Anda di halaman 1dari 3

PATOFISIOLOGI

Penyebab acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah human


immunodeficiencyvirus (HIV), yang melekat dan memasuki limfosit T helper CD4+. Virus
tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel imunologis lainnya, dan orang itu mengalami
destruksi sel CD4+ secara bertahap. Sel-sel yang memperkuat dan mengulang respons
imunologis diperlukan untuk mempertahankan kesehatan yang baik dan bila sel-sel tersebut
berkurang dan rusak maka fungsi imun lain akan terganggu.
HIV dapat pula menginfeksi makrofag, sel-sel yang dipakai virus untuk melewati sawar
darah otak masuk ke dalam otak. Fungsi limfosit B juga terpengaruh dengan peningkatan
produksi immunoglobulin total yang berhubungan dengan penurunan produksi antibody
spesifik. Dengan memburuknya sistem imun secara progresif, tubuh menjadi semakin rentan
terhadap infeksi oportunistik dan juga berkurang kemampuannya dalam memperlambat
replikasi HIV. Infeksi HIV dimanifestasikan sebagai penyakit multisystem yang dapat
bersifat dolman bertahun-tahun karena menyebabkan imunodefisiensi secara bertahap.
Kecepatan perkembangan dan manifestasi klinis penyakit ini bervariasi orang ke orang
(Bezt, Cecily Lynn. 2009).

PENATALAKSANAAN

Belum ada vaksin untuk mencegah HIV/AIDS, dan pengobatannya juga belum ada.
Pencegahan sangat tergantung pada kampanye kesadaran masyarakat dan perubahan perilaku
individu dalam lingkungan yang mendukung, yang memerlukan waktu dan kesabaran (ILO,
2005). Dari segi pengobatan, Tidak ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan
HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat diperlambat namun tidak dapat dihentikan
sepenuhnya. Kombinasi yang tepat antara berbagai obat-obatan Antiretroviral (ARV) dapat
memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan menunda
awal terjadinya AIDS (KPA, 2011).
Pengobatan HIV adalah dengan pemberian obat antiretroviral. Terapi dengan kombinasi obat
obatan antiretroviral, disebut sebagai highly active antiretroviral therapy (HAART) yang
tersedia sejak tahun 1996 dapat menekan replikasi virus sampai dibawah batas deteksi dalam
plasma, penurunan viral loads dalam kelenjar getah bening, yang memberikan kesempatan untuk
memulihkan respon imun terhadap patogen oportunistik, dan memperpanjang umur pasien.
Tetapi HAART gagal menyembuhkan infeksi HIV-1. Virus tipe ini bertahan dalam sel yang
bersifat laten dan hidupnya panjang, termasuk sel T memori CD4+. Ketika HAART dihentikan
atau gagal terapi, maka produksi virus akan kembali meningkat. Kombinasi tiga obat juga efektif
pada bayi atau anak yang terinfeksi HIV. Tetapi terapi satu obat tidak disarankan, karena dapat
terjadi resisten (Brooks, Butel, and Morse, 2004).
Depkes (2006) dalam Mariam (2010), Antiretroviral (ARV) adalah obat yang
menghambat replikasi HIV. Penggunaan obat ARV dengan kombinasi yang baik dan benar, serta
mengkonsumsinya juga dengan benar dan dipantau secara berkala terhadap efek samping
adherence (keteraturan makan obat), maka diharapkan terjadi penekanan replikasi virus HIV
dalam darah, sehingga kekebalan tubuh akan kembali meningkat ketahap normal, dan infeksi
oportunistik dapat dicegah atau disembuhkan (Zein,2006).
Untuk mengurangi resiko penularan dari ibu ke bayi maka penanganan pencegahan
infeksi bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV sebaiknya dimulai sejak saat bayi di dalam
kandungan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Ibu yang sudah diketahui terinfeksi HIV sebelum hamil, perlu dilakukan pemeriksaan
untuk mengetahui jumlah virus di dalam plasma, jumlah sel T CD4+, dan genotype virus. Juga
perlu diketahui, apakah ibu tersebut sudah mendapat anti retrovirus ( ARV ) atau belum. Data
tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan informasi kepada ibu tentang resiko penularan
terhadap pasangan seks, bayi, serta cara pencegahannya (Se `Tes-tes saat ini tidak membedakan
antara antibody ibu/bayi, dan bayi dapat menunjukkan tes negative pada usia 9 sampai 15 bulan.
Penelitian mencoba mengembangkan prosedur siap pakai yang tidak mahal untuk membedakan
respons antibody bayi dengan ibu