Anda di halaman 1dari 13

PAKET PENYULUHAN

PNEUMONIA
Di Ruang 15 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT


RSUD Dr SAIFUL ANWAR MALANG

MALANG
2017
PAKET PENYULUHAN
PNEUMONIA
Di Ruang 15 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh:
PSIK A Kelompok 2

Renny Revita Putri Andini


Taramita Purbandari
Ni Putu Ika Purnamawati
Resty Dewi Anggraeni

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Satuan Acara Penyuluhan yang berjudul Pneumonia di Ruang 15 RSUD


Dr. Saiful Anwar Malang yang akan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 5
Oktober 2017 yang disusun oleh:

MAHASISWA:
Renny Revita Putri Andini
Taramita Purbandari
Ni Putu Ika Purnamawati
Resty Dewi Anggraeni

Telah disetujui dan disahkan pada:


Hari :
Tanggal :

Telah Disetujui Oleh:

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

_________________________ _______________________
PAKET PENYULUHAN
Pokok bahasan : Pneumonia
Waktu : 30 menit
Sasaran : Keluarga dan pasien
Hari/Tanggal : Kamis, 11 Oktober 2017
Tempat : Ruang 15 RSSA

A. LATAR BELAKANG
Pneumonia merupakan infeksi akut di parenkim paru-paru dan sering mengganggu
pertukaran gas. Bronkopneumonia melibatkan jalan nafas distal dan alveoli, pneumonia
lobular melibatkan bagian dari lobus, dan pneumonia lobus melibatkan seluruh lobus.
Komplikasi meliputi hipoksemia, gagal respiratorik, efusi pleura,empiema, abses paru dan
bakteremia disertai penyebaran infeksi ke bagian tubuh lain yang menyebabkan
meningitis, endokarditis dan perikarditis. Umumnya prognosisnya baik bagi orang-orang
yang memiliki paruparu normal dan ketahanan tubuh yang cukup baik sebelum
pneumonia menyerang. Akan tetapi pneumonia merupakan angka kematian tertinggi ke
tujuh dari kematian di Amerika Serikat dan pada tahun 2003 muncul tipe pneumonia
baru dan mematikan yang disebut sindrom respiratorik akut parah.
Penyakit saluran nafas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan yang tinggi di
seluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum berhubungan
dengan infeksi saluran nafas yang terjadi di masyarakat (pneumonia komunitas) atau
didalam rumah sakit (pneumonia nosokomial). Pneumonia yang merupakan bentuk infeksi
saluran nafas bawah akut di parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15-20%.
Pneumonia pada anak sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang
penting di dunia. Angka kesakitan dan kematian akibat pneumonia, khususnya di Negara
berkembang, masih cukup tinggi. Pneumonia merupakan penyebab kematian tertinggi
pada anak usia kurang dari lima tahun sebanyak 18%, setelah prematuritas, diare,
dan malaria (WHO, 2010). Setiap tahun terdapat sekitar 155 juta kasus pneumonia di
seluruh dunia dengan kematian sekitar 1,8 juta anak di bawah 5 tahun, atau sekitar 20%
dari seluruh kematian balita di seluruh dunia (Lodha et al., 2004). Sekitar74% kasus
pneumonia terjadi di 15 negara berkembang di benua Asia dan Afrika, enam di antaranya
adalah India, China, Pakistan, India, Indonesia, dan Nigeria (Gray dan Zar, 2010).
Insidensi pneumonia berkisar antara 10-20 kasus/100 anak/tahun atau sekitar 10-20%
anak(Dowell et al., 2000). Insidensi tertinggi di Asia Selatan dengan angka kejadian 0,36
kali per anak per tahun (Gray dan Zar, 2010).
Survei Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2001 melaporkan bahwa 22,8% kematian
balita dan 27,6% kematian bayi di Indonesia disebabkan karena pneumonia (Said, 2008 ).
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan
Republik Indonesia (DepKes RI) tahun 2007 melaporkan angka prevalensi pneumonia 1
bulan terakhir adalah 2,13% dimana prevalensi pada anak sebesar1,00% sedangkan
pada bayi sebesar 0,67%. Angka kematian akibat pneumonia pada anak usia 1 4 tahun
sebesar 15,5% dan pada bayi usia 29 hari 11 bulan sebesar 23,8% (DepKes RI, 2008).
Oleh karena tingginya angka pneumonia, maka perlu adanya edukasi tentang penyakit ini
kepada masyarakat luas.

B. Tujuan instruksional umum


Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, pasien dan keluarga pasien dapat
mengetahui dan memahami mengenai pneumonia.

C. Tujuan instruksional khusus


Setelah mengikuti penyuluhan ini, pasien dan keluarga pasien mampu mengetahui dan
memahami :
1. Pengertian Pneumonia
2. Klasifikasi Pneumonia
3. Etiologi Pneumonia
4. Faktor Resiko Pneumonia
5. Penatalaksanaan Pneumonia
6. Pencegahan Pneumonia

D. Metode
a. Ceramah
b. Diskusi
E. Analisa Situasi
a. Peserta
Jumlah peserta diperkirakan sebanyak 5 - 10 orang merupakan pasien dan
keluarga pasien
b. Pengajar / Fasilitator
Fasilitator adalah mahasiswa profesi jurusan keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya Malang
F. Alat Bantu dan Media
1. Leaflet
2. LCD dan PPT
G. Materi Pembelajaran (terlampir)
1. Pengertian Pneumonia
2. Klasifikasi Pneumonia
3. Etiologi Pneumonia
4. Faktor Resiko Pneumonia
5. Penatalaksanaan Pneumonia
6. Pencegahan Pneumonia

H. KEGIATAN
Tahap Waktu Kegiatan perawat Kegiatan peserta Metode Media
Kegiatan
Pendahuluan 5 1. Mengajukan pertanyaan 1. Menyimak dan Ceramah
menit untuk menggali menjawab , Tanya
pengetahuan awal peserta pertanyaan jawab
2. Menjelaskan cakupan 2. Mendengarkan
materi dan berkenalan dan
3. Menjelaskan tujuan memperhatikan
diberikan penyuluhan 3. Mendengarkan
tentang pneumonia dan
memperhatikan

Penyajian 30 1. Pengertian Pneumonia 1. Mendengarkan ceramah LCD,


menit 2. Klasifikasi Pneumonia dan PPT
3. Etiologi Pneumonia memperhatikan dan
4. Faktor Resiko leaflet
Pneumonia
5. Penatalaksanaan
Pneumonia
6. Pencegahan Pneumonia
Penutup 10 Menutup pertemuan 1. Menjawab Diskusi
menit 1. Membuka sesi tanya jawab 2. Bertanya Ceramah
jika masih ada yang kurang 3. Memperhatikan , Tanya,
jelas Jawab
2. Memberikan pertanyaan
kepada peserta untuk
mengevaluasi pengetahuan
akhir
3. Meminta klien atau salah
satu keluarga untuk
mereview materi yang telah
disampaikan
4. Menyimpulkan materi yang
diberikan
EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
a. Penyuluh mencari literatur mengenai pneumonia
b. Penyuluh membuat SAP mengenai pneumonia, diharapkan telah
mempersiapkan terkait materi, media, alat bantu, serta sarana-prasarana
yang digunakan untuk penyuluhan kesehatan dengan matang
c. Penyuluhan dilakukan dengan sesuai pengorganisasian
Moderator : Taramita P
Pemateri : Resty Dewi
Fasilitator dan observer : Ni Putu Ika dan Renny Revita

2. Evaluasi Proses
a. Diharapkan penyuluhan berjalan sesuai rencana
b. Diharapkan suasana penyuluhan kondusif dan tidak ada peserta yang
meninggalkan ruangan saat dilakukan penyuluhan
c. Diharapkan peserta antusias terhadap materi penyuluhan
d. Diharapkan peserta memberikan respon atau umpan balik berupa
pertanyaan-pertanyaan

3. Evaluasi Hasil
No Indikator Pre Post
1 Jumlah pasien datang 100% 100%
penyuluhan (10 orang)
2 Sarana prasarana siap 100% 100%
(LCD, tempat penyuluhan, kursi,
meja, laptop)
3 Penyaji menyiapkan materi dan 100% 100%
mampu menguasai materi
4 Kegiatan penyuluhan berjalan 100% 100%
lancar dan konsusif

Sebelum melakukan penyuluhan pemateri memberikan pertanyaan dasar


mengenai pengertian pneumonia, kemudian setelah penyuluhan peserta
diberikan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diberikan sebelum
dilakukan penyuluhan. Penyuluhan dikatakan berhasil jika dari total seluruh
sasaran yang mengikuti penyuluhan, 80% sasaran dapat menjawab dengan
benar.
Misalnya: jumlah peserta penyuluhan 10 orang, saat diawal penyuluhan diberikan
beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta
penyuluhan. Pertanyaan yang sama juga diberikan pada akhir
penyuluhan, jika 8 dari 10 orang peserta dapat menjawab pertanyaan
dengan benar, maka penyuluhan dianggap berhasil, namun jika kurang
dari 8 peserta menjawab pertanyaan dengan benar maka penyuluhan
dianggap tidak berhasil
MATERI PENYULUHAN PNEUMONIA

1. Definisi
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru
(alveoli). Juga bisa didefinisikan peradangan yang mengenai parenkim paru, distal
dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat, dan
menimbulkan angka kesakitan yang tinggi, dengan gejala-gejala batuk demam, dan
sesak nafas (Qaulyiah, 2010). Pneumonia dapat diklasifikasikan sebagai suatu
peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur,
parasit, dan lain-lain).

2. Klasifikasi
Berdasarkan pedoman MTBS (2000), pneumonia dapat diklasifikasikan
secara sederhana berdasarkan gejala yang ada. Klasifikasi ini bukanlah merupakan
diagnose medis dan hanya bertujuan untuk membantu para petugas kesehatan yang
berada di lapangan untuk menentukan tindakan yang perlu diambil, sehingga anak
tidak terlambat penanganan. Klasifikasi tersebut adalah:
a. Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila terdapat gejala :
Ada tanda bahaya umum, seperti anak tidak bisa minum atau menetek,
selalu memuntahkan semuanya, kejang atau anak letargis/tidak sadar
Terdapat tarikan dinding dada ke dalam.
Terdapat stridor ( suara napas bunyi grok-grok saat inspirasi )
b. Pneumonia, apabila terdapat gejala napas cepat, batasan nafas cepat adalah :
Anak usia 2 12 bulan apabila frekuensi napas 50 x/menit atau lebih.
Anak Usia 1 5 tahun apabila frekuensi napas 40 x/menit atau lebih.
c. Batuk bukan Pneumonia, apabila tidak ada tanda tanda atau penyakit sangat
berat

3. Etiologi
a. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif
seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis.
Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P.
Aeruginosa.
b. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia
virus.
c. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada
kotoran burung, tanah serta kompos.
d. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)

