Anda di halaman 1dari 4

Prinsip dasar advokasi

Uraian di atas menunjukan bahwa advokasi mempunyai dimensi yang sangat luas dan
komprahensif sekali, advokasi bukan sekedar melakukan lobi-lobi politik, tetapi mencakup
kegiatan persuasive, memberikan semangat, dan bahkan sampai memberikan pressure atau
tekanan pada pimpinan atau institusi, advokasi tidak hanya dilakukan oleh individu,tetapi juga
oeh kelompok/organisasi,maupun masyarakat, tujuan utama advokasi adalah untuk mendorong
dikeluarkannya kebijakan-kebijakan public oleh para pejabat public sehingga dapat menyokong
atau menguntungkan kesehatan (to encourage public policies that are supportive to health).
Misalnya keluarnya peraturan daerah tentang menjaga kebersihan kota, yang memuat tentang
peraturan-peraturan dan sangsi-sangsi apabila warga kota melanggar peraturan daerah tersebut,

Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa advokasi adalh kombinasi antara pendekatan
atau kegiatan individu dan social untuk memperoleh komitmen politik dukungan kebijakan
penerimaan social dan adanya system yang mendukung terhadap suatu program atau kegiatan.
Untuk mencapai tujuan advokasi ini, dapat di wujudkan dengan berbagai kegiatan atau
pendekatan untuk melakukan kegiatan advokasi yang efektif memerlukan argument yang kuat.
Oleh sebab itu prinsip-prinsip advokasi ini akan membahas tentang tujuan, kegiatan, dan
argumentasi-argumentasi advokasi.

Dari batasan advokasi tersebut, secara inklusif terkandung tujuan-tujuan advokasi, yakni:
political commitment, policy support, social acceptance, dan sytem support.

a. Komitmen politik (political commitment)


Komitmen para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di tingkat dan disektor
mana pun terhadap permasalahan kesehatan dan upaya pemecahan permasalahan
kesehatan tersebut. Pembangunan nasional tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan politik
yang sedang berjalan. Oleh sebab itu, pembangunan di sector kesehatan juga tidak
terlepas dari kondisi dan kondisi dan situasi politik pada saat inii. Baik kekuasaan
eksekutif maupun legislative di Negara manapun, ditentukan oleh proses politik
utamanya hasil pemilihan umum pada waktu yang lampau. Seberapa jauh komitmen
politik para eksekutif dan legislative terhadap masalah kesehatan masyarakat ditentukan
oleh pemahaman mereka terhadap masalah-masalah kesehatan.

Demikian pula seberapa jauh mereka mengalokasikan anggaran pembangunan


nasional bagi pembangunan sector kesehatan juga tergantung pada cara pandang dan
kepedulian (conceren) mereka terhadap kesehatan dalam konteks pembagunan nasional
oleh sebab itu, untuk meningatkan komitmen para eksekutif dan legislative terhadap
kesehatan perlu advokasi kepada mereka ini. Komitmen politik ini dapat diwujudkan
antara lain dengan pertanyaan-pertanyaan baik secara lisan maupun tulisan dari para
pejabat eksekuutif maupun legislative mengenai dukungan atau persetujuan terhadap isu-
isu kesehatan misalnya : pembahasan tentang naiknya anggaran untuk sektor kesehatan
pembahasan rencana undang-undang tentang lingkungan oleh parlemen dan sebagainya
contoh konkrit di Indonesia antara lain pencanangan pekan imunisasi nasional oleh
presiden, pencanangan atau penandatanganan deklarasi Inndonesia Sehat 2010 oleh
presiden. Hal itu semua adalah merupakan keputusan politik yang harus didukung oleh
semua pejabat lintas sektoral disemua tingkat administrasi pemerintahan.

b. dukungan kebijakan policy support (polisi support)

dukungan konkrit yang diberika n oleh para pimpinan institusi di semua tingkat
dan di semua sektor yang terkait dalam rangka mewujudkan pembangunan di sektor
kesehatan dukungan politik tidak akan berarti tanpa dilanjutkan dengan dikeluarkan
kebijakan yang konkrit dari para pembuat keputusan tersebut oleh sebab itu setelah
adanya komitmen politik dari para eksekutif maka perlu ditindak lanjuti dengan advokasi
lagi agar dikeluarkan kebijakan untuk mendukung program yang telah memperoleh
komitmen politik tersebut. Dukungan kebijakan ini dapat berupa undang-undang
peraturan pemerintah atau peraturan daerah, surat keputusan pimpinan institusi baik
pemerintah maupun swasta, instruksi atau surat edaran dari para pemimpin lembaga/
institusi, dan sebagainya.misalnya kasus di indonesia dengan adanya komitmen poltik
tentang Indonesia Sehat 2010 maka jajaran department kesehatan dan kesejahteraan
sosial harus menindak lanjutinya dengan upaya memperoleh dukungan kebijakan dengan
adanya PP,KEPRES, termasuk juga kebijakan alokasi anggaran kesehatan yang memadai,
dan sebagainya.

c. Penerimaan sosial (social acceptance)

penerimaan sosial artinya diterimanya suatu program oleh masyarakat suatu program
kesehatan apapun hendaknya memperoleh dukungan dari sasaran utama program tersebut, yakni
masyarakat, terutama tokoh masyarakat, oleh sebab itu apabila suatu program kesehatan yang
telah memperoleh komitmen dan dukungan keijakan maka langkah selanjutnya adalah
merisoliasasikan program tersebut untuk memperoleh dukungan masyarakat. Untuk sosialisasi
program, para petugas tingkat operasional atau lokal, misanya petugas dinas kesehatan
kabupaten dan puskesmas mempunyai peran yng sangat penting. Oleh sebab itu para petugas
tersebut juga memerlukan kemampuan advokasi. Untuk petugas kesehatan tingkat kabupaten
sasaran addvokasi adalah bupati, DPRD, Pejabat lintas sektoral di tingkat kabupaten, dan
sebagainya sedangkan sasaran advokasi petugas puskesmas, antara kepala wilayah kecamatan
pejabat lintas sektoral tk kecamatan, para tokoh masyarakat setempat dan sebagainya.

d. dukungan sistem (system support)

adanya sistem atau organisasi kerja yang memasukkan unit pelayanan atau program
kesehatan dalam suatu institusi atau pelayanan atau program kesehatan dalam institusi atau
sektor pembangunan adalah mengindikasikan adanya dukungan sistem. Agar suatu program atau
kegiatan berjalan dengan baik, maka perlu adanya sistem, mekanisme, atau prosedur kerja atau
organisasi kerja yang melibatkan kesehatan perlu dikembangkan. Mengingat bahwa masalah
kesehatan adalah sebagai dampak daari berbagai sektor, maka program untuk pemecahannya
atau penanggulangannya pun harus bersama-sama dengan sektor lain.

Dengan perkataan lain, semua sektor pembangunan yang mempunyai dampak terhadap
kesehatan harus memasukkan atau mempunyai atau sistem yang menangani masalah kesehatan
didalam struktur organisainya. Unit ini secara internal menangani masalah-masalah kesehatan
yang dihadapi oleh karyawannya, dan secara eksternal mengatasi dampak institusi terhadap
kesehatan masyarakat. Misalnya, suatu industri harus mempunyai poliklinik atau k3 (Kesehatan
dan keselamatan Kerja), dan mempunyai unit amdal (Analisis Dampak Lingkungan).

Dalam mengembangkan organisasi atau sistem kerja suatu institusi terutama yang
mempunyai dampak terhadap kesehatan perlu mempertimbangkan adanya unit kesehatan
tersebut.terwujudnya unit kesehatan didalam suatu organisasi kerja di industry-industri atau
institusi-institusi tersebut di perlukan pendekatan advokasi oleh sector di semua tingkat.

Seperti di sebutkan sebelumnya, bahwa sasaran utama advokasi adalah para pembuat atau
penentu kebijakan (policy makers) dan para pembuat keputusan (decision makers) pada masing-
masing tingkat adminitrasi pemerintahan, dengan maksut agar mereka menyadari bahwa
kesehatan adalah merupakan asset social, politik, ekonomi dan sebagainya.Oleh sebab itu,
dengan memprioritaskan kesehatan,akan mempunyai dampak peningkatan produktifitas
masyarakat secara sosil dan ekonomi. Selanjutnya dengan meningkatnya ekonomi dalam suatu
masyrakat, baik secara makro maupun mikro, akan memudahkan para pejabat atau penentu
kebijakan tersebut memperoleh pengaruh atau dukungan politik dari masyarakat.

Secara nasional advokasi kesehatan adalah meningkatkan perhatian public terhadap


kesehatan, dan meningkatkan alokasi sumberdaya untuk kesehatan. Kedua hal ini harus dimulai
dari penentu kebijakan tingkat pusat, yakni pemerintahan pusat. Indicator keberhasilan advokasi
tingkat pusat yang paling utama adalah meningktmya angaran kesehatan didalam anggaran
pendapatan dan belanja Negara (nasional budget)

Ditingkat pemerintah daerah (local government), baik provinsi maupun kabupaten,


advokasi kesehatan dapat dilakukan terhadap para pejabat pemerintah daerah. Seperti di tingkat
pusat, advokasi di tingkat daerah ini dilakukan oleh pejabat sector kesehatan provinsi atau
kecamatan. Tujuan utama advokasi di tingkat ini adalah agar program kesehatan Memperoleh
prioritar tinggi dalam pembangunan daerah yang bersangkutan. Implikasinya alokasi sumber
daya, terutama anggaran kesehatan untuk daerah tersebut meningkat. Demikian pula dalam
dalam pengembangan sumberdaya manusia atau petugas kesehatan, seperti pelatihan- pelatihan
dan pendidikan lanjut, maka untuk sector kesehatan juga memperoleh prioritas.
Advokasi bukan hanya ditujukan kepada para pembuat keputusan, baik di tingkat
pusat maupun daerah dalam arti pemerintah saja, namun juga di lakukan kepada
pemimpin sector swasta atau pengusaha, dan para pemimpin lembaga swadaya
masyarakat (LSM) dengan. Kata lain, advokasi juga digunakan untuk menjalin kemitraan
(partnership) dengan para pengusaha (bisnis) dan LSM. Tujuan utama advokasi terhadap
sasaran ini adalah terbentuknya kemitraan antara sector kesehatan dengan para pengusaha
dan LSM. Melalui kemitraan ini pada kelompok pengusaha dan LSM, memberkan
dukungan kepada program kesehatan, baik berupa dana,sarana dan prasarana serta
bantuan teknis lainnya.