Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kondisi Paliatif

Pasien dengan kondisi paliatif yaitu pasien dengan penyakit yang belum dapat

disembuhkan baik pada dewasa dan anak seperti penyakit kanker, penyakit degeneratif, penyakit

paru obstruktif kronis, cystic fibrosis, stroke, parkinson, gagal jantung, penyakit genetika dan

penyakit infeksi seperti HIV/AIDS yang memerlukan perawatan paliatif, disamping kegiatan

promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis

tidak hanya mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan berat badan,

gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan spiritual yang

mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Maka kebutuhan pasien pada stadium

lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan atau pengobatan gejala fisik, namun juga

pentingnya dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual yang dilakukan melalui

perawatan paliatif.

2.1.1 Perawatan Paliatif

Pasien paliatif mengalami masalah pada fisik, psikologis, sosial dan spiritual, sehingga

membutuhkan penanganan yang dapat dilakukan dengan pendekatan interdisiplin yang dikenal

sebagai perawatan paliatif (Doyle & Macdonald, 2003). Perawatan paliatif berupa pendekatan

yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang

berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan

melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah

lain, fisik, psikososial dan spiritual (KEPMENKES RI Nomor 812 Tahun 2007). Pelayanan
perawatan paliatif bersifat holistik dan terintegrasi dengan melibatkan berbagai profesi dengan

dasar falsafah bahwa setiap pasien berhak mendapatkan perawatan terbaik sampai akhir hayatnya

(Doyle & Macdonald, 2003). Lingkup perawatan paliatif menurut KEPMENKES RI Nomor 812

Tahun 2007 yaitu penatalaksanaan nyeri, penatalaksanaan keluhan fisik lain, asuhan

keperawatan, dukungan psikologis, dukungan sosial, dukungan kultural dan spiritual, serta

dukungan persiapan dan selama masa dukacita. Sementara itu, menurut Kozier, Barbara et al

(2010) perawatan paliatif yang dapat dilakukan mencakup beberapa hal sebagai berikut:

a. Memenuhi kebutuhan fisiologi klien

Kebutuhan fisiologis klien yang menjelang ajal berkaitan dengan perlambatan proses

tubuh dan ketidakseimbangan homeostatik. Intervensi terdiri atas tindakan kebersihan diri,

pengendalian nyeri, meredakan kesulitan pernapasan, membantu pergerakan, nutrisi, hidrasi, dan

eliminasi, serta memberikan tindakan yang terkait dengan perubahan sensori.

b. Menyediakan dukungan spiritual

Dukungan spiritual memiliki makna penting dalam menghadapi kematian. Walaupun

tidak semua klien menganut keyakinan atau kepercayaan agama tertentu, sebagian besar

memiliki kebutuhan untuk memaknai kehidupan mereka, terutama saat mereka mengalami

penyakit terminal. Intervensi spesifik dapat mencakup memfasilitasi ekspresi perasaan, berdoa,

meditasi, membaca, dan berdiskusi dengan rohaniawan yang tepat atau penasihat spiritual. Klien

yang mengalami kecacatan, gangguan kesehatan seperti penyakit terminal dilaporkan mencari

dan menerima pertolongan Tuhan. Dukungan sosial keagamaan selama hidup dan kehadiran

keagamaan saat ini berkorelasi secara positif (Hays, et al., 2005).

c. Mendukung keluarga
Aspek terpenting dalam menyediakan dukungan untuk anggota keluarga dari klien yang

menjelang ajal melibatkan penggunaan komunikasi terapeutik untuk memfasilitasi ekspresi

perasaan mereka. Anggota keluarga harus didorong untuk berpartisipasi dalam perawatan fisik

orang yang menjelang ajal sebanyak yang mereka inginkan dan yang mereka mampu lakukan.

Perawat dapat menyarankan mereka membantu saat memandikan, berbicara atau membacakan

cerita bagi klien, dan memegang tangan klien. Namun perawat tidak boleh memiliki harapan

spesifik untuk partisipasi anggota keluarga. Anggota keluarga yang merasa tidak mampu berada

bersama dengan orang yang menjelang ajal juga memerlukan dukungan dari perawat dan

anggota keluarga lain. Mereka harus ditunjukkan tempat menunggu yang tepat jika mereka

berharap untuk tetap dekat dengan klien. Setelah klien meninggal, keluarga harus didorong untuk

melihat jenazah, karena ini telah terbukti memfasilitasi proses berduka.

d. Perawatan pascamortem

Personel keperawatan mungkin bertanggung jawab untuk perawatan tubuh klien setelah

kematian. Perawatan pascamortem harus dilakukan sesuai dengan kebijakan rumah sakit atau

lembaga. Karena perawatan tubuh dapat dipengaruhi oleh hukum agama, perawat harus

mengkaji agama klien dan berupaya keras untuk mengikuti hukum agamanya dalam perawatan

tubuh. Apabila keluarga atau teman klien yang telah meninggal berharap untuk melihat jenazah,

sangat penting untuk membuat lingkungan terlihat bersih dan menyenangkan serta membuat

jenazah tampak alami dan nyaman. Semua perlengkapan, sprei kotor, dan peralatan harus

disingkirkan dari sisi tempat tidur.

Perawatan paliatif tidak hanya dilakukan oleh tenaga medis di rumah sakit, namun juga

dilakukan oleh keluarga pasien. Dalam KEPMENKES RI Nomor 812 Tahun 2007, ada yang

dinamakan palliative home care, yaitu perawatan paliatif yang dilakukan di rumah pasien, oleh
tenaga paliatif dan atau keluarga pasien atas bimbingan atau pengawasan tenaga paliatif. Dengan

demikian, perawatan paliatif tidak hanya berfokus di rumah sakit, tetapi juga perawatan di

rumah, sehingga membutuhkan keterlibatan keluarga yang berupa dukungan keluarga.

2.2 Konsep Keluarga

2.2.1 Pengertian Keluarga

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena

adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang

lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya

(Bailon & Maglaya, 1978 dalam Friedman, 2010). Keluarga adalah sekumpulan orang dengan

ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan

budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota

keluarga. Secara dinamis individu yang membentuk sebuah keluarga dapat digambarkan sebagai

anggota dari kelompok masyarakat yang paling dasar, tinggal bersama dan berinteraksi untuk

memenuhi kebutuhan antar individu (Duvall & Logan, 1986 dalam Friedman, 2010).

Satu keluarga yang sehat akan menghasilkan individu dengan berbagai keterampilan yang

akan membimbing individu berfungsi dengan baik di lingkungan mereka, termasuk lingkungan

kerja meskipun individu tersebut berasal dari berbagai kultur yang berbeda. Keterampilan

tersebut akan dipelajari melalui berbagai aktifitas/kegiatan yang dihubungkan dengan kehidupan

keluarga tempat individu berasal (Varcarolis, 2000).

2.2.2 Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga secara umum didefinisikan sebagai hasil akhir atau akibat dari struktur

keluarga. Sedangkan fungsi dasar keluarga adalah untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga

dan masyarakat yang lebih luas. Tujuan terpenting yang perlu dipenuhi keluarga adalah
menghasilkan anggota baru dan melatih individu tersebut menjadi bagian dari anggota

masyarakat (Kingsburg & Scanzoni, 1993 dalam Friedman, 2010).

Adapun dalam Friedman (2010) fungsi keluarga meliputi:

1. Fungsi afektif, kebahagiaan keluarga diukur oleh kekuatan cinta keluarga. Keluarga harus

memenuhi kebutuhan kasih sayang anggota keluarganya karena respon kasih sayang satu

anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya memberikan dasar penghargaan terhadap

kehidupan keluarga.

2. Fungsi sosialisasi, sosialisasi anggota keluarga adalah fungsi yang universal dan lintas

budaya yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup masyarakat. Sosialisasi merujuk pada

banyaknya pengalaman belajar yang diberikan dalam keluarga yang ditujukan untuk mendidik

anggota keluarga untuk beradaptasi sehingga dapat diterima oleh masyarakat.

3. Fungsi reproduksi, salah satu fungsi dasar keluarga adalah untuk menjamin kontinuitas

antar generasi keluarga dan masyarakat, yaitu menyediakan anggota baru untuk masyarakat.

4. Fungsi ekonomi, melibatkan penyediaan keluarga akan sumber daya yang cukup, ruang,

dan materi serta alkasinya yang sesuai melalui proses pengambilan keputusan. Yang termasuk ke

dalam fungsi ekonomi yaitu mencari sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,

menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa yang akan datang.

5. Fungsi perawatan kesehatan, fungsi peningkatan status kesehatan keluarga dengan

penyediaan makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan dan perlindungan terhadap

munculnya bahaya. Pelayanan dan praktik kesehatan adalah fungsi keluarga yang paling relevan

bagi perawat keluarga (caregivers).


2.2.3 Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan

Menurut Friedman (1981, dalam Setiadi, 2008), tugas keluarga dalam bidang kesehatan

terbagi menjadi 5 yaitu sebagai berikut:

1. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya

2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga

3. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya

sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda.

4. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan

kepribadian anggota keluarga

5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan

(pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).

2.3 Konsep Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga pada umumnya merupakan turunan dari dukungan sosial. Dukungan

sosial menurut Cobb (1967), Gentry dan Kobasa (1984) adalah pemberian hiburan, perhatian,

penghargaan atau bantuan dari seseorang kepada orang lain atau kelompok. Sarafino (1990)

mengatakan bahwa kebutuhan, kemampuan, dan sumber dukungan mengalami perubahan

sepanjang kehidupan seseorang. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal oleh

individu dalam proses sosialisasinya. Dukungan keluarga merupakan bantuan yang dapat

diberikan kepada keluarga lain berupa barang, jasa, informasi dan nasehat, yang membuat

penerima dukungan akan merasa disayang, dihargai dan tenteram (Taylor, 1995).

Dukungan keluarga merupakan proses yang terjadi sepanjang masa kehidupan, sifat dan

jenis dukungan berbeda-beda dalam berbagai tahap siklus kehidupan (Friedman, 2010).

Dukungan keluarga terbagi menjadi empat jenis yaitu dukungan emosional, dukungan informasi,
dukungan instrumental dan dukungan penilaian (Friedman, 2010). House dan Kahn (1985)

dalam Friedman (2010), menerangkan bahwa keluarga memiliki empat fungsi dukungan,

diantaranya:

1. Dukungan Emosional, yaitu keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk

istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Aspek-aspek dari

dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya

kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan didengarkan. Fungsi afektif merupakan fungsi

internal keluarga dalam memenuhi kebutuhan psikososial anggota keluarga dengan saling

mengasuh, cinta kasih, kehangatan, dan saling mendukung dan menghargai antar anggota

keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 1998). Dengan demikian, seseorang yang

menghadapi persoalan merasa dirinya tidak menanggung beban sendiri tetapi masih ada

orang lain yang memperhatikan, mau mendengar segala keluhannya, bersimpati dan

empati terhadap persoalan yang dihadapinya, bahkan mau membantu memecahkan

masalah yang dihadapinya (Setiadi, 2008).

2. Dukungan informasi, yaitu keluarga berfungsi sebagai kolektor (pengumpul) dan

penyebar informasi (diseminator). Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat,

usulan, saran, petunjuk dan pemberian informasi. Dukungan informasi merupakan suatu

bantuan informasi yang disediakan agar dapat digunakan oleh seseorang dalam

menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi. Bagi pasien paliatif, dukungan

informasi ini diberikan untuk memotivasi pasien dalam menghadapi penyakitnya,

membantu pasien untuk menerima kondisi kesehatannya dengan baik, sehingga tidak

timbul rasa putus asa pada diri pasien.


3. Dukungan instrumental, yaitu keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis

dan kongkrit diantaranya kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum,

istirahat dan terhindarnya penderita dari kelelahan. Dukungan instrumental keluarga

merupakan suatu dukungan atau bantuan penuh dari keluarga dalam bentuk memberikan

bantuan tenaga, dana, maupun meluangkan waktu untuk membantu atau melayani dan

mendengarkan pasien menyampaikan perasaannya. Fungsi ekonomi keluarga merupakan

fungsi keluarga dalam memenuhi semua kebutuhan anggota keluarga termasuk kebutuhan

kesehatan anggota keluarga, sedangkan fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan

fungsi keluarga dalam mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga diantaranya

adalah merawat anggota keluarga paliatif dan membawa anggota keluarga ke pelayanan

kesehatan untuk memeriksakan kesehatannya (Friedman, Bowden, & Jones, 1998).

4. Dukungan penilaian, yaitu keluarga bertindak sebagai pemberi umpan balik,

membimbing dan menengahi pemecahan masalah, memberikan support, penghargaan dan

perhatian. Dukungan penilaian bagi pasien paliatif akan membantu pasien merasa bahwa

dirinya masih dihargai, kemampuannya sekecil apapun masih bermanfaat bagi dirinya

dan orang lain, sehingga pasien paliatif tidak merasa bahwa hidupnya sudah tidak berarti

lagi.

Dukungan keluarga menjadi lebih efektif karena keluarga merupakan orang-orang paling

dekat dengan pasien yang mampu memberikan perawatan berkelanjutan (Kaakinen, Gedaly-

Duff, Coehlo, & Hanson, 2010). Dukungan sosial sangat luas diterima bahwa orang yang berada

dalam lingkungan sosial yang suportif umumnya memiliki kondisi lebih baik dibandingkan

orang yang tidak mendapatkan dukungan (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Hal ini sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Osamor dan Owumi (2011) bahwa orang yang diberikan
dukungan keluarga memiliki kepatuhan pengobatan lebih baik dibandingkan dengan yang tidak

mendapatkan dukungan keluarga. Menurut Asri (2006), individu yang mendapatkan dukungan

keluarga terlihat lebih tahan terhadap pengaruh psikologis dari stressor lingkungan daripada

individu yang tidak mendapatkan dukungan keluarga. Hasil penelitian Anna Milberg et al (2014)

menunjukkan bahwa pasien yang jarang merasakan dukungan keluarga lebih sering mengalami

stres, khawatir tentang ekonomi pribadi mereka, self-efficacy lebih rendah, rasa aman yang lebih

rendah terhadap pemberian perawatan paliatif, dan lebih sering merasa cemas. Adanya dukungan

keluarga akan berdampak pada peningkatan rasa percaya diri pada penderita dalam menghadapi

proses pengobatan penyakitnya (Pradjatmo 2000; Gakidau et al. 2008).

Hasil penelitian Daren K. Heyland et al (2006) menunjukkan bahwa dari 434 pasien

paliatif, 202 pasien merasa penting (very important) dan 146 pasien merasa sangat penting

(extremely important) untuk mendapatkan kesempatan memperkuat atau mempertahankan

hubungan dengan orang-orang yang penting untuk mereka; 256 pasien merasa penting (very

important) dan 139 pasien merasa sangat penting (extremely imprtant) untuk menerima

informasi yang adekuat mengenai penyakit mereka termasuk resiko dan manfaat pengobatan

yang mereka jalani; 150 pasien merasa penting (very important) dan 98 pasien merasa sangat

penting (extremely important) untuk memiliki kesempatan berdiskusi tentang ketakutan mereka

akan kematian; 217 pasien merasa penting (very important) dan 102 pasien merasa sangat

penting (extremely important) untuk memiliki seseorang yang mendengarkan dan bersama

mereka disaat mereka merasa sedih, cemas dan ketakutan.

Dengan demikian dukungan keluarga terhadap klien paliatif sangat penting dilakukan

dalam upaya peningkatan status kesehatan klien. Banyak faktor yang mempengaruhi dukungan
keluarga terhadap anggota keluarganya yang sakit. Menurut Setiadi (2008), faktor yang

mempengaruhi dukungan keluarga terdiri dari faktor internal dan eksternal sebagai berikut:

1. Faktor internal

a. Tahap perkembangan, yaitu dukungan ditentukan oleh faktor usia. Setiap rentang usia

memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda.

b. Pendidikan atau tingkat pengetahuan. Latar belakang pendidikan dan pengetahuan

seseorang membentuk keyakinan seseorang dalam memberikan dukungan. Kemampuan

kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang dalam memahami faktor-faktor yang

berhubungan dengan kesehatan dirinya dan orang lain. Latar belakang pendidikan tinggi

akan membuat individu memiliki banyak pengetahuan sehingga lebih mandiri mencari

informasi terkait penyakit yang dimilikinya tanpa adanya dukungan dari orang-orang di

sekitar termasuk keluarga (Damayanti, Nursiswati, & Kurniawan, 2014).

c. Faktor emosi, mempengaruhi keyakinan terhadap adanya dukungan dan cara

melaksanakannya. Seseorang yang tidak dapat mengendalikan emosinya akan selalu

beranggapan buruk terhadap setiap perubahan kondisi kesehatan yang dialami dirinya dan

keluarganya, sehingga mempengaruhi koping yang digunakan dalam menangani masalah

kesehatannya. Sebaliknya, seseorang yang dapat mengendalikan emosinya dengan baik

akan mengatasi permasalahan kesehatan dirinya dan keluarganya dengan baik.

d. Spiritual. Aspek spiritual terlihat dari bagaimana seseorang mengalami kehidupannya,

mencakup nilai dan keyakinan yang dijalaninya, hubungan dengan keluarga dan teman,

serta kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidup.

2. Faktor eksternal
a. Praktik di keluarga, yaitu cara bagaimana keluarga memberi dukungan. Biasanya cara

yang digunakan keluarga, akan mempengaruhi pasien dalam menghadapi kondisi

kesehatannya.

b. Faktor sosial ekonomi, mempengaruhi cara keluarga dalam membantu atau memberikan

pelayanan kepada pasien, seperti membantu pasien untuk menerima pengobatan dan

menjalani perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Menurut Sarafino

dalam Damayanti (2014), salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pemberian

dukungan yaitu potensi penyedia dukungan, salah satunya yaitu kemampuan ekonomi.

Hasil penelitian Damayanti (2014) menunjukkan bahwa keluarga dengan penghasilan

lebih tinggi memberikan dukungan instrumental yang lebih tinggi dibandingkan dengan

keluarga yang berpenghasilan menengah kebawah.

c. Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan individu dalam

memberikan dukungan, termasuk cara pelaksanaan kesehatan dirinya dan keluarganya.


Rangkuman yg penelitian

Dukungan keluarga merupakan bagian dari dukungan sosial. Dukungan keluarga menjadi

lebih efektif karena keluarga merupakan orang-orang paling dekat dengan pasien yang mampu

memberikan perawatan berkelanjutan (Kaakinen, Gedaly-Duff, Coehlo, & Hanson, 2010).

Hasil penelitian Daren K. Heyland et al (2006), Anna Milberg et al (2014), dan Asri

(2006), menunjukkan bahwa pasien paliatif membutuhkan dukungan dari orang-orang

terdekatnya, dan pasien yang tidak mendapatkan dukungan keluarga cenderung mudah

terpengaruh oleh stressor di lingkungan sekitarnya dibandingkan dengan pasien yang

mendapatkan dukungan keluarga. Adanya dukungan keluarga akan berdampak pada peningkatan

rasa percaya diri pada penderita dalam menghadapi proses pengobatan penyakitnya (Pradjatmo

2000; Gakidau et al. 2008).

Keluarga inti terdiri dari suami atau istri dan anak, sehingga dukungan keluarga yang

diberikan menjadi lebih efektif karena suami atau istri dan anak merupakan orang yang paling

dekat dengan pasien baik secara emosional maupun kedekatan dalam rumah (Kaakinen, 2010).

Hasil penelitian Anna Milberg et al (2014) menunjukkan bahwa pasien yang jarang

merasakan dukungan keluarga lebih sering mengalami stres, khawatir tentang ekonomi pribadi

mereka, self-efficacy lebih rendah, rasa aman yang lebih rendah terhadap pemberian perawatan

paliatif, dan lebih sering merasa cemas. Hasil penelitian Daren K. Heyland et al (2006)

menunjukkan bahwa dari 434 pasien paliatif, 202 pasien merasa penting (very important) dan

146 pasien merasa sangat penting (extremely important) untuk mendapatkan kesempatan

memperkuat atau mempertahankan hubungan dengan orang-orang yang penting untuk mereka;

256 pasien merasa penting (very important) dan 139 pasien merasa sangat penting (extremely

important) untuk menerima informasi yang adekuat mengenai penyakit mereka termasuk resiko
dan manfaat pengobatan yang mereka jalani; 150 pasien merasa penting (very important) dan 98

pasien merasa sangat penting (extremely important) untuk memiliki kesempatan berdiskusi

tentang ketakutan mereka akan kematian; 217 pasien merasa penting (very important) dan 102

pasien merasa sangat penting (extremely important) untuk memiliki seseorang yang

mendengarkan dan bersama mereka disaat mereka merasa sedih, cemas dan ketakutan. Dari hasil

penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien paliatif membutuhkan dukungan dari orang-

orang terdekatnya, dan pasien yang tidak mendapatkan dukungan keluarga cenderung mudah

terpengaruh oleh stressor di lingkungan sekitarnya dibandingkan dengan pasien yang

mendapatkan dukungan keluarga.

Asri, P., Marthan, W, M. S., & Purwanta. (2006). Hubungan Dukungan Sosial dengan Tingkat
Depresi Pasien yang Menjalani Terapi Hemodialisis. JIK Volume 01/No. 02/Mei/2006 .

Carpenito, L. J. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.

Damayanti, S., Nursiswati, & Kurniawan, T. (2014). Dukungan Keluarga pada Pasien Diabetes
Melitus Tipe 2 dalam Menjalankan Self-Management Diabetes. Volume 2 Nomor 1 April
.
Doyle, H., & Macdonald. (2003). Oxford Textbook of Palliative Medicine. Oxford Medical
Publications.

Friedman, M. M. (2010). Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktik. Jakarta: EGC.

Friedman, M. M., Bowden, O., & Jones, M. (1998). Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktik.
Jakarta: EGC.

Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones. (2003). Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset,
Teori dan Praktis. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. (2003). Buku Ajar Keperawatan Keluarga
Riset, Teori dan Praktik. Jakarta: EGC.

Gakidau, E., Nordagen, S., & Obermeyer, Z. (2008). Coverege of Cervical Cancer Screening in
57 Countries: Low Average Level and Large Inequalities. Plos Med 5 (6) .

Heyland, D. K., Dodek, P., Rocker, G., Groll, D., Gafni, A., Pichora, D., et al. (2006). What
matters most in end-of-life care: perceptions of seriously ill patients and their family
members. CMAJ 2006;174(5) .

Huang, X., Yang, H., Wang, H. H., Qiu, Y., Lai, X., Zhou, Z., et al. (2015). The Association
Between Physical Activity, Mental Status,Social and Family Support with Five Major
Non-Communicable Chronic Disease among Elderly People : a Cross-Sectional Study of
a Rural Population in Southern China. International Journal of Environment Research
and Public Health .

Kaakinen, J. R., Gedaly-Duff, V., Coehlo, D. P., & Hanson, S. M. (2010). Family Health Care
Nursing (Theory, Practice and Research). Philadelphia: Davis Company.

Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S. J. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC.

Lyon, E. Maureen, et al. (2013). Family-Centered Advance Care Planning for Teens With
Cancer. JAMA Pediatr. 2013;167(5): 460-467.

Milberg, A., Wahlberg, R., & Krevers, B. (2014). Patients sense of support within the family in
the palliative care context: what are the influencing factors? Psycho-Oncology DOI:
10.1002/pon.3564 .

Osamor, P. E. (2015). Social Support and Management of Hypertension in South-West Nigeria.


Cardiovascular Journal of Africa , 29-33.
Osamor, P. E., & Owumi, B. E. (2011). Factors Associated with Treatment Compliance in
Hyppertension in Southwest Nigeria. Journal of Health, Population, and Nutrition .

Pradjatmo, H. (2000). Pengaruh Derajat dan Jenis Histopatologik Karsinoma Serviks Uteri
terhadap Kemampuan Hidup Penderita. Berita Berkala Ilmu Kedokteran , 32 (2): 111-
118.

Sarafino, E. P. (1990). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. Canada: John Willey


and Sons, Inc.

Setiadi. (2008). Konsep & Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Stillwell, S. B. (2011). Pedoman Keperawatan Kritis. Jakarta: EGC.

Sudiharto, E. P. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Transkultural.


Jakarta: EGC.

Taylor, S. E. (1995). Health Psychology. Los Angeles: University of California.

Varcarolis, E. M. (2000). Psychiatric nursing clinical guide: assessment tools and diagnosis.
Philadelphia: W.B. Saunders Company.

Yuan, S.-C., Weng, S.-C., Chou, M.-C., Tang, Y.-J., Lee, S.-H., Chan, D.-Y., et al. (2012). How
Family Support Effects Physical Activity (PA) among Moddle-aged and Elderly People
Before and After they Suffer from Chronic Disease. Journal of Gerontology and
Geriatrics , 274-277.