Anda di halaman 1dari 9

LONCATAN HIDROLIK

Penelitian pertama tentang loncatan hidrolik dilakukan oleh Bidone tahun


1818. Penggunaan loncatan hidrolik untuk peredaman energi dibawah pelimpah,
waduk, dan pintu sehingga penggerusan yang tidak diharapkan di hilir saluran
dapat dihindari. Loncatan hidraulik juga digunakan untuk menaikkan muka air di
hilir untuk menyediakan tinggi tekan untuk menambahkan berat air pada lantai
lindung (Apron) untuk menetralkan tekanan angkat (Uplift Pressure) sehingga
mengurangi ketebalan lantai lindung Loncatan hidrolik juga digunakan untuk
sistem pengaliran air bersih perkotaan untuk mencampur bahan kimia dan juga
mengeluarkan gelembung-gelembung udara.
Secara praktis penggunaan loncatan air antara lain adalah sebagai peredam
energi aliran di bawah pelimpah, waduk, pintu dan lain-lain, sehingga
penggerusan yang tidak diharapkan di hilir saluran dapat dihindari. Selain itu telah
pula digunakan untuk menaikkan permukaan air di hilir untuk menyediakan
kebutuhan tinggi tekan pengaliran ke dalam saluran dan juga untuk menambah
muatan berat air pada lantai lindung (apron), dengan demikian dapat menetralisir
tekanan angkat (uplift pressure) sehingga dapat mengurangi ketebalan lantai
lindung dari beton yang diperlukan dalam bangunan pada pondasi tak kedap air
(permeable fondations). Loncatan air juga digunakan pada sistem pengaliran air
bersih perkotaan untuk mencampur bahan kimia dan juga mengeluarkan
gelembung-gelembung udara.
Fenomena loncatan air ini terjadi akibat adanya perubahan aliran dari
superkritis tiba-tiba menjadi subkritis, oleh karena itu permukaan air
menyesuaikan diri terhadap pengurangan kecepatan dan penambahan kedalaman
aliran dalam bentuk keunikannya yang disebut loncatan air.

1
Lj

garis energi
EL

Vb 2
2g
Va 2
2g
Ea Eb

Wsin yb
Pb
Wcos W
Pa ya
Fs

aliran superkritis loncatan air aliran subkritis


a b

Gambar 1. Loncatan air.

Jika kita tinjau ruang tilik yang dibatasi oleh penampang (a) dan penampang (b),
dengan menerapkan persamaan Momentum pada kedua penampang tersebut :
Fx M b M a
Pa Pb FS W sin M b M a
dimana :

Pa 1
2 b ya 2 gaya hidrostatis pada penampang (a)
Pb 1
2 b yb 2 gaya hidrostatis pada penampang (b)
Fs gaya geser antara badan saluran dengan air yang mengalir
W berat air pada control volume yang dibatasi oleh penampang (a) dan (b)
M a flux momentum aliran pada penampang (a) a Q Va
M b flux momentum aliran pada penampang (b) b Q Vb

Untuk dasar saluran horizontal,


0, maka W sin 0 dan Fs 0 sehingga

persamaan momentum di atas menjadi sebagai berikut :


1
2 b y a 2 1 2 b yb 2 a Q Va b Q Vb

2
Anggap distribusi kecepatan merata di penampang (a) maupun penampang (b),

maka a b 1 , dan terapkan persamaan kontinuitas bahwa debit persatuan

lebar saluran q Va y a Vb yb , sehingga :


1
2 y a 2 1 2 yb 2 q Va q Vb
2 q2 1 1
( yb 2 y a 2 )
g a
y y b

2 q2
y a yb ( y a yb ) 2 yc
3
g
yb y 2 q2
1 b 3
2 Fra
2
ya ya g ya
Va
Fra
g ya
Keterangan : Fra = bilangan Froude pada penampang (a) sama dengan
sehingga didapat hubungan antara ya (kedaman awal loncatan) dan yb (kedalaman
akhir loncatan), sebagai berikut :
yb
1 1 1 8Fra 2 atau :
ya
2

ya
1 1 1 8Frb 2
yb
2

1. Peredaman Energi
Peredaman energi (EL ) pada peristiwa loncatan air dapat diperoleh
dengan menerapkan persamaan energi antara penampang (a) dan penampang (b)
sebagai berikut :
E L Ea Eb (untuk dasar saluran horisontal )

Gambar 2. Peredaman energi akibat loncatan air.

3
E L E a E b (dasar saluran horisontal )
q2 2
ya yb q
2 2
2g ya 2 g yb
q 2 y b y a
2 2

( y a yb ) 2
1
g y a 2 y b 2
q2 2 q2
( yb y a )
2 2
padahal :
g g
( yb y a ) 3
sehingga : E L
4 ( y a yb )
E L ( y b / y a 1) 3
Peredaman energi relatif terhadap kedalaman awal :
ya 4 ( yb / y a )
EL EL / ya
Peredaman energi relatif terhadap energi awal :
E a E a / y a
2
Fra
Padahal : E a / y a 1
2
( y b / y a 1) 3
EL / Ea
Fra
2

4 ( yb / y a ) 1
2

2. Panjang loncatan Air.
Karena lokasi terjadinya loncatan air tidak menetap, maka susah untuk
menentukan panjang loncatan air (Lj). Teori mengenai panjang loncatan air juga
belum ada. Sehingga panjang loncatan air dikemukakan dengan percobaan oleh
masing-masing penyelidik sebagai berikut :
Penemuan Bliss dan Chu = Lj/yb 4 s/d 5.
Smetana = Lj 6 (yb ya)
USBR juga telah membuat lengkung hubungan antara Lj/yb dan Fra dari hasil
eksperimennya (lihat Gambar 2). Lengkung Gambar 2 ini dibuat dari
penyelidikan dalam saluran dengan penampang empat persegi panjang dan dasar
horizontal. Untuk pendekatan dapat juga dipakai untuk saluran dengan
penampang trapisium.

4
Gambar 3 Kurva panjang loncatan air pada saluran Epp dengan dasar horizontal.

3 Tipe Loncatan Air


Loncatan air pada dasar saluran horizontal, terdiri dari beberapa tipe yang
berbeda-beda sesuai hasil penelitian yang dilakukan oleh Biro Reklamasi Amerika
Serikat (USBR), tipe-tipe tersebut dapat dibeda-bedakan dari berdasarkan
bilangan Froude (Fra) aliran di awal loncatan, adalah sebagai berikut :
1) Loncatan berombak (undular jump), untuk Fra = 1 1,7
2) Loncatan lemah (weak jump), untuk Fra = 1,7 2,5
3) Loncatan berisolasi (oscillating jump), untuk Fra = 2,5 4,5
4) Loncatan tetap (steady jump), untuk Fra = 4,5 - 9
5) Loncatan kuat (strong jump), untuk Fra > 9.

Gambar 4 Visualisasi tipe-tipe Loncatan air.

5
Aplikasi Loncatan Hidrolik
Penggunaan Loncatan Air Sebagai Peredam Energi
Dari pandangan pemakaian praktis, loncatan air sangat berguna sebagai
peredam energi pada aliran superkritis. Peredam ini sangat berguna untuk
mencegah erosi yang mungkin terjadi pada saluran pelimpah, saluran curam, dan
pintu geser vertikal, dengan cara memperkecil kecepatan aliran pada lapisan
pelindung hingga pada suatu titik dimana aliran tidak mempunyai kemampuan
untuk mengkikis dasar saluran di bagian hilir.
Loncatan air yang dipergunakan sebagai peredam energi, biasanya
meliputi sebagian atau seluruh kolam kanal saluran dan dinamakan kolam olakan.
Bagian hilir kolam olakan diratakan, untuk menahan pengikisan. Pada umumnya,
jarang sekali kolam olakan dirancang untuk menahan seluruh panjang loncatan
bebas, karena kolam olakan demikian sangat mahal biayanya. Akibatnya,
peralatan-peralatan untuk mengontrol loncatan biasanya dipasang pada kolam
olakan. Kegunaan utama peralatan control ini ialah memperpendek selang
terjadinya loncatan, sehingga akan memperkecil ukuran dan biaya kolam olakan.
Pengontrolan mempunyai beberapa keuntungan, yakni memperbaiki fungsi
peredam kolam olakan, menstabilkan gerakan loncat, dan pada beberapa kasus
juga memperbesar factor keamanan. Dalam perancangan kolam olakan dengan
menggunakan air loncat sebagai peredam energi, harus diperhatikan hal-hal
praktis berikut :
a) Posisi loncatan ada 3 buah pola loncatan air yang mempunyai kemungkinan
(Gambar.2) terbentuk pada daerah hilir dari sumbernya (misalnya saluran
limpah, saluran curam, atau pintu air geser vertikal).
Kasus 1:
Menggambarkan pola dimana kedalaman air hilir y2 sama dengan
kedalaman y2 yakni lanjutan dari y1. Harga-harga F1, y1, dan y2 (= y2) akan
memenuhi persamaan (8-1), dan loncatan terjadi pada lapisan keras segera
setelah melewati y1.
Untuk perlindungan pengikisan, maka keadaan di atas adalah kondidi
idealnya. Akan tetapi salah satu persoalan dalam pola tersebut adalah sedikit
perbedaan antara harga sebenarnya dan harga asumsi, dapat menyebabkan

6
pergeseran loncatan ke arah hilir dari posisi yang diduga. Akibatnya
diperlukan beberapa peralatan pengontrol posisi.
Kasus 2:
Menggambarkan pola dimana kedalaman air bawah y2 lebih kecil dari
pada y2. Hal ini berarti kedalaman air bawah dalam kasus 1 berkurang.
Akibatnya, loncatan air akan menyusut ke hilir ke suatu titik dimana
persamaan (8) dipenuhi kembali. Jika mungkin, maka kasus ini harus
dihindarkan pada rancangan, karena loncatan terjadi di luar lapisan yang
tahan pengkikisan, dan berada pada daerah yang tak dilindungi lapisan
pengeras, sehingga terjadi erosi yang hebat. Perbaikan yang dapat
dikemukakan ialah pemakaian pengontrol pada dasar saluran, yang akan
menaikkan kedalaman air bawah yang menjaga agar loncatan terjadi pada
daerah yang diberi lapisan pelindung.
Kasus 3: menyatakan pola dimana kedalaman air y2 lebih besar dari pada y2.
Hal ini berarti kedalaman air bawah pada kasus 1 bertambah besar. Akibatnya
loncatan didorong ke arah hulu, dan akhirnya hilang pada sumber, berubah
menjadi loncaatan teredam. Rancangan ini merupakan rancangan paling aman
yang mungkin untuk dibuat. Hal itu disebabkan posisi loncatan teredam,
sangat mudah untuk dapat ditentukan. Tetapi ada kekurangan dari rancangan
ini, yakni tidak efisien untuk meredam energi yang kecil.
b) Kedalaman air bawah. Pada pembahasan di atas, posisi air bawah
diasumsikan tetap untuk kedalaman y2 sama lebih kecil, atau lebih besar dari
pada kedalaman lanjutan y2. Akan tetapi pada kebanyakan persoalan yang
ditemui, kedalaman air bawahnya berubah-ubah akibat perubahan debit aliran
pada saluran. Pada kasu-kasus demikian, kurva air bawah biasan dapat
dipergunakan untuk menunjukkan hubungan antara kedalaman air bawah y2
dan debit Q. Dengan cara yang sama, dapat dibuat suatu kurva loncatan air,
untuk menunjukkan hubungan antara kedalaman lanjutan y2 dan debit Q.
Karena terdapat perbedaan posisi relatif antara kedua kurva di atas, Leliavsky
mengajukan usul dalam 5 kondisi yang saling berlainan ditunjukkan secara
berurutan pada Gambar 3

7
Gambar 5 Pengaruh kedalaman air bawah pada pembentukan loncatan air. di
bawah pintu air geser vertikal.

Gambar 6 Klasifikasi kondisi air bawah untuk merancang bangunan


perlindungan erosi.

8
KESIMPULAN

Berdasarkan makalah ini, terdapat beberapa kesimpulan yang di ambil


yaitu :
Loncatan air adalah fenomena permukaan air menyesuaikan diri terhadap
pengurangan kecepatan dan penambahan kedalaman aliran dalam bentuk
keunikannya
Fenomena loncatan air ini terjadi akibat adanya perubahan aliran dari
superkritis tiba-tiba menjadi subkritis
Tipe-tipe tersebut dapat dibeda-bedakan dari berdasarkan bilangan Froude
(Fra) aliran di awal loncatan, adalah sebagai berikut : Loncatan berombak
(undular jump), Loncatan lemah (weak jump), Loncatan berisolasi
(oscillating jump), Loncatan tetap (steady jump), Loncatan kuat (strong
jump)
Penggunaan loncatan air antara lain adalah sebagai peredam energi aliran
di bawah pelimpah, waduk, pintu dll, untuk menaikkan permukaan air di
hilir, untuk menyediakan kebutuhan tinggi tekan pengaliran ke dalam
saluran dan juga untuk menambah muatan berat air pada lantai lindung
(apron).

Anda mungkin juga menyukai