Anda di halaman 1dari 14

Available online at AL-KAUNIYAH: Journal of Biology

Website: http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/kauniyah
AL-KAUNIYAH; Journal of Biology, 10(1), 2017, 49-62

Naskah Review
TERAPI GEN: DARI BIOTEKNOLOGI UNTUK KESEHATAN
GENE THERAPY: FROM BIOTECHNOLOGY TO HEALTH
Dyah Ayu Widyastuti*
Program Studi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang
*Corresponding author: dyah.ayu@upgris.ac.id

Naskah Diterima: 8 Februari 2017; Direvisi: 8 Maret 2017; Disetujui: 10 April 2017

Abstrak
Rekayasa genetika dilakukannya untuk manipulasi gen-gen tertentu sehingga ekspresi gen dapat
dikontrol dan produknya dapat dimanfaatkan untuk tujuan tertentu, salah satunya untuk pengobatan
penyakit dengan terapi gen. Terapi ini melibatkan transfer asam nukleat berupa DNA ke sel
embrionik maupun somatik pasien sehingga gen tersebut memiliki efek pengobatan terhadap
penyakit pasien. Gen fungsional yang ditransfer berperan menggantikan fungsi gen abnormal yang
menyebabkan penyakit tertentu. Terapi gen dapat dilakukan pada sel embrional (germ line gene
therapy) maupun sel somatik (somatic cells gene therapy) pada pasien secara in vivo maupun ex
vivo. Penyisipan gen pada terapi ini menggunakan vektor virus maupun non virus. Keberhasilan
terapi gen salah satunya tergantung pada efektifitas transfer gen yang dilakukan dan ekspresi gen
fungsional. Gen fungsional yang telah tertransfer selanjutnya harus diekspresikan dengan baik
sehingga terapi dapat berhasil. Kanker merupakan salah satu penyakit yang memungkinkan
dilakukannya terapi gen, terkait dengan adanya abnormalitas gen penyebab proliferasi sel yang
tidak terkontrol.
Kata kunci: Rekayasa genetika; Terapi gen; Vektor virus; Vektor non virus

Abstract
Genetic engineering has the ability to manipulate specific genes so its expression can be controlled.
The control of gene expression can be used as a gene functional for appropriate purposes, such as
diseases cure with gene therapy. This therapy involves DNA as nucleic acid which is transfer to
embryonic or somatic cells of patients with certain diseases. The purpose of the gene therapy is to
switch an abnormal gene to be a functional gene which has a cure effect for the disease. The
functional gene has to substitute the abnormal gene leads to certain disease, either germ line gene
therapy or somatic cells therapy. The gene therapy needs a vector to carry the functional gene to
targeted cells, in vivo or ex vivo. The vector can be used viral or non viral vectors. The possibilities
of achievement of its therapy depend on gene transfer effectiveness and also functional gene
expression. The cancer is the one of diseases which can be treated with the gene therapy due to its
uncontrolled gene of cell proliferation.
Keywords: Genetic engineering; Gene therapy; Non viral vector; Viral vector
Permalink/DOI: http//:dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v10i1. 4864

Copyright 2016, AL-KAUNIYAH: Journal of Biology,


P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720
AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

PENDAHULUAN pada kromosom kelamin. Namun, apabila


Perkembangan ilmu pengetahuan dalam kelainan terjadi pada kromosom tubuh maka
bidang biologi molekuler dan bioteknologi tidak akan diturunkan ke generasi selanjutnya.
membawa pengaruh besar dalam penyelesaian Adanya kelainan genetik tersebut, sistem dan
masalah-masalah yang dihadapi manusia fungsi tubuh manusia akan terganggu dan
dalam berbagai bidang. Bidang kajian biologi berbeda dari normalnya. Selain itu, dengan
molekuler mulai berkembang setelah Watson terselesaikannya Proyek Genom Manusia juga
dan Crick pada tahun 1953 berhasil mene- memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi
mukan struktur untai ganda (double helix) adanya gen yang terkait fungsi tertentu
DNA yang menjadi dasar perkembangan sehingga ketika terjadi kesalahan fungsi dapat
cabang ilmu bioteknologi. Berdasarkan lebih mudah dicari solusinya. Perkembangan-
struktur untai ganda DNA, ilmuwan-ilmuwan perkembangan dalam bidang biologi molekuler
di bidang biologi molekuler dapat melakukan mendukung pula perkembangan di bidang
serangkaian eksperimen terkait struktur unik bioteknologi yang nantinya dapat dimanfaat-
tersebut. Keingintahuan para ilmuwan kan manusia dalam berbagai bidang kehidupan
akhirnya mendorong terwujudnya sebuah termasuk kesehatan.
proyek besar yang dinamai Proyek Genom Bioteknologi merupakan teknologi yang
Manusia pada tahun 1990. Genetics Home dikembangkan dengan memanfaatkan organis-
Reference (2017) dari Amerika Serikat me, baik secara utuh maupun bagian-
menyatakan bahwa genom adalah set lengkap bagiannya saja untuk menghasilkan produk
DNA yang dimiliki oleh suatu organisme yang bermanfaat bagi manusia. Perkembangan
termasuk gen-gen orisinalnya. Setiap genom bioteknologi modern telah sampai pada
memiliki semua informasi yang diperlukan pemanfaatan organisme pada level molekuler-
organisme untuk tumbuh, berkembang, dan nya dan terkait dengan rekayasa genetika.
mengatur seluruh aktivitas tubuhnya. Proyek Rekayasa genetika melibatkan manipulasi-
Genom Manusia memiliki target utama untuk manipulasi gen pada organisme sehingga dapat
mengetahui rangkaian atau sekuen lengkap gen dimanfaatkan baik di bidang pertanian,
manusia, fungsi masing-masing gen, dan kesehatan, lingkungan, industri, dan lainnya
inisiasi genom struktural sehingga dapat (Smith, 2009). Perkembangan bioteknologi di
diaplikasikan dalam dunia kesehatan (Moraes bidang kesehatan mendukung pula perkem-
& Ges, 2016). Proyek mulai dipublikasikan bangan terapi gen sebagai salah satu alternatif
pada tahun 2001, namun ilmuwan kembali solusi masalah kesehatan. Terapi gen dapat
mempublikasikan bahwa Proyek Genom digunakan untuk terapi penyakit, baik yang
Manusia telah berhasil mendapatkan sekuen bersifat genetis maupun yang bukan. Adanya
keseluruhan gen manusia di tahun 2003. terapi gen memberikan pilihan lain bagi
Terselesaikannya Proyek Genom Manu- penderita penyakit tertentu untuk memilih
sia membuka kesempatan dalam identifikasi metode pengobatan.
adanya keabnormalan urutan gen yang
mungkin terjadi. Genom manusia memiliki 23 PEMBAHASAN
pasang kromosom termasuk 2 kromosom Proyek genom manusia memicu
kelamin (Gambar 1) sehingga apabila terdapat penelitian-penelitian lanjutan dalam bidang
kesalahan urutan genom tersebut, dapat meng- biologi molekuler dan bioteknologi modern.
akibatkan terjadinya penyakit atau ketidak- Pemetaan genom manusia serta karyotyping
normalan dalam tubuh. Dengan diketahuinya memungkinkan adanya rekayasa gen-gen
urutan genom pada manusia, maka adanya tertentu demi menghasilkan ekspresi gen yang
kesalahan dalam urutannya akan lebih mudah diharapkan. Rekayasa genetika merupakan
diidentifikasi. Salah satu keuntungan diketa- suatu sistem modifikasi genetik pada genom
huinya urutan genom manusia adalah dapat organisme menggunakan metode-metode
mengidentifikasi adanya kelainan-kelainan dalam bioteknologi. Rekayasa genetika me-
genetik yang mengakibatkan adanya penyakit mungkinkan dilakukannya manipulasi gen-gen
genetik. Penyakit akibat kelainan genetik dapat sehingga ekspresi gen dapat dikontrol dan
diturunkan apabila kelainan tersebut terjadi produknya dapat dimanfaatkan untuk tujuan

60 | Copyright 2016. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

tertentu (Chaterine, 2010). Teknik ini sudah obatan penyakit tertentu. Dalam bidang
banyak dimanfaatkan untuk merekayasa gen kesehatan, rekayasa genetika juga dapat
fungsional serta sudah banyak pula dimanfaat- dimanfaatkan untuk terapi penyakit-penyakit
kan untuk memproduksi organisme-organisme dengan cara terapi gen. Ilmuwan dalam bidang
transgenik (Genetically Modified Organism). bioteknologi banyak melakukan penelitian di
Karyotipe manusia (Gambar 1) meng- bidang terapi gen, meliputi penggantian gen
gambarkan keseluruhan genom manusia, mem- yang termutasi dengan salinan gen sehat,
visualisasi sel-sel, dan kromosom individual inaktivasi (knocking off) gen yang termutasi,
(Biomnis, 2016). Modifikasi genetik memung- serta pengenalan gen baru untuk membantu
kinkan adanya perubahan pada pasangan basa, mengatasi penyakit tertentu (Johnson, 2017).
pemotongan fragmen DNA tertentu, maupun Misra (2013) menyatakan bahwa terapi gen
penambahan atau insersi suatu gen. DNA dari banyak digunakan untuk penyakit yang
suatu organisme diisolasi untuk kemudian disebabkan oleh kelainan gen tunggal resesif,
dikombinasi dengan DNA target lainnya. seperti fibrosis kistik (cystic fibrosis),
Rekayasa genetika digunakan oleh peneliti hemofilia, kelainan muscular, dan anemia sel
untuk meningkatkan atau bahkan memodifikasi sabit; serta penyakit lain, seperti kanker
karakteristik ekspresi gen pada suatu maupun AIDS (Acquired Immunodeficiency
organisme, termasuk modifikasi gen yang Syndrome).
memungkinkan adanya pencegahan dan peng-

Gambar 1. Kariotipe genom manusia (Chaterine, 2010)

Terapi Gen organisme yang akan diterapi, transformasi


Teknologi terapi gen tidak terlepas dari pada sel organisme target. Gen target yang
prinsip rekayasa genetika untuk menghasilkan telah disisipkan pada organisme yang diterapi
GMO (Genetically Modified Organism) atau tersebut diharapkan mampu menggantikan
yang biasa dikenal sebagai organisme fungsi gen abnormal yang mengakibatkan
transgenik. Ide untuk terapi gen cukup unik penyakit pada penderita.
yaitu dengan menambahkan gen yang normal Penggunaan terapi gen harus disesuaikan
ke bagian genom yang mengalami mutasi dengan jenis penyakit yang akan diterapi.
ataupun kerusakan sehingga fungsi gen Penyakit dan hubungan genetiknya harus
tersebut dapat diperbaiki (Kachroo & Gowder, diketahui terlebih dahulu sebelum dilakukan
2016). Proses rekayasa genetik pada teknologi terapi gen. Apabila suatu gen yang terkait pada
terapi gen meliputi tahapan berikut: isolasi gen penyakit tertentu telah dapat diidentifikasi,
target, penyisipan gen target ke vektor transfer, maka potensi penyakit tersebut untuk diterapi
transfer vektor yang telah disisipi gen target ke akan semakin besar. Misra (2013) menyatakan

Copyright 2016, AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 61


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

bahwa gen merupakan unit fungsional yang fungsi metabolisme tubuh, penyakit limfatik,
berkaitan dengan hereditas yang memiliki hingga cedera akibat radiasi dan penyembuhan
sekuen basa tertentu. Sekuen basa tersebut pascabedah. Namun, tidak menutup kemung-
yang nantinya akan menentukan jenis dan kinan berkembangnya terapi gen untuk meng-
fungsi protein yang diekspresikan. Ketika obati jenis penyakit lainnya.
suatu gen mengalami mutasi ataupun Rogers dan timnya merupakan orang
perubahan dalam sekuen basa nitrogennya, yang pertama kali mendemonstrasikan konsep
maka protein yang dikode tidak akan bisa transfer gen menggunakan virus sebagai
melaksanakan fungsi normalnya dan meng- vektor. Rogers menggunakan virus Shope
akibatkan suatu kelainan genetik. Terapi gen papilloma wild-type untuk mentransfer gen
hadir untuk menjadi solusi terapi terbaru pada arginase pada dua penderita penyakit kelainan
penyakit baik yang diturunkan maupun yang siklus urea yaitu hiperargininemia (Wirth &
tidak. Jackson and Naber (2017) menyatakan Yl-Herttuala, 2014). SPV atau Shope
bahwa hingga bulan Desember 2016 telah ada Papilloma Virus dikenal juga sebagai CRPV
sebanyak 802 percobaan klinis menggunakan (Cottontail Rabbit Papilloma Virus) atau
terapi gen di seluruh dunia. Sebagian besar Kappapapillomavirus 2. Virus ini mengakibat-
percobaan klinis terapi gen dilakukan pada kan karsinoma keratin yang mengalami
pasien-pasien kanker dan penyakit kardio- metastasis dan mengganggu kemampuan inang
vaskuler. Banyaknya penelitian dalam bidang untuk makan. Papillomavirus termasuk ke
terapi gen memungkinkan pengembangan dalam Famili Papovaviridae yang merupakan
metode terapi ini sebagai salah satu alternatif virus DNA penginisiasi munculnya tumor.
pengobatan yang efektif. Hipotesis penelitian Rogers menyatakan bahwa
Metode terapi gen mulai digunakan pada virus Shope papilloma tersebut dapat
tahun 1990 ketika National Health Institute mengkode gen yang bertanggung jawab pada
dari Amerika Serikat memasukkan gen normal aktivitas arginase dan gen ini dapat ditransfer
adenosine deaminase (ADA) ke leukosit ke tubuh penderita hiperargininemia. Namun,
penderita defisiensi kekebalan kombinasi akut hasil penelitian menyatakan sebaliknya. Tidak
yang berusia 4 tahun. Terapi gen ADA ada perubahan pada level arginine maupun
disetujui oleh Food and Drug Administration kondisi klinis dari penderita (Wirth & Yl-
(FDA) di Amerika Serikat pada tahun yang Herttuala, 2014). Dengan adanya penelitian
sama (Emengaha et al., 2015). Setelah inisiasi, Rogers pada tahun 1960, penelitian-penelitian
penelitian-penelitian mengenai terapi gen lain terkait terapi gen yang meliputi prosedur
semakin berkembang. Terapi gen meliputi transfer gennya serta vektor transfer yang
penggunaan asam nukleat baik DNA ataupun digunakan semakin banyak. Terapi gen
RNA dalam perlakuan, pengobatan, dan pen- pertama yang tercatat dengan baik dilakukan
cegahan penyakit pada manusia. Berdasarkan pada tahun 1990. Pada tahun 2005 telah
pada tipe penyakitnya, terapi gen dapat tercatat sebanyak 1100 penelitian mengenai
dilakukan dengan mentransfer gen fungsional terapi gen yang telah dilakukan di seluruh
yang dapat menggantikan gen yang hilang dunia, salah satunya terfokus di Jerman. Pada
ataupun tidak berfungsi sehingga dapat tahun 2003 dan November 2005, China
mengurangi efek negatif dari kondisi tersebut berhasil menyetujui adanya obat terapi gen
(Kaufmann et al., 2013). yang digunakan untuk pengobatan tumor yang
Terapi gen pada manusia didefinisikan membahayakan. Obat untuk terapi gen pertama
sebagai transfer asam nukleat berupa DNA ke kali diajukan ke the European Agency for the
sel somatik pasien sehingga gen tersebut Evaluation of Medicinal Products (EMEA) di
memiliki efek pengobatan terhadap penyakit Eropa pada tahun 2005 (Winnacker, 2006).
pasien, baik dengan mengoreksi ketidak-
normalan gen maupun over ekspresi protein Tipe Terapi Gen
yang dikode oleh gen tersebut. Menurut Terdapat dua tipe utama terapi gen,
Johnson (2017), terapi gen sudah banyak meliputi terapi gen sel embrional (germ line
digunakan untuk pengobatan kanker, penyakit gene therapy) dan terapi gen sel tubuh
kardiovaskuler, penyakit infeksius, penurunan (somatic gene therapy) (Misra, 2013):

62 | Copyright 2016. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

1. Terapi gen sel embrional (germ line gene Pada terapi gen dengan menggunakan
therapy) germ line, gen akan ditransfer ke dalam ovum
Pada terapi gen sel kelamin ini, digunakan ataupun zigot sehingga ketika ovum tersebut
sel kelamin jantan (sperma) maupun sel fertilisasi dengan sperma membentuk zigot,
kelamin betina (ovum) yang dimodifikasi maka zigot akan berkembang dengan mem-
dengan adanya penyisipan gen fungsional bawa gen yang telah disisipkan sebelumnya
yang terintegrasi dengan genomnya. sehingga organisme baru yang terbentuk telah
2. Terapi gen sel tubuh (somatic gene therapy) memiliki gen yang berfungsi dalam terapi yang
Pada terapi gen sel tubuh ini, dilakukan dimaksudkan. Terapi gen sel embrional
transfer gen fungsional ke dalam sel tubuh biasanya dilakukan pada hewan untuk
pasien sehingga malfungsi pada organ dapat membentuk hewan transgenik. Terapi gen jenis
diperbaiki. Singh et al. (2016) menyatakan ini memungkinkan perbaikan secara genetik
bahwa terapi gen sel tubuh spesifik untuk yang akan mulai terlihat ketika sel embrional
setiap pasien dan tidak diturunkan ke telah berkembang menjadi individu baru.
generasi berikutnya.

.
Gambar 2. Terapi gen sel embrional pada Spindler (monyet ketiga yang lahir dari terapi gen
embrional (Oregon National Primate Research, 2015)

Gambar 2 menjelaskan tahapan dalam telah dibuahi sperma tersebut kemudian


terapi gen sel embrional pada monyet. Ter- diinsersikan ke dalam uterus monyet lain yang
dapat dua monyet, yaitu monyet A yang me- berperan sebagai induk inang untuk kemudian
miliki kelainan pada mitokondrianya dan memfasilitasi embrio tersebut untuk tumbuh
monyet B yang merupakan monyet normal. dan berkembang. Embrio tersebut kemudian
Untuk menghasilkan keturunan monyet A yang akan dilahirkan dengan kondisi tanpa kelainan
normal tanpa adanya kelainan pada mitokon- mitokondria.
dria, maka dilakukan terapi gen melalui sel Pada terapi gen dengan sel somatik,
embrional. Kromosom pada ovum monyet A DNA yang mengandung gen untuk fungsi
diambil kemudian disisipkan ke dalam ovum terapi ditransfer ke dalam sel somatik baik
monyet B yang memiliki mitokondria normal. secara in vivo maupun ex vivo. Transfer gen
Proses pengambilan dan penyisipan tersebut tersebut biasanya ditujukan secara langsung ke
dilakukan secara ex vivo. Ovum monyet B organ atau jaringan spesifik sehingga gen dapat
yang telah disisipi materi genetik monyet A terekspresi dengan baik. Pada terapi gen
kemudian difertilisasi oleh sperma dari monyet dengan sel somatik juga tidak akan
C yang sejenis dengan monyet A. Ovum yang memberikan pengaruh terhadap sel embrional.

Copyright 2016, AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 63


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

Injeksi pada
jaringan

Liposomal Virus rekombinan


DNA

Pistol gen biolistik

Infusi
sistemik

DNA plasmid

Gambar 3. Terapi gen secara in vivo (Miesfeld, 2000)

Terapi gen secara in vivo tetap meng- mengakibatkan kurangnya populasi sel yang
gunakan bantuan vektor untuk mentransfer gen diproliferasi. Gambar 4 menunjukkan tahapan
target ke dalam jaringan atau organ pasien dalam metode terapi gen secara ex vivo yang
penderita penyakit tertentu. Pada Gambar 3 terdiri dari beberapa langkah, yaitu:
terlihat adanya vektor transfer gen berupa virus 1. Isolasi sel yang memiliki gen abnormal dari
yang dimodifikasi menjadi virus rekombinan pasien penderita penyakit tertentu.
dengan menyisipkan DNA dengan gen target 2. Sel hasil isolasi ditumbuhkan pada media
untuk terapi melalui metode teknologi DNA kultur tertentu yang sesuai dengan
rekombinan. Vektor virus yang telah karakteristik sel
mengandung gen target tersebut kemudian 3. Sel target yang telah dikultur kemudian
diinjeksikan ke dalam tubuh pasien secara diinfeksi dengan retrovirus yang meng-
langsung menuju jaringan atau organ target di andung rekombinan gen dalam bentuk gen
mana gen untuk terapi tersebut dibutuhkan atau normal untuk menggantikan gen abnormal
diekspresikan. Terapi gen secara in vivo pada sel
melibatkan proses transduksi secara langsung 4. Produksi rDNA dari RNA rekombinan (jika
di dalam tubuh, lebih mudah dilaksanakan dan vektor virus merupakan virus dengan materi
dikembangkan dalam skala tertentu, dan tidak genetik berupa RNA) dengan transkripsi
membutuhkan fasilitas khusus karena injeksi balik (reverse transcription)
atau transfer gen bisa dilakukan dengan 5. Translasi gen normal pada sitoplasma sel
metode umum maupun menggunakan biolistic menghasilkan protein yang bertanggung
gene gun. Namun, Wang et al. (2016) jawab pada gen yang mengalami kerusakan
menyatakan bahwa terapi gen secara in vivo (terjadi integrasi antara gen target untuk
memiliki spesifitas dan efisiensi yang lebih terapi dengan gen pada sel yang dikultur
rendah dibandingkan terapi gen secara ex vivo. 6. Seleksi, perbanyakan, dan pengujian sel
Terapi gen secara ex vivo memiliki yang telah ditransfeksi untuk mendapatkan
tahapan yang lebih kompleks dibanding secara sel normal yang gen abnormalnya telah
in vivo. Terapi ini melibatkan transduksi di berhasil digantikan oleh gen baru
laboratorium dengan kondisi spesifik tertentu 7. Injeksi kembali sel yang telah berhasil
sehingga membutuhkan fasilitas laboratorium direkayasa dengan terapi gen ke dalam
yang lebih lengkap. Metode ex vivo ini juga jaringan atau organ pasien.

64 | Copyright 2016. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

Gambar 4. Terapi gen secara ex vivo (Baldor, 2012)

Transfer Gen Penyisipan gen pada terapi gen umum-


Keberhasilan terapi gen sangat di- nya menggunakan vektor berupa virus (viral
pengaruhi oleh beberapa faktor, terutama vector) maupun senyawa atau molekul selain
efisiensi transfer dan ekspresi gen pada sel virus (non viral vector). Transfer gen pada
target. Transfer gen fungsional ke dalam sel terapi gen dengan menggunakan vektor berupa
target dalam terapi gen memerlukan vektor virus disebut sebagai transduksi sedangkan
yang kompeten dan dapat membawa gen target transfer dengan vektor selain virus disebut se-
dengan baik. Gen normal akan disisipkan ke bagai transfeksi. Vektor yang ideal sebaiknya
dalam genom organisme untuk menggantikan mampu mengantarkan gen ke tipe sel spesifik,
gen abnormal yang menyebabkan penyakit. mengakomodasi gen asing untuk menyesuai-
Menurut Misra (2013), tahapan penyisipan gen kan ukurannya, mencapai level dan durasi eks-
merupakan yang paling sulit dalam keseluruh- presi transgenik yang mampu memperbaiki
an tahapan terapi gen karena pada tahapan ini kerusakan atau ketidaknormalan gen, serta ber-
menentukan keberhasilan terapi gen itu sendiri. sifat aman dan nonimunogenik (Mali, 2013).
Vektor yang akan digunakan untuk penyisipan Karakteristik ideal yang harus dimiliki
gen pada terapi gen harus memenuhi beberapa oleh jenis virus yang akan dijadikan sebagai
karakteristik, yaitu memiliki spesifitas yang vektor dalam terapi gen haruslah memiliki
tinggi, mampu secara efisien menyisipkan satu kemampuan untuk diproduksi dalam titer yang
atau lebih gen dengan ukuran tertentu, tidak di- tinggi secara mudah dan efisien, tidak me-
kenali oleh sistem imun tubuh penderita, dan miliki toksisitas terhadap sel target maupun
dapat dipurifikasi dalam jumlah yang besar. efek lainnya yang dapat meniadakan kemam-
Vektor pembawa gen target harus tidak puannya untuk transduksi gen ke dalam sel
dikenali oleh sistem tubuh penderita sehingga target, dapat berintegrasi dengan sisi spesifik
tidak akan menimbulkan reaksi alergi ataupun dari sel target yang memungkinkan terjadinya
inflamasi. Penyisipan gen target via vektor ekspresi untuk terapi gen, memiliki kapasitas
tersebut harus aman bagi penderita dan transduksi yang baik pada sel-sel spesifik, serta
lingkungan. Vektor penyisipan gen juga harus harus memiliki kemampuan untuk menginfeksi
mampu untuk memfasilitasi ekspresi gen target sel-sel yang masih dapat berproliferasi. Virus
sepanjang terapi tersebut dibutuhkan, bahkan yang digunakan sebagai vektor pembawa gen
sepanjang umur penderita. juga harus memiliki kemampuan untuk meng-
hindar dari imunitas sel target (Crystal, 2014).

Copyright 2016, AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 65


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

Apabila suatu virus telah dikembangkan dan penyiapan vektor yang akan digunakan untuk
memiliki karakteristik ideal seperti yang telah transfer gen. Vektor virus yang digunakan
disebutkan, maka dimungkinkan untuk dapat untuk transfer gen harus disesuaikan dengan
menggunakannya sebagai vektor pembawa gen genom sel target, misalnya Retrovirus me-
dalam terapi gen. miliki kapasitas yang baik untuk berintegrasi
Menurut Misra (2013), virus yang di- dengan genom sel mamalia baik secara in vivo
jadikan vektor pembawa gen target pada terapi maupun in vitro (Vargas et al., 2016). Proses
gen haruslah berupa virus yang tidak rekombinasi gen juga harus diperhatikan
membahayakan meskipun virus sendiri dapat sehingga penyisipan gen normal dapat berhasil
berevolusi dan mengantarkan gen pada sel dan dapat digunakan sebagai pengganti fungsi
manusia melalui jalur patogenik. Namun, gen abnormal.
patogenitas virus vektor tersebut harus Persentase vektor virus yang sering
dipastikan tidak akan memberikan efek digunakan menurut Baldor (2012) terlihat pada
samping pada pasien yang diterapi gen. Gambar 5. Adenovirus merupakan vektor
Nayerossadat et al. (2012) menyatakan bahwa utama yang banyak digunakan sebagai vektor
beberapa virus yang dimanfaatkan sebagai untuk transduksi gen pengganti gen abnormal
vektor dalam terapi gen diantaranya adalah pada suatu penyakit. Selain itu, retrovirus juga
retrovirus, adenovirus (tipe 2 dan 5), adeno- banyak dimanfaatkan sebagai vektor dalam
associated virus (AAV), virus herpes, virus terapi gen sesuai dengan kemampuannya untuk
cacar, human foamy virus (HFV), lentivirus, mentransduksikan gen target yang dapat
serta beberapa jenis lainnya. Vektor berupa digunakan untuk mensubstitusi gen abnormal
virus harus dimodifikasi genomnya dengan penyebab penyakit tertentu. Kedua jenis virus
memotong sekuen tertentu sehingga patogeni- tersebut dianggap sebagai vektor yang paling
sitasnya dapat dikurangi atau dihilangkan. baik dan mudah diaplikasikan dalam terapi
Vektor berupa virus harus aman saat di- gen. Imbert et al., (2017) menyatakan bahwa
gunakan dalam proses terapi gen agar gen adenovirus merupakan virus dengan asam
target yang akan digunakan sebagai pengganti nukleat berupa DNA sedangkan retrovirus
gen abnormal dapat diekspresikan dengan baik merupakan virus yang memiliki asam nukleat
tanpa menimbulkan efek samping bagi pen- berupa RNA sehingga membutuhkan waktu
derita yang diterapi. Terapi gen seringkali tidak yang lebih lama untuk ekspresi gen.
berhasil dikarenakan adanya kesalahan dalam

Gambar 5. Persentase jenis vektor yang digunakan dalam terapi gen (Baldor, 2012)

Misra (2013) menyatakan bahwa RNA terapi gen. Tiga vektor virus yang banyak
pada retrovirus dapat ditranskripsi balik digunakan dalam terapi gen adalah:
menjadi complementary DNA (cDNA) 1. Adenovirus
sehingga dapat disisipkan gen target untuk Adenovirus termasuk dalam virus
ikosahedral yang berukuran antara 90100 nm,

66 | Copyright 2016. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

memiliki 252 kapsomer dengan 240 hekson dengan protein integrin v3 dan v5 (Breyer
dan 12 penton. Adenovirus memiliki protein et al., 2001).
fibrosa yang memanjang keluar dari penton Imbert et al. (2017) menyatakan bahwa
dan struktur tersebut diketahui sebagai struktur adenovirus merupakan virus DNA yang
yang mendukung kemampuan adenovirus memiliki kemampuan yang baik untuk men-
untuk mengenali serta berikatan dengan resep- transfer gen target ke sel, efisiensi transduksi
tor sel target (Gambar 6) Genom adenovirus yang tinggi untuk tipe sel yang berbeda sekali-
terdiri dari DNA yang linear, double stranded, pun serta memiliki waktu ekspresi gen yang
dan tidak bersegmen dengan ukuran antara 26 cepat untuk mendukung efek substitusi gen
45 Kbp. Genom adenovirus memiliki setidak- pada terapi, dapat memfasilitasi ekspresi gen
nya 2240 gen yang berbeda (Viswanathan et secara efektif baik pada sel yang berproliferasi
al., 2015). Adenovirus memiliki kemampuan maupun yang tidak, serta memiliki efisiensi
untuk menginfeksi sel manusia dan memung- yang cukup tinggi untuk menginfeksi sel tar-
kinkan munculnya penyakit pada sistem get. Namun, adenovirus memiliki spesifisitas
pernafasan, pencernaan, maupun indera (Misra, yang tinggi terhadap jenis jaringan atau organ
2013). target yang dapat diinfeksi sehingga tidak
Infeksi adenovirus diinisiasi oleh tinggi- dapat menginfeksi jaringan atau organ selain
nya afinitas pengikatan antara protein fibrosa targetnya. Adenovirus juga memiliki imunoge-
pada penton dengan reseptor permukaan sel nisitas yang cukup tinggi sehingga cenderung
target, misalnya CAR (coxsac-kievirus dan mudah dikenali oleh sistem imun penderita dan
reseptor adenovirus) dan domain MHC-I 2 mengakibatkan berkurangnya kemampuan
yang diikuti dengan interaksi antara penton dalam menyisipkan gen ke tubuh pasien.

Gambar 6. Struktur adenovirus terdiri dari dua protein utama yaitu protein inti dan protein kapsid
(Waye & Sing, 2010)

2. Retrovirus virus memiliki enzim transkriptase balik


Retrovirus merupakan salah satu virus (reverse transcriptase), integrase, serta juga
yang menginfeksi sel hewan, termasuk memiliki dua subunit RNA yang identik dan
manusia. Pertama kali identifikasi retrovirus berikatan membentuk ikatan dimer pada
berhasil dilakukan pada infeksi terhadap ayam kapsidnya. RNA retrovirus akan ditranskripsi
sebagai salah satu faktor onkogenik. Retrovirus balik saat virus ini menginfeksi sel inang
memiliki struktur spheris dengan diameter (Maurya et al., 2009).
antara 80100 nm (Gambar 7). Virion retro-

Copyright 2016, AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 67


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

Gambar 7. Struktur retrovirus (US National Institute of Health, 2016)

Vektor retroviral merupakan salah satu pada bagian tengah dari genom sel inang.
jenis vektor virus yang banyak digunakan Selain itu, penyisipan yang tidak terkontrol
dalam terapi gen sel embrional maupun sel letaknya dapat mengakibatkan tidak
somatik. Retrovirus dapat menginfeksi sel terkontrolnya pembelahan sel yang terjadi
yang sedang membelah karena virus ini sehingga dapat mengakibatkan kanker. Namun,
memiliki kemampuan untuk menembus pori beberapa solusi sudah dipelajari untuk dapat
nukleus saat siklus mitosis (Gambar 8). Ber- meminimalisasi kelemahan vektor retrovirus
dasarkan kemampuannya tersebut, Retrovirus tersebut. Penambahan zinc finger nuclease
banyak digunakan untuk terapi gen secara in ataupun penyertaan sekuen beta globin sebagai
situ (Nayerossadat et al., 2012). Materi genetik lokus kontrol dapat memastikan terjadinya
retrovirus cenderung kurang stabil karena penyisipan dan inte-grasi materi genetik pada
berupa RNA. Untuk dapat disisipi gen target sekuen yang tepat.
yang akan ditransfer ke sel target, RNA
3. Adeno-associated virus (AAV)
retrovirus harus ditranskripsi balik terlebih Adeno-associated virus (AAV adalah
dahulu membentu cDNA (complementary virus yang tidak memiliki selubung (envelop)
DNA) sebelum disisipi gen target. cDNA (Gambar 9). Virus ini berukuran cukup kecil
retrovirus dapat diintegrasikan dengan DNA (25 nm) serta memiliki genom berupa DNA
inang atau penderita secara efisien untuk untai tunggal yang linear. Infeksi AAV hanya
kemudian disebut sebagai provirus. Provirus akan efektif jika terdapat virus pembantu
memiliki kemampuan untuk ditranskripsi dan (helper virus), baik adenovirus maupun
ditranslasi seperti gen lainnya. Hasil ekspresi herpesvirus (Schndt et al., 2016) AAV
provirus telah mengandung gen target yang memiliki ukuran genom 4,7 Kbp serta
akan digunakan untuk terapi serta gen dari memiliki gen rep dan cap. Gen rep mengkode
retrovirus itu sendiri. protein non struktural yang akan berperan
Misra (2013) menyatakan terdapat dalam replikasi, pengemasan, dan integrasi
kelemahan pada penggunaan retrovirus genom, sedangkan gen cap mengkode protein
sebagai vektor transfer dalam terapi gen. struktural seperti VP1, VP2, dan VP3 yang
Kelemahan tersebut adalah adanya akan bergabung membentuk kapsid virus yang
kemungkinan penyisipan gen virus di fragmen berperan dalam transfer gen (Santiago-Ortiz &
genom manapun pada sel inang dimana hal Schaffer, 2016).
tersebut dapat mengakibatkan terjadinya
mutasi apabila penyisipan gen virus terjadi

68 | Copyright 2016. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

Gambar 8. Proses integrasi materi genetik retrovirus dengan inang (Saxena & Chitti, 2016)

Kenampakan AAV di bawah


mikroskop elektron

Gambar 9. Struktur Adeno-associated virus (Abs, 2016)

Terapi gen dengan vektor AAV dikhawatirkan kembali virulen saat berada di
umumnya digunakan dalam terapi in situ dalam tubuh pasien sehingga justru dapat
karena gen terintegrasi yang terdapat pada membahayakan kesehatan pasien. Pada 24 Juni
AAV rekombinan dapat langsung diinfeksikan 2010, Eureka Network melakukan proyek yang
pada sel inang. Pada sel inang target, gen dinamakan EUREKA project E! 3371 Gene
rekombinan dari vektor akan dirilis untuk Transfer Agents yang meneliti mengenai
kemudian diekspresikan menjadi protein senyawa turunan dari kation amfifilik 1,4-
fungsional tertentu yang dapat mensubstitusi dihidropiridin/1,4-DHP (cationic amphiphilic
gen yang abnormal pada sel tersebut. Dengan 1,4-dihydropyridin) yang dapat digunakan
adanya ekspresi gen fungsional yang telah sebagai pengantar gen normal ke dalam inti sel
disisipkan dengan vektor AAV (Gambar 10), dan mengganti gen sebelumnya yang rusak.
penyakit akibat ketidaknormalan gen dapat Proyek ini memungkinkan adanya pengem-
diobati. bangan vektor nonviral untuk menyisipkan gen
Metode transfer gen melalui vektor virus dalam terapi gen pada penyakit tertentu.
memang sudah banyak dilakukan, namun Produk vektor ini memiliki kelebihan yang
dalam terapi gen, metode ini masih memiliki dinilai potensial untuk dikembangkan, yaitu
beberapa kelemahan. Vektor berupa virus telah siap untuk diproduksi dalam skala besar,

Copyright 2016, AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 69


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

lebih efektif dibanding senyawa organik lain, Adanya proyek ini memberikan alternatif lain
serta dikarenakan karakteristiknya yang ber- dalam terapi gen, yaitu dengan menggunakan
beda dibanding vektor virus maka resistensi vektor selain virus.
kekebalan tubuh penerimanya dapat dihindari.
Administrasi terapi gen Vektor virus mencapai sel target dan
ke pasien melepaskan transgen

AAV Sel target


Dimulai dengan Terapi gen melepas Protein
transgen terapeutik reseptor
gen ke sel

DNA Enkapsulasi Gen


(gen) gen pada AAV mengekspresi
kan protein Protein yang
disekresikan

Transgen ditempatkan pada Produksi protein hasil ekspresi transgen


vektor virus (misal: AAV) dan penyakit berhasil diterapi

Gambar 10. Terapi gen dengan vektor AAV (Templeton, 2015)

8 9 10

6 1 Kanker
7
2 Penyakit kardiovaskuler
3 Penandaan genetik (gene marking)
5 4 Relawan sehat
5 Penyakit infeksius
4 6 Penyakit inflamatori
3 7 Penyakit monogen
1 8 Penyakit neurologis
2 9 Penyakit terkait penglihatan
10 Lainnya

Gambar 11. Beberapa penyakit yang dapat diberi perlakuan dengan terapi gen (Molina, 2013)

Aplikasi Terapi Gen penyakit telah berhasil diidentifikasi dan dapat


Terapi gen dapat digunakan sebagai ditemukan gen fungsional yang dapat
alternatif pengobatan terhadap penyakit- mensubstitusi gen yang abnormal tadi. Urutan
penyakit yang selama ini belum ditemukan pertama penyakit yang diterapi gen adalah
obat maupun vaksinnya. Gambar 11 menun- kanker. Beberapa jenis kanker terutama yang
jukkan beberapa jenis penyakit yang diasumsi- terkait dengan abnormalitas suatu gen telah
kan dapat disembuhkan dengan terapi gen. berhasil diterapi dengan menyisipkan gen
Penyakit-penyakit tersebut dapat diterapi fungsional tertentu.
apabila gen yang terkait dengan munculnya

70 | Copyright 2016. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

KESIMPULAN Emengaha, F. C., Johnkennedy, N., Hope, O.,


Terapi gen merupakan metode peng- Henry, A., & Ukamaka, E. (2015). Gene
obatan terbaru yang dilakukan dengan therapy in the developing countries.
mentransfer atau menyisipkan gen fungsional International Journal of Medical and
tertentu yang dapat menggantikan fungsi gen Health Sciences Research, (2), 80-92.
abnormal yang terkait dengan penyakit target. Genetics Home Reference. (2017). The Human
Penyakit-penyakit yang selama ini belum di- Genome Project. USA. Department of
temukan obat maupun vaksinnya dapat dicoba Health & Human Services.
untuk diobati dengan terapi gen. Terapi gen Imbert, M., Dias-Florencio, G., & Goyenvalle,
dapat mengatasi penyakit dengan mengidentifi- A. (2017). Viral vector-mediated
kasi gen terkait terlebih dahulu. Terapi gen antisense therapy for genetic diseases.
dapat dilakukan secara in vivo maupun ex vivo Genes, 8, 1-19.
baik menggunakan sel embrional maupun sel Jackson, E. A. & Naber, J. (2017). The future
somatik. Transfer gen fungsional pada terapi is now: Are payers ready for gene
gen memanfaatkan vektor tertentu, baik berupa therapies? Retrieved from http://www.mi
vektor virus, seperti adenovirus, retrovirus, lliman.com/uploadedFiles/insight/2017/2
dan AAV maupun vektor non viral meng- 383HDP_20170202.pdf.
gunakan senyawa-senyawa organik tertentu. Johnson, R. G. (2017). Will gene therapy and
Hingga saat ini, penyakit yang banyak meng- gene editing change your life? Retrieved
gunakan terapi gen sebagai salah satu alternatif from http://www.lopc.org/wp-content/up
pengobatannya adalah kanker. Keberhasilan loads/2017/03/Gene-Therapy.pdf.
terapi gen sangat tergantung pada efisiensi Kachroo, S., & Gowder, S. J. T. (2016). Gene
transfer gen fungsional serta efektivitas therapy: An overview. Gene Technology,
ekspresi gen fungsional tersebut. 5, 1.
Kaufmann, K. B., Bning, H., Galy, A.,
DAFTAR PUSTAKA Schambach, A., & Grez, M. (2013).
Abs. (2016). Adeno-associated virus Gene therapy on the move. EMBO
Introduction. Retrieved from Molecular Medicine, 5, 1642-1661.
https://www.abmgood.com/marketing/kn Mali, S. (2013). Delivery systems for gene
owledge_base/Adeno_Associated_Virus therapy. Indian Journal of Human
_Introduction.php Genetics, 19, 3-8.
Baldor. (2012). Gene therapy. Retrieved from Maurya, S. K., Srivastava, S., & Joshi, R. K.,
http://www.anthonybaldor.com/thoughts- (2009). Retroviral vectors and gene
and-notes/bioblog/gene-therapy/ therapy: an update. Indian Journal of
Biomnis. (2016). Constitutional cyto and Biotechnology, 8, 349-357.
molecular genetics: Karyotyping, FISH Miesfeld, R. L. (2000). Gene therapy.
and CGH array. Retrieved from http:// Retrieved from http://cbc.arizona.edu/cla
www.Biomnis.com/wp_content/uploads/ sses/bioc471/pages/Lecture24.html
2016/04/56-INTGB-Focus_Karyotyping Misra, S. (2013). Human gene therapy: a brief
_SNP_ array.pdf. overview of the genetic revolution.
Breyer, B., Jiang, W., Cheng, C., Paul, R., & Journal of the Association of Physicians
He, T. (2001). Adenoviral vector- of India, 61, 41-47.
mediated gene transfer for human gene Molina, F. M. (2013). Gene Therapy: Tools
therapy. Current Gene Therapy, 1, 1-20. and Potential Applications. Croatia.
Chaterine. (2010). Human chromosomes and InTech.
karyotype. Retrieved from http://genege Moraes, F. & Ges, A., (2016). A decade of
ek.ca/2010/11/human-chromosomes-and- human genome project conclusion:
karyotype/ Scientific diffusion about our genome
Crystal, R. G. (2014). Adenovirus: the first knowledge. Biochemistry and Molecular
effective in vivo gene delivery vector. Biology Education, 44, 215-223.
Human Gene Therapy, 25, 3-11.

Copyright 2016, AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 71


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 10(1), 2017

Nayerossadat, N., Maedeh, T., & Ali, P. A. Templeton, G. (2015). What is gene therapy?
(2012). Viral and nonviral delivery Retrieved from http://www.extremetech.
systems for gene delivery. Advanced com/extreme/212956-wgat-is-gene-thera
Biomedical Research, 1, 27. py/
Oregon National Primate Research. (2015). US National Institute of Health. (2016).
Germline engineering. Retrieved from Discovery of key component of HIV
http://genetherapyinthefuture.weebly.co virus yields new drug target. Retrieved
m/lab-techniques.html. from http://medicalxpress.com/news/20
Santiago-Ortiz, J. L., & Schaffer, D. V. (2016). 16-08-discovery-key-component-hiv-vir
Adeno-associated virus (AAV) vectors in us.html.
cancer gene therapy. Journal of Vargas, J. E., Chicaybam, L., Stein, R. T.,
Controlled Release, 240, 287-301. Tanuri, A., Delgado-Caedo, A., &
Saxena, S. K., & Chitti, S. V. 2016. Molecular Bonamino, M. H. (2016). Retroviral
Biology and Pathogenesis of vectors and transposons for stable gene
Retroviruses. Retrieved from http:// therapy: advances, current challenges
www.intechopen.com/books/advances- and perspectives. Journal of
in-molecular-retrovirology/molecular- Translational Medicine, 14, 1-15.
biology-and-pathogenesis-of-retroviruses Viswanathan, S., Srinivasan, P., & Prabhu. P.
Schndt, M., Schmeer, M., Kracher, B., (2015). Adenovirus in gene therapy-a
Krsemann, C., Espinosa, L. E., review. Bioengineering and Bioscience,
Grnert, A. Bning, H. (2016). DNA 3, 1-5.
minicircle technology improves purity of Wang, L., Li, F., Dang, L., Liang, C., Wang,
adeno-associated viral vector pre- C., He, B., Liu, J., Li, D., Wu, X., Xu,
parations. Official Journal of the X., Lu, A., & Zhang, G. (2016). In vivo
American Society of Gene and Cell delivery systems for therapeutic genome
Therapy, 5, 1-11. editing. International Journal of
Singh, S. P., Rai, K. A., Wal, P., Wal, A., Molecular Sciences, 17, 1-19.
Parveen, A., & Gupta, C. (2016). Gene Waye, M. M. Y., & Sing, C. W. (2010). Anti-
therapy: recent development in the viral drugs for human adenoviruses.
treatment of various diseases. Interna- Pharmaceuticals, 3, 3343-3354.
tional Journal of Pharmaceutical, Winnacker, E. (2006). Development of Gene
Chemical, and Biological Sciences, 6, Therapy. Bonn. Wiley-VCH.
205-214. Wirth, T., & Yl-Herttuala, S. (2014). Gene
Smith, J. E. (2009). Biotechnology. Fifth therapy used in cancer treatment.
Edition. UK. Cambridge University Biomedicines, 2, 149-162.
Press.

72 | Copyright 2016. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720