Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH MANAJEMEN PRODUKSI FARMASI

SUPPLY CHAIN INDUSTRI FARMASI INDONESIA

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

AISYAH HAMBALI O1A1 14 004

ASTRIED AMALIA A. O1A1 14 006

FADILAH AYU LESTARI O1A1 14 013

FARADILA CAHYANI R. O1A1 14 014

ISMAR WULAN O1A1 14 017

LETY SANDRA O1A1 14 021

LILI HANDAYANI O1A1 14 022

NABILA SARASWATI H. O1A1 14 029

NUR ALIF FATUH R. O1A1 14 033

NURLELA SUNDARI Z. O1A1 14 034

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita hadiratkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya, makalah untuk tugas Manajemen Produksi Farmasi ini
dapat terselesaikan. Di dalam makalah ini dibahas mengenai manajemen Rantai
Pasok (Supply Chain) Industri Farmasi di Indonesia.
Ucapan terima kasih diberikan kepada pihak yang telah membantu dari
awal pembuatan makalah ini hingga selesai pembuatannya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Penyusun berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Kendari, 30 September 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................ i
KATA PENGANTAR. ... ii
DAFTAR ISI .................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....1
B. Rumusan Masalah..1
C. Tujuan .......1
D. Manfaat .1
BAB II : ISI
A.
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan.
B. Saran...
DAFTAR PUSTAKA...
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keresahan Pemerintah Indonesia terhadap meningkatnya harga-harga
produk Farmasi di Indonesia patut disambut sebagai sebuah sinyal positif.
Industri Farmasi Indonesia telah menggurita sehingga gagal menghasilkan
produk Farmasi yang murah namun berkualitas tinggi. Niat pemerintah
Indonesia, melalui Menteri Kesehatan, untuk menurunkan harga obat
(generik) akan selalu mengalami kesulitan. Hal ini akan berjalan terus
sepanjang struktur Industri Farmasi di Indonesia tidak mengalami reformasi.
Fenomena ini juga tidak jarang diperparah oleh inkonsistensi yang dilakukan
Pemerintah Republik Indonesia sendiri akibat tarik-menarik kepentingan di
dalamnya. Pada sisi lain, kegagalan pemerintah dan Industri Farmasi untuk
menghadirkan harga produk Farmasi yang murah, telah memunculkan
peluang bisnis bagi para produsen obat ilegal. Perbedaan margin yang terlalu
tinggi menyebabkan muncul peluang untuk menghadirkan produk substitusi
(bahkan palsu) dengan harga njomplang (murah). Keengganan Industri
Farmasi untuk menata diri agar lebih langsing, gesit dan murah; disertai
dengan ancaman hadirnya produsen ilegal telah menyebabkan Industri
Farmasi di Indonesia bagaikan sedang diopname. Gagasan self-dispensing
medication yang beberapa kali dimunculkan akan selalu kandas, justru akibat
tekanan para pelaku Industri Farmasi itu sendiri. Bahkan desain pemerintah
atas tata kelola rantai pasokan Industri Farmasi telah memberi ruang yang
sangat besar bagi hadirnya Pedagang Besar Farmasi (PBF), sehingga rantai
pasokan menjadi lebih panjang.
Perusahaan Farmasi atau perusahaan obat-obatan adalah perusahaan
bisnis komersial yang fokus dalam meneliti, mengembangkan dan
mendistribusikan obat. Mereka dapat membuat obat generik atau obat
bermerek. Untuk dapat bertahan perusahaan Farmasi harus menjual produk
kepada pelanggan untuk mendapatkan keuntungan. Saat ini ada 199 jumlah
perusahaan Farmasi yang beroperasi di Indonesia. Dari jumlah tersebut
sebanyak 35 perusahaan adalah PMA (Penanaman Modal Asing) dengan
pangsa pasar yang diperkirakan mencapai 29.5%. Empat perusahaan lain
adalah BUMN dengan pangsa pasar sebesar 7,0% dan sisanya PMDN
(Penanaman Modal Dalam Negeri) dengan pangsa pasar 63.5%. Sebanyak 10
besar perusahaan Farmasi di tahun 2010 umumnya didominasi oleh 9
perusahaan lokal yaitu Sanbe Farma, Kalbe Farma, Dexa Medica, Bintang
Toedjoe, Tempo Scan Pacific, Kimia Farma, Konimex, Phapros, Indofarma
dan 1 perusahaan PMA yaitu Pfizer. Market share dari 10 perusahaan terbesar
ini kurang lebih 40%. Kompleksifitas dan banyaknya kompetitor di dalam
negeri menambah sulitnya penjualan obat kepada customer. Salah satu
penunjang keberhasilan penjualan obat bagi perusahaan Farmasi adalah
dengan adanya management Supply Chain yang baik sehingga menjadi
keunggulan kompetitif perusahaan tersebut. Banyak perusahaan yang
mengalami kerugian yang cukup besar, karena tidak terintegrasinya masalah
pengadaan logistik, gejalanya adalah terjadinya kelebihan atau kekurangan
persediaan, kerusakan, kesalahan pengiriman, kehilangan. Sejauh ini, kejadian
seperti itu dapat dihindari dengan mengintegrasikan semua kegiatan logistik
mulai dari ujung pemasok paling awal sampai ke konsumen paling akhir.
Konsep integrasi logistik ini disebut dengan Supply Chain atau rantai pasokan
yang juga merupakan salah satu upaya peningkatan mutu perusahaan Farmasi
secara internal.
Rantai pasokan adalah pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan
baku menjadi barang setengah jadi dan produk jadi, pelayanan serta
pengiriman ke pelanggan. Seluruh aktivitas ini mencakup aktivitas pembelian
dan penjualan produk, ditambah fungsi lain yang penting bagi hubungan
antara pemasok dan distributor. Manajemen Rantai Pasokan (MRP) mencakup
seluruh kegiatan arus dan transformasi barang mulai dari bahan mentah
sampai produk jadi, dan penyaluran ke tangan konsumen, termasuk aliran
informasinya. Bahan baku dan aliran informasi adalah rangkaian dari rantai
pasokan. Kegiatan MRP dalam pelaksanaannya melibatkan secara langsung
ataupun tidak langsung semua perusahaan dan organisasi yang berhubungan
dengan perusahaan inti, sebagai contohnya adalah PBF (Pedagang Besar
Farmasi).

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud Supply Chain di Industri Farmasi?
2. Apa saja komponen dasar Supply Chain Management?
3. Apa tujuan dari Supply Chain Management?
4. Apa fungsi dasar Supply Chain Management?
5. Bagaimana proses Supply Chain?
6. Bagaimana perkembangan Supply Chain Industri Farmasi di Indonesia?
7. Bagaimana persebaran Bahan Baku Industri Farmasi?
8. Bagaimana Keagenan Distribusi di Industri Farmasi?
9. Apa yang dimaksud dengan Inventory Planning?
10. Bagaimana cara memendekkan Rantai Pasokan?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui Supply Chain di Industri Farmasi
2. Untuk mengetahui komponen dasar Supply Chain Management
3. Untuk mengetahui tujuan dari Supply Chain Management
4. Untuk mengetahui fungsi dasar Supply Chain Management
5. Untuk mengetahui proses Supply Chain
6. Untuk mengetahui perkembangan Supply Chain Industri Farmasi di
Indonesia
7. Untuk mengetahui persebaran Bahan Baku Industri Farmasi
8. Untuk mengetahui Keagenan Distribusi di Industri Farmasi
9. Untuk mengetahui Inventory Planning
10. Untuk mengetahui cara memendekkan Rantai Pasokan

D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui komponen dasar Supply Chain
Management
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui tujuan dari Supply Chain Management
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui fungsi dasar Supply Chain
Management
4. Agar mahasiswa dapat mengetahui proses Supply Chain
5. Agar mahasiswa dapat mengetahui perkembangan Supply Chain Industri
Farmasi di Indonesia
6. Agar mahasiswa dapat mengetahui persebaran Bahan Baku Industri
Farmasi
7. Agar mahasiswa dapat mengetahui Keagenan Distribusi di Industri
Farmasi
8. Agar mahasiswa dapat mengetahui Inventory Planning
9. Agar mahasiswa dapat mengetahui cara memendekkan Rantai Pasokan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Supply Chain


Supply Chain dapat didefinisikan sebagai sekumpulan aktifitas (dalam
bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi
barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada
konsumen akhir. Menyimak dari definisi ini, maka suatu Supply Chain terdiri
dari perusahaan yang mengangkut bahan baku dari bumi/alam, perusahaan
yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau
komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan,
distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir.

B. Lima komponen dasar dari Supply Chain Management


1. Plan
Plan atau perencanaan merupakan kegiatan strategi untuk mengatur
semua sumber (sources) agar memenuhi permintaan pelanggan atas suatu
produk atau layanan.
2. Source
Source (sumber) mencakup supplier (perusahaan penyedia barang)
yang menghantarkan barang atau layanan yang dibutuhkan untuk
pembuatan barang jadi.
3. Make
Ini merupakan langkah produksi, dimana perlu dilakukan penjadwalan
terhadap aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk produksi, uji coba,
packaging, dan persiapan untuk pengiriman barang.
4. Deliver
Bagian ini juga dikenal dengan logistik. Pada bagian ini perlu
dilakukan koordinasi antara pesanan dari pelanggan, bangun jaringan
warehouse, tentukan pengangkutan yang akan mengirimkan barang atau
layanan kepada pelanggan dan membuat sistem invoice untuk menerima
pembayaran.
5. Return
Bagian ini merupakan bagian yang menjadi masalah dalam Supply
Chain. Buat suatu jaringan untuk menerima pengembalian barang atau
layanan dan melayani pelanggan yang memiliki masalah dengan
pengiriman barang.

C. Tujuan Supply Chain Manajement


1. Supply Chain manajemen menyangkut pertimbangan mengenai lokasi
setiap fasilitas yang memiliki dampak terhadap aktivitas dan biaya dalam
rangka memproduksi produk yang diinginkan pelanggan dari supplier dan
pabrik hingga disimpan di gudang dan pendistribusiannya ke sentra
penjualan.
2. Mencapai efisiensi aktivitas dan biaya seluruh sistem, total biaya sistem
dari transportasi
3. Hingga distribusi persediaan bahan baku, proses kerja dan barang jadi.
4. Penyerahan/pengiriman produk secara tepat waktu demi memuaskan
konsumen.
5. Mengurangi biaya
6. Meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu
Perusahaan)
7. Mengurangi waktu
8. Memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi

D. Fungsi dasar Supply Chain Management


1. Secara fisik mengubah bahan baku dan komponen menjadi produk dan
mengirimnya ke konsumen akhir.
2. Menyakinkan bahwa pengiriman produk atau jasa memuaskan aspirasi
pelanggan.

E. Proses Supply Chain


Dalam Supply Chain ada beberapa pemain utama yang merupakan
perusahaan yang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu : 1. Supplies 2.
Manufactures 3. Distribution 4. Retail Outlet 5. Customers

Gambar 1.1 proses supply chain

Berbeda dengan konsep Supply Chain umum yang sangat


mengedepankan responsiveness dan efisiensi. Pada distribusi Farmasi yang
terdepan seharusnya adalah Kualitas dan Responsiveness. Kualitas
merupakan hal yang mutlak, karena ini adalah produk Obat yang memiliki
fungsi untuk penyembuhan, bayangkan jika kualitasnya rusak. Disamping
mengurangi khasiat, obat yang rusak bahkan bisa menjadi racun bagi tubuh.
Demand Management. Namun demikian produk Farmasi memiliki
formula tersendiri yang menjadi celah sehingga para praktisi bisa meningkatkan
efisiensi dalam distribusi obat. Misalnya saja, obat yang dibagi menjadi dua
klasifikasi yaitu obat akut dan obat kronis. Obat akut biasanya adalah kelompok
obat yang berfungsi untuk pengobatan sekali terapi, misalnya saja pasien
demam berdarah, tifus, dan sebagainya. Sementara obat kronis diperuntukkan
untuk terapi terus menerus, misalnya saja pasien hipertensi, kolesterol, ataupun
gula yang harus mengkonsumsi obat tersebut secara jangka panjang. Dan
biasanya untuk kategori kronis ini terjadinya perpindahan merek produk
cenderung minimal, karena sangat tergantung pada faktor rekomendasi dokter
dan kecocokan. Dengan kata lain, kategori obat kronis cendrung lebih mudah
untuk diperkirakan permintaannya ketimbang obat akut.

F. Perkembangan Supply Chain Industri Farmasi di Indonesia


Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 239 perusahaan Farmasi yang
beroperasi. Sebagian besar Industri Farmasi terdapat di Jawa Barat (94), Jawa
Timur (47), dan DKI Jakarta (37). Beberapa top players di industri ini adalah
Kalbe Farma, Sanbe, Soho, Pharos Indonesia, Dexa Medica dan Tempo Scan
Pacific. Total pangsa pasar lima besar pemain tersebut adalah sebesar 32%.

