Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POST


PARTUM DENGAN PERDARAHA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan

hidayahnya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.

Shalawat dan salam tercurah selalu kepada junjunan kita Nabi Muhammad SAW, pada

keluarganya, sahabatnya dan kita selaku umatnya yang senantiasa mengikuti ajarannya.

Amin.

Makalah ini berjudul Asuhan Keperawatan pada ibu dengan Perdarahan Post

Partum. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas yang

diberikan oleh Ibu Hani Handayani, S.Kep, Ners.

Penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua anggota kelompok 1 yang

sudah mengerjakan tugasnya dengan baik, tanpa ada kerja sama yang baik diantara kami pasti

makalah ini tidak akan selesai.

Penyusun menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh

karena itu dengan segala kerendahan hati penyusun mengharapkan kritik dan saran dari
semua pihak demi kesempurnaan makalah ini. Insya Allah makalah ini bermanfaat khususnya

bagi penulis dan umumnya bagi semuanya.

Tasikmalaya, 30 Nopember 2011

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................ i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1

B. Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2

C. Metode Penulisan ....................................................................................... 2

D. Sistematika Penulisan ................................................................................. 2


BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ................................................................................................... 3

B. Klasifikasi ................................................................................................... 3

C. Etiologi.............................................................................. ............................ 4

D. Manifestasi Klinis ...................................................................................... 5

E. Patofisiologi ................................................................................................ 7

F. Pemeriksaan Penunjang .............................................................................. 14

G. Terapi 15

H. Pemeriksaan Fisik ....................................................................................... 18

I. Asuhan Keperawatan ................................................................................... 21


BAB III PENUTUP
A. Simpulan ..................................................................................................... 28
B. Saran ........................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perdarahan post partum merupakan penyebab kematian maternal terbanyak. Semua

wanita yang sedang hamil 20 minggu memiliki resiko perdarahan post partum dan

sekuelenya. Walaupun angka kematian maternal telah turun secara drastis di negara-negara

berkembang, perdarahan post partum tetap merupakan penyebab kematian maternal

terbanyak dimana-mana.

Kehamilan yang berhubungan dengan kematian maternal secara langsung di Amerika

Serikat diperkirakan 7 10 wanita tiap 100.000 kelahiran hidup. Data statistik nasional

Amerika Serikat menyebutkan sekitar 8% dari kematian ini disebabkan oleh perdarahan post

partum. Di negara industri, perdarahan post partum biasanya terdapat pada 3 peringkat teratas

penyebab kematian maternal, bersaing dengan embolisme dan hipertensi. Di beberapa negara

berkembang angka kematian maternal melebihi 1000 wanita tiap 100.000 kelahiran hidup,

dan data WHO menunjukkan bahwa 25% dari kematian maternal disebabkan oleh perdarahan

post partum dan diperkirakan 100.000 kematian matenal tiap tahunnya.

B. Tujuan

a. Tujuan Umum :

Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas.

b. Tujuan Khusus :

Mengetahui tentang pengertian perdarahan post partum.

Mengetahui jenis-jenis post partum.

Mengetahui etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, pemeriksaan

fisik dan asuhan keperawatan pada ibu post partum perdarahan.


C. Metode Penulisan

Dalam menyelesaikan makalah ini, kami mengunakan metode diskusi kelompok. Teknik

pengambilan data tersebut menggunakan cara studi pustaka, yang mana penulis mencari

berbagai sumber dan referensi yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada ibu post

partum dengan perdarahan.

D. Sistematika Penulisan

Dalam penyusunan makalah ini, penulis membagi dalam tiga bab, yaitu BAB I

Pendahuluan yang berisi: latar belakang penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan,

sistematika penulisan. BAB II Pembahasan yang berisi: Definisi, Etiologi, patofisiologi,

manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, pemeriksaan fisik dan asuhan keperawatan pada

ibu post partum perdarahan. BAB III Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah

anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta.

Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-600 cc dalam 24

jam setelah anak dan plasenta lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, 1998).

Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam

pertama setelah lahirnya bayi (Williams, 1998).

HPP biasanya kehilangan darah lebih dari 500 ml selama atau setelah kelahiran(Marylin E

Dongoes, 2001).

B. Klasifikasi

Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:

- Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir.

- Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir.

Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi

perdarahan post partum :

1. Menghentikan perdarahan.

2. Mencegah timbulnya syok.

3. Mengganti darah yang hilang.

Frekuensi perdarahan post partum 4/5-15 % dari seluruh persalinan. Berdasarkan

penyebabnya :
1. Atoni uteri (50-60%).

2. Retensio plasenta (16-17%).

3. Sisa plasenta (23-24%).

4. Laserasi jalan lahir (4-5%).

5. Kelainan darah (0,5-0,8%).

C. Etiologi

Penyebab umum perdarahan postpartum adalah:

1. Atonia Uteri

2. Retensi Plasenta

3. Sisa Plasenta dan selaput ketuban

Pelekatan yang abnormal (plasenta akreta dan perkreta).

Tidak ada kelainan perlekatan (plasenta seccenturia).

4. Trauma jalan lahir

Epiostomi yang lebar

Lacerasi perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim.

Rupture uteri.

5. Penyakit darah

Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia / hipofibrinogenemia. Tanda yang

sering dijumpai yaitu :

Perdarahan yang banyak,

Solusio Plasenta,

Kematian janin yang lama dalam kandungan,

Pre eklampsia dan eklampsia.

Infeksi, hepatitis dan syok septic.

6. Hematoma
7. Inversi Uterus

8. Subinvolusi Uterus

Hal-hal yang dicurigai akan menimbulkan perdarahan pasca persalinan yaitu;

Riwayat Persalinan yang kurang baik, misalnya:

1. Riwayat perdarahan pada persalinan yang terdahulu.

2. Grande multipara (lebih dari empat anak).

3. Jarak kehamilan yang dekat (kurang dari dua tahun).

4. Bekas operasi Caesar.

5. Pernah abortus (keguguran) sebelumnya.

Hasil pemeriksaan waktu bersalin, misalnya:

1. Persalinan/kala II yang terlalu cepat, sebagai contoh setelah ekstraksi vakum, forsep.

2. Uterus terlalu teregang, misalnya pada hidramnion, kehamilan kembar, anak besar.

3. Uterus yang kelelahan, persalinan lama.

4. Uterus yang lembek akibat narkosa.

5. Inversi uteri primer dan sekunder.

D. Manifestasi Klinis

Gejala Klinis umum yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (>

500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih, dan dapat

terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, mual.

Gejala Klinis berdasarkan penyebab:

a. Atonia Uteri

Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan segera setelah

anak lahir (perarahan postpartum primer)Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok (tekanan

darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain)
b. Robekan jalan lahir

Gejala yang selalu ada: perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah bayi lahir,

kontraksi uteru baik, plasenta baik. Gejala yang kadang-kadang timbul: pucat, lemah,

menggigil.

c. Retensio plasenta

Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera, kontraksi

uterus baik.

Gejala yang kadang-kadang timbul: tali pusat putus akibat traksi berlebihan, inversi uteri

akibat tarikan, perdarahan lanjutan

d. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)

Gejala yang selalu ada : plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak

lengkap dan perdarahan segera

Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak

berkurang.

e. Inversio Uterus

Gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat (jika

plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau berat.

Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok neurogenik dan pucat.

E. Patofisiologi

Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan

sirkulasi, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga
pembuluh darah-pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup sempurna sehingga

perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti epiostomi yang lebar, laserasi

perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh

darah, penyakit darah pada ibu; misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak

ada atau kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan

penyebab dari perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada

keadaan shock hemoragik.

Perbedaan perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir

adalah:

Atonia uteri (sebelum/sesudah plasenta lahir).

1. Kontraksi uterus lembek, lemah, dan membesar (fundus uteri masih tinggi.

2. Perdarahan terjadi beberapa menit setelah anak lahir.

3. Bila kontraksi lemah, setelah masase atau pemberian uterotonika, kontraksi yang lemah

tersebut menjadi kuat.

Robekan jalan lahir (robekan jaringan lunak).

1. Kontraksi uterus kuat, keras dan mengecil.

2. Perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir. Perdarahan ini terus-menerus.

Penanganannya, ambil spekulum dan cari robekan.

3. Setelah dilakukan masase atau pemberian uterotonika langsung uterus mengeras tapi

perdarahan tidak berkurang.

Perdarahan Postpartum akibat Atonia Uteri


Perdarahan postpartum dapat terjadi karena terlepasnya sebagian plasenta dari rahim dan

sebagian lagi belum karena perlukaan pada jalan lahir atau karena atonia uteri. Atoni uteri

merupakan sebab terpenting perdarahan postpartum.

Atonia uteri dapat terjadi karena proses persalinan yang lama; pembesaran rahim yang

berlebihan pada waktu hamil seperti pada hamil kembar atau janin besar; persalinan yang

sering (multiparitas) atau anestesi yang dalam. Atonia uteri juga dapat terjadi bila ada usaha

mengeluarkan plasenta dengan memijat dan mendorong rahim ke bawah sementara plasenta

belum lepas dari rahim.

Perdarahan yang banyak dalam waktu pendek dapat segera diketahui. Tapi bila

perdarahan sedikit dalam waktu lama tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah

sebelum tampak pucat dan gejala lainnya. Pada perdarahan karena atonia uteri, rahim

membesar dan lembek.

Terapi terbaik adalah pencegahan. Anemia pada kehamilan harus diobati karena

perdarahan yang normal pun dapat membahayakan seorang ibu yang telah mengalami

anemia. Bila sebelumnya pernah mengalami perdarahan postpartum, persalinan berikutnya

harus di rumah sakit. Pada persalinan yang lama diupayakan agar jangan sampai terlalu lelah.

Rahim jangan dipijat dan didorong ke bawah sebelum plasenta lepas dari dinding rahim.

Pada perdarahan yang timbul setelah janin lahir dilakukan upaya penghentian perdarahan

secepat mungkin dan mengangatasi akibat perdarahan. Pada perdarahan yang disebabkan

atonia uteri dilakukan massage rahim dan suntikan ergometrin ke dalam pembuluh balik. Bila

tidak memberi hasil yang diharapkan dalam waktu singkat, dilakukan kompresi bimanual

pada rahim, bila perlu dilakukan tamponade utero vaginal, yaitu dimasukkan tampon kasa

kedalam rahim sampai rongga rahim terisi penuh. Pada perdarahan postpartum ada

kemungkinann dilakukan pengikatan pembuluh nadi yang mensuplai darah ke rahim atau

pengangkatan rahim.
Adapun Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri : Umur, Paritas, Partus lama dan

partus terlantar, Obstetri operatif dan narkosa, Uterus terlalu regang dan besar misalnya pada

gemelli, hidramnion atau janin besar, Kelainan pada uterus seperti mioma uterii, uterus

couvelair pada solusio plasenta, Faktor sosio ekonomi yaitu malnutrisi.

Perdarahan Pospartum akibat Retensio Plasenta

Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama 1 jam setelah bayi

lahir.

Penyebab retensio plasenta :

1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Menurut

tingkat perlekatannya :

a. Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam.

b. Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua endometrium

sampai ke miometrium.

c. Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa.

d. Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum dinding rahim.

2. Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atonia uteri atau

adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat kesalahan penanganan kala III)

yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata).

Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian

plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan indikasi untuk segera

mengeluarkannya.Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum

penuh. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan.


Perdarahan Postpartum akibat Subinvolusi

Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi, dan keadaan

ini merupakan salah satu dari penyebab terumum perdarahan pascapartum. Biasanya tanda

dan gejala subinvolusi tidak tampak, sampai kira-kira 4 hingga 6 minggu pascapartum.

Fundus uteri letaknya tetap tinggi di dalam abdomen/ pelvis dari yang diperkirakan. Keluaran

lokia seringkali gagal berubah dari bentuk rubra ke bntuk serosa, lalu ke bentuk lokia alba.

Lokia bisa tetap dalam bentuk rubra, atau kembali ke bentuk rubra dalam beberapa hari

pacapartum. Lokia yang tetap bertahan dalam bentuk rubra selama lebih dari 2 minggu

pascapatum sangatlah perlu dicurigai terjadi kasus subinvolusi. Jumlah lokia bisa lebih

banyak dari pada yang diperkirakan. Leukore, sakit punggung, dan lokia berbau menyengat,

bisa terjadi jika ada infeksi. Ibu bisa juga memiliki riwayat perdarahan yang tidak teratur,

atau perdarahan yang berlebihan setelah kelahiran.

Perdarahan Postpartum akibat Inversio Uteri

Inversio Uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya

masuk ke dalam kavum uteri. Uterus dikatakan mengalami inverse jika bagian dalam menjadi

di luar saat melahirkan plasenta. Reposisi sebaiknya segera dilakukan dengan berjalannya

waktu, lingkaran konstriksi sekitar uterus yang terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi

darah.

Pembagian inversio uteri :

1. Inversio uteri ringan : Fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum uteri namun belum

keluar dari ruang rongga rahim.

2. Inversio uteri sedang : Terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina.


3. Inversio uteri berat : Uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah keluar vagina.

Penyebab inversio uteri :

1. Spontan : grande multipara, atoni uteri, kelemahan alat kandungan, tekanan intra abdominal

yang tinggi (mengejan dan batuk).

2. Tindakan : cara Crade yang berlebihan, tarikan tali pusat, manual plasenta yang dipaksakan,

perlekatan plasenta pada dinding rahim.

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya inversio uteri :

1. Uterus yang lembek, lemah, tipis dindingnya.

2. Tarikan tali pusat yang berlebihan.

Frekuensi inversio uteri : angka kejadian 1 : 20.000 persalinan.

Gejala klinis inversio uteri :

Dijumpai pada kala III atau post partum dengan gejala nyeri yang hebat, perdarahan yang

banyak sampai syok. Apalagbila plasenta masih melekat dan sebagian sudah ada yang

terlepas dan dapat terjadi strangulasi dan nekrosis.

Pemeriksaan dalam :

1. Bila masih inkomplit maka pada daerah simfisis uterus teraba fundus uteri cekung ke dalam.

2. Bila komplit, di atas simfisis uterus teraba kosong dan dalam vagina teraba tumor lunak.

3. Kavum uteri sudah tidak ada (terbalik).

Perdarahan Postpartum Akibat Hematoma

Hematoma terjadi karena kompresi yang kuat disepanjang traktus genitalia, dan tampak

sebagai warna ungu pada mukosa vagina atau perineum yang ekimotik. Hematoma yang kecil

diatasi dengan es, analgesic dan pemantauan yang terus menerus. Biasanya hematoma ini

dapat diserap kembali secara alami.


Perdarahan Postpartum akibat Laserasi /Robekan Jalan Lahir

Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan postpartum.

Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan postpartum dengan uterus

yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robelan servik atau vagina.

Robekan Serviks

Persalinan Selalu mengakibatkan robekan serviks sehingga servik seorang multipara berbeda

dari yang belum pernah melahirkan pervaginam. Robekan servik yang luas menimbulkan

perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang

tidak berhenti, meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi dengan

baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir, khususnya robekan servik uteri.

Robekan Vagina

Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering dijumpai.

Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat

ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan terdapat pada

dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan speculum.

Robekan Perineum

Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada

persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bisa menjadi

luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa,

kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkum

ferensia suboksipito bregmatika.

Laserasi pada traktus genitalia sebaiknya dicurigai, ketika terjadi perdarahan yang

berlangsung lama yang menyertai kontraksi uterus yang kuat.

