Anda di halaman 1dari 3

MALARIA

Pengertian
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit genus
plasmodium( p.falciparum,p.Vivax, P.Ovale, atau P.Malariae, P.knowlesi) yang hidup dan
berkembang biak dalam sel darah merak manusia ( eritrositik)atau jaringan ( stadium ekstra
eritrositik). Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina.
(WHO 2010)
Etiopatogenesis
Daur hidup spesies malaria terdiri dari fase seksual eksogen dan seksual (sporogomi) dalam
badan nyamuk Anopheles dan fase aseksual (skizogoni) dalam badan hospes vertebra
termasuk manusia.
a. Fase aseksual
Fase aseksual terbagi atas fase jaringan dan fase eritrosit. Pada fase jaringan, sporozoit masuk
dalam aliran darah ke sel hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung
ribuan merozoit. Proses ini di sebut skizogoni praeritrosit. Lama fase ini berbeda untuk tiap fase.
Pada akhir fase ini, skizon pecah dan merozoit keluar dan masuk aliran darah, disebut sporulasi.
Pada P.vivax dan P.ovale, sebagai sporozoit membentuk hipnozoit dalam hati sehingga dapat
mengakibatkan relaps jangka panjang dan rekurens. Fase eritrosit dimulai dan merozoit dalam
darah menyerang eritrosit membentuk trofozoit. Proses berlanjut menjadi trofozoit-skizon-
merozoit. Setela 2-3 generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk
seksual. Masa antara permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah
masa prapaten, sedangkan masa tunas/inkubasi intrinsik dimulai dari masuknya sporozoit dalam
badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam.
b. Fase seksual
Parasit seksual masuk dalam lambung betina nyamuk. bentuk ini mengalami pematangan
menjadi mikro dan mikrogametosit dan terjadilah pembuahan yang 10 disebut zigot (ookinet).
Ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista. Bila ookista pecah,
ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar liur nyamuk.
Patogenesis malaria ada 2 cara:
a) Alami, melalui gigitan nyamuk ketubuh manusia.
b) Induksi, jika stadium aseksual dalam eritrosit masuk kedalam darah manusia melalui transfusi,
suntikan, atau pada bayi baru lahir melalui plasenta ibu yang terinfeksi

Siklus Hidup
Infeksi parasit malaria pada tubuh manusia dimulai bila nyamuk anopheles betina menggigit
manusia dan nyamuk akan melepaskan sporozoit kedalam pembuluh darah dimana sebagian
besar dalam waktu 45 menit akan menuju ke hati dan sebagian kecil sisanya akan mati di
darah. Didalam sel parenkim hati dimulailah proses perkembangan aseksual (intrahepatic
schizogony atau pre-erythrocytes schizogony). Perkembangan ini memerlukan waktu 5.5 hari
untuk plasmodium falciparum dan 15 hari untuk plasmodium malariae. Setelah sel parenkim
hati terinfeksi, terbentuk sizont hati yang apabila pecah akan mengeluarkan banyak merozoit
ke sirkulasi darah. Setelah berada dalam sirkulasi darah merozoit akan menyerang eritrosit
dan akan masuk melalui reseptor permukaan eritrosit. Eritrosit yang berparasit menjadi lebih
elastik, dan dinding berubah lonjong, pada p.falciparum dinding eritrosit membentuk tonjolan
yang disebut knob yang nantinya penting dalam proses cytoadherence dan rosetting. Setelah
36 jam invasi kedalam eritrosit, parasi berubah menjadi sizont, dan bila sizont pecah akan
meneluarkan 6-36 merozoit dan siap menginfeksi eritrosit yang lain. Siklus aseksual ini pada
P. Falciparum, P. Vivax, dan P. Ovale ialah 48 jam dan pada P. Malariae adalah 72 jam.
Didalam darah sebagian besar parasit akan membentuk gamet jantan dan gamet betina, dan
bila nyamuk menghisap darah manusia yang sakit akan terjadi siklus seksual dalam tubuh
nyamuk. Setelah terjadi perkawinan akan terbentuk zygote dan menjadi lebih bergerak
menjadi ookinet yang menembus dinding perut nyamuk dan akhirnya menjadi bentuk oocyst
yang akan menjadi masak dan mengeluarkan sporozoit yang akan bermigrasi ke kelenjar
ludah nyamukdan siap menginfeksi manusia.

Manifestasi Klinis
1. Gangguan kesadaran ata koma yang tidak dapat dibangunkan
2. Prostrasi, contoh kelemahan menyeluruh( generalized weakness) sehingga pasien tidak
dapat duduk atau berjalan tanpa bantuan
3. Tidak dapat makan
4. Kejang berulang- lebih dari 2 episode dalam 24 jam setelah pendinginan pada hipertermia
5. Nafas dalam, distres pernafasan ( nafas Kussmaul)
6. Gagal sirkulasi atau syok, tekanan sistolik < 70 mmHg pada dewasa dan < 50mmHg pada
anak-anak disertai keringat dingin atau perbedaan temperatur kulit- mukosa > 1C
7. Ikterik disertai tanda disfungsi organ vital
8. Hemoglobinuria
9. Perdarahan spontan yang disertai abnormal dari hidung, gusi, saluran cerna dan/ atau
disertai gangguan koagulasi intravaskular
10. Edema paru ( radiologis)/ accute respiratory distress syndrome (ARDS)