Anda di halaman 1dari 10

ALKALINE PRETREATMENT DAN PROSES SIMULTAN

SAKARIFIKASI FERMENTASI UNTUK PRODUKSI


ETANOL DARI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT

Kristina, Evi Retno Sari, Novia*


Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
Jln. Raya Palembang Prabumulih Km. 32 Inderalaya Ogan Ilir (OI) 30662
Email: noviasumardi@yahoo.com

Abstrak

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan limbah pertanian yang memiliki kandungan
lignoselulosa yang cukup tinggi. TKKS ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Metode yang
digunakan untuk mendegradasi kandungan lignin pada TKKS adalah alkaline pretreatment. Lalu
dilanjutkan dengan proses simultan sakarifikasi-fermentasi menggunakan enzim selulase dan ragi
saccharomyses cerevisiae. Setelah itu larutan etanol didistilasi pada suhu 78 C. Kadar etanol tertinggi
yang dihasilkan sebesar 4,37% dengan konsentrasi NaOH 3% dan waktu tinggal pretreatment 90 menit.

Kata kunci: Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), hidrolisis enzimatik, fermentasi, etanol.

Abstract

Palm fruit empty bunch (PFEB) was the waste which has not been utilize optimally. Meanwhile, PFEB
has a fairly high content of lignocelluloses. The method used to degrade lignin is by using the variety of
dilute NaOH and the residence time of pretreatment. Furthermore it was continued by SSF process with
enzyme cellulase and yeast of saccharomyses cerevisiae. Then, ethanol was destilated in 78C. The
highest concentration of ethanol obtained was 4.37% with 3% of NaOH and the residence time of
pretreatment at 90 minutes.

Keywords: Palm fruit empty bunch (PFEB), enzymatic hydrolysis, fermentation, ethanol

1. PENDAHULUAN mampu memproduksi bahan bakar nabati, seperti


biodiesel atau bioetanol dari bahan lignoselulosa.
Indonesia merupakan negara agraris yang Ketika hasil-hasil pertanian dan perkebunan
memiliki beragam kekayaan alam terbarukan dipanen, bahan lignoselulosa akan tertinggal
yang sangat berpotensi menghasilkan bioenergi. sebagai limbah pertanian yang biasanya kurang
Bahan bakar nabati seperti bioetanol, masih termanfaatkan. Walaupun demikian, akan tetapi
dibuat dari bahan berpati dan bergula yang lignoselulosa tersebut dapat digunakan sebagai
merupakan bahan pangan. Hal ini akan bahan baku produksi bahan bakar nabati.
berdampak buruk bagi penyediaan bahan pangan Tandan kosong kelapa sawit merupakan
yang dibutuhkan masyarakat. Jika bahan bakar limbah yang dapat dikonversi menjadi bioetanol
nabati (BBN) terus menerus dibuat dari bahan sebagai sumber energi alternatif. Tandan kosong
pangan, maka akan terjadi persaingan antara kelapa sawit masing-masing mengandung 40-
penyediaan pangan dan energi. 50% selulosa dan 24-40% hemiselulosa (Saha,
Untuk menghindari persaingan tersebut, 2003; Sun, 2002). Salah satu bahan bakar nabati
telah dikembangkan teknologi bahan bakar yang dapat dihasilkan dari lignoselulosa adalah
nabati generasi kedua. Teknologi bahan bakar bioetanol generasi kedua. Tingginya kadar
nabati generasi kedua adalah teknologi yang selulosa pada polisakarida tersebut dapat

Page 34 Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012


dihidrolisis menjadi gula sederhana dan Teknologi Pretreatment Biomassa
selanjutnya difermentasi menjadi etanol. Lignoselulosa
Proses pretreatment biomassa dapat dibedakan
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi empat, yaitu :
Tandan kosong kelapa sawit merupakan
limbah berlignoselulosa yang belum 1. Pretreatment secara Biologi
termanfaatkan secara optimal. Selama ini 2. Pretreatment secara Fisika
pemanfaatan tandan kosong hanya sebagai bahan
bakar boiler, kompos dan juga sebagai pengeras a. Secara Mekanik
jalan di perkebunan kelapa sawit. Padahal tandan b. Penghancuran Bahan
kosong kelapa sawit berpotensi untuk 3. Pretreatment Secara Kimia
dikembangkan menjadi barang yang lebih a. Alkali Pretreatment
berguna, salah satunya menjadi bahan baku b. Acid Pretreatment
bioetanol. Hal ini karena tandan kosong kelapa c. Ozonolysis
sawit banyak mengandung selulosa yang dapat d. Organosolv
dihirolisis menjadi glukosa kemudian e. Ionic LiquidsPretreatment ( ILS )
difermentasi menjadi bioetanol. Kandungan 4.Pretreatment Secara Fisika-Kimia
selulosa yang cukup tinggi yaitu sebesar 40-50% a. Steam Explosion:SO2 (Steam Explosion)
(Saha, 2003; Sun, 2002) menjadikan kelapa sawit b. Liquid Hot Water
sebagai prioritas untuk dimanfaatkan sebagai c. Ammonia Fiber Explosion ( AFEX )
bahan baku pembuatan bioetanol. d. Wet Oxidation
e. Microwave Pretreatment
f. Ultrasound Pretreatment
g. CO2 explosion

Alkaline Pretreatment

Alkali pretreatment dapat meningkatkan


efektifitas enzim pada proses enzimatik
hidrolisis. Kandungan lignin pada biomassa
akan mengalami proses penguraian dengan
proses NaOH pretreatment, tetapi tidak terjadi
pada kandungan selulosanya. Alkali pretreatment
dapat miningkatkan kandungan selulosa dan
efektif untuk menghilangkan lignin.

Gambar 1. Tandan Kosong Kelapa Sawit

Tabel 1. Komponen Tandan Kosong


Kelapa Sawit
Komponen % Berat
Selulosa 86
Hemiselulosa 8.5
Lignin 3.5
Sumber: (Astima et al.,2002)

Pretreatment Bahan Baku


Dalam teknologi biokonversi, pretreatment
biomassa lignoselulosa dilakukan untuk Simultan Sakarifikasi dan Fermentasi (SSF)
mendapatkan hasil yang tinggi. Pretreatment ini
dilakukan agar lignoselulosa lebih mudah untuk
Gambar 2. Skema pretreatment dari konversi
dibuka sehingga polimer polisakarida dapat
biomassa (Hsu, dkk, 2009)
dipecah menjadi monomer gula.

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012 Page 35


Dalam SSF, enzim selulase mengkonversi C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2
polimer karbohidrat ke gula yang dapat Glukosa Etanol Karbondioksida
difermentasi. SSF menghasilkan yield bioetanol
lebih tinggi sesuai dengan yang diharapkan dan
membutuhkan jumlah enzim yang lebih rendah Tabel 2. Sifat Fisika Etanol
karena adanya inhibisi produk akhir dari No Properti Nilai
selulobiosa dan glukosa yang terbentuk selama
hidrolisis enzim yang kemudian dilanjutkan 1 Titik Beku -114,1
dengan fementasi oleh yeast. 2 Titik Didih ( oC ) 78,32
Fermentasi adalah suatu proses perubahan 3 Densitas ( gr/mL ) 0,7893
kimia pada substrat organik, baik karbohidrat, 4 Indeks Bias 1,36143
protein, lemak atau lainnya melalui kegiatan
5 Tegangan Permukaan 23,1
enzim atau mikroba spesifik. Khamir yang
(dyne/cm )
sangat potensial untuk fermentasi etanol adalah
Saccharomyces cereviseae karena memiliki daya 6 Viskositas (cP ) 1,17
konversi menjadi etanol sangat tinggi, 7 Panas penguapan (cal/gr ) 200,6
metabolismenya sudah diketahui, metabolit 8 Panas pembakaran pada 25 7092,9
utama berupa etanol, karbondioksida, dan air dan o
C (cal/gr)
sedikit menghasilkan metabolit lainnya. Faktor
9 Titik Nyala (oF ) 70
faktor yang mempengaruhi fermentasi adalah
(Muljono, 2002): 10 Panas Spesifik (cal/groC) 0,579
a. Ragi
b. Suhu 11 Termal Kondukstivitas 0,00170
c. Oksigen pada 20 oC
d. Pengaruh pH J/(sec)(cm2)(oC/cm)
e. Kadar Gula 12 Nilai Oktan 106-111

Distilasi 13 Wujud pada suhu kamar Cair


Destilasi atau penyulingan adalah suatu 14 Dicampur dengan Natrium berekai
metode pemisahan larutan berdasarkan
perbedaan titik didih. Destilasi dilakukan untuk 15 Kelarutan dalam air Larut
memisahkan etanol dari beer (sebagian besar sempurna
adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni 16 Dapat terbakar ya
adalah 78oC sedangkan air adalah 100oC (kondisi
Sumber : Kirk-Othmer, 1967
standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu
rentang 78-90oC akan mengakibatkan sebagian
besar etanol menguap. Penelitian Terdahulu
Garcia melakukan penelitian tentang
Bioetanol pembuatan bioetanol dari jerami gandum dengan
Bioetanol adalah etanol yang berasal dari variabel : laju alir ozon, moisture dan ukuran
makhluk hidup, dalam hal ini adalah bahan partikel biomassa. Metode penelitian yang
nabati. Bioetanol adalah bahan bakar alternatif digunakan adalah ozonolysis pretreatment. Hasil
yang diolah dari tumbuhan, dimana memiliki penelitian mereka menunjunkkan bahwa waktu
keunggulan mampu menurunkan emisi CO2 ozonolysis yang baik diatas 2,5 jam. Hal ini
hingga 18 %. Bioetanol ini dibuat melalui proses dikarenakan, pada waktu tersebut Acid insoluble
hidrolisis dan fermentasi. Bahan baku etanol bisa lignin(AIL) menurun sedangkan acid soluble
berasal dari bahan berpati, bahan bergula dan lignin meningkat.
bahan berselulosa. Corvero melakukan penelitian tentang
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut pembuatan etanol dari hasil press tandan kelapa
berbagai bahan-bahan kimia yang ditujukan sawit menggunakan metode hidrolisa enzimatik
untuk konsumsi dan kegunaan manusia. dan fermentasi. Hari hasil penelitiannya tersebut
Mekanisme pembentukan bioetanol dari tandan dapat disimpulkan bahwa PKC berpotensi baik
kosong kelapa sawit (Risvank, 2008): sebagai raw material produksi bioetanol.
Daru melakukan penelitian tentang
(C6H10O5)n 3C5H10O5 + C6H12O6 pembuatan etanol dari tandan kosong kelapa
sawit. Metode yang digunakan untuk
3C5H10O5 5C2H5OH + 5CO2 mendegradasi lignin adalah pretreatment
menggunakan H2SO4 encer (1%) dan NaOH

Page 36 Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012


(4%). Setelah itu dilakukan hidrolisis enzimatik Bahan dan Peralatan Penelitian
menggunakan enzim selulase dan difermentasi Bahan-Bahan Penelitian
dengan yeast saccharomyses cerevisiae. 1) Enzim Selulase berasal dari fungi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Aspergillus niger
etanol yang dihasilkan semakin tinggi sampai 2) PDA (Potato Dextrose Agar)
waktu fermentasi tertentu (waktu optimum) dan 3) sukrosa 12,5 %
setelah waktu optimum terlewati kadar etanol 4) (NH4)2SO4 0,25 %
yang dihasilkan menurun. Kadar bioetanol 5) KH2PO4 0,2 %
tertinggi yang dihasilkan sebesar 13,89%, pada 6) C2H5OH 96 %
hari fermentasi ke-5 menggunakan enzim 7) Urea
sebanyak 9 ml. 8) MgSO4.7H2O
Ikhsan dan Zamzami melakukan 9) Yeast Saccromyces Cerevisiae
penelitian tentang pengaruh konsentrasi asam 10) NaOH
dan basa pada proses delignifikasi terhadap kadar 11) H2SO4 25 %
etanol yang dihasilkan dari tandan kosong kelapa 12) Aquadest
sawit. Dalam penelitian ini digunakan variasi 13) Acetone
konsentrasi asam 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% 14) BSA (Bovine Serum Albumin)
sedangkan untuk variasi konsentrasi basanya 15) Luff Schoorl
adalah 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%. Proses 16) Na2S2O3 0,1 N
hidrolisis enzimatik dilakukan dengan 17) Kalium Iodida 20 %
menggunakan enzim selulase sebanyak 10 ml
yang kemudian dilanjutkan dengan proses Peralatan Penelitian
fermentasi selama 5 hari dengan menggunakan 1) Beaker Gelas 50, 100, 250, 500 ml
yeast saccharomyses cerevisiae. Larutan 2) Erlemeyer 250 ml, 500 ml
bioetanol kemudian dipisahkan dari residu untuk 3) Gelas Ukur 10 ml, 50 ml
dilanjutkan ke proses distilasi. Dari hasil 4) Labu Takar 1000 ml
penelitian di peroleh bahwa kondisi penelitian 5) Cawan Petri
terbaik didapat pada saat konsentrasi asam 4% 6) Spatula
dan konsentrasi basa 10 % dengan kadar etanol 7) Bunsen
22,82 %. Hal ini menunjukkan bahwa semakin 8) Kawat Ose
tinggi konsentrasi asam dan konsentrasi basa 9) pH Meter / Kertas pH
maka semakin besar kadar etanol yang 10) Rotary Shaker
dihasilkan. Namun setelah melewati konsentrasi 11) Autoclave
asam 4 %, kadar etanol yang dihasilkan semakin 12) Corong Gelas
menurun. 13) Pipet Tetes
14) Pipet ukur 5 ml, 10 ml
15) Neraca Analitik
2. METODOLOGI 16) Blender
17) Oven
Penelitian ini dilakukan di Jurusan Teknik 18) Batu didih
Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. 19) Labu bundar
Metode yang digunakan adalah eksperimental, 20) Peralatan Destilasi
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tandan 21) Piknometer 5 ml
kosong kelapa sawit (TKKS) dapat 22) Buret Digital
menghasilkan alkohol (etanol) melalui proses 23) Hot plate
Alkali Pretreatment dan SSF.
Prosses konversi lignoselulosa tandan Prosedur Penelitian
kosong kelapa sawit menjadi bioetanol terjadi Pembuatan Enzim Selulase
melalui tahap tahap berikut, yaitu : A. Pembenihan Inokulasi
1. Pretreatment secara mekanik dengan Mikroba yang digunakan adalah
megubah ukuran biomassa Aspergillus niger. Pembenihan dilakukan pada
2. Pretreatment atau delignifikasi dengan media PDA (Potato Dextrose Agar) secara zig-
alkali pretreatment ( NaOH ) zag dengan menggunakan kawat inokulasi di
3. Proses SSF dalam cawan petri secara aseptik. Mikroba
4. Destilasi diinkubasi pada suhu 30C selama 120 jam.
5. Analisa produk

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012 Page 37


B. Penyiapan Inokulum Alkaline Pretreatment (NaOH)
1. 100 ml media cair (media cair ini terdiri dari 1. Menimbang 30 gram TKKS, memasukkan
sukrosa 12,5%, (NH4)2SO4 0,25 %, KH2PO4 kedalam 5 buah erlemeyer 500 ml.
0,2 %). 2. Menambahkan 150 ml NaOH 1 %, 1,5 %, 2
2. pH media cair diatur dengan HCl hingga pH %, 2,5 %, 3 % dan menutup rapat
3. erlenmeyer dengan gabus.
3. Ujung kawat ose dicelupkan ke dalam etanol 3. Lalu dipanaskan dengan suhu 121 oC dengan
96 % lalu dipanaskan pada api bunsen sampai waktu 30 menit. Kemudian mencuci fase
berwana merah. solidnya dengan air beberapa kali.
4. Biakan Aspergillus niger dari media PDA 4. Langkah 2 dan 3 diulangi dengan variasi
diambil dengan menggunakan kawat ose lalu waktu untuk 45 menit, 60 menit, 75 menit,
dicelupkan beberapa saat pada media cair dan 90 menit.
hingga tampak keruh. Pekerjaan ini dilakukan
di ruang aseptik. SSF
5. Media cair ditutup dengan kapas dan 1. Hidrolisis dan fermentasi dilakukan pada
diletakkan pada rotary shaker selama 48 jam erlenmeyer dengan pengisian biomassa
dengan kecepatan 130 rpm. sebanyak 30 gram hasil pretreatment dengan
menambahkan aquadest 100 ml dan
C. Produksi Enzim selulase dalam media cair mengatur pH. Kemudian dipanaskan dalam
padat autoclave pada suhu 121 oC selama 15 menit.
1. TKKS dicacah dan dikeringkan kemudian 2. Bubur TKKS dibiarkan menjadi dingin.
dihaluskan. 3. Kemudian ditambahkan enzim sebanyak 10
2. Menimbang 20 gram TKKS dimasukkan ke mL untuk proses hidrolisis dan ditutup rapat.
dalam beaker glass 250 ml dan 4. Selanjutnya erlenmeyer diletakkan pada
menambahkan nutrisi urea 0,03 gr, rotary shaker dengan kecepatan 170 rpm
MgSO4.7H2O, 0,005 gr, KH2PO4 0,0023 gr. selama 24 jam.
3. 80 ml aquadest ditambahkan dalam media 5. Setelah itu ditambahkan Saccaromyces
tersebut Cerevisiae sebanyak 4 gram diaduk pada 150
4. pH diatur hingga pH 5 lalu media disterilkan rpm sampai homogen. Fermentasi dimulai
di dalam autoclave pada suhu 120 C selama dengan adanya penambahan yeast ini.
15 menit. 6. Erlenmeyer ditutup dengan penutup yang
5. Media yang telah disterilkan kemudian dilengkapi dengan selang karet yang ujung
didinginkan. selang dimasukkan ke dalam air agar tidak
6. Suspensi spora aspergillus niger ditambahkan terjadi kontak dengan udara. Sakarifikasi dan
sebanyak 10 ml pada media tersebut. fermentasi dilanjutkan selama 5 hari.
7. Media diinkubasi pada suhu 30 oC dengan 7. Selanjutnya larutan hasil SSF dipisahkan dari
waktu fermentasi 96 jam. bubur TKKS.
8. Larutan tersebut didistilasi pada suhu 80oC
D. Pengambilan Enzim selama 1,5 2 jam sampai etanol tidak
1. Hasil fermentasi diekstrak dengan aquadest menetes lagi.
sebanyak 100 ml lalu di letakkan pada rotari 9. Mengukur destilat etanol yang didapat.
shaker 150 rpm selama 1 jam
2. Cairan hasil fermentasi dipisahkan dengan Analisa Produk
menggunakan kertas saring. Penentuan kadar Etanol
3. Enzim yang diperoleh kemudian disimpan di Untuk menganalisa kadar alkohol (etanol) yang
lemari pendingin dan siap digunakan. didapat digunakan analisa density. Analisa
density ini dilakukan dengan menggunakan alat
Persiapan Bahan Baku piknometer, piknometer yang digunakan adalah
1. Bahan baku yang telah tersedia dijemur piknometer 5 ml pada suhu kamar.
selama beberapa hari. Prosedur perhitungan density dengan
2. Kemudian bahan baku dicacah menjadi menggunakan piknometer yaitu :
ukuran yang lebih kecil lalu dioven. 1) Menimbang berat piknometer kosong pada
3. Biomassa kemudian diperkecil kembali suhu kamar diperoleh a gr.
dengan menggunakan blender hingga 2) Menimbang berat piknometer yang telah
menjadi ukuran 3-5 mm. . berisi aquadest penuh pada suhu kamar
diperoleh b gr.
3) Menghitung volume piknometer dengan
menggunakan rumus

Page 38 Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012


ba ditambahkan 25 ml aquadest masukkan ke
Volume piknometer c ml dalam erlenmeyer.
0.995797
4) Menimbang berat piknometer yang telah diisi 2) Larutan tersebut dinetralkan sampai pH 7.
penuh dengan zat (etanol) yang akan 3) Karena larutan berwarna coklat maka
ditentukan densitynya pada suhu kamar ditambahkan larutan Pb-asetat, penambahan
diperoleh d gr. bahan penjernih ini diberikan tetes demi tetes
Density sampai tidak menimbulkan pengeruhan lagi.
Berat piknometer isi zat Berat piknometer kosong 4) Kemudian larutan disaring dan filtrat
ditampung dalam erlenmeyer.
Volume piknometer
Untuk menghilangkan kelebihan Pb,
d a
Density ditambahkan Na2CO3 anhidrat secukupnya.
c Kemudian ditambah aquadest sampai volume
tertentu, digoyangkan dan disaring.
Dari density yang diperoleh, dapat ditentukan 5) Mengambil filtrat 10 ml yang telah bebas Pb
kadar alkohol (etanol) yang terkandung, dengan dan menambahkan 25 ml larutan Luff schoorl
melihat tabel density standar etanol pada suhu ke dalam erlenmeyer.
kamar (terlampir). Analisa ini dilakukan terhadap 6) Selanjutnya dipanasi di atas hot plate sampai
hasil fermentasi yang telah di destilasi, gunanya mendidih lalu diangkat dan didinginkan.
untuk mengetahui kadar alkohol (etanol) yang 7) Menambahkan 5 ml larutan KI 20 % dan
terdapat dalam hasil fermentasi. menambahkan 5 ml H2SO4 25 %.
No. Berat Lama Konst. Kadar 8) Menambahkan 3 tetes indikator amilum.
TKKS waktu NaOH Alkohol 9) Melakukan titrasi dengan larutan Na2S2O3
(gr) tinggal (%) (% v/v )
0,1 N sampai berwarna putih susu.
(menit)
10) Melakukan percobaan untuk blanko dengan
1 1 2,6560 menggunakan 25 ml larutan luff schoorl dan
2 1,5 2,8205 25 ml aquadest.
3 30 30 2 3,2730 11) Perhitungan
4 2,5 3,2730 -Jumlah titrasi blanko dengan Na2S2O3
5 3 3,2730 -Jumlah titrasi sampel dengan Na2S2O3
6 1 3,3827 -Selisih titrasi (blanko sampel)
7 1,5 3,4650 = Jumlah ml Na2S2O3 yang setara dengan
8 30 45 2 3,4924 gula reduksi
9 2,5 3,6843
10 3 3,9037
11 1 3,5335 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
12 1,5 3,7392
13 30 60 2 3,8078 Pengaruh Waktu Tinggal Pretreatment
14 2,5 3,8352 Terhadap Kadar Etanol Pada Berbagai
15 3 4,2054 Variasi Konsentrasi NaOH
16 1 3,6706
17 1,5 3,7940
18 30 75 2 3,9037
19 2,5 3,9860
20 3 4,3228
21 1 3,8352
22 1,5 3,8626
23 30 90 2 3,9772
24 2,5 3,9860
25 3 4,3699

Penentuan Kadar Glukosa

Untuk analisa kadar glukosa digunakan Dengan


Metode Luff Schoorl.
1) Larutan yang sudah difermentasikan (gula Gambar 3. Pengaruh waktu tinggal pretreatment
invert) di ambil sebanyak 10 ml dan terhadap kadar etanol pada berbagai
variasi konsentrasi NaOH.

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012 Page 39


Konsentrasi NaOH yang ditambahkan pada Pengaruh Waktu Tinggal Pretreatment
proses pretreatment bervariasi : 1%, 1.5%, 2%, Terhadap Kadar Glukosa Pada berbagai
2.5%, dan 3%. Gambar 3. menunjukkan Variasi Konsentrasi NaOH
pengaruh waktu tinggal NaOH selama proses
pretreatment terhadap kadar etanol pada berbagai Pengaruh waktu tinggal pretreatment terhadap
variasi konsentrasi NaOH. Dari gambar 3. kadar glukosa pada berbagai variasi konsentrasi
terlihat bahwa semakin lama waktu tinggal NaOH dapat dilihat pada gambar 5. Massa
pretreatment, maka kadar etanol yang dihasilkan TKKS yang digunakan 30 gram dan waktu
semakin tinggi. Demikian juga dengan semakin hidrolisis selama 24 jam.
tinggi konsentrasi NaOH, maka kadar etanol juga
semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena
semakin lama waktu tinggal maka menyebabkan
senyawa lignin yang terdegradasi lebih banyak.
Sehingga selulosa dapat terhidrolisis lebih
banyak menjadi glukosa dengan enzim selulosa.
Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa
kadar etanol tertinggi yang diperoleh adalah 4,
3699 % pada konsentrasi NaOH 3 % dengan
waktu tinggal 90 menit.

Gambar 5 Pengaruh waktu tinggal pretreatment


terhadap kadar glukosa pada
berbagai variasi konsentrasi NaOH.

Gambar 5 menunjukkan bahwa kadar


glukosa sisa proses SSF semakin menurun. Hal
ini menunjukkan bahwa glukosa hasil hidrolisis
telah difermentasi menjadi etanol. Sementara itu,
Gambar 4. Hasil Analisa GC untuk beberapa selulosa semakin lama semakin berkurang karena
konsentrasi NaOH terurai menjadi unit glukosa. Kadar gula
cenderung menurun disebabkan gula yang
Dari Hasil analisa GC terlihat perbedaan antara terdapat dalam media digunakan sebagai sumber
nilai hasil analisa secara piknomter dengan karbon bagi sel khamir untuk mensintesis energi
menggunakan GC. Perbedaaan tersebut melalui proses fermentasi etanol. Semakin tinggi
disebabkan karena dalam analisa piknomter, kadar etanol maka semakin sedikit gula reduksi
produk masih menganduk senyawa lain yang tersisa. Karena, selama proses fermentasi
sedangkan dari analisa GC hanya menganalisa gula diubah menjadi etanol dengan bantuan ragi.
etanol murni yang dihasilkan Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa
kadar glukosa pada konsentrasi NaOH 3 % dan
waktu tinggal 90 menit adalah 0,086 %.
Besarnya kadar etanol yang dihasilkan
berbanding terbalik dengan sisa gula reduksi.
Semakin tinggi kadar etanol maka semakin
sedikit gula reduksi yang tersisa. Karena, selama
proses fermentasi gula diubah menjadi etanol
dengan bantuan ragi.

Page 40 Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012


Hubungan Antara Kadar Glukosa Dan Kadar
Etanol dengan Konsentrasi NaOH

Gambar 9. Hubungan antara kadar glukosa,


Gambar 6. Hubungan antara kadar glukosa, kadar etanol dengan konsentrasi
kadar etanol dengan konsnetrasi NaOH yang ditambahkan pada
NaOH yang ditambahkan pada waktu tinggal fermentasi 75 menit.
waktu tinggal pretreatment 30 menit.

Gambar 10. Hubungan antara kadar glukosa,


Gambar 7. Hubungan antara kadar glukosa, kadar etanol dengan konsentrasi
kadar etanol dengan konsentrasi NaOH yang ditambahkan pada
NaOH yang ditambahkan pada waktu tinggal pretreatment 90
waktu tinggal pretreatment 45 menit. menit.

Dari kelima gambar di atas terlihat bahwa


tampak adanya hubungan antara kadar etanol,
kadar glukosa dan konsentrasi NaOH yang
ditambahkan yaitu semakin besar konsentrasi
NaOH yang digunakan maka semakin besar pula
kadar etanol yang diperoleh. Namun berbeda
untuk kadar glukosa, semakin besar konsentrasi
NaOH yang digunakan, maka kadar glukosa
semakin berkurang. Hal ini disebabkan ketika
NaOH pada konsentrasi yang semakin tinggi,
menyebabkan terurainya kandungan
lignoselulosa dalam suatu biomassa sehingga
kandungan selulosa semakin lebih mudah untuk
diubah menjadi glukosa pada proses SSF.
Gambar 8. Hubungan antara kadar glukosa,
kadar etanol dengan konsentrasi
NaOH yang ditambahkan pada
waktu tinggal pretreatment 60 menit.

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012 Page 41


4. KESIMPULAN Hidayat, Rina, dkk. 2009. Pemanfaatan Tandan
Kosong Kelapa Sawit Menjadi Bioetanol
Dari penelitian yang dilakukan, dapat diambil sebagai Bahan Bakar Masa Depan yang
beberapa kesimpulan : Ramah Lingkungan. Diakses tanggal 15
1. Kadar etanol tertinggi yang diperoleh adalah Agustus 2010 dari (http://chemistry.org/
4,3699 % pada konsentrasi NaOH 3 % 2010/08/15/ pemanfaatan-tandan-kosong-
dengan waktu tinggal 90 menit. kelapa-sawit).
2. Semakin besar konsentrasi NaOH dan
semakin lama waktu tinggal pretreatment Institut Pertanian Bogor. 2010. Ampas Perasan
maka kadar etanol yang dihasilkan semakin Kelapa Sawit Sebagai Biomassa
besar. Lignoselulosa. Diakses 13 Agustus 2010
3. Semakin besar kadar etanol yang dihasilkan dari (http:// chemistry. org /2010/08/13/
maka semakin kecil sisa gula reduksi. ampas-perasan-kelapa-sawit-sebagai-
biomassa-lignoselulosa).

DAFTAR PUSTAKA Minarli, Ikhsan.,Zamzami. 2011. Pengaruh


Variabel Konsentrasi Asam dan Basa pada
Alvira, P, dkk. 2009. Pretreatment technologies Proses Delignifikasi terhadap Kadar
for an efficient bioethanol production Etanol yang dihasilkan dari Tandan
process based on enzymatic hydrolysis. Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Universitas
Diakses tanggal 26 Maret 2010 dari Sriwijaya: Indralaya.
(http://elsevier.com/locate/biotech/2010/03/
26/Pretreatment-technologies-for-an- Kumar, Parveen, dkk. 2009. Methods for
efficient bioethanol-production-process- pretreatment of lignocellulosic biomass for
based-on-enzymatic-hydrolysis). efficient hydrolysis and biofuel production.
Diakses tanggal 25 Maret 2010 dari
Balat, Mustafa, dkk. 2007. Progress in (http://pubs.acs.org/methods-for-
Bioethanol Processing. Diakses tanggal 30 pretreatment-lignocellulosic-biomassa).
November 2009dari (http://elsevier.com/
locate/pecs/2009/03/30/Progress-in- Prawita, Dewi. 2010. Mengolah Limbah Sawit
bioethanol-processing). Menjadi Bioetanol dan Kompos. Diakses
tanggal 13 Agustus 2010 dari
Corvero, Jose Maria dkk. 2009. Enzimatic (http://blogs.unpad.ac.id/ 2010/08/13/
hydrolysis and fermentation of palm kernel mengolah- limbah- sawit- menjadi-
press cake for production of bioethanol. bioetanol-dan-kompos.html).
Diakses tanggal 23 Februari2010dari
(http://elsevier.com/locate/emt/2010/02/23/ Yogamina, Daru.HW., Melinda,FA. 2011.
enzimatic-hydrolysis-and-fermentation). Pembuatan Bioetanol dari Tandan Kosong
Kelapa Sawit menggunakan Metode
Hidrolisis Enzimatik dan Fermentasi.
Universitas Sriwijaya: Palembang.

Page 42 Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012


Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 18, Agustus 2012 Page 43