan kelengkapan laporan biasanya rendah, karena waktu petugas
terbagi dengan tanggungjawab utama memberikan pelayanan kesehatan di
fasilitas kesehatan masing-masing. Untuk mengatasi problem tersebut,
instrumen pelaporan perlu dibuat sederhana dan ringkas.
(2) Surveilans aktif; Surveilans aktif menggunakan petugas khusus
surveilans untuk kunjungan berkala ke lapangan, desa-desa, tempat praktik
pribadi dokter dan tenaga medis lainnya, puskesmas, klinik, dan rumah sakit,
dengan tujuan mengidentifikasi kasus baru penyakit atau kematian, disebut
penemuan kasus (case finding), dan konfirmasi laporan kasus indeks.
4

Ciri-ciri surveilans aktif, yaitu:


a. Unit surveilans melakukan skrining dari rumah ke rumah, sehingga tidak
ada satu pun kasus yang lepas dari pendataan.
b. Unit surveilans mendatangi setiap unit sumber data untuk meminta data
surveilans epidemiologi yang dibutuhkan sehingga tidak ada satu pun data
yang tidak terekam olehnya.
Kelebihan surveilans aktif, lebih akurat daripada surveilans pasif, sebab
dilakukan oleh petugas yang memang dipekerjakan untuk menjalankan
tanggungjawab itu. Selain itu, surveilans aktif dapat mengidentifikasi
outbreak lokal. Kelemahan surveilans aktif, lebih mahal dan lebih sulit untuk
dilakukan daripada surveilans pasif.
Sistem surveilans dapat diperluas pada level komunitas, disebut
community surveilance. Dalam community surveilance, informasi
dikumpulkan langsung dari komunitas oleh kader kesehatan, sehingga
memerlukan pelatihan diagnosis kasus bagi kader kesehatan. Definisi kasus
yang sensitif dapat membantu para kader kesehatan mengenali dan merujuk
kasus mungkin (probable cases) ke fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Petugas kesehatan di tingkat lebih tinggi dilatih menggunakan definsi kasus
lebih spesifik, yang memerlukan konfirmasi laboratorium. Community
surveilans mengurangi kemungkinan negatif palsu (JHU, 2006).

D. Elemen Elemen Surveilans Epidemiologi


1. Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan kegiatan awal dalam pelaksanaan surveilans
epidemiologi data yang dikumpulkan diolah agar mampu menghasilkan
informasi epidemiologi. Dalam pengumpulan data, diperlukan pencatatan
yang baik agar hasil analisis data dapat menghasilkan informasi secara utuh.
Data yang dikumpulkan di dinas kesehatan kota sebagaimana yang terdapat
pada Kepmenkes RI Nomor 1479/Menkes/SK/X/2003 dapat bersifat rutin dan
atau tidak rutin/insidental. Data yang dikumpulkan berasal dari UPTD (Unit
Pelaksana Teknis Daerah) di bawah dinkes kota ( Kasjono, 2008 ).
5

2. Kompilasi dan Analisis Data


Kompilasi data merupakan pengelompokan data berdasarkan karakteristik
tertentu. Kompilasi data DBD di Dinas Kesehatan Kota Kediri dilakukan
berdasarkan orang (umur, jenis kelamin), waktu (bulan dan tahun), tempat
(kecamatan dan puskesmas) dan klasifikasi endemisitas wilayah.
3. Interpretasi Data
Dinas Kesehatan Kota Kediri telah melakukan interpretasi atau pemberian
makna pada hasil analisis data DBD. Data yang diinterpretasi adalah analisis
perbandingan capaian program, analisis cakupan program dan analisis
kecenderungan berdasarkan kelompok umur. Interpretasi data DBD
berbentuk deskripsi yang terdapat dalam profi l dinas kesehatan. Indikator
interpretasi data DBD adalah IR, CFR dan distribusi menurut umur. Menurut
Weraman (2010), interpretasi data disajikan dalam bentuk yang lebih jelas
dan sederhana berdasarkan waktu, tempat dan orang.
4. Diseminasi Informasi
Umpan balik merupakan bagian dari proses diseminasi informasi
surveilans. Menurut Mc Nabb dan Chungong (2002) umpan balik adalah
proses penyebarluasan informasi dari unit kesehatan yang diberi laporan ke
unit kesehatan pemberi laporan. Dalam hal ini alur informasi kesehatan dari
tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Noor (2008)
menyatakan bahwa umpan balik dapat ditujukan kepada instansi yang tingkat
administrasinya lebih rendah sebagai timbal balik dari pelaporan, instansi
terkait dan masyarakat.
E. Jenis Penyelenggaraan Surveilans
Pelaksanaan surveilans dapat menggunakan satu cara atau kombinasi dari
beberapa jenis penyelenggaraan surveilans.
Adapun jenis penyelenggaraan surveilans adalah sebagai berikut :
1. Penyelenggaraan surveilans epidemiologi berdasarkan metode
pelaksanaan
6

a. Rutin Terpadu yaitu penyelenggaraan surveilans epidemiologi


pada bebeapa kejadian, permasalahan, factor risiko atau
masalah khusus kesehatan
b. Khusus yaitu penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada
suatu kejadian, permasalahan, factor risiko atau masalah
khusus kesehatan
c. Sentinel yaitu penyelenggaraan surveilans epidemiologi
berdasarkan populasi, wilayah terbatas untuk mendapatkan
signal adanya masalah kesehatan pada suatu populasi atau
wilayah yang lebih luas.
d. Epidemiologi yaitu penyelenggaraan surveilans epidemiologi
pada periode tertentu serta populasi dan atau wilayah tertentu
untuk mengetahui lebih mendalam gambaran epidemiologi
penyakit, permasalahan dan atau factor risiko kesehatan.
2. Penyelenggaraan surveilans epidemiologi berdasarkan aktifitas
pengumpulan data
a. Aktif yaitu penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang
mana kegiatan surveilans mengumpulkan data dengan cara
mendatangi unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau umber
lainnya.
b. Pasif yaitu penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang
mana kegiatan surveilans mengumpulkan data cara menerima
data dari unit pelayanan kesehatan, masyarakat dan sumber
lainnya.
3. Penyelenggaraan Surveilans epidemiologi berdasarkan pola pelaksanaan
a. Pola kedaduratan yaitu kegiatan surveilans yang mengacu pada
ketentuan yang berlaku untuk penanggulangan KLB/ wabah/
bencana
b. Pola selain kedaduratan yaitu kegiatan surveilans yang
mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk selain KLB/
wabah/ bencana.
7

4. Kualitas pelaksanaan
a. Bukti klinis /tanpa peralatan pemeriksaan adalah kegiatan
surveilans yang dimana data diperoleh berdasarkan
pemeriksaan klinis atau tidak menggunakan peralatan
pendukung pemeriksaan.
b. Bukti laboratorium dengan peralatan khusus adalah kegiatan
survailans yang dimana data diperoleh berdasarkan
pemeriksaan khusus atau menggunakan peralatan pendukung
pemeriksa lainnya.
F. Mekanisme Kerja Surveilans
Kegiatan surveilans epidemiologi kesehatan merupakan kegiatan yang
dilaksanakan secara terus menerus dan sistematis dengan mekanisme kerja
sebagai berikut :
1. Identifikasi kasus dan masalah kesehatan serta informasi terkait lainnya.
2. Perekaman , pelaporan dan pengolahan data
3. Analisis dan interpretasi data
Kegiatan surveilans epidemiologi seperti rate, proporsi, rasio dan lain-
lainnya untuk mengetahui situasi, estimasi dan prediksi penyakit. Data
yang sudah diolah selanjutnya dianalisis dengan membandingkan data
bulanan atau tahun-tahun sebelumnya, sehingga diketahui ada peningkatan
atau penurunan, dan mencari hubungan penyebab penyakit.
4. Studi epidemiologi
5. Penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkannya
Cara penyebarluasan informasi yang dilakukan yaitu membuat suatu
laporan hasil kajian yang disampaikan kepada atasan , membuat laporan
kajian untuk seminar dan pertemuan, membuat suatu tulisan dimajalah
rutin, memanfaatkan media internet yang setiap saat dapat di akses dengan
mudah
6. Membuat rekomendasi dan alternative tindak lanjut
7. Umpan balik
8

Kegitan umpan balik dilakukan secara rutin biasanya setiap bulan saat
menerima laporan setelah diolah dan dinalisa melakukan umpan balik
kepada unit kesehatan yang melakukan laporan dengan tujuan agar yang
mengirim laporan mengetahui bahwa laporannya telah diterima dan
sekaligus mengoreksi dan member petunjuk tentang laporan yang diterima.
Kemudian mengadakan umpan balik laporan berikutnya akan tepat waktu
dan benar pengisiannya. Cara pemberian umpan balik dapat melalui surat
umpan balik, penjelasan pada saat pertemuan serta pada saat melakukan
pembinaan/supervise.
Bentuk dari umpan balik bias berupa ringkasan dari informasi yang
dimuat dalam bulletin (news letter) atau surat yang berisi pertanyaan-
pertanyaan sehubungan dengan yang dilaporkan atau berupa kunjungan
ketempat asal laporan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Laporan perlu diperhatikan waktunya agar terbitnya selalu tepat pada
waktunya, selain itu bila mencantumkan laporan yang diterima dari eselon
bawahan, sebaliknya yang dicantumkan adalah tanggal penerimaan
laporan.