Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori


II.1.1 Pengertian absorpsi
Absorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran gas dengan cara
pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan pelarutan.
Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-gaya fisik (pada absorpsi
fisik) atau selain gaya tersebut juga oleh ikatan kimia (pada absorpsi kimia). Komponen gas
yang dapat mengadakan ikatan kimia akan dilarutkan lebih dahulu dan juga dengan
kecepatan yang lebih tinggi (Redjeki, 2012).
Dalam proses absorpsi, zat yang diserap masuk ke bagian dalam zat penyerap.
Misalnya peristiwa pelarutan (gas ke dalam zat cair atau zat padat), difusi (zat cair ke dalam
zat padat), warna yang diserap oleh suatu benda (warna absorpsi), penyerapan sinar bias oleh
suatu zat pada peristiwa bias kembar (absorpsi selektif) dan penyerapan energi oleh elektron
di dalam satuan atom (spectrum absorpsi). Sedangkan pengertian absorpsimetri adalah
metode analisis untuk menentukan komposisi suatu zat dengan mengukur cahaya yang
diserap bahan itu. Misalnya, dengan mengetahui frekuensi warna cahaya yang diserap, dapat
ditentukan jenis zat penyerap (Taylor, 2013).
Difusi adalah proses pergerakan zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.
Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan
terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan
kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan
konsentrasi (Isyafie, 2011).
Menurut Taylor (2013), absorpsi merupakan salah satu proses pemisahan dengan
mengontakkan campuran gas dengan cairan sebagai penyerapnya. Penyerap tertentu akan
menyerap setiap satu atau lebih komponen gas. Pada absorpsi sendiri ada dua macam proses
yaitu :
a. Absorpsi fisik
Absorpsi fisik merupakan absorpsi dimana gas terlarut dalam cairan penyerap
tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh absorpsi ini adalah absorpsi gas H2S
dengan air, metanol, propilen, dan karbonat. Penyerapan terjadi karena adanya

II-1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

interaksi fisik, difusi gas ke dalam air, atau pelarutan gas ke fase cair. Dari asborbsi
fisik ini ada beberapa teori untuk menyatakan model mekanismenya, yaitu :
1. Teori model film
2. Teori penetrasi
3. Teori permukaan yang diperbaharui
b. Absorpsi kimia
Absorpsi kimia merupakan absorpsi dimana gas terlarut didalam larutan penyerap
disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorpsi ini adalah absorpsi dengan
adanya larutan MEA, NaOH, K2CO3, dan sebagainya. Aplkasi dari absorpsi kimia
dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO2 pada pabrik amoniak.
Penggunaan absorpsi kimia pada fase kering sering digunakan untuk
mengeluarkan zat terlarut secara lebih sempurna dari campuran gasnya.
Keuntungan absorpsi kimia adalah meningkatnya koefisien perpindahan massa
gas, sebagian dari perubahan ini disebabkan makin besarnya luas efektif
permukaan. Absorpsi kimia dapat juga berlangsung di daerah yang hampir stagnan
disamping penangkapan dinamik.
Hal-hal menurut (Primasto, 2015) yang mempengaruhi dalam proses absorpsi:
Luas Permukaan Kontak
Semakin besar permukaan gas dan pelarut yang kontak, maka laju absorpsi yang terjadi
juga akan semakin besar. Hal ini dikarenakan, permukaan kontak yang semakin luas
akan meningkatkan peluang gas untuk berdifusi ke pelarut.
Laju Alir Fluida
Jika laju alir fluida semakin kecil, maka waktu kontak antara gas dengan pelarut akan
semakin lama. Dengan demikian, akan meningkatkan jumlah gas yang berdifusi.
Tekanan Operasi
Peningkatan tekanan akan meningkatkan efisiensi pemisahan.
Temperatur Komponen Terlarut dan Pelarut
Temperatur pelarut hanya sedikit berpengaruh terhadap laju absorpsi.

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Konsentrasi Gas
Perbedaan konsentrasi merupakan salah satu driving force dari proses difusi yang
terjadi antar dua fluida.
Menurut Firdaus (2011), pemilihan solvent umumnya dilakukan sesuai dengan tujuan
absorpsi, antara lain:
Jika tujuan utama adalah untuk menghasilkan larutan yang spesifik, maka solvent
ditentukan berdasarkan sifat dari produk.
Jika tujuan utama adalah untuk menghilangkan kandungan tertentu dari gas, maka ada
banyak pilihan yang mungkin. Misalnya air, dimana merupakan solven yang paling
murah dan sangat kuat untuk senyawa polar.
Syarat mutlak dalam suatu proses absorpsi menurut (Geankoplis, 1983) adalah
kelarutan solute dalam solvent harus lebih besar daripada kelarutannya dalam carrier.
Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pelarut agar proses
absorpsi berlangsung antara lain yaitu:
1. Kelarutan Gas
Kelarutan gas harus tinggi sehingga meningkatkan laju absorpsi dan menurunkan
kuantitas solvent yang diperlukan. Umumnya solvent yang memiliki sifat yang sama
dengan bahan terlarut akan lebih mudah dilarutkan. Jika gas larut dengan baik di dalam
fraksi mol yang sama pada beberapa jenis solvent, maka dipilih solvent yang memiliki
berat molekul paling kecil agar didapatkan fraksi mol gas terlarut yang lebih besar. Jika
terjadi reaksi kimia dalam operasi absorpsi maka umumnya kelarutan akan sangat besar.
Namun bila solvent akan di-recovery maka reaksi tersebut harus reversible. Sebagai
contoh, etanol amina dapat digunakan untuk mengabsorpsi hydrogen sulfide dari
campuran gas karena sulfide tersebut sangat mudah diserap pada suhu rendah dan dapat
dengan mudah dilucut pada suhu tinggi. Sebaliknya, soda kaostik tidak digunakan
dalam kasus ini karena walaupun sangat mudah menyerap sulfide tapi tidak dapat
dilucuti dengan operasi stripping.
2. Volatilitas
Pelarut harus memiliki tekanan uap yang rendah, karena jika gas yang meninggalkan
kolom absorpsi jenuh terhadap pelarut maka akan banyak solvent yang terbuang. Jika

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

diperlukan dapat digunakan cairan pelarut kedua yang volatilitasnya lebih rendah untuk
menangkap porsi gas yang teruapkan. Aplikasi ini umumnya digunakan pada kilang
minyak dimana terdapat menara absorpsi hidrokarbon yang menggunakan pelarut
hidrokarbon yang cukup volatile dan di bagian atas digunakan minyak nonvolatile untuk
me-recovery pelarut utama. Demikian juga halnya dengan hydrogen sulfide yang
diabsorpsi dengan natrium fenolat lalu pelarutnya di-recovery dengan air.
3. Korosivitas
Pelarut hendaknya memiliki korosivitas kecil, sehingga material konstruksi alat tidak
terlalu mahal. Solvent yang korosif dapat merusak kolom.
4. Harga Pelarut
Penggunaan solvent yang mahal dan tidak mudah di-recovery akan meningkatkan biaya
operasi kolom.
5. Ketersediaan
Ketersediaan pelarut di dalam negeri akan sangat mempengaruhi stabilitas harga pelarut
dan biaya operasi secara keseluruhan.
6. Viskositas
Pelarut harus mempunyai harga viskositas yang rendah sehingga proses absorpsi
berjalan cepat, pressure drop kecil pada saat pemompaan, memberikan sifat
perpindahan panas yang baik dan meningkatkan karakteristik floading dalam menara
absorpsi.
7. Hal-hal lain yang meliputi: solvent harus nontoxic, nonflammable, memiliki komposisi
kimia yang stabil dan titik bekunya rendah.
Pada proses absorpsi terdapat minimal tiga komponen yang terlibat di dalamnya, yaitu:
komponen gas terlarut yang disebut solute atau absorbat, komponen gas pembawa atau
carrier, dan komponen cairan pelarut yang disebut solvent atau absorben.

II.1.2 Teori Dasar Peristiwa Absorpsi


Teori dasar yang menjelaskan tentang peristiwa absorpsi, yaitu antara lain:

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1. Teori Dua Film (Double Film Theory)
Pada berbagai proses pemisahan, materi berdifusi dari satu fase ke fase
lainnya, dan laju difusi di dalam kedua fase tersebut mempengaruhi laju perpindahan
massa keseluruhan.
Dalam teori ini Whitman menyatakan bahwa kesetimbangan diasumsikan
terjadi pada permukaan batas (interface) antara fase gas dan cairan sehingga tahanan
perpindahan massa pada kedua fase ditambahkan untuk memperoleh tahanan
keseluruhan. Model ini menggambarkan tentang adanya lapisan difusi. Perpindahan
massa yang terjadi ditentukan oleh konsentrasi dan jarak perpindahan massa, yaitu
ketebalan film tersebut.
Jika cairan mempunyai komposisi tetap, konsentrasi pada bagian film akan menurun
dari A* pada permukaan sampai Ao pada cairan bagian ruah. Di sini tidak terjadi konveksi
pada film dan gas terlarut melewati film tersebut hanya oleh difusi molekuler.

Gambar II.1 Profil Model Dua Film


Proses difusi berlangsung efektif bila lapisan film tipis. Lapisan film yang tipis akan
meniadakan terjadinya tahanan dari lapisan itu (tahanan makin kecil), sehingga proses
perpindahan massa tidak terganggu. Untuk mendapatkan lapisan yang tipis, kondisi dari
kedua aliran fase harus diatur yaitu diusahakan membuat aliran yang turbulen, karena pada
lapisan film yang tipis akan diperoleh gradien konsentrasi yang kecil, sehingga proses
absorpsi berjalan sangat cepat dengan keadaan menjadi steady state.
Ketika suatu zat ditranfer dari satu fase ke fase yang lain melalui suatu interface
diantara keduanya maka resistance di kedua fase tersebut menyebabkan gradien konsentrasi
yang dapat dilihat sebagai berikut :

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar II.2 Gradien Konsentrasi di Dekat Interface Gas-Liquid

Untuk sistem dimana konsentrasi solute dalam gas dan liquid adalah kecil, maka laju
transfer massa dapat dinyatakan oleh persamaan yang memperkirakan laju transfer massa
yang sebanding dengan perbedaan diantara konsentrasi bulk dan konsentrasi dalam interface
gal-liquid.

NA = kG(p-pi) = kL(ci-c)

Dimana :
NA = Laju transfer massa
kG = Koefisien laju transfer massa fase gas
p = Tekanan parsial solute dalam bulk gas
pi = Tekanan parsial solute dalam interface
kL = Koefisien transfer massa pada fase liquid
ci = Konsentrasi solute pada interface
c = Konsentrasi solute pada bulk liquid.
Secara definisi, koefisien transfer massa kG dan kL adalah perbandingan antara flux
massa molal NA terhadap driving forse konsentrasi (p-pi) dan (ci-c). suatu alternatif untuk
menyatakan laju transfer dalam sistim yang encer adalah sebagai berikut :

NA = kG(y-yi) = kL(xi-x)

NA = Laju transfer massa,


kG = Koefisien laju transfer massa fase gas
y = Fraksi mol solute dalam bulk gas,
yi = Fraksi mol solute dalam interfase,

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
kL = Koefien transfer massa pada fase liquid
xi = Fraksi mol solute pada interfase
x = Fraksi mol solute pada bulk liquid.

Perbandingan harga koefisien transfer massa pada fase liquid dengan fase gas akan
didapatkan:

kL (y-yi)
=
kG (xi-x)

Dan apabila diplot secara grafis dengan melibatkan komposisi kesetimbangan antara uap dan
cair dan operating line akan didapatkan hubungan kesetimbangan.

y* = F(x)

Dimana : y* adalah fraksi mol solute yang berkesetimbangan dengan fraksi mol solute x.
Jika hubungan kesetimbangan merupakan grafik sederhana (yang pada umumnya
mendekati garis lurus karena konsentrasi solute yang rendah) maka laju transfer massa akan
sebanding dengan perbedaan konsentrasi bulk di fase pertama dengan konsentrasi bulk di
fase kedua yang berada di fase pertama.
Sehingga penyelesaian laju transfer massa akan menjadi:

NA = KG(y-y*) = kL(xi-x) = kG(y-yi) = KL(x*-x)

Dimana : KG = Koefisien transfer massa overall dalam fase gas


KL = Koefisien transfer massa overall dalam fase liquid
2. Teori Penetrasi
Teori penetrasi ini dikemukakan oleh Higbie. teori menyatakan mekanisme
perpindahan massa melalui kontak antara dua fasa, yaitu fasa gas dan fasa liquid.
Dalam pernyataannya, Higbie menekankan agar waktu kontak lebih lama. Higbie,
untuk pertama kalinya menerapkan teori ini untuk absorpsi gas dalam liquida yang

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
menunjukkan bahwa molekul-molekul yang berdifusi tidak akan mecapai sisi lapisan
tipis yang lain jika waktu kontaknya pendek.
Teori Higbie ini menyebutkan bahwa turbulensi akan menaikkan difusivitas
pusaran, hal ini akan menentukan waktu kontak perpindahan massa yang terjadi
untuk setiap keadaan massa. Difuivitas pusaran ini terjadi dalam keadaan setimbang
antara fase gas dan liquid.

3. Teori Danckwerts
Teori penetrasi juga dikembangkan oleh Danckwerts yang menyatakan
bahwa unsur-unsur fluida pada permukaan secara acak akan diganti oleh fluida lain
yang lebih segar dari aliran tindak. Teori ini digunakan dalam keadaan khusus di
mana dianggap massa difusivitas pusaran berlangsung dalam waktu yang bervariasi
dan dianggap laju perpindahan massa tidak tergantung dari waktu perpindahan unsur
dalam fase cairan tindak pada keadaan stagnan. Sehingga perpindahan massa yang
terjadi di interfacemerupakan harga dari jumlah zat yang terabsorpsi. Jadi dianggap
bahwa perpindahan unsur secara tindak fase cairan menuju interface tidak akan
mempengaruhi kecepatan perpindahan massanya.

II.1.3 Prinsip Kerja Kolom Absorpsi

Gambar II.3 Konfigurasi Absorber-Stipper

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Udara yang mengandung komponen terlarut (misalnya CO2) dialirkan ke dalam
kolom pada bagian bawah. Dari atas dialirkan alir. Pada saat udara dan air bertemu dalam
kolom isian, akan terjadi perpindahan massa. Dengan menganggap udara tidak larut dalam
air (sangat sedikit larut),maka hanya gas CO2 saja yang berpindah ke dalam fase air
(terserap). Semakin ke bawah, aliran air semakin kaya CO2. Semakin ke atas ,aliran udara
semakin miskin CO2.
Pada Gambar II.3 memperlihatkan satu konsep menangkap CO2 yang fleksibel
yang memungkinkan sebuah pabrik dipasang dengan menangkap CO2 untuk mendapatkan
kembali sebagian output pra-ambil dengan kembali uap pengupasan CO2 ke turbin LP untuk
menghasilkan listrik. Kerja kompresi CO2 kemudian jatuh karena ada sedikit CO2 yang akan
dikompresi, meskipun laju aliran kompresor minimum mungkin memerlukan daur ulang
CO2 pada beban capture rendah. Selama parsial-beban menangkap CO2, satu pendekatan
operasi untuk uap dan aliran pelarut kaya untuk stripper menjadi berkurang secara
bersamaan dan sama-sama. Penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa ini adalah
pendekatan yang terbaik untuk meminimalkan hukuman efisiensi dan menjaga stabilitas
sistem. Kaya pelarut dialihkan dari stripper yang didaur ulang ke absorber, penurunan
penghapusan sehingga CO2 dan meningkatkan emisi sebagai pelarut menjadi jenuh dengan
CO2. Peningkatan emisi CO2 bisa dikenakan biaya tambahan CO2, namun parsial-beban
menangkap CO2 bisa menguntungkan jika penjualan listrik tambahan mengimbangi
kenaikan biaya emisi CO2.
Peralatan yang digunakan dalam operasi absorpsi mirip dengan yang digunakan
dalam operasi distilasi. Namun demikian terdapat beberapa perbedaan menonjol pada kedua
operasi tersebut, yaitu sebagai berikut:
Umpan pada absorpsi masuk dari bagian bawah kolom, sedangkan pada distilasi
umpan masuk dari bagian tengah kolom.
Pada absorpsi cairan solven masuk dari bagian atas kolom di bawah titik didih,
sedangkan pada distilasi cairan solven masuk bersama-sama dari bagian tengah
kolom.
Pada absorpsi difusi dari gas ke cairan bersifat irreversible, sedangkan pada distilasi
difusi yang terjadi adalah equimolar counter diffusion.

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Rasio laju alir cair terhadap gas pada absorpsi lebih besar dibandingkan pada
distilasi.

II.1.4 Aplikasi Absorpsi


Absorpsi dalam dunia industri digunakan untuk meningkatkan nilai guna dari suatu
zat dengan cara merubah fasenya.
1. Proses Pembuatan Formalin
Formalin yang berfase cair berasal dari formaldehid yang berfase gas dapat
dihasilkan melalui proses absorpsi. Teknologi proses pembuatan formalin
Formaldehid sebagai gas input dimasukkan ke dalam reaktor. Output dari reaktor
yang berupa gas yang mempunyai suhu 182 0C didinginkan pada kondensor hingga
suhu 55 0C, dimasukkan ke dalam absorber. Keluaran dari absorber pada tingkat I
mengandung larutan formalin dengan kadar formaldehid sekitar 37 40%. Bagian
terbesar dari metanol, air,dan formaldehid dikondensasi di bawah air pendingin
bagian dari menara, dan hampir semua removal dari sisa metanol dan formaldehid
dari gas terjadi dibagian atas absorber dengan counter current contact dengan air
proses.
2. Proses Pembuatan Asam Nitrat
Pembuatan asam nitrat (absorpsi NO dan NO2). Proses pembuatan asam
nitrat Tahap akhir dari proses pembuatan asam nitrat berlangsung dalam kolom
absorpsi. Pada setiap tingkat kolom terjadi reaksi oksidasi NO menjadi NO2 dan
reaksi absorpsi NO2 oleh air menjadi asam nitrat. Kolom absorpsi mempunyai empat
fluks masuk dan dua fluks keluar. Empat fluks masuk yaitu air umpan absorber, udara
pemutih, gas proses, dan asam lemah. Dua fluks keluar yaitu asam nitrat produk dan
gas buang. Kolom absorpsi dirancang untuk menghasilkan asam nitrat dengan
konsentrasi 60 % berat dan kandungan NOx gas buang tidak lebih dari 200 ppm.
Aplikasi absorpsi lainnya seperti proses pembuatan urea, produksi ethanol, minuman
berkarbonasi, fire extinguisher, dry ice, supercritical carbon dioxide dan masih banyak lagi
aplikasi absorpsi dalam industri.
Selain itu absorpsi ini juga digunakan untuk memurnikan gas yang dihasilkan dari
fermentasi kotoran sapi. Gas CO2 langsung bereaksi dengan larutan NaOH sedangkan CH4

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
tidak. Dengan berkurangmya konsentrasi CO2 sebagai akibat reaksi dengan NaOH, maka
perbandingan konsentrasi CH4 dengan CO2 menjadi lebih besar untuk konsentrasi CH4.

Gambar II.4 Contoh Penyerapan CO2


Absorpsi CO2 dari campuran biogas ke dalam larutan NaOH dapat dilukiskan
sebagai berikut:
CO2(g) + NaOH(aq) NaHCO3(aq) NaOH(aq) + NaHCO3 Na2CO3(s) +
HO(l) CO2(g) + 2NaOH(aq) Na2CO3(s) + H2O(l)
Dalam kondisi alkali atau basa, pembentukan bikarbonat dapat diabaikan karena
bikarbonat bereaksi dengan OH- membentuk CO32-.

II.1.5 Jenis Menara Absorpsi


Menurut Firdaus (2011), ada beberapa jenis menara absorpsi, yaitu:
a Sieve Tray
Bentuknya mirip dengan peralatan distilasi. Pada Sieve Tray, uap
menggelembung ke atas melewati lubang-lubang sederhana berdiameter 3-12 mm
melalui cairan yang mengalir. Luas penguapan atau lubang-lubang ini biasanya
sekitar 5-15% luas tray. Dengan mengatur energi kinetik dari gas dan uap yang
mengalir, maka dapat diupayakan agar cairan tidak mengalir melaui lubang-lubang
tersebut. Kedalaman cairan pada tray dapat dipertahankan dengan limpasan
(overflow) pada tanggul (outlet weir).

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar II.5 Sieve Tray


b Valve Tray
Valve Tray adalah modifikasi dari Sieve Tray dengan penambahan katup-
katup untuk mencegah kebocoran atau mengalirnya cairan ke bawah pada saat
tekanan uap rendah. Dengan demikian alat ini menjadi sedikit lebih mahal daripada
Sieve Tray, yaitu sekitar 20%. Namun demikian alat ini memiliki kelebihan yaitu
rentang operasi laju alir yang lebih lebar ketimbang Sieve Tray.

Gambar II.6 Valve Tray


c Spray Tower
Liquid masuk dispraykan dan jatuh karena gravitasi, aliran gas naik
berlawanan arah. Nozzle (lubang) spray berfungsi untuk memperkecil ukuran
liquid. Jarak jatuhnya liquid ditentukan berdasarkan waktu kontak dan pengaruh

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
jumlah massa yang dipindahkan. Spray Tower digunakan untuk perpindahan massa
gas-gas yang sangat mudah larut dimana tahanan fasa gas yang menjadi kendali
dalam fenomena ini (Redjeki, 2012).

Gambar II.7 Spray Tower


d Bubble Cap Tray
Jenis ini telah digunakan sejak lebih dari seratus tahun lalu, namun
penggunaannya mulai digantikan oleh jenis Valve Tray sejak tahun 1950. Alasan
utama berkurangnya penggunaan Bubble Cap Tray adalah alasan ekonomis, dimana
desain alatnya yang lebih rumit sehingga biayanya menjadi lebih mahal. Jenis ini
digunakan jika diameter kolomnya sangat besar.

Gambar II.8 Bubble Cap Tray

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
e Packed Bed
Jenis ini adalah yang paling banyak diterapkan pada menara absorpsi.
Packed Column lebih banyak digunakan mengingat luas kontaknya dengan gas.
Packed Bed berfungsi mirip dengan media filter, dimana gas dan cairan akan
tertahan dan berkontak lebih lama dalam kolom sehingga operasi absorpsi akan
lebih optimal.
Beragam jenis packing telah dikembangkan untuk memperluas daerah dan
efisiensi kontak gas-cairan. Ukuran packing yang umum digunakan adalah 3-75
mm. Bahan yang digunakan dipilih berdasarkan sifat inert terhadap komponen gas
maupun cairan solven dan pertimbangan ekonomis, antara lain tanah liat, porselin,
grafit dan plastik. Packing yang baik biasanya memenuhi 60-90% dari volume
kolom.

Gambar II.9 Packed Bed


II.1.6 Pemilihan Packing
Dalam rangka memperluas permukaan kontak antara fase gas-cair, digunakan
bahan berisi packing (packed column). Pemilihan packing dilakukan dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Memiliki luas permukaan terbasahi tiap unit volum yang besar
2. Memiliki ruang kosong yang cukup besar sehingga kehilangan tekanan kecil
3. Karakteristik pembasahan baik
4. Densitas kecil agar berat kolom keseluruhan kecil
5. Tahan korosi dan ekonomis
(Perry, 1984)

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.2 Aplikasi Industri

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas, Massa secara Simultan


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember II-16