Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENALAN TANAMAN DUA MUSIM

Oleh :
Golongan A/Kelompok 1
1. Agus Fatoni (141510501247)
2. Salsabila Alifia (171510301067)
3. Vena Asri (171510701045)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


LABORATURIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman dua musim atau yang lebih dikenal dengan biennial adalah salah
satu cara pertumbuhan atau daur hidup tanaman dimana tanaman yang termasuk
biennial membutuhkan waktu selama dua musim atau dua tahun untuk
menyempurnakan siklus hidupnya. Setelah tanaman biennial menyelesaikan satu
kali putaran siklus hidupnya, biasanya tanaman akan mati dan kemudian akan
tumbuh tanaman baru yang siap untuk melakukan pertumbuhan. Tanaman
biennial menggunakan musim pertamanya untuk membentuk tubuh tanaman
seperti daun, batang, akar untuk perkembangannya pada musim kedua. Kegiatan
pada musim pertama ini disebut sebagai fase vegetatif. Setelah tanaman melewati
fase vegetatif, tanaman akan melakukan dormansi, yaitu kegiatan menyimpan
cadangan makanan sebagai bekal untuk memasuki musim kedua.
Di musim kedua tanaman memasuki fase generatif yang merupakan
puncak dari siklus hidupnya. Di fase ini tanaman mulai menghasilkan bunga,
buah, daan umbi, dan setelah tanaman dipanen, maka tanaman akan mati. Jika
dalam keaadaan normal tanaman bisa melewati dua musim secara sempurna
selama dua tahun, tapi dalam keadaan dengan iklim yang ekstrim tanaman akan
tumbuh lebih cepat, sekitar tiga sampai empat bulan.
Tanaman biennial mempunyai contoh tanaman yang beragam, salah
satunya adalah pisang. Pisang merupakan buah favorit semua kalangan, mulai dari
anak-anak sampai lansia. Oleh karena itu, dalam acara ini praktikan diajak untuk
mengidentifikasi salah satu tanaman biennial meliputi dari taksonominya, bagian-
bagian tanaman dan ciri-ciri morfologinya.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan mengenal tanaman dua musim baik fungsinya bagi
manusia, taksonomi, morfologi maupun teknik budidayanya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman dua musim atau dwitahunan adalah tanaman yang dapat hidup
selama dua musim untuk tuumbuh dan memenuhi siklusnya. Siklus yang terjadi
pada tanaman dua musiman dimulai dari siklus perkecambahan, pertumbuhan
vegetatif, pembungaan, menghasilkan biji dan kemudian mati, karena tanaman
dua musim tidak akan mati jika belum mengasilkan cadangan makanan berupa
biji sebagai bakal regenerasi berikutnya. Tanaman dwitahunan pada musim
pertama akan dimanfaatkan untuk menyipan cadangan makanan yang nantinya
akan dijadikan suatu produk atau bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh
manuasia seperti biji, buah, batang atau umbi ( Campbell dkk., 2003 )
Pisang merupakan tanaman herba dua musim biennial yang tidak
membentuk jaringan sekunder diatas permukaan tanah yang berasal dari kawasan
Asia Tenggara ( termasuk Indonesia ). Persebaran pisang meluas hingga kawasan
Afrika, Amerika Selatan dan beberapa penjuru dunia lainya serta dapat dijumpai
pada kawasan beriklim tropis dan subtropis. Berdasarkan taksonominya, pisan
dikelompokan menjadi Kingdom : Plantae, Divisi : Spermatophyta, Kelas :
Monocotyledone, Ordo: Zingeberales, Famili : Musaceae, Genus :
Musa, Spesies : Musa paradisiaca. Syarat tumbuh pisang yang ideal adalah
tumbuh pada ketinggian di bawah 1000 mdpl dengan iklim basah atau curah hujan
merata sepanjang tahun dengan kedalaman air tanah sekitar 50 200 Cm pada pH
4,5 7,5 ( Supriyadi dan Suyanti, 2008 ).
Tanaman-tanaman dua musim seperti pisang, tebu, singkong, ketela
rambat, kubis dan sebagainya membutuhkan dua musim yang berbeda untuk
menyelesaikan siklus hidupnya denga beberapa fase-fase pertumbuhan dan
perkembanganya. Untuk musim pertama biasanya digunakan tanaman untuk fase
pertumbuhan vegetatif yang mana untuk mempersiapkan cadangan nutrisi dan
fase berikutnya adalah fase vegetatif dimana cadangan makanan diekspresikan
melalui terbentuknya buah atau umbi yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh
manusia. Namun kualitas pertumuhan dan perkembangan pada tanaman
dipengaruhi oleh interaksi antara faktor lingkungan dengan faktor genetik
tanaman. tergantung pada interaksi antara faktor lingkungan dengan faktor genetik
tanaman. Faktor genetik berkaitan dengan karakteristik yang biasanya bersifat
khas pada tanaman. Sedangkan faktor lingkungan berperan mengontrol potensi
tanaman salah satunya adalah iklim/cuaca. Cuaca yang ektrim juga dapat
memaksa tanaman untuk mempercepat kelangsungan hidupnya sehingga kualiatas
cadangan makanan yang terbentuk juga menurun (Suciantini, 2015).
Menurut Ambarita dkk.( 2015 ), karakteristikk morfologi dari masing-
masing varietas pisang memiliki ciri yang khas dan berbeda pada setiap bagian
dan fase-fase pertumbuhanya. Karakter-karakter tersebut diwakili dari beberapa
bagian seperti tinggi batang, warna batang, ketegakan daun, kenampakan
permukaan daun, bentuk permukaan daun, posisi tandan, bentuk tandan, posisi
buah,jumlah sisir tiap tandan, warnak kulit buat sebelum masak, warna kulit buat
sesudah masak, dan warna daging buah setelah masak. Beberapa parameter
tersebut dipengaruhi oleh faktor genetikdan interaksi lingkungan sehingga fase-
fase siklus pertumbuhan pada misang berbeda-beda.
Tanah juga merupakan media utama manusia untuk bisa mendapatkan
bahan pangan, sandang, papan, tambang, dan tempat dilaksanakannya aktifitas.
Oleh sebab itu tanah harus tetap ditanami agar tanah tetap terjaga kandungan
unsur haranya dan tetap berkembang, sehingga tanah tidak mati. Karena tanah
juga merupakan faktor yang harus diperhatikan untuk menanam tanaman dua
musim, yang dikenal dengan siklusnya yang panjang, sehingga membutuhkan
tanah yang unsur haranya dan kandungan mineralnya cukup memadai
(Barus et al., 2015).
Tanaman pisang merupakan tanaman khas yang berasal dari daerah tropis
yang mudah ditemukan dimana saja tanpa mengetahui musim. Sampai saat ini
penggunaan tanaman pisang di Indonesia hanya sekedar pembudidayaan buah dan
penggunaannyapun sangat sedikit. Untuk memaksimalkan keuntungan dari pisang
maka dapat dilakukan dengan produk olahan dengan memanfaatkan bagian batang
melimpah menjadi bahan serat pengganti bahan kapas (Buku and Sahari, 2017).
Pisang menempati posisi tinggi sebagai tanaman buah yang banyak
diminati di berbagai negara dan familiar untuk dikonsumsi baik di wilayah
tropismaupun sub-tropis. Selain itu, pisang merupakan komoditas bernilai
ekonomis tinggi bagi sumber pendapatan petani yang membudidayakanya dengan
rasa dan nilai nutrisinya tinggi membuat permintaan konsumen tetap tinggi
sepanjang tahun. Produksi pisang dunia sekitar 42 juta ton pisang setiap tahunya.
penghasil pisang terbesar di dunia adalah Amerika, Brazil, Australia, Bangladesh
dan diikuti Filipina ( Kalhoro et al., 2015 ).
BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Pengantar Ilmu Tanaman Acara 1 Pengenalan Tanaman Dua
Musim dilaksanakan pada Selasa, 3 Oktober 2017 pukul 12.30 14.10 WIB
bertempat di Agrotechno Park Universitas Jember.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
1. Tabel pengamatan
2. Alat tulis
3. Penggaris
4. Meja dada
5. Kamera

3.2.2 Bahan
1. Tanaman yang diamati

3.3 Cara Kerja


1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Menetapkan objek tanaman yang diamati
3. Menggambar bentuk tanaman yang diamati dan memberi keterangan bagian-
bagiannya
4. Mengisi tabel pengamatan

3.5 Variabel Pengamatan


1. Jenis tanaman dan taksonominya
2. Gambar keseluruhan tanaman
3. Bagian-bagian tanaman
4. Ciri-ciri morfologi
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.I Hasil
1. Deskripsi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledone
Ordo : Zingeberales
Famili : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa paradisiaca
2. Dokumentasi (Fase) Deskripsi (Morfologi)
1. Kode 2 Fase 5 (Pengisian Buah) Daun telah menua dan tidak terjadi
pertumbuhan lagi
Telah terbentuknya sisir terakhir
Putih berwarna coklat kehitaman
tanda telah mengalami pembuahan
Batang besar dan tinggi

2. Kode 1 Fase 2 ( Pertumbuhan Batang tinggi tegak sempurna


Vegetatif) Daun berwarna hijau segar
Masih tumbuh daun muda/ bakal
daun baru
3. Kode 4 Fase 1 Batang masih kecil
Daun masih kuncup / belum
terbentuk lamina
Tumbuh di sekitar induk

4.2 Pembahasan
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dijelaskan bahwa tanaman pisang
merupakan tanaman dari golongan dua musim berdasarkan sikus hidupnya
dimana tanaman ini membutuhkan dua musim untuk menyelesaikan satu siklus
hidupnya mulai dari awal pertumbuhan hingga penuaan dan mati. Berdasarkan
taksonominya, pisang merupakan tanaman Spermatophyta yaitu tanaman yang
dapat mengahasilkan buah atau biji hasil dari penyerbukan antara sel kelamin
jantan atau serbuk sari dan sel kelamin betina atau putik meskipun biji yang
terbentuk pada buah pisang adalah biji semu yang berukuran kecil dan steril atau
triploid sehingga tidak dapat dijadikan sebagai benih. Sedangkan dilihat dari ciri-
ciri morfologinya, pisang merupakan tanaman dari kelas Monocotyledone atau
tanaman yang memiliki biji berkeping satu. Tanaman pisang termasuk dalam
famili Musaceae atau pisang-pisangan dari ordo Zingeberales yang mempunyai
ciri-ciri morfologi ukuran dimensi tanaman yang besar tinggi dan tegap, pelepah
dari daun yang sudah gugur membentuk lapisan batang semu yang menutupi
batang sejati, daun berukuran besar dan terdapat lamina atau helai daun serta
bunga membentuk kluster yang saling berhubungan pada ketiak brakte spatha
yang menempel pada tangkai perbungaan.
Berdasarkan observasi dan pengamatan terhadap contoh tanaman pisang
sudah disiapkan, tersedia tiga tanaman yang mewakili dari beberapa fase dari
tanaman pisang dan mencirikan sebagai tanaman dua musim atau biennial.
Tanaman pertama yang kami amati adalah pisang dengan kode nomor satu yang
memiliki ciri morfologi daun telah menua dan tidak terjadi pertumbuhan lagi,
telah terbentuknya sisir terakhir, putih berwarna coklat kehitaman tanda telah
mengalami pembuahan dam batang besar dan tinggi. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa tanaman pisang tersebut sudah memasuki fase kelima yaitu fase pengisian
buah untuk menuju fase pemasakan.
Tanaman berikutnya adalah pisang dengan kode 1 memiliki ciri morfologi
Batang tinggi tegak sempurna, daun berwarna hijau segar, masih tumbuh daun
muda/ bakal daun baru yang mana dapat disimpulkan bahwa pisang ini masih
memasuki fase dua tau pertumbuhan vegetatif. Selanjutnya adalah tanaman pisang
dengan kode empat yang memiliki ciri morfologi batang masih kecil, daun masih
kuncup / belum terbentuk lamina dan tumbuh di sekitar induk, maka pisang ini
masih pada fase satu atau pertaman yaitu perkecambahan yang mana fase paling
awal dalam pertumbuhan tanaman pisang.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Pisang merupakan tanaman dari ordo Spermatophyta yaitu tanaman yang dapat
mengahasilkan buah atau biji hasil dari penyerbukan antara sel kelamin jantan
atau serbuk sari dan sel kelamin betina
2. Pisang merupakan tanaman dari kelasMonocotyledone atau tanaman yang
memiliki biji berkeping satu.
3. Tanaman pisang termasuk dalam famili Musaceae atau pisang-pisangan dari
ordo Zingeberales.
4. Pisang dengan kode 2 memasuki fase 5 atau pengisian buah
5. Pisang dengan kode 1 memasuki fase 2 atau pertumbuhan vegetatif
6. Pisang dengan kode 4 memasuki fase 1 atau perkecambahan

5.2 Saran
Harapan untuk praktikum selanjutnya dapat berjalan lancar dan praktikan
lebih interaktif dan semangat
DAFTAR PUSTAKA

Ambarita,Monica, Bayu dan Setiado. 2015. Identifikasi Karakter Morfologis


Pisang (Musa spp.) di Kabupaten Deli Serdang. Agroekoteknologi, 4(1) :
1911 1924.

Barus. L. K., H. Guchi., P. Marbun. 2015. Pendugaan Tingkatan Bahaya Erosi


pada Tanaman Kopi (Coffea Sp) di Beberapa Kecamatan di
Kabupaten Dairi. Jurnal online Agroekoteaknologi. 3(2): 527-533.

Buku, Atus and Sahari. 2017. Analysis Of Morphology and Tensile Strength of
Banana Kepokfibresusing A Scanning Electron Micrograph (Sem) and
Pull Test Equipment. Engineering and Applied Sciences, 12 (3) : 895
899.
Campbell, N. A., J. B. Reece., L. G. Mitchell. 2000. Biologi Edisi Lima Jilid 2.
Terjemahan oleh Prof. Dr. Ir. Wasmen Menalu. 2003. Jakarta:
Erlangga.

Kalhoro,Ali., Xu1, Mahar, Ali, Fahad, Otho, Soomro, Fayaz and Baloch. Study
on Growth Effects of Major-Nutrients Composition to Banana
Cultivation in Coastal Areas of Sindh, Pakistan. Plant Sciences,6(1) :
1003 1010.

Supriyadi, Ahmad dan Suyanti. 2008. Pisang, Budidaya,Pengolahan dan Prospek


Pasar. Jakarta : Penebar Swadaya

Suciantini. 2015. Interaksi Iklim (Curah Hujan) Terhadap Produksi Tanaman


Pangan di Kabupaten Pacitan. Biodiversity Indonesia, 1(2) : 368 365.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai