Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Servisitis adalah sindrom peradangan serviks dan merupakan manifestasi
umum dari Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti Neisseria gonorrhoeae dan
Chlamydia trachomatis (McGough, 2008). Lima puluh persen wanita yang
terinfeksi dengan Neisseria gonorrhoeae tidak menunjukkan gejala. Skrining
yang tepat, diagnosis dini, dan pengobatan sangat penting pada wanita, karena
dapat berakibat komplikasi serius yang dapat mengakibatkan penyakit radang
panggul, kehamilan ektopik dan kemandulan. Endoserviks adalah tempat umum
infeksi lokal (Rosen T, 2012). Begitu juga dengan servisitis non spesifik, yang
sering disebabkan oleh Chlamydia trachomatis sebagian besar asimtomatis, dan
75-80% tempat yang paling umum terkena adalah serviks (Muriastutik, 2008).
Pada pemeriksaan wanita dengan servisitis, lebih dari 30% di tandai
dengan sekret mukopurulen atau mukopurulen cervisitis (MPC) pada pemeriksaan
inspekulo pada endoserviks. MPC ditandai juga dengan serviks yang rapuh dan
mudah berdarah (Muriastutik, 2008)
Pengetahuan tentang prevalensi servisitis gonore pada wanita dengan duh
tubuh vagina sangat penting dalam menetapkan pengobatan infeksi serviks. Makin
tinggi prevalensi servisitis gonore maka akan lebih meyakinkan kita untuk
memberikan pengobatan terhadap infeksi serviks. Wanita dengan faktor risiko
lebih cenderung menunjukkan infeksi serviks dibandingkan dengan mereka yang
tidak berisiko.Wanita dengan duh tubuh vagina disertai faktor risiko perlu
dipertimbangkan untuk diobati sebagai servisitis yang disebabkan oleh gonore dan
klamidiosis (Depkes RI, 2011).
Servisitis adalah suatu kondisi umum pada wanita pekerja seksual, dengan
prevalensi setinggi 20%. Pada studi servisitis pada pekerja seksual di Afrika,
Neisseria gonorhoaea, Chlamydia trachomatis, M. genitalium dan Tricomonas
vaginalis merupakan patogen yang umum di jumpai (Pollet, 2013).
Faktor-faktor seperti pendidikan dengan tingkat pendidikan yang rendah
sampai menengah, tingkat kesulitan ekonomi yang rendah, dan sedikitnya

1
2

penggunaan kondom dapat meningkatkan resiko penularan IMS (Depkes RI,


2011).
Di negara Amerika Serikat, Centers for Disease Control (CDC)
memperkirakan bahwa lebih dari 19 juta IMS terjadi setiap tahun, hampir separuh
dari mereka adalah berusia 15-24 tahun. Disamping berpotensi parah, IMS
menimbulkan beban ekonomi yang luar biasa (Arthur, 2012).
Peningkatan insidensi IMS khususnya servisitis gonore dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang diantaranya adalah perubahan demografik seperti
pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat tinggi, pergerakan masyarakat yang
meningkat akibat pekerjaan ataupun pariwisata dan kemajuan sosial ekonomi.
Akibat perubahan-perubahan demografik tersebut maka terjadi pergeseran pada
nilai moral dan agama pada masyarakat. Faktor lain yang juga mempengaruhi
peningkatan ini adalah kelalaian negara dalam memberi pendidikan kesehatan dan
seks kepada masyarakat. Fasilitas kesehatan yang belum memadai dan banyak
kasus asimptomatik, sehingga pengidap merasa tidak sakit namun dapat
menularkan penyakitnya kepada orang lain (Djuanda, 2007).
Infeksi itu sendiri dapat terjadi pada siapa saja, dari lapisan masyarakat
manapun dan mulai dari usia muda hingga tua. Dengan memahami gambaran
infeksi menular seksual yang terjadi pada masyarakat dan distribusi populasi
berisiko tinggi terhadap infeksi ini akan sangat membantu upaya pencegahan
penularan dan pengobatan dini terhadap penyakitnya.
Tatalaksana IMS yang efektif merupakan dasar pengendalian IMS, karena
dapat mencegah komplikasi dan sekuele, mengurangi penyebaran infeksi di
masyarakat, serta merupakan peluang untuk melakukan edukasi terarah mengenai
pencegahan infeksi HIV(Human Imunodeficiency Virus). Bila hal tersebut
dilakukan terhadap para pasien, maka hal ini dapat mempengaruhi perilaku
seksual dan kebiasaan mereka dalam mencari pengobatan.
Pengobatan terhadap penyakit IMS ini banyak mengalami perkembangan,
mengingat pemakaian obat secara tidak tepat dan sembarangan sehingga
menimbulkan resistensi kuman terhadap berbagai terapi yang sudah ada. Adapun
kriteria obat untuk IMS yaitu mempunyai angka kesembuhan/kemanjuran tinggi
(sekurang-kurangnya 95% di wilayah tersebut), harga murah, memiliki toksisitas
3

dan toleransi yang masih dapat diterima, pemberian dalam dosis tunggal, cara
pemberian peroral serta tidak merupakan kontra indikasi untuk ibu hamil atau
menyusui (Depkes RI, 2011).
Pasien IMS sering mengalami infeksi oleh beberapa penyebab sekaligus.
Pasien yang terinfeksi Neisseria gonorrhoeae sering koinfeksi dengan Chlamydia
trachomatis atau bakteri non spesifik lainnya. Karena temuan ini maka dibuat
rekomendasi bahwa pasien yang diobati untuk infeksi servisitis gonore juga
diberikan secara rutin dengan penambahan rejimen yang efektif terhadap infeksi
bakteri non spesifik lainnya. Kebanyakan gonokokus di Amerika Serikat rentan
terhadap doksisiklin dan azitromisin, pengobatan tambahan rutin mungkin juga
menghambat perkembangan resistensi antimikroba Neisseria gonorrhoeae (Allen,
2013).
Kegagalan pengobatan dan penurunan kepekaan terhadap sefalosporin
spektrum luas, telah terdeteksi di Asia, Kanada, Eropa, dan Afrika Selatan. Di
Amerika Serikat, sefalosporin saat ini merupakan dasar rekomendasi pengobatan.
Penelitian Vanessa G Allen menemukan kegagalan terapi dengan sefiksim yaitu
sefalosporin generasi ketiga. Namun kepekaan yang berkurang terhadap
sefalosporin telah menyebabkan pengobatan ganda dengan seftiakson ditambah
azitromisin atau doksisiklin. Kombinasi rejimen pengobatan ini hanya
direkomendasikan dari CDC (Allen, 2013).
Sebelumnya, antibiotik golongan quinolon seperti siprofloksasin,
ofloksasin, enoksasin, dan lain-lain yang diberikan sebagai rejimen dosis tunggal
memberi hasil terapi yang memuaskan. Namun kemudian sejumlah laporan dari
Philipina dan Negara-negara Asia Tenggara menyatakan bahwa mulai terjadi
resistensi beberapa antibiotik golongan quinolon terhadap N.gonorrhoea.
Resistensi Neisseria gonorrhoeae terhadap sefiksim, antibiotika oral
pilihan terakhir yang diberikan pada pasien-pasien dengan penyakit ini, telah
terdeteksi di Amerika Utara dari hasil penelitian the Kanadian study. Hasil
penelitian ini memperlihatkan bahwa angka kegagalan terapi sefiksim pada pasien
penderita gonore mencapai 7 persen (Allen, 2013).
Neisseria gonorrhoeae yang merupakan kuman penyebab gonore, telah
resisten terhadap antibiotika, disebut AMR (Antimicrobial resistance) terhadap
4

semua terapi lini utama seperti penisillin, tetrasiklin, fluoroquinolons, sehingga


antibiotika yang tersisa, yang kini menjadi rekomendasi utama terapi infeksi
kuman gonokokus adalah ESC (Expanded-Spectrum Cephalosporins) yaitu
seftriakson dan sefiksim. Sayangnya dalam dekade terakhir ini, kerentanan
terhadap ESC juga menurun secara global, baik di Jepang, Norwegia, Australia
dan Inggris (Barry, Klausner, 2009).
CDC 2010 telah merekomendasikan pengobatan Infeksi Genital Non
Spesifik (IGNS) dan gonore dengan kombinasi obat untuk menghindari terjadinya
resistensi pengobatan dengan obat tunggal. Dari data laboratorium negara
Amerika Serikat telah dibuktikan keberhasilan daripada pengobatan dengan
menggunakan kombinasi 2 macam obat. Sekarang ini CDC merekomendasikan
menggunakan seftriakson bersama dengan antibiotik lain untuk pengobatan
gonore ( STD Guidelines, 2010 ).
Pada tahun 2011, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, melalui
Pedoman Nasional Penanggulangan Infeksi Menular Seksual merekomendasikan
penanganan untuk sindrom duh tubuh serviks mukopurulen karena infeksi
servisitis dengan pengobatan untuk gonore tanpa komplikasi di tambah dengan
pengobatan untuk klamidia berupa sefiksim 400 mg dosis tunggal per oral di
tambah azitromisin 1 gram dosis tunggal, per oral.
Melalui pedoman penatalaksanaan penyakit infeksi menular 2011,
merupakan program untuk mengurangi angka kesakitan dan angka penyebaran
penyakit infeksi menular seksual di Indonesia, khususnya servisitis gonore dan
servisitis klamidia. Program ini dilaksanakan terutama disarana kesehatan seperti
puskesmas, rumah sakit, dan klinik yang mempunyai unit pelayanan kesehatan
infeksi menular seksual.
Di Indonesia, yang merupakan daerah dengan prevalensi IMS yang tinggi
dan akses layanan kesehatan yang kurang, intervensi jangka pendek dapat
mengurangi angka kesakitan IMS yang dapat disembuhkan dengan melakukan
Pengobatan Presumtif Berkala (PPB) atau Periodic Presumtive Treatment (PPT).
Intervensi yang dilakukan meliputi satu kali pemberian pengobatan secara
presumtif kepada kelompok berperilaku risiko tinggi dengan prevalensi IMS yang
tinggi, promosi penggunaan kondom dan tatalaksana IMS secara pendekatan
5

sindrom dan laboratorium sederhana. PPB ini dilakukan selama 1-3 bulan dengan
pemberian obat dosis tunggal sefiksim 400 mg dan azitromisin 1 gr yang diminum
di depan petugas. Berdasarkan referensi WHO PPB ini dihentikan ketika
prevalensi IMS dibawah 10% dan penggunaan kondom diatas 70% (Depkes RI,
2009).
Di Indonesia pengobatan infeksi menular seksual yang telah dilaksanakan
di berapa daerah di Indonesia diantaranya Provinsi Kepulauan Riau Kabupaten
Bintan.
Di provinsi Kepulauan Riau, kabupaten Bintan telah dilaksanakan
pengobatan IMS secara berkala dengan kombinasi obat sefiksim dan azitromisin
ini. Pemberian obat dilakukan mulai bulan Maret 2008 sampai dengan Juni 2009
selama 3 kali dengan selang waktu 1 bulan diikuti dengan pemeriksaan skrining
IMS secara rutin berkala, ini memberikan hasil penurunan gonore dan klamidia
secara nyata (Depkes RI, 2009).
Di kabupaten Deli Serdang khususnya di wilayah kerja Puskesmas Bandar
Baru penanganan servisitis gonore dan dugaan servisitis non spesifik dilakukan
dengan pemberian paket obat kombipak yang terdiri dari sefiksim 400 mg dan
azitromisin 1 gram, dimana obat kombipak ini didistribusikan dari Departemen
Kesehatan RI. (Depkes, 2011), dan efektivitas obat paket kombipak ini belum
pernah diteliti di wilayah kerja Puskesmas Bandar Baru Kabupaten Deli Serdang.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti berminat untuk
meneliti efektivitas obat kombipak (kombinasi sefiksim dan azitromisin) terhadap
penyakit servisitis gonore dan dugaan servisitis non spesifik di wilayah kerja
Puskesmas Bandar Baru Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara.
Untuk itu. Diharapkan penanganan kasus IMS dengan terapi paket kombipak ini
dapat menurunkan kasus IMS khususnya servisitis gonore dan dugaan servisitis
non spesifik terutama di wilayah kerja Puskesmas Bandar Baru Kabupaten Deli
Serdang.

1.2. Perumusan masalah


Bagaimana efektivitas obat kombipak (kombinasi sefiksim dan
azitromisin) terhadap pengobatan IMS khususnya servisitis gonore dan dugaan
6

servisitis non spesifik pada Wanita Pekerja Seksual (WPS) di wilayah kerja
Puskesmas Bandar Baru Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara.

1.3. Tujuan penelitian


1.3.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui efektivitas obat kombipak (kombinasi sefiksim dan
azitromisin ) terhadap servisitis gonore dan dugaan servisitis non spesifik pada
WPS di wilayah kerja Puskesmas Bandar Baru Kabupaten Deli Serdang, Propinsi
Sumatera Utara.
1.3.2. Tujuan khusus
a. Untuk melihat angka kesembuhan obat kombipak (kombinasi sefiksim
dan azitromisin) terhadap servisitis gonore dan dugaan servisitis non
spesifik pada masyarakat.
b. Untuk melihat angka kesembuhan obat sefiksim + plasebo terhadap
servisitis gonore dan dugaan servisitis non spesifik pada masyarakat.

1.4. Hipotesis
Terdapat perbedaan efektivitas obat kombipak (kombinasi sefiksim daan
azitromisin) dibanding dengan sefiksim + plasebo, terhadap servisitis gonore dan
dugaan servisitis non spesifik pada WPS di wilayah kerja Puskesmas Bandar
Baru Kabupaten Deli Serdang.

1.5. Manfaat peneliti


1. Dapat digunakan sebagai acuan pemberian antibiotika oleh dokter yang
berkompeten pada penanganan servisitis gonore dan dugaan servisitis non
spesifik, di wilayah kerja Puskesmas Bandar Baru Kabupaten Deli
Serdang, Propinsi Sumatera Utara.
2. Dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Bandar Baru dan Dinas
Kesehatan Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara, untuk
program pemberantasan penyakit menular seksual khususnya penyakit
servisitis gonore dan dugaan servisitis non spesifik.
7

3. Bagi peneliti, dan pembaca khususnya dapat menambah ilmu pengetahuan


mengenai terapi servisitis gonore dan dugaan servisitis non spesifik.