Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

PERCOBAAN D-1, D-2


SIFAT-SIFAT KOLIGATIF

Nama : Winda Amelia


NIM : 90516008
Kelompok : 02
Tanggal Praktikum : 27 September 2017
Tanggal Pengumpulan : 4 Oktober 2017
Asisten : Reza Jati D

LABORATORIUM KIMIA FISIK


PROGRAM STUDI MAGISTER PENGAJARAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2017
SIFAT-SIFAT KOLIGATIF

I. Tujuan Percobaan:
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
- Menentukan keaktifan pelarut benzen dan zat terlarut naftalena dengan
menggunakan data penurunan titik beku.
- Menentukan berat molekul zat terlarut naftalena dengan menggunakan data kenaikan
titik didih.

II. Dasar Teori:


Zat yang tidak menguap apabila dilarutkan kedalam zat pelarut, sifatsifat fisika larutan
nyata dengan sifatsifat fisika larutan murni. Sifat sifat fisika larutan yang hanya bergantung
pada jumlah partikel zat larutan dalam larutan dan tidak tergantung pada jenis partikel
dinamakan sifat koligatif. Jika suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat terlarut, maka akan
didapat suatu larutan yang mengalami suatu penurunan titik beku, kenaikan titik didih,
timbulnya tekanan osmotik, dan penurunan tekanan uap (Achmad, 1996).
Suatu zat jika dilarutkkan kedalam pelarut murni dan kemudian mendinginkannya, titik
beku larutan yang diperoleh akan lebih rendah dibandingkan dengan titik beku pelarut murni
tersebut. Selisih antara titik beku larutan dan titik beku pelarut murni disebut penurunan titik
beku (Tf) yang dinyatakan oleh larutan tersebut. Semakin banyak zat yang dilarutkan dalam
suatu larutan, semakin besar penurunan titik beku larutan. Menurut Roult, besarnya Tf
sebanding dengan konsentrasi molal dan tidak tergantung pada jenis zat larutan. Untuk
larutan non elektrolit (Chang, 2003):
Tf = m Kf
Titik didih merupakan suhu dimana cairan mendidih. Jadi, titik didih adalah temperatur
dimana tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer. Selama gelembung terbentuk dalam
cairan, berarti selama cairan mendidih, tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer, karena
tekanan uap adalah konstan maka suhu dan cairan yang mendidih akan tetap sama. Titik didih
cairan tergantung dari besarnya tekanan atmosfer. Titik didih merupakan sifat yang dapat
digunakan untuk memperkirakan secara tidak langsung berapa kuatnya gaya tarik antara
molekul dalam cairan. Cairan yang gaya tarik antar molekulnya kuat, titik didihnya tinggi dan
sebaliknya bila gaya tarik lemah, titik didihnya rendah (Brady, 1999).
III. Data Pengamatan:
A. Penurunan Titik Beku
Penurunan titik beku pelarut
Vbenzen: 40 mL
mnaftalena 1 : 0,31 gram
mnaftalena 2 : 0,32 gram
sikloheksana : 0,8786 gram/mol
Tabel 3.1 Penurunan titik beku pelarut benzen
t (s) T (C) t (s) T (C)
30 0,30 300 2,06
60 0,59 330 2,10
90 0,80 360 2,12
120 1,15 390 2,14
150 1,43 420 2,15
180 1,65 450 2,15
210 1,80 480 2,16
240 1,98 510 2,16
270 2,03 540 2,16

Penurunan titik beku dengan penambahan zat terlarut


Tabel 3.2 Penurunan titik beku pelarut benzen ditambah dengan naftalena 0,31 gram
t (s) T (C) t (s) T (C)
30 0,35 330 2,68
60 0,67 360 2,65
90 0,95 390 2,62
120 1,21 420 2,60
150 1,43 450 2,61
180 1,68 480 2,61
210 1,91 510 2,62
240 2,11 540 2,62
270 2,32 570 2,62
300 2,51 600 2,62

Tabel 3.3 Penurunan titik beku pelarut benzen ditambah dengan naftalena 0,63 gram
t (s) T (C) t (s) T (C) t (s) T (C) t (s) T (C) t (s) T (C)
30 0,32 330 2,58 630 3,00 930 3,09 1230 3,04
60 0,57 360 2,77 660 2,99 960 3,04 1260 3,04
90 0,85 390 2,95 690 2,99 990 3,03
120 1,11 420 3,10 720 3,01 1020 3,03
150 1,34 450 3,25 750 3,01 1050 3,02
180 1,56 480 3,40 780 3,03 1080 3,01
210 1,81 510 3,56 810 3,04 1110 3,01
240 2,02 540 3,08 840 3,05 1140 3,04
270 2,19 570 3,02 870 3,05 1170 3,05
300 2,39 600 3,01 900 3,07 1200 3,04

B. Kenaikan Titik Didih


Kenaikan titik didih pelarut
V sikloheksana = 40 mL
m naftalena = 0,32 gram
sikloheksana = 0,779 gram/mol
Tabel 3.4 Kenaikan titik didih pelarut sikloheksana
t(30s) T(C) t(30s) T(C) t(30s) T(C) t(30s) T(C) t(30s) T(C)
1 0,47 16 1,24 31 2,90 46 3,70 61 2,80
2 0,92 17 1,50 32 2,97 47 3,50 62 2,92
3 1,05 18 1,75 33 3,00 48 3,38 63 3,33
4 1,00 19 1,94 34 3,11 49 3,41 64 3,35
5 1,00 20 2,10 35 3,15 50 3,46 65 3,27
6 1,05 21 2,18 36 3,25 51 2,90 66 3,25
7 1,04 22 2,26 37 3,38 52 2,97 67 3,45
8 1,05 23 2,43 38 3,50 53 3,00 68 3,54
9 0,96 24 2,54 39 3,24 54 3,11 69 3,53
10 0,96 25 2,53 40 3,30 55 3,15 70 3,60
11 1,03 26 2,65 41 3,44 56 3,25 71 3,55
12 1,00 27 2,75 42 3,31 57 3,38 72 3,59
13 0,90 28 2,85 43 3,60 58 3,50 73 3,70
14 0,89 29 2,75 44 3,64 59 3,24 74 3,71
15 1,01 30 2,75 45 3,70 60 3,30 75 3,71

Kenaikan titik didih penambahan zat terlarut


Tabel 3.5. Kenaikan titik didih dengan penambahan zat terlarut naftalena
t(30s) T(C) t(30s) T(C) t(30s) T(C) t(30s) T(C)
1 1,35 21 3,56 41 3,79 61 3,68
2 2,15 22 3,51 42 3,70 62 3,74
3 2,75 23 3,46 43 3,75 63 3,80
4 3,05 24 3,48 44 3,70 64 3,84
5 3,19 25 3,47 45 3,69 65 3,92
6 3,35 26 3,41 46 3,74 66 3,81
7 3,44 27 3,36 47 3,68 67 3,74
8 3,55 28 3,52 48 3,62 68 3,71
9 3,62 29 3,61 49 3,52 69 3,76
10 3,67 30 3,69 50 3,54 70 3,81
11 3,76 31 3,68 51 3,64 71 3,87
12 3,74 32 3,52 52 3,61 72 3,81
13 3,68 33 3,61 53 3,76 73 3,76
14 3,62 34 3,69 54 3,71 74 3,76
15 3,64 35 3,68 55 3,82 75 3,70
16 3,67 36 3,8 56 3,89 76 3,84
17 3,61 37 3,85 57 3,90 77 3,81
18 3,62 38 3,84 58 3,94 78 3,81
19 3,55 39 3,82 59 3,90 79 3,81
20 3,55 40 3,82 60 3,70

IV. Pengolahan Data:


A. Penurunan titik beku
Massa benzena
mbenzena = benzen x V benzen
= 0,8786 gram/mL x 40 mL
= 35,144 gram
Nilai Tf
Tf1 = T2 T1(pelarut) = (2,62 2,16) 0C = 0,46 0C
Tf2 = T2 T1(pelarut) = (3,04 2,16) 0C = 0,88 0C
Kereaktifan zat pelarut
Ln ap1 = -6,68 x 10-3 x Tf1 2,6 x 10-5 Tf12
= -6,68 x 10-3 x 0,46 2,6 x 10-5 x (0,46)2
= -3,0728 x 10-3 0,55016 x 10-5
= -3,0783 x 10-3
ap1 = 0,9969
Ln ap1 = -6,68 x 10-3 x Tf1 2,6 x 10-5 Tf12
= -6,68 x 10-3 x 0,88 2,6 x 10-5 x (0,88)2
= -5,8784 x 10-3 2,01344 x 10-5
= -5,8985344 x 10-3
= 0,994112
1+ 2 0,9969+ 0,994112
Jadi ap = = = 0,995506
2 2
Molal naftalen
Vbenzen: 40 mL
mnaftalena 1 : 0,31 gram
mnaftalena 2 : 0,32 gram
sikloheksana : 0,8786 gram/mol
Mr naftalen = 128,17 g/mol
1 1000 0,31 1000
m1 = x = 128,17 / x 35,144 = 0,06882 molal

2 1000 0,63 1000
m2 = x = 128,17 / x 35,144 = 0,13986 molal

1 + 2 0,06882 + 0,13986
m= = = 0,10434 molal
2 2

Koefisien Osmosis (g)


1000 1000
g1 = ln ap1 = x (-3,0783 x 10-3) = 3,9409 x 10-2
78,11

1000 1000
g2 = ln ap2 = x (-5,8985344 x 10-3) = 7,5515 x 10-2
78,11

1+ 2 3,9409 x 102 + 7,5515 x 102


g= = = 5,7462 x 10-2
2 2

Koefisien kereaktifan ()
ln = (1-g) + A = (1- 5,7462 x 10-2) + A = 0,942538 + A

Grafik (1-g/m) vs molal


15
14
13
12
11
10
9
1-g/m

8
7
6
5
4
3
2
1
0
1 2
molal

1+2
Luas Trapesium = xt
2
13,6957+6,739153
= 2
x (0,13986 - 0,06882)
= 0,725

ln = (1- 5,7462 x 10-2) + A


= 0,942538 + 0,725
= 1,667538
= 5,2991
Keaktifan Zat Terlarut
at = x molal
= 5,2991 x 0,10434 = 0,5529

B. Kenaikan Titik didih


Nilai Tf
Tb = T2 T1 (pelarut)= 3,81 oC - 3,71 oC = 0,10 oC
Menentukkan Mr naftalena
msikloheksana = sikloheksana x Vsikloheksana
msikloheksana = 0,779 g/mL x 40 mL = 31,16 g
Diketahui:
Mr naftalena = 128,17 gram/mol
Mr sikloheksana = 84,16 gram/mol
Titik didih sikloheksana = 80,74C
Hv (entalpi penguapan zat terlarut) = 29,97 kJ/mol
2 1000
Mr naftalen = x x
1000 x Hv Tb

84,16 8,314 / (353,74)2 0,32 1000

Mr naftalen = x x
1000 x 29,97 x103 J/mol 0,10 31,16 gram

= 300,02 gram/mol
V. Pembahasan:
Terlampir

VI. Kesimpulan:
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Keaktifan pelarut benzen dan zat terlarut naftalena dengan menggunakan data
penurunan titik beku secara berturut-turut sebesar 0,995506 dan 0,5529
2. Berat molekul zat terlarut naftalena dengan menggunakan data kenaikan titik didih
sebesar 300,02 gram/mol.

VII. Daftar Pustaka:


Achmad, Hiskia. 1996. Kimia Larutan. Bandung : PT. Citra Adutya Bakti.
Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara. Bandung

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Konsep Konsep Inti Jilid 2 Edisi 3. Jakarta: Erlangga
.
LAMPIRAN 1

PERTANYAAN D-1, D-2

1. Bagaimana definisi larutan ideal? Besaran-besaran apa yang digunakan untuk


menggambarkan penyimpangan-penyimpangan dari keadaan ideal tersebut?
Larutan ideal dianggap bersifat ideal didasarkan pada kekuatan relative dari gaya tarik-
menarik antara molekul solut dan pelarutmya. Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik
menarik antara molekul-molekul sama dengan gaya tarik-menarik molekul-molekul dari solut
dan solventnya masing-masing. Pada keadaan ideal, zat terlarut dan partikel pelarut tersusun
sembarang, pada proses pencampurannya tidak terjadi efek kalor. Pada larutan biner, proses
pencampuran tidak terjadi efek kalor bila energi interaksi antar partikel zat terlarut dan
partikel pelarut sama dengan energi interaksi antara sesama partikel zat terlarut maupun
sesama partikel pelarut. Secara umum larutan ideal akan memenuhi hukum Roult. Dalam
kehidupan nyata, sangat jarang ditemukan larutan dalam keadaan ideal. Pada umumnya
larutan menyimpang dari keadaan ideal atau merupakan larutan non ideal. Berdasarkan
hukum Roult menyatakan bahwa pada larutan ideal yang dalam keadaan seimbang antara
larutan dan uapnya, maka perbandingan antara tekanan uap salah satu komponennya
sebanding dengan fraksi mol komponen yang menguap dalm larutan pada suhu yang sama.
Ciri-ciri larutan ideal adalah memiliki fraksi mol nol sampai dengan satu, tidak ada
perubahan entalpi dimana panas sebelum dan sesudah pencampuran adalah sama, perubahan
campuran sama dengan nol dan memenuhi hukum Raoult. Besaran-besaran apa yang
digunakan untuk menggambarkan penyimpangan-penyimpangan dari keadaan ideal tersebut
Hcampuran, jika perubahan entalpi bukan nol maka larutan bukan larutan ideal. Besaran
lainnya adalah tekanan uap larutan dimana larutan ideal memberikan tekanan uap yang
berasaldari pelarut dan zat terlarut.
2. Tunjukkan bagaimana pengaruh ketidak idealan larutan terhadap sifat-sifat koligatif?
Ketidak idealan suatu larutan dapat mempengaruhi sifat koligatif larutan yaitu kenaikan
titik didih larutan dan penurunan tekanan uap larutan. Larutan bersifat tidak ideal jika tekanan
uap hasil pengamatan tidak sama dengan tekanan uap berdasarkan hasil perhitungan hukum
Raoult, interaksi antar molekul larutan dalam larutan dapat menurunkan tekanan uap larutan,
karena fraksi mol pelarut berkurang. Ketidak idealan larutan yang disebabkan oleh interaksi
molekul dapat menyebabkan penyimpangan titik didih seperti campuran etanol dan air dapat
membentuk azeotro[ dimana titik didihnya akan mendekati titik didih air.

3. Bagaimana kurva yang didapatkan bila larutan mengalami keadaan lewat beku super
cooled?

4. Bagaimana pengaruh tekanan udara atas percobaan ini?


Pengaruh tekanan udara pada percobaan ini dapat menggeser titik didih larutan dan titik
beku larutan. Pada percobaan ini tekanan udara dianggap 1 atm karena besar tekanan
udara mendekati nilai 1 atm sehingga pengaruh tekanan udara pada saat percobaan
dapat diabaikan. Namun demikian, seharusnya diberi faktor koreksi walaupun nilainya
sangat mendekati.
5. Bagaimana hasil yang akan diperoleh bila zat terlarut mengalami disosiasi atau pelarut
mengalami asosiasi?
Zat terlarut yang mengalami disosiasi akan terdistribusi merata keseluruh pelarut,
sedangkan pelarut yang mengalami asosiasi maka pelarut akan berikatan dengan
sesama pelarut sehingga distribusi zat terlarut tidak merata. Hal tersebut yang akan
mempengaruhi kenaikan titik didih larutan dan penurunan titik beku larutan. Semakin
terdistribusi zat terlarut maka kenaikan titik didih dan penurunan titik beku semakin
meningkat. Hal tersebut terjadi karena partikel dalam larutan akan semakin banyak.

Lampiran 2. Foto

Gambar 1. Rangkaian alat penurunan titik beku


Gambar 2. Rangkaian Alat kenaikan titik didih