Gambar 1.2 perkembangan supply chain

Ronny H. Mustamu (2000) mengungkap bahwa ketidakstabilan


ekonomi-politik yang berdampak pada melemahnya nilai tukar Rupiah
terhadap valuta asing akan secara langsung berdampak pada Industri Farmasi
di Indonesia. Fakta bahwa lebih dari 90 persen bahan baku berasal dari negara
lain, sangatlah menempatkan industri ini pada posisi rentan pada
ketidakstabilan ekonomi-politik tersebut. Seiring dengan melemahnya daya
beli masyarakat, maka beragam bentuk obat alternatif seperti jamu dan
ramuan China sangat mempengaruhi pertumbuhan pasar Industri Farmasi
Indonesia. Pertumbuhan konsumsi obat per kapita di Indonesia sesungguhnya
masih kurang menggembirakan nilainya (Grafik 1). Namun demikian,
besarnya potensi volume pasar dalam negeri Indonesia (dengan lebih dari 235
juta penduduk), memberikan potensi keuntungan yang menjanjikan bagi para
pemain asing (Grafik 2). Oleh karenanya, meskipun pasar obat di Indonesia
sarat dengan ketidakpastian dan pemalsuan produk, namun para pemain asing
sangat berminat untuk bekerja di Indonesia. 31 pabrikan Farmasi asing di
Indonesia telah menguasai sekitar 50 prosen pasar produk Farmasi Nasional.

Gambar 1.3. Grafik 1 Konsumsi Obat Per Kapita Di


Kawasan ASEAN 2004 (USD)

Gambar 1.4. Grafik 2 pasar farmasi di kawasan


ASEAN
Gambar 1.5. Grafik Penjualan industri farmasi di
indonesia (IDR triliun)

Gambaran pasar di atas ternyata belum disambut dengan sebuah


proses untuk menjadi lebih efisien dalam Industri Farmasi. Pengelolaan
saluran distribusi (distribution channel) dalam Industri Farmasi di Indonesia
ternyata lebih mengarah pada model Concentration. Model ini memberikan
peluang bagi produsen Farmasi untuk mengurangi jumlah transaksi secara
signifikan (Bowersox dan Closs, 1996). Desain Pemerintah Republik
Indonesia atas hadirnya Pedagang Besar Farmasi (PBF) memungkinkan
produsen Farmasi untuk menghindarkan diri dari risiko besarnya jumlah akun
transaksi dengan peritel secara langsung. Gambar 1.6 mungkin dapat secara
sederhana memberikan gambaran bagaimana para produsen Farmasi lebih
terpesona pada kinerja PBF daripada mengelola hubungan langsung dengan
peritel Farmasi. Sayangnya, model yang oleh para produsen Farmasi dianggap
sebagai lebih efisien dan lebih baik tersebut, ternyata memberikan beban
biaya tambahan kepada konsumen hingga mencapai 16 prosen sampai 30
prosen, bergantung pada panjangnya mata rantai dalam saluran distribusi
tersebut.
Gambar 1.6. prinsip transaksi total minimum

Sampai dengan tahun 2015, perusahaan Farmasi domestik masih


mendominasi dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 72%, sedangkan
perusahaan Farmasi multinasional menguasai pangsapasar sebesar 28%. Pasar
Farmasi terdiri dari pasar obatresep dan obat bebas dimana masing-masing
pangsa pasarnya sebesar 61% dan 39%. Dari masing-masingpangsa pasar
tersebut, perusahaan domestik menguasaipangsa pasar sebesar 38% obat resep
dan 34% obat bebas, dimana sisanya dikuasai perusahaan multinasional.
International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG)
mengungkapkan ada lima hal yang harus dipenuhi untuk menjadikan
Indonesia sebagai pusat riset dan pengembangan Industri Farmasi. Jika hal ini
terpenuhi dapat menarik investor dan meningkatkan daya saing nasional.
Direktur Eksekutif IPMG, Parulian Simanjuntak menerangkan, beberapa hal
yang harus diperhatikan dalam Industri Farmasi, yaitu (1) sistem politik yang
stabil dan transparan; (2) sistem kekayaan intelektual kelas dunia; (3) pasar
yang terbuka dan tanpa diskriminasi; (4) jaringan yang kuat antara sektor
swasta dan akademisi; (5) insentif dalam hal pajak.

Gambar 1.7. Rekapitulasi Industri Farmasi Indonesia


Dia mengatakan IPMG sebagai pelaku industri dan salah satu pemangku
kepentingan di sektor kesehatan, berkomitmen untuk dapat berkontribusi
terhadap perbaikan dan peningkatan sektor kesehatan Indonesia. International
Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), asosiasi perusahaan Farmasi
internasional yang beroperasi di Indonesia, memaparkan peluang dan tantangan
Industri Farmasi di Tanah Air pada 2017. IPMG menunjukkan sikap optimistis
dengan pertumbuhan Industri Farmasi di Indonesia.
Menurut data IMS Health, pasar Industri Farmasi tumbuh 7,49% hingga
kuartal keempat 2016, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya sebesar 4,92%. IPMG memperkirakan pertumbuhan ini akan
berlanjut pada 2017. Salah satu faktor pendorong tumbuhnya Industri Farmasi
adalah meluasnya jangkauan kepesertaan dari Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) atau BPJS Kesehatan yang mencapai 175 juta anggota hingga Maret
2017, atau 66% dari keseluruhan populasi penduduk Indonesia. Hal ini juga
didukung komitmen pemerintah menjadikan Industri Farmasi sebagai salah satu
industri prioritas di Indonesia. Salah satunya adalah dengan meluncurkan
Roadmap Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, pada akhir Februari 2017.
Selain itu, JKN masih terus berkutat dengan masalah defisit keuangan.
Hingga 2016, total defisit dalam program JKN mencapai Rp 6,23 triliun. Pada
tahun 2014 dilaksanakan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Program
JKN dibentuk sebagai tanggung jawab pemerintah untuk memberikan
pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat, terutama golongan yang tidak
mampu. Dengan demikian, masyarakat golongan menengah kebawah
mengalami 3 kesulitan dalam memenuhi standar kesehatan sehingga program
JKN akan mengedepankan produk obat obat generik. Dengan adanya program
ini secara langsung maupun tidak langsung sangat mempengaruhi MRP
(Manajemen Rantai Pasokan) pada PBF (Pedaganag Besar Farmasi) sebagai
pemasok atau pensuplai obat di apotek dan di Rumah Sakit yang menjadi
pelanggan utama perusahan Farmasi. Inti dari persaingan perusahaan-
perusahaan sekarang ini terletak pada bagaimana sebuah perusahaan mampu
menciptakan produk atau jasa yang lebih baik, dan lebih cepat
pendistribusiannya dibandingkan dengan pesaing bisnisnya. Pengintegrasian ini
akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas, selain itu, lebih jauh lagi
menciptakan keunggulan kompetitif tertentu bagi perusahaan terkait.

G. Persebaran Bahan Baku Industri Farmasi


Saat ini Indonesia sudah dapat memenuhi kebutuhan akan obat sendiri,
hampir 90% kebutuhan obat berasal dari produksi dalam negeri, hanya
Industri Farmasi di Indonesia masih sangat tergantungdengan bahan baku
impor, hampir 96% bahan baku yang digunakan Industri Farmasi masih
diimpor.
Pasar Farmasi Indonesia pada tahun 2011 berkisar sekitar 43 triliun
rupiah (Business Monitoring International Report, 2011; IMS, 2011), dari
jumlah tersebut diperkirakan market value untuk bahan baku obat (BBO)
yang digunakan adalah kurang lebih sekitar 30%-nya atau sekitar 14 triliun
rupiah. Dari jumlah tersebut sekitar 96%-nya merupakan bahan baku impor.
Jumlah ini dapat diminimalisir jika ada kemandirian di bidang obat dengan
menumbuhkan industri bahan baku obat dalam negeri.
Obat memiliki peranan ganda yaitu peran sosial dalam meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat tetapi memiliki peran ekonomis yang cukup
tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa obat mempunyai peranan strategis yang
mempengaruhi ketahanan nasional, oleh karena itu kemandirian dalam
produksi obat-obatan harus diupayakan agar Indonesia tidak selalu tergantung
dari negara lain. Oleh karena itu upaya untuk melakukan kemandirian bahan
baku obat jangan hanya dilihat dari sudut ekonomi saja, karena pada tahap
awal produksinya maka bahan baku dalam negeri mungkin saja lebih mahal
dari bahan baku impor.
Pengembangan bahan baku obat dalam negeri hendaknya juga
dipandang sebagai suatu upaya untuk menjaga ketahanan nasional di bidang
obat, karena akan sangat riskan bagi suatu negara sebesar Indonesia apabila
kita tetap membiarkan ketergantungan Industri Farmasi dalam negeri terhadap
bahan baku obat impor. Salah satu proses pengembangan bahan baku obat
dalam negeri ialah melalui pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia.
Kekayaan sumber daya hayati Indonesia merupakan sumber daya yang
potensial di bidang Farmasi yang selama ini belum dimanfaatkan sepenuhnya.
Keragaman hayati tanaman, mikroorganisme dan biota laut berkolerasi
langsung dengan keragamankimia yang memiliki potensi yang sangat besar
bagi pengembanganobat. Disisi lain berdasarkan pemetaan riset yang
dilakukan oleh Dewan Riset Nasional tahun 2006 2007 untuk bidang
kesehatan dan obat menunjukkan bahwa aktivitas riset yang paling
tinggiadalah riset obat alami dari senyawa aktif alam walaupun pada tahun
2011 riset terhadap bahan baku kimia juga meningkat dengan cukup pesat.
Keanekaragaman hayati dan banyaknya riset di bidang obat alami dan obat
kimia selanjutnya didorong untuk pengembangan industri bahan baku obat
baik bahan baku obat aktif maupun bahan baku pembantu (eksipien).
Untuk mengurangi ketergantungan bahan baku obat, perlu
ditumbuhkan industri bahan baku obat di tanah air, dimana pemerintah dalam
waktu 10 hingga 20 tahun kedepan perlu membuat rencana strategis berupa
roadmap pengembangan bahan baku obat di Indonesia serta menetapkan
starting point dan strategi yang harus ditempuh dalam mewujudkan
peningkatan kemandirian bahan baku obat di Indonesia.
Ada tiga stake holder utama yang memiliki peran sentral dalam
pengembangan dan penyedian bahan baku obat. Pertama Industri Farmasi
yang memiliki tanggung jawab dalam hal pengembangan bahan baku obat
dalam negeri. Kedua peneliti dan akademisi yang memiliki kapasitas untuk
pengembangan bahan baku obat. Ketiga adalah pemerintah yang harus
memiliki political will untuk melaksanakan peningkatan kemandirian bahan
baku obat ini. Pemerintah harus memberikan insentif dan membuat kebijakan
yang kondusif bagi industri untuk mengembangkan bahan baku obat, serta
menciptakan berbagai skema pendanaan penelitian untuk mendorong
kolaborasi riset antara peneliti dan industri. Pada saat ini ada beberapa
pendapat untuk memasukan lembaga pembiayaan keuangan seperti bank,
koperasi dan lain lain sebagai salah satustake holder penting dalam
pengembangan industri bahan baku obat.
Kemandirian bahan baku obat perlu diupayakan dalam rangka
mendukung pembangunan kesehatan nasional. Kegiatan pengembangan bahan
baku obat merupakan kegiatan prioritas yang tercantum dalam RPJMN
Pembangunan Kesehatan 2010-2014 dan akan difokuskan pada upaya untuk
mewujudkan kemandirian Industri Farmasi dalam memproduksi bahan baku
obat baik bahan baku aktif maupun pembantu (eksipien) dengan semaksimal
mungkin menggunakan bahan baku lokal.
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 juga telah
mencantumkan penyediaan bahan baku obat dalam arah, kebijakan dan
strateginya dengan fokus untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor
dalam produksi obat. Dalam Kepmenkes No. 267/Menkes/SK/II/2010 tentang
Penetapan Roadmap Reformasi Kesehatan 2010-2014 dalam Reformasi
KeFarmasian dan Alat Kesehatan pada butir (d) telah dicantumkan perlunya
upaya kemandirian di bidang bahan baku obat dan obat tradisional Indonesia
melalui pemanfaatan keanekaragaman hayati.
H. Keagenan Distribusi

Gambar 1.8 pengaturan mata rantai distribusi obat lewat bagan


Pabrikan obat biasanya menunjuk distributor nasional untuk
menjangkau Apotek dan Rumah Sakit. 10 20 tahun yang lalu para pabrikan
yang seringkali disebut sebagai Principal cenderung menetapkan distributor
tunggal. Berbeda dengan produk konsumer yang sudah mengarah pada multi-
distributor. Penunjukkan distributor tunggal ditengarai karena principal
menginginkan bentuk kerjasama yang sederhana dan tidak perlu mengurus
beberapa distributor. Disamping itu, jumlah titik distribusi yang harus
dijangkau oleh distributor masih sedikit dibandingkan produk-produk
konsumer.
Distributor nasional disamping menjual langsung ke retailer, ternyata
juga masih membutuhkan Pedagang Besar Farmasi (PBF) lokal dengan daya
jangkau yang lebih terbatas. Kebutuhan akan PBF lokal ini lantaran daya
jangkau yang terbatas misal adanya kebutuhan untuk menjangkau daerah-
daerah tertentu dimana Distributor Nasional ini belum memiliki cabang /
kantor perwakilan. Namun keberadaan PBF lokal ini ternyata juga memiliki
peran lain dalam upaya menyalurkan produk ke Grey Market yang
disebutkan tadi. Mereka ini biasanya jarang tersentuh oleh BPOM ketimbang
para distributor nasional yang pengawasannya lebih ketat. Disamping Grey
Market, PBF lokal ini akhirnya juga memakan titik distribusi dari distribusi
nasional. Akibatnya di tingkat retailer seperti Apotek jamak ditemui bahwa
obat yang sama bisa diperoleh lebih dari satu distributor. Bahkan harga yang
diperoleh dari PBF lokal ini seringkali lebih murah. Wajar saja, karena
distributor nasional biasanya memberikan diskon yang tinggi kepada PBF
lokal. Sungguh merupakan area yang sulit untuk dikendalikan.

I. Inventory Planning
Pada akhirnya ini merupakan bagian yang sering menjadi Korban
dari fleksibilitas demand produk Farmasi. Walau secara teori beberapa produk
bisa diprediksi jumlah permintaannya, namun karena terdapat aktivitas
promosi dari Principal mengakibatkan pembelian suatu produk menjadi
seasonal dan fluktuatif.
Faktor produk obat komoditi juga sangat besar, yang seringkali
mengakibatkan terjadinya penumpukan penjualan di akhir bulan. Resource
yang sangat besar terfokus pada hari-hari terakhir untuk closing penjualan,
mulai dari sisi sales hingga bagian gudang yang menyiapkan barang.

J. Memendekkan Rantai Pasokan


Dalam konteks Industri Farmasi, proses sepanjang rantai pasokan
bersifat sangat dinamis. Oleh karenanya, kontrol terhadap seluruh saluran
rantai pasokan tersebut menjadi jauh lebih sulit disbanding industri
manufaktur lainnya (Kiely, 2004). Semakin panjang dan dinamis rantai
pasokan tersebut, maka aktivitas forecasting dan demand planning menjadi
sangat penting. Panjangnya rantai pasokan Industri Farmasi di Indonesia
digambarkan secara tepat oleh Carin Isabel Knoop (1998) sebagaimana dalam
Gambar 2. Mustamu (2000) mengungkap bahwa pada potongan rantai
distribusi, PBF berpotensi menarik margin sebesar 16 prosen, sub distributor
dan wholesaler masing-masing antara 15 prosen hingga 16 prosen dan peritel
bergerak antara 20 prosen hingga 35 prosen. Tentu, panjangnya rantai
pasokan ini sangat membebani konsumen dengan tingginya harga jual produk
Farmasi. Upaya untuk menjadikan rantai pasokan pada sebuah industri
menjadi lebih efektif selalu menjadi kajian para peneliti MRP. Cigolini,
Cozzi, Perona (2004) berusaha untuk menghadirkan strategi MRP yang lebih
membumi melalui penyusunan Demand-Supply Matrix (DSM) yang
memungkinkan untuk tidak hanya mengukur kinerja operasi rantai pasokan,
tetapi juga pengukuran dari sisi akuntasi biayanya. Dalam upaya memudahkan
pengenalan rantai pasokan dalam sebuah industri, Harland, Lamming, Zheng
dan Johnsen (2001) berusaha menyusun taksonomi jaringan pasokan yang
membagi jenis jaringan pasokan ke dalam empat klasifikasi ber dasarkan
derajat dinamika jaringan pasokan dan derajat pengaruh perusahaan utama
dalam jaringan pasokan.
Mata rantai pasokan yang terlalu panjang menyebabkan banyak
kerugian. Waktu perlaluan (throughput time) yang semakin panjang,
menyebabkan berkurangnya peluang produk untuk lebih cepat diserap
konsumen. Pada sisi lain, lambatnya proses penyerapan produk oleh
konsumen memunculkan risiko kerusakan produk (waste) akibat keterbatasan
waktu daluwarsa (expiry date). Mustamu (2000) mengungkap bahwa Industri
Farmasi di Indonesia membutuhkan 120 hari untuk satu kali waktu perlaluan.
Dari waktu tersebut, 60 hari untuk produksi dan 60 hari untuk transportasi.
Tentu hal ini membawa risiko bahwa setiap pergeseran factor penetapan harga
di antara tenggang waktu 120 hari tersebut akan sulit diakomodasi oleh para
pelaku bisnis. Dapat dikatakan, harga produk Farmasi (obat) pada hari ini
sesungguhnya telah ditentukan 120 hari yang lalu. Tingginya prosentase
bahan baku impor (lebih dari 90 prosen) dalam Industri Farmasi di Indonesia
menyebabkan industri ini sangat rentan terhadap setiap pergeseran nilai tukar
Rupiah terhadap valuta asing, terutama Dolar Amerika Serikat (USD). Faktor
kerugian kedua akibat panjangnya mata rantai pasokan adalah munculnya
kerusakan barang akibat kesalahan penanganan (mishandling), baik dalam
bentuk kerusakan akibat proses perpindahan antar sarana transportasi dan
antargudang, maupun akibat kesalahan proses pengelolaan ruang
penyimpanan (gudang). Tidak jarang, proses pengkerutan (shringkage) ini
juga diperparah oleh rawannya jalur transportasi/distribusi akibat kejahatan
(pencurian) jalan raya. Mencermati fenomena tersebut di atas, tidak banyak
yang dapat dilakukan, kecuali meningkatkan upaya untuk memendekkan
rantai pasokan. Dalam konteks inilah pendekatan MRP menjadi sangat
penting. Dalam konteks di Indonesia, MRP diharapkan sanggup menurunkan
waktu perlaluan dari 120 hari (Gambar 3) menjadi lebih pendek. Jika
memungkinkan, penghapusan salah satu mata rantai pasokan (sub-distributor)
akan sangat bermanfaat, karena sanggup menurunkan biaya setidaknya 15
prosen hingga 16 prosen. Breen dan Crawford (2005) melihat bahwa
pemanfaatan teknologi informasi memberikan warna sangat positif bagi
pengelolaan MRP. Efisiensi yang ditumbuhkan oleh kinerja teknologi
informasi memungkinkan pengelolaan berdasarkan real time data. Proses
Electronic Data Interchange (EDI) memberi peluang pengelolaan MRP
hingga outlet terkecil melalui pemanfaatan internet (e-commerce). Dalam
konteks di Indonesia, temuan Breen dan Crawford ini tentu berpeluang untuk
memendekkan panjangnya rantai pasokan Industri Farmasi. Konsep ini
sesungguhnya tidak hanya menghemat waktu, namun juga secara signifikan
menghemat biaya akibat meningkatnya kecepatan dan akurasi serta
menurunnya jumlah aktivitas kerja yang dibutuhkan. Hal ini searah dengan
Richard Pibernik (2006) yang mengungkap bahwa sistem persediaan (stock
systems) dapat didesain dengan lebih efisien. Keamanannya pun dapat
dikelola melalui pengintegrasian demand dan supply (Talluri, Cetin dan
Gardner, 2004). Bahkan pemanfaatan teknologi informasi untuk penguatan
proses bisnis dapat diarahkan pula pada pengalokasian perhatian yang lebih
banyak untuk mengenali konsumen dan memberikan layanan terbaik yang
dibutuhkan. Pendekatan seperti ini akan memberikan peluang cukup besar
bagi upaya menjaga dan memelihara pelanggan (Schofield dan Breen, 2006).
Dalam konteks Industri Farmasi, pemanfaatan EDI memungkinkan
perusahaan untuk memberikan layanan seakan-akan personal, karena proses
data elektronik yang memungkinkan hadirnya proses bersifat taylor-made.
Gambar 1.9. Rantai Pasokan Industri Farmasi Di Indonesia

Gambar 1.10. Alur Rantai Pasokan Industri Farmasi Indonesia

Indonesia adalah pasar yang besar bagi Industri Farmasi. Ada


beberapa faktor yang menjadi driver pertumbuhan Industri Farmasi nasional
yaitu jumlah penduduk Indonesia yang besar; kesadaran masyarakat yang
semakin tinggi akan kesehatan; tingkat perekonomian masyarakat yang terus
meningkat; dan akses kesehatan yang meningkat seiring implementasi BPJS
Kesehatan. Sebagai tambahan, rasio healthcare expenditure terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini masih relatif rendah (3,1%)
sehingga potensi peningkatan masih cukup besar. Healthcare expenditure per
kapita Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 14% per tahun, dari
USD108 pada 2012 menjadi USD237 pada 2018. Dibandingkan dengan
negara-negara ASEAN lain, rasio healthcare expenditure terhadap PDB
maupun healthcare expenditure per kapita per tahun di Indonesia saat ini
termasuk rendah. Pasar Farmasi nasional tumbuh rata-rata 12% per tahun
(CAGR) pada periode 2010-2014. Besar pasar Farmasi nasional pada tahun
2015 sekitar Rp62-65 triliun, dan akan meningkat menjadi Rp69 trilyun pada
tahun 2016. Pada 1H15, obat resep (ethical) mendominasi sekitar 61% pasar
Farmasi nasional dan sisanya adalah obat bebas (over the counter/OTC).
Sebagai tambahan, obat resep dibedakan menjadi obat patent, generik bermerk
(branded generic) dan generik berlogo (OGB).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah :
1.

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA