Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai


tindakan meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang
mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien
gawat, terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri.
Beberapa tahap yang harus dilakukan dalam penatalaksanaan anestesi terdiri
dari pra anestesi yaitu persiapan secara fisik maupun mental pasien, perencanaan
anestesi, menentukan prognosis dan persiapan pada hari operasi. Serta
penatalaksanaan anestesi meliputi premedikasi, masa anestesi dan pemeliharaan,
pemulihan dan perawatan pasca anestesi.
Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) merupakan suatu teknik operasi
endoskopi secara minimal invasive dengan tujuan memperbaiki aerasi dan drainase
sinus paranasal pada kelainan sinus. Dengan alat endoskop maka mukosa yang sakit
dan yang menyumbat diangkat sedangkan mukosa sehat tetap dipertahankan agar
transportasi mukosilier tetap berfungsi dengan baik sehingga terjadi peningkatan
drainase dan ventilasi melalui ostium-ostium sinus.

1
BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
No. RM : 01294387
Nama : Sari Saudin
Tempat/Tanggal Lahir : Solo, 28 Februari 1953
Umur : 61 tahun 3 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Tanah Merdeka VII RT/RW 04/06
Rambutan, Ciracas
Jakarta Timur
Pendidikan : Tamat SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status Perkawinan : Kawin

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Pasien datang ke Rumah Sakit Fatmawati pada hari Kamis, 5 Juni 2014
dengan keluhan lendir berbau di hidung kiri.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh keluar lendir dari hidung kiri, hidung tersumbat dan terdapat
sakit gigi.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami keluhan yang serupa sebelumnya dan menjalani
Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) 2 bulan yang lalu di RSUD Pasar Rebo.
Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi, tidak memiliki riwayat alergi, asma,
kencing manis maupun penyakit jantung.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak memiliki keluhan yang serupa.
5. Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok, minum alkohol, minum obat tidur
atau narkotika, jarang berolahraga, makan-makanan yang sehat dan teratur.

2
C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
a. Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
b. Kesadaran : Compos mentis
c. Tanda Vital : Tekanan Darah : 120/90 mmHg
Pernafasan : 18x/menit
Nadi : 70x/menit
Suhu : 36C
d. Antropometri : Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 155 cm
BMI : 20,8 kg/m2
SURVEY PRIMER
Air Way
Kesadaran : Compos mentis
Jalan nafas : Bebas
Lihat, dengar rasakan : Terdapat nafas
Gerak otot-otot nafas tambahan : (-)
Breathing
Frekuensi pernafasan : 18x/menit
Suara nafas : Vesikuler
Suara nafas tambahan : Ronki (-/-)
Nafas cuping hidung : (-)
Circulation
Tekanan Darah : 120/90 mmHg
Nadi : 70x/menit
Akral : Hangat
Jantung Auskultasi : Bunyi jantung I - II reguler murni, murmur (-),
gallop (-)
Disability
GCS : 15

SURVEY SEKUNDER

3
Kepala
Bentuk : Bulat simetris
Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut
Mata : Palpebra oedem +/+, konjungtiva ananemis, sklera anikterik, lensa
jernih, pupil isokor, reflek cahaya (+/+),
Telinga: Tidak ada kelainan
Hidung : Sempit, terdapat sekret mukopurulen
Gigi, Mulut : Terdapat caries dentis
Leher : Tidak ada kelainan
Thoraks
Paru
Inspeksi : Bentuk dada normal, pergerakan nafas kanan kiri simetris
Palpasi : Fremitus taktil simetris kanan kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler seluruh lapang paru, wheezing (-/-) ronkhi (+/+)
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas atas : sela iga III parasternal kiri
Batas kanan : sela iga V parasternal kanan
Batas kiri : sela iga VI midklavikula kiri
Auskultasi : Bunyi jantung I - II reguler murni, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : datar, tidak pucat, tidak terdapat venektasi, tidak terdapat
caput medusa
Auskultasi : Bising usus (-)
Palpasi : Abdomen supel, nyeri tekan dan lepas sulit dinilai
Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen
Genitalia eksterna
Kelamin : Wanita, perdarahan pervaginam (-)
Ekstremitas
Superior : Oedem (-/-), sianosis (-)
Inferior : Oedem (-/-), sianosis (-)

4
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN


HEMATOLOGI
Hemoglobin 13,2 g/dL 11,7-15,5
Hematokrit 41 % 33-45
Leukosit 4,6 ribu/ul 5,0-10,0
Trombosit 237 ribu/ul 150-440
Eritrosit 4,64 juta/ul 3,80-5,20
VER/HER/KHER/RDW
VER 87,5 fl 80,0-100,0
HER 28,4 pg 26,0-34,0
KHER 32,5 g/dL 32,0-36,0
RDW 13,5 % 11,5-14,5
HITUNG JENIS
Basofil 0 % 0-1
Eosinofil 2 % 1-3
Netrofil 60 % 50-70
Limfosit 29 % 20-40
Monosit 6 % 2-8
Luc 2 % <4,5

E. DIAGNOSIS PRE-OPERATIF
Rhinitis Jamur

F. TATALAKSANA
1. Tanggal operasi : 6 Juni 2014
2. Diagnosis pra-bedah : Rhinitis Jamur
3. Keadaan umum pra bedah
ASA : 2 (Pasien penyakit bedah disertai penyakit sistemik
ringan sampai sedang)
4. Macam operasi : Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS)
5. Spesialis bedah : dr. Vicky, SpTHT-KL
6. Spesialis anestesi : dr. Agatha, SpAN
7. Lama operasi : 1 jam 20 menit
8. Lama anestesi : 1 jam 45 menit

Laporan Anestesi
1. Persiapan operasi
a. Persetujuan operasi tertulis

5
b. Puasa 6 jam pre-operasi
c. IVFD RL 500 cc/8 jam
d. Ceftriaxon 1x2 gram iu, dilakukan skin test terlebih dahulu
e. Membawa net cell 2 buah dan afrin 1 buah saat ke ruang operasi
2. Jenis anestesi : General anestesi
3. Teknik anestesi : Anestesia intravena
4. Posisi : Terlentang
5. Pernafasan : Terpasang Endotrakeal Tube (ETT) nomor 7,5
Intubasi sesudah tidur
Oral
Preoksigenisasi
Mudah mask ventilasi
Mudah face mask
Dengan stilet
1 buah pack
6. Premedikasi : Midazolam 2 mg, Fentanyl 150 ug
7. Induksi : Propofol 100 mg, Roculax 30 mg
8. Medikasi : Ephedrin 10 mg
Sulfas Atropin 0,5 mg
Ondansetron 4 mg
Ketesse 50 mg
Reverse: Prostigmin + Sulfas Atropin
Transamin 1 g
9. Maintenance : N2O/O2 = 2L/2L , Isofluran 2 vol%
10. Cairan : Ringer Laktat
11. Monitoring : Tanda vital, kedalaman anestesi, cairan, perdarahan, produksi
urin.
12. Perawatan pasca anestesi di ruang pemulihan

Tindakan Anestesi
1. Di ruang persiapan
Pasien tiba di ruang persiapan tanggal 6 Juni 2014 pada pukul 08.45 WIB.
a. Memeriksa persetujuan operasi dan identitas pasien
b. Pemeriksaan tanda-tanda vital
Tekanan darah : 155/74 mmHg
Nadi : 81x/menit
Suhu : Afebris
c. Ganti pakaian dengan pakaian khusus kamar operasi

6
d. Memeriksa kelengkapan obat-obatan dan peralatan anestesi
e. Memasang infus RL. Vasofix terpasang di tangan kiri dan kaki kiri.
2. Di ruang operasi
a. Jam 10.00 WIB pasien masuk ke kamar operasi, manset dan monitor dipasang.
b. Jam 10.15 WIB diberikan premedikasi injeksi Midazolam 2 mg dan Fentanyl
150 ug. Kemudian dilakukan induksi dengan Propofol 100 mg dan Roculax 30
mg. Face mask didekatkan pada hidung dengan O2 4L/menit selama kurang
lebih 5 menit. Memeriksa refleks bulu mata. Melakukan intubasi setelah
pasien tidur dengan memasang Endotrakeal Tube (ETT) no. 7,5 dengan stilet.
Setelah ETT terpasang dengan baik dilanjutkan pemberian nafas buatan
dengan pompa manual yang dilanjutkan dengan metode nafas kendali dengan
ventilator: volume tidal 500 ml dan frekuensi 14x/menit. Mengalirkan N2O/O2
= 1,5L/2L
c. Jam 10.25 WIB dialirkan agent anestesi rumatan berupa Isofluran 2 vol%
d. Jam 10.30 WIB pembedahan dimulai, tanda vital dimonitor dan dicatat setiap
15 menit
e. Jam 10.30 WIB pasien mengalami bradikardi dengan nadi 42x/menit,
diberikan Sulfas Atropin 0,5 mg
f. Jam 10.40 WIB tekanan darah pasien turuh 58/37 mmHg, diberikan ephedrine
10 mg
g. Jam 11.30 WIB diberikan Ondansetron 4 mg dan Ketesse 50 mg
h. Jam 11.50 WIB pembedahan selesai. Menghentikan aliran gas N2O dan
diberikan O2 100% selama 5 menit. Diberikan penawar obat pelumpuh otot
yaitu Prostigmin + Sulfas Atropin. Saat pasien sudah bernafas spontan adekuat
dan jalan nafas sudah bersih, dilakukan ekstubasi.
i. Jam 12.00 WIB diberikan Transamin 1 g dan pasien dipindahkan ke ruang
pemulihan.

Pasien wanita berusia 61 tahun bernama Ny. Sari Saudin datang ke ruang
operasi untuk menjalani operasi Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) pada
tanggal 6 Juni 2014 dengan diagnosis pre operatif Rhinitis Jamur. Dari hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang disimpulkan bahwa pasien
masuk kedalam ASA 2.
Sebelum dilakukan operasi pasien dipuasakan selama 6-8 jam. Penggantian
puasa dengan memberikan terapi cairan ringer laktat 500 cc/8jam. Pada pasien ini
deiberikan antibiotik Ceftriaxon 1x2 gram iu, dan dilakukan skin test terlebih dahulu,

7
Persetujuan operasi juga dilakukan sebelum dilakukan tindakan sebagai informed
consent.
Operasi FESS dilakukan pada tanggal 6 Juni 2014. Pasien masuk ke ruang OK
5 pada pukul 10.00 WIB, dilakukan pemasangan NIBP, SpO2, EKG lead II.
Dilakukan injeksi premedikasi Midazolam 2 mg dan Fentanyl 150 ug. Selanjutnya
dilakukan induksi dengan injeksi Propofol 100 mg, serta Roculax 30 mg. Face mask
didekatkan pada hidung dengan O2 4L/menit selama kurang lebih 5 menit. Memeriksa
refleks bulu mata. Melakukan intubasi setelah pasien tidur dengan memasang
Endotrakeal Tube (ETT) no. 7,5 dengan stilet. Setelah ETT terpasang dengan baik
dilanjutkan pemberian nafas buatan dengan pompa manual yang dilanjutkan dengan
metode nafas kendali dengan ventilator: volume tidal 500 ml dan frekuensi 14x/menit.
Mengalirkan N2O/O2 = 2L/2L kemudian dialirkan agent anestesi rumatan berupa
Isofluran 2 vol%.
Pada pukul 10.30 WIB pembedahan dimulai, seketika denyut nadi pasien
berjumlah 42x/menit. Segera dilakukan injeksi Sulfas Atropin 0,5 mg. Selain itu pada
pukul 10.40 WIB tekanan darah pasien adalah 58/37 mmHg, lalu dilakukan injeksi
intravena ephedrine 10 mg. Pasien diberikan injeksi Ondansetron ketika setelah
dibius, serta Ketesse.
Operasi selesai pada pukul 11.50 WIB. Mesin anestesi diubah ke manual. Gas
N2O dan isofluran dihentikan, diberikan O2 100% selama 5 menit. Diberikan penawar
obat pelumpuh otot yaitu Prostigmin + Sulfas Atropin. Saat pasien sudah bernafas
spontan adekuat dan jalan nafas sudah bersih, dilakukan ekstubasi.
Total cairan yang diberikan pada pasien 600 cc, jumlah perdarahan kurang
lebih 100 cc.
Pasien diberikan injeksi intravena dengan Transamin. Kemudian pasien
dipindahkan ke ruang pemulihan yang dilanjutkan dengan monitoring. Pemantauan
akhir tekanan darah 150/67 mmHg, nadi 80x/menit, saturasi oksigen 99%.

Jam Tekanan Darah Nadi


10.15 120/70 mmHg 60x/menit
10.30 90/48 mmHg 42x/menit
10.40 58/37 mmHg 66x/menit
10.45 110/67 mmHg 93x/menit
11.00 88/60 mmHg 82x/menit

8
11.15 120/68 mmHg 82x/menit
11.30 123/68 mmHg 68x/menit
11.45 140/68 mmHg 80x/menit

BAB III
ANALISIS KASUS

Status Generalis
d. Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
e. Kesadaran : Pada pasien ini tidak terdapat penurunan kesadaran
f. Tanda Vital : Tekanan Darah : normotensi
Pernafasan : normal
Nadi : normal
Suhu : normal
e. Antropometri : pada pasien ini dikategorikan sebagai normoweight

SURVEY PRIMER

9
Air Way
Tidak didapatkan masalah pada pasien

Breathing
Tidak didapatkan masalah pada pasien

Circulation
Tidak didapatkan masalah pada pasien

Disability
Tidak didapatkan masalah pada pasien

SURVEY SEKUNDER
Kepala
Pada pemeriksaan mulut pasien ini terdapat caries dentis, dan pada pemeriksaan
hidung pasien terdapat concha yang menyempit dan sekret hidung

Thoraks
Tidak didapatkan masalah pada pasien
Abdomen
Tidak didapatkan masalah pada pasien
Genitalia eksterna
Tidak didapatkan masalah pada pasien
Ekstremitas
Tidak didapatkan masalah pada pasien

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium: ditemukan kelainan berupa leukopenia pada pasien ini

H. TATALAKSANA
Preoperatif
1. Sebelum dilakukan operasi pasien dipuasakan selama 6-8 jam. Tujuan puasa
adalah untuk mencegah terjadinya aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau
muntah pada saat dilakukan tindakan anestesi karena efek samping dari obat

10
anesthesia. Penggantian puasa dengan memberikan terapi cairan ringer laktat
500 cc/8jam dengan tujuan mempertahankan cairan tubuh pasien agar tetap
isovolemic.
2. Ceftriaxon 1x2 gram iu, dilakukan skin test terlebih dahulu, sebagai antibiotik
profilaksis agar tidak terjadi infeksi sekunder pada pasien ini pada saat
dilakukan operasi dan pada pasien ini dilakukan skin test terlebih dulu untuk
mengetahui apakah ada reaksi alergi pada pasien ini terhadap ceftriaxone.
3. Persetujuan operasi juga dilakukan sebelum dilakukan tindakan sebagai
informed consent dan merupakan syarat untuk dilakukan sebuah operasi.

Tindakan Anestesi
Di ruang persiapan
1. Pasien tiba di ruang persiapan tanggal 6 Juni 2014 pada pukul 08.45 WIB.
2. Memeriksa persetujuan operasi dan identitas pasien.
Hal ini bertujuan sebagai syarat sebelum dilakukan operasi pada pasien ini.
3. Pemeriksaan tanda-tanda vital.
Pada pemeriksaan didapatkan tensi pasien 155/74 mmHg hal ini menandakan
ada kenaikan tekanan darah pasien kemungkinan akibat dari pasien merasa cemas.
Hal ini diasumsikan karena pada saat pemeriksaan di ruangan tekanan darah
pasien 120/79 yang berarti normal dan pasien tidak memiliki riwayat tekanan
darah tinggi selama hidupnya.
4. Ganti pakaian dengan pakaian khusus kamar operasi
5. Memeriksa kelengkapan obat-obatan dan peralatan anestesi
6. Memasang infus RL.
Vasofix terpasang di tangan kiri dan kaki kiri. Tujuan dari pemasangan infus
adalah untuk koreksi defisit cairan prabedah, fasilitas vena terbuka untuk
memasukan obat-obatan selama operasi, memberikan cairan pemeliharaan,
koreksi kehilangan cairan selama operasi.

Di ruang operasi
1. Operasi FESS dilakukan pada tanggal 6 Juni 2014. Pasien masuk ke ruang OK
5 pada pukul 10.00 WIB, dilakukan pemasangan NIBP, SpO2, EKG lead II.
Hal ini dilakukan untuk memantau kondisi pasien selama berjalannya operasi.

11
2. Anesthesia umum (GA) adalah suatu keadaan tidak sadar yang bersifat
sementara yang diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat
pemberian obat anestesi. Metode ini cocok untuk dilakukan pada operasi yang
berlangsung lama. Pada pasien ini juga dilakukan intubasi endrotrakeal.
Intubasi endotrakeal adalah memasukan pipa endotrakeal kedalam trakea
mlalui hidung atau mulut. ET digunakan sebagai alat untuk menghantarkan
gas anastesi kedalam trakea dan memudahkan kontrol ventilasi dan oksigenasi.
Pasien ini dilakukan intubasi karena akan dilakukan operasi FESS yang lokasi
operasinya dilakukan pada daerah maksilofasial merupakan salah satu indikasi
khusus intubasi endotrakeal.
3. Dilakukan injeksi premedikasi Midazolam 2 mg yang merupakan obat induksi
tidur jangka pendek untuk premedikasi, induksi dan pemeliharaan anestesi,
Fentanyl 150 ug yang merupakan obat opioid yang bersifat analgetik.
Penggunaan premedikasi bertujuan untuk menimbulkan rasa nyaman pada
pasien dan mempermudah induksi dengan menghilangkan rasa khawatir.
Selanjutnya dilakukan induksi dengan injeksi Propofol 100 mg yang memiliki
efek sedative hipnotik, serta Roculax 30 mg yang memberikan relaksasi pada
otot. Face mask didekatkan pada hidung dengan O2 4L/menit selama kurang
lebih 3 menit. Memeriksa refleks bulu mata. Melakukan intubasi setelah
pasien tidur dengan memasang Endotrakeal Tube (ETT) no. 7,5 dengan stilet.
Setelah ETT terpasang dengan baik dilanjutkan pemberian nafas buatan
dengan pompa manual yang dilanjutkan dengan metode nafas kendali dengan
ventilator: volume tidal 500 ml dan frekuensi 14x/menit. Mengalirkan N2O/O2
= 2L/2L kemudian dialirkan agent anestesi rumatan berupa Isofluran 2 vol%.
4. Pada pukul 10.30 WIB pembedahan dimulai, seketika pasien mengalami
bradikardi dengan nadi 42x/menit. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh
refleks trigeminocardiac karena bradikardi pada pasien ini onset nya sangat
cepat ketika dimulainya pembedahan, selain itu pada pasien ini dilakukan
operasi FESS yang berlokasi didaerah maksilofasial sehingga hal ini
memperkuat dugaan penyebab bradikardi pada pasien ini adalah reflex
trigeminocardiac. Segera dilakukan injeksi Sulfas Atropin 0,5 mg yang
merupakan obat antikolinergik yang bekerja menurunkan tonus vagal dan
memperbaiki sistem konduksi atrioventrikular. Selain bradikardi pasien juga
mengalami hipotensi pada pukul 10.40 WIB dengan tekanan darah 58/37

12
mmHg. Hipotensi adalah suatu keadaan tekanan darah yang abnormal ditandai
dengan tekanan darah sistolik yang mencapai dibawah 90 mmHg. Efek dari
refleks trigeminocardiac juga dapat menurunkan tekanan darah karena terjadi
perangsangan saraf trigeminus yang memicu hal ini. Segera dilakukan injeksi
ephedrine 10 mg.
5. Pasien diberikan injeksi Ondansetron yang mengurangi efek mual akibat dari
obat anestesi, serta Ketesse yang merupakan obat golongan NSAID dengan
efek analgetik, antiinflamasi dan antipiretik untuk mengurangi nyeri pasca
operasi. Penanggulangan nyeri pasca bedah perlu diperhatikan, dan nyeri
sangat bervariasi pada setiap pasien, banyak hal yang mempengaruhi dalam
hal intensitas nyeri antara lain jenis kelamin, usia, psikologis pasien, dan juga
lokasi, jenis dan lamanya operasi. Mekanisme terjadinya nyeri pasca bedah
pada dasarnya mirip dengan timbulnyan luka, adanya kerusakan jaringan
disertai keluarnya bahan-bahan yang dapat merangsang nyeri seperti
bradikinin, serotonin, prostaglandin. Inflamasi perifer menghasilkan
prostaglandin dan berbagai sitokin yang menginduksi COX 2 setempat,
selanjutnya akan mensensitisasi nociceptor perifer yang ditandai dengan
timbulnya nyeri.
6. Operasi selesai pada pukul 11.50 WIB. Mesin anestesi diubah ke manual agar
pasien dapat melakukan nafas spontan. Gas N2O dan isofluran dihentikan,
diberikan O2 100% selama 5 menit. Diberikan penawar obat pelumpuh otot
yaitu Prostigmin + Sulfas Atropin. Saat pasien sudah bernafas spontan adekuat
dan jalan nafas sudah bersih, dilakukan ekstubasi.
7. Total cairan yang diberikan pada pasien 600 cc, jumlah perdarahan kurang
lebih 100 cc.
8. Pasien diberikan Transamin yang merupakan obat golongan antifibrinolitik
yang berguna untuk membantu pembekuan darah. Kemudian pasien
dipindahkan ke ruang pemulihan yang dilanjutkan dengan monitoring.
Pemantauan akhir tekanan darah 150/67 mmHg, nadi 80x/menit, saturasi
oksigen 99%.

Kebutuhan Cairan Perioperatif


Terdapat tiga periode yang dialami oleh pasien apabila mejalani tindakan
pembedahan, yaitu: prabedah, selama pembedahan dan pasca bedah.

13
1. Terapi cairan prabedah
Tujuan dari terapi cairan ini adalah mengganti cairan dan kalori yang dialami
pasien prabedah akibat puasa. Cairan yang digunakan adalah cairan pemeliharaan dan
cairan untuk koreksi defisit puasa.
Tujuan dari cairan pemeliharaan untuk mengganti kehilangan air tubuh lewat
urin, feses, paru dan keringat. Kebutuhan pemeliharaan normal dapat diestimasi
dengan:
Pada pasien berat badan : 50 kg
Berat Kebutuhan
10 kg pertama 4 ml/kg/jam 4 x 10 = 40
2 x 10 = 20
10-20 kg kedua 2 ml/kg/jam
Masing-masing kg > 20 kg 1 ml/kg/jam 1 x 30 = 30
90 ml/jam
Pasien yang akan dioperasi setelah semalam puasa tanpa intake cairan akan
menyebabkan defisit cairan sebanding dengan lamanya puasa. Defisit ini dapat
diperkirakan dengan mengalikan kebutuhan cairan pemeliharaan normal dengan
lamanya puasa. Untuk berat badan 50 kg dan puasa 6 jam: 90 ml/jam x 6 = 540 ml.
Pada pasien diberikan cairan ringer laktat 500 ml/8jam.
2. Terapi cairan selama operasi
Tujuannya adalah sebagai fasilitas vena terbuka, koreksi kehilangan cairan
melalui luka operasi, mengganti perdarahan dan mengganti cairan yang hilang melalui
organ ekskresi.
Terapi cairan diberikan dengan menjumlahkan kebutuhan cairan pemeliharaan,
kebutuhan cairan selama operasi dan puasa. Perhitungan cairan yang hilang
berdasarkan jenis operasi yang dilakukan dengan asumsi:
Operasi besar : 6-8 ml/kg/jam
Operasi sedang : 4-6 ml/kg/jam
Operasi kecil : 2-4 ml/kg/jam
Operasi FESS dikategorikan sebagai operasi minimal invasif. Koreksi cairan
berdasarkan jenis operasi 2-4 x 50 = 100-200 ml/jam.
Pemberian jam I : M + O + P = 90 + 100 + 270 = 460 ml
Pemberian jam II : M + O + P = 90 + 100 + 135 = 325 ml

14
Operasi berlangsung selama 1 jam 20 menit. Pada pasien mendapatkan terapi cairan
ringer laktat 600 ml selama operasi. Berdasarkan pemberian cairan pada pasien sudah
mencukupi berdasarkan perhitungan kebutuhan cairan selama operasi.
Selain itu ada baiknya dilakukan perhitungan estimasi perdarahan yang akan
terjadi pada pasien ini, apakah perdarahan masih dapat ditoleransi atau tidak. Perlu
diketahui jumlah darah yang hilang unuk penurunan hematocrit sampai 30%.
Estimasi volume darah pasien: 65ml/kg x 50 kg = 3250 ml
Estimasi volume sel darah merah hematocrit preoperative: 3250 ml x 41% = 1332 ml
Estimasi volume sel darah merah hematocrit 30%: 3250 ml x 30% = 975 ml
Kehilangan sel darah merah pada 30%: 1332-975 = 357 ml
Perkiraan jumlah darah yang hilang: 3 x 357 ml = 1071 ml
Oleh karena itu transfuse dipertimbangkan hanya jika pasien kehilangan darah
melebihi 1000 ml.
3. Terapi cairan pasca bedah
Tujuannya adalah fasilitas vena terbuka, pemberian cairan pemeliharaan,
nutrisi parenteral dan koreksi terhadap kelainan akibat terapi yang lain.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

TRIGEMINOCARDIAC REFLEX
Trigeminocardiac reflex adalah suatu keadaan dimana aktivitas dari
parasimpatis meningkat akibat dari perangsangan nervus trigeminus, sehingga hal ini
dapat menyebabkan hipotensi dan bradikardi dalam onset yang sangat cepat. Refleks
ini terjadi biasanya pada operasi pada daerah craniofacial. Refleks ini merupakan
ekspresi refleks sentral utama untuk vasodilatasi serebrovaskular cepat yang
dihasilkan dari eksitasi neuron oksigen-sensitif dalam ventro-lateral rostral medulla
oblongata. Dengan respon fisiologis ini, sirkulasi sistemik dan serebral dapat
disesuaikan dengan cara yang menambah perfusi serebral.

15
BRADIKARDIA
Bradikardia merupakan temuan klinis yang kerap dijumpai dalam praktek
sehari-hari. Secara umum bradikardia disebabkan oleh kegagalan pembentukan
impuls oleh nodus sinoatrial (SA node) atau kegagalan penghantaran impuls dari
nodus SA ke ventrikel.
Nodus SA adalah pembangkit impuls alamiah pada sistem konduksi jantung
dengan laju 60-100 kali per menit. Selanjutnya impuls diteruskan ke atrium kanan dan
atrium kiri melalui Bachmans bundle, dilanjutkan ke nodus AV, His bundle, berkas
cabang kanan dan kiri, serabut Purkinje, dan terakhir miokard.
Nodus SA dalam keadaan normal adalah pemacu jantung karena memiliki
kecepatan depolarisasi spontan tertinggi. Ketika nodus SA mencapai ambang,

16
terbentuk potensial aksi yang menyebar ke seluruh jantung dan menginduksi jantung
berdenyut.
Jantung dipersarafi oleh kedua divisi sistem saraf otonom, yang dapat
memodifikasi kecepatan kontraksi. Saraf parasimpatis ke jantung yaitu saraf vagus
menimbulkan efek pada nodus SA adalah menurunkan kecepatan denyut jantung,
pada nodus AV menurunkan eksitabilitas nodus tersebut, memperpanjang transmisi
impuls ke ventrikel. Sebaliknya, efek simpatis ke jantung adalah mempercepat denyut
jantung, meningkatkan kecepatan hantaran nodus AV dan meningkatkan kekuatan
kontraktil sehingga jantung berdenyut lebih kuat.

Penyebab bradikardia:
I. Penyebab intrinsik
a. Proses degeneratif (penuaan)
b. Infeksi atau iskemia
c. Penyakit infiltrative (amyloidosis, sarkoidosis)
d. Penyakit kolagen (SLE, rheumatoid artritis)
e. Trauma bedah
II. Penyebab ekstrinsik
a. Obat-obatan
b. Hipotiroid
c. Gangguan elektrolit
d. Hipotermia
e. Kelainan neurologis
f. Gangguan saraf otonom.
Pengaruh obat-obatan dan proses degeneratif merupakan penyebab bradikardia
tersering. Gangguan fungsi nodus SA adalah jenis bradikardi yang palng banyak
dijumpai, terutama pada orangtua.

17
HIPOTENSI
Curah jantung adalah volume darah dipompa oleh tiap-tiap ventrikel per
menit. Dua faktor penentu curah jantung adalah kecepatan denyut jantung dan volume
sekuncup. Kecepatan denyut jantung ditentukan oleh irama nodus SA. Volume
sekuncup dipengaruhi oleh kontrol intrinsik yaitu seberapa banyak aliran balik vena
dan kontrol ekstrinsik yang berkaitan dengan tingkat stimulasi simpatis pada jantung.
Curah Jantung = Kecepatan Denyut Jantung x Volume Sekuncup
Tekanan darah arteri rata-rata adalah gaya utama yang mendorong darah ke
jaringan. Dua penetu utama tekanan darah arteri rata-rata adalah curah jantung dan
resistensi perifer total.

18
Tekanan Darah = Curah Jantung x Resistensi Perifer Total
Hipotensi atau tekanan darah rendah terjadi jika terdapat ketidakseimbangan
antara kapasitas vaskuler dengan volume darah atau jika jantung terlalu lemah untuk
menghasilkan tekanan yang dapat mendorong darah.

ANESTESI UMUM
Anesthesia umum (GA) adalah suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara
yang diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat
anestesi.
PREMEDIKASI
1. Midazolam
Merupakan obat golongan sedative derivate benzodiazepine, berkhasiat anti
cemas dan menyebabkan kantuk. Tujuan pemberian obat ini untuk memberi suasana
nyaman. Efek terhadap kardiovaskular menimbulkan hipotensi yang disebabkan okeh
efek dilatasi pembulu darah.

19
2. Fentanyl
Merupakan obat narkotik sintetik yang paling banyak digunakan dalam praktik
anestesiologi. Mulai kerjanya cepat dan masa kerjanya pendek. Fentanyl bersifat
depresan terhadap susunan saraf pusat sehingga menurunkan kesadaran pasien dan
khasiat analgetiknya sangat kuat. Terhadap sistem respirasi menimbulkan depresi
pusat nafas. Dosis yang diberikan adalah 1-2 ug/kgBB.

INDUKSI
Propofol
Merupakan derivate fenol dengan nama kimia di-iso profil fenol yang banyak
dipakai sebagai obat anesthesia intravena. Berupa cairan berwarna putih seperti susu,
tidak larut dalam air dan bersifat asam. Dikemas dalam ampul berisi 20 ml yang
mengandung 10 mg/ml. Sebagai obat induksi, mulai kerjanya cepat. Khasiat
farmakologinya adalah hipnotik murni. Pada sistem respirasi menimbulkan depresi
respirasi. Terhadap sistem kardiovaskular, tekanan darah menurun. Propofol dapat
menurunkan tekanan darah hingga 30 % melalui penghambatan aktifitas simpatis
semhingga terjadi penurunan systemic vascular resisten (SVR). Penggunaan klinik
dan dosis sebagai induksi anesthesia dosisnya 2,0-2,5 mg/kgBB. Pada pasien, dosis
yang diberikan adalah 100 mg dengan berat badan 50 kg, hal tersebut sudah sesuai
dengan dosis sebagai induksi.

OBAT PELUMPUH OTOT


Mekanisme hambatan saraf otot dengan hambatan penggabungan asetilkolin
dengan reseptor di membrane ujung motor atau otot. Penggunaan klinik untuk fasilitas
intubasi endotrakea, membuat relaksasi lapangan operasi, menghilangkan spasme
laring dan memudahkan nafas kendali.

SULFAS ATROPIN
Merupakan obat golongan antikholinergik yang berkhasiat menekan aktivitas
kholinergik atau parasimpatis. Efek terhadap kardiovaskular menghambat aktivitas
vagus pada jantung, sehingga denyut jantung meningkat.

EPHEDRINE

20
Obat ini adalah stimulator langsung dan adrenergic dan membebaskan
cathecolamine dari tempat reseptor. Obat ini menghambat penghancuran adrenalin
dan noradrenalin dengan efek suatu rangsangan simpatis yang kuat.

BAB V

21
KESIMPULAN

Seorang wanita berumur 61 tahun dilakukan operasi FESS pada tanggal 6 Juni
2014. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi maupun diabetes
mellitus selama hidupnya. Pada saat operasi FESS berlangsung, tekanan darah pasien
dan denyut nadi pasien berkurang secara mendadak dan hal ini kemungkinan besar
diakibatkan oleh refleks trigeminocardiac yang diakibatkan perangsangan syaraf
trigeminus sehingga memicu parasimpatis dan menyebabkan hipotensi dan bradikardi
pada pasien ini, hal ini diperkuat dengan operasi yang dilakukan pada pasien ini di
daerah craniofacial yang insiden terjadi nya hal ini sangat besar.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo A, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Ilmu Penyakit
Dalam. 5th ed. Jakarta: Interna Publishing, 2009. p. 1630-3
2. Silbernagl S, Lang F. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC,
2006. p. 18
3. Sherwood L. fisiologi manusia dari sel ke sistem. 2 nd ed. Jakarta: EGC, 2001.
p. 337
4. Mangku G, Senapathi T. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta:
Indeks, 2009. p. 24-46

22
5. Said Latief, Kartini A. Suryadi, M. Ruswan. Petunjuk Praktis Anestesiologi.
Edisi 2. Bagian Aanastesiologi dan Terapi Intensif FK UI; 2001
6. Schaller B, Cornelius JF, Prabhakar H, Koerbel A, Gnanalingham K, Sandu N,
et al. The trigemino-cardiac reflex. J Neurosurg Anesthesesiol. 2009 Jul;21
(3): 187-95
7. Morgan, G. Edward. 2005. Clinical Anesthesiology, 4th Edition. Mc Graw-
Hill Companies, Inc. United State

23