Anda di halaman 1dari 3

Nama : Indah Khairunnisa Kadullah

Nim : N014171724

Agen Anestesi (Ketamin)

Alasan Ketamin merupakan High Alert Medication :


Ketamin merupakan salah satu obat anestetik yang dikategorikan
sebagai high alert karena merupakan obat yang beresiko tinggi
menyebabkan bahaya yang besar (kematian) atau dampak yang tidak
diinginkan (adverse outcome) jika tidak digunakan secara tepat atau terjadi
kesalahan dalam penggunaan.
Ketamin adalah obat bius yang diberikan melalui injeksi IV, infus IV,
atau injeksi IM (Sweetman, S. et al. 2009). Ketamine (Ketalar) tersedia dalam
konsentrasi 10 mg/mL, 50 mg/mL, 100 mg/mL dan 500 mg/mL (ISMP, 1999).
Efek samping ketamin adalah peningkatan tekanan darah dan denyut
jantung, depresi pernafasan, apnea, hypertonus otot, dan reaksi dystonic.
Pada kasus overdosis, dapat menyebabkan kejang, polineuropati,
peningkatan tekanan intrakranial, serangan pernapasan dan serangan
jantung (Wells, B., et al. 2009).
Pemberian injeksi intravena secara cepat atau dengan dosis tinggi
dapat menyebabkan depresi pernafasan. Ketamin telah dilaporan dapat
menurunkan kinerja jantung dan paru-paru pada pasien yang sakit parah dan
aritmia. Ketamin dapat membahayakan pasien yang mengalami tekanan
darah tinggi atau yang memiliki riwayat kecelakaan serebrovaskular.
Penggunaan ketamin harus dihindari pada pasien yang rentan terhadap
halusinasi atau gangguan psikotik (Sweetman, S. et al. 2009).
Pasangan nama obat High Alert yang memiliki kemiripan oleh praktisi
Kanada dengan contoh pendekatan Tallman Lettering: ketOROLAC dan
ketAMINE (ISMP, 2006).
Contoh Kasus dan Bahayanya :
Wanita berusia 69 tahun dengan riwayat hipertensi dan asma dibawa
ke bagian gawat darurat dengan gejala sesak napas. Tanda vital awalnya
adalah: denyut jantung 116/menit, laju pernafasan 36/menit, tekanan darah
144/78 mm Hg dan afebris. Saturasi oksigennya dengan oksimetri nadi
adalah 98%. Pasien mengalami gangguan pernafasan. Dia dirawat karena
eksaserbasi asma dengan terapi standar, termasuk albuterol nebulised dan
methylprednisolone IV. Pada titik ini, pasien sadar sepenuhnya (alert/awake),
dengan denyut jantung 128/menit, kecepatan pernafasan 36-40/menit, dan
saturasi oksigen 94%. Status mentalnya mulai memburuk dan diputuskan
untuk mengintubasi pasien dan memasangkan ventilator. Untuk
memudahkan intubasi, pemberian intravena 50 mg ketamin dan 4 mg
midazolam diperintahkan oleh dokter kepada perawat. Dalam beberapa menit
kemudian, pasien mengalami disritmia ventrikel dan cardiopulmonary arrest.
Meski segera mendapatkan defibrilasi dan terapi farmakologis, pasien tidak
dapat diselamatkan. Kemudian ditemukan bahwa pasien diberi 500 mg
ketamin IV, bukan dosis 50 mg IV yang dianjurkan (dosis yang dianjurkan
adalah 1-2 mg/kg.) yaitu sepuluh kali jumlah ketamin yang
dipesan/diperintahkan dokter (Long, H., 2003).

Daftar Pustaka

ISMP. 2006. Drug Labelling and the Application of Tallman Lettering Project
Report. Institute for Safe Medication Practices Canada. Toronto. Kanada.

ISMP. Medication Safety Alert!. Vol. 4, Issue 9, 5 May 1999.

Long, H. 2003. Case Report: Ketamine Medication Error Resulting in Death.


International Journal of Medical Toxicology. New York. UK.
Sweetman, S. et al. 2009. Martindale 36th. The Pharmaceutical Press.
London. UK.

Wells, B., et al. 2009. Pharmacoterapy Handbook 7th Edition. The McGraw
Hills Companies Inc. New York. USA.