Anda di halaman 1dari 4

1.

1 PENGERTIAN TEORI DALAM ILMU PENGETAHUAN

Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling
berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan
menentukan hubungan antar variabel, dan dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.
Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran pemikiran teoritis yang
mereka definisikan sebagai menentukan bagaimana dan mengapa variable-variabel dan
pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.

Dalam ilmu pengetahuan, teori berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan
fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi
menurut metode ilmiah. Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya.
Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu
(misalnya, benda-benda mati, kejadian-kejadian di alam, atau tingkah laku hewan). Sering kali,
teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan (misalnya : apabila kucing mengeong berarti
minta makan). Sebuah teori membentuk generalisasi atas banyak pengamatan dan terdiri atas
kumpulan ide yang koheren dan saling berkaitan.

1.1.1 Pengertian dan Fungsi Teori Akuntansi

Teori akuntansi adalah susunan konsep, definisi, dalil yang menyajikan secara sistematis
gambaran fenomena akuntansi yang menjelaskan hubungan antar variabel dengan variable
lainnya dalam struktur akuntansi dengan maksud dapat mejelaskan dan meramalkan fenomena
yang mungkin akan muncul. Hendriksen menilai teori akuntansi sebagai satu susunan prinsip
umum akan dapat:

1. Memberikan kerangka acuan yang umum dari mana praktek akuntansi dinilai.
2. Teori akuntansi yang dirumuskan tidak akan mampu mengikuti perkembangan ekonomi,
social, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang demikaian cepat.

Teori Akuntansi mungkin dapat dikatakan sebagai suatu konsep modern jika
dibandingkan dengan teori-teori yang lain seperti matematika atau fisik. Chambers (1994)
berpendapat bahwa akuntansi dikembangkan dari model yang spesifik bukannya dikembangkan
secara sistematik dari teori yang terstruktur. Lebih lanjut Chambers menyatakan meskipun
akuntansi tidak dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan murni, akuntansi mungkin dapat
dikatakan sebagai ilmu pengetahuan sosial (social science). Seperti halnya ilmu sosial lainnya,
konsep akuntansi tidak didasarkan pada kebenaran yang sifatnya universal (Glautier and
Underdown, 1994). Konsep akuntansi mengakar pada sistem nilai masyarakat dimana akuntansi
dipraktekkan.

Oleh karena preskripsi akuntansi dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah


khusus, teori yang mendasarinya juga dikembangkan berdasarkan model-model yang khusus.
Secara umum, fungsi utama dari teori akuntansi adalah umtuk memberikan kerangka
pengembangan ide-ide baru dan membantu proses pemilihan akuntansi (Mathews and Perera,
1993).

Vernon Kam (1986) mengemukakan fungsi dari adanya teori akuntansi sebagai berikut:

1. Menjadi pegangan bagi lembaga penyusun standar akuntansi menyusun standarnya.


2. Memberikan kerangka rujukan untuk menyelesaikan masalah akuntansi dalam hal tidak
adanya standar resmi.
3. Menentukan batas dalam hal melakukan judgmentdalam penyusunan laporan
keuangan.
4. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca laporan terhadap informasi yang
disajikan laporan keuangan.
5. Meningkatkan kualitas dapat diperbandingkan.

Sedangkan Hendriksen (1982) mengemukakan kegunaan teori akuntansi sebagai berikut:

1. Memberikan kerangka rujukan sebagai dasar untuk menilai prosedur dan praktek
akuntansi.
2. Memberikan pedomen terhadap praktek dan prosedur akuntansi yang baru.

1.2 TEORI AKUNTANSI NORMATIF DAN POSITIF


A. Teori Akuntansi Normatif

Teori normatif berusaha untuk membenarkan tentang apa saja yang harus dipraktekkan,
misalnya pernyataan yang menyebutkan bahwa laporan keuangan seharusnya di dasarkan pada
metode pengukuran aktiva tertentu. Menurut nelson (1973) teori normatif hanya menyebutkan
hipotesis tentang bagaimana akuntansi seharusnya dipraktekkan tanpa menguji hasil hipotesis
tersebut.
Perumusan akuntansi normatif mencapai keemasan pada tahun 1950 dan 1960an. pada
periode tersebut teori normatif lebih berkosentrasi pada: Penciptaan laba sesungguhnya.dan
pengambilan keputusan.

B. Teori Akuntansi Positif

Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan


kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebijakan akuntansi
yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif
pada prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelasakan dan
memprediksi praktik-praktik akuntansi. Teori akuntansi positif merupakan studi lanjut dari teori
akuntansi normatif karena kegagalan normatif dalam menjelaskan fenomena praktik yang terjadi
secara nyata. Teori akuntansi positif dapat memberikan pedoman bagi para pembuat kebijakan
akuntansi dalam menentukan konsekuensi dari kebijakan tersebut. Teori akuntansi positif
berkembang seiring kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas praktik akuntansi
yang ada dalam masyarakat sedangkan akuntansi normatif lebih menjelaskan praktik akuntansi
yang seharusnya berlaku.

1.2.1 Perbedaan akuntansi positif dan akuntansi normatif

1. Perbedaan pendekatan dan dasar antara teori akuntansi menyebabkan dua taksonomi
akuntansi. Pendekatan Teori Akuntansi Positif menghasilkan taksonomi akuntansi
sebagai Sains. Sedangkan pendekatan Teori Akuntansi Normatif menghasilkan
taksonomi akuntansi sebagai art. Yang keduanya sama sama diakui sebagai sarana
pendekatan teori akuntansi.
2. Teori Akuntansi Normatif yang berbentuk Praktik Akuntansi Berterima Umum (PABU)
merupakan acuan teori dalam memberikan jalan terbaik untuk meramalkan berbagai
fenomena akuntansi dan menggambarkan bagaimana interaksi antar-variabel akuntansi
dalam dunia nyata yang meruipakan Fungsi pendekatan Teori Akuntasi Positif. Tidak
menutup kemungkinan, fakta yang ada di dunia nyata (praktek akuntansi) akan
mempengaruhi Teori Akuntansi Normatif. Hubungan ini Sesuai dengan paham
Dialektika Hegel. Dimana antitasi dan tesis akan menghasilkan sistesis. Dan sistesis akan
menghasilkan antithesis.
1.2.2 Konsep dasar akuntansi sebagai sebuah teori normatif yang menjelaskan standar
akuntansi

Teori normatif diketahui lebih berkonsentrasi pada:

1. Penciptaan laba sesungguhnya (true income)


Teori ini lebih berkonsentrasi pada pengukuran tunggal yang benar untuk aktiva dan
laba.
2. Pengambilan keputusan (decision usefulness)
Teori ini menganggap bahwa tujuan dasar akuntansi adalah untuk membantu proses
pengambilan keputusan dengan menyediakan data akuntansi yang relevan dan
bermanfaat.

Di beberapa kasus, teori ini didasarkan pada konsep ekonomi tentang laba dan
kemakmuran atau konsep ekonomi pengambilan keputusan rasional. Konsep tersebut didasarkan
pada penyesuaian rekening karena pengaruh inflasi atau dari nilai pasar dari aktiva.

Teori normatif ini didasarkan pada anggapan bahwa:

Akuntansi seharusnya merupakan sistem pengukuran.

Laba dan nilai dapat diukur secara tepat.

Akuntansi keuangan bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi.

Pasar tidak efisien (dalam pengertian ekonomi).

Ada beberapa pengukur laba yang unik.

Pada praktiknya teori normatif adalah pendapat subyektif (pribadi) maka sulit untuk
diterima begitu saja karena harus dapat diuji secara empiris supaya dapat dikatakan sistem
akuntansi yang dihasilkan sebagai sesuatu yang ideal.