Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

KEHAMILAN PADA REMAJA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas

Disusun oleh :

Anggih Shulchan Yoga K (P07120112044)

Vinda Astri Permatasari (P07120112080)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA

JURUSAN KEPERAWATAN

2014
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian
Menurut Soetjiningsih (2004) masa remaja merupakan masa peralihan antara
masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11
atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang dewasa muda.

Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi pada wanita usia antara 14- 19
tahun baik melalui proses pra nikah atau nikah (Manuaba, 2007). Kehamilan remaja
adalah kehamilan yang terjadi sebelum usia 19 tahun. Kehamilan ini biasanya tidak
direncanakan dan di luar nikah. Kehamilan remaja masih dipandang sebagai hambatan
secara sosial, ekonomi, psikologis dan pendidikan bagi ibu. 7% dari semua kelahiran
terjadi pada remaja. (Muscari, 2005)

Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional
ibu belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul
akibat ketegangan saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara emosional ketika
si ibu mengandung bayinya.

B. Angka Kejadian
Menurut Survei Kesehatan Remaja Republik Indonesia (2007) remaja usia 15-24
tahun yang tahu tentang masa subur sebesar 65%, remaja perempuan yang tidak
mengetahui sama sekali perubahan yang terjadi pada remaja laki-laki sebanyak 21%,
hanya 10% remaja pria yang tahu masa subur wanita dan baru 63% remaja yang
mengetahui jika melakukan hubungan seksual sekali beresiko kehamilan. Sedangkan
remaja yang memiliki teman untuk melakukan hubungan seks pranikah mencapai 82%
dan remaja mempunyai teman seks dan hamil sebelum menikah mencapai 66%.
Berdasarkan survei Riskesdas (2013) angka kehamilan penduduk perempuan 10-
54 tahun adalah 2,68 persen, terdapat kehamilan pada umur kurang 15 tahun, meskipun
sangat kecil (0,02%) dan kehamilan pada umur remaja (15-19 tahun) sebesar 1,97 persen.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2012
membuktikan bahwa angka fertilitas remaja (AFR) pada kelompok usia 15-19 tahun
mencapai 48 dari 1.000 kehamilan (Fanaurora, 2013)
Sebuah penelitian Australian National University (ANU) bekerja sama dengan
Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2010 bertempat di
Jakarta, Tangerang. Penelitian ini diterapkan kepada 3.006 responden berusia 17-24
tahun, ternyata 20% remaja hamil dan melahirkn sebelum menikah (Fanaurora, 2013).
C. Etiologi
1. Faktor medis

Adapun faktor medis yang mempengaruhi kehamilan resiko tinggi yaitu


penyakit ibu dan janin, belum matangnya organ reproduksi, kelainan obstetrik,
gangguan plasenta, gangguan tali pusat, komplikasi janin, penyakit neonatus, dan
kelainan genetic.

2. Faktor non medis


a) Faktor agama dan iman

Kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak pada pergaulan


bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan hubungan suami
isteri di luar nikah sehingga terjadi kehamilan, pada kondisi
ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung jawab.

b) Faktor lingkungan
1) Orang tua

Kurangnya perhatian khususnya dari orang tua remaja untuk dapat


memberikan pendidikan seks yang baik dan benar. Dimana dalam
hal ini orang tua bersikap tidak terbuka terhadap anak bahkan
cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah seksual.

2) Teman, tetangga dan media.

Pergaulan yang salah serta penyampaian dan penyalahgunaan dari


media elektronik yang salah. Dapat membuat para remaja berpikiran
bahwa seks bukanlah hal yang tabu lagi tapi merupakan sesuatu
yang lazim.

3) Pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan

Pengetahuan seksual yang setengah-setengah mendorong gairah


seksual sehingga tidak bisa dikendalikan. Hal ini akan meningkatkan
resiko dampak negatif seksual. Dalam keadaan orang tua yang tidak
terbuka mengenai masalah seksual, remaja akan mencari informasi
tersebut dari sumber yang lain, teman-teman sebaya, buku, majalah,
internet, video atau blue film. Mereka sendiri belum dapat memilih
mana yang baik dan perlu dilihat atau mana yang harus dihindari.

4) Perubahan zaman

Pada zaman modern sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada


kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut
terkikis oleh sistem yang lain yang bertentangan dengan nilai moral
dan agama, seperti fashion dan film yang begitu intensif sehingga
remaja dihadapkan ke dalam gaya pergaulan hidup bebas, termasuk
masalah hubungan seks di luar nikah.

5) Perubahan kadar hormon


Perubahan kadar hormon pada remaja meningkatkan libido atau
dorongan seksual yang membutuhkan penyaluran melalui aktivitas
seksual.
6) Semakin cepatnya usia pubertas

Semakin cepatnya usia pubertas (berkaitan dengan tumbuh kembang


remaja), sedangkan pernikahan semakin tertunda akibat tuntutan
kehidupan saat ini menyebabkan masa- masa tunda hubungan
seksual menjadi semakin panjang. Jika tidak diberikan pengarahan
yang tepat maka penyaluran seksual yang dipilih beresiko tinggi.

7) Adanya trend baru dalam berpacaran dikalangan remaja.

Dimana kalau dulu melakukan hubungan seksual di luar nikah


meskipun dengan rela sendiri sudah dianggap bebas. Namun
sekarang sudah pula bergeser nilainya, yang dianggap seks bebas
adalah jika melakukan hubungan seksual dengan banyak orang.

D. Patofisiologi

Menurut (Bobak, 2004) secara medis kehamilan remaja membawa dampak


buruk. Dampak buruk itu kemungkinan terjadinya kemacetan persalinan akibat tidak
seimbangnya antara panggul ibu dan janinnya. Itu bisa dimengerti, karena pada wanita
yang usianya muda, panggulnya belum berkembang sempurna.

1. Pada ibu, perdarahan pada kehamilan maupun pasca persalinan, hipertensi


selama kehamilan, solusio plasenta, dan resiko tinggi meninggal akibat
perdarahan.
2. Pada bayi, kehamilan belum waktunya (prematur), pertumbuhan janin
terhambat, lahir cacat dan berpenyakitan, dan BBLR.

E. Komplikasi

Dampak dari kehamilan resiko tinggi pada usia muda, antara lain (Manuaba,
2007):

1. Keguguran.

Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja, misalnya
karena terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan
oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping
yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang
pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.

2. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.

Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama


rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah
(BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum
menginjak 20 tahun. cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu
tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan
(ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. Selain itu cacat bawaan juga
di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal,
seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat
dan memijat perutnya sendiri. Ibu yang hamil pada usia muda biasanya
pengetahuannya akan gizi masih kurang, sehingga akan berakibat kekurangan
berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan
mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan
cacat bawaan.

3. Mudah terjadi infeksi.

Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress


memudahkan terjadi infeksi saat hamil terlebih pada kala nifas.

4. Anemia kehamilan atau kekurangan zat besi.

Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang


pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil di usia muda.karena pada saat
hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. tambahan zat besi dalam tubuh
fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah
merah janin dan plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah
akan menjadi anemis.

5. Keracunan kehamilan (gestosis).

Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia
makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia
atau eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius
karena dapat menyebabkan kematian.

6. Kematian ibu yang tinggi.

Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan


dan infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup
tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun).

7. Persalinan yang lama


8. Disproporsi fetopelvis

Kehamilan pada remaja biasanya menghadapi banyak krisis psikologis selama


kehamilan (Muscari : 2005) :

1. Menyadari kehamilannya dan menginformasikannya kepada pasangan serta


orang tua
2. Keputusan untuk mengandung janin sampai lahir atau melakukan aborsi
3. Menyiapkan kebutuhan keuangan, medis dan nutrisi
4. Menghadapi hubungan interpersonal di rumah dan di sekolah
5. Keputusan untuk membesarkan sendiri bayinya atau untuk adopsi
6. Koping terhadap perubahan gambaran tubuh
7. Koping terhadap masalah keterikatan dan menjadi orang tua.

F. Manifestasi klinis

Pada ibu yang memiliki risiko tinggi dalam kehamilan memiliki tanda bahaya
sebagai berikut :

1. Muntah terus menerus, tidak bisa makan


2. Perdarahan
3. Pucat pada konjungtiva, muka, telapak tangan menunjukkan anemia
(kekurangan darah)
4. Demam tinggi, biasanya karena infeksi
5. Keluar air ketuban sebelum waktunya
6. Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Ultrasonografi : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel,
mendeteksi abnormalitas, melokalisasi plasenta dan kantung cairan amnion
pada amniosintesis.
2. Amniosintesis terhadap perbandingan lesitin terhadap sfingomielin (L/S) :
mendeteksi adanya fosfatidilgliserol (fg), mengukur densitas optikal cairan
untuk mendeteksi hemolisis dari ketidaksesuaian Rh atau infeksi pada cairan.
3. Tes toleransi glukosa: memeriksa diabetes melitus gestasional (DMG).
4. Jumlah trombosit: penurunan mungkin berhubungan dengan HAK dan
sindrom HELLP (hemolisis, peningkatan enzim hepar atau jumlah trombosit
rendah).
5. Golongan darah, kelompok Rh, dan pemeriksaan untuk antobodi pada klien
Rh-negatif/Du-negatif: mengidentifikasi risiko ketidaksesuaian.
6. Pemeriksaan koagulasi (masa tromboplastin parsial teraktivasi (APPT), masa
tromboplastin parsial (PTT), masa protrombin (PT), produk degradasi
lembaran fibrin (FSP atau FDP) : mengidentifikasi kelainan pembekuan bila
ada perdarahan.
7. Bilirubin, pemeriksaan fungsi hepar (AST, ALT, dan kadar LDH): mengkaji
masalah hepar hipersensitif.
8. Urinalisis, kultur atau sensitifitas: mendeteksi bakteuria, Dipstick:
menentukan kadar glukosa atau protein.
9. Pemeriksaan serologi, VDRL: memeriksa hepatitis, HIV AIDS, sifilis.
10. Profil kriteria biofisika (BPP): mengkaji kesejahteraan janin.

H. Penatalaksanaan
1. Melakukan skrining atau deteksi dini resiko tinggi ibu hamil atau dengan
macam faktor resiko
2. Menentukan ibu resti dengan pengertian kemungkinan terjadinya resiko
kehamilan atau kesakitan pada ibu dan bayi
3. Memantau kondisi ibu dan janin selama kehamilan
4. Mencatat dan melapor keadaan kehamilan
5. Memberi pedoman penyuluhan untuk persalinan aman berencana
6. Rujukan dini berencana atau rujukan in utera.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Adapun hal- hal yang perlu dikaji pada klien dengan kehamilan risiko tinggi
adalah sebagai berikut:

1. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, riwayat
perkawinan, lamanya perkawinan dan alamat.
2. Keluhan utama: kaji adanya perdarahan pervaginam.
3. Riwayat kesehatan:
a. Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke
rumah sakit atau puskesmas pada saat pengkajian. Manifestasi klinis yang
mengindikasikan kehamilan antara lain berhentinya periode menstruasi
dan adanya pembesaran payudara.
b. Riwayat kesehatan masa lalu.
c. Riwayat kesehatan keluarga.
4. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi

Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi


terhadap drainase, pola pernapasan terhadap kedalaman dan kesmetrisan,
bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanyan
keterbatasan fisik dan seterusnya.

b. Palpasi
1) Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontrak
uterus.
2) Tekanan: menentukan karakter nadi, mngevaluasi edema,
memperhatikan posisi janin atau mencubitkan kulit mengamati
turgor. Pemeriksaan Leopold 1, leopold 2, leopold 3, dan leopold 4.
3) Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan atau tonus otot atau
respon nyeri yang abnormal.
c. Perkusi
1) Menggunakan jari: ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang
menunjukkan ada tidaknya cairan, massa atau konsolidasi.
2) Menggunakan pali perkusi: ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks atau gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut
apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak.
d. Auskultasi

Mendengarkan suara nafas, bunyi jantung, abdomen untuk bising usus


ada denyut jantung janin.

5. Identifikasi umum

Jika selama kehamilan ditemukan perdarahan, identifikasi:

a. Lama kehamilan
b. Kapan terjadin perdarahan, berapa lama, banyaknya, dan aktivitas yang
mempengaruhi
c. Karakteristik darah: merah terang, kecokelatan, adanya gumpalan darah,
dan lendir
d. Sifat dan lokasi ketidaknyamanan seperti kejang, nyeri tumpul atau tajam,
mulas serta pusing.
6. Kaji status psikososial : respon remaja terhadap kehamilan dan persalinan,
tingkat perkembangan kognitif remaja, kemampuan menyelesaikan masalah,
gambaran tubuh, ketergantungan dan hubungan dengan teman sebaya serta
pasangan. Pada umumnya remaja menyangkal kehamilannya sehingga
pengenalan sejak awal oleh orang tua atau tenaga kesehatan sangat penting
untuk menentukan waktu awal perawatan pranatal.
7. Kaji sistem pendukung : orang tua, teman pria atau pacar atau suami.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan
yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik, penurunan simpanan
nutrisi, sekunder akibat masa remaja.
2. Kebutuhan pembelajaran mengenai proses kehamilan, kebutuhan individu,
harapan masa datang berhubungan dengan kurangnya informasi.
3. Risiko tinggi cidera terhadap janin berhubungan dengan malnutrisi ibu,
ketidakadekuatan perawatan dan skrinning pranatal.
4. Gangguan citra tubuh atau gangguan identitas pribadi berhubungan dengan
perubahan tubuh akibat kehamilan, krisis situasi dan maturasi, tidak adanya
sistem pendukung.
5. Risiko isolasi sosial berhubungan dengan respon kelompok sebaya terhadap
kehamilan.

C. Intervensi keperawatan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan
yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik, penurunan simpanan
nutrisi, sekunder akibat masa remaja

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi klien dapat


terpenuhi.
No Intervensi Rasional
1 Kaji masukan makanan dalam 24 jam Membantu untuk
merencanakan perubahan
atau penambahan diet yang
adekuat.
2 Timbang berat badan klien dan Penambahan berat Penambahan berat badan
badan tentukan berat badan sebelum hamil. Berikan dibutuhkan selama
informasi tentang risiko diet dalam kehamilan kehamilan yang dihitung
sesuai tuntutan
pertumbuhan normal dan
berat badan sebelum
kehamilan. Keistimewaan
makanan, yang
dihubungkan dengan
tahap perkembangan bumil.
3 Berikan ketentuan pada individu akan penambahan Kalori adekuat perlu
berat badan berdasarkan kebutuhan pertumbuhan dan untuk persediaan protein
berat badan sebelum hamil, mengenali gaya dan menjamin masukan zat
hidup bumil dan kesukaan pada makanan siap saji besi
4 Tekankan pentingnya masukan vitamin atau zat besi Remaja yang hamil
setiap hari. cenderung mengalami
masalah malnutrisi dan
anemia, karena
pertumbuhan belum
lengkap dan atau atau
kebiasaan makan, yang
memerlukan peningkatan
protein, zat besi dan kalori.
5 Berikan informasi tentang peran Masukan protein yang tidak
protein dalam perkembangan adekuat
janin selama kehamilan,
khususnya
trimester pertama,
membuat
pertumbuhan janin
terhambat.
6 Kaji situasi klien, dan tentukan siapa yang Status ekonomi, atau
bertanggung jawab terhadap pembelanjaan dan kurangnya pengalaman
persiapan makanan. Berikan informasi tentang belanja dan penyediaan
cara- cara memperbaiki masukan nutrisi makanan dapat
mempengaruhi nutrisi yang
tepat.

2. Kebutuhan pembelajaran mengenai proses kehamilan, kebutuhan individu,


harapan masa datang berhubunga dengan kurangnya informasi.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat memahami proses
kehamilan yang dialaminya.
Kriteria hasil:
- Berpartisipasi dalam proses belajar.

- Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi.

No Intervensi Rasional
1 Evaluasi usia klien dan tahap perkembangan remaja Usia dan tahap remaja
akan mempengaruhi
pendekatan untuk
penyuluhan.
2 Kaji pemahaman klien tentang anatomi dan fisiologi Untuk klien yang hamil
pria atau wanita. Berikan informasi yang tepat; pada masa remaja awal,
perbaiki kesalahan konsep kehamilan dan menjadi
orangtua sering tidak
dikenali sebagai
kemungkinan hasil dari
aktivitas sosial
3 Kaji riwayat penggunaan atau penyalahgunaan Membantu mencegah
obat. Berikan informasi tentang efek negatif komplikasi janin.
yang mungkin terjadi pada janin.
4 Diskusikan tanda- tanda persalinan. Identifikasikan Klien perlu tahu kapan
yang membuat remaja berisiko untuk menghubungi dokter atau
persalinan atau kelahiran preterm pemberi pelayanan dan
bagaimana membedakan
antara persalinan palsu dan
sejati.

3. Risiko tinggi cidera terhadap janin berhubungan dengan malnutrisi ibu,


ketidakadekuatan perawatan dan skrinning pranatal.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan kejadian atau kondisi yang
dapat menimbulkan risiko terhadap janin dapat diatasi.
Kriteria hasil:

- Klien dapat mengungkapkan pemahaman tentang faktor- faktor risiko


individu.

- Menunjukkan pertumbuhan janin dalam batas normal.

No Intervensi Rasional
1 Kaji adanya potensial risiko janin Bayi yang lahir dari ibu
remaja berisiko
prematuritas, BBLR,
trauma kelahiran.
2 Timbang berat badan klien. Berikan petunjuk bagi Klien yang melahirkan bayi
individu untuk penambahan berat badan BBLR, sebelum hamil
berdasarkan kebutuhan pertumbuhan normal berat badannya kurang dan
semakin berkurang
selama hamil sampai
dengan melahirkan
3 Tekankan pentingnya perawatan pranatal terus- Dapat mengatahui atau
menerus menjamin pertumbuhan dan
perkembangan janin normal
4 Berikan informasi kepada klien tentang pentingnya Malnutrisi memperberat
masukan nutrisi yang adekuat untuk janin ketidakadekuatan
perkembangan neonatus
atau sel- sel otak janin.

4. Gangguan citra tubuh atau gangguan identitas pribadi berhubungan dengan


perubahan tubuh akibat kehamilan, krisis situasi dan maturasi, tidak adanya
sistem pendukung.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat meningkatkan rasa
percaya diri.
Kriteria hasil:

- Klien mengidentifikasikan perasaan dan metoda untuk koping terhadap


persepsi diri atau kemampuan negatif

- Klien menunjukkan adaptasi pada perubahan peran.

No Intervensi Rasional
1 Ciptakan hubungan terapeutik Penting untuk menciptakan
sikap saling percaya dan
kerjasama sehingga klien
bebas untuk mendengarkan
informasi yang tersedia.
2 Tanyakan perasaan klien tentang identitas atau peran Klien mungkin sulit untuk
seksual melihat dirinya sebagai
seorang ibu.
3 Diskusikan masalah dan rasa takut akan citra tubuh Membuat dasar untuk
dan perubahan sementara karena hamil pembelajaran masa datang
4 Diskusikan cara- cara untuk meningkatkan citra diri Membantu dalam
positif (misalnya gaya berpakaian, tata rias) mengatasi perubahan
penampilan dan
menunjukkan citra positif
DAFTAR PUSTAKA

Bobak , L. 2004. Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC

Fanaurora. 2013. Kasus Kehamilan Remaja Semakin Meningkat. Diunduh tanggal 28


April 2014. Dari http://www.gelumbang.com/kasus-kehamilan-remaja-semakin-
meningkat.html

Manuaba, I. B. G. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC

Muscari, M. E. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik edisi 3. Jakarta : EGC

Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung


Seto

Syafii, N. 2013. LP Kehamilan Pada Remaja. Diunduh tanggal 5 April 2014. Dari
http://www.scribd.com/doc/141594226/LP-Kehamilan-Pada-Remaja

Trihono. 2013. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Diunduh tanggal 28 April 2014.
Dari depkes.go.id/downloads/riskesdas2013/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf