Anda di halaman 1dari 51

MAKALAH

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN


( CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)
STUDI KASUS DI PT TELKOMSEL

Tugas ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah

Manajemen Strategik

Kelas VII-B
Kelompok 11
Lia Rosalina 41152010140012
Riska Novilaria
Restu Destian S 41152010140184

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS LANGLANGBUANA
BANDUNG
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu. Dengan
pembuatan Makalah ini bermaksud untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah
Manajemen Strategik mengenai Tanggung jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social
Responsibility).

Dan tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini . kami menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan oleh karena itu kami menerima kritik dan saran yang
membangun untuk memperbaiki pembuatan makalah selanjutnya.
Atas kritik dan saran yang diberikan, kami ucapkan terima kasih.

Bandung , Oktober 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... I

DAFTAR ISI.....................................................................................................................II

BAB I...............................................................................................................................IV

PENDAHULUAN...........................................................................................................IV

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH................................................................................ IV


1.2. IDENTIFIKASI MASALAH......................................................................................... IV
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN........................................................................................... IV

BAB II...............................................................................................................................1

PEMBAHASAN...............................................................................................................1

2.1. PERKEMBANGAN KONSEP TANGGUNG JAWAB SOSIAL..........................................1


A. PENGERTIAN DARI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)...................................2
B. SEJARAH DARI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR).........................................4
C. DASAR HUKUM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR).......................................7
D. HUBUNGAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DENGAN BISNIS....................7
E. PRINSIP-PRINSIP YANG HARUS DIPEGANG DALAM MELAKSANAKAN CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR)........................................................................................................8
F. KOMPONEN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)..............................................9
G. INDIKATOR KEBERHASILAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)...................10
H. MANFAAT CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)..............................................10
I. ISO 26000..................................................................................................................12
2.2. JENIS-JENIS TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN MULTINASIONAL..........................18
A. TANGGUNG JAWAB EKONOMI...................................................................................18
B. TANGGUNG JAWAB HUKUM......................................................................................19
C. TANGGUNG JAWAB SOSIAL.......................................................................................19
D. BENTUK CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)..............................................20
E. POLA CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)...................................................21
2.3. PANDANGAN MILTON FRIEDMAN MENGENAI TANGGUNG JAWAB SOSIAL
PERUSAHAAN...................................................................................................................23
A. MILTON FRIEDMAN...................................................................................................23
B. PANDANGAN TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR).....................23
2.4. PANDANGAN THE BUSINESS ROUNDTABLE MENGENAI TANGGUNG JAWAB SOSIAL
PERUSAHAAN...................................................................................................................25
A. THE BUSINESS ROUNDTABLE....................................................................................25
B. PANDANGAN TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR).....................26
2.5. SEPULUH TANTANGAN CSR DALAM 10 TAHUN KEDEPAN MENURUT CSR ASIA. 27
A. CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) ASIA..................................................27
B. TANTANGAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) ASIA.............................28
2.6. STUDI KASUS CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DI PT TELKOMSEL..........31

3
BAB III...........................................................................................................................31

PENUTUP.......................................................................................................................31

A. KESIMPULAN...........................................................................................................31
B. SARAN......................................................................................................................31

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................32

4
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Hari Raya Idul Fitri atau yang biasa disebut dengan lebaran menjadi
momentum yang sangat penting dan merupakan fenomena sosial bagi sebagian
masyarakat di Indonesia untuk mudik ke kampung halamannya. Selain untuk
memanfaatkan libur hari raya untuk berkumpul dengan keluarga di kampung
halaman, mudik juga memiliki efek perbaikan hidup atau terapi untuk
menghilangkan rasa kehilangan bagi mereka yang hidup jauh dari orang tua dan
keluarga. Oleh karena itu, ketersediaan transportasi serta pelayanan yang baik untuk
mudikpun harus selalu ditingkatkan guna untuk terus memberikan kenyamanan bagi
para pemudik. Apalagi pada tahun 2015, pemerintah memperkirakan jumlah
pemudik akan meningkat sekitar 1,96% dibandingkan tahun 2014 yang mencapai
sekitar 36 juta orang. Khusus yang menggunakan angkutan jalan, pada 2015,
menurut data Kementerian Perhubungan (kemenhub) mencapai sebanyak 4.918.964
orang. Sedangkan jumlah mobil pribadi yang dipakai mudik Lebaran ditaksir
sebanyak 1.686.369 unit dan sepeda motor 2.022.343 unit. (kominfo.go.id).

Di sisi lain, dalam rangka untuk melengkapi momentum lebaran tahun ini
banyak perusahaan yang ada di Indonesia baik perusahaan milik pemerintah
maupun milik swasta melaksanakan berbagai macam program yang dapat dirasakan
manfaatnya secara langsung oleh masyarakat, salah satunya yaitu program
corporate social responsibility. Ditambah lagi seiring dengan pertumbuhan dan
perkembangan dunia bisnis yang semakin meningkat setiap tahunnya serta
persaingan bisnis yang semakin ketat, bagi setiap perusahaan corporate social
responsibility merupakan cara yang tepat dan perlu dilakukan sebagai bentuk
tanggungjawab perusahaan terhadap sekitar, baik lingkungan maupun masyarakat.
Perusahaan yang baik dan positif akan terus meningkatkan tanggungjawabnya
terhadap masyarakat dan lingkungan agar terus terjalin hubungan yang seimbang
satu sama lain.

Program corporate social responsibility bisa dilakukan dengan membuat


program berupa mudik bareng untuk menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap
para stakeholders selain itu juga dapat membantu meringankan biaya perjalanan
bagi masyarakat yang kurang memiliki biaya untuk pulang ke kampung halaman.
Mengingat bahwa dalam beberapa kasus kenyamanan pemudik di perjalanan masih
5
menjadi sesuatu yang mahal dan sulit untuk dimiliki, kenyamanan pemudik hanya
dapat dirasakan bagi mereka yang memiliki ekonomi diatas rata-rata sedangkan
orang-orang menengah ke bawah memiliki kenyamanan yang masih jauh dari
harapan. Ditambah lagi selain untuk meningkatkan profit perusahaan, program
corporate social responsibility juga dibuat untuk membangun citra dan
meningkatkan reputasi perusahaan dimata publik. Melihat situasi sosial dalam
momentum lebaran yang terjadi saat ini, membuat beberapa perusahaan besar
melakukan kegiatan yang bersifat sosial untuk menunjukkan kepeduliannya kepada
para stakeholders, salah satunya yaitu Telkomsel.

Telkomsel merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun 1995 dengan


berkantor pusat di Jakarta. Telkomsel merupakan anak perusahaan milik PT Telkom
atau PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang bergerak dibidang jaringan
telekomunikasi. Telkomsel memiliki reputasi yang baik dimata publik, hal ini
terbukti pada tahun 2015 Telkomsel merupakan perusahaan provider yang memiliki
jumlah pelanggan terbesar di Indonesia, yaitu sebesar 143 juta pelanggan.
(www.cnnindonesia.com). Sehingga untuk terus meningkatkan reputasi perusahaan,
bertepatan dengan momentum lebaran, Telkomsel membuat program corporate
social responsibility Mudik Bareng Telkomsel 2015 yang merupakan salah satu
kegiatan dari Telkomsel Siaga. Program Mudik Bareng Telkomsel 2015 ini
diharapkan dapat memberikan manfaat lebih bagi para stakeholders.

Program Mudik Bareng Telkomsel 2015 ini merupakan kegiatan tahunan


yang dilakukan oleh Telkomsel sebagai bentuk kepedulian perusahaan untuk
berbagi kepada para stakeholders terutama para pelanggan setia dan pedagang
pulsa/perdana (Mitra Outlet) yang ingin merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung
halamannya. Sebab Telkomsel senantiasa selalu berupaya untuk terus memberikan
kenyaman untuk para stakeholders sehingga tetap setia menggunakan layanan dan
produk yang diberikan oleh Telkomsel.

6
Identifikasi Masalah

Berdasarkan permasalah yang telah dipaparkan diatas, penulis tertarik untuk


membahas mengenai:
1. Bagaimana reputasi perusahaan PT Telkomsel?

2. Mengapa PT Telkomsel mengadakan program corporate social


responsibility Mudik Bareng Telkomsel 2015?
3. Apa strategi PT Telkomsel dalam penerapan program corporate social
responsibility Mudik Bareng Telkomsel 2015?

Maksud Dan Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:

1. Menganalisis bagaimana reputasi perusahaan PT Telkomsel


2. Menganalisis mengapa PT Telkomsel mengadakan program corporate
social responsibility Mudik Bareng Telkomsel 2015
3. Menganalisis strategi PT Telkomsel dalam penerapan program corporate
social responsibility Mudik Bareng Telkomsel 2015

7
BAB II
PEMBAHASAN

Perkembangan Konsep Tanggung jawab Sosial

Lima puluh tahun yang lalu, H.R Bowen berpendapat bahwa para pelaku bisnis memiliki
kewajiban untuk mengupayakan suatu kebijakan, membuat keputusan atau melaksanakan
berbagai tindakan yang sesuai dengan tujuan dan nilai nilai masyarakat ( Wartick dan
Cochran, 1985) . Pendapat bowen tersebut telah memberikan kerangka dasar bagi
pengembangan konsep tanggung jawab social perusahaan ( corporate social responsibility).

Sebagaimana ditekankan oleh Bowen kewajiban atau tanggung jawab social dari perusahan
bersandar pada keselarasan antara tujuan-tujuan ( Objectives) dan nilai-nilai perusahaan
( Corporate Value ) dengan berbagai tujuan dan nilai-nilai dari suatu masyarakat. Kedua hal
yang telah disebutkan oleh Bowen, yakni keselarasan dengan tujuan dan nilai-nilai
masyarakat merupakan dua premis dasar tanggung jawab social perusahaan.

Premis pertama , perusahaan bias ada dalam suatu masyarakat karena adanya dukungan dari
masyarakat. Oleh sebab itu perilaku perusahaan dan cara yang digunakan perusahaan untuk
menjalankan bisnis harus ada dalam bingkai pedoman yang ditetapkan masyarakat. Dalam hal
ini, seperti halnya pemerintah perusahaan memiliki kontrak social (social conract) yang berisi
sejumlah hak dan kewajiban. Kontrak social itu akan mengalami perubahan sejalan dengan
kondisi perubahan masyarakat. Tetapi apapun perubahan yang terjadi kontrak social tersebut
tetaplah merupakan dasar bagi legitimasi bisnis. Kontrak sosial ini pula yang akan menjadi
wahana bagi perusahaaan untuk menyesuaikan tujuan-tujuan perusahaan dengan tujuan-tujuan
masyarakat yang pelaksanaannya dimanifestasikan dalam bentuk tanggung jawab sosial
perusahaan.

Premis kedua, yang mendasari tanggung jawab sosial adalah bahwa pelaku bisnis bertindak
sebagai agen moral ( Moral agent) dalam suatu masyarakat. Pembuatan keputusan yang
dilakukan oleh pimpinan puncak perusahaan senantiasa melibatkan pertimbangan nilai atau
mencerminkan nilai nilai yang dimiliki oleh manajemen puncak. Oleh sebab itu agar terjadi
keselarasan antara nilai-nilai yang dimilki perusahaan dengan nilai-nilai yang dimiliki
masyarakat, maka manajer perusahaan harus berperilaku sesuai dengan nilai- nilai
masyarakat. Premis kedua ini memuat dimensi etis dari tanggung jawab sosial.

.A Pengertian dari Corporate Social Responsibility (CSR)

8
CSR adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun
hubungan harmonis dengan masyarakat setempat. Secara teoretik, CSR dapat
didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para strategic-
stakeholdersnya, terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan
operasinya. CSR memandang perusahaan sebagai agen moral. Dengan atau tanpa
aturan hukum, sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas. Parameter
keberhasilan suatu perusahaan dalam sudut pandang CSR adalah pengedepankan
prinsip moral dan etis, yakni menggapai suatu hasil terbaik, tanpa merugikan
kelompok masyarakat lainnya. Salah satu prinsip moral yang sering digunakan adalah
golden-rules, yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak memperlakukan
orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan. Dengan begitu,
perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan
memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat.

Menurut Nor Hadi, (2011:48) pengertian CSR adalah :

CSR merupakan suatu satu bentuk tindakan yang berangkat dari pertimbangan etis
perusahaan yang diarahkan untuk meningkatkan ekonomi, yang disertai dengan
peningkatan kualitas hidup bagi karyawan berikut keluarganya, serta sekaligus
peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar dan masyarakat secara lebih luas.

Menurut (Nuryana, 2005) pengertian CSR adalah :


Corporate Social Responsibility (CSR) ialah sebuah pendekatan dimana perusahaan
mengintegrasikan kepedulian sosial di dalam operasi bisnis mereka dan dalam
interaksi mereka dengan para stakeholder berdasarkan prinsip kemitraan dan
kesukarelaan.
Menurut Zadek, Fostator, Rapnas pengertian CSR adalah :

Bagian yang tidak terpisahkan dari strategi bersaing jagka panjang yang
berorientasi pada avokasi pendampingan & kebijakan publik.

Lord Holme and Richard Watts (2006) mendefinisikan Corporate Social


Responsibility pada dasarnya merupakan satu bentuk tindakan yang berangkat dari
perilaku etis perusahaan dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi
sekaligus meningkatkan kualitas hidup tenaga kerja dan keluarga mereka sebagai
masyarakat setempat dan masyarakat pada umumnya.

9
Menurut CSR Asia pengertian Corporate Social Responsibility adalah :
Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip
ekonomi, sosial dan lingkungan, seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para
pihak yang berkepentingan.

Dari beberapa penjelasan para ahli di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa
CSR itu merupakan sebuah tindakan atau konsep sosial yang dilakukan oleh sebuah
perusahaan untuk membantu kehidupan termasuk didalamnya lingkungan, ekonomi,
dan kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya CSR perusahaan akan lebih
mengedepankan sustainability dari pada profitability perusahaan. Dimana melalui
tindakannya itu akan membawa perbaikan pada apa yang dia bantu dan kelak juga
akan membawa dampak positif pada perusahaan berupa image perusahaan yang
semakin baik di mata masyarakat.

.B Sejarah dari Corporate Social Responsibility (CSR)

Istilah CSR pertama kali menyeruak dalam tulisan Social Responsibility of the
Businessman tahun 1953. Konsep yang digagas Howard Rothmann Browen ini
menjawab keresahan dunia bisnis. Belakangan CSR segera diadopsi, karena bisa jadi
penawar kesan buruk perusahaan yang terlanjur dalam pikiran masyarakat dan lebih
dari itu pengusaha di cap sebagai pemburu uang yang tidak peduli pada dampak
kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Kendati sederhana, istilah CSR amat
marketable melalu CSR pengusaha tidak perlu diganggu perasaan bersalah.

CSR merupakan tanggung jawab aktivitas sosial kemasyarakatan yang tidak


berorientasi profit. John Elkington dalam buku Triple Bottom Line dengan 3P tipe
yaitu:

Profit untuk Mendukung laba perusahaan


Insentif keuangan berupa laba merupakan hal terpenting dan tujuan utama di setiap
kegiatan usaha. Sehingga fokus utama dari kegiatan perusahaan adalah mendapatkan
profit atau meningkatkan nilai perusahaan setinggi-tingginya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, sehingga terjadi peningkatan return bagi para pemegang
saham dan mendorong kenaikan harga saham perusahaan. Hal ini merupakan

10
tanggung jawab yang paling penting bagi para pemegang saham sebagai salah satu
stakeholder.
People untuk Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
People atau stakeholder merupakan faktor pendukung keberadaan kelangsungan hidup
serta perkembangan perusahaan yang sangat penting. Perusahaan perlu berkomitmen
untuk memberikan manfaat yang sebesarbesarnya bagi mereka. Stakeholders
mempunyai pengertian sebagai bagian dari anggota komunitas atau kelompok
individu, masyarakat (tidak semua) yang berasal dari wilayah perusahaan tersebut
berdiri, wilayah negara dan bisa juga negara lain yang mempunyai pengaruh terhadap
jalannya suatu perusahaan. Menurut konsep triple bottom line, keuntungan jangka
panjang (sustainability) dapat dicapai ketika perusahaan mempertimbangkan
kepentingan kedua jenis stakeholder.
Planet untuk meningkatkan kualitas lingkungan

Sebagai bentuk pertanggungjawabannya terhadap stakeholder, perusahaan dituntut


untuk melakukan pertanggungjawaban sosial dalam melestarikan lingkungan, baik
lingkungan alam maupun lingkungan hidup. Dalam menjalankan kegiatannya
perusahaan membutuhkan lingkungan sebagai wadah pendukung maupun fasilitator.
Oleh karena itu, setiap perusahaan dituntut untuk melestarikan lingkungan.

Berdasarkan konsep Triple Bottom Line, program tanggung jawab sosial penting
untuk diterapkan oleh perusahaan karena keuntungan perusahaan tergantung pada
masyarakat dan lingkungan. 90 Dengan kata lain, keuntungan ekonomis tidak pernah
dapat dipisahkan dalam kerangka pelaksanaan CSR, oleh karena tujuan dari
pelaksanaan CSR itu sendiri adalah sustainability bagi perusahaan. Perkembangan
CSR telah membuat suatu perusahaan yang pada awalnya hanya bertujuan mencari
keuntungan semata sebagaimana telah disebutkan diatas, kini harus pula
memperhatikan aspek lingkungan dan masyarakat. Pada prinsipnya seorang Direksi
dalam perusahaan juga harus mampu memperhatikan kehendak masyarakat di
lingkungannya, dan berusaha memenuhi kehendak para stakeholders bukan hanya
kehendak pemegang saham.

Dalam konteks global, istilah CSR mulai digunakan sejak tahun 1970-an dan semakin
populer terutama setelah kehadiran buku Cannibals with Forks: The Triple Bottom
Line in 21st Century Business (1998) karya John Elkington. Mengembangkan tiga
komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental
protection, dan social equity yang digagas the World Commission on Environment
11
and Development (WCED) dalam Brundtland Report (1987), Elkington mengemas
CSR ke dalam tiga fokus: 3P (profit, planet, dan people). Perusahaan yang baik tidak
hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (profit), tetapi memiliki kepedulian
terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people).

Hingga dekade 1980-90 an, wacana CSR terus berkembang. Munculnya KTT Bumi di
Rio pada 1992 menegaskan konsep sustainibility development (pembangunan
berkelanjutan) sebagai hal yang mesti diperhatikan, tak hanya oleh negara, tapi
terlebih oleh kalangan korporasi yang kekuatan kapitalnya makin menggurita.
Tekanan KTT Rio, terasa bermakna sewaktu James Collins dan Jerry Porras
meluncurkan Built To Last; Succesful Habits of Visionary Companies di tahun 1994.
Lewat riset yang dilakukan, mereka menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang
terus hidup bukanlah perusahaan yang hanya mencetak keuntungan semata.

Sejarah CSR di Indonesia


Di Indonesia, istilah CSR dikenal pada tahun 1980-an. Namun semakin
populer digunakan sejak tahun 1990-an. Sama seperti sejarah munculnya CSR didunia
dimana istilah CSR muncul ketika kegiatan CSR sebenarnya telah terjadi. Di
Indonesia, kegiatan CSR ini sebenarnya sudah dilakukan perusahaan bertahun-tahun
lamanya. Namun pada saat itu kegiatan CSR Indonesia dikenal dengan nama CSA
(Corporate Social Activity) atau aktivitas sosial perusahaan.
Kegiatan CSA ini dapat dikatakan sama dengan CSR karena konsep dan pola pikir
yang digunakan hampir sama. Layaknya CSR, CSA ini juga berusaha
merepresentasikan bentuk peran serta dan kepedulian perusahaan terhadap aspek
sosial dan lingkungan.misalnya, bantuan bencana alam, pembagian Tunjangan Hari
Raya (THR), beasiswa dll. Melalui konsep investasi sosial perusahaan seat belt,
yang dibangun pada tahun 2000-an. sejak tahun 2003 Departemen Sosial tercatat
sebagai lembaga pemerintah yang selalu aktif dalam mengembangkan konsep CSR
dan melakukan advokasi kepada berbagai perusahaan nasional. Dalam hal ini
departemen sosial merupakan pelaku awal kegiatan CSR di Indonesia.

Selang beberapa waktu setelah itu, pemerintah mengimbau kepada pemilik


perusahaan untuk memperhatikan lingkungan sekitarnya. Namun, ini hanya sebatas
imbauan karena belum ada peraturan yang mengikat.

12
.C Dasar Hukum Corporate Social Responsibility (CSR)

Landasan hukum yang menyangkut CSR terdapat dalam:

UU No. 40 tahun 2007 yang berisi peraturan mengenai diwajibkannya melakukan


CSR. Direksi yang bertanggung jawab bila ada permasalahan hukum yang
menyangkut perusahaan & CSR. Penjelasan pasal 15 huruf b UU Penanaman Modal
menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tanggung jawab sosial perusahaan
adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk
tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan,
nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.

Pasal 1 angka 3 UUPT , tangung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen
perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna
meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi
perseroan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya.

.D Hubungan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan Bisnis

Hasil Survey The Millenium Poll on CSR (1999) yang dilakukan oleh Environics
International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business
Leader Forum (London) di antara 25.000 responden dari 23 negara menunjukkan
bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika
bisnis, praktik terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, yang merupakan
bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan.
Sedangkan bagi 40% lainnya, citra perusahaan & brand image-lah yang akan paling
memengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktor-faktor
bisnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan,strategi perusahaan,
atau manajemen. Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak
melakukan CSR adalah ingin menghukum (40%) dan 50% tidak akan membeli
produk dari perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang
kekurangan perusahaan tersebut.

.E Prinsip-Prinsip yang Harus Dipegang dalam Melaksanakan


Corporate Social Responsibility (CSR)

13
Prinsip pertama adalah kesinambungan atau sustainability. Ini bukan berarti
perusahaan akan terus-menerus memberikan bantuan kepada masyarakat. Tetapi,
program yang dirancang harus memiliki dampak yang berkelanjutan. CSR berbeda
dengan donasi bencana alam yang bersifat tidak terduga dan tidak dapat di prediksi.
Itu menjadi aktivitas kedermawanan dan bagus.

Prinsip kedua, CSR merupakan program jangka panjang. Perusahaan mesti menyadari
bahwa sebuah bisnis bisa tumbuh karena dukungan atmosfer sosial dari lingkungan di
sekitarnya. Karena itu, CSR yang dilakukan adalah wujud pemeliharaan relasi yang
baik dengan masyarakat. Ia bukanlah aktivitas sesaat untuk mendongkrak popularitas
atau mengejar profit.

Perinsip ketiga, CSR akan berdampak positif kepada masyarakat, baik secara
ekonomi, lingkungan, maupun sosial. Perusahaan yang melakukan CSR mesti peduli
dan mempertimbangkan sampai kedampaknya.

Prinsip keempat, dana yang diambil untuk CSR tidak dimasukkan ke dalam cost
structure perusahaan sebagaimana budjet untuk marketing yang pada akhirnya akan
ditransformasikan ke harga jual produk. CSR yang benar tidak membebani
konsumen.

.F Komponen Corporate Social Responsibility (CSR)

Menurut Wibisono (2007;134), terdiri beberapa komponen utama Tanggung Jawab


Sosial, yaitu :
a. Perlindungan lingkungan.
Organisasi lingkungan memiliki peranan sebagai wadah control sosial yang fokus
terhadap pembangunan berkekelanjutan yang memperhatikan aspek-aspek lingkungan
hidup. Program perlindungan lingkungan ini berfungsi agar perusahaan dapat
menjalankan kegitan usahanya dengan berwawasan lingkungan. Contohnya
Manejemen daur ulang.
b. Perlindungan dan jaminan karyawan.

14
Karyawan merupakan faktor penting bagi perusahaan. Apabila perusahaan bersinergi
dengan serikat pekerja,maka hampir dapat dipastikan bahwa kinerja karyawan akan
positif. Contohnya: Pelatihan/kemajuan karir.
c. Interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat.
Masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, dapat mempengaruhi arah dan
kebijakan sebuah perusahaan. Peran masyarakat menjadi penting karena masyarakat
merupakan salah satu bagian dari komponen stakeholder perusahaan. Contohnya :
mempekerjakan tenaga local.
d. Kepemimpinan dan pemegang saham.
Pemegang saham merupakan pihak yang sangat berkuasa dalam perusahaan.Para
direksi maupun manajer yang diangkat dalam RUPS harus mengetahui keinginan dari
pemegang saham dan memberikan informasi secara transparan mengenai keadaan
perusahaan. Contohnya semua informasi tentang semua program atau keinginan yang
dijalankan perusahaan dapat melibatkan pemegang saham dalam hal-hal yang bersifat
non financial.
e. Penanganan pelanggan/produk.
Menciptakan hubungan baik dengan pelanggan akan memberikan keuntungan yang
besar bagi perusahaan. Jika pelanggan mendapatkan kepuasan dari perusahaan, bisnis
akan terus bergulir dengan adanya repeat order dari pelanggan. Contohnya:
keterlibatan pelanggan dalam pengembangan produk.
f. Pemasok (supplier)
Pemasok merupakan pihak yang menguasai jaringan distribusi.Hubungan yang baik
dengan pemasok menguntungkan perusahaan karena pemasok telah mengetahui
keinginan perusahaan dan akan memenuhinya sesuai dengan keinginan pelanggan.
Contohnya: komunikasi dengan pemasok.
g. Komunikasi dan laporan
Komunikasi dan pelaporan diperlukan dalam rangka membangun sistem informasi,
baik bagi stakeholder maupun shareholder. Sistem informasi ini diperlukan baik
dalam proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi
material dan relevan mengenai perusahaan. Contohnya: memasukkan data kontribusi
sosial ke dalam laporan tahunan.

.G Indikator Keberhasilan Corporate Social Responsibility (CSR)


Indikator keberhasilan dapat dilihat dari dua sisi perusahaan dan masyarakat. Dari sisi
perusahaan, citranya harus semakin baik di mata masyarakat. Sementara itu, dari sisi
masyarakat, harus ada peningkatan kualitas hidup. Karenanya, penting bagi
perusahaan melakukan evaluasi untuk mengukur keberhasilan program CSR, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif. Satu hal yang perlu diingat, Salah satu ukuran
penting keberhasilan CSR adalah jika masyarakat yang dibantu bisa mandiri, tidak
melulu bergantung pada pertolong orang lain.
15
.H Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)
Berikut ini adalah manfaat CSR bagi masyarakat:

1. Meningkatknya kesejahteraan masyarakat sekitar dan kelestarian lingkungan.

2. Adanya beasiswa untuk anak tidak mampu di daerah tersebut.


3. Meningkatnya pemeliharaan fasilitas umum.
4. Adanya pembangunan desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna
untuk masyarakat banyak khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan
tersebut berada.

5. Penyerapan tenaga kerja di lingkungan masyarakat.

Dari sisi perusahaan terdapat berbagai manfaat yang diperoleh dari aktivitas CSR.:

1. Pertama, mengurangi risiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang
diterima perusahaan. Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya secara
konsinten akan mendapat dukungan luas dan komunitas yang telah merasakan
manfaat dari aktivitas yang dijalankannya.
2. Kedua, CSR berfungsi sebagai pelindung dan membantu perusahaan meminimalkan
dampak buruk yang diakibatkan suatu krisis. Demikian pula ketika perusahaan diterpa
kabar miring atau bahkan perusahaan melakukan kesalahan, masyarakat lebih mudah
memahami dan memaafkan sehingga relatif tidak mempengaruhi aktivitas dan
kinerjanya.
3. Ketiga, keterlibatan dan kebanggaan karyawan, karyawan akan merasa bangga
bekerja pada perusahaaan yang memiliki reputasi yang baik, yang secara konsisten
melakukan upaya-upaya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas
hidup masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
4. Keempat, CSR yang dilaksanakan secara konsisten akan mampu memperbaiki dan
mempererat huungan antara perusahaan dengan para stakeholdernya. Pelaksanaan
CSR secara konsisten menunjukkan bahwa perushaan memiliki kepedulian terhadap
serta pihak-pihak yang selama ini berkonstribusi terhadap lancarnya berbagai aktifitas
serta kemajuan yang meraka raih.
5. Kelima, meningkatkan penjualan seperti yang terungkap dalam riset Roper Search
worldwide, yaitu bahwa konsumen akan lebih menyukai produk-produk yang
dihasilkan oleh perusahaan yang konsisten menajalankan tanggung jawab sosialnya
sehingga memiliki reputasi yang baik.

16
6. Dan keenam, insentif-insentif lainnya seperti insentif pajak dan berbagai perlakuan
khusus lainnya. Hal ini perlu dipikirkan guna mendorong perusahaan agar lebih giat
lagi menjalankan tanggung jawab sosialnya.

Bagi lingkungan, praktik CSR akan mencegah eksploitasi berlebihan atas sumber
daya alam, menjaga kualitas lingkungan dengan menekan tingkat polusi dan justru
perusahaan terlibat mempengaruhi lingkungannnya,

Bagi negara, praktik CSR yang baik akan mencegah apa yang disebut corporate
misconduct atau malpraktik bisnis seperti penyuapan pada aparat negara atau aparat
hukum yang memicu tingginya korupsi. Selain itu, negara akan menikmati pendapatan
dari pajak yang wajar (yang tidak digelapkan) oleh perusahaan.

.I ISO 26000

Kelahiran ISO 26000 sebagai Guidance CSR

Pada bulan September 2004, ISO (International Organization for Standardization)


sebagai induk organisasi standarisasi internasional, berinisiatif mengundang berbagai
pihak untuk membentuk tim (working group) yang membidani lahirnya panduan dan
standarisasi untuk tanggung jawab sosial yang diberi nama ISO 26000: Guidance
Standard on Social Responsibility.

Pengaturan untuk kegiatan ISO dalam tanggungjawab sosial terletak pada pemahaman
umum bahwa SR adalah sangat penting untuk kelanjutan suatu organisasi.
Pemahaman tersebut tercermin pada dua sidang, yaitu Rio Earth Summit on the
Environment tahun 1992 dan World Summit on Sustainable Development (WSSD)
tahun 2002 yang diselenggarakan di Afrika Selatan.

Pembentukan ISO 26000 ini diawali ketika pada tahun 2001 badan ISO meminta ISO
on Consumer Policy atau COPOLCO merundingkan penyusunan standar Corporate
Social Responsibility. Selanjutnya badan ISO tersebut mengadopsi laporan
COPOLCO mengenai pembentukan Strategic Advisory Group on Social
Responsibility pada tahun 2002. Pada bulan Juni 2004 diadakan pre-conference dan
conference bagi negara-negara berkembang, selanjutnya di tahun 2004 bulan Oktober,
New York Item Proposal atau NWIP diedarkan kepada seluruh negara anggota,

17
kemudian dilakukan voting pada bulan Januari 2005, dimana 29 negara menyatakan
setuju, sedangkan 4 negara tidak. Dalam hal ini terjadi perkembangan dalam
penyusunan tersebut, dari CSR atau Corporate Social Responsibility menjadi SR atau
Social Responsibility saja. Perubahan ini, menurut komite bayangan dari Indonesia,
disebabkan karena pedoman ISO 26000 diperuntukan bukan hanya bagi korporasi
tetapi bagi semua bentuk organisasi, baik swasta maupun publik.

Memahami ISO 26000

ISO 26000 menyediakan standar pedoman yang bersifat sukarela mengenai tanggung
tanggung jawab sosial suatu institusi yang mencakup semua sektor badan publik
ataupun badan privat baik di negara berkembang maupun negara maju. Dengan Iso
26000 ini akan memberikan tambahan nilai terhadap aktivitas tanggung jawab sosial
yang berkembang saat ini dengan cara: 1) mengembangkan suatu konsensus terhadap
pengertian tanggung jawab sosial dan isunya; 2) menyediakan pedoman tentang
penterjemahan prinsip-prinsip menjadi kegiatan-kegiatan yang efektif; dan 3)
memilah praktek-praktek terbaik yang sudah berkembang dan disebarluaskan untuk
kebaikan komunitas atau masyarakat internasional.

Apabila hendak menganut pemahaman yang digunakan oleh para ahli yang
menggodok ISO 26000 Guidance Standard on Social responsibility yang secara
konsisten mengembangkan tanggung jawab sosial maka masalah SR akan mencakup 7
isu pokok yaitu:

1. Pengembangan Masyarakat

2. Konsumen

3. Praktek Kegiatan Institusi yang Sehat

4. Lingkungan

5. Ketenagakerjaan

6. Hak asasi manusia

7. Organizational Governance (governance organisasi)

ISO 26000 menerjemahkan tanggung jawab sosial sebagai tanggung jawab suatu
organisasi atas dampak dari keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat dan
lingkungan, melalui perilaku yang transparan dan etis, yang:

18
* Konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat;
* Memperhatikan kepentingan dari para stakeholder;
* Sesuai hukum yang berlaku dan konsisten dengan norma-norma internasional;
* Terintegrasi di seluruh aktivitas organisasi, dalam pengertian ini meliputi baik
kegiatan, produk maupun jasa.

Berdasarkan konsep ISO 26000, penerapan sosial responsibility hendaknya


terintegrasi di seluruh aktivitas organisasi yang mencakup 7 isu pokok diatas. Dengan
demikian jika suatu perusahaan hanya memperhatikan isu tertentu saja, misalnya
seperti aspek lingkungan, maka perusahaan tersebut sesungguhnya belum
melaksanakan tanggung jawab sosial. Misalnya suatu perusahaan sangat peduli
terhadap isu lingkungan, namun perusahaan tersebut masih mengiklankan penerimaan
pegawai dengan menyebutkan secara khusus kebutuhan pegawai sesuai dengan
gender tertentu, maka sesuai dengan konsep ISO 26000 perusahaan tersebut
sesungguhnya belum melaksanakan tanggung jawab sosialnya secara utuh. Contoh
lain, misalnya suatu perusahaan memberikan kepedulian terhadap pemasok
perusahaan yang tergolong industri kecil dengan mengeluarkan kebijakan pembayaran
transaksi yang lebih cepat kepada pemasok UKM. Secara logika produk atau jasa
tertentu yang dihasilkan UKM pada skala ekonomi tertentu akan lebih efisien jika
dilaksanakan oleh UKM. Namun UKM biasanya tidak memiliki arus kas yang kuat
dan jaminan yang memadai dalam melakukan pinjaman ke bank, sehingga jika
perusahaan membantu pemasok UKM tersebut, maka bisa dikatakan perusahaan
tersebut telah melaksanakan bagian dari tanggung jawab sosialnya.

Prinsip-prinsip dasar tanggung jawab sosial yang menjadi dasar bagi pelaksanaan
yang menjiwai atau menjadi informasi dalam pembuatan keputusan dan kegiatan
tanggung jawab sosial menurut ISO 26000 meliputi:

* Kepatuhan kepada hukum


* Menghormati instrumen/badan-badan internasional
* Menghormati stakeholders dan kepentingannya
* Akuntabilitas
* Transparansi
* Perilaku yang beretika
* Melakukan tindakan pencegahan
* Menghormati dasar-dasar hak asasi manusia

19
Pada pertemuan tim yang ketiga tanggal 15-19 Mei 2006 yang dihadiri 320 orang dari
55 negara dan 26 organisasi internasional itu, telah disepakati bahwa ISO 26000 ini
hanya memuat panduan (guidelines) saja dan bukan pemenuhan terhadap persyaratan
karena ISO 26000 ini memang tidak dirancang sebagai standar sistem manajemen dan
tidak digunakan sebagai standar sertifikasi sebagaimana ISO-ISO lainnya.

Adanya ketidakseragaman dalam penerapan CSR diberbagai negara menimbulkan


adanya kecenderungan yang berbeda dalam proses pelaksanaan CSR itu sendiri di
masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu pedoman umum dalam penerapan CSR
di manca negara. Dengan disusunnya ISO 26000 sebagai panduan (guideline) atau
dijadikan rujukan utama dalam pembuatan pedoman SR yang berlaku umum,
sekaligus menjawab tantangan kebutuhan masyarakat global termasuk Indonesia.

Implementasi ISO 26000

Badan Standarisasi Internasional ISO sejak November 2010 telah mengeluarkan ISO-
26000 sebagai Panduantentang Tanggung Jawab Sosial, yang bukan dimaksudkan
sebagai sebuah standar atau kebutuhan sertifikasi CSR, tetapi benar-benar sebuah
guidance atau panduan yang dapat memandu penerapan Tanggung Jawab Sosial
oleh organisasi apapun. )20

Sebagai salah satu dari 157 negara yang meratifikasi ISO-26000, Indonesia dapat
menjadikan ISO 26000 ini benar-benar sebagai acuan penerapan CSR. Untuk itulah,
Kadin terpanggil untuk menggagas acara diskusi ini, yang tentunya sebagai sebuah
awal dari perjalanan yang cukup panjang untuk mendapatkan masukan dari segenap
pemangku kepentingan yang dapat dirangkum untuk menjadi Panduan Umum
Tanggung Jawab Sosial di Indonesia.

108CSR.com ISO 2600 sebagai pedoman ini dimaksudkan untuk digunakan oleh
semua jenis organisasi, baik itu sektor swasta maupun pelayanan masyarakat, di
negara maju maupun negara berkembang. Namun yang terpenting, 7 prinsip nilai
yang terkandung di dalamnya yang harus diterjemahkan di lapangan secara kreatif
dan kontekstual.

Kreatif sendiri mengadung arti kata kunci keberhasilan suatu program CSR dalam
pengertian ini tidak selalu bergantung pada jumlah dana, tetapi tergantung pada
kreativitas pelaksanaan CSR yang bernilai tambah tinggi. Dan patut di ingat ISO

20
26000 bersifat sukarela dan hanya memuat prinsip umum. Soal inplementasinya ada
pada wewenang perusahaan dan lembaga.

Sedangkan kreatif berarti para pelaku usaha juga dituntut untuk bisa menerjemahkan
pelaksanaan CSR tersebut sesuai dengan kapasitas organisasi, seperti ketersediaan
SDM.

Anggaran dan sarana prasarana bagi pelaksanaan CSR tersebut di lingkungan dunia
usaha tersebut beroperasi. Sedangkan kontekstual mengandung arti, dibutuhkan
kepiawaian top manajemen atau manajemen organisasi SR di berbagai unit bisnis,
organisasi publik dan organisasi sosial agar menetapkan program SR yang relevan dan
tepat dengan kebutuhan sosial dan lingkungan di tempat organisasi tersebut.

Hal ini penting untuk digaris bawahi bahwa ISO 26000 sendiri mengatakan hal
tersebut sebagai petunjuk (guidance) bukan panduan detail (guideline) yang harus
anda ikuti secara item-per item.

Seperti yang disampaikan, Datuk Marina Muhammad mewakili Deputy Minister of


Science,Technology and Innovation pada Workshop ISO 26000 di Kuala Lumpur
beberapa waktu lalu, menggaris bawahi bahwa ISO 26000 adalah standar yang
penting dan sangat ditunggu, karena meskipun masalah SR bukan masalah yang baru,
guidance ini diperlukan agar dapat diterapkan dengan referensi dan pemahaman yang
diakui secara global.

Berbagai isu penting seperti renewable energy, water pollution, recognition worker
right dan related activities to SR telah mewarnai pengembangan ISO 26000. Standar
ini juga menjawab kepentingan hollistic sustainable development di negara tersebut.

Sedangkan di Indonesia , jumlah dana yang dikeluarkan perusahaan mencapai 10


sampai 20 triliun per tahun untuk pemberdayaan masyarakat.

Indonesia patut berbangga, karena masih punya banyak dermawan. Meski


kemiskinan masih mendera sebuah bangsa yang berusia 65 tahun ini tapi tak perlu
begitu resah apalagi putus asa, karena banyak pejuang sosial dan sosial enterpreneur
yang secara konsisten terus berjuang untuk mengentaskan kemiskinan. Angka
Kemiskinan memang masih cukup tinggi yakni sekitar 30 juta orang lebih dan dunia
usaha tangguh di Indonesia diperkirakan sejumlah 50 Ribu. Bila masing-masing
perusahaan mau melakukan CSR dan memberdayakan Kaum Miskin, maka tugas 1
perusahaan cukup memandirikan 600 orang miskin, ungkap Menko Kesra Agung
Laksono, belum lama ini.
21
Bagaimanapun ISO 26000 adalah isu penting dan strategis bagi Indonesia maupun
berbagai negara lainnya di seluruh dunia, yang sebenarnya masalah SR juga telah
berkembang dan dilaksanakan oleh pelaku usaha di Indonesia dalam beberapa tahun
yang lalu, namun karena belum adanya guidance atau standar yang jelas maka
implementasinya sangat bervariasi dan mungkin kurang efektif.

Karena itu dengan dipublikasikannya ISO 26000, Indonesia sebagaimana negara


lainnya perlu segera menyusun langkah-langkah nyata bagaimana mempromosikan
dan mendorong implementasi ISO 26000.

Jenis-jenis tanggung jawab perusahaan multinasional

Tanggung Jawab Ekonomi


Perusahaan korporasi dibentuk dengan tujuan untuk menghasilkan laba secara
optimal. Dalam kaitan ini para pengelola korporasi memiliki tanggung jawab
ekonomi ( Economic Responsibility ) diantaranya kepada para pemegang saham
( Shareholders/ Stockholders) dalam bentuk pengelolaan perusahaan yang
menghasilkan laba, dimana lama tersebut sebagian diantanya akan dibagikan kepada
para pemegang saham dalam bentuk dividen dan sebagian laba lainnya merupakan
laba ditahan ( retained earning) yang akan diinvestasikan kembali kedalam
perusahaan.

Selain memiliki tanggung jawab ekonomi kepada para pemegang saham,


perusahaan korporasi juga memiliki tanggung jawab ekonomi kepada para kreditor
yang telah menyediakan pinjaman bagi perusahaan. Dalam hal ini pengelola koporasi
memiliki tanggung jawab dalam bentuk menyisihkan sebagian kas perusahaan untuk
membayar cicilan pokok dan bunga pinjaman yang jatuh tempo. Kegagalan
perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab ekonomi kepada para kreditor akan
sangat mempengaruhi riwayat kredit perusahaan dan akan mengakibatkan penurunan
harga saham perusahaan.

Tanggung Jawab Hukum


Kendati perusahaan korporasi didirikan untuk menghasilkan laba, dalam
melaksanakan operasinya korporasi harus memenuhi berbagai peraturan perundang-
22
undangan yang berlaku sebagai bentuk tanggung jawab tanggung jawab hukum
( legal responsibilities) perusahaan.

Hukum dan peraturan dibuat agar perusahaan berjalan sesuai dengan harapan
yang dimiliki masyarakat. Selain itu hukum dan peraturan juga membatu
menciptakan arena permainan bisnis yang relative adil bagi semua pemain bisnis
dalam suatu industry yang saling bersaing satu dengan lainnya. Tujuan yang ingin
dicapai melalui penegakan hukum dan peraturan adalah agar perusahaan yang satu
tidak dirugikan oleh tindakan perusahaan pesaing lainnya.

Tanggung Jawab Sosial


Tanggung jawab keriga yang harus dijalankan perusahaan adalah tanggung
jawab sosial perusahaan ( Corporate Social Responsibility CSR). Kotler dan Lee
(2005) memberikan rumusan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan ( CSR )
sebagao berikut :

Corporate social responsibility is a commitmen to improve community well


being through discretionary business practice and contribution of corporate
resources.

Dalam definisi tersebut, Kotler dan Lee memberikan penekanan pada kata
discretionary , dalam arti bahwa kegiatan CSR semata mata merupakan komitmen
perusahaan secara sukarela untuk turut meningkatkan kesejahteraan komunitas dan
bukan merupakan aktivitas bisnis yang diwajibkan oleh hukum dan perundang-
undangan seperti kewajiban untuk membayar pajak atau kepatuhan perusahaan
terhadap undang-undang tenaga kerja. Kata discretionary juga memberikan nuansa
bahwa perushaan yang melakukan aktivitas CSR harus menaati hukum dalam
pelaksanaan bisnisnya, artinya sangatlah tidak tepat bila kegiatan CSR yang dilakukan
perusahaan hanya menjadi semacam kosmetik / topeng untuk menyembunyikan
praktik perusahaan yang tidak baik dalam memperlakukan karyawan atau melakukan
berbagai kecurangan baik dalam membuat laporan keuangan maupun merusak
lingkungan hidup.

Bentuk Corporate Social Responsibility (CSR)

Menurut Kotler dan Lee, terdapat enam model CSR yang dapat diterapkan di
perusahaan, yaitu: Cause Promotion, Cause Related Marketing, Coporate Societal

23
Marketing, Corporate Philanthropy, Community Volunteering, dan Socially
Responsible Business Practice.

Pelaksanaan CSR, diluar inti bisnis memiliki banyak bentuk dan biasanya dilakukan
dengan melakukan kegiatan amal / charity, tetapi dalam melakukan kegiatan amal ada
macam jenisnya yaitu:

Corporate philanthropy: pemberian sumbangan sebagai kegiatan amal (charity)


seringkali dalam bentuk hibah tunai, donasi dan/atau dalam bentuk barang, inisiatif ini
merupakan inisiatif paling tradisional diantara inisiatif-inisiatif lain[6]dan di era 1980
an konsep ini berkembang kearah pemberdayaan masyarakat (Community
development) semisal pengembangan kerjasama, memberikan ketrampilan,
pembukaan akses pasar dan sebagainya.

Cause promotions: Pengalokasian dana atau bantuan dalam bentuk barang dan sumber
daya lain oleh perusahaan untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian tentang
masalah sosial atau dalam rangka rekruitmen sukarelawan. Sebagai contoh the body
shop mempromosikan larangan penggunaan hewan untuk uji coba kosmetik.

Cause-related marketing: komitmen perusahaan untuk mendonasikan sejumlah


presentase tertentu dari pendapatan untuk hal tertentu yang terkait dengan penjualan
produk

Corporate social marketing yaitu upaya perusahaan memberi dukungan pada


pembangunan dan/atau pelaksanaan kegiatan yang ditujukan untuk mengubah sikap
dan perilaku dalam rangka memperbaiki kesehatan masyarakat, pelestarian
lingkungan dan lain-lain.

Community volunteering, dukungan dan dorongan perusahaan pada para karyawan,


mitra pemasaran dan / atau anggota franchise untuk menyediakan dan mengabdikan
waktu dan tenaga mereka untuk membantu kegiatan organisasi tertentu.

24
Social Responsible business practice yaitu pengadopsian dan pelaksanaan praktek-
praktek bisnis dan investasi yang memberikan dukungan pada permasalahan sosial
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan untuk melindungi lingkungan.
Perusahaan dapat melakukannya sendiri atau bermitra dengan organisasi lain seperti
yang dilakukan oleh starbuck untuk mendukung para petani kopi meminimalkan
dampak lingkungan yang berasal dari pola kerja yang mereka lakukan.

Pola Corporate Social Responsibility (CSR)


Sedikitnya ada empat pola CSR yang umumnya diterapkan oleh perusahaan di
Indonesia, yaitu:

1. Keterlibatan langsung.

Perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan


sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara.
Untuk menjalankan tugas ini, sebuah perusahaan biasanya menugaskan salah satu
pejabat seniornya, seperti corporate secretary atau public affair manager atau menjadi
bagian dari tugas pejabat public relation.

2. Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan.

Perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah perusahaan atau groupnya. Model


ini merupakan adopsi dari model yang lazim diterapkan di perusahaan-perusahaan di
negara maju. Biasanya, perusahaan menyediakan dana awal, dana rutin atau dana
abadi yang dapat digunakan secara teratur bagi kegiatan yayasan. Beberapa yayasan
yang didirikan perusahaan diantaranya adalah Yayasan Coca Cola Company, Yayasan
Rio Tinto (perusahaan pertambangan), Yayasan Dharma Bhakti Astra, Yayasan
Sahabat Aqua, GE Fund.

3. Bermitra dengan pihak lain.

Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dengan lembaga


sosial/organisasi non-pemerintah (NGO/LSM), instansi pemerintah, universitas atau
media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan
sosialnya. Beberapa lembaga sosial/Ornop yang bekerjasama dengan perusahaan
dalam menjalankan CSR antara lain adalah Palang Merah Indonesia (PMI), Yayasan
Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Dompet Dhuafa; instansi pemerintah

25
(Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI, Depdiknas, Depkes,Depsos); universitas
(UI, ITB, IPB); media massa (DKK Kompas, Kita Peduli Indosiar).

4. Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium.

Perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial
yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu. Dibandingkan dengan model lainnya, pola
ini lebih berorientasi pada pemberian hibah perusahaan yang bersifat hibah
pembangunan. Pihak konsorsium atau lembaga semacam itu yang dipercayai oleh
perusahaan-perusahaan yang mendukungnya secara pro aktif mencari mitra kerjasama
dari kalangan lembaga operasional dan kemudian mengembangkan program
yangdisepakati bersama (Saidi, 2004:64-65).

Pandangan Milton Friedman mengenai Tanggung jawab Sosial


Perusahaan

Milton Friedman
Milton Friedman (31 Juli 1912 16 November 2006) adalah ekonom Amerika dan
intelektual publik. Ia meninggal di San Francisco (California), karena gagal jantung.
Lahir di New York, ia adalah bungsu empat bersaudara dari anak keluarga imigran
Yahudi asal Ukraina.

Ia telah menyumbangkan sejumlah pemikirannya dalam makro-ekonomi, mikro-


ekonomi, sejarah ekonomi, dan statistik kepengacaraan kapitalisme laissez-faire. Pada
1976, dia mendapat Penghargaan Hadiah Nobel "untuk pencapaiannya di bidang
analisis konsumsi, teori dan sejarah moneter, dan demonstrasi kompleksitas dari
kebijakan tentang stabilisasi".[1]

Sebagai ahli ekonomi yang legendaris dan memperjuangkan kebebasan individu, ia


telah memengaruhi kebijakan ekonomi tiga Presiden Amerika Serikat, yaitu Richard
Nixon, Gerald Ford, dan Ronald Reagan serta Perdana Menteri Inggris Margaret
Thatcher.

Pandangan terhadap Corporate Social Responsibility (CSR)


Milton Friedman merupakan seorang profesor dari Universitas Chicago dan
pemenang nobel ekonomi pada tahun 1976. Pada tahun 1962 dalam bukunya
Capitalism and Freedom, dia merumuskan pandangannya mengenai tanggung jawab

26
sosial perusahaan. Akan tetapi yang menjadi kajian utama tentang tulisannya adalah
yang dimuat dalam New York Times Magazine, 13 september 1970 yang berjudul,
The social responsibility of business is to increase its profit. Dimana maksud dari
judul diatas yaitu satu-satunya tanggung jawab sosial perusahaan adalah untuk
meningkatkan keuntungan sebesar mungkin. Disini dirumuskan bahwa seorang
manajer hanya mempunyai tugas untuk mencari keuntungan semaksimal mungkin.
Hal ini disebabkan karena, manajer merupakan orang yang bertanggung jawab dengan
para pemegang saham, sehingga tujuan dari seorang manajer hanya bertanggung
jawab secara sosial untuk mensejahterakan para pemegang saham. Pandangan Milton
Friedman Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Friedman menyimpulkan
bahwa doktrin tanggung jawab sosial dari bisnis merusak sistem ekonomi pasar bebas.
Dan dalam bukunya Capitalism and Freedom menyatakan bahwa dalam masyarakat
bebas terdapat hanya satu tanggung jawab sosial untuk bisnis yakni memanfaatkan
sumber dayanya dan melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan
meningkatkan keuntungannya, selama hal tersebut dibatasi aturan-aturan tertentu dan
kompetisi terbuka, bebas tanpa penipuan atau kecurangan. Teori stakeholders
merupakan kritik yang tepat atas pandangan Friedman. Beberapa pandangan Friedman
terhadap situasi tanggung jawab sosial perusahaan.

1. Perusahaan tidak perlu menurunkan harga produk atau membatalkan kenaikan


harga produk demi mencegah terjadinya inflasi, atau dalam menerima tenaga kerja
baru perusahaan tidak perlu memprioritaskan tenaga kerja yang sudah lama
menganggur. Pendapat ini tentu masih bisa kita pahami, dimana untuk masalah inflasi
dan pengangguran bukan merupakan tanggung jawab perusahaan secara tidak
langsung.

2. Dalam lingkungan hidup, Friedman mengatakan bahwa perusahaan tidak perlu


mengeluarkan biaya lebih banyak dalam mengurangi polusi daripada apa yang perlu
demi kepentingan perusahaan dan apa yang dituntut oleh hukum demi terwujudnya
tujuan sosial, yakni memperbaiki lingkungan hidup. Hal ini lebih sulit untuk diterima,
karena lingkungan hidup merupakan unsur yang sangat penting dalam tanggung jawab
sosial perusahaan.

27
Pandangan The Business Roundtable mengenai Tanggung jawab
Sosial Perusahaan
The Business Roundtable
Business Roundtable adalah asosiasi pejabat eksekutif perusahaan terkemuka Amerika
yang bekerja untuk mempromosikan ekonomi A.S. yang berkembang pesat dan
kesempatan yang diperluas untuk semua orang Amerika melalui kebijakan publik
yang baik.

Roundtable Bisnis adalah satu-satunya organisasi nasional yang mewakili CEO


eksklusif perusahaan terkemuka Amerika. Anggota CEO yang membentuk perusahaan
pemimpin Business Roundtable dengan lebih dari 16 juta karyawan dan pendapatan
tahunan lebih dari $ 7 triliun. Sebagai pengusaha besar di setiap negara bagian, CEO
Business Roundtable secara serius bertanggung jawab menciptakan lapangan kerja
berkualitas dengan gaji yang baik. CEO kami berkomitmen untuk bergabung dengan
masyarakat, pekerja dan pembuat kebijakan untuk membangun masa depan yang lebih
baik bagi bangsa dan masyarakatnya.

Selama 45 tahun terakhir, keanggotaan Business Roundtable telah menerapkan


keahlian dan pengalaman CEO kepada isu-isu utama yang dihadapi bangsa ini.
Melalui penelitian dan advokasi, Business Roundtable adalah mitra dalam
mempromosikan kebijakan untuk memacu penciptaan lapangan kerja, meningkatkan
daya saing A.S. dan memperkuat ekonomi.

Anggota The Business Roundtable setiap tahun:

Mempekerjakan lebih dari 16 juta orang


Berikan perawatan kesehatan dan tunjangan pensiun kepada puluhan juta orang
Amerika dan keluarga mereka
Buat lebih dari $ 6 miliar untuk sumbangan amal
Investasikan $ 130 miliar per tahun dalam penelitian dan pengembangan
Menghasilkan lebih dari $ 440 miliar pendapatan untuk usaha kecil dan menengah
Membayar hampir $ 270 miliar dividen kepada pemegang saham.

28
Pandangan terhadap Corporate Social Responsibility (CSR)

Konsep CSR juga dikemukakan oleh The Business Roundtable. The business Roundtable
yang didirikan pada tahun 1972 dan beranggotakan para CEO dari 150 perusahaan
besar di Amerika, yang secara keseluruhan mempekerjakan kurang lebih 10 juta
karyawan.pada tahun 1981, salah satu gugus dalam The Business Roundtable
mengeluarkan Statement on Corporate Responsibility. Pernyataan tersebut
menyebutkan pentingnya perusahaan melayani seluruh konstituen perusahaan yang
terdiri atas :

Pelanggan

Karyawan

Para penyedia dana (financiers)

Pemasok

Masyarakat setempat (communities)

Masyarakat secara luas (society at large)

Pemegang saham (shareholders)

Menurut pandangan The Business Roundtable, keberadaan perusahaan sangat


bergantung pada dukungan masyarakat secara luas. Perusahaan juga memperoleh
berbagai keistimewaan perlakuan (privilages) seperti kewajiban terbatas (limited
liabilities), umur kegiatan usaha yang tidak terbatas (indefinite life), dan perlakuan
khusus. Oleh karena itu, perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat
secara luas sebagai salah satu bagian dari konstituen telah memungkinkan perusahaan
memperoleh berbagai perlakuan istimewa tersebut.

Sepuluh tantangan CSR dalam 10 tahun kedepan menurut CSR Asia


Corporate Social Responsibility (CSR) ASIA
Organisasi ini merupakan pelopor keberlanjutan di Asia, dan telah berkembang seiring
dengan kesadaran keberlanjutan di wilayah ini. Ini dirancang untuk membantu

29
organisasi menciptakan dampak positif bagi diri mereka dan dunia yang lebih luas
melalui bisnis yang bertanggung jawab, inklusif dan berkelanjutan.

Memulai dengan hanya satu kantor di Hong Kong, CSR Asia telah berkembang
menjadi pakar terpercaya mengenai isu keberlanjutan di Asia dengan 5 kantor
termasuk Singapura, Bangkok, Sydney dan Tokyo. Sebagai perusahaan yang berbasis
di Asia, CSR Asia diposisikan secara unik untuk bekerja sama dengan perusahaan-
perusahaan berbasis Asia lainnya, membantu mereka untuk merangkul keberlanjutan
di setiap tingkat organisasi dengan pemahaman yang sebenarnya akan tantangan dan
keprihatinan mereka.

CSR Asia mempromosikan keberlanjutan melalui berbagai saluran termasuk layanan


konsultasi, jaringan, platform untuk kolaborasi lintas sektor dan dengan menyediakan
akses ke penyimpanan wawasan. Pada tahun 2017, sebuah fase baru untuk CSR Asia
dimulai ketika diakuisisi oleh ELEVATE, pemimpin industri dalam layanan rantai
pasokan dan keberlanjutan secara global. ELEVATE telah mengintegrasikan
perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada misi dan misi seperti CSR Asia untuk
menciptakan platform keberlanjutan global untuk mendukung pertumbuhan ekonomi
yang berkelanjutan, seimbang dan inklusif bagi karyawan, pengusaha dan planet ini.

Tantangan Corporate Social Responsibility (CSR) ASIA

1. Lingkungan dan Perubahan Iklim


Sejauh ini tantangan terbesar yang dihadapi bisnis adalah berjalan untuk berhubungan
dengan lingkungan. Penekanan dalam Masa depan berpusat pada perubahan iklim dan
kebutuhan untuk mengembangkan strategi dan mengurangi perubahan iklim emisi
karbon. Ini berarti dimulai dengan carbon auditing dan kemudian menerapkan strategi
pengurangan dampak perubahan iklim, mitigasi dan adaptasi. Kekurangan air dan
kontaminasi air menjadi tinggi dalam agenda. Penekanan baru pada lingkungan juga
akan mengharuskan perusahaan untuk terlihat keras pada sumber bahan baku,
pengelolaan limbah, pengelolaan zat beracun, dampak kesehatan kerusakan
lingkungan dan pengelolaan keanekaragaman hayati

2. Hak Buruh sebagai Hak Asasi Manusia


Masalah yang terkait dengan sweatshop di mana-mana tidak pergi. Memang isu yang
terkait dengan tenaga kerja akan meningkat. Ini akan berlaku untuk perusahaan itu
30
sendiri praktik ketenagakerjaan dan juga pekerja di sepanjang rantai pasokan. Ada
kemungkinan akan lebih banyak penekanan hak buruh sebagai hak asasi manusia. Ini
berarti pengakuan bahwa pekerja memiliki manusia fundamental hak dan harus
diperlakukan dengan hormat dan bukan hanya faktor produksi.

3. Transparansi dan Akuntabilitas


Peningkatan penekanan pada transparansi akan melihat menjauh dari laporan glossy
yang hanya mengungkapkan hal-hal baik tentang aktivitas perusahaan terhadap
kebenaran akuntabilitas Tanggung jawab mungkin tentang melakukan hal yang benar
tapi pertanggungjawaban berarti membuktikan bahwa Anda Bertanggung jawab dan
ini akan membutuhkan pendekatan yang baru untuk mengungkapkan aspek positif dan
negative berbisnis. Perusahaan-perusahaan itu tidak mampu untuk mengungkapkan
suatu rekening yang akurat tentang kegiatan mereka akan kehilangan kepercayaan dan
nilai pemegang saham.

4. Pelembagaan CSR
Kita akan melihat pelembagaan CSR yang berkembang. Kita telah melihat sejumlah
pemerintah di wilayah Indonesia mengembangkan undang-undang, standar dan
pedoman baru yang memaksa atau mendorong bisnis untuk melakukan kegiatan CSR.
Tapi kemungkinan ini akan diperpanjang seperti institusi yang lainnya seperti bursa
efek dan akuntansi badan mulai meningkatkan persyaratan CSR anggota mereka
ISO26000 yang banyak ditunggu pelembagaan CSR lebih lanjut jika memang
demikian dilihat sebagai penetapan standar minimum untuk kegiatan dari perusahaan.

5. Keterlibatan pemangku kepentingan


Akan ada penekanan yang meningkat pada stakeholder pertunangan. Perusahaan harus
membangun pemerintahan struktur dan proses pengambilan keputusan dengan
stakeholder dalam pikiran Ini berarti mencari tahu apa pandangan stakeholder adalah
tentang isu dan memungkinkan bahwa untuk mempengaruhi keputusan yang dibuat di
tingkat perusahaan. Ini juga berarti berkembang lebih jauh Modus canggih
komunikasi dengan luas berbagai pemangku kepentingan dan menanamkan ke dalam
tata kelola organisasi.

6. Pertempuran Untuk Bakat


Pertempuran untuk bakat akan menjadi sumber daya besar manusia selama sepuluh
tahun ke depan. Merekrut dan mempertahankan sumber daya manusia yang paling
mampu mengantarkannya kualitas kerja sudah menjadi masalah dan cenderung
menjadi yang lebih besar lagi. Ini akan ditambah oleh generasi muda baru yang
kurang tertarik pada struktur karir tradisional dan lebih banyak tertarik untuk mengisi
31
hidup mereka dengan jarak tertentu dari pengalaman yang merangsang. Ini berarti
mereka lebih mungkin untuk memindahkan pekerjaan dan memiliki beberapa karir.
Menarik bakat terbaik karena itu akan membutuhkan cara berpikir baru tentang
pekerjaan dan banyak hal pengaturan lebih fleksibel jika staf akan menjadi efektif
dipertahankan

7. Investasi Komunitas
Sebuah perpindahan dari filantropi ke masyarakat yang efektif Investasi juga
dipandang sebagai perkembangan penting dalam dekade berikutnya. Akan ada lebih
sedikit sumbangan badan amal lokal dan inisiatif dan strategi yang jauh lebih strategis
investasi di masyarakat yang terkena dampak bisnis. Pergeseran ke investasi
masyarakat juga akan terjadi berarti pengukuran yang jauh lebih canggih dari
mengembalikan investasi itu, Itu berarti mengukur keduanya manfaatnya bagi
masyarakat dan juga manfaatnya untuk bisnis itu sendiri.

8. Rantai Pasokan dan Keamanan Produk


Kita akan melihat pendalaman masalah rantai pasokan dengan audit tingkat pertama
pabrik tidak lagi cukup untuk memuaskan para pemangku kepentingan yang khawatir
dengan sweatshop tenaga kerja dan keamanan produk. Ini akan berarti kemitraan baru
dengan pemasok berdasarkan kepercayaan Dari pada inspeksi dan hampir pasti berarti
rasionalisasi supply chain dimana perusahaan besar dengan nilai CSR bersama
cenderung lebih disukai. Tapi Isu lingkungan juga akan menjadi lebih penting dalam
rantai pasokan. Kekhawatiran atas produk tanggung jawab juga akan berarti masalah
rantai pasokan akan bergerak dari kekhawatiran tentang bagaimana produk dibuat
untuk apakah produk itu sendiri aman dan sehat.

9. Usaha Sosial
Usaha sosial akan menjadi hal baru yang penting dalam model organisasi
Penggabungan usaha dan Model LSM akan menciptakan perusahaan yang
berkelanjutan dalam jangka panjang karena mereka beradaptasi pasar daripada terus
mengandalkan donor uang. Ini mereka secara afektif mampu memberikan banyak cara
yang diperlukan pelayanan sosial yang efektif dan efisien.

10. Pengentasan Kemiskinan


Peran sektor swasta dalam pengentasan kemiskinan sangat penting. Khususnya di
kawasan Asia-Pasifik kita masih banyak melihat orang dan masyarakat yang tidak
diuntungkan dari pertumbuhan ekonomi yang telah mengurangi kemiskinan di tempat
lain. Orang yang sangat miskin cenderung memiliki sedikit sumber daya, sedikit
keterampilan dan sedikit kesempatan untuk terlibat dalam ekonomi kegiatan dan kami
32
membutuhkan langkah - langkah inovatif dari sektor swasta untuk mencoba
mengurangi kemiskinan termasuk tantangan terkait dengan berkembangnya gap
kekayaan sekarang muncul di beberapa negara dan berpotensi mengancam stabilitas
sosial.

Studi Kasus Corporate Social Responsibility di PT Telkomsel

A. Profil PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk adalah satu-satunya BUMN


telekomunikasi serta penyelenggara layanan telekomunikasi dan jaringan
terbesar di Indonesia. Telkom Group melayani jutaan pelanggan di seluruh
Indonesia dengan rangkaian lengkap layanan telekomunikasi yang mencakup
sambungan telepon kabel tidak bergerak dan telepon nirkabel tidak bergerak,
komunikasi seluler, layanan jaringan dan interkoneksi serta layanan internet dan
komunikasi data. Telkom Group juga menyediakan berbagai layanan di bidang
informasi, media dan edutainment, termasuk cloud-based and server-based
managed services, layanan e-Payment dan IT enabler, e-Commerce dan layanan
portal lainnya.

B. Analisis Visi, Misi, Tujuan dan Strategi CSR PT Telekomunikasi Indonesia


(Persero) Tbk

Visi perusahaan dari PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk ialah Be


the king in the Region . Be the king dapat diartikan sebagai raja atau penguasa.
Dalam arti bisnis be the king memiliki arti bahwa PT Telekomunikasi Indonesia
(Persero) Tbk bertujuan untuk menjadi market leader di kawasan regional.
Region memiliki arti kawasan asia, sehingga PT Telekomunikasi Indonesia
(Persero) Tbk ingin menjadi market leader dikawasan asia dengan memberikan
layanan terbaiknya kepada customer.

Visi Diadakan CSR

- Membangun sosok manusia Indonesia yang tangguh

- Turut berperan aktif untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi
masyarakat Indonesia

33
Misi PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk yaitu Lead Indonesian
Digital Inovation and Globalization. Lead mempunyai arti memimpin. Dimana
PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk terus berusaha untuk menciptakan
inovasi baru dalam bidang digital yang mendunia. Kinerja PT Telekomunikasi
Indonesia (Persero) Tbk pada aspek finansial (pendapatan dan laba) serta
kapitalis pasar, termasuk dalam kelompok operator telekomunikasi unggulan.

Misi Diadakan CSR


1. Menularkan dampak positif dan membantu memberikan solusi kepada
masyarakat dan lingkungan sekitar di mana perusahaan kami
beroperasi
2. Senantiasa berusaha menginspirasi serta memberdayakan masyarakat
3. Menumbuhkan harapan menuju kehidupan yang lebih baik
4. Mendukung aktifitas positif dan bekerjasama lebih dekat dengan
berbagai komunitas dimana perusahaan kami beroperasi
Tujuan Perusahaan Mengadakan CSR
Membantu perusahaan dalam meningkatkan citra dan reputasi perusahaan,
corporate social responsibility juga merupakan tuntutan dari pemerintah,
pemangku kepentingan serta masyarakat yang perlu dilakukan oleh perusahaan
guna untuk keberlanjutan didalam dunia bisnis (meningkatkan profit
perusahaan)
Dengan dilaksanakannya CSR tersebut juga mempermudah tujuan
perusahaan yaitu menciptakan posisi terdepan dengan memperkokoh bisnis
legency & meningkatkan bisnis new wave untuk memperoleh 60% dari
pendapatan industri.

Strategi CSR
Strategi CSR PT Telkomsel Tbk didasarkan pada konsep Triple Bottom
Line, yang memandang bahwa agar eksistensi dan pertumbuhan bisnis dapat
berkelanjutan (sustain). Sebuah entitas bisnis haruslah memperhatikan
pencapaian dalam aspek Profit-People-Planet (3P) secara seimbang. Selain
mengupayakan laba (profit), perusahaan juga harus terlibat aktif dalam
pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan berkontribusi menjaga
kelestarian lingkungan (planet).
Pencapaian keberlanjutan perusahaan yang meliputi aspek keberlanjutan
ekonomi, keberlanjutan sosial dan keberlanjutan lingkungan juga mengacu pada

34
arahan prosedur ISO 26000 bagi organisasi bisnis untuk memiliki perilaku yang
bertanggung jawab secara sosial, sebagai bagian dari praktik tata kelola
perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).
Strategi CSR kami juga diselaraskan dengan visi & misi serta portofolio
bisnis Perusahaan, dimana kami telah mendefinisikan keberadaannya sebagai
entitas bisnis melalui tema Telkom Indonesia untuk Indonesia. Dikaitkan
dengan strategi CSR kami, tema tersebut diupayakan melalui pencapaian tujuan
Enlightening Society, yaitu mendukung kemajuan masyarakat Indonesia
dalam memperoleh kesejahteraan, melalui kegiatan-kegiatan pada tiga pilar
utama CSR kami sesuai dengan prinsip Triple Bottom Line

B. Analisis PT Telkomsel Mengadakan Program Corporate Social Responsibility


Mudik Bareng Telkomsel
Setiap tahunnya lebaran menjadi momentum yang sangat penting dan
merupakan fenomena sosial bagi sebagian masyarakat di Indonesia untuk
mudik ke kampung halamannya. Selain untuk memanfaatkan libur hari raya
untuk berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, mudik juga memiliki
efek perbaikan hidup atau terapi untuk menghilangkan rasa kehilangan bagi
mereka yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga. Oleh karena itu,
ketersediaan transportasi serta pelayanan yang baik untuk mudikpun harus
selalu ditingkatkan guna untuk terus memberikan kenyamanan bagi para
pemudik. Tak jarang banyak dari perusahaan melakukan kegiatan sosial yang
biasa disebut dengan corporate social responsibility untuk berpartisipasi dan
ambil bagian dalam melengkapi momentum ini. Salah satu perusahaan yang
melakukan kegiatan semacam ini yaitu Telkomsel.

Sebagai Operator Paling Indonesia, Telkomsel selalu terpanggil untuk


terus membangun Indonesia, baik dari aspek ekonomi maupun aspek sosial.
Program corporate social responsibility yang dilaksanakan selain dilakukan
sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan kepada stakeholders dan
merupakan keunggulan dalam berkompetitif dengan perusahaan lain, kegiatan
corporate social responsibility ini juga dilakukan untuk terus mempertahankan
eksistensi perusahaan dimata stakeholders (menarik minat para investor,
meningkatkan motivasi karyawan), dan untuk terus menjalin sinergi dan
kolaborasi dengan para stakeholders, sebab Telkomsel senantiasa selalu

35
membuat program yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu
karena adanya persaingan bisnis yang semakin ketat dari tahun ke tahun
khususnya di bidang telekomunikasi membuat Telkomsel berupaya untuk loyal
terhadap para stakeholders dengan selalu meningkatkan program yang
dilakukan yang salah satunya program corporate social responsibility.

Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan Telkomsel yaitu membuat


Program corporate social responsibility Mudik Bareng Telkomsel yang
merupakan salah satu kegiatan dari Telkomsel Siaga. Dimana program
corporate social responsibility tidak hanya memperhatkan unsur profit saja
dalam hal finasial, tetapi juga harus melibatkan elemen sosial dan lingkungan.
Program Mudik Bareng Telkomsel ini lebih berfokus pada aspek sosial
(people) yang memberikan manfaat banyak kepada masyarakat.

Program ini merupakan program tahunan yang dijalankan oleh Telkomsel


sebagai bentuk apresiasi dan kepedulian perusahaan kepada stakeholders
khususnya para pelanggan setia dan mitra outlet dimana mitra outlet adalah
salah satu garda depan yang sehari-hari berhadapan langsung untuk melayani
para pelanggan Telkomsel yang datang ke outlet mereka, sehingga Telkomsel
memberikan kesempatan bagi para pelanggan dan mitra outlet untuk dapat
merayakan hari raya di kampung halaman mereka agar dapat merayakan
momentum lebaran bersama keluarga mereka..

Mudik Bareng Telkomsel yang merupakan bagian dari Telkomsel Siaga


ini akan menjadi program corporate social responsibility yang berbeda dari
program corporate social responsibility lainnya yang selama ini telah
dijalankan oleh Telkomsel dan menjadi salah satu kegiatan yang dapat
meningkatkan reputasi perusahaan dimata publik, karena setiap tahunnya
kegiatan ini akan selalu mengusung tema yang berbeda dan terlihat lebih dekat
dengan publik. Diharapkan program Mudik Bareng Telkomsel ini dapat
memberikan manfaat lebih yang dapat dirasakan oleh stakeholders, sehingga
para pelanggan dan mitra outlet tetap setia menggunakan dan menjual produk
dan layanan yang disediakan oleh Telkomsel.

C. Analisis Penerapan Strategi PT Telkomsel dalam Program Corporate Social

36
Responsibility Mudik Bareng Telkomsel

Strategi yang dibuat oleh Telkomsel Dalam meningkatkan reputasi


perusahaan dengan membuat program corporate social responsibility Mudik
Bareng Telkomsel yang merupakan salah satu bagian dari kegiatan Telkomsel
Siaga melalui tema Selalu Berbagi dan Melayani, yang di antaranya meliputi
kesiapan jaringan di sepanjang jalur mudik dan wisata, program mudik
bareng, program undian Telkomsel Siaga, dan program device bundling
edisi Ramadhan, dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk kegiatan yang
dilakukan oleh public relations. Hal tersebut dapat dilihat dengan beberapa
bentuk kegiatan diantaranya seperti melakukan publikasi melalui media
online dan media sosial yang saat ini sudah biasa digunakan sebagai media
sosialisasi dan informasi yang nantinya diharapkan akan membantu public
relations dalam menyebarluaskan program ini untuk menjangkau masyarakat
luas, selain itu Telkomsel juga mengadakan konferensi pers sebagai salah satu
cara untuk menarik berbagai media, baik media konvensional maupun media
online untuk meliput program ini dan disebarluaskan kepada masyarakat
sehingga dapat membentuk opini publik.

Setiap tahunnya program corporate social responsibility Telkomsel


Mudik Bareng Telkomsel memiliki beberapa perbedaan yang dapat dilihat dari
jumlah peserta, transportasi yang digunakan dan jumlah transportasi yang
diberikan. Program Mudik Bareng Telkomsel kali ini menggunakan empat
moda transportasi, yaitu pesawat terbang, kapal laut, kereta api dan bus.
Berbeda dengan tahun-tahun lalu, dimana Telkomsel hanya menggunakan tiga
moda transportasi, yaitu pesawat terbang, kereta api dan bus.

Tahun 2015 peserta yang mengikuti program ini dibandingkan tahun


2014 mengalami perbedaan dalam jumlah peserta yang akan mudik ke
kampung halamannya. Tahun 2014 untuk moda transportasi pesawat terbang
memiliki jumlah pemudik berjumlah 450 peserta Berbeda dengan tahun 2015
yang memiliki jumlah pemudik berjumlah 300 peserta. Untuk kereta api,
sebanyak 600 peserta yang diberangkat pada tahun 2014 dan 400 peserta pada
tahun 2015. Sedangkan untuk moda transportasi bus sebanyak 30 bus
disediakan dengan jumlah 1350 peserta (diikuti oleh 330 mitra outlet beserta
keluarganya) pada tahun 2014 dan 50 bus yang mengangkut 2500 peserta pada
tahun 2015. Bedanya tahun 2015 ini, Telkomsel juga ikut berpartisipasi dalam
37
kegiatan Mudik Bareng Kementrian BUMN dimana terdapat 10 bus yang
mengangkut 400 peserta dan juga mengangkut 400 peserta mudik yang
menggunakan kapal laut.

Telkomsel menerapkan dua metode dalam menjaring peserta untuk


mengikuti program ini. Pertama melalui program loyalty yang telah dimulai
sejak 11 Mei hingga 4 Juni 2015, dengan cara seluruh pelanggan Telkomsel
menukarkan Telkomsel poin dengan mengikuti lelang poin untuk mendapatkan
tiket mudik pesawat terbang dan kereta api. Kedua menggunakan bus yang
dilakukan sebagai bentuk apresiasi Telkomsel terhadap mitra outlet. Jadi untuk
metode menggunakan bus, hanya dapat diikuti oleh peserta yang berasal dari
outlet- outlet yang memiliki kerjasama dengan Telkomsel dan juga merupakan
outlet yang memiliki loyalitas dengan Telkomsel dengan memiliki pembelian
serta penjualan yang banyak dari produk yang disediakan oleh Telkomsel.
Melalui kegiatan Mudik Bareng Telkomsel 2015 ini, reputasi perusahaan
dibangun dengan cara selain memberikan bingkisan sebagai kenang-kenangan
yang diberikan Telkomsel kepada peserta, Telkomsel j u g a m e m b e r i k a n
asuransi perjalanan untuk peserta sehingga kenyamanan selama perjalanan
dapat dirasakan oleh para peserta Mudik bareng Telkomsel 2015 ini.

Selain itu guna untuk mengantisipasi tingginya kebutuhan pelanggan


serta peserta mudik jelang lebaran dan supaya para peserta mudik memiliki
kenyamanan selama perjalanan namun tetap dapat berkomunikasi dengan
keluarga ataupun sahabat, Telkomsel menghadirkan Posko Siaga yang
ditempatkan di sejumlah titik strategis yang akan banyak dilalui oleh para
calon pemudik. Di Posko Siaga ini tersedia berbagai layanan seperti penjualan
pulsa dan perdana, layanan aktivasi paket data, redeem Telkomsel Poin serta
ragam layanan lainnya yang diberikan secara gratis khusus untuk pelanggan
Telkomsel, seperti layanan relaksasi pijat gratis atau tempat istirahat sambil
bermain games. Untuk memberikan nilai lebih di tiap layanan Posko Siaga,
Telkomsel juga menghadirkan program khusus Ramadhan seperti promo isi
ulang pulsa bonus pulsa langsung serta undian Smartphone dan Tablet, hadiah
langsung merchandise cantik seperti sajadah ekslusif, bantal leher, topi dan lain
sebagainya dengan cara menukarkan Telkomsel Poin dalam jumlah tertentu.

Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulis tertarik untuk menulis


makalah yang berjudul Analisa Strategi Program Corporate Social
38
Responsibility PT Telkomsel dalam meningkatkan reputasi perusahaan
(Analisis Program Mudik Bareng Telkomsel 2015).

Seperti yang dikatakan sebelumnya, program ini lebih berfokus pada


aspek sosial (people) sehingga lebih memiliki manfaat sosial dalam hal
ekonomi kepada para stakeholders. Dalam prakteknya Telkomsel
menggunakan dua strategi corporate social responsibility yaitu strategi timbal
balik dan strategi kewarganegaraan. Yang dapat dilihat dari pelaksanaannya di
lapangan, yaitu:

1.Menggunakan strategi timbal balik: dimana selama perjalanan pulang


kampung khususnya moda transportasi bus, Telkomsel memberikan uang
dan makanan kepada para peserta yang dapat digunakan dan dimakan untuk
berbuka puasa. Selain itu, para peserta Mudik Bareng Telkomsel ini diberikan
bingkisan dan parsel lebaran sebagai kenang-kenangan dari Telkomsel
dengan memberikan paket mudik kepada salah satu keluarga yang ikut
dalam mudik bareng bus Telkomsel. Tahun ini, untuk program Mudik Bareng,
Telkomsel memilih 11 lokasi keberangkatan yang terdiri dari Jakarta, Medan,
Batam, Lampung, Balikpapan, Makassar, Jayapura, Ambon, Sorong, Timika,
dan Sampit. Selain itu, Telkomsel juga telah memberikan bantuan takjil
berupa 20 ton kurma yang disampaikan kepada 8 masjid di 8 kota di
Indonesia, yang mewakili daerah dari ujung barat sampai ujung timur
Indonesia. (mix.co.id).
2.Pada tahun 2015 selain menambah moda transportasi yaitu melalui kapal
laut, jumlah peserta mudikpun bertambah menjadi 4.000 peserta berbeda
dengan tahun 2014 yang hanya mendapatkan peserta mudik sebanyak 2.400
peserta. Tahun 2015 Telkomsel memberangkatkan sebanyak 300 pemudik
peserta menggunakan moda transportasi pesawat dari berbagai daerah
dengan tujuan destinasi seperti Padang, Jakarta, Yogyakarta, Semarang,
Surabaya dan Makassar. Untuk kereta api, sebanyak 400 peserta dilepas dari
Stasiun Gambir menggunakan Argo Anggrek dengan tujuan Surabaya via
Pantura dan Argo Bima dengan tujuan Surabaya via jalur selatan. Sementara
itu sebanyak 400 peserta mudik bareng kapal laut dari berbagai daerah di
Indonesia dengan tujuan Medan, Semarang, Surabaya, dan Makassar.
Sedangkan bagi pemudik yang menggunakan bus, Telkomsel mengirimkan 50
39
bus yang mengangkut 2500 peserta dengan tujuan Yogyakarta, Solo, Tegal,
Pekalongan, Semarang, Madiun, Malang dan Surabaya. Selain itu, Telkomsel
juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan Mudik Bareng Kementrian BUMN
dimana terdapat 10 bus yang mengangkut 400 peserta.
(www.telkomsel.com). Meskipun tahun 2015 jumlah peserta dari moda
transportasi pesawat dan kereta api mengalami penurunan tetapi peserta
dari transportasi bus mengalami peningkatan dikarekan penambahan jumlah
bus yang disediakan. Ditambah lagi tujuan destinasi dari salah satu moda
transportasi yang disediakan mengalami perbedaan dan penambahan kota tujuan
yaitu pesawat terbang. Jika pada tahun 2014 tujuan destinasi menggunakan moda
transportasi pesawat terbang hanya tiga kota tujuan yaitu Solo, Yogya dan Surabaya,
berbeda pada tahun 2015 yang mana tujuan destinasinya menjadi 6 kota tujuan
yaitu Padang, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Makassar.
3.Selain itu melakukan strategi kewarganegaraan dengan terus menjalin
hubungan dengan stakeholders. Sehingga untuk menjaring para pesertanya
program Mudik Bareng Telkomsel 2015 dilakukan melalui dua metode yang
tawarannya dapat dilihat melalui website Telkomsel. Yang pertama melalui
program loyalty yang telah dimulai sejak 11 Mei hingga 4 Juni 2015 melalui
Lelang Poin untuk mendapatkan tiket mudik pesawat dan kereta api dengan
akses ke *700*123#. Sedangkan di sisi lain, program mudik bareng bus
dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas kinerja mitra outlet.
(www.telkomsel.com). Selain itu, Telkomsel melibatkan pemerintah didalam
program ini, seperti melibatkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja
Purnama dalam pelepasan peserta mudik di Gelora bung Karno.
4.Telkomsel juga mengantisipasi kebutuhan pelanggan yang ingin terus
berkomunikasi dengan teman, sahabat atau keluarga selama perjalanan,
sehingga Telkomsel menghadirkan Posko Siaga yang menyediakan berbagai
macam layanan seperti penjualan pulsa dan perdana, layanan aktivasi paket
data, redeem Telkomsel Poin serta ragam layanan lainnya yang diberikan
secara gratis khusus untuk pelanggan Telkomsel dan juga menyediakan
penjualan smartphone harga khusus dengan bundling perdana dan paket
broadband Telkomsel.
Corporate social responsibility Mudik Bareng Telkomsel ini banyak
memberikan manfaat bagi para pesertanya selain mendapatkan tiket gratis,
40
peserta juga akan mendapatkan asuransi perjalanan sehingga memberikan
kenyaman bagi peserta selama perjalanan. Terlaksanakan suatu program tidak
lepas dari kerjasama yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan. Telkomsel
sadar bahwa tanpa adanya kerjasama yang dilakukan dari pihak internal
perusahaan program ini tidak akan terus berlanjut. Jika dilihat secara
keseluruhan program Mudik Bareng Telkomsel 2015 ini berhasil, melihat
bahwa semakin tahun jumlah peserta dalam program ini semakin meningkat
dan banyaknya pemberitaan di media online khususnya terkait program ini.

D. Analisis IFAS Dan EFAS PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk,

41
42
43
44
Diagram SWOT

45
Menghitung luasan wilayah pada tiap-tiap kuadran

Pada kuadran I (S O Strategi) strategi umum yang dapat dilakukan oleh


perusahaan adalah menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengambil setiap
keunggulan pada kesempatan yang ada.
Kekuatan perusahaan adalah :
- Memiliki kekuatan finansial yang besar
- Menunjukkan arus kas yang kuat dan rasio hutang terhadap ekuitas yang sehat
- Memiliki tim manajemen profesional
Peluang perusahaan adalah :
- Kepercayaan public terhadap Telkom meningkat
- Permintaan masyarakat yang tinggi akan akses internet merupakan pasar yang
sangat potensial

Pada kuadran II (S T Strategi) Menjadikan setiap kekuatan untuk menghadapi


setiap ancaman dengan menciptakan diversifikasi untuk menciptakan peluang.
Kekuatan perusahaan adalah :
- Memiliki kekuatan finansial yang besar
- Menunjukkan arus kas yang kuat dan rasio hutang terhadap ekuitas yang sehat
- Memiliki tim manajemen profesional
Ancaman perusahaan adalah :
- Teknologi telepon seluler yang ternyata telah menggerus pendapatan mereka
dalam produk telpon tetap di rumah (fixed phone)

Pada kuadran III (W O Strategi) perusahaan dapat membuat peluang


padakesempatan sebagai acuan untuk memfokuskan kegiatan dengan menghadapi
ancaman.
Kelemahan perusahaan adalah :
- Kebocoran Pendapatan berpotensi terjadi akibat kelemahan internal dan masalah
eksternal dan jika terjadi dapat menimbulkan kerugian pada hasil usaha Telkom

46
Peluang perusahaan adalah :
- Kepercayaan public terhadap perusahaan meningkat
- Permintaan masyarakat yang tinggi akan akses internet merupakan pasar yang
sangat potensial

Pada kuadran IV (W T Strategi) Meminimumkan segala kelemahan untuk


menghadapi setiap ancaman.
Kelemahan perusahaan adalah :
- Kebocoran Pendapatan berpotensi terjadi akibat kelemahan internal dan masalah
eksternal dan jika terjadi dapat menimbulkan kerugian pada hasil usaha Telkom
Ancaman perusahaan adalah :
- Teknologi telpon seluler yang ternyata telah menggerus pendapatan mereka
dalam produk telpon tetap di rumah (fixed phone)

47
BAB
III

.A Kesimpula PENU
n TUP

48
Adapun kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Konsistensi dan kontribusi positif yang diberikan Telkomsel dalam menjalankan


program corporate social responsibility sesuai dengan prinsip-prinsip yang perlu
dilakukan perusahaan dalam menjalanakan program corporate social
responsibility yaitu harus memiliki keberlanjutan sumberdaya di masa depan
(suistainability), keterbukaan perusahaan atas aktivitas tanggungjawab sosial yang
dilakukan (accountability) serta selalu membuat pelaporan aktivitas perusahaan
berikut dampak terhadap pihak eksternal (transparency). Manfaatnya, Telkomsel
semakin memiliki reputasi yang baik dimata publik, hal tersebut terbukti dengan
Telkomsel menjadi operator dengan pelanggan terbanyak yaitu 143 juta pada
tahun 2014.
2. Program corporate social responsibility tidak hanya memperhatikan unsur profit
saja dalam hal ini finasial, tetapi juga harus melibatkan elemen sosial dan
lingkungan. Program Mudik Bareng Telkomsel 2015 ini jika dilihat dari triple
bottom lines lebih berfokus pada aspek sosial (people) yang memberikan manfaat
banyak kepada masyarakat. Melalui program ini Telkomsel berupaya untuk
menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antar perusahaan dengan
publiknya sehingga kedua belak pihak saling memiliki loyalitas satu sama lain.
3. Mudik Bareng Telkomsel 2015 merupakan salah satu jenis aktivitas program
corporate social responsibility yaitu Corporate Philanthropy (Kegiatan Filantropi
Perusahaan) dimana perusahaan memberikan sumbangan langsung dalam bentuk
derma untuk kalangan masyarakat tertentu. Program ini menggunakan dua
strategi corporate social responsibility dalam prakteknya, yaitu strategi timbal balik
dan strategi kewarganegaraan. Program Mudik Bareng Telkomsel 2015 ini lebih
berkaitan dengan memberikan pelayanan kepada para stakeholders yang ingin
pulang ke kampung halaman serta memberikan tawaran layanan secara terbuka di
website Telkomsel. Program ini merupakan salah satu program yang membantu
Telkomsel dalam meningkatkan reputasi perusahaan, yang terbukti dari
peningkatan jumlah peserta setiap tahunnya yang mengikuti program ini.

49
.B Saran
Adapun saran yang diajukan oleh penulis adalah sebagai berikut :

.C Saran bagi Telkomsel


Untuk selanjutnya, seluruh kegiatan khususnya yang menyangkut
program corporate social responsibility baiknya lebih detail
dicantumkan didalam website resmi Telkomsel, Segala hal yang
berhubungan dengan publikasi harus lebih ditingkatkan agar masyarakat
tetap mengetahui program apa saja yang sedang dijalankan oleh
Telkomsel. Harus selalu mengembangkan ide kreatif lainnya dalam
menjalankan corporate social responsibility untuk menjaring masyarakat
yang lebih luas setiap tahunnya. Selain itu harus lebih banyak lagi
melakukan media relations guna untuk tetap menjaga hubungan yang
baik dengan media sehingga dapat membantu dalam pembentukan opini
publik dalam meningkatkan reputasi perusahaan.

50
DAFTAR PUSTAKA

https://alliyabenings.wordpress.com/2015/12/06/makalah-pengantar-bisnis-corporate-social-
responsibility/
Hemingway, Christine A. and Patrick W. Maclagan (2004). Managers personal values as
drivers of corporate social responsibility, Journal of Business Ethics, Vol. 50,
https://sites.google.com/site/myrefresing82/corporate-social-responsibility-csr
Hadi, Nor.2009.Corporate Social Responsibility.Yogyakarta:Graha Ilmu.
http://tholibpoenya.blogspot.co.id/2014/11/konsep-corporate-social-responsibility.html
https://breath4justice.wordpress.com/2011/04/17/bentukimplementasi-csr-corporate-social-
responsibility/
http://ezoolendino.blogspot.co.id/2009/03/model-dan-pola-implementasi-csr.html
file:///I:/smt%207/manajemen%20strategik/New%20folder%20(2)/Etika-Bisnis-11th-
Week.pdf
https://id.wikipedia.org/wiki/Milton_Friedman
http://businessroundtable.org/about
Ardhy Pratiwi Setiowati, 2009. Analisis Hubungan-Literatur, Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, hlm. 21.
Hendra Setiawan Boen, 2000, Bianglala Business Judgement Rule, Penerbit Tatanusa,Jakarta,
hlm.87.
Solihin , Ismail 2012, Manajemen Strategik, Penerbit Erlangga , Jakarta, hlm 216.

51