F. Pemeriksaan Penunjang
a. Golongan darah : menentukan Rh, ABO dan percocokan silang.

b. Jumlah darah lengkap : menunjukkan penurunan Hb/Ht dan peningkatan jumlah sel darah

putuih (SDP). (Hb saat tidak hamil:12-16gr/dl, saat hamil: 10-14gr/dl. Ht saat tidak

hamil:37%-47%, saat hamil:32%-42%. Total SDP saat tidak hamil 4.500-10.000/mm3. saat

hamil 5.000-15.000).

c. Kultur uterus dan vagina : mengesampingkan infeksi pasca partum.

d. Urinalisis : memastikan kerusakan kandung kemih.

e. Profil koagulasi : peningkatan degradasi, kadar produk fibrin/produk split fibrin (FDP/FSP),

penurunan kadar fibrinogen : masa tromboplastin partial diaktivasi, masa tromboplastin

partial (APT/PTT), masa protrombin memanjang pada KID.

Sonografi : menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan.

G. Terapi

Dengan adanya perdarahan yang keluar pada kala III, bila tidak berkontraksi dengan

kuat, uterus harus diurut :

Pijat dengan lembut boggi uterus, sambil menyokong segmen uterus bagian bawah untuk

menstimulasi kontraksi dan kekuatan penggumpalan. Waspada terhadap kekuatan pemijatan.

Pemijatan yang kuat dapat meletihkan uterus, mengakibatkan atonia uteri yang dapat

menyebabkan nyeri. Lakukan dengan lembut. Perdarahan yang signifikan dapat terjadi karena

penyebab lain selain atoni uteri.

Dorongan pada plasenta diupayakan dengan tekanan manual pada fundus uteri. Bila

perdarahan berlanjut pengeluaran plasenta secara manual harus dilakukan.

Pantau tipe dan jumlah perdarahan serta konsistensi uterus yang menyertai selama

berlangsungnya hal tersebut. Waspada terhadap darah yang berwarna merah dan uterus yang

relaksasi yang berindikasi atoni uteri atau fragmen plasenta yang tertahan. Perdarahan vagina
berwarna merah terang dan kontra indikasi uterus, mengindikasikan perdarahan akibat

adanya laserasi.

Berikan kompres es salama jam pertama setelah kelahiran pada ibu yang beresiko mengalami

hematoma vagina. Jika hematoma terbentuk, gunakan rendam duduk setelah 12 jam.

Pertahankan pemberian cairan IV dan mulai cairan IV kedua dengan ukuran jarum 18, untuk

pemberian produk darah, jika diperlukan. Kirim contoh darah untuk penentuan golongan dan

pemeriksaan silang, jika pemeriksaan ini belum dilakukan diruang persalinan.

Pemberian 20 unit oksitodin dalam 1000 ml larutan RL atau saline normal, terbukti efektif

bila diberikan infus intra vena + 10 ml/mnt bersama dengan mengurut uterus secara efektif.

Bila cara diatas tidak efektif, ergonovine 0,2 mg yang diberikan secara IV, dapat merangsang

uterus untuk berkontraksi dan berelaksasi dengan baik, untuk mengatasi perdarahan dari

tempat implantasi plasenta.

Pantau asupan dan haluaran cairan setiap jam. Pada awalnya masukan kateter foley untuk

memastikan keakuratan perhitungan haluaran.

Berikan oksigen malalui masker atau nasal kanula. Dengan laju 7-10 L/menit bila terdapat

tanda kegawatan pernafasan.

Terapi Perdarahan Postpartum karena Atonia

Bila terjadi perdarahan sebelum plasenta lahir (Retensia plasenta), ibu harus segera minta

pertolongan dokter rumah sakit terdekat. Untuk daerah terpencil dimana terdapat bidan, maka

bidan dapat melakukan tindakan dengan urutan sebagai berikut:

Pasang infus.

Pemberian uterotonika intravena tiga hingga lima unit oksitosina atau ergometrin 0,5 cc

hingga 1 cc.

Kosongkan kandung kemih dan lakukan masase ringan di uterus.


Keluarkan plasenta dengan perasat Crede, bila gagal, lanjutkan dengan;

Plasenta manual (seyogyanya di rumah sakit).

Periksa apakah masih ada plasenta yang tertinggal. Bila masih berdarah;

Dalam keadaan darurat dapat dilakukan penekanan pada fundus uteri atau kompresi aorta.

Bila perdarahan terjadi setelah plasenta lahir, dapat dilakukan:

Pemberian uterotonika intravena.

Kosongkan kandung kemih.

Menekan uterus-perasat Crede.

Tahan fundus uteri/(fundus steun) atau kompresi aorta.

Tentu saja, urutan di atas dapat dilakukan jika fasilitas dan kemampuan penolong

memungkinkan. Bila tidak, rujuk ke rumah sakit yang mampu melakukan operasi

histerektomi, dengan terlebih dahulu memberikan uterotonika intravena serta infus cairan

sebagai pertolongan pertama.

Perdarahan postpartum akibat laserasi/ Robekan Jalan Lahir

Perdarahan pasca persalinan yang terjadi pada kontraksi uterus yang kuat, keras, bisa terjadi

akibat adanya robekan jalan lahir (periksa dengan spekulum dan lampu penerangan yang

baik-red). Bila sudah dapat dilokalisir dari perdarahannya, jahitlah luka tersebut dengan

menggunakan benang katgut dan jarum bulat.

Untuk robekan yang lokasinya dalam atau sulit dijangkau, berilah tampon pada liang

senggama/vagina dan segera dirujuk dengan terlebih dahulu memasang infus dan pemberian

uterotonika intravena.

H. Pemeriksaan Fisik

a. Pemeriksaan TTV

1) Suhu Badan
Suhu biasanya meningkat sampai 380 C dianggap normal. Setelah satu hari suhu akan

kembali normal (360 C 370 C), terjadi penurunan akibat hipovolemia.

2) Nadi

Denyut nadi akan meningkat cepat karena nyeri, biasanya terjadi hipovolemia yang semakin

berat.

3) Tekanan Darah

Tekanan darah biasanya stabil, memperingan hipovolemia.

4) Pernafasan

Bila suhu dan nadi tidak normal, pernafasan juga menjadi tidak normal.

b. Pemeriksaan Khusus

Observasi setiap 8 jam untuk mendeteksi adanya tanda-tanda komplikasi dengan

mengevaluasi sistem dalam tubuh. Pengkajian ini meliputi :

1. Nyeri/ketidaknyamanan

Nyeri tekan uterus (fragmen-fragmen plasenta tertahan)

Ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung (hematoma)

2. Sistem vaskuler

Perdarahan di observasi tiap 2 jam selama 8 jam pertama, kemudian tiap 8 jam berikutnya.

Tensi diawasi tiap 8 jam.

Apakah ada tanda-tanda trombosis, kaki sakit, bengkak dan merah.

Haemorroid diobservasi tiap 8 jam terhadap besar dan kekenyalan.

Riwayat anemia kronis, konjungtiva anemis/sub anemis, defek koagulasi kongenital, idiopatik

trombositopeni purpura.

3. Sistem Reproduksi
a. Uterus diobservasi tiap 30 menit selama empat hari post partum, kemudian tiap 8 jam selama

3 hari meliputi tinggi fundus uteri dan posisinya serta konsistensinya.

b. Lochea diobservasi setiap 8 jam selama 3 hari terhadap warna, banyak dan bau.

c. Perineum diobservasi tiap 8 jam untuk melihat tanda-tanda infeksi, luka jahitan dan apakah

ada jahitannya yang lepas.

d. Vulva dilihat apakah ada edema atau tidak.

e. Payudara dilihat kondisi areola, konsistensi dan kolostrum.

f. Tinggi fundus atau badan terus gagal kembali pada ukuran dan fungsi sebelum kehamilan

(sub involusi).

4. Traktus urinarius

Diobservasi tiap 2 jam selama 2 hari pertama. Meliputi miksi lancer atau tidak, spontan dan

lain-lain.

5. Traktur gastro intestinal

Observasi terhadap nafsu makan dan obstipasi.

6. Integritas Ego

Kemungkinan cemas, ketakutan dan khawatir.

