Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

PADA KLIEN DENGAN HALUSINASI DI RSJD. Dr.AMINO


GONDOHUTOMO SEMARANG-JAWA TENGAH

OLEH:

MEGASARI
NIM : G3A014239

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2017/2018

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI


A. Masalah Utama:
Perubahan persepsi sensori: halusinasi

B. Proses Terjadinya Masalah


1. Pengertian
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan
panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami
suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu
(Maramis, 2005).
Halusinasi merupakan gangguan sensori persepsi di mana terjadi jika
seseorang merasakan sensori persepsi yang salah tentang sesuatu, atau
merasakan suatu pengalaman yang sebenarnya tidak terjadi tetapi dianggap
terjadi. Halusinasi dapat melibatkan kelima panca indera dan sensasi tubuh.
Pada awalnya klien yang mengalami halusinasi memang benar-benar pernah
merasakan halusinasi sebagai pengalaman nyata, namun kemudian pada
kondisi sakit, mereka menyadarinya sebagai suatu halusinasi (Videbeck,
2008).

2. Tanda dan Gejala


Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan
duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum
atau berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain,
gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga
keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang
dilihat, didengar atau dirasakan).
Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi:
a. Tahap 1: halusinasi bersifat tidak menyenangkan
Gejala klinis :
1) Menyeriangai/tertawa tidak sesuai
2) Menggerakkan bibir tanpa bicara
3) Gerakan mata cepat
4) Bicara lambat
5) Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
b. Tahap 2: halusinasi bersifat menjijikkan
Gejala klinis :
1) Cemas
2) Konsentrasi menurun
3) Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
c. Tahap 3: halusinasi bersifat mengendalikan
Gejala klinis :
1) Cenderung mengikuti halusinasi
2) Kesulitan berhubungan dengan orang lain
3) Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
4) Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti
petunjuk)
d. Tahap 4: halusinasi bersifat menaklukkan
Gejala klinis :
1) Pasien mengikuti halusinasi
2) Tidak mampu mengendalikan diri
3) Tidak mamapu mengikuti perintah nyata
4) Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
(Budi Anna Keliat, 2009)

3. Penyebab
Faktor penyebab halusinasi menurut Yosep (2010) terdiri dari:
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya
kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu
mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih
rentan terhadap stres.
b. Faktor sosio-kultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi
(unwanted child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak
percaya pada lingkungannya
c. Faktor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.
Adanya stres yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam
tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytransferase (DMP).
Akibat stres berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya
neurotransmiter otak. Misalnya erjadi ketidakseimbangan
acetylcolin dan dopamin.
d. Faktor psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggungjawab mudah
terjerumus penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada
ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang tepat demi
masa depannya. Klien lebih memilih kesengan sesaat dan lari dari
alam nyata menuju alam khayal.
e. Faktor genetik dan pola asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh
orangtua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia.
2. Faktor Presipitasi
a. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga,
ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku
merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan
serta tidak dapat membedakan keadaan yang nyata dan tidak nyata.
Menurut Rawlins dan Heacock (1993) mencoba memecahkan
masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seorang
individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-
psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi
yaitu :
a) Dimensi fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik
seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan,
demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan
untuk tidur dalam waktu yang lama.
b) Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang
tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi.
Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan
menakutkan. Klien tidsk sanggup lagi menentang perintah
tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu
terhadap ketakutan tersebut.
c) Dimensi intelektual
Individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya
penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan
usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan,
namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan
yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang
akan mengontrol semua perilaku klien.
d) Dimensi sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase
awal dan comforting, klien menganggap bahwa hidup
bersosialisasi di alam nyata sangat membahayakan. Klien
asyik dengan halusiasinya, seolah-olah ia merupakan tempat
untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri,
dan harga diri yang tidak didapat di dunia nyata.
e) Dimensi spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan
kehampaan hidup, rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktifitas
ibadah aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara spiritual
untuk menyucikan diri. Irama sirkadiannya terganggu, karena
ia sering tidur larut malam dan bangun sangat siang. Saat
terbangun merasa hampa dan tidak jelas tujuan hidupnya. Ia
sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya menjemput
rezeki, menyalahkan lingkungan dan orang lain yang
menyebabkan takdir memburuk.
Menurut Stuart, 2007 :
1. Faktor Predisposisi
a. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan
dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai
dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang
berikut :
Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan
otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi
pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan
perilaku psikotik.
Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter
yang berlebihan dan masalah-masalah pada sistem reseptor
dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal
menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak
manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis,
ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian
depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan
anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
b. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau
keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas
adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup
klien.
c. Sosial budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita
seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan,
bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stres.

2. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul
gangguan setelah adanya hubungan yang bernusuhan, tekanan, isolasi,
perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu
terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan
kemungkinann kekambuhan (Kelliat, 2006).
a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang
mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme
pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan
untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh
otak untuk diinterpretasikan.
b. Stress Lingkungan
Ambang toleransi terhadap stres yang berinteraksi terhadap
stresor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan
perilaku.
c. Sumber Koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam
menanggapi stresor.

4. Akibat
Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan control dirinya
sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak
lingkungan (risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan). Hal ini terjadi
jika halusinasi sudah sampai fase ke IV, di mana klien mengalami panik dan
perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya. Klien benar-benar
kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. Dalam situasi
ini klien dapat melakukan bunuh diri, membunuh orang lain bahkan merusak
lingkungan.
Tanda dan gejala:
a. Muka merah
b. Pandangan tajam
c. Otot tegang
d. Nada suara tinggi
e. Berdebat
f. Sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas makanan,
memukul jika tidak senang.

5. Penatalaksanaan
1. Psikoterapi
Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat membantu
karena berhubungan dengan praktis dengan maksud mempersiapkan klien
kembali ke masyarakat, untuk mendorong klien bergaul dengan orang
lain, klien lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya klien tidak
mengasingkan diri karena dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik,
dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan bersama, seperti
terapi modalitas yang terdiri dari:
a. Terapi aktivitas
1) Terapi seni
Fokus: untuk mengekspresikan perasaan melalui berbagai pekerjaan
seni
2) Terapi musik
Focus: mendengar, memainkan alat musik, bernyanyi. Yaitu
menikmati dengan relaksasi musik yang disukai klien.
3) Terapi menari
Fokus pada: ekspresi perasaan melalui gerakan tubuh
4) Terapi relaksasi
Belajar dan praktek relaksasi dalam kelompok
Rasional: untuk koping/ perilaku maladaptif/ deskriptif,
meningkatkan partisipasi dan kesenangan klien dalam kehidupan
b. Terapi sosial
Klien belajar bersosialisasi secara bertahap dengan perawat, klien lain,
perawat lain, keluarga/kelompok/ masyarakat
c. Terapi kelompok
1) Kelompok terapeutik
2) Terapi aktivitas kelompok
Aktivitas ini dapat berupa orientasi orang, waktu, tempat, benda
yang ada disekitar. Klien diorientasikan pada kenyataan yg ada
disekitar klien yaitu diri sendiri, orang lain yg ada disekeliling klien
atau orang yg dekat dg klien, lingkungan yg pernah mempunyai
hubungan dg klien pd saat ini dan yg lalu.
2. Psikofarmaka
Psikofarmaka adalah obat obatan kimia, yaitu obat obatan
psikotropika, yang dapat mempengaruhi bagian bagian otak tertentu dan
menekan atau mengurangi atau menghilangkan gejala gejala tertentu
pada penderita.
Macam macam psikofarmaka (6):
a. Golongan anti psikotik
Digunakan untuk menghilangkan gejala psikotik seperti waham
dan halusinasi ,penghayatan diri.Untuk obat jenis konvesional biasanya
hanya mampu menghilangkan gejala psitip saja, tetapi obat jenis atipkal
bisa menghilangka gejala positip dan gejala negatip. Jenisnya meliputi
chlorpromazine (promagtil,largagtil), haloperidol (haldol2mg,5mg),
trifluoperazine (stelasin 2mg 5mg), perphenazine, fluphenazine,
thioridazine (meleril), pimozide, clozapine (clozaril), sulpirideh,
risperidone (persidal), quetiapine, olanzapine.
b. Golongan anti cemas
Obat ini memberi kasiat menghilangkan rasa cemas melalui
penguatan inhibitor GABA (gama acid amino biturat). Untuk terapi-
terapi seperti gangguan cemas umum, cemas karena stress, gangguan
tidur, phobia, cemas dengan kondisi medik, cemas karena tindakan
medis, gangguan kejang, hysteria. Jenisnya meliputi diazepam (valium,
valisanbe, validex), chlordiazepoxide (cetabrium), alprazolam (atarax,
xanax), clobazam, lorazepam (ativan), buspirone, hidroxyzine,
bromazepam.
c. Golongan anti depresi
Untuk pengobatan gejala depresi seperti mutisme ,hipoaktif dan
disforik. Disamping itu bisa untuk mengobati keadaan panik, enurises,
pada anak dengan gangguan perhatian, bumilia narkolepsi dan obsesi
kumpulsif. Tiga jenis obat anti depresan yaitu golongan
tricyclik,selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), monoamine
oksidase inhibitor. Macam-macam anti depresan meliputi
amitriptyline(trilin), imipramine, clomipramine, fluoxentine(kalcetin),
srtraline(fridep), amoxapine, moclobenide, citalopram, duloxetine,
venlafaxine, maprotilin, fluvoxamine, mirtazapine, paroxetine,
tianeptine, mianserine.
d. Golongan anti maniak
untuk menghilangkan gejala manik seperti logorhoe, hiperaktive
euphoria. Macam-macam anti maniak yaitu lithium carbonate,
carbazepine, haloperidol.
3. Psikosomatik
- Terapi kejang listrik
Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang
grandmall secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui
electrode yang dipasang pada satu atau dua temples, dosis terapi kejang
listrik 4-5 joule/detik.
C. Pohon Masalah

Isolasi sosial AKIBAT

Menarik Diri
AKIBAT

AKIBAT Harga Diri Rendah


Defisit Perawatan Diri

Kesulitan Berinteraksi
dengan Orang lain Ketidakmampuan
merawat diri

CORE Gangguan Konfusi Kronik : Menciderai diri sendiri


HALUSINASI atau orang lain

AKIBAT Resiko perilaku kekerasan

Kehilangan dan berduka


PENYEBAB
fungsional

Factor predisposisi : Factor presipitasi :


- Biologis, abnormalitas - Biologis, ktidakmampuan
perkembangan otak menanggapi stimulus
- Psikologis: penolakan - Stress lingkungan
- Social budaya: - Sumber koping
kesepian/terisolasi karena
kerusuhan

D. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji


Klien yang mengalami halusinasi sukar untuk mengontrol diri dan sukar
untuk berhubungan dengan orang lain. Untuk itu perawat harus mempunyai
kesadaran yang tinggi agar dapat mengenal, menerima dan mengevaluasi
perasaan sendiri sehingga dapat menggunakan dirinya secara terapeutik dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap klien halusinasi perawat harus
bersikap jujur, empati, terbuka dan selalu memberi penghargaan namun tidak
boleh tenggelam juga menyangkal halusinasi yang klien alami.
Jenis halusinasi Data Obyektif Data Subyektif

Halusinasi Dengar Bicara atau tertawa sendiri Mendengar suara-suara


atau kegaduhan.
Marah-marah tanpa sebab
Mendengar suara yang
Menyedengkan telinga ke mengajak bercakap-cakap.
arah tertentu
Mendengar suara
Menutup telinga menyuruh melakukan
sesuatu yang berbahaya.

Halusinasi Penglihatan Menunjuk-nunjuk ke arah Melihat bayangan, sinar,


tertentu bentuk geometris, bentuk
kartoon, melihat hantu atau
Ketakutan dengan pada monster
sesuatu yang tidak jelas.

Halusinasi Penghidu Mengisap-isap seperti Membaui bau-bauan


sedang membaui bau- seperti bau darah, urin,
bauan tertentu. feses, kadang-kadang bau
itu menyenangkan.
Menutup hidung.

Halusinasi Pengecapan Sering meludah Merasakan rasa seperti


darah, urin atau feses
Muntah

Halusinasi Perabaan Menggaruk-garuk Mengatakan ada serangga


permukaan kulit di permukaan kulit

Merasa seperti tersengat


listrik

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a. Faktor Predisposisi
Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber
yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh
baik dari klien maupun keluarganya, mengenai faktor perkembangan sosial
kultural, biokimia, psikologi dan genetik yaitu faktor resiko yang
mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh
individu untuk mengatasi stress.
Faktor perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan
interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan
kecemasan.
Faktor sosiokultural
Berbagai faktor di masyarakat dapat menyebabkan seorang merasa
disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien
dibesarkan
Faktor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan
adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh
akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP).
Faktor psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya
peran ganda yang bertentangan dan sering diterima
oleh anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang
tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas
Faktor genetik
Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui,
tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan
hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini

b. Faktor Presipitasi
Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan,
ancaman/ tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya
rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam
kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan juga
suasana sepi/isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi
karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang
merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik
c. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,
perasaan tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak diri, kurang
perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, serta tidak dapat membedakan
keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993
mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat
keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar
unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari
lima dimensi yaitu:
Dimensi Fisik
Manusia dibangu oleh sistem indera untuk menanggapi
rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi
dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan
yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium,
intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.
Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak
dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari
halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien
tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi
tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu
dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego.
Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk
melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang
menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian
klien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien.
Dimensi Sosial
Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan
adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan
halusinasinya, seolah- olah ia merupakan tempat untuk memenuhi
kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak
didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem kontrol
oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa
ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh
karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan
klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan
pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta menguasakan klien
tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan
lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.
Dimensi Spiritual
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga
interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang
mendasar. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga proses
diatas tidak terjadi, individu tidak sadar dengan keberadaannya dan
halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. Saat
halusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol kehidupan
dirinya.
d. Sumber koping
Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu
dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping
dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan
masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat membantu seseorang
mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi
strategi koping yang berhasil.
e. Mekanisme koping
Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya
penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang
digunakan untuk melindungi diri.

E. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi Berhubungan Dengan Menarik Diri
2. Resiko Perilaku Kekerasan Terhadap Diri Sendiri Dan Orang Lain
Berhubungan Dengan Halusinasi
3. Isolasi Sosial Berhubungan Dengan Harga Diri Rendah
4. Defisit Perawatan Diri (Mandi) Berhubungan Dengan Ketidakmampuan
Dalam Merawat Diri
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN DENGAN PERUBAHAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI
Tgl Diagnosa Rencana Tindakan Keperawatan
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional
Resiko menciderai TUM :
orang lain dan Klien tidak menciderai diri
lingkungan b.d sendiri/orang
halusinasi
pendengaran lain/lingkungan.
TUK : 1 Klien mampu membina 1. Bina hubungan saling percaya Hubungan saling
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip percaya merupakan
hubungan saling percaya dengan perawat dengan komunikasi terapetik: langkah awal
dengan perawat kriteria hasil : a. Sapa klien dengan ramah menentukan
- Membalas sapaan baik verbal maupun non keberhasilan rencana
perawat verbal. selanjutnya.
- Ekspresi wajah b. Perkenalkan diri dengan
bersahabat dan sopan
senang. c. Tanyakan nama lengkap
- Ada kontak mata klien dan nama panggilan
- Mau berjabat tangan kesukaan klien.
- Mau menyebutkan d. Jelaskan maksud dan
nama tujuan interaksi.
- Klien mau duduk e. Berikan perhatian pada
berdampingan dengan klien, perhatikan
perawat. kebutuhan dasarnya.
- Klien mau 2. Beri kesempatan klien Untuk mengurangi
mengutarakan mengungkapkan perasaannya. kontak klien dengan
masalah yang 3. Dengarkan ungkapan klien halusinasinya dengan
dihadapi. dengan empati mengenal halusinasi
akan membantu
mengurangi dan
menghilangkan
halusinasi
TUK : 2 Klien mampu mengenali 1. Adakah kontak sering dan Mengetahui apakah
Klien dapat mengenali halusinasinya dengan singkat secara bertahap. halusinasi datang dan
halusinasinya kriteria hasil : 2. Tanyakan apa yang didengar menentukan tindakan
- Klien dapat dari halusinasinya. yang tepat atas
menyebutkan waktu, 3. Tanyakan kapan halusinasinya halusinasinya.
timbulnya halusinasi. datang.
- Klien dapat 4. Tanyakan isi halusinasinya.
mengidentifikasi 5. Bantu klien mengenal Mengenalkan pada
kapan frekuensi halusinasinya. klien terhadap
situasi saat terjadinya - Jika menemukan klien halusinasinya dan
halusinasi. sedang halusinasi, mengidentifikasi
- Klien dapat tanyakan apakah ada suara faktor pencetus
mengungkapkan yang didengar. halusinasinya.
perasaannya saat - Jika klien menjawab ada,
muncul halusinasi. lanjutkan apa yang
dikatakan.
- Katakana bahwa perawat
percaya klien mendengar
suara itu, namun perawat
sendiri tidak
mendengarnya (dengan
nada bersahabat tanpa
menuduh atau
menghakimi).
- Katakana bahwa klien lain
juga ada yang seperti
klien.
- Katakana bahwa berawat
akan membantu klien.
6. Diskusikan dengan klien: Menentukan tindakan
- Situasi yang menimbulkan yang sesuai bagi klien
atau tidak menimbulkan untuk mengontrol
halusinasi. halusinasinya.
- Waktu, frekuensi
terjadinya halusinasi (pagi,
siang, sore atau malam
atau jika sendiri, jengkel
atau sedih).
7. Diskusikan dengan klien apa
yang dirasakan jika terjadi
halusinasi (marah/takut, sedih,
senang) beri kesempatan
mengungkapkan perasaan.
TUK : 3 Klien dapat 1. Identifikasi bersama klien
Klien dapat mengontrol mengidentifikasi tindakan yang biasa dilakukan
halusinasinya tindakan yang dilakukan bila terjadi halusinasi
untuk mengendalikan 2. Diskusikan manfaat dan cara
halusinasinya. yang digunakan klien, jika
bermanfaat beri pujian.
3. Diskusikan cara baik
memutuskan atau mengontrol
timbulnya halusinasi.
- Katakana saya tidak
dengar kamu (pada saat
halusinasi terjadi).
- Temui orang lain (perawat
atau teman atau anggota
keluarga) untuk bercakap
cakap atau mengatakan
halusinasi yang didengar.
- Membuat jadwal kegiatan
sehari-hari.
- Meminta keluarga atau
teman atau perawat
menyapa klien jika tampak
berbicara sendiri,
melamun, atau kegiatan
yang tidak terkontrol.
4. Bantu klien memilih dan
melatih cara memutus
halusinasi secara bertahap.
5. Beri kesempatan untuk
melakukan cara yang dilatih.
Evaluasi hasilnya dan beri
pujian jika berhasil.
6. Anjurkan klien mengikuti
terapi aktivitas kelompok,
jenis orientasi realita, atau
stimulasi persepsi.
TUK : 4 - Klien dapat memilih 1. Anjurkan klien untuk memberi Membatu klien
Klien dapat dukungan dari cara mengatasi tahu keluarga jika mengalami menentukan cara
keluarga dalam halusinasi. halusinasi. mengontrol halusinasi.
mengontrol halusinasinya. - Klien melaksanakan 2. Diskusikan dengan keluarga Periode
cara yang telah dipilih (pada saat keluarga berkunjng berlangsungnya
memutus atau kunjungan rumah). halusinasinya:
halusinasinya. - Gejala halusinasi yang 1. Member support
- Klien dapat mengikuti dialami klien. kepada klien.
terapi aktivitas - Cara yang dapat dilakukan 2. Menambah
kelompok. klien dan keluarga untuk pengetahuan klien
memutus halusinasi. untuk melakukan
- Cara merawat anggota tindakan
keluarga yang mengalami pencegahan
halusinasi di rumah : beri lahusinasi.
kegiatan, jangan buiarkan
sendiri, makan bersama,
berpergian bersama.
- Berikan informasi waktu
follow up atau kapan perlu
mendapat bantuan
halusinasi tidak terkontrol
dan resiko menciderai
orang lain.
3. Diskusikan dengan keluarga
dank lien tentang jenis, dosis,
frekuensi dan manfaat obat.
4. Pastikan klien minum obat
sesuai dengan program dokter.
TUK : 5 - Keluarga dapat 1. Anjurkan klien bicara dengan - Partisipasi klien
membina hubungan dokter tentang manfaat dan dalam kegiatan
saling percaya dengan efek samping obat yang tersebut membantu
perawat. dirasakan. klien beraktivitas
- Keluarga dapat 2. Diskusikan akibat berhenti sehingga halusinasi
menyebutkan: obat tanpa konsultasi. tidak muncul
pengertian, tanda dan 3. Bantu - Keluarga
tindakan untuk merupakan orang
mengalihkan terdekat yang
halusinasi. dapat membantu
- Klien dan keluarga klien
dapat menyebutkan: meningkatkan
manfaat, dosis dan pengetahuan
efek samping obat. keluarga dan cara
- Klien minum obat merawat klien
secara teratur. halusinasi.
- Klien dapat informasi - Meningkatkan
tentang manfaat dan pengetahuan
efek samping obat. keluarga tentang
- Klien dapat obat
memahami akibat - Membantu
berhenti minum obat mempercepat
tanpa konsultasi. penyembuhan dan
- Klien dapat memastikan obat
menyebutkan prinsip sudah diminum
5 benar penggunaan oleh klien.
obat. - Meningkatkan
pengetahuan
tentang manfaat
dan efek samping
obat.
- Mengetahui reaksi
setelah minum
obat.
- Ketepatan prinsip
5 benar minum
obat membantu
penyembuhan dan
menghindari
kesalahan minum
obat serta
membantu
tercapainya
standar.
Klien dapat menggunakan
obat dengan benar untuk
mengendalikan
halusinasinya.
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)

Masalah Utama : Halusinasi pendengaran


A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien:
a. Petugas mengatakan bahwa klien sering menyendiri di kamar
b. Klien sering tertawa dan tersenyum sendiri
c. Klien mengatakan sering mendengar suara-suara yang membisiki dan
isinya tidak jelas serta melihat setan-setan.
2. Diagnosa keperawatan:
Gangguan persepsi sensori: halusinasi dengar

B. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan


1. Tindakan Keperawatan untuk Pasien
Tujuan tindakan untuk pasien meliputi:
a. Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
b. Pasien dapat mengontrol halusinasinya
c. Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal

SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara


mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara
pertama: menghardik halusinasi
ORIENTASI:
Selamat pagi bapak, Saya Mahasiswa Profesi UNIMUS yang akan merawat bapak
Nama Saya..........., senang dipanggil ......... Nama bapak siapa?Bapak Senang
dipanggil apa
Bagaimana perasaan bapak hari ini? Apa keluhan bapak saat ini
Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang selama ini
bapak dengar tetapi tak tampak wujudnya? Di mana kita duduk? Di ruang tamu?
Berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit
KERJA:
Apakah bapak mendengar suara tanpa ada ujudnya?Apa yang dikatakan suara
itu?
Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling sering
D dengar suara? Berapa kali sehari bapak alami? Pada keadaan apa suara itu
terdengar? Apakah pada waktu sendiri?
Apa yang bapak rasakan pada saat mendengar suara itu?
Apa yang bapak lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu
suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah
suara-suara itu muncul?
bapak , ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan
menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.
Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat minum obat
dengan teratur.
Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik.
Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung bapak bilang,
pergi saya tidak mau dengar, Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu
diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba bapak peragakan! Nah
begitu, bagus! Coba lagi! Ya bagus bapak D sudah bisa
TERMINASI:
Bagaimana perasaan D setelah peragaan latihan tadi? Kalau suara-suara itu
muncul lagi, silakan coba cara tersebut ! bagaimana kalu kita buat jadwal
latihannya. Mau jam berapa saja latihannya? (Saudara masukkan kegiatan latihan
menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian pasien). Bagaimana kalau kita
bertemu lagi untuk belajar dan latihan mengendalikan suara-suara dengan cara
yang kedua? Jam berapa D?Bagaimana kalau dua jam lagi? Berapa lama kita akan
berlatih?Dimana tempatnya
Baiklah, sampai jumpa.
SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua:
bercakap-cakap dengan orang lain
Orientasi:
Selamat pagi bapak Bagaimana perasaan bapak hari ini? Apakah suara-suaranya
masih muncul ? Apakah sudah dipakai cara yang telah kita latih?Berkurangkan
suara-suaranya Bagus ! Sesuai janji kita tadi saya akan latih cara kedua untuk
mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Kita akan latihan
selama 20 menit. Mau di mana? Di sini saja?
Kerja:
Cara kedua untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang lain adalah dengan
bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi kalau bapak mulai mendengar suara-suara,
langsung saja cari teman untuk diajak ngobrol. Minta teman untuk ngobrol dengan
bapak Contohnya begini; tolong, saya mulai dengar suara-suara. Ayo ngobrol
dengan saya! Atau kalau ada orang dirumah misalnya istri,anakbapak katakan: bu,
ayo ngobrol dengan bapak sedang dengar suara-suara. Begitu bapak Coba bapak
lakukan seperti saya tadi lakukan. Ya, begitu. Bagus! Coba sekali lagi! Bagus! Nah,
latih terus ya bapak!
Terminasi:
Bagaimana perasaan bapak setelah latihan ini? Jadi sudah ada berapa cara yang
bapak pelajari untuk mencegah suara-suara itu? Bagus, cobalah kedua cara ini
kalau bapak mengalami halusinasi lagi. Bagaimana kalau kita masukkan dalam
jadwal kegiatan harian bapak. Mau jam berapa latihan bercakap-cakap? Nah nanti
lakukan secara teratur serta sewaktu-waktu suara itu muncul! Besok pagi saya akan
ke mari lagi. Bagaimana kalau kita latih cara yang ketiga yaitu melakukan aktivitas
terjadwal? Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 10.00? Mau di mana/Di sini
lagi? Sampai besok ya. Selamat pagi

SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga:


melaksanakan aktivitas terjadwal
Orientasi: Selamat pagi bapakBagaimana perasaan bapak hari ini? Apakah suara-
suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai dua cara yang telah kita latih ?
Bagaimana hasilnya ? Bagus ! Sesuai janji kita, hari ini kita akan belajar cara yang
ketiga untuk mencegah halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Mau di mana
kita bicara? Baik kita duduk di ruang tamu. Berapa lama kita bicara? Bagaimana
kalau 30 menit? Baiklah.
Kerja: Apa saja yang biasa bapak lakukan? Pagi-pagi apa kegiatannya, terus jam
berikutnya (terus ajak sampai didapatkan kegiatannya sampai malam). Wah banyak
sekali kegiatannya. Mari kita latih dua kegiatan hari ini (latih kegiatan tersebut).
Bagus sekali bapak bisa lakukan. Kegiatan ini dapat bapak lakukan untuk mencegah
suara tersebut muncul. Kegiatan yang lain akan kita latih lagi agar dari pagi sampai
malam ada kegiatan.
Terminasi: Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap cara yang
ketiga untuk mencegah suara-suara? Bagus sekali! Coba sebutkan 3 cara yang telah
kita latih untuk mencegah suara-suara. Bagus sekali. Mari kita masukkan dalam
jadwal kegiatan harian bapak Coba lakukan sesuai jadwal ya!(Saudara dapat melatih
aktivitas yang lain pada pertemuan berikut sampai terpenuhi seluruh aktivitas dari
pagi sampai malam) Bagaimana kalau menjelang makan siang nanti, kita membahas
cara minum obat yang baik serta guna obat. Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam
12.00 pagi?Di ruang makan ya! Sampai jumpa.

SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur


Orientasi:
Selamat pagi bapak Bagaimana perasaan bapak hari ini? Apakah suara-suaranya
masih muncul ? Apakah sudah dipakai tiga cara yang telah kita latih ? Apakah
jadwal kegiatannya sudah dilaksanakan ? Apakah pagi ini sudah minum obat? Baik.
Hari ini kita akan mendiskusikan tentang obat-obatan yang bapak minum. Kita akan
diskusi selama 20 menit sambil menunggu makan siang. Di sini saja ya bapak?
Kerja:
bapak adakah bedanya setelah minum obat secara teratur. Apakah suara-suara
berkurang/hilang ? Minum obat sangat penting supaya suara-suara yang bapak
dengar dan mengganggu selama ini tidak muncul lagi. Berapa macam obat yang
bapak minum ? (Perawat menyiapkan obatpasien) Ini yang warna orange (CPZ) 3
kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam gunanya untuk menghilangkan
suara-suara. Ini yang putih (THP)3 kali sehari jam nya sama gunanya untuk rileks
dan tidak kaku. Sedangkan yang merah jambu (HP) 3 kali sehari jam nya sama
gunanya untuk pikiran biar tenang. Kalau suara-suara sudah hilang obatnya tidak
boleh diberhentikan. Nanti konsultasikan dengan dokter, sebab kalau putus obat,
bapak akan kambuh dan sulit untuk mengembalikan ke keadaan semula. Kalau obat
habis bapak bisa minta ke dokter untuk mendapatkan obat lagi. bapak juga harus
teliti saat menggunakan obat-obatan ini. Pastikan obatnya benar, artinya bapak
harus memastikan bahwa itu obat yang benar-benar punya bapak Jangan keliru
dengan obat milik orang lain. Baca nama kemasannya. Pastikan obat diminum pada
waktunya, dengan cara yang benar. Yaitu diminum sesudah makan dan tepat jamnya
bapak juga harus perhatikan berapa jumlah obat sekali minum, dan harus cukup
minum 10 gelas per hari
Terminasi:
Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang obat? Sudah
berapa cara yang kita latih untuk mencegah suara-suara? Coba sebutkan! Bagus!
(jika jawaban benar). Mari kita masukkan jadwal minum obatnya pada jadwal
kegiatan bapak Jangan lupa pada waktunya minta obat pada perawat atau pada
keluarga kalau di rumah. Nah makanan sudah datang. Besok kita ketemu lagi untuk
melihat manfaat 4 cara mencegah suara yang telah kita bicarakan. Mau jam berapa?
Bagaimana kalau jam 10.00. sampai jumpa.

2. Tindakan Keperawatan Kepada Keluarga


a. Tujuan:
1) Keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien baik di di rumah sakit
maupun di rumah
2) Keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien.
b. Tindakan Keperawatan
Keluarga merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan asuhan
keperawatan pada pasien dengan halusinasi. Dukungan keluarga selama
pasien di rawat di rumah sakit sangat dibutuhkan sehingga pasien
termotivasi untuk sembuh. Demikian juga saat pasien tidak lagi dirawat di
rumah sakit (dirawat di rumah).Keluarga yang mendukung pasien secara
konsisten akan membuat pasien mampu mempertahankan program
pengobatan secara optimal. Namun demikian jika keluarga tidak mampu
merawat pasien, pasien akan kambuh bahkan untuk memulihkannya lagi
akan sangat sulit. Untuk itu perawat harus memberikan pendidikan
kesehatan kepada keluarga agar keluarga mampu menjadi pendukung yang
efektif bagi pasien dengan halusinasi baik saat di rumah sakit maupun di
rumah.

Tindakan keperawatan yang dapat diberikan untuk keluarga pasien


halusinasi adalah:
1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2) Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis
halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses
terjadinya halusinasi, dan cara merawat pasien halusinasi.
3) Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara
merawat pasien dengan halusinasi langsung di hadapan pasien
4) Beri pendidikan kesehatan kepada keluarga perawatan lanjutan pasien

SP 1 Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis


halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara
merawat pasien halusinasi.

Peragakan percakapan berikut ini dengan pasangan saudara.


ORIENTASI:
Selamat pagi Bapak/Ibu!Saya yudi perawat yang merawat Bapak
Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Apa pendapat Ibu tentang Bapak?
Hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang Bapak alami dan bantuan
apa yang Ibu bisa berikan.
Kita mau diskusi di mana? Bagaimana kalau di ruang tamu? Berapa lama waktu
Ibu? Bagaimana kalau 30 menit
KERJA:
Apa yang Ibu rasakan menjadi masalah dalam merawat bapak Apa yang Ibu
lakukan?
Ya, gejala yang dialami oleh Bapak itu dinamakan halusinasi, yaitu mendengar
atau melihat sesuatu yang sebetulnya tidak ada bendanya.
Tanda-tandanya bicara dan tertawa sendiri,atau marah-marah tanpa sebab
Jadi kalau anak Bapak/Ibu mengatakan mendengar suara-suara, sebenarnya suara
itu tidak ada.
Kalau Bapak mengatakan melihat bayangan-bayangan, sebenarnya bayangan itu
tidak ada.
Untuk itu kita diharapkan dapat membantunya dengan beberapa cara. Ada
beberapa cara untuk membantu ibu agar bisa mengendalikan halusinasi. Cara-cara
tersebut antara lain: Pertama, dihadapan Bapak, jangan membantah halusinasi atau
menyokongnya. Katakan saja Ibu percaya bahwa anak tersebut memang mendengar
suara atau melihat bayangan, tetapi Ibu sendiri tidak mendengar atau melihatnya.
Kedua, jangan biarkan Bapak melamun dan sendiri, karena kalau melamun
halusinasi akan muncul lagi. Upayakan ada orang mau bercakap-cakap dengannya.
Buat kegiatan keluarga seperti makan bersama, sholat bersama-sama. Tentang
kegiatan, saya telah melatih Bapak untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari.
Tolong Ibu pantau pelaksanaannya, ya dan berikan pujian jika dia lakukan!
Ketiga, bantu Bapak minum obat secara teratur. Jangan menghentikan obat tanpa
konsultasi. Terkait dengan obat ini, saya juga sudah melatih Bapak untuk minum
obat secara teratur. Jadi Ibu dapat mengingatkan kembali. Obatnya ada 3 macam,
ini yang orange namanya CPZ gunanya untuk menghilangkan suara-suara atau
bayangan. Diminum 3 X sehari pada jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Yang
putih namanya THP gunanya membuat rileks, jam minumnya sama dengan CPZ tadi.
Yang biru namanya HP gunanya menenangkan cara berpikir, jam minumnya sama
dengan CPZ. Obat perlu selalu diminum untuk mencegah kekambuhan
Terakhir, bila ada tanda-tanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi Bapak
dengan cara menepuk punggung Bapak. Kemudian suruhlah Bapak menghardik
suara tersebut. Bapak sudah saya ajarkan cara menghardik halusinasi.
Sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi Bapak. Sambil menepuk punggung
Bapak, katakan: bapak, sedang apa kamu?Kamu ingat kan apa yang diajarkan
perawat bila suara-suara itu datang? Ya..Usir suara itu, bapak Tutup telinga kamu
dan katakan pada suara itu saya tidak mau dengar. Ucapkan berulang-ulang,
pak
Sekarang coba Ibu praktekkan cara yang barusan saya ajarkan
Bagus Bu
TERMINASI:
Bagaimana perasaan Ibu setelah kita berdiskusi dan latihan memutuskan halusinasi
Bapak?
Sekarang coba Ibu sebutkan kembali tiga cara merawat bapak?
Bagus sekali Bu. Bagaimana kalau dua hari lagi kita bertemu untuk
mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan Bapak?
Jam berapa kita bertemu?
Baik, sampai Jumpa. Selamat pagi

SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung


dihadapan pasien
Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara
merawat pasien dengan halusinasi langsung dihadapan pasien.

ORIENTASI:
Selamat pagi
Bagaimana perasaan Ibu pagi ini?
Apakah Ibu masih ingat bagaimana cara memutus halusinasi Bapak yang sedang
mengalami halusinasi?Bagus!
Sesuai dengan perjanjian kita, selama 20 menit ini kita akan mempraktekkan cara
memutus halusinasi langsung dihadapan Bapak.
mari kita datangi bapak
KERJA:
Selamat pagi pak pak, istribapak sangat ingin membantu bapak mengendalikan
suara-suara yang sering bapak dengar. Untuk itu pagi ini istri bapak datang untuk
mempraktekkan cara memutus suara-suara yang bapak dengar. pak nanti kalau
sedang dengar suara-suara bicara atau tersenyum-senyum sendiri, maka Ibu akan
mengingatkan seperti ini Sekarang, coba ibu peragakan cara memutus halusinasi
yang sedang bapak alami seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya. Tepuk
punggung bapak lalu suruh bapak mengusir suara dengan menutup telinga dan
menghardik suara tersebut (saudara mengobservasi apa yang dilakukan keluarga
terhadap pasien)Bagus sekali!Bagaimana pak? Senang dibantu Ibu? Nah Bapak/Ibu
ingin melihat jadwal harian bapak. (Pasien memperlihatkan dan dorong
istri/keluarga memberikan pujian) Baiklah, sekarang saya dan istri bapak ke ruang
perawat dulu (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan
terminasi dengan keluarga
TERMINASI:
Bagaimana perasaan Ibu setelah mempraktekkan cara memutus halusinasi
langsung dihadapan Bapak?
Dingat-ingat pelajaran kita hari ini ya Bu. ibu dapat melakukan cara itu bila
Bapak mengalami halusinas.
bagaimana kalau kita bertemu dua hari lagi untuk membicarakan tentang jadwal
kegiatan harian Bapak. Jam berapa Ibu bisa datang?Tempatnya di sini ya. Sampai
jumpa.

SP 3 Keluarga : Menjelaskan perawatan lanjutan


ORIENTASI
Selamat pagi Bu, sesuai dengan janji kita kemarindan sekarang ketemu untuk
membicarakan jadual bapak selama dirumah
Nah sekarang kita bicarakan jadwal bapak di rumah? Mari kita duduk di ruang
tamu!
Berapa lama Ibu ada waktu? Bagaimana kalau 30 menit?
KERJA
Ini jadwal kegiatan bapak yang telah disusun. Jadwal ini dapat dilanjutkan. Coba
Ibu lihat mungkinkah dilakukan. Siapa yang kira-kira akan memotivasi dan
mengingatkan? Bu jadwal yang telah dibuat tolong dilanjutkan, baik jadwal
aktivitas maupun jadwal minum obatnya
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh
bapak selama di rumah.Misalnya kalau bapak terus menerus mendengar suara-suara
yang mengganggu dan tidak memperlihatkan
perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan
orang lain. Jika hal ini terjadi segera bawa kerumah sakit untuk dilakukan
pemeriksaan ulang dan di berikan tindakan
TERMINASI
Bagaimana Ibu? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan cara-cara merawat
bapak Bagus(jika ada yang lupa segera diingatkan oleh perawat. Ini jadwalnya.
Sampai jumpa
REFERENSI

Keliat, Budi Anna dkk. (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2.
Jakarta:EGC
Keliat, Budi Anna dkk. (2009). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2.
Jakarta:EGC
Maramis WF. 2005. Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya:Airlangga University
Press.
Stuart, Laraia. 2001. Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi 6. St.
Louis: Mosby Year Book.
Videbeck, Sheila L,. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Yosep, Iyus. (2010). Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama