Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak saling bercampur

menawarkan banyak kemungkinan yang menarik untuk pemisahan analitis.

Bahkan dimana tujuan primer bukan analitis namun preparatif, ekstraksi

dengan menggunakan pelarut merupakan suatu langkah penting dalam

mencari senyawa aktif suatu tumbuhan, dan kadang-kadang digunakan

peralatan yang rumit namun seringkali diperlukan hanya sebuah corong pisah.

Seringkali suatu pemisahan ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat

diselesaikan dalam beberapa menit, Pemisahan ekstraksi biasanya bersih

dalam arti tak ada analog kospresipitasi dengan suatu sistem yang terjadi

(Underwood, 1986).

Berdasarkan bentuk campurannya (yang diekstraksi), suatu ekstraksi

dibedakan menjadi dua yaitu : Ekstraksi padat-cair (partisi padat-cair) adalah

proses pemisahan untuk memperoleh komponen zat terlarut dan campurannya

dalam padatan dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Ekstraksi cair-cair

(partisi cair-cair) adalah proses pemisahan zat terlarut di dalam dua macam

zat pelarut yang tidak saling bercampur atau dengan kata lain perbandingan

konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik dan pelarut air.

Metode partisi cair-cair merupakan pemisahan komponen kimia

diantara dua fase pelarut yang tidak saling bercampur. Komponen kimia akan

terpisah ke dalam kedua fase sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 1


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

perbandingan konsentrasi yang tetap (Gu, 2000). Praktikum ini dilakukan

untuk membandingkan profil kandungan senyawa kimia pada partisi

bertingkat. Partisi bertingkat (polar, semi polar, non polar) akan

mempengaruhi profil kandungan kimia pada masing-masing fraksi.

B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan pengertian tentang partisi cair-cair?

2. Bagaimana teknik pemisahan senyawa dengan metode partisi cair-cair?

C. Tujuan Percobaan

1. Untuk mengetahui pengertian tentang partisi cair-cair

2. Untuk mengetahui teknik pemisahan senyawa dengan metode partisi

cair-cair

D. Prinsip Percobaan

Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen

kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian

komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua, lalu

kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai

terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair, dan

komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan

tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 2


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Ekstraksi

Ekstraksi adalah penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari

bagian tanaman, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat aktif

yang terdapat dalam tanaman, hewan atau beberapa jenis ikan pada umumnya

mengandung senyawa yang mudah larut dalam pelarut organic (Voight,

1994).

Menurut Estien Yazid (2005), berdasarkan bentuk campuran yang

diekstraksi, suatu ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi padat-cair dan

ekstraksi cair-cair.

1. Ekstraksi padat-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran

yang berbentuk padatan. Ekstraksi jenis ini banyak dilakukan di dalam

usaha mengisolasi zat berkhasiat yang terkandung di dalam bahan alam

seperti steroid, hormon, antibiotika dan lipida pada biji-bijian.

2. Ekstraksi cair-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang

berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut

banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau logam-logam

tertentu dalam larutan air.

B. Tinjauan tentang Partisi Cair-Cair

1. Pengertian Ekstraksi cair-cair

Ekstraksi cair-cair atau yang dikenal dengan ekstraksi solvent

merupakan proses pemisahan fasa cair yang memanfaatkan perbedaan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 3


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

kelarutan zat terlarut yang akan dipisahkan antara larutan asal dan pelarut

pengekstrak (solvent). Aplikasi ekstraksi cair-cair terbagi menjadi dua

kategori yaitu aplikasi yang bersaing langsung dengan operasi pemisahan

lain dan aplikasi yang tidak mungkin dilakukan oleh operasi pemisahan

lain. Apabila ekstraksi cair-cair menjadi opersai pemisahan yang bersaing

dengan operasi pemisahan lain, maka biaya akan menjadi tolak ukur yang

sangat penting (Mirwan, Agus; 2013).

2. Prinsip Ekstraksi cair-cair

Gambar 1. Corong Berisi 2 Pelarut Berbeda yang Menunjukkan Adanya


2 Lapisan

Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan

komponen kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di

mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut

pada fase kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi

dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan

terbentuk dua lapisan fase cair, dan komponen kimia akan terpisah ke

dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan

perbandingan konsentrasi yang tetap (Kumala, 2001).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 4


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

Prinsip distribusi ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan

perbandingan tertentu antara dua zat pelarut yang tidak saling bercampur.

Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda

dalam kedua fase terlarut. Teknik ini dapat digunakan untuk kegunaan

prepratif, pemurnian, pemisahan serta analisis pada semua kerja

(Kumala.2001).

3. Keuntungan dan Kerugian Ekstraksi cair-cair

a. Keuntungan Ekstraksi Cair-Cair

1) Pelarut yang sedikit akan dapat diperoleh substansi yang relatif

banyak.

2) Peralatannya sederhana

3) Pemisahannya cepat dan selektif

b. Kerugian Ekstraksi Cair-Cair

1) Tidak dapat menggunakan zat yang termolabil, karena akan

mengubah bentuk kimia sehingga koefisien distribusi dan

efektifitas pelarut pun berubah

2) Dapat membentuk emulsi pada saat pengocokan sehingga tidak

akan jelas pemisahannya.

4. Prosedur Kerja Ekstraksi Cair-Cair

Ekstrak kental yang diperoleh di larutkan dengan etanol

secukupnya kemudian dilarutkan dengan pelarut n-heksana dan

dimasukkan dalam corong pisah. Ekstrak yang tidak larut kedalam air

maupun campuran metanol-air (7:3). Proses ekstraksi selanjutnya

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 5


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

menggunakan teknik partisi yaitu mengekstraksi suspensi ekstrak

metanol-air dengan pelarut n-heksana menggunakan corong pisah yang

diletakan pada sebuah statif untuk memudahan terjadinya pemisahan.

Gambar 2. Alat Ekstraksi Cair-Cair

Partisi dilakukan berulang kali sehingga diperoleh ekstrak n-

heksana dan setelah diuapkan pelarutnya diperoleh ekstrak kental. Sisa

ekstrak metanol-air diuapkan sampai semua metanol habis menguap.

Kemudian bagian ekstrak air yang tersisa dipartisi berulang kali dengan

menggunakan pelarut kloroform atau n-butanol jenuh. Hasil partisi

kloroform atau n-butanol jenuh ini setelah diuapkan pelarutnya diperoleh

ekstrak kental kloroform ataupun n-butanol (Santi. 2009).

5. Konsep Ekstraksi Cair-Cair

Ekstraksi cair-cair digunakan untuk memisahkan senyawa atas

dasar perbedaan kelarutan pada dua jenis pelarut yang berbeda yang tidak

saling bercampur. Jika analit berada dalam pelarut anorganik, maka

pelarut yang digunakan adalah pelarut organik, dan sebaliknya (MS.

2007).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 6


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

Pada metode ekstraksi cair-cair, ekstraksi dapat dilakukan dengan

cara bertahap (batch) atau dengan cara kontinyu. Cara paling sederhana

dan banyak dilakukan adalah ekstraksi bertahap. Tekniknya cukup

dengan menambahkan pelarut pengekstrak yang tidak bercampur dengan

pelarut pertama melalui corong pemisah, kemudian dilakukan

pengocokan sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi solut pada kedua

pelarut. Setelah didiamkan beberapa saat akan terbentuk dua lapisan dan

lapisan yang berada di bawah dengan kerapatan lebih besar dapat

dipisahkan untuk dilakukan analisis selanjutnya (Rahayu. 2009).

C. Tinjauan tentang Sampel

1. Teripang

Gambar 3 : Teripang (Synaptidae maculate)

Teripang atau Holothuroidea merupakan salah satu dari kelas

Echinodermata. Menurut Hyman 1955 menyatakan klasifikasi Teripang

adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Filum : Echinodermata

Kelas : Holothuroidea

Ordo : Paractinipoda atau Apodia, terdiri dari 1 famili

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 7


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

Famili : Synaptidae

Genus : Synapta

Spesies : Synaptidae maculate

Teripang diketahui mengandung berbagai jenis bahan aktif yang

sangat berguna bagi manusia. Penelitian mengenai teripang sebagai

bioaktif di Indonesia masih perlu dikembangkan, karena itu perlu

dilanjutkan penelitian-penelitian mengenai khasiat dari teripang,

misalnya sebagai antijamur (Ramadany, 2009). Senyawa anti jamur dari

teripang dan hewan laut lainnya menjadi salah satu sumber obat

antijamur baru yang dapat dikembangkan karena potensinya besar

(Pranoto, 2012).

2. Bayam Merah

Gambar 4: Bayam Merah (Alternanthera amoena Voss)

Klasifikasi bayam merah (Alternanthera amoena Voss) adalah

sebagai berikut (Tjitrosoepomo, 2004) :

Regnum : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 8


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas : Hamamelidae

Ordo : Caryophyllales

Famili : Amaranthaceae (suku bayam-bayaman)

Genus : Alternanthera

Spesies : Alternanthera amoena Voss

Bayam merah (AlternantheraamoenaVoss) mengandung vitamin,

protein, karbohidrat, lemak, mineral, zat besi, magnesium, mangan,

kalium, dan kalsium. Vitamin yang terkandung dalam bayam merah

adalah vitamin A, vitamin C, dan vitamin E. Kandungan vitamin C dan

senyawa flavonoid pada bayam merah lebih tinggi dibandingkan dengan

bayam hijau. Adanya kandungan senyawa metabolit sekunder pada

bayam merahdapat dijadikan sebagai sumber antioksidan yang dapat

menghambat radikal bebas (Bambang, 2012).

3. Kulit Batang Jambu Biji

Jambu biji berasal dari Amerika tropik, tumbuh pada tanah yang

gembur maupun liat, pada tempat terbuka dan mengandung air cukup

banyak. Pohon ini banyak ditanam sebagai pohon buah-buahan. Namun,

sering tumbuh liar dan dapat ditemukan pada ketinggian 1-1.200 m dpl.

Jambu biji berbunga sepanjang tahun (Hapsoh, 2011).

Tanaman Jambu Biji termasuk ke dalam klasifikasi sebagai

berikut (Parimin, 2005):

Regnum : Plantae

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 9


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Famili : Myrtaceae

Genus : Psidium

Spesies : Psidium guajava L.

Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat

tradisional adalah jambu biji. Kebanyakan masyarakat mengunakan

daunnya yang berkhasiat sebagai antibakteri (Adnyana at al, 2004).

Batangnya dianggap sebagai bagian tanaman yang tidak bermanfaat bagi

kesehatan. Padahal dalam kulit batang jambu biji mengandung senyawa

aktif seperti tannin (Nadkarni, 1999), terpenoid dan flavonoid (Fasola,

2012).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 10


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

1. Alat yang digunakan

a. Corong Pisah

b. Gegep Kayu

c. Gelas Kimia 500 mL

d. Gelas Ukur 5 mL

e. Hot Plate

f. Karet Pengisap

g. Klem dan Statif

h. Pipet Tetes

i. Pipet Ukur 10 mL

j. Rak Tabung

k. Tabung Reaksi

2. Bahan yang digunakan

a. Aquades/ Air

b. Ekstrak Kulit Batang Jambu Biji

c. Ekstrak Bayam Merah

d. Ekstrak Teripang

e. Etil Asetat

f. Kertas Saring

g. N- Heksan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 11


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

B. Prosedur Kerja

1. Prosedur partisi cair-cair

a. Diukur ekstrak 5 mL, kemudian disuspensikan dengan 5 mL aquadest

b. Diukur N- heksan 5 mL, kemudian dimasukkan dalam corong pisah yang

berisi ekstrak yang telah disuspensikan

c. Dipisahkan lapisan air dan N-Heksan, kemudian diambil lapisan N-

Heksan dan diuapkan

d. Lapisan air dimasukkan kembali kedalam corong pisah

e. Di tambahkan etil asetat 5 mL dan

f. Dikocok hingga membetuk 2 lapisan

g. Dipisahkan lapisan atas dan bawah lalu diuapkan hingga pelarutnya habis

menguap (hingga kental).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 12


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

BAB IV

DATA PENGAMATAN

A. Data Pengamatan

No. Sampel Berat Sampel


1. Ekstrak Teripang Berat Ekstrak 1,3067 gram
Ekstrak N-Heksan 0,1723 gram
Ekstrak Etil Asetat 0,2035 gram
2. Ekstrak Bayam Merah Berat Ekstrak 1,1102 gram
Ekstrak N-Heksan 0,3319 gram
Ekstrak Etil Asetat 0,2027 gram
3. Ekstrak Kulit Batang Jambu Berat Ekstrak 2,5031 gram
Biji Ekstrak N-Heksan 0,8501 gram
Ekstrak Etil Asetat 0,2981 gram

Berat ekstrak
Presentase Ekstrak = 100%
Berat ekstrak yang diperoleh

1. Ekstrak Teripang

1,3067 gram
Ekstrak n heksan = 100%
0,1723 gram

= 76,38%

1,3067 gram
Ekstrak etil asetat = 100%
0,2035 gram

= 64,11%

2. Ekstrak Bayam Merah

1,1102 gram
Ekstrak n heksan = 100%
0,3319 gram

= 33,49%

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 13


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

1,1102 gram
Ekstrak etil asetat = 100%
0,2027gram

= 54,70%

3. Ekstrak Kulit Batang Jambu Biji

2,5031 gram
Ekstrak n heksan = 100%
0,8501 gram

= 29,44%

2,5031 gram
Ekstrak etil asetat = 100%
0,2981 gram

= 83,96%

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 14


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

BAB V

PEMBAHASAN

Partisi ekstrak (ekstraksi cair-cair) adalah proses pemisahan zat terlarut di

dalam dua macam zat pelarut yang tidak saling bercampur, dengan kata lain

perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik dan pelarut air. Hal

tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang dapat larut dalam air

dan ada pula yang dapat terlarut dalam pelarut organik. Sedangkan ekstraksi

padat-cair adalah proses pemisahan untuk memperoleh komponen zat terlarut dari

campurannya dalam padatan dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Pada

umumnya metode ini digunakan untuk sampel yang tidak larut dalam air.

Tujuan dilakukannya partisi yaitu untuk memisahkan komponen kimia

dari sampel berdasarkan tingkat kepolarannya. Proses partisi sebenarnya dapat

dilakukan dengan partisi cair-cair ataupun partisi padat cair, namun pada

praktikum kali ini hanya dilakukan partisi cair-cair.

Prinsip dari proses partisi yaitu digunakannya dua pelarut yang tidak

saling bercampur untuk melarutkan zat-zat yang ada dalam ekstrak. Ekstrak yang

digunakan dalam percobaan ini adalah ekstrak spons, ekstrak rambut jagung, dan

ekstrak kulit batang jambu biji. Pelarut yang digunakan yaitu pelarut yang bersifat

polar dan nonpolar.

Pada pengerjaan awal, partisi dilakukan dengan menggunakan pelarut non

polar (n-Heksan), hal ini disebabkan karena jika pada pengerjaan awal digunakan

pelarut semipolar, maka dikhawatirkan adanya senyawa nonpolar yang ikut

terlarut, sebagaimana kita ketahui bahwa pelarut semipolar, selain mampu

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 15


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

melarutkan senyawa yang bersifat polar juga mampu melarutkan senyawa yang

bersifat nonpolar.

Tahap-tahap dalam melakukan proses partisi yaitu pertama-tama ekstrak

yang telah ditambahkan n-heksan, dipisahkan hingga terlihat adanya dua lapisan,

dimana lapisan atas adalah lapisan n-heksan, sedangkan lapisan bawah adalah

lapisan air. Hal ini disebabkan karena air memiliki massa jenis yang lebih besar

daripada n-heksan. Selanjutnya untuk lapisan ekstrak n-heksan ditampung dan

diuapkan sehingga di dapatkan ekstrak kering. Seharusnya lapisan air,

dimasukkan ke dalam corong pisah dan ditambahkan lagi n-heksan dan dikocok

hingga homogen, prosedur ini dilakukan sama halnya pada prosedur awal, dan

dilakukan terus-menerus hingga lapisan atas kelihatan jernih. Tetapi pelarut n-

heksan yang terbatas maka dilakukan hanya sekali.

Setelah dipartisi dengan menggunakan n-heksan, kemudian dilanjutkan

dengan menggunakan pelarut etil asetat, dengan melakukan proses yang sama

dengan penggunaan pelarut n-heksan. Penggunaan etil asetat pada partisi cair

yaitu sebagai pelarut semipolar. Sama halnya penarikan senyawa dengan pelarut

n-heksan dilakukan hanya sekali karena pelarut etil asetat yang terbatas.

Pada percobaan praktikum partisi cair-cair kali ini diperoleh ekstrak pada

sampel spons menggunakan pelarut n-heksan yaitu 70,09%, sedangakan pada

pelarut etil asetat yaiu 53,07%, pada sampel rambut jagung menggunakan pelarut

n-heksan yaitu 39,48%, sedangkan pada pelarut etil asetat yaitu 100,4%, dan pada

sampel kulit batang jambu biji menggunakan pelarut n-heksan yaitu 29,44%,

sedangkan pada pelarut etil asetat yaitu 83,96%.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 16


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Partisi cair-cair adalah proses pemisahan zat terlarut di dalam dua macam

zat pelarut yang tidak saling bercampur atau dengan kata lain

perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik dan pelarut

air.

2. Teknik pemisahan dengan Metode partisi cair-cair adalah salah satu

metode pemisahan senyawa dengan menggunakan 2 pelarut yang

berbeda atau yang tidak saling bercampur. Adapun pelarut yang

digunakan adalah etil asetat dan n-heksan.

B. Saran

Adapun saran untuk laboratorium adalah agar lebih melengkapi

kebutuhan laboratorium yang masih kurang sehingga praktikum bisa lebih

efektif. Saran untuk praktikan agar lebih bisa memahami tujuan dari

praktikum dan dapat menjaga tata tertib dalam laboratorium.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 17


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Sudewo. 2012. Basmi Kanker Dengan Herbal. Jakarta: Visi Media

Hapsoh. 2011. Budidaya Tanaman Obat dan Rempah. USU-Press. Medan

Hariana, Arief. 2013. 262 Tumbuhan Obat. Jakarta : Penebar Swadaya

Hidayat dan Napitupulu. 2015. Kitab Tumbuhan Obat. Jakarta : AgriFlo

Hyman, L. H. 1955. The invertebrate Vol. IV: Echinodermata. McGraw-Hill


Book Company, Inc. New York
Kealey D dan Haines PJ. 2002. Instant Notes: Analytical Chemistry. BIOS
Scientific Publishers Limited. New York.

Khopkar, S.M. 2008. Dasar-dasar kimia analitik. Erlangga: Jakarta

Mirwan Agus. 2013. Jurnal: Keberlakuan Model Hb-Gft Sistem N-Heksana


Mek Air Pada Ekstraksi Cair-Cair Kolom Isian, volume 2 No. 1.
Universitas Lambung Mangkurat

Sudjadi.1988. Metode Pemisahan. Penerbit Kanisius.Yogyakarta.

Tuwo, 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Surabaya: Brilian.


Internasional.

Underwood R.A. Day dan A.L.1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam.
Jakarta: Erlangga

Voight. 1994. Teknologi Farmasi. Yogyakarta: UGM Press.

Watson, DG. 2010. Analisis Farmasi. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

Wulandari, Fitria., 2016, Pemanfaatan Daun sirsak Sebagai Obat Anti Kanker,
Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh : Tanjung Pati

Yazid, Estien Yazid.2005 Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: ANDI

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 18


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II Partisi Cair-cair

Zuhud, E,. 2011. Bukti Kedahsyatan Sirsak Menumpas Kanker. Yunita Indah.
Cetakan-1. Agromedia Pustaka : Jakarta

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA 19

Beri Nilai