I. Asuhan Keperawatan

a) Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan. Pengkajian yang benar dan

terarah akan mempermudah dalam merencanakan tinfakan dan evaluasi dari tidakan yang

dilakasanakan. Pengkajian dilakukan secara sistematis, berisikan informasi subjektif dan

objektif dari klien yang diperoleh dari wawancara dan pemeriksaan fisik.

Pengkajian terhadap klien post meliputi :

Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical record dan lain

lain

Riwayat Kesehatan

Riwayat Kesehatan Dahulu

Riwayat penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal kronik, hemofilia, riwayat pre

eklampsia, trauma jalan lahir, kegagalan kompresi pembuluh darah, tempat implantasi

plasenta, retensi sisa plasenta.

Riwayat Kesehatan Sekarang

Keluhan yang dirasakan saat ini yaitu: kehilangan darah dalam jumlah banyak (>500ml),

Nadi lemah, pucat, lokea berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih, tekanan darah rendah,

ekstremitas dingin, dan mual.

Riwayat Kesehatan Keluarga

Adanya riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita hipertensi, penyakit jantung,

dan pre eklampsia, penyakit keturunan hemopilia dan penyakit menular.

Riwayat Obstetrik

a). Riwayat menstruasi meliputi: Menarche, lamanya siklus, banyaknya, baunya , keluhan waktu

haid, HPHT.

b). Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa, Usia mulai hamil.

c). Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu.

1. Riwayat hamil meliputi: Waktu hamil muda, hamil tua, apakah ada abortus, retensi plasenta.

2. Riwayat persalinan meliputi: Tua kehamilan, cara persalinan, penolong, tempat bersalin,

apakah ada kesulitan dalam persalinan anak lahir atau mati, berat badan anak waktu lahir,

panjang waktu lahir.

3. Riwayat nifas meliputi: Keadaan lochea, apakah ada pendarahan, ASI cukup atau tidak dan

kondisi ibu saat nifas, tinggi fundus uteri dan kontraksi.


d). Riwayat Kehamilan Sekarang

1. Hamil muda, keluhan selama hamil muda.

2. Hamil tua, keluhan selama hamil tua, peningkatan berat badan, tinggi badan, suhu, nadi,

pernafasan, peningkatan tekanan darah, keadaan gizi akibat mual, keluhan lain.

3. Riwayat antenatal care meliputi : Dimana tempat pelayanan, beberapa kali, perawatan serta

pengobatannya yang didapat.

Pola aktifitas sehari-hari.

a. Makan dan minum, meliputi komposisi makanan, frekuensi, baik sebelum dirawat maupun

selama dirawat. Adapun makan dan minum pada masa nifas harus bermutu dan bergizi,

cukup kalori, makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah

buahan.

b. Eliminasi, meliputi pola dan defekasi, jumlah warna, konsistensi. Adanya perubahan pola

miksi dan defeksi.

BAB harus ada 3-4 hari post partum sedangkan miksi hendaklah secepatnya dilakukan sendiri

(Rustam Mukthar, 1995 )

c. Istirahat atau tidur meliputi gangguan pola tidur karena perubahan peran dan melaporkan

kelelahan yang berlebihan.

d. Personal hygiene meliputi : Pola atau frekuensi mandi, menggosok gigi, keramas, baik

sebelum dan selama dirawat serta perawatan mengganti balutan atau duk.

b) Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang berlebihan.

2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovelemia.

3. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman perubahan pada status kesehatan atau

kematian, respon fisiologis.


4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, Stasis cairan tubuh,

penurunan Hb.

5. Resiko tinggi terhadap nyeri berhubungan dengan trauma/ distensi jaringan.

6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemajanan atau tidak mengenal sumber

informasi.

c) Rencana Keperawatan pada pasien perdarahan postpartum

No Diagnosa Intervensi Rasional

1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan vaskuler berlebihan.

DO :

Hipotensi

Peningkatan nadi,

Penurunan volume urin,

Membran mukosa kering,

Perlambatan pengisian kapiler.

DS :

Ibu mengatakan urin sedikit.

Ibu mengatakan pusing dan pucat.

Ibu mengatakan kulit kering dan bersisik.

Tujuan :

Volume cairan adekuat.

Hasil yang diharapkan:

TTV stabil.

Pengisian kapiler cepat.

Haluaran urine adekuat.


Intervensi

Mandiri:

1. Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan, perhatikan faktor-faktor penyebab atau

memperberat perdarahan seperti laserasi, retensio plasenta, sepsis, abrupsio plasenta, emboli

cairan amnion.

2. Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan ; timbang dan hitung pembalut ; simpan

bekuan darah, dan jaringan untuk dievaluasi oleh dokter.

3. Kaji lokasi uterus dan derajat kontraktilitas uterus. Dengan perlahan masase penonjolan

uterus dengan satu tangan sambil menempatakan tangan kedua tepat diatas simfisis pubis.

4. Perhatikan hipotensi / takikardia, perlambatan pengisian kapiler atau sianosis dasar, kuku,

membran mukosa dan bibir.

5. Pantau parameter hemodinamik, seperti tekanan vena sentral atau tekanan bagi arteri

pulmonal, bila ada.

6. Pantau masukan aturan puasa saat menentukan status/kebutuhan klien.

7. Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis.

Membantu dalam membuat rencana perawatan yang tepat dan untuk memberikan kesempatan

mencegah terjadinya komplikasi.

Perkiraan kehilangan darah, arternal versus vena dan adanya bekuan-bekuan membantu

membuat diagnosa banding dan menentukan kebutuhan penggantian (catatan : satu gram

peningkatan berat pembalut sama dengan kira-kira 1 ml kehilangan darah).

Derajat kontraktilitas uterus membantu dalam diagnosa banding. Peningkatan kontraktilitas

miometrium dapat menurunkan kehilangan darah. Penempatan satu tangan diatas simfisis

pubis mencegah kemungkinan inversi uterus selama messase.


Tanda-tanda ini menunjukkan hipovolemik dan terjadinya syok. Perubahan pada Tekanan

Darah tidak dapat dideteksi sampai volume cairan telah menurun sampai 30-50%. Sianosis

adalah tanda akhir dari hipoksia (rujuk pada DK : perfusi jaringan, perubahan).

Memberikan pengukuran lebih langsung dari volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian.

Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikasi kehilangan cairan. Volume perfusi/sirkulasi

adekuat ditunjukkan dengan haluaran 30-50 ml/jam atau lebih besar.

Meningkatkan relaksasi dapat menurunkan ansietas dan kebutuhan metabolik.

2 . Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia.

DO :

Penurunan pulsasi arteri,

Ekstremitas dingin,

Perubahan tanda-tanda vital,

Pelambatan pengisian kapiler,

Penurunan produksi ASI.

DS:

Ibu mengatakan Asi sedikit.

Ibu mengatakan tangan dan kakinya dingin.

Tujuan : Tidak terjadi perfusi jaringan.

Kriteria hasil :

Menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal.

Ekstremitas hangat.

Kapiler refill <> 35 tahun.

Paritas > 3 kali.

Inaktivitas

Kelahiran cesar
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak

lahir. Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu, Early Postpartum yang

terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir, dan Late Postpartum yang terjadi lebih dari 24 jam

pertama setelah bayi lahir.

Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi

perdarahan post partum adalah menghentikan perdarahan, mencegah timbulnya syok, dan

mengganti darah yang hilang.

Frekuensi perdarahan post partum 4/5-15 % dari seluruh persalinan. Berdasarkan

penyebabnya :

Atoni uteri (50-60%).

Retensio plasenta (16-17%).

Sisa plasenta (23-24%).

Laserasi jalan lahir (4-5%).

Kelainan darah (0,5-0,8%).

B. Saran

Mahasiswa dapat memahami dan mengerti mengenai konsep perdarahan post partum,

memahami tentang Definisi, Etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan

penunjang, pemeriksaan fisik dan dapat memberikan Asuhan Keperawatan yang tepat pada

ibu perdarahan post partum.