Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

STUNTING

(Disusun Guna Memenuhi Tugas Gizi Masyarakat Kelas C)

Disusun oleh :

Viula Trisna (152110101021)


Mariska Anggraini (152110101060)
Maya Indriyana (152110101098)
Jannata Firdausianda (152110101104)
Dida Tadmar Aiman (152110101113)
Dwi Lia Oktaviana (152110101129)
Maulida Ngastuti (152110101149)
Dyah Safitri Setyopalupi (152110101174)
Khusnul Khotimah (152110101205)
Alif Muhammad Fahlevi (152110101259)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
Hidayah dan Inayah-Nya sehingga makalah yang berjudul Stuntingdapat
diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun guna melengkapi
tugas dari dosen Mata Kuliah Gizi Masyarakat.
Keberhasilan penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak. Dengan terselesaikannya makalah ini tidak lupa penulis mengucapkan
terimakasih kepada pihak-pihak berikut:

1. Dosen Mata Kuliah Gizi Masyarakat, Sulistiyani, S.KM., M.Kes. atas


segala arahan yang telah diberikan untuk kelancaran proses
penyempurnaan makalah ini.

2. Serta semua pihak yang terlibat dalam proses penyempurnaan makalah ini
yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Akhirnya, tiada usaha besar akan berhasil tanpa dimulai usaha kecil.
Semoga makalah ini bermanfaat bagisemua terutama seluruh pembaca. Sebagai
penanggung jawab dan penulis makalah ini, kami sangat mengharapkan kritik dan
saran untuk penyempurnaan lebih lanjut pada masa yang akan datang. Semoga
makalah ini dapat menjadi media untuk menambah wawasan dan pengetahuan
dalam dunia ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Jember, 16 September 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................................... 2
BAB II. PEMBAHASAN ................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Stunting ................................................................................................... 3
2.2 Klasifikasi ................................................................................................................. 3
2.3 Penyebab ................................................................................................................... 4
2.4 Gejala ........................................................................................................................ 6
2.5 Pencegahan ............................................................................................................... 6
2.6 Penanggulangan ........................................................................................................ 7
BAB III. PENUTUP ........................................................................................................... 9
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 9
3.2 Saran ......................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka ................................................................................................................... 10

ii
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3,
yaitu: Masalah gizi yang secara public health sudah terkendali. Masalah yang
belum dapat diselesaikan (un-finished) dan Masalah gizi yang sudah meningkat
dan mengancam kesehatan masyarakat (emerging). Masalah gizi lain yang juga
mulai teridentifikasi dan perlu diperhatikan adalah defisiensi vitamin D.

Masalah gizi yang sudah dapat dikendalikan meliputi kekurangan Vitamin


A pada anak Balita, Gangguan Akibat Kurang Iodium dan Anemia Gizi pada anak
2-5 tahun. Penanggulangan masalah Kurang Vitamin A (KVA) pada anak Balita
sudah dilaksanakan secara intensif sejak tahun 1970-an, melalui distribusi kapsul
vitamin A setiap 6 bulan, dan peningkatan promosi konsumsi makanan sumber
vitamin A. Dua survei terakhir tahun 2007 dan 2011 menunjukkan, secara
nasional proporsi anak dengan serum retinol kurang dari 20 ug sudah di bawah
batas masalah kesehatan masyarakat, artinya masalah kurang vitamin A secara
nasional tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa 35,6% anak Indonesia stunted.


Sebagai akibatnya, produktivitas individu menurun dan masyarakat harus hidup
dengan penghasilan yang rendah.Stunting atau penurunan tingkat pertumbuhan
pada manusia utamanya disebabkan oleh kekurangan gizi. Lebih jauh lagi,
kekurangan gizi ini disebabkan oleh rusaknya mukosa usus oleh bakteri fecal yang
mengakibatkan terjadinya gangguan absorbsi zat gizi. Dengan demikian,
peningkatan cakupan sanitasi dan perilaku hygiene sebesar 99% dapat membantu
menurunkan insiden diare sebesar 30% dan menurunkan
prevalensi stuntingsebesar 2,4%.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sanitasi buruk mengakibatkan beragam


dampak negatif, baik bagi kesehatan, ekonomi maupun lingkungan. Saat ini,
tantangan pembangunan sanitasi semakin berat dengan adanya temuan bahwa

1
sanitasi buruk mengakibatkan sebagian besar generasi penerus bangsa
terdiagnosa stunted. Sanitasi buruk dan air minum yang terkontaminasi
mengakibatkan diare yang mengganggu penyerapan zat-zat gizi dalam tubuh.
Akibatnya, anak-anak tidak mendapatkan zat gizi yang memadai sehingga
pertumbuhannya terhambat.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini, yaitu:
a. Apakah pengertian Stunting?
b. Bagaimana Klasifikasi Stunting?
c. Apakah penyebab Stunting?
d. Bagaimana gejala Stunting?
e. Bagaimana pencegahan Stunting?
f. Bagaimana penanggulangan Stunting?

1.3 Tujuan
Dalam penyusunan makalah ini tentunya ada tujuan yang ingin dicapai oleh
penulis, tujuan-tujuan tersebut meliputi :
a. Mengetahui pengertian Stunting
b. Mengetahui klasifikasi Stunting
c. Mengetahui penyebab Stunting
d. Mengetahui gejala Stunting
e. Mengetahui pencegahan Stunting
f. Mengetahui penanggulangan Stunting

2
BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Stunting


Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh
asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian
makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi
mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua
tahun.

Stunting (kerdil) adalah gangguan pertumbuhan fisik yang sudah lewat,


berupa penurunan kecepatan pertumbuhan dalam perkembangan manusia yang
merupakan dampak utama dari gizi kurang. Gizi kurang merupakan hasil dari
ketidakseimbangan faktor-faktor pertumbuhan (faktor internal dan eksternal)
(Tanuwidjaya, 2002).

Gizi kurang dapat terjadi selama beberapa periode pertumbuhan, seperti


masa kehamilan, masa perinatal, masa menyusui, bayi dan masa pertumbuhan
(masa anak). Hal ini juga bisa disebabkan karena defisiensi dari berbagai zat gizi,
misalnya mikronutrien, protein atau energi (Anonim, 2008).

2.2 Klasifikasi
Penilaian status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah dengan
cara penilaian antropometri. Secara umum antropometri berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai
tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidak
seimbangan asupan protein dan energi.

Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah Berat Badan


menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan
menurut Tinggi Badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar deviasi unit z (z
score). Stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah ditimbang berat
badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan
standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik balita akan lebih

3
pendek dibandingkan balita seumurnya. 18 Penghitungan ini menggunakan
standar Z score dari WHO.

Normal, pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan
pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut
Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely
stunted (sangat pendek).

Klasifikasi Status Gizi Stunting berdasarkan indicator TinggiBadan per


Umur (TB/U):

Sangat Pendek:Zscore< -3,0


Pendek:Zscore -3,0 s.d.Zscore< -2,0
Normal:Zscore -2,0

Dan di bawah ini merupakan klasifikasi status gizi stunting berdasarkan


indikator TB/U dan BB/TB.

I.Pendek-kurus: Z-score TB/U < -2,0 danZscore BB/TB < -2,0


II.Pendek-normal : Z-score TB/U < -2,0 danZscore BB/TB antara -2,0 s/d
2,0
III.Pendek-gemuk: Z-score -2,0 s/d Zscore 2,0

2.3 Penyebab
Stunting pada anak balita merupakan akibat dari beberapa faktor yang sering
dihubungkan dengan kemiskinan termasuk gizi, kesehatan, sanitasi, dan
lingkungan. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian stunting
pada balita menurut Aridiyah (2015):

1. Pendidikan ibu, tingkat pendidikan ibu akan mempengaruhi


kemampuan dan pengetahuan ibu mengenai perawatan kesehatan
terutama dalam memahami gizi.

4
2. Pengetahuan ibu tentang gizi, menentukan perilaku ibu dalam
menyediakan makanan untuk anaknya.ibu yang memiliki pengetahuan
gizi yang baik akan mengetahui bagaimana menyediakna makanan
dengan jumlah dan jenis yang tepat untuk anaknya.
3. Tingkat pendapatan keluarga, pendapatan keluarga yang tinggi akan
memungkinkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizinya secara
tepat baik dalam jenis dan jumlahnya. Keterbatasan ekonomi
menurunkan kemampuan daya beli masyarakat sehingga kebutuhan
gizi tidak dapat dipenuhi.
4. Pemberian ASI eksklusif, rendahnya pemeberian ASI eksklusif
menjadi salah satu penyebab terjadinya stunting pada anak balita,
sebaliknya pemberian ASI yang baik oleh ibu akan membantu
menjaga keseimbangan gizi anak sehingga tercapai pertumbuhan anak
yang normal.
5. Umur pertama pemberian MP-ASI, gangguan pertumbuhan pada anak
dapat terjadi akibat kekurangan gizi sejak bayi, pemberian MP-ASI
terlalu dini atau terlambat. Anak balita yang diberikan ASI eksklusif
dan MP-ASI sesuai dengan umur dan kebutuhannya dapat mengurangi
resiko terjadinya stunting. Pemberian MP-ASI dalam frekuensi dan
jumlah yang tepat dapat memenuhi kebutuhan gizi anak sehingga
dapat terhindar dari stunting.
6. Tingkat kecukupan zink, zink mempengaruhi dalam proses
pertumbuhan karena fungsi dari zink adalah untuk metabolisme,
pertumbuhan, da perkembangan tulang.
7. Riwayat penyakit infeksi, penyakit infeksi dapat menurunkan intake
makanan, mengganggu penyerapan zat gizi, menyebabkan hilangnya
zat gizi secara langsung, dan meningkatkan kebutuhan metabolik.
Hal-hal tersebut dapat mengganngu pertumbuhan linier.
Anisa (2012) mengemukakan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kejadian
stunting pada balita selain beberapa faktor diatas yaitu:

5
1. Berat lahir balita, balita yang lahir dengan BBLR memperbesar risiko
terjadinya stunting. Balita yang lahir dengan BBLR akan mengalami
retardasi pertumbuhan intrauteri yang terjadi karena buruknya gizi ibu
(Henningham dan McGregor, 2008).
2. Pendidikan ayah, pendidikan ayah yang tinggi akan membuat ayah
memiliki pekerjaan yang layak sehingga pendapatan keluarga dapat
memnuhi kebutuhan gizi anak.

2.4 Gejala
Adapun gejala stunting jangka pendek, hambatan perkembangan,
penurunan fungsi kekebalan, penurunan fungsi kognitif, dan gangguan sistem
pembakaran. Semenetara gejala stunting jangka panjang meliputi obesitas,
penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan
osteoporosis.

2.5 Pencegahan
a. Pada Ibu Hamil

Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik


dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang
baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau
telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu diberikan
makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut.
Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90
tablet selama kehamilan.
Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit

b. Pada saat bayi lahir

Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi
lahir melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
Bayisampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI
Eksklusif).

6
Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberiMakananPendamping ASI
(MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2
tahun atau lebih.
Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, imunisasi dasar lengkap.

c. Memantau pertumbuhan Balita di posyandu merupakan upaya yang sangat


strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan
d. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap
rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan
fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. PHBS menurunkan
kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat7tablet untuk
pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi,
gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan.

Walaupun remaja putri secara eksplisit tidak disebutkan dalam 1.000 HPK ,
namun status gizi remaja putri atau pranikah memiliki kontribusi besar pada
kesehatan dan keselamatan kehamilan dan kelahiran, apabila remaja putri menjadi
ibu.

2.6 Penanggulangan
Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu hari
pertama kehidupan, meliputi :

1. Pada ibu hamil

Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik


dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang
baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah
mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu
diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut.
Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet
selama kehamilan.

7
Kesehatan ibu harust etap dijaga agar ibu tidak mengalamis akit

2. Pada saat bayi lahir

Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir
melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI
Eksklusif)

3. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun

Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2
tahun atau ebih.
Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, taburia, imunisasi dasar
lengkap.

4. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap
rumah tangga. Pemerintah bersama pemangku kepentingan lainnya telah
menyepakati sejumlah intervensi gizi spesifik, atau langsung, untuk
mencegah dan menanggulangi stunting, antara lain:

Promosi ASI dan Makanan Pendamping ASI yang bergizi,


Pemberian8tablet zatbesi-folat atau multivitamin dan mineral untuk ibu
hamil dan menyusui,
Pemberian zat penambah gizi mikro untuk anak,
Pemberian obat cacing pada anak.
Pemberian suplemen vitamin A untuk anak balita,
Penanganan anak dengan gizi buruk,
Fortifikasi makanan dengan zat gizi mikro seperti Vitamin A, besi dan
yodium,
Pencegahan dan pengobatan malaria bagi ibu hamil, bayi dan anak-anak.

8
BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh
asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian
makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Gizi kurang dapat terjadi selama beberapa periode pertumbuhan, seperti
masa kehamilan, masa perinatal, masa menyusui, bayi dan masa
pertumbuhan (masa anak).
Beberapa faktor yang menyakibatkan stunting pada anak balita sering
dihubungkan dengan kemiskinan termasuk gizi, kesehatan, sanitasi, dan
lingkungan.
Gejala stunting pada anak balita dibagi menjadi dua yaitu gejala jangka
pendek dan gejala jangka panjang.
Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi badan
menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada
pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang,
akibat dari gizi yang tidak memadai dan atau kesehatan.

3.2 Saran
1. Masyarakat diharapkan lebih memperhatikan gizi dan kesehatan bagi
tubuh sendiri terutama pada balita, ibu hamil dan menyusui.
2. Diharapkan kepada petugas kesehatan terutama kader posyandu dapat
memonitoring pertumbuhan balita di posyandu sehingga dapat
mengurangi risiko terjadi stunting pada balita.
3. Diharapkan pemerintah membentuk pusat pengembangan KIE Gizi
yang dikelola profesional di bidang gizi, kesehatan masyarakat, dan
bidang-bidang lainnya yang bersangkutan.

9
Daftar Pustaka
Anisa, P. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada
Balita Usia 25-60 Bulan di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012.
Skripsi. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
Anonim. 2008. Kandungan Serat dan Gizi pada Roti Unggul Mi dan Nasi. 924
Tanuwijaya S. 2002. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Dalam:
Nahendra (penyunting) Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Edisi
Pertama. Sagung Seto:Jakarta.
Aridiyah, F.O dkk. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting
pada Anak Balita di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan. Jurnal Pustaka
kesehatan, 3(1) : 166-169.
Zahraini, Yuni. 2013. 1000 Hari: MengubahHidup, Mengubah Masa Depan.
http://gizi.depkes.go.id/1000-hari-mengubah-hidup-mengubah-masa-
depan [diakses pada tanggal 14 September 2017]
MCAIndonesia.Stunting dan Masa Depan Indonesia. www.mca-
indonesia.go.id/assets/.../MCAIndonesia-Technical-Brief-Stunting-
ID.pdf [diakses pada tanggal 14 September 2017]

10