Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Tinjauan Teori Katarak


1. Definisi
Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa. Lensa mata menjadi keruh
atau berwarna putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang. Katarak terjadi
apabila protein-protein lensa yang secara normal transparan terurai dan mengalami
koagulasi (Corwin (2012).
Katarak adalah keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(panambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya. Biasanya
mengenai kedua mata dan berjalan progresif (Mansjoer, 2011).
Katarak biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat
kelahiran (katarak kongenital). Dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam
maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemik,
pemajanan radiasi, pemajanan yang lama sinar ultraviolet atau kelainan mata lain seperti
uveitis anterior (Smeltzer, 2002).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa katarak adalah kekeruhan lensa yang normalnya
transparan dan dilalui cahaya ke retina, yang dapat disebabkan oleh berbagai hal
sehingga terjadi kerusakan penglihatan.

2. Anatomi dan Fisiologi


Anatomi Mata
a. Struktur Mata Eksternal
1. Alis
Alis adalah dua potong kulit tebal melengkung yang ditumbuhi bulu. Alis
dikaitkan pada otot-otot sebelah bawahnya serta berfungsi melindungi mata dari
sinar matahari.
2. Kelopak mata
Kelopak mata merupakan dua lempengan, yaitu lempeng tarsal yang terdiri dari
jaringan fibrus yang sangat padat serta dilapisi kulit dan dibatasi konjungtiva.
Jaringan dibawah kulit ini tidak mengandung lemak. Kelopak mata atas lebih

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 1


besar daripada kelopak mata bawah serta digerakkan ke atas oleh otot-otot
melingkar, yaitu muskulus orbikularis okuli yang dapat dibuka dan ditutup untuk
melindungi dan meratakan air mata ke permukaan bola mata dan mengontrol
banyaknya sinar yang masuk.
3. Bulu mata
Bulu mata berfungsi melindungi mata dari debu dan cahaya.
b. Struktur Mata Internal
1. Sklera
Pembungkus yang kuat dan fibrus. Sklera membentuk putih mata dan
tersambung pada bagian depan dengan sebuah jendela membran yang bening,
yaitu kornea. Sklera melindungi struktur mata yang sangat halus serta membantu
mempertahankan bentuk biji mata.
2. Khoroid
Lapisan tengah yang berisi pembuluh darah. Merupakan ranting-ranting arteria
oftalmika, cabang dari arteria karotis interna. Lapisan vaskuler ini membentuk
iris yang berlubang ditengahnya, atau yang disebut pupil (manik) mata. Selaput
berpigmen sebelah belakang iris memancarkan warnanya dan dengan demikian
menentukan apakah sebuah mata itu berwarna biru, coklat, kelabu, dan
seterusnya. Khoroid bersambung pada bagian depannya dengan iris, dan tepat
dibelakang iris. Selaput ini menebal guna membentuk korpus siliare sehingga
terletak antara khoroid dan iris. Korpus siliare itu berisi serabut otot sirkulerndan
serabut-serabut yang letaknya seperti jari-jari sebuah lingkaran. Kontraksi otot
sirkuler menyebabkan pupil mata juga berkontraksi. Semuanya ini bersama-sama
membentuk traktus uvea yang terdiri dari iris, korpus siliare, dan khoroid.
Peradangan pada masing-masing bagian berturut-turut disebut iritis, siklitis, dan
khoroiditis, atau pun yang secara bersama-sama disebut uveitis. Bila salah satu
bagian dari traktus ini mengalami peradangan, maka penyakitnya akan segera
menjalar kebagian traktus lain disekitarnya.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 2


3. Retina
Lapisan saraf pada mata yang terdiri dari sejumlah lapisan serabut, yaitu sel-sel
saraf batang dan kerucut. Semuanya termasuk dalam konstruksi retina yang
merupakan jaringan saraf halus yang menghantarkan impuls saraf dari luar
menuju jaringan saraf halus yang menghantarkan impuls saraf dari luar menuju
diskus optikus, yang merupakan titik dimana saraf optik meninggalkan biji mata.
Titik ini disebut titik buta, oleh karena tidak mempunyai retina. Bagian yang
paling peka pada retina adalah makula, yang terletak tepat eksternal terhadap
diskus optikus, persis berhadapan dengan pusat pupil.
4. Kornea
Merupakan bagian depan yang transparan dan bersambung dengan sklera yang
putih dan tidak tembus cahaya. Kornea terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan tepi
adalah epithelium berlapis yang tersambung dengan konjungtiva.
5. Bilik anterior (kamera okuli anterior)
Terletak antara kornea dan iris.
6. Iris
Tirai berwarna didepan lensa yang bersambung dengan selaput khoroid. Iris
berisi dua kelompok serabut otot tak sadar (otot polos). Kelompok yang satu
mengecilkan ukuran pupil, sementara kelompok yang lain melebarkan ukuran
pupil itu sendiri.
7. Pupil
Bintik tengah yang berwarna hitam yang merupakan celah dalam iris, dimana
cahaya dapat masuk untuk mencapai retina.
8. Bilik posterior (kamera okuli posterior)
Terletak diantara iris dan lensa. Baik bilik anterior maupun bilik posterior yang
diisi dengan aqueus humor.
9. Aqueus humor
Cairan ini berasal dari badan siliaris dan diserap kembali ke dalam aliran darah
pada sudut iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai Saluran
Schlemm.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 3


10. Lensa
Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam
bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris
dan terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti cakram yang
dapat menebal dan menipis pada saat terjadi akomodasi (H. Sidarta Ilyas, 2013).
Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata
belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa
di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus
sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga
membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang
paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di
dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di bagian luar
nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks
lensa. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut sebagai
korteks anterior, sedangkan dibelakangnya korteks posterior. Nukleus lensa
mempunyai konsistensi lebih keras dibanding korteks lensa yang lebih muda. Di
bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang menggantungkan lensa di
seluruh ekuatornya pada badan siliar (H. Sidarta Ilyas, 2013).
11. Vitreus humor
Daerah sebelah belakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina yang diisi
dengan cairan penuh albumIn berwarna putih seperti agar-agar. Berfungsi untuk
memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta mempertahankan hubungan
antara retina dengan selaput khoroid dan sklerotik.
Fisiologi Mata
Mata adalah indera penglihatan. Mata dibentuk untuk menerima rangsangan berkas-
berkas cahaya pada retina, lantas dengan perantaraan serabut-serabut saraf nervus
optikus mengalihkan rangsangan ini ke pusat penglihatan otak untuk ditafsirkan.
Apparatus optik mata membentuk dan mempertahankan ketajaman fokus objek dalam
retina. Prinsip optik adalah sinar dialihkan berjalan dari satu medium ke medium lain
dari kepadatan yang berbeda, fokus utama pada garis yang berjalan melalui pusat

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 4


kelengkungan lensa sumbu utama.
Indera penglihatan menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina dengan
perantaraan serabut nervus optikus, menghantarkan rangsangan ini ke pusat penglihatan
pada otak untuk ditafsirkan. Cahaya yang jatuh ke mata menimbulkan bayangan yang
difokuskan pada retina. Bayangan itu akan menembus dan diubah oleh kornea, lensa
badan aqueus dan vitreus. Lensa membiaskan cahaya dan memfokuskan bayangan pada
retina, bersatu menangkap sebuah titik bayangan yang difokuskan. Gangguan lensa
adalah kekeruhan, distorsi, dislokasi, dan anomali geometric. Pasien yang mengalami
gangguan- gangguan tersebut mengalami kekaburan penglihatan tanpa rasa nyeri (H.
Sidarta Ilyas, 2013).
Secara fisiologis lensa mata mempunyai sifat tertentu, yaitu:
a. Kenyal/lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk
menjadi cembung.
b. Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan.
c. Terletak ditempatnya, yaitu berada antara posterior chamber dan vitreous body dan
berada di sumbu mata (H. Sidarta Ilyas, 2013).
Keadaan patologik lensa ini dapat berupa:
a. Tidak kenyal pada orang dewasa yang mengakibatkan presbyopia.
b. Keruh atau apa yang disebut katarak.
c. Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi (H. Sidarta Ilyas, 2013).

3. Klasifikasi
Klasifikasi Katarak Berdasarkan Usia Penderita
1. Katarak Kongenital
Terjadi sebelum berumur 1 tahun disebabkan oleh infeksi virus yang dialami ibu
pada saat usia kehamilan masih dini, seperti penyakit rubela, galaktosemia,
toksoplasmosis (Farmacia, 2009). Katarak kongenital adalah katarak yang mulai
terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun.
Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi akibat penanganannya
yang kurang tepat.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 5


2. Katarak Senilis
Katarak ini terjadi setelah usia 50 tahun akibat penuaan. Katarak senilis biasanya
berkembang lambat selama beberapa tahun, Kekeruhan lensa dengan nukleus yang
mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun
(Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3, 2013). Katarak Senilis terdiri dari 4
stadium, yaitu:
1. Stadium awal (insipien).
Pada stadium awal (katarak insipien) kekeruhan lensa mata masih sangat
minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa. Pada saat ini
seringkali penderitanya tidak merasakan keluhan atau gangguan pada
penglihatannya, sehingga cenderung diabaikan. Kekeruhan mulai dari tepi
ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior.
2. Stadium imatur
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak
atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang
jernih pada lensa. Pada stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan
lensa menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa akan mmberikan
perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi mioptik. Kecembungan ini
akan mengakibatkan pendorongan iris kedepan sehingga bilik mata depan akan
lebih sempit.
3. Stadium matur
Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama-
sama hasil desintegrasi melalui kapsul. Didalam stadium ini lensa akan
berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan
mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa
berwarna sangat putih.
4. Stadium hipermatur
Katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair sehingga masa lensa ini dapat
keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus "tenggelam"
kearah bawah. Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar kedalam

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 6


bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau
galukoma fakolitik.

Tabel Perbedaan karakteristik Katarak (H. Sidarta Ilyas, 2013)

Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif

Cairan Lensa Normal Bertambah Normal Berkurang

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Bilik mata depan Normal Dangkal Normal Dalam

Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka

Shadow test (-) (+) (-) +/-

Visus (+) < << <<<

Penyulit (-) Glaukoma (-) Uveitis+glaukoma

Klasifikasi Katarak Berdasarkan Lokasi Terjadinya


1. Katarak Inti (Nuklear)
Merupakan yang paling banyak terjadi. Lokasinya terletak pada nukleus atau bagian
tengah dari lensa. Biasanya karena proses penuaan.
2. Katarak Kortikal
Katarak kortikal ini biasanya terjadi pada korteks. Mulai dengan kekeruhan putih
mulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan.
3. Katarak Subkapsular
Mulai dengan kekeruhan kecil dibawah kapsul lensa, tepat pada lajur jalan sinar
masuk. Katarak ini dapat terlihat pada kedua lensa mata.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 7


Klasifikasi Katarak Berdasarkan Penyakit
1. Katarak Komplikata
Katarak ini terjadi karena infeksi atau penyakit tertentu, seperti Diabetes Mellitus.
Meningkatnya kadar gula darah, maka meningkat pula kadar glukosa dalam akuos
humor. Oleh karena glukosa dari akuos masuk ke dalam lensa dengan cara difusi,
maka kadar glukosa dalam lensa juga meningkat. Sebagian glukosa tersebut
dirubah oleh enzim aldose reduktase menjadi sorbitol, yang tidak dimetabolisme
tapi tetap berada dalam lensa.
Klasifikasi Katarak Berdasarkan Trauma
1. Katarak Traumatik
Katarak ini terjadi karena adanya trauma pada mata, khususnya pada bagian lensa
mata. Misalnya, saat terjadi kecelakaan ataupun saat mengalami pukulan yang tepat
mengenai mata. Lensa mata akan rusak dan tidak tidak transparan lagi saat
mengalami trauma yang berat.

4. Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi


Faktor resiko terjadinya katarak sangat bervariasi tergantung dari proses
patogenesis. Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh berbagai faktor,
baik faktor intrinsik maupun faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik yang berpengaruh antara
lain adalah usia dan faktor genetik, sedangkan faktor ekstrinsik yang berpengaruh antara
lain adalah pekerjaan serta faktor lingkungan yang berkaitan dengan paparan sinar
ultraviolet.
1. Usia
Seperti juga pada seluruh makhluk hidup maka lensa pun mangalami proses
degeneratif dimana dalam keadaan ini fungsi fisiologis lensa menurun dan berisiko
terjadi katarak.
2. Genetik
Pengaruh genetik dikatakan berhubungan dengan proses degenerasi yang timbul pada
lensa.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 8


3. Nutrisi
Beberapa penelitian mendapatkan bahwa multivitamin, vitamin A, vitamin C,
vitamin E, niasin, tiamin, riboflavin, beta karoten, dan peningkatan protein
mempunyai efek protektif terhadap perkembangan katarak. Lutein dan zeaxantin
adalah satu-satunya karotenoid yang dijumpai dalam lensa manusia dan penelitian
terakhir menunjukkan adanya penurunan resiko katarak dengan peningkatan
frekuensi asupan makanan tinggi lutein (bayam, brokoli). Dengan memakan bayam
yang telah dimasak lebih dari dua kali dalam semingu dapat menurunkan resiko
katarak.
4. Pekerjaan
Pekerjaan dalam hal ini erat kaitannya dengan paparan sinar matahari. Suatu
penelitian yang menilai secara individual, menunjukkan nelayan mempunyai jumlah
paparan terhadap sinar ultraviolet yang tinggi sehingga meningkatkan resiko
terjadinya katarak kortikal dan katarak posterior subkapsular.
5. Lingkungan (Geografis)
Katarak khususnya lebih banyak dijumpai di negara berkembang yang berlokasi di
khatulistiwa. Hampir semua studi epidemioologi melaporkan tingginya prevalensi
katarak di daerah yang banyak terkena sinar ultraviolet. Penduduk yang tinggal di
daerah tropis memiliki risiko mengalami katarak disbanding daerah non tropis.
6. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks refraksi, dan
amplitudo akomodatif. Dengan meningkatnya kadar gula darah, maka meningkat
pula kadar glukosa dalam akuos humor. Oleh karena glukosa dari akuos masuk ke
dalam lensa dengan cara difusi, maka kadar glukosa dalam lensa juga meningkat.
Sebagian glukosa tersebut dirubah oleh enzim aldose reduktase menjadi sorbitol,
yang tidak dimetabolisme tapi tetap berada dalam lensa.
7. Alkohol
Peminum alkohol kronis mempunyai resiko tinggi terkena berbagai penyakit mata,
termasuk katarak. Dalam banyak penelitian alkohol berperan dalam terjadinya
katarak. Alkohol secara langsung bekerja pada protein lensa dan secara tidak

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 9


langsung dengan cara mempengaruhi penyerapan nutrisi penting pada lensa.

5. Patofisiologi
a. Etiologi
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan
tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat
hamil muda. Penyebab katarak belum dapat dipastikan dengan tepat namun ada
beberapa faktor risiko yang sudah dijelaskan di atas yang dapat menyebabkan
seseorang mengalami katarak.
b. Proses Terjadi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan,
berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa
mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer
ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior.
Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat
kekuningan. Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior
nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling
bermakna, nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.
Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke
sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalamui
distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi,
sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina.
Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks
air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan
mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai
peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan
bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 10


Katarak biasanya terjadi bilateral, namun memiliki kecepatan yang berbeda.
Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemik, seperti diabetes. Namun
kebanyakan merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan
katarak berkembang secara kronik ketika seseorang memasuki dekade ketujuh.
Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak
terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen.
Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar
ultraviolet B, obat-obatan, alkohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin
antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama (Smeltzer, 2002).
c. Manifestasi Klinis
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya, pasien
melaporkan penurunan ketajaman fungsi penglihatan, peka terhadap cahaya (silau),
dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena kehilangan
penglihatan, temuan objektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara
keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika
lensa mulai tidak transparan lagi, cahaya akan dipendarkan dan bukannya
ditransmisikan dengan tajam ke retina. Hasilnya adalah pandangan kabur atau redup,
menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari. Pupil yang
normalnya hitam, akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih. Katarak biasanya
terjadi bertahap selama bertahun-tahun dan ketika katarak sudah sangat memburuk,
lensa koreksi yang lebih kuat pun tak akan mampu memperbaiki penglihatan.
Penderita katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk menghindari
silau yang disebabkan oleh cahaya yang salah arah. Misalnya, ada yang mengatur
ulang perabotan rumahnya sehingga sinar tidak akan langsung menyinari mata
mereka. Ada yang mengenakan topi berkelepak lebar atau kaca mata hitam dan
menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari (Smeltzer,
2002).
d. Komplikasi
Ambliopia sensori, penyulit yg terjadi berupa : visus tidak akan mencapai 5/5,
nistagmus dan strabismus.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 11


6. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan visus dengan Snellen Chart
Hasil: penderita katarak tidak mampu membaca snellen chart yang berjarak 5 meter,
visusnya tidak mencapai 5/5.
2. Pemeriksaan Oftalmoskopi
Hasil: ditemukan struktur internal okuler yang rusak, berupa lensa mata yang tidak
transparan.
3. Pemeriksaan Darah Lengkap
Hasil: menunjukkan adanya infeksi bila katarak tersebut dicetuskan oleh
bakteri/virus.

7. Penatalaksanaan Medis
Pembedahan dilakukan bila ketajaman penglihatan sudah menurun sedemikian rupa
sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah menimbulkan penyulit seperti
glaukoma dan uveitis (Mansjoer, 2011). Dalam pembedah katarak, lensa diangkat dari
mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular.
1. Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul.
Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan dipindahkan dari
mata melalui insisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan
hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi
katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer.
ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40
tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi
pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.
2. Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE)
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi
lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan
kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien
katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 12


lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular,
kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan predisposisi untuk
terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolap badan kaca,
sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular edema, pasca
bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak
seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu
dapat terjadinya katarak sekunder.
3. Phacoemulsification
Phacoemulsification(phaco) artinya membongkar dan memindahkan kristal
lensa. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea.
Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin
Phaco akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa
Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena insisi yang
kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang
memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari.
Teknik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak
senilis. Teknik ini kurang efektif pada katarak senilis padat, dan keuntungan insisi
limbus yang kecil agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler, meskipun
sekarang lebih sering digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat dimasukkan
melalui insisi kecil seperti itu.
4. Small Incision Cataract Surgery (SICS)
Teknik operasi SICS yang merupakan teknik pembedahan kecil. Teknik ini
dipandang lebih menguntungkan karena lebih cepat sembuh dan murah.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 13


B. Tinjauan Teori Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Anamnesis
Keluhan yang sering ditemukan adalah adanya penurunan penglihatan seperti
pandangan mata yang kabur, silau bila terkena cahaya/sinar, sulit melihat di malam
hari.
b. Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to toe yang meliputi
keadaan umum, status kesadaran, tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik.
c. Riwayat kesehatan
1. Keluhan Utama
Penurunan ketajaman penglihatan dan silau.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kesehatan dahulu pasien perlu diketahui untuk menemukan masalah
primer pasien, seperti: kesulitan membaca, pandangan kabur, pandangan ganda,
atau hilangnya daerah penglihatan soliter. Perawat harus menemukan apakah
masalahnya hanya mengenai satu mata atau dua mata dan berapa lama pasien
sudah menderita kelainan ini. Riwayat mata yang jelas sangat penting. Apakah
pasien pernah mengalami cedera mata atau infeksi mata, penyakit apa yang
terakhir diderita pasien.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Eksplorasi keadaan atau status okuler umum pasien. Tanyakan kepada pasien
apakah ia mengenakan kacamata atau lensa kontak, apakah pasien mengalami
kesulitan melihat (fokus) pada jarak dekat atau jauh, apakah ada keluhan dalam
membaca atau menonton televisi, bagaimana dengan masalah membedakan
warna atau masalah dengan penglihatan lateral atau perifer.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga derajat pertama atau kakek-nenek.
5. Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan pada
pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (Smeltzer, 2002).

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 14


Katarak terlihat tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa
dengan oftalmoskop direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan
katarak secara rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak terkait
usia biasanya terletak didaerah nukleus, korteks, atau subkapsular. Katarak
terinduksi steroid umumnya terletak di subkapsular posterior. Tampilan lain yang
menandakan penyebab okular katarak dapat ditemukan, antara lain deposisi
pigmen pada lensa menunjukkan inflamasi sebelumnya atau kerusakan iris
menandakan trauma mata sebelumnya (James, 2005).
6. Perubahan pola fungsi
Data yang diperoleh dalam kasus katarak, menurut Gordon, 2006 adalah sebagai
berikut :
a. Persepsi tehadap kesehatan
Bagaimana manajemen pasien dalam memelihara kesehatan, adakah
kebiasaan merokok, mengkonsumsi alkohol,dan apakah pasien mempunyai
riwayat alergi terhadap obat, makanan atau yang lainnya.
b. Pola aktifitas dan latihan
Bagaimana kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas atau perawatan
diri, dengan skor : 0 = mandiri, 1= dibantu sebagian, 2= perlu bantuan orang
lain, 3= perlu bantuan orang lain dan alat, 4= tergantung/ tidak mampu. Skor
dapat dinilai melalui : Aktifitas 0 1 2 3 4
c. Pola istirahat tidur
Berapa lama waktu tidur pasien, apakah ada kesulitan tidur seperti insomnia
atau masalah lain. Apakah saat tertidur sering terbangun.
d. Pola nutrisi metabolik
Adakah diet khusus yang dijalani pasien, jika ada anjuran diet apa yang telah
diberikan. Kaji nafsu makan pasien sebelum dan setelah sakit mengalami
perubahan atau tidak, adakah keluhan mual dan muntah, adakah penurunan
berat badan yang drastis dalam 3 bulan terakhir.
e. Pola eliminasi
Kaji kebiasaan BAK dan BAB pasien, apakah ada gangguan atau kesulitan.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 15


Untuk BAK kaji warna, bau dan frekuensi sedangkan untuk BAB kaji bentuk,
warna, bau dan frekuensi.
f. Pola kognitif perseptual
Status mental pasien atau tingkat kesadaran, kemampuan bicara, mendengar,
melihat, membaca serta kemampuan pasien berinteraksi. Adakah keluhan
nyeri karena suatu hal, jika ada kaji kualitas nyeri.
g. Pola konsep diri
Bagaimana pasien mampu mengenal diri dan menerimanya seperti harga diri,
ideal diri pasien dalam hidupnya, identitas diri dan gambaran akan dirinya.
h. Pola koping
Masalah utama pasien masuk rumah sakit, cara pasien menerima dan
menghadapi perubahan yang terjadi pada dirinya dari sebelum sakit hingga
setelah sakit.
i. Pola seksual reproduksi
Pola seksual pasien selama di rumah sakit, menstruasi terakhir dan adakah
masalah saat menstruasi.
j. Pola peran hubungan
Status perkawinan pasien, pekerjaan, kualitas bekerja, sistem pendukung
dalam menghadapi masalah, dan bagaiman dukungan keluarga selama pasien
dirawat di rumah sakit.
k. Pola nilai dan kepercayaan
Apa agama pasien, sebagai pendukung untuk lebih mendekatkan diri kepada
Tuhan atas sakit yang diderita.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 16


2. Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi:
1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
2. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan
sensori/perubahan status organ indera.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit.
Post Operasi:
1. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
2. Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi.
3. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
(Menurut NANDA NIC NOC 2015)

3. Perencanaan Keperawatan
a. Prioritas Diagnosa Keperawatan menurut Virginia Handerson
Pre Operasi:
1. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori/perubahan status organ indera.
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit.
Post Operasi:
1. Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi.
2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
b. Rencana Asuhan Keperawatan
Pre Operasi:
1. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori/perubahan status organ indera.
a. Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan masalah persepsi sensori
penglihatan teratasi.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 17


b. Kriteria Hasil:
1. Pasien mampu mengidentifikasi lingkungan di sekitarnya dengan cukup
baik.
2. Pasien tidak mengalami disorientasi.
c. Rencana Tindakan:
1. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
Rasional: Kebutuhan tiap individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab
kehilangan penglihatan terjadi lambatdan progresif.
2. Observasi tanda-tandadisorientasi.
Rasional: lingkungan yang tidak dikenal dan mengalami keterbatasan
penglihatan dapat mengakibatkan kebingungan terutama pada lansia.
3. Observasi penglihatan kabur dan iritasi mata dimana dapat terjadi bila
menggunakan obat tetes mata.
Rasional: Gangguan penglihatan/ iritasi dapat berakhir 1-2 jam setelah
tetesan mata tetapi secara bertahap menurun dengan penggunaan yang
teratur dan tepat.
4. Berikan pengenalan lingkungan sekitar pada klien
Rasional: Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan,
menurunkan kecemasan dan disorientasi.
5. Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam
jangkauan/posisi yang tepat.
Rasional: Memungkinkan pasien melihat objek dengan lebih baik dan
memudahkan panggilan untuk pertolongan bila diperlukan.

2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.


a. Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan masalah ansietas
/kecemasan berkurang.
b. Kriteria Hasil:
1. Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 18


2. Pasien tampak rileks dan mengatakan kecemasannya berkurang.
c. Rencana Tindakan:
1. Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda verbal dan
nonverbal.
Rasional: Derajat kecemasan akan dipengaruhi bagaimana informasi
tersebut diterima oleh individu.
2. Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien.
Rasional: Mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan akibat
kecemasan.
3. Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan, petugas, dan
peralatan yang akan digunakan.
Rasional: Mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan.
4. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isipikiran dan perasaan
takutnya.
Rasional: Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut
dapat ditujukan.
5. Beri penjelasan pasien tentang prosedur tindakan operasi, harapandan
akibatnya.
Rasional: Meningkatkan pengetahuan pasien dalam rangka mengurangi
kecemasan dan kooperatif.
6. Beri penjelasan dan suport pada pasien setiap melakukan
prosedurtindakan.
Rasional: Mengurangi perasaan takut dan cemas.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit.


Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan masalah kurang pengetahuan
teratasi.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 19


Kriteria Hasil:
1. Pasien dan keluarga menyatakan paham mengenai kondisi, penyakit serta
program pengobatan.
2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan dengan
benar.
3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali informasi yang telah
dijelaskan oleh petugas medis.
Rencana Tindakan:
1. Kaji penilaian tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang
spesifik.
Rasional: mengetahui seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki pasien
mengenai penyakitnya.
2. Jelaskan patofisiologi penyakit pasien dengan bahasa yang mudah dimengerti
dan dipahami.
Rasional: memudahkan pasien untuk menyimak dan memahami informasi
yang diberikan oleh petugas medis.
3. Jelaskan tanda dan gejala penyakit pasien dengan cara yang tepat.
Rasional: membantu pasien untuk mengenal penyakit dengan lebih spesifik.
4. Berikan dukungan pada pasien untuk menjalani operasi.
Rasional: meningkatkan kepercayaan diri pasien mengenai prosedur operasi
yang akan dijalani.

Post Operasi:
1. Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi.
a. Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan masalah nyeri berkurang
/terkontrol.
b. Kriteria Hasil:
1. Pasien mengatakan nyeri berkurang/terkontrol.
2. Pasien terlihat lebih tenang dan tidak gelisah.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 20


c. Rencana Tindakan:
1. Kaji tingkat nyeri pasien dengan metode PQRST
Rasional: untuk mengetahui tingkat nyeri yang berguna dalam pengawasan
keefektifan obat serta kemajuan kesembuhan.
2. Observasi tanda-tanda vital
Rasional: mengetahui perkembangan kondisi kesehatan pasien.
3. Pertahankan tirah baring selama fase nyeri
Rasional: istirahat dapat mengurangi rasa nyeri pasien.
4. Berikan teknik distraksi dan relaksasi
Rasional: tindakan ini dapat menurunkan tekanan vaskuler serebral yang
memperlambat atau memblok respon simpatis serta efektif dalam
menghilangkan nyeri.
5. Delegatif dalam pemberian analgetik sesuai indikasi
Rasioanal: menurunkan dan mengontrol nyeri serta menurunkan rangsang
sistem saraf simpatis.

2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.


Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan cedera dapat dicegah.
Kriteria hasil:
1. Pasien menyatakan paham mengenai faktor yang terlibat dalam kemungkinan
cedera.
2. Pasien terlihat lebih aman dengan lingkungan sekitar yang telah dimodifkasi
untuk meminimialkan risiko cedera.
Rencana Tujuan:
1. Kaji apa yang terjadi pada pascaoperasi tentang nyeri, pembatasan aktivitas,
penampilan dan balutan mata.
Rasional: membantu mengurangi rasa takut dan meningkatkan kerja sama
dalam pembatasan yang diperlukan.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 21


2. Beri pasien posisi bersandar, kepala tinggi atau miring ke sisi yang tak sakit
sesuai kebutuhan pasien.
Rasional: pemberian posisi yang benar pada pasien dapat menurunkan
tekanan pada mata yang sakit, meminimalkan risiko perdarahan pada luka
post operasi.
3. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata dan
menyentuh balutan pada mata
Rasional: mengurangi risiko terlepasnya balutan post operasi dan mencegah
terjadinya perdarahan bila pasien menggaruk matanya.
4. Pasang penghalang pada bagian sisi tempat tidur pasien saat pasien sedang
istirahat.
Rasional: megurangi risiko pasien terjatuh dari tempat tidur saat istirahat.
5. Berikan bantuan pada pasien bila ingin ke kamar mandi jika pasien mampu
berjalan
Rasional: mengurangi risiko cedera saat pasien pergi ke kamar mandi
sendirian.

3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.


Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan risiko infeksi berkurang/tidak
terjadi.
Kriteria Hasil:
1. Tidak tampak tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan iritasi pada luka
pasien.
2. Luka pasien tampak bersih, tidak ada pus.
Rencana Tindakan:
1. Observasi tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan iritasi pada luka pasien
Rasional: mengenali adanya tanda-tanda infeksi lebih awal untuk
menentukan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan.
2. Lakukan teknik yang tepat untuk merawat luka.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 22


Rasional: mengurangi risiko infeksi saat proses merawat luka.
3. Lakukan teknik mencuci tangan yang benar saat memulai dan mengakhiri
suatu tindakan.
Rasional: mencuci tangan yang benar dapat menurunkan risiko infeksi pada
luka pasien.
4. Beri penjelasan pada pasien untuk tidak selalu menyentuh balutan mata dan
menggaruk mata.
Rasional: tangan pasien yang kotor saat menyentuh balutan dapat
meningkatkan risiko infeksi pada luka.
5. Kolaborasi dalam pemberian obat topikal bila terjadi iritasi.
Rasional: sediaan topikal digunakan secara profilaksis, dimana terapi lebih
diperlukan bila terjadi infeksi.

4. Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan adalah pemberian asuhan keperawatan secara nyata berupa
serangkaian kegiatan sistimatis berdasarkan perencanaan untuk mencapai hasil yang
optimal. Pada tahap ini perawat menggunakan segala kemampuan yang dimiliki dalam
melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien baik secara umum maupun secara
khusus pada klien dengan katarak. Pada pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya
secara independen, interdependen dan dependen.
Pada fungsi independen adalah mencakup dari semua kegiatan yang diprakarsai
oleh perawat itu sendiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya
Pada fungsi interdependen adalah dimana fungsi yang dilakukan dengan bekerja sama
dengan profesi/disiplin ilmu yang lain dalam keperawatan maupun pelayanan kesehatan,
sedangkan fungsi dependen adalah fungsi yang dilaksanakan oleh perawat berdasarkan
atas pesan dari anggota medis yang lain (Tarwoto, 2015).

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 23


5. Evaluasi Keperawatan
Pre Operasi:
1. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan
sensori/perubahan status organ indera.
a. Pasien mampu mengidentifikasi lingkungan di sekitarnya dengan cukup baik.
b. Pasien tidak mengalami disorientasi.
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
a. Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya.
b. Pasien tampak rileks dan mengatakan kecemasannya berkurang.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit.
a. Pasien dan keluarga menyatakan paham mengenai kondisi, penyakit serta
program pengobatan.
b. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan dengan
benar.
c. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali informasi yang telah
dijelaskan oleh petugas medis.
Post Operasi:
1. Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi.
a. Pasien mengatakan nyeri berkurang/terkontrol.
b. Pasien terlihat lebih tenang dan tidak gelisah.
2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
a. Pasien menyatakan paham mengenai faktor yang terlibat dalam kemungkinan
cedera.
b. Pasien terlihat lebih aman dengan lingkungan sekitar yang telah dimodifkasi
untuk meminimialkan risiko cedera.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
a. Tidak tampak tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan iritasi pada luka pasien.
b. Luka pasien tampak bersih, tidak ada pus.

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 24


WOC Katarak (Ilyas, Sidarta 2013)

Degeneratif Trauma Penyakit

DM
Penurunan fungsi Kecelakaan/ terkena
fisiologis mata pukulan benda tumpul
khususnya pada lensa Kadar glukosa dlm
mata darah meningkat
Mengenai mata,
pembuluh darah pada
Daya akomodasi pada mata pecah, lensa mata Kadar glukosa dlm
lensa menurun rusak Vitreus Humor
meningkat

Perubahan transparansi Terjadi inflamasi pada


lensa mata Glukosa dr Vitreus Humor
pada lensa mata masuk ke dlm lensa dgn cara
difusi

Lensa menjadi keruh &


Kadar glukosa dlm lensa
tdk transparan
meningkat
Terjadi penurunan
penglihatan
Glukosa diubah oleh
enzim aldose reduktase
KATARAK menjadi sorbitol yg tdk
dpt dimetabolisme &
tetap ada di dlm lensa
Pembedahan

Pre Operasi Post Operasi

1. Gangguan Persepsi Sensori 1. Nyeri


Penglihatan 2. Risiko Tinggi Cedera
2. Ansietas 3. Risiko Infeksi
3. Kurang Pengetahuan

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 25


DAFTAR PUSTAKA

Corwin, J Elizabeth. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Farmacia. 2009. Ihtisar Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.

Hartono. 2007. Oftalmoskopi Dasar & Klinis. Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press.

Ilyas, Sidarta. 2013. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Judith M. Wolkinson. 2015. Diagnosis Keperawatan NANDANIC NOC. Jakarta: EGC.

Mansjoer. 2011. Perawatan Medikal Bedah.Jakarta: EGC.

Nico A. Lumenta. 2008.Manajemen Hidup Sehat. Jakarta: Elek Media Komputindo

Smeltzer. 2002. Acute Endhoptalmitis After Cataract Surgery : 250 Consecutive Cases Treated
At The Tertiary Referral Center In Netherland. American Journal Of Ophthalmology. Volume
149 No.3: America

LP & Askep Teoritis Katarak Stikes Bali 2016 26