4. Faktor resiko
a. Polusi Udara di dalam Rumah
Polusi udara dapat terjadi baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Polusi
udara di dalam rumah dihasilkan dari pembuangan asap seperti asap rokok dan
asap pembakaran kompor tungku atau kayu bakar. Asap tersebut berpotensi
besar menimbulkan pajanan partikulat seperti PM10 (Partikulat Matter 10
Mikron). Jika terhirup, asap tersebut dapat mengganggu pernapasan.
Pemajanan oleh partikulat lebih berpotensial terjadi jika dapur berada dekat
dengan kamar tidur atau kamar tamu. Anak-anak yang lebih sering berada di
dapur atau kamar tidur yang berdekatan dengan dapur lebih berisiko untuk
mengalami gangguan pernapasan. Sementara itu, adanya perokok di dalam
rumah dapat meningkatkan pajanan asap rokok kepada anggota keluarga
lainnya. Konsumsi perokok di dalam rumah merupakan faktor risiko gangguan
pernapasan pada anak balita (Purwana dalam Machmud, 2006).
b. Kepadatan Hunian
Kepadatan hunian untuk rumah sederhana adalah minimal 10 m2/orang. Jika
suatu rumah memiliki kepadatan hunian yang tinggi maka akan mempengaruhi
pertukaran udara di dalam rumah. Foster menjelaskan bahwa kepadatan orang
dalam rumah berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita (Machmud,
2006). Herman (2002) juga mendapatkan hubungan yang bermakna antara
kepadatan hunian dengan insidens pneumonia.
c. Ventilasi Rumah
Ventilasi atau pertukaran udara adalah proses penyediaan dan pengeluaran
udara ke dan atau dari suatu ruang secara alamiah maupun mekanis.
Pertukaran udara secara mekanis dilakukan melalui penyediaan lubang ventilasi
di dalam rumah. Pada dasarnya luas lubang tersebut minimal 5% dari luas
lantai. Akan tetapi, jika ditambah dengan lubang udara lain seperti celah pintu
atau jendela, maka luas minimal lubang ventilasi menjadi 10% dari luas lantai.
Pada penelitian Herman (2002), diketahui bahwa balita yang tinggal di rumah
dengan ventilasi yang tidak sehat akan memiliki risiko 4,2 kali lebih besar untuk
terkena pneumonia dibandingkan yang tinggal di rumah dengan ventilasi sehat.
d. Kondisi Fisik Rumah
Rumah yang sehat adalah bangunan rumah tinggal yang telah memenuhi
syarat kesehatan dengan beberapa kriterianya antara lain memenuhi kebutuhan
fisik (suhu, iluminasi dan ventilasi), memenuhi kebutuhan kejiwaan (privasi dan
hubungan antar anggota keluarga), memenuhi kriteria keselamatan (bangunan
yang kokoh dan terhindar dari gas beracun), serta mampu melindungi
penghuninya dari kemungkinan penularan penyakit (Budiarti, 2006). Oleh sebab
itu, sangatlah penting memikirkan hal-hal tersebut di atas agar seluruh anggota
keluarga dapat merasa sehat dan nyaman berada di rumah.
Rumah yang tidak sehat dapat memudahkan penularan penyakit, terutama
penyakit pernapasan. Contohnya saja jika ventilasi udara dan pencahayaan di
rumah yang tidak baik. Kuman-kuman akan cepat berkembang biak jika rumah
dibiarkan lembab dan tidak terawat. Penelitian Yulianti menemukan ada
pengaruh antara dinding rumah dan jenis lantai dengan kejadian pneumonia
(Tantry 2008).

5. Penatalaksaan
Perawatan dan Pencegahan ISPA Pneumonia dan non Pneumonia
a. Pneumonia
Dapat dicegah dengan cara :
Menjauhkan anak dari penderita batuk
Memberikan makanan bergizi setiap hari
Jagalah kebersihan tubuh, makanan dan lingkungan anak
Berikan imunisasi lengkap
b. Non Pneumonia
Bagi anak yang terinfeksi ISPA non Pneumonia perawatan dapat dilakukan dirumah.
Adapun perawatan yang dapat dilakukan ibu dirumah antara lain :
1. Pemberian makanan
a. Berilah makanan atau ASI selama sakit
b. Perbanyak jumlahnya setelah sembuh
c. Bila muntah, usahakan anak mau makan lagi. Berikan makanan dengan
porsi kecil tapi sering.
2. Pemberian cairan atau minuman
a. Berilah minuman lebih banyak
b. Berilah ASI lebih banyak untuk bayi
c. Beri minum air hangat, air buah lebih banyak dari biasanya
Penatalaksanaan pneumonia dilakukan berdasarkan penentuan klasifikasi pada
anak, yaitu :
Pneumonia Barat
Tanda : tarikan dinidng dada ke dalam
Penderita pneumonia berat juga mungkin disertaii tanda lain, seperti :
- Nafas cuping hidung
- Suara rintihan
- Sianosis
Tindakan : cepat dirujuk ke rumah sakit ( diberikan satu kali dosis antibiotika dan
kalau ada demam atau wheezing diobati lebih dahulu)
Pneumonia
Tanda : tidak ada tarikan dinding dada ke dalam, disertai nafas cepat
Tindakan :
a. Nasehati ibunya untuk tindakan perawatan di rumah
b. Beri antibiotik selama 5 hari
c. Anjurkan ibu untuk kontrol 2 hari atau lebih cepat apabila keadaan memburuk
d. Bila demam, obati
e. Bila ada wheezing , obati
WHO menganjurkan penggunaan antibiotika untuk pengobatan
pneumonia yakni dalam bentuk tablet atau sirup ( kortimoksazol, amoksisilin,
ampisilisn ) atau dalam bentuk suntikan intra muskuler ( prokain penisilin )
Bukan Pneumonia
Tanda : tidak ada tarikan dinding dada ke dalam, tidak ada nafas cepat
Tindakan :
a. Bila batuk > 30 hari, rujuk
b. Obati penyakit lain bila ada
c. Nasehati ibunya untuk perawatan di rumah
d. Bila demam, obati
e. Bila ada wheezing , obat
6. Pencegahan
Pencegahan primer
Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya pneumonia, antara lain:
a. Perawatan selama masa kehamilan
Untuk mencegah risiko bayi dengan berta badan lahir rendah, perlu gizi ibu
selama kehamilan dengan mengkonsumsi zat-zat bergizi yang cukup bagi
kesehatan ibu dan pertumbuhan janin dalam kandungan serta pencegahan
terhadap hal-hal yang memungkinkan terkenanya infeksi selama kehamilan.
b. Perbaikan gizi balita
Untuk mencegah risiko pneumonia pada balita yang disebabkan karena
malnutrisi, sebaiknya dilakukan dengan pemberian ASI pada bayi neonatal
sampai umur 2 tahun. Karena ASI terjamin kebersihannya, tidak
terkontaminasi serta mengandung faktor-faktor antibodi sehingga dapat
memberikan perlindungan dan ketahanan terhadap infeksi virus dan bakteri.
Oleh karena itu, balita yang mendapat ASI secara ekslusif lebih tahan infeksi
dibanding balita yang tidak mendapatkannya.
c. Memberikan imunisasi lengkap pada anak
Untuk mencegah pneumonia dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi
yang memadai, yaitu imunisasi anak campak pada anak umur 9 bulan,
imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) sebanyak 3 kali yaitu pada umur 2
bulan, 3 bulan dan 4 bulan.
d. Memeriksakan anak sedini mungkin apabila terserang batuk.
Balita yang menderita batuk harus segera diberi pengobatan yang sesuai
untuk mencegah terjadinya penyakit batuk pilek biasa menjadi batuk yang
disertai dengan napas cepat/sesak napas.
Pencegahan sekunder
Tujuannya adalah untuk menyembuhkan orang yang sudah menderita
pneumonia, pencegahan sekunder antara lain:
a. Pneumonia berat: dibawa ke rumah sakit dan diberi antibiotik
b. Pneumonia: diberi antibiotic kortimoksasol oral dan ampisilin
c. Bukian pneumonia:bisa perawatan di rumah, tidak diberikan antibiotic. Cukup
diberikan paracetamol jika panas, bila pilek diberikan kapas yang ditetesi air
garam, bila nyeri tenggorokan beri penicillin dan dipantau selama 10 hari
Pencegahan tersier
Tujuannya adalah untuk mencegah munculnya komplikasi/keadaan yang
semakin parah
a. Beri antibiotic selama 5 hari dan jika semakin parah konsul ke dokter
(Soeparman, 2002

DAFTAR PUSTAKA
Dahlan Z,2014. Pneumonia Bentuk Khusus. Dalam (Siti S, Idrus A, Aru W S, Marcellus S K,

Bambang S, Ari F S) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi VI. Jakarta: Interna

Publishing, hal 1620-4

Djojodibroto D,2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC, hal 136-41.

Mansjoer, A et al. 2002. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3. Media Aesculapius: Jakarta

Smeltser, S.C & Bare, B.G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah edisi 8 volume 1.

EGC : Jakarta

1.