Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PBL SISTEM TERAPEUTIK

MODUL III KOMBINASI TERAPI ANTIHIPERTENSI


SEMESTER 6

Tutor :
dr. Rina Nurbani, M. Biomed

Nama Anggota Kelompok 9:


Ardy Oktaviandi 2012730010
Audina Andhini Susilo 2012730015
Eza Melinda 2012730034
Faizah Afnita K 2012730039
Luthfi Pratama 2012730058
Novan Fachrudin 2012730070
Pramesti Widya Kirana 2012730075
Rizki Febrian 2012730088
Wara Rasyiati 2011730107

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum, Wr. Wb.
Puji syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT karena atas nikmat dan rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas laporan PBL (Problem Based Learning) dengan baik. Shalawat dan salam marilah
senantiasa penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW karena beliau telah membawa kita dari zaman
kebodohan hingga ke zaman yang penuh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Dalam tugas laporan praktikum PBL kali ini penulis membahas tentang Modul 3 Kombinasi Terapi
Antihipertensi. Tugas ini merupakan salah satu laporan pada Sistem Terapeutik program studi Pendidikan
Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Tugas laporan ini dibuat bukan
hanya untuk memenuhi syarat tugas saja melainkan untuk tambahan bacaan teman-teman semuanya.
Dalam proses pembuatan tugas laporan ini tentunya penulis mendapat bimbingan, arahan, pengetahuan,
dan semangat, untuk itu penulis sampaikan terima kasih kepada:
dr. Rina Nurbani, M. Biomed selaku tutor pada modul 3 ini
Para dosen dan dokter yang telah memberikan ilmu-ilmunya pada sistem Terapeutik yang
tidak bisa disebutkan satu persatu
Rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan banyak masukan dalam pembuatan
tugas laporan ini.
Pembahasan di dalamnya penulis dapatkan dari buku-buku text book, jurnal, internet, diskusi, dan
lainnya. Penulis sadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaannya. Demikian yang dapat penulis sampaikan, In Syaa
Allah laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis yang sedang menempuh pendidikan dan dapat
dijadikan pelajaran bagi teman-teman semua.
Waalaikumsalam Wr. Wb.
Jakarta, 1 Juni 2015

Tim Penulis

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | ii


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................ii

DAFTAR ISI................iii

BAB I : PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang....................4

1.2. Tujuan Pembelajaran...............................4

1.3. Kegiatan yang dilakukan dan keluarannya.................5

1.4. Laporan Seven Jumps.................5

BAB II : PEMBAHASAN

1. Jelaskan algoritma hipertensi!..............................................8


2. Jelaskan mekanisme edema yang disebabkan efek samping obat amlodipin!.9
3. Jelaskan klasifikasi hipertensi pada kehamilan!.............................................10
4. Jelaskan obat antihipertensi yang aman untuk kehamilan?............................14
5. Jelaskan kriteria obat yang aman untuk ibu hamil!........................................14
6. Jelaskan monitoring terapi dan efek samping terapi!.....................................16
7. Jelaskan terapi non-farmakologi pada pasien!...............................................17
8. Jelaskan pencegahan sekunder pada pasien!..................................................19
9. Jelaskan daftar golongan obat hipertensi menurut efikasi, keamanan,
kesesuaian, biaya dan cara penulisan resep!..................................................20

BAB III : PENUTUP

3.1 Simpulan....................26
3.2. Saran.............................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA.....................27

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | iii


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pada Semester 6 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakata, kami mendapatkan mata kuliah sistem
Terapeutik. Dalam modul ketiga pada Sistem Terapeutik kami mempelajari konsep dasar
dari tatalaksana pengobatan, sehingga para calon dokter ini dapat mengetahui bagaimana
memberikan obat yang sesuai dengan penyakit yang diderita pasien dengan melihat dari
usia, indeks masa tubuh, dan faktor-faktor lainnya yang sesuai dengan dosisnya.
Ada berbagai alasan mengapa seorang dokter harus memahami bagaimana cara
memberikan tatalaksana pengobatan yaitu dengan adanya memberikan tatalaksana
pengobatan yang baik, maka kemungkinan besar terjadinya komplikasi sangat tidak
mungkin terjadi dan akan mengurangi resiko orang sakit.
Dalam PBL modul tiga ini yaitu mengenai Kombinasi Terapi Antihipertensi.
Kelompok kami mengharapkan agar pembaca dapat melakukan penatalaksanaan
kombinasi terhadap penderita hipertensi dengan dosis yang tepat dengan efeksamping
yang minimal.

1.2. Tujuan Pembelajaran


a. Tujuan Intruksional Umum ( TIU )
Setelah selesai mengikuti modul ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui terapi
rasional kombinasi antihipertensi pada pasien sesuai dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menjelaskan patofisiologi gejala-gejala dan/atau penyakit yang dialami pasien.


2. Menentukan diagnosis
3. Menentukan tujuan yang ingin dicapai dari terapi berdasarkan patofisiologi penyakit
4. Menentukan kesesuaian terapi dengan kondisi pasien
Membuat daftar golongan obat sesuai dengan tujuan terapi
Memilih golongan obat dari daftar tersebut sesuai dengan tujuan terapi dan kondisi
pasien (efikasi, keamanan, kecocokan, dan biaya)
Efikasi Keamanan Kesesuaian biaya

Golongan 1

Golongan 2

Golongan 3

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 4


Mahasiswa mampu memilih Preferred drug
Efikasi Keamanan Kesesuaian biaya

Obat 1

Obat 2

Obat 3

Memilih bahan aktif, dosis, bentuk sediaan obat, dan lama pengobatan
Pendekatan terapi: informasi atau saran; terapi tanpa obat; terapi dengan obat; rujukan
atau kombinasi.
5. Mahasiswa mampu memulai terapi
Mahasiswa mampu memberikan saran dan penjelasan tentang terapi yang diberikan
kepada pasien.
Mahasiswa mampu menulis resep dengan jelas !
6. Mahasiswa mampu memberikan informasi, instruksi dan peringatan kepada pasien
7. Menetapkan, monitor efek terapi dan mengantisipasi efek samping obat
8. Mengevaluasi hasil pengobatan

1.3. Kegiatan yang Dilakukan dan Keluarannya


Pada saat melakukan PBL, kelompok kami berdiskusi untuk mempelajari kasus-kasus
yang ada di skenario. Kami melakukan pembelajaran dengan mengikuti tujuh langkah (seven
jumps) utuk dapat menyelesaikan masalah yang kami dapatkan.

1.4. Laporan Seven Jumps


Kelompok kami telah melakukan diskusi pada pertemuan pertama dan kami telah
menyelesaikan 5 langkah dari 7 langkah yang ada. Berikut laporan dari hasil yang telah kami
dapatkan :

LANGKAH 1 (Clarify Unfamiliar)


Skenario

Seorang perempuan berusia 32 tahun datang ke tempat praktek anda untuk


menanyakan second opinion tentang tekanan darahnya. Pasien didiagnosis hipertensi sejak 6
bulan yang lalu dan diberikan amlodipin (5 mg satu kali sehari). Selama mengkonsumsi obat
ini, pasien mengalami edema tungkai; kemudian pasien berhenti menggunakannya.

Pasien tidak yakin bahwa ia menderita hipertensi karena hasil pengukuran tekanan
darahnya pada apotik terdekat normal. Mengingat usianya yang masih muda, pasien juga

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 5


keberatan minum obat sepanjang hidupnya. Saat ini ia tidak hamil tetapi merencanakan
untuk hamil dalam waktu dekat.

Anda mendapatkan peningkatan tekanan darah pasien dan hal ini mendukung bahwa
ia menderita hipertensi, tetapi pasien tetap tidak dapat menerimanya. Anda menyarankan
pasien untuk memodifikasi gaya hidup dan menjadwalkan kunjungan berikutnya 3 bulan
kemudian. Pada kunjungan berikutnya, hasil pengukuran tekanan darah pasien masih tetap
sama seperti sebelumnya. Tetapi pasien tetap tidak percaya bahwa ia menderita hipertensi

Apa langkah berikutnya yang anda lakukan untuk melakukan evaluasi tekanan darah
pasien?

Kalimat sulit

- Tidak ada

Kata / kalimat kunci

1. Perempuan 32 tahun
2. Hipertensi 6 bulan dengan pengobatan amlodipin (5mg 1x1)
3. Pasien mengalami edema tungkai saat menggunakan amlodipine
4. Dalam waktu dekat pasien merencanakan kehamilan
5. Memodifikasi gaya hidup tapi TD tidak berubah
6. Pasien tidak percaya terkena hipertensi

Data Tambahan

Anamnesis
Riwayat sosial : Minum alkhol
Riwayat Penyakit Keluarga : kedua orang tua pasien menderita hipertensi
Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium
TB = 68 173 cm
BB = 144 lbs 65,3 kg
IMT = 21,8 Normal
TD = 154/98 mmHg (rata-rata dari 3x pengukuran)
EKG = Sinus rythme Q, R, S, dll dalam batas normal
Urin = protein, glukosa negative

LANGKAH 2 ( Define Problem )


Pertanyaan:
1. Jelaskan algoritma hipertensi!
2. Jelaskan mekanisme edema yang disebabkan efek samping obat amlodipin!
3. Jelaskan klasifikasi hipertensi pada kehamilan!
4. Jelaskan obat antihipertensi yang aman untuk kehamilan?
5. Jelaskan kriteria obat yang aman untuk ibu hamil!
6. Jelaskan monitoring terapi dan efek samping terapi!

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 6


7. Jelaskan terapi non-farmakologi pada pasien!
8. Jelaskan pencegahan sekunder pada pasien!
9. Jelaskan daftar golongan obat hipertensi menurut efikasi, keamanan, kesesuaian,
biaya dan cara penulisan resep!

LANGKAH 3 ( Brainstorme Possible)


Pada saat diskusi kami telah melakukan brain storming dengan cara menjawab pertanyan-
pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Dalam langkah ke-3 ini beberapa pertanyaan yang
telah didapat dari langkah ke-2 telah ditemukan inti jawabannya.

LANGKAH 4 (Mind Mapping)

LANGKAH 5 ( Sasaran pembelajaran / Learning Objectif)


a. Tujuan Intruksional Umum ( TIU )
b. Tujuan Intruksional Khusus ( TIK )

LANGKAH 6 ( Belajar Mandiri )


Kelompok kami melakukan belajar mandiri terlebih dahulu untuk mencari dasar
ilmiah, mengumpulkan data-data atau informasi yang dapat membantu meningkatkan
pemahaman dan penerapan konsep dasar yang telah ada yang pada tahap selanjutnya
akan dipersentasikan dan disajikan untuk dibahas bersama.

LANGKAH 7 ( Pembahasan )
Kelompok kami telah melakukan diskusi kembali pada pertemuan kedua dan
kami telah menyelesaikan langkah yang belum tercapai pada pertemuan sebelumnya.
Semua anggota kelompok kami memaparkan semua hasil yang telah didapatkan pada
saat belajar mandiri. Pemaparan dari langkah teakhir ini akan kami bahas pada Bab II.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 7


BAB II
PEMBAHASAN

1. Jelaskan algoritma hipertensi!


Jawab:

Klasifikasi Hipertensi JNC (Joint National Committee) VII

Klasifikasi TekananSistolik TekananDiastolik


(mmHg) (mmHg)
Normal < 120 <80
Pre-hipertensi 120 139 80 - 90
Hipertensiderajat 1 140 159 90 - 99
Hipertensiderajat 2 >60 >100

Perbedaan JNC VII dan VIII

JNC 8 merupakan klasifikasi hipertensi terbaru dari Joint National Committee yang
berpusat di Amerika Serikat sejak desember 2013. JNC 8 telah merilis panduan baru pada
manajemen hipertensi orang dewasa terkait dengan penyakit kardiovaskuler :
Para penulis membentuk sembilan rekomendasi yang dibahas secara rinci bersama dengan
bukti pendukung . Bukti diambil dari penelitian terkontrol secara acak dan diklasifikasikan
menjadi :
A. rekomendasi kuat, dari evidence base terdapat banyak bukti penting yang menguntungkan
B. rekomendasi sedang, dari evidence base terdapat bukti yang menguntungkan
C. rekomendasi lemah, dari evidence base terdapat sedikit bukti yang menguntungkan
D. rekomendasi berlawanan, terbukti tidak menguntungkan dan merusak (harmful).
E. opini ahli
N. tidak direkomendasikan

Beberapa rekomendasi terbaru antara lain :


1. Pada pasien berusia 60 tahun , mulai pengobatan farmakologis pada tekanan darah
sistolik 150mmHg atau diastolik 90mmHg dengan target terapi untuk sistolik <
150mmHg dan diastolik < 90mmHg . (Rekomendasi Kuat-grade A)
2. Pada pasien berusia < 60 tahun , mulai pengobatan farmakologis pada tekanan darah
diastolik 90mmHg dengan target < 90mmHg . ( Untuk usia 30-59 tahun ,
Rekomendasi kuat -Grade A; Untuk usia 18-29 tahun , Opini Ahli - kelas E )
3. Pada pasien berusia < 60 tahun , mulai pengobatan farmakologis pada tekanan darah
sistolik 140mmHg dengan target terapi < 140mmHg . ( Opini Ahli - kelas E )
4. Pada pasien berusia 18 tahun dengan penyakit ginjal kronis , mulai pengobatan
farmakologis pada tekanan darah sistolik 140mmHg atau diastolik 90mmHg

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 8


dengan target terapi sistolik < 140mmHg dan diastolik < 90mmHg . ( Opini Ahli -
kelas E )
5. Pada pasien berusia 18 tahun dengan diabetes , mulai pengobatan farmakologis
pada tekanan darah sistolik 140mmHg atau diastolik BP 90mmHg dengan target
terapi untuk sistolik gol BP < 140mmHg dan diastolik gol BP < 90mmHg . ( Opini
Ahli - kelas E )
6. Pada populasi umum bukan kulit hitam, termasuk orang-orang dengandiabetes ,
pengobatan antihipertensi awal harus mencakup diuretik tipe thiazide, CCB , ACE
inhibitor atauARB ( Rekomendasi sedang-Grade B ) Rekomendasi ini berbeda dengan
JNC 7 yang mana panel merekomendasikan diuretik tipe thiazide sebagai terapi awal
untuk sebagian besar pasien .
7. Pada populasi umum kulit hitam , termasuk orang-orang dengan diabetes, pengobatan
antihipertensi awal harus mencakup diuretic tipe thiazide atau CCB. ( Untuk
penduduk kulit hitam umum : Rekomendasi Sedang - Grade B , untuk pasien hitam
dengan diabetes : Rekomendasi lemah-Grade C)
8. Pada penduduk usia 18 tahun dengan penyakit ginjal kronis , pengobatan awal atau
tambahan antihipertensi harus mencakup ACE inhibitor atau ARB untuk
meningkatkan outcome ginjal . (Rekomendasi sedang -Grade B )
9. Jika target tekanan darah tidak tercapai dalam waktu satu bulan pengobatan,
tiingkatkan dosis obat awal atau menambahkan obat kedua dari salah satu kelas dalam
Rekomendasi 6 . Jika target tekanan darah tidak dapat dicapai dengan dua obat ,
tambahkan dan titrasi obat ketiga dari daftar yang tersedia. Jangan gunakan ACEI dan
ARB bersama-sama pada pasien yang sama . Jika target tekanan darah tidak dapat
dicapai hanya dengan menggunakan obat-obatan dalam Rekomendasi 6 karena
kontraindikasi atau kebutuhan untuk menggunakan lebih dari 3 obat untuk mencapai
target tekanan darah, maka obat antihipertensi dari kelas lain dapat digunakan. (Opini
Ahli - kelas E )

Daftar singkatan :
ACEI = angiotensin-converting enzyme inhibitor
ARB= angiotensin receptor blocker
CCB = calcium channel blocker

2. Jelaskan mekanisme edema yang disebabkan efek samping obat amlodipin!


Jawab:

Edema perifer terjadi terutama oleh dihidropiridin, dan yang paling sering adalah
nifedipin. Edema terjadi akibat dilatasi arteriol yang melwbihi dilatasi vena, sehingga
meningkatkan tekanan hidrostatik yang mendorong cairan keluar ke ruang interstsial tanpa
adanya retensi cairan dan garam.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 9


Dilatasi
Cairan ke
arteriol > Tekanan Edema
ruang
dilatasi hidrostatik perifer
interstisial
vena

3. Jelaskan klasifikasi hipertensi pada kehamilan!


Jawab:

Terdapat lima tipe hipertensi yang menjadi komplikasi dari kehamilan, yaitu(Report
on the National High Blood Pressure Education Program Working Groupon High Blood
Pressure in Pregnancy, 2000):

Hipertensi gestasional
TD 140/90 mmHg untuk pertamakalinya pada kehamilan, tidak disertai
proteinuria dan desakan darah kembalinormal < 12 minggu pasca persalinan.
Preeklampsia
Kriteria minimum TD 140/90 mmHg setelahumur kehamilan 20 minggu, disertai
dengan proteinuria 300 mg/24 jam ataudipstick 1+
Eklampsia
Kejang-kejang pada preeklampsia disertai koma
Preeklampsia yang superimposed terhadap hipertensi kronis
Timbulnya proteinuria 300 mg/24 jam pada wanita hamil yang sudah mengalami
hipertensi sebelumnya. Proteinuria hanya timbul setelah kehamilan 20 minggu.
Hipertensi kronis
Timbulnya TD 140/90 mmHg, sebelumkehamilan atau sebelum kehamilan 20
minggu dan tidak menghilang setelah12 minggu pasca persalinan.

Hipertensi Gestasional

Hipertensi gestasional didiagnosis pada wanita dengan tekanandarah mencapai 140/90


mmHg atau lebih besar, untuk pertama kalinyaselama kehamilan tetapi tidak terdapat
proteinuria. Hipertensi gestasional disebut juga transient hypertension jika preeklampsia tidak
berkembangdan tekanan darah telah kembali normal pada 12 minggu postpartum. Apabila
tekanan darah naik cukup tinggi selama setengah kehamilanterakhir, hal ini berbahaya
terutama untuk janin, walaupun proteinuriatidak pernah ditemukan. Seperti yang ditegaskan
oleh Chesley (1985),10% eklamsi berkembang sebelum proteinuria yang nyata

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 10


diidentifikasi.Dengan demikian, jelas bahwa apabila tekanan darah mulai naik, ibu dan janin
menghadapi risiko yang meningkat. Proteinuria adalah suatu tandadari penyakit hipertensi
yang memburuk, terutama preeklampsia.Proteinuria yang nyata dan terus-menerus
meningkatkan risiko ibu dan janin.Kriteria Diagnosis pada hipertensi gestasional yaitu :

TD 140/90 mmHg yang timbul pertama kali selama kehamilan.


Tidak ada proteinuria.
TD kembali normal < 12 minggu postpartum.
Diagnosis akhir baru bisa ditegakkan postpartum.
Mungkin ada gejala preeklampsia lain yang timbul, contohnya nyeriepigastrium
atau trombositopenia.

Preeklamsi

Proteinuria adalah tanda penting dari preeklampsia, dan Chesley(1985)


menyimpulkan secara tepat bahwa diagnosis diragukan dengantidak adanya proteinuria.
Proteinuria yaitu protein dalam urin 24 jammelebihi 300mg per 24 jam, atau pada sampel
urin secara acak menunjukkan 30 mg/dL (1 + dipstick) secara persisten. Tingkat
proteinuriadapat berubah-ubah secara luas selama setiap periode 24 jam, bahkan padakasus
yang berat. Oleh karena itu, satu sampel acak bisa saja tidak membuktikan adanya proteinuria
yang berarti. Dengan demikian, kriteria minimum untuk diagnosis preeklamsiadalah
hipertensi dengan proteinuria yang minimal. Temuan laboratoriumyang abnormal dalam
pemeriksaan ginjal, hepar, dan fungsi hematologimeningkatkan kepastian diagnosis
preeklamsi. Selain itu, pemantauan secara terus-menerus gejala eklampsia, seperti sakit
kepala dan nyeriepigastrium, juga meningkatkan kepastian tersebut. Nyeri epigastrium atau
nyeri pada kuadran kanan atas merupakanakibat nekrosis hepatocellular, iskemia, dan oedem
yang merentangkankapsul Glissoni. Nyeri ini sering disertai dengan peningkatan
serumhepatik transaminase yang tinggi dan biasanya merupakan tanda untuk mengakhiri
kehamilan.

Trombositopeni adalah karakteristik dari preeklamsi yangmemburuk, dan hal tersebut


mungkin disebabkan oleh aktivasi danagregasi platelet serta hemolisis mikroangiopati yang
disebabkan olehvasospasme yang berat. Bukti adanya hemolisis yang luas
denganditemukannya hemoglobinemia, hemoglobinuria, atau hiperbilirubinemidan
merupakan indikasi penyakit yang berat.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 11


Faktor lain yang menunjukkan hipertensi berat meliputi gangguanfungsi jantung
dengan oedem pulmonal dan juga pembatasan pertumbuhan janin yang nyata.

Kriteria diagnosis pada preeklamsi terdiri dari :

Kriteria minimal, yaitu :

TD 140/90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu.


Proteinuria 300 mg/24 jam atau 1+ dipstick.

Kemungkinan terjadinya preeklamsi :

TD 160/110 mmHg.
Proteinuria 2.0 g/24 jam atau 2+ dipstick.
Kreatinin serum > 1.2 mg/dL kecuali sebelumnya diketahui sudah meningkat.
Trombosit <100.000/mm3
Hemolisis mikroangiopati (peningkatan LDH).
peningkatan ALT atau AST.
Nyeri kepala persisten atau gangguan penglihatan atau cerebral lain.
Nyeri epigastrium persisten.

Meskipun hipertensi merupakan syarat mutlak dalam mendiagnosispreeklampsia,


tetapi tekanan darah bukan merupakan penentu absoluttingkat keparahan hipertensi dalam
kehamilan. Contohnya, pada wanitadewasa muda mungkin terdapat proteinuria +3 dan kejang
dengan tekanandarah 135/85 mmHg, sedangkan kebanyakan wanita dengan tekanan
darahmencapai 180/120 mmHg tidak mengalami kejang. Peningkatan tekanandarah yang
cepat dan diikuti dengan kejang biasanya didahului nyerikepala berat yang persisten atau
gangguan visual.

Eklamsi

Serangan konvulsi pada wanita dengan preeklampsia yang tidak dapat dihubungkan
dengan sebab lainnya disebut eklamsi. Konvulsi terjadisecara general dan dapat terlihat
sebelum, selama, atau setelah melahirkan.Pada studi terdahulu, sekitar 10% wanita eklamsi,
terutama nulipara,serangan tidak muncul hingga 48 jam setelah postpartum.
Setelahperawatan prenatal bertambah baik, banyak kasus antepartum danintrapartum

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 12


sekarang dapat dicegah, dan studi yang lebih baru melaporkanbahwa seperempat serangan
eklampsia terjadi di luar 48 jam postpartum(Chames dan kawan-kawan, 2002).

Superimposed Preeclampsia

Kriteria diagnosisSuperimposed Preeclampsiaadalah :

Proteinuria 300 mg/24 jam pada wanita dengan hipertensi yang belumada sebelum
kehamilan 20 minggu.
Peningkatan tiba-tiba proteinuria atau tekanan darah atau jumlahtrombosit
<100.000/mm3 pada wanita dengan hipertensi atauproteinuria sebelum kehamilan 20
minggu.

Hipertensi Kronis

Diagnosis hipertensi kronis yang mendasari dilakukan apabila :

Hipertensi (140/90 mmHg) terbukti mendahului kehamilan.


Hipertensi (140/90 mmHg) diketahui sebelum 20 minggu, kecuali bila ada
penyakit trofoblastik.
Hipertensi berlangsung lama setelah kelahiran.

Hipertensi kronis dalam kehamilan sulit didiagnosis apalagi wanitahamil tidak


mengetahui tekanan darahnya sebelum kehamilan. Padabeberapa kasus, hipertensi kronis
didiagnosis sebelum kehamilan usia 20minggu, tetapi pada beberapa wanita hamil, tekanan
darah yang meningkatsebelum usia kehamilan 20 minggu mungkin merupakan tanda
awalterjadinya preeklamsi.

Hipertensi esensialm merupakan penyebab dari penyakit vaskular pada > 90% wanita
hamil.Selain itu, obesitas dan diabetes adalah sebab umum lainnya. Padabeberapa wanita,
hipertensi berkembang sebagai konsekuensi dari penyakitparenkim ginjal yang mendasari.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 13


4. Jelaskan obat antihipertensi yang aman untuk kehamilan?
Jawab:

Pilihan obat antihipertensi pada hipertensi kronik:

Metildopa: dosis awal 500 mg 3 x perhari, maksimal 3 g perhari.

Nifedipin: dosis bervariasi antara 30-90 mg/hari.

Diuretik tiazid : tidak diberikan karena akan mengganggu volume plasma sehingga
mengganggu aliran darah utero-plasenta.

5. Jelaskan kriteria obat yang aman untuk ibu hamil!


Jawab:

Adalah pemilahan obat berdasarkan faktor risiko terhadap janin

A: penelitian terhadap wanita hamil tidak membuktikan efek/risiko terhadap fetus pada
trimester I maupun trimester berikutnya. Masih selalu dipantau kemungkinan bahayanya.

B : meski percobaan pada reproduksi hewan belum bisa membuktikan efek buruk / risiko
janin tetapi tidak ada penelitian pada wanita hamil ataupun reproduksi hewan percobaan yang
menunjukkan efek negatif ( selain penurunan fertilitas). Begitupun untuk penelitian wanita

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 14


hamil pada trimester I belum ada konfirmasi dan belum dijumpai risiko pada trimester
selanjutnya.

C : meski penelitian pada hewan telah menunjukkan adanya efek negatif (teratogenik,
embryocidal, yang lain) tetapi belum ada percobaan pada wanita atau hewan yang layak.
Pemberian obat seharusnya hanya bila kepentingannya lebih diutamakan dengan
mempertimbangkan risiko pada janin.

D : terdapat bukti risiko pada janin, tetapi keuntungan pemakaiannya pada wanita hamil lebih
dipertimbangkan selain risikonya. (misalnya jika obat sangat dibutuhkan untuk penyelamatan
kehidupan pasien atau pada penyakit yang sangat serius dimana obat lainnya tidak efektif)

X : penelitian hewan atau kehidupan manusia telah menunjukkan adanya abnormalitas


janin atau adanya risiko pada janin berdasarkan pengalaman manusia atau keduanya. Risiko
penggunaan obat pada wanita hamil sama sekali menyingkirkan kemungkinan keuntungan
obat itu sendiri. Obat tersebut kontra indikasi pada wanita atau wanita yang akan hamil.

contoh obat untuk ibu hamil :

Kardiovaskuler

1. Dopamine (C), dobutamin (B)

2. Digoksin (C)

3. Antihipertensi nifedipin (C), metil dopa (B)

4. Diuretik furosemid (C) (D)

5. Propanolol (C), (D trimester II,III)

Sistem Respirasi

1. Antiasma teofilin (C), terbutalin (B), salbutamol (C)

2. Dekongestan triamsinolon (C) (D trimester I)

3. Obat batuk dekstrometorfan (C)

4. Lainnya tanpa kategori

Antibiotika

1. Ampisilin : oral ( B ), Penicillin : parenteral ( B ) Amoksisilin : oral ( B )

2. Makrolide :Eritromisin :oral/parenteral/topikal(B),

3. Aminoglikoside : Gentamisin:op/otparenteral/topikal(C),

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 15


4. Kanamycin : oral / parenteral ( D )

5. Sefalosporin : ceftriaxone (B)

6. Tetrasiklin (D)

6. Jelaskan monitoring terapi dan efek samping terapi!


Jawab:
1. Monitoring tekanan darah
Memonitor tekanan darah di klinik tetap merupakan standar untuk pengobatan
hipertensi. Respon terhadap tekanan darah harus dievaluasi 2-4 minggu setelah terapi
dimulai atau setelah adanya perubahan terapi. Pada kebanyakan pasien target tekanan
darah <140/90 mmHg, dan pada pasien diabetes dan pasien dengan gagal ginjal
kronik <130/80 mmHg.
2. Monitoring kerusakan target organ : jantung, ginjal, mata, otak
Riwayat sakit dada, palpitasi, pusing, dipsneu, ortopneu, sakit kepala, penglihatan
tiba2 berubah, hemiplegi, bicara terbata-bata, dan hilang keseimbangan harus diamati
dengan seksama untuk menilai kemungkinan komplikasi kardiovaskuler dan
cerebrovaskuler. Parameter klinis lainnya yang harus dimonitor untuk menilai
penyakit target organ termasuk perubahan funduskopi, regresi LVH pada
elektrokardiogram/ekokardiogram, proteinuria, dan perubahan fungsi ginjal
3. Monitoring interaksi obat dan efek samping obat
Untuk melihat toksisitas dari terapi, efek samping dan interaksi obat harus dinilai
secara teratur. Efek samping muncul 2-4 minggu setelah memulai obat baru atau
setelah menaikkan dosis. Monitoring yang intensif diperlukan bila terlihat ada
interaksi obat; misalnya apabila pasien mendapat diuretic tiazid/loop dan pasien juga
mendapat digoxin; pasien harus dapat suplemen kalium atau ada obat-obat lain
menahan kalium dan beritahukan kepada pasien kadar kalium diperiksa secara berkala
4. Monitoring kepatuhan/medication adherens dan konseling kepasien
Paling sedikit 50% pasien yang diresepkan obat antihipertensi tidak meminum sesaui
dengan yang direkomendasikan. Stu studi menyatakan kalau pasien yang
menghentikan terapi antihipertensinya 5x lebih besar kemungkinan terkena stroke.
Kurangnya ketaatan mungkin disengaja atau tidak disengaja. Strategi yang paling
efektif adalah dengan kombinasi beberapa strategi seperti edukasi, modifikasi sikap,
dan system yang mendukung.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 16


7. Jelaskan terapi non-farmakologi pada pasien!
Jawab:

Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang sangat penting untuk mencegah
tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang penting dalam penanganan hipertensi.
Semua pasien dengan prehipertensi dan hipertensi harus melakukanperubahan gaya hidup.
Perubahan yang sudah terlihat menurunkan tekanan darah dapat terlihat pada tabel 4 sesuai
dengan rekomendasi dari JNC VII. Disamping menurunkan tekanan darah pada pasien-pasien
dengan hipertensi, modifikasi gaya hidup juga dapat mengurangi berlanjutnya tekanan darah
ke hipertensi pada pasien-pasien dengan tekanan darah prehipertensi. Modifikasi gaya hidup
yang penting yang terlihat menurunkan tekanan darah adalah mengurangi berat badan untuk
individu yang obes atau gemuk; mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop
Hypertension) yang kaya akan kalium dan kalsium; diet rendah natrium; aktifitas fisik; dan
mengkonsumsi alkohol sedikit saja. Pada sejumlah pasien dengan pengontrolan tekanan
darah cukup baik dengan terapi satu obat antihipertensi; mengurangi garam dan berat badan
dapat membebaskan pasien dari menggunakan obat. Program diet yang mudah diterima
adalah yang didisain untuk menurunkan berat badan secara perlahan-lahan pada pasien yang
gemuk dan obes disertai pembatasan pemasukan natrium dan alkohol. Untuk ini diperlukan
pendidikan ke pasien, dan dorongan moril. Fakta-fakta berikut dapat diberitahu kepada pasien
supaya pasien mengerti
rasionalitas intervensi diet:
a. Hipertensi 2 3 kali lebih sering pada orang gemuk dibanding orang dengan berat
badan ideal
b. Lebih dari 60 % pasien dengan hipertensi adalah gemuk (overweight)
c. Penurunan berat badan, hanya dengan 10 pound (4.5 kg) dapat menurunkan tekanan
darah secara bermakna pada orang gemukObesitas abdomen dikaitkan dengan
sindroma
d. metabolik, yang juga prekursor dari hipertensi dan sindroma resisten insulin yang
dapat berlanjut ke DM tipe 2, dislipidemia, dan selanjutnya ke penyakit
kardiovaskular.
e. Diet kaya dengan buah dan sayuran dan rendah lemak jenuh dapat menurunkan
tekanan darah pada individu dengan hipertensi.
f. Walaupun ada pasien hipertensi yang tidak sensitif terhadap garam, kebanyakan
pasien mengalami penurunaan tekanan darah sistolik dengan pembatasan natrium

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 17


JNC VII menyarankan pola makan DASH yaitu diet yang kaya dengan buah, sayur, dan
produk susu redah lemak dengan kadar total lemak dan lemak jenuh berkurang. Natrium yang
direkomendasikan < 2.4 g (100 mEq)/hari. Aktifitas fisik dapat menurunkan tekanan darah.
Olah raga aerobik secara teratur paling tidak 30 menit/hari beberapa hari per minggu ideal
untuk kebanyakan pasien. Studi menunjukkan kalau olah raga aerobik, seperti jogging,
berenang, jalan kaki, dan menggunakan sepeda, dapat menurunkan tekanan darah.
Keuntungan ini dapat terjadi walaupun tanpa disertai penurunan berat badan. Pasien harus
konsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis olah-raga mana yang terbaik terutama untuk
pasien dengan kerusakan organ target. Merokok merupakan faktor resiko utama independen
untuk penyakit kardiovaskular. Pasien hipertensi yang merokok harus dikonseling
berhubungan dengan resiko lain yang dapat diakibatkan oleh merokok.

Rekomendasi Penurunan potensial TD


Modifikasi
Sistolik

Membatasi diet natrium tidak lebih 2-8 mmHg


Diet Natrium
dari 2400 mg/hari

Penurunan Menjaga berat badan normal : BMI = 5 20 mmHg per 10 kg


berat badan 18,5 24,9 kg/m2 penurunan berat badan

Olahraga aerobic secara teratur, 4 9 mmHg


bertujuan untuk melakukan aerobic 30
menit. Latihan sehari-hari dalam
Olahraga aerobic
seminggu. Disarankan pasien berjalan-
jalan 1 mil per hari diatas aktivitas saat
ini

Diet yang kaya akan buah-buahan, 4 14 mmHg


Diet DASH sayuran, dan mengurangi jumlah lemak
jenuh dan total.

Membatasi Pria 2 minum per hari, wanita 1 2 4 mmHg


konsumsi alkohol minum perhari

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 18


8. Jelaskan pencegahan sekunder pada pasien!
Jawab:

Upaya Pencegahan Hipertensi

1. Fase Pre-Pathogenesis (pencegahan Primer)

Meningkatkan pengetahuan dan pendidikan tentang bahaya penyakit hipertensi


Menerapkan dan meningkatkan perilaku hidup sehat
Makan cukup sayur dan buah
Rendah garam dan lemak
Tidak merokok dan tidak konsumsi alkohol
Istirahat yang cukup dan olahraga
Hindari kegiatan yang menimbulkan stress
Mengenali penyakit lain pemicu hipertensi
2. Fase Pathogenesis (Pencegahan Sekunder)

Pemeriksaan berkala
o Pengukuran Tekanan Darah
o Mengendalikan tensi secara teratur agar tetap stabil
Pengobatan/Perawatan
o Pengobatan segera
o Menghindari komplikasi
o Menstabilkan tekanan darah
Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 19
o Memperkecil efek samping pengobatan
o Mengobati penyakit penyerta seperti; DM, PJK, dll
o Menghindari faktor risiko hipertensi media pencegahan hipertensi
3. Fase Post-Phatogenesis(Pencegahan Tersier)

Menurunkan tekanan darah ketingkat normal


Mencegah memberatnya tekanan darah tinggi sehingga tidak menimbulkan kerusakan
pada jaringan tubuh
Memulihkan kerusakan organ dengan obat anthipertensi
Mengontrol tekanan darah sehingga tidak menimbulkan komplikasi penyakit seperti
stroke, PJK, dan lain-lain
Melakukan penanganan tepat dan cepat, menghindari kecacatan dan kematian akibat
hipertensi tak terkendali

9. Jelaskan daftar golongan obat hipertensi menurut efikasi, keamanan, kesesuaian,


biaya dan cara penulisan resep!
Jawab:

Obat Antihipertensi

1. Diuretik
- Efikasi :
Meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan air sehingga mengurangi volum plasma
dan cairan ekstrasel.Akibatnya curah jantung dan tekanan darah menurun.
- Keamanan :
Diuretik terbukti paling fektif dalam menuunkan resiko kardiovaskuler.Efek proteksi
ardiovaskuler diuretik belum terkalahkan oleh obat lain..Jarang menyebabkan
hipotensi ortostatik dan ditoleransi dengan baik,efek anti hipertensinya bertahan pada
pemakaian jangka panjang.
- Kesesuaian :
Efektif untuk pasien hipertensi dengan kadar renin rendah misalnya pada orang tua.
- Biaya :
Relatif murah ( Rp.114,Rp.1100,Ro5225)/butir
- Efek Samping
:Hipokalemia,Hiponatremia,Hipomagnesemia,Hiperkalsemia.Menghambat eksskresi
asam urat dari ginjal dan pada pasien hiperurisemia dapat mencetuskan serangan
gout.Miningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida.Pada pasien DM dapat
menyebabkan hipeglikemia karena mengurangi sekresi insulin.Pada pria gangguan
fungsi seksual.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 20


OBAT DOSIS(mg) Pemberian Sediaan

a.Diuretik Tiazid

Hidrokorotiazid 12,5-25 1x sehari Tab 25 dan 50mg

Klortalidon 12,5-25 1x sehari Tab 50mg

Indapamid 1,25-2,5 1xsehari Tab 2,5mg

Bendroflumetiazid 2,5-5 1xsehari Tab 5mg

Metolazon 2,5-5 1xsehari Tab 2,5;5 dan 10mg

Metolazon rapid acting 0,5-1 1xsehari Tab 0,5 mg

Xipamid 10-20 1x sehari Tab 2,5mg

b.Diurterik Kuat

Furosemid 20-80 2-3xsehari Tab 20mg,amp 20mg

Torsemid 2,5-10 1-2xsehari Tab 5,10,20,100mg

Bumetanid 0,5-4 2-3xsehari Tab 0,5;1 dan 2mg

As.etakrinat 25-100 2-3xsehari Tab 25 dan 50mg

c. Diuretik hemat
kalium
Amilorid 5-10 1-2x sehari

Spironolakton 25-100 1x sehari Tab 25 dan 100mg

Triamteren 25-300 1xsehari Tab 50 dan 100mg

2. Beta Blocker
- Efikasi :
Hambat reseptor B1,penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga
menurukan curah jantung,hambat sekresi renin di sel jukstaglomeruler ginjal dengan akibat
penurunan produksi angitensin II,efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis.
- Keamanan :
Tidak menimbulkan hipotensi ortostatik dan tidak menimbulkan retensi air dan garam.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 21


- Kesesuaian :
Obat tahap pertama pada hipertensi ringan sampai sedang terutama pada pasien dengan
PJK,aritmia supraventrikel dan ventrikel tanpa kelainan konduksi,pasien muda dengan
sirkulasi hiperdinamik dan pada pasien yang memerlukan antidepresan trisiklik atau
antipsikotik.Lebih efektif pada paisen muda
- Biaya :
Relatif murah (Rp.103-Rp2903)/butir tab
- Efek samping :
Bradikardia.blokade AV,hambatan nodus SA dan menurunkan kekuatan kontraksi
miokard,Bronkospasme.
- Kontraindikasi : Bradikardia,blokade AV derajat 2 dan 3,sick sinus syndroome dan gagal
jantung yang belum stabil,asma bronkial,PPOK
OBAT DOSIS Dosis Frekuensi Sediaan
AWAL(mg/hari) Maksimal
(mg/hari)
a.Kardioselektif

Asebutolol 200 800 1-2x Cap.200mg,tab


400mg
Atenolol 25 100 1x Tab
50mg,100mg
Bisoprolol 2,5 10 1x Tab 5mg

Metoprolol

-biasa 50 200 1-2x Tab


50mg,100mg
-lepas lambat 100 200 1x Tab 100mg

b.Nonselektif

Alprenolol 100 200 2x Tab 50mg

Karteolol 2,5 10 2-3x Tab 5mg

Nadolol 20 160 1x Tab


40mg,80mg
Oksprenolol

-biasa 80 320 2x Tab


40mg,80mg

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 22


-lepas lambat 80 320 1x Tab
80mg,160mg
Pindolol 5 40 2x Tab 5mg,10mg

Propranolol 40 160 2-3x Tab


10mg,40mg
Timolol 20 40 2x Tab
10mg,20mg
Karvedilol 12,5 50 1x Tab 25mg

Labetalol 100 300 2x Tab 100mg

3. Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitor


- Efikasi :
ACE Inhibitor menghambat perubahan Ang I menjadi Ang II sehingga terjadi vasodilatasi
dan penurunan sekresi aldosteron . Selain itu degradasi bradikinin juga dihambat sehingga
kadar bradikinin dalam darah meningkat dan berperan dalam efek vasodilatasi. Vasodilatasi
secara langsung akan menurunkan tekanan darah,sedangkan berkurangnya aldosteron akan
menyebabkan ekskresi air dan natrium dan retensi kalium
- Keamanan :
Aman untuk hipertensi dengan gagal jantung kongestif, menunjukan efek positif pada lipid
darah dan mengurangi resisten insulin.efektif pada hipertensi kadar renin yang
tinggiKontraindikasi untuk wanita hamil
- Kesesuaian :
Obat ini efektif untuk hipertensi ringan, sedang maupun berat.Dapat digunakan pada krisis
hipertensi.efektif pada 70% pasien.
- Biaya :
Relatif murah (Rp.113-173)/butir-Rp.7590/butir
- Efek Samping : Hipotensi,batuk kering,Hiperkalemia,gangguan pengecapan,Edema
angioneurotik,gagal ginjal akut,Proteinuria,Efek teratogenik.
- Kontraindikasi :pada wanita hamil trimester 2 dan 3 ,pada ibu menyusui
OBAT DOSIS(mg) Pemberian Sediaan

ACE-inhibitor

Katopril 25-100 2-3x Tab 12,5,mg,25mg

Benazepril 10-40 1-2x Tab 5mg,10mg

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 23


Enalapril 2,5-40 1-2x Tab 5mg,10mg

Fosinopril 10-40 1x Tab 10mg

Lisinopril 10-40 1x Tab 5mg,10mg

Perindopril 4-8 1-2x Tab 4mg

Quinapril 10-40 1x Tab,5,10,20mg

Ramipril 2,5-20 1x Tab 10mg

Trandolapril 1-4 1x

Imidapril 2,5-10 1x Tab 5,10mg

4. Angiotensin Receptor Blocker (ARB)


- Efikasi :
Menghambat reseptor Ang II yang terdiri dari 2 reseptor AT 1 dan AT 2, ARB menimbulkan
efek yang mirip dengan pemberian ACE Inhibitor. Tapi ACEI tidak mempengaruhi
metabolism bradikinin, maka obat ini dilaporkan tidak memiliki efek samping batuk kering
dan angioedema.
- Keamanan :
Pemberian jangka panjang tidak mempengaruhi lipid dan glukosa darah.tapa mempengaruhi
denyut jantung.,tidak mempengaruhi asam urat darah.Kontraindikasi pada kehamilan
trimester 2, 3
- Kesesuaian :
ARB sangat efektif menurunkan tekanan darah dengan kadar rennin yang tinggi dan
hipertensi genetic
- Biaya :
Relatif mahal (RP.3060)/tab
- Efek Samping : Hipovolemia,gagal jantung,hipertensi renovaskular,dan sirosis
hepatis,Hiperkalemia
OBAT DOSIS(mg) Pemberian Sediaan

ARB

Losartan 25-100 1-2x Tab 50mg

Valsartan 80-320 1x Tab 40,80mg

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 24


Irbesartan 150-200 1x Tb75n150mg

Telmisartan 20-80 1x Tab 20,40,80mg

Candesartan 8-32 1x Tab 4,8,16mg

5. Calcium Channel Blocker (CCB)


- Efikasi :
Menghambat influks kalsium pada sel otot polos pembuluh darah & miokard.Di pembuluh
darah, antagonis kalsium timbulkan relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi.
- Keamanan :
Tidak mempunyai efek samping metabolik (lipid, gula darah, maupun asam urat).
- Kesesuaian :
Obat-obat ini berguna untuk pengobatan pasien hipertensi yang juga menderita asma,
diabetes, angina dan/penyakit vaskuler perifer.
- Biaya :
Relatif murah (rp.144)/butir
- Efek samping : Ismekia miokard atau serebral,Sakit kepala,muka merah.edema
periferBradiaritmia,konstipasi,retensi urin.
OBAT DOSIS(mg) Pemberian Sediaan

Nifedipin 3-4x Tab 10mg

Nifedipin(longacting) 30-60 1x Tab 30,60,90mg

Amlodipin 2,5-10mg 1x Tab 5mg 10mg

Felodipin 2,5-20 1x Tab 2,5,5,10mg

Isradipin 2,5-10 2x Tab 2,5 5mg

Nicardipin Cap 20-30mg

Nicardipin SR 60-120 2x Tab 30,45,60mg

Nisoldipin 10-40 1x Tab 10,20,30,40mg

Verapamil 80-320 2-3x Tab 40,80,120mg

Ditilazem 90-180 3x Tab 30,60mg

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 25


BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan

Apabila kita seorang dokter menemukan pasien dengan gejala hipertensi banyak yang
harus kita pertimbangkan yaitu efektifitas obat, efek samping obat, biayan obat, dan keadaan
pasien pada saat ini. Apabila pasien dengan keadaan hamil harus sangat diperhatikan obat
yang akan digunakan karena apabila salah dalam penatalaksanaannya maka bukan saja
berbahaya bagi si ibu tetapi berbahaya bagi janinnya pula. Dan pada penderita hipertensi
perhatikan pula apakah pasien memiliki penyakit-penyakit seperti tertentu seperti Diabetes
Mellitus, gagal ginjal, dan penyakit yang lain agar dapat diberikan tatalaksana yang tepat
sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Jangan sampai pasien hipertensi ini mengalami
komplikasi seperti stroke, diabetes mellitus, infark miokard, gagal jantung, ginjal kronik dan
lain-lain.

Maka dari itu pilihlah obat yang tepat sesuai dengan keadaan pasien. Hal yang
pertama dilakukan bagi penderita hipertensi yaitu modifikasi gaya hidup seperti diet rendah
garam, berhenti merokok, berhenti mengkonsumsi alkohol, olahraga secara teratur, dan
apabila obesitas turunkan berat badan. Apabila modifikasi gaya hidup tidak membuat tekanan
darah pasien turun, maka berilah obat yang sesuai. Berilah pasien dari dosis rendah menuju
ke dosis yang lebih tinggi. Apabila setelah menggunakan obat tersebut tidak ada perubahan
maka berikan kombinasi obat yang sesuai dengan pasien. Hipertensi tidak bisa disembuhkan
tetapi dapat dikontrol.

3.2. Saran

Saran yang diberikan untuk pasien hipertensi adalah harus rutin mengkonsumsi obat
antihipertensi yang telah disarankan. Karena apabila pasien hipertensi ini tidak
mengkonsumsi obat antihipertensi sesuai yang disarankan dokter maka akan membuat
tekanan darahnya menjadi lebih tinggi dari biasanya. Ubahlah gaya hidup dari sekarang
dengan gaya hidup sehat yaitu dengan cara perbanyak mengkonsumsi buah, sayur, vitamin,
olah raga teratur, diet rendah garam, berhenti merokok bagi yang merokok, tidak
mengkonsumsi alkohol.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 26


DAFTAR PUSTAKA

Binfar.depkes.go.id

Farmakologi dan Terapi, Ed. 5. Departeme Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Indonesia; 2012

Goodman and Gilman. 2008. Dasar Farmakologi Terapi, 10th Ed. Vol. 1. EGC

Katzung, BG. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik: Basic & Clinic Pharmacology,6th Ed.
Ahli Bahasa Staf Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya: EGC

M.N, Bustan. 2007. Epidemiologi: Penyakit Tidak Menular. Rineka Cipta. Jakarta.

Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

Modul III Kombinasi Terapi Antihipertensi | 27