Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUTORIAL

MODUL II
NYERI BERKEMIH

KELOMPOK VIII
ARIS EKO SUPRAPTO 10542 0162 10
NUR AMALIA IDRUS 10542 0194 10
UMMU KALSUM MUSLIMIN BANDO 10542 0343 11
ALFIAN UMAR 10542 0458 13
ALFON DWI DUDUNG MASSORA 10542 0459 13
FITRIANI 10542 0482 13
NADZIEFAH GHINA FAIQAH 10542 0501 13
NINGSIH RIDWAN 10542 0502 13
RAHIM REWALZA JESITHRA 10542 0518 13
RIZKI AMALIA MAGFIRAWATI 10542 0530 13
ANDI FARADIPA M. 10542 0531 13
SUPRIATI SUDIRMAN 10542 0538 13

BLOK UROGENITALIA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2015
KASUS

Seorang wanita, 21 tahun , datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri saat berkemih.
Gejala ini disertai rasa selalu ingin berkemih, dan nyeri perut bagian bawah.

KATA KUNCI

1. Wanita 21 tahun
2. Keluhan nyeri saat berkemih
3. Selalu ingin berkemih
4. Nyeri perut bagian bawah

PERTANYAAN

1. Bagaimana fisiologi dari pembentukan urin dan refleks miksi ?


2. Faktor apa saja yang menyebabkan nyeri pada saat berkemih ?
3. Bagaimana patomekanisme dari tiap tiap gejala pada skenario ?
4. Anamnesis tambahan
5. DD
Pemeriksaan lanjutan
Penatalaksanaan
Prognosis
6. Komplikasi

JAWABAN

1. Anatomi dan Fisiologi pembentukan urin dan refleks miksi


Anatomi Fisiologi pembentukan urin
Anatomi dan Fisiologi Sisfem Perkemihan
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan
darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap
zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh
larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih) (Speakman, 2008). Susunan sistem
perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, b) dua ureter yang
membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), c) satu vesika urinaria tempat
urin dikumpulkan, dan d) satu uretra urin dikeluarkan dari vesika urinaria (Panahi, 2010).

Gambar 2.l. Anatomi Saluran Kemih


1. Ginjal (Ren)
Ginjal terletak pada dinding posterior di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra
torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan
sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis dextra yang besar. Fungsi
ginjal adalah memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
mempertahankan suasana keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan kadar asam
dan basa dari cairan tubuh, dan mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum,
kreatinin dan amoniak.

2. Fascia renalis
Fascia renalis terdiri dari: a) fascia (fascia renalis), b) jaringan lemak perirenal, dan c)
kapsula yang sebenarnya (kapsula fibrosa), meliputi dan melekat dengan erat pada
permukaan luar ginjal.
3. Stuktur ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat
korteks renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, medulla renalis di bagian dalam
yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan korteks. Bagian medulla berbentuk kerucut
yang disebut piramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dari
lubang-lubang kecil yang disebut papilla renalis (Panahi, 2010).

Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya
pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus. Pelvis renalis berbentuk corong yang
menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis majores
yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis minores. Struktur
halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional ginjal. Diperkirakan
ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari: glomerulus, tubulus proximal, ansa
henle, tubulus distal dan tubulus urinarius (Panahi, 2010).
4. Proses pembentukan urin
a. Proses filtrasi, di glomerulus.
Terjadi penyerapan darah yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein.
Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air,
sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus ginjal. Cairan yang disaring
disebut filtrat glomerulus.
b. Proses reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium,
klorida fosfat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif (obligator
reabsorbsi) di tubulus proximal. Sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali
penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara
aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
c. Proses sekresi
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla renalis
selanjutnya diteruskan ke luar (Rodrigues, 2008).

5. Pendarahan
Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan
arteri renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi
arteri interlobularis kemudian menjadi arteri akuarta. Arteri interlobularis yang berada di
tepi ginjal bercabang manjadi arteriole aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus.
Kapiler darah yang meninggalkan gromerulus disebut arteriole eferen gromerulus yang
kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena cava inferior (Barry, 201l).

6. Persarafan ginjal.
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi
untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan
dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal (Barry, 2011).
7. Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke vesika
urinaria. Panjangnya 25-34 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak
pada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak pada rongga pelvis. Lapisan dinding
ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik yang mendorong urin masuk ke dalam
kandung kemih. Lapisan dinding ureter terdiri dari:
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah lapisan otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa

8. Vesika urinaria (kandung kemih)


Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti
buah pir (kendi). Letaknya di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika
urinaria dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet.

9. Uretra
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi
menyalurkan air kemih ke luar. Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7-16,2 cm, terdiri
dari:
a. Uretra pars prostatika
b. Uretra pars membranosa
c. Uretra pars spongiosa.
Uretra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm. sphincter uretra terletak di
sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya sebagai saluran
ekskresi

10. Urin.
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
o Jumlah ekskresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan
dan faktor lainnya.

o Warna bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
o Warna kuning tergantung dari kepekatan, diet, obat-obatan dan sebagainya.

o Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.

o Berat jenis 1,015-1,020.

o Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung daripada diet (sayur
menyebabkan reaksi alkalis dan protein member reaksi asam).
Komposisi air kemih, terdiri dari:
o Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
o Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.

o Elektrolit natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat.

o Pigmen (bilirubin dan urobilin).

o Toksin.

o Hormon .

Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin.
Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
a. Kandung kemih terisi secara progesif hingga tegangan pada dindingnya meningkat
melampaui nilai ambang batas, keadaan ini akan mencetuskan tahap ke-2.
b. Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung
kemih. Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang). Sebagian
besar pengosongan diluar kendali tetapi pengontrolan dapat dipelajari latih. Sistem
saraf simpatis : impuls menghambat vesika urinaria dan gerak spinchter interna,
sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis :
impuls menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi
mikturisi

Refleks miksi atau berkemih


Miksi atau berkemih, proses pengosongan kandung kemih, diatur oleh dua
mekanisme : reflex berkemih dan control volunteer. Refleks berkemih terpicu ketika
reseptor regang didalam dinding kandung kemih terangsang . Kandung kemih pada
orang dewasa dapat menampung hingga 250 400 ml urin sebelum tegangan dindingnya
mulai cukup meningkat untuk mengaktifkan reseptor . Serat serat aferen dari reseptor
regang membawa impuls ke medulla spinalis dan akhirnya, melalui antar neuron,
merangsang saraf parasimpais kandung kemih dan menghambat neuron motorik ke
sfingter eksternus. Stimulasisaraf parasimpatis kandung kemih menyebabkan organ ini
berkontraksi. Tidak ada mekanisme khusus yang dibutuhkan membuka sfingter internus,
perubahan bentuk kandung kemih selama kontraksi akan secara mekanik menarik
terbuka sfingter internus. Secara besamaan , sfingter eksternus melemas karena neuron
neuron motoriknya dihambat. Kini dua sfingter terbuka dan urin terdorong melalui uretra
oleh gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi kandung kemih. Refleks berkemih ini, yang
seluruhnya adalah reflex spinal, mengatur pengosongan kandung kemih pada bayi.
Segera setelah kandung kemih terisi cukup untuk emicu reflex, bayi secara otomastis
berkemih.
2. Faktor penyebab nyeri pada saat berkemih
- Batu di saluran kemih
- Ada tumor di saluran kemih
- Seksual
- Faktor kehamilan
- DM

3. Patomekanisme gejala gejala


Nyeri saat berkemih (disuria)
Disuria adalah nyeri pada saat miksi dan terutama disebabkan karena inflamasi pada
buli buli atau urethra. Seringkali nyeri ini dirasakan paling sakit sekitar meatus uretra
eksternus. Disuria yang terjadi pada awal miksi biasanya berasal dari kelainan pada
urethra, dan jika terjadi pada akhir miksi adalah kelainan pada buli buli. Perasaan miksi
yang sangat dan disertai dengan hematuria disebut sebagai stranguria.

Rasa ingin selalu berkemih (urgensi)


Urgensi adalah rasa sangat ingin kencing sehingga terasa sakit. Keadan ini adalah
akibat hiperiribilitas dan hiperaktivitas buli buli karena inflamasi, terdapat benda asing
di dalam buli buli, adanya obstruksi infravesika atau karena kelainan buli buli
nerogen.

Nyeri perut bagian bawah


Nyeri perut bagian bawah dikarenakan oleh vesika urinaria dirasakan didaerah
suprasimfisis. Nyeri ini terjadi akibar overdistensi buli - buli yang mengalami retensi urin
atau terdapat inflamasi pada buli buli (sistisis interstisialis, tuberculosis, atau
sistosomiasi). Inflamasi buli buli dirasakan sebagai perasaan kurang nyaman didaerah
suprapubik (suprapubic dyscomfort). Nyeri muncul manakala buli buli terisi penuh dan
nyeri berkurang pada saat selesai miksi.
Tidak jarang pasien sistisis merasakan nyeri yang sangat hebat seperti ditusuk tusuk
pada akhir miksi dan kadag kala disertai dengan hematuria, keadaan ini disebut stranguria.

4. Anamnesis tambahan
Anamnesis tambahan yang diajukan kepada pasien untuk menegakkan diagnosa dan
penyakit sebenarnya yang diderita oleh pasien, adapun pertanyaan pertanyaannya
yaitu :
- Bagaimana riwayat pekerjaan pasien ?
- Apakah pasien sudah berkeluarga atau belum ?
- Sudah berapa lama gejala tersebut dirasakan ?
- Apakah nyeri terasa pada saat awal miksi atau pada akhir miksi ?
- Bagaimana aliran urine pada saat buang air kecil ? (lancer, kecil, bercabang, terputus
- putus)
- Apakah pasien biasa atau sering bangun pada malam hari untuk buang air kecil ?
- Apakah ada riwayat demam ?
- Bagaimana warna urin pasien ?
- Apakah ada secret yang dikeluarkan atau tidak ?
- Apakah ada riwayat penyakit terdahulu ?
- Bagaimana riwayat makan atau food recall 24 jam pasien ?
- Apakah ada riwayat penggunaan KB ?
5. Differential Diagnosis
a. Sistisi Akut
1) Definisi

Sistitis akut (cystitis acute) adalah inflamasi akut pada mukosa buli buliyang
sering disebabkan oleh infeksi bakteri.Mikroorganisme penyebab infeksi ini terutama
adalah E coli, Enterococci, Proteus, dan Stafilokokus aureus yang masuk ke buli-buli
teutama memalui urethra. Sistitis akut mudah terjadi jika pertahanan lokal tubuh
menurun, yaitu pada diabetes mellitus atau trauma lokal minor seperti pada saat
senggama.

2) Etiologi

Penyebab dari sistitis antara lain: (Lyndon Saputra, 2009).

Pada wanita, kebanyakan infeksi kandung kemih diakibatkan oleh infeksi ascenden yang
berasal dari uretra dan seringkali berkaitan dengan aktivitas seksual
Pada pria, dapat diakibatkan infeksi ascenden dari uretra atau prostat tetapi agaknya
lebih sering bersifat sekunder terhadap kelainan anatomik dari traktus urinarius.
Mungkin berkaitan dengan kelainan kongenital traktus genitourinarius, seperti bladder
neck obstruction, stasis urine, refluks ureter, dan neurogenic bladder.
Lebih sering terjadi pada penderita diabetes
Dapat meningkat pada wanita yang menggunakan kontrasepsi atau diafragma yang tidak
terpasang dengan tepat.
Kateterisasi urine mungkin menyebabkan infeksi

3) Epidemiologi

Wanita lebih sering mengalami serangan sistitis daripada pria karena uretra
wanita lebih pendek daripada pria. Disamping itu, getah cairan prostat pada pria
mempunyai sifat bakterisidal sehingga relatif tahan terhadap infeksi saluran kemih.
Diperkirakan bahwa paling sedikit 10 20 % wanita pernah mengalami serangan sistitis
selama hidupnya dan kurang lebih 5 % dalam satu tahun pernah mengalami serangan ini.
Inflamasi pada bulu buli juga dapat disebabkan oleh bahan kimia, seperti detergent
yang dicampurkan ke dalam air untuk rendam duduk, deodorant yang disemprotkan pada
vulva, obat obatan yang dimasukkan intravesika untuk terapi kanker buli buli
(siklofosfamid).

4) Patomekanisme

Sistitis merupakan asending infection dari saluran perkemihan. Pada wanita


biasanya berupa sistitis akut karena jarak uretra ke vagina pendek (anatomi), kelainan
periuretral, rektum (kontaminasi) feses, efek mekanik coitus, serta infeksi kambuhan
organisme gram negatif dari saluran vagina, defek terhadap mukosa uretra, vagina, dan
genital eksterna memungkinkan organisme masuk ke vesika perkemihan. Infeksi terjadi
mendadak akibat flora (E. coli) pada tubuh pasien.

Pada laki-laki abnormal, sumbatan menyebabkan striktur uretra dan hiperplasi


prostatik (penyebab yang palin sering terjadi). Infeksi saluran kemih atas penyebab
penyakit infeksi kandung kemih kambuhan. Masuknya mikroorganisme ke dalam
saluran kemih dapat melalui :

a. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung daro tempat terdekat.


b. Hematogen.
c. Limfogen.
d. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.

Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang
naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan
mukosa.Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada
dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui
berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.

Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak


lengkap, gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi
meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme
normal.

5) Manifestasi klinik

Pasien sistitis mengalami urgency, sering berkemih, rasa panas dan nyeri
pada saat berkemih, nokturia, dan nyeri atau spasme pada area kandung kemih, dan
suprapubis.Piuria (adanya sel darah putih dalam urin), bakteri, dan sel darah merah
(hematuria) ditemukan pada pemeriksaan urine. Kit kultur memberikan informasi
kualitatif yang umum mengenai jumlah koloni bakteri dan mengidentifikasi apakah
organisme gram negatif atau positif

Disuria (nyeri saat berkemih), polakisuria (kencing sedikit-sedikit dan sering/anyang-


anyangen), nokturia (kencing pada malam hari), rasa tidak enak di daerah suprapubis,
nyeri tekan pada palpasi di daerah suprapubis.
Gejala sistemik berupa pireksia, kadang-kadang menggigil; sering lebih nyata pada
anak-anak, kadang-kadang tanpa gejala atau tanda-tanda infeksi lokal dari traktus
urinarius.
Urin keruh dan mungkin berbau tidak enak dengan leukosit, eritrosit, dan organisme.

6) Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan urine midstream, pemeriksaan sedimen urine untuk leukosit
- Tes urinalisis
- Pewarnaan gram dan biakan dari unspun midsteram urin yang ditampung dalam
wadah yang bersih.
- Pungsi suprapubik untuk biakan urine mungkin perlu pada anak-anak dan penderita lain
yang tidak dapat diusahakan untuk memperoleh spesimen yang bersih.
- Jika sistitis sering mengalami kekambuhan perlu difikirkan adanya kelainan pada buli
buli (keganasan, urolitiasis) sehingga diperlukan pemeriksaan pencitraan (PIV, USG)
atau sistoskopi.
7) Penatalaksanaan

Uncomplicated sistitis: wanita diterapi antimikroba dosis tunggal atau jangka


pendek (1-3 hari sesuai hasil kultur). Obat pilihan yang sensitif terhadap E. Coli:
nitrofurantoin, trimetropim-sulfametosaksol, atau ampisilin. Laki-laki diterapi selama 7-
10 hari dengan antibiotik. Lakukan kultur untuk meningkatkan efektivitas terapi. Awasi
efek samping: mual, diare, kemerahan dan kandidiasis vagina.

Antikolinergik (propanthelin bromide) untuk mencegah hiperiritabilitas kandung


kemih dan fenazopiridin hidroklorid sebagai antiseptik pada saluran kemih.

8) Prognosis

- Sangat baik, jika pengobatan dilakukan secara teratur


- Dapat kambuh kembali
- Infeksi pertama pada pria rekuren dan sering pada wanita memerlukan pemeriksaan
urologi khusus.

9) Komplikasi

- Pyelonefritis
- Infeksi darah melalui penyebaran hematogen (sepsis)

b. Urethritis
1) Definisi
Uretritis spesifik (gonokkokal)

Infeksi bakteri yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoea ( diplokokkus gram
negatif )

Uretritis non spesifik (non gonokkokal)

Uretritis Non Spesifik (UNS) memiliki pengertian yang lebih sempit dari Infeksi Genital
Non Spesifik, dimana peradangan hanya pada uretra yang disebabkan oleh kuman non
spesifik. Yang dimaksud dengan kuman spesifik adalah kuman yang dengan fasilitas
laboratorium biasa atau sederhana dapat ditemukan seketika, misalnya gonokok,
Candida albicans, Trichomonas vaginalis dan Gardnerella vaginalis2.

2) Epidemiologi
Uretritis spesifik (gonokkokal)

Infeksi ini banyak menyerang orang usia muda, belum menikah, dan pendidikan rendah.
Paling banyak terjadi pada perempuan. Gejala infeksi lebih sering timbul pada laki-laki.
Infeksi pada anorektal dan faring sering terjadi pada laki-laki yang homoseksual.

Uretritis non spesifik (non gonokkokal)

Uretritis Non Spesifik banyak ditemukan pada orang dengan keadaan sosial ekonomi
lebih tinggi, usia lebih tua dan aktivitas seksual yang lebih tinggi. Juga ternyata pria
lebih banyak daripada wanita dan golongan heteroseksual lebih banyak daripada
golongan homoseksual2.

3) Manifestasi klinik
Uretritis spesifik (gonokkokal)

1. 80 % gejala

2. Vaginal discharge (putih keruh kekuningan)

3. Nyeri abdomen Kronis

4. Disuria

5. Infeksi oral gejala atau adanya sore throat

6. Nyeri rektum, gatal, tenesmus, discharge

7. Pelvic Inflammatory Diseases (PID)


Uretritis non spesifik (non gonokkokal)

1. Asimtomatik

2. Infeksi lebih ringan terjadi di serviks bila dibandingkan dengan vagina, kelenjar
Bartholin atau uretra sendiri.

3. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, disuria ringan,
sering kencing, nyeri daerah pelvis dan dispareunia

4. Pada pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai


adanya folikel-folikel kecil yang mudah berdarah.

4) Pemeriksaan Penunjang
Uretritis spesifik (gonokkokal)
1. PMN sel sering terdeteksi pada pewarnaan gram dari endocervixon, dan
peningkatan abnormal sebanyak 30 PMN per lapang dalam lima 1000X
oilimmersion (mikroscopik) menunjukkan adanya inflammatory discharge.
2. Uji Nucleic acid probe dapat dilakukan dalam rangka menggantikan tehnik
kultur dalam mendeteksi kehadiran bakteri N. gonorrhoeae pada specimen
urogenital.
3. gonorrhea, dan harus tetap dilakukan kultur bacteria. Tahap sensitivitas dari
kultur tunggal endocervical dapat mencapai 80% hingga 90%.

Uretritis non spesifik (non gonokkokal)

1. Discar purulen atau mukopurulen.

2. Pengecatan Gram pada sekresi uretra

3. Tes lekosit esterase


5) Penatalaksanaan
Uretritis spesifik (gonokkokal)
Penisilin & derivatnya
Ampisilin 3,5 mg + 1 gr probenesid & amoksisilin 3 gr + 1 gr probenesid
Penisilin G prokain : 3-4,8 juta IU + 1 gr probenesid
Kuinolon
Siprofloksasin 500 mg peroral
Ofloksasin 400 mg peroral
Sefalosporin
Seftriakson 125-250 mg IM
Cefiksim 400 mg oral
Spektinomisin 2 gr IM
Aminoglikosida
Kanamisin 2 gr IM
Gentamisin 240 mg IM
Tiamfenikol 2500 mg 2 hari
Azitromisin 2 gram
Sulfonamid & Trimetoprim
Cotrimoksazole (Sulfametoksazole + Trimetoprim: 400 mg/80 mg) peroral 3 hari

Uretritis non spesifik (non gonokkokal)

Tetrasiklin HCl

kuinolon

Oksitertrasiklin

Doksisiklin

Ofloksasin

Makrolide
Eritromisin

Asitromisisn

6) Prognosis
Baik, jika ditangani secara baik dan pengobatannya teratur
Buruk, jika tanpa penanganan atau pengobatan tidak teratur serta terlambat.

c. Batu buli buli


1) Definisi

Batu buli buli atau vesikolitiasis sering terjadi pada pasien yang menderita
gangguan miksi atau terdapat benda asing di buli buli.

2) Etiologi
- Pemasangan kateter dalam jangka waktu lama
Kateter yang terpasang pada buli buli dalam waktu yang lama, adanya benda
asing lain yang secara tidak sengaja dimasukkan kedalam buli buli seringkali
menjadi inti untuk terbentuknya batu buli buli.
- Batu yang berasal dari batu ginjal atau ureter
Batu yang turun dari batu ginjal atau ureter ke buli buli atau vesika urinaria.
- Dehidrasi ata diare
Pada Negara Negara berkembang masih sering dijumapai batu endemic pada
buli buli yang banyak dijumpai pada anak anak yang menderita kurang gizi atau
yang sering menderita dehidrasi atau diare.
- Infeksi
Seringkali komposisi batu buli buli terdiri atas asam urat atau struvit (jika
penyebabnya adalah infeksi).
3) Patomekanisme
Teori pembentukan batu :
- Teori inti (nukleus) ialah Kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan
Kristal pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.
- Teori matriks ialah matriks organic dari serum atau protein urin memberikan
kemungkinan pengendapan Kristal.
- Teori inhibitor kristalisasi ialah beberapa substansi dalam urin menghambat
terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absennya substansi ini
memungkinkan terjadinya kristalisasi.

4) Manifestasi klinik
Gejala khas batu buli buli adalah berupa gejala iritasi antara lain : nyeri kencing
atau disuria hingga stranguri, perasaan tidak enak sewaktu kencing, dan kencing tiba
tiba terhenti kemudian menjadi lancer kembali dengan perubahan posisi tubuh. Nyeri
pada saat miksi sering kali dirasakan (refered pain) pada unjung penis, skrotum,
perineum, pinggang sampai kaki. Pada anak anak seringkali mengeluh adanya enuresis
nokturna, disamping sering menarik narik penisnya (pada anak laki - laki) ataupun
mengosok-gosok vulva (pada anak perempuan).

5) Pemeriksaan Penunjang
Seringkali komposisi batu buli buli terdiri atas asam urat atau struvit (jika
penyebabnya adalah infeksi), sehingga tidak jarang pada pemeriksaan foto polos
abdomen tidak tampak sebagai bayangan opak pada kavum pelvis. Dalam hal ini
pemeriksaan IVU pada fase sistogram memberikan gambaran sebagai bayangan
negative. Ultrasonograi dapat mendeteksi batu radiolusen pada buli buli.
- Ultrasonografi
Dapat menunjukkan ukuran, bentuk dan posisi batu
Pemeriksaan ini diperlukan pada perempuan hamil dan pasien yang alergi terhadap
kontras radiologi
Dapat diketahui adanya batu radiolusens dan dilatasi system kolektikus. Keterbatasan
pemeriksaan ini adalah kesulitan untuk menunjukkan batu ureter, dan tidak dapat
membedakan batu kalsifikasi dan batu radilusen.
- Pemeriksaan radiografi
Foto abdomen biasa
Dapat menunjukkan ukuran, bentuk dan posisi batu
Membedakan batu kalsifikasi
Densitas tinggi : kalsium oksalat dan kalsium fosfat
Densitas rendah : struvit, sistin, dan campuran keduanya
Indikasi dilakukan uji kualitatif sistin pada pasien muda
Keterbatsan pemeriksaan foto sinar tembus abdomen adalah tidak dapat untuk
menentukan batu radiolusen.
- Urogram
Deteksi batu radiolusen sebagai defek pengisian (filling) (batu asam urat. Xantin. 2,8-
dihidroksiadenin ammonium urat.
Menunjukkan lokasi batu dalam system kolektikus
Menunjukkan kelainan anatomi
- CT-Scan helical dan kontras

6) Penatalaksanaan
Batu buli buli dapat dipecahkan dengan litotripsi ataupun jika terlalu besar
memerlukan pembedahan terbuka (vesikolitotomi).

7) Prognosis
Pengambilan atau pemecahan batu lebih dini memperbaik prognosis pasien
kedepannya dan sebaliknya apabila tidak dilakukan tindakan maka memperburuk
keadaan pasien menurunkan kualitas hidup pasien.

6. Komplikasi
- Sistisi akut : Pyelonefritis , Infeksi darah melalui penyebaran hematogen
(sepsis)
- Batu buli buli : batu uretra
DAFTAR PUSTAKA

Chandrasegaran, Kamaleswaran. 2013. KTI Urologi. Medan : Fakultas Kedokteran


Universitas Sumatera Utara.

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III. Jakarta : Media Aesculapius.

Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar dasar Urologi edisi ketiga. Malang : Sagung Seto.

Price,A Sylvia dan Lorraine M. Wilson.2013. Patofisiologi.Jakarta : EGC.

Anda mungkin juga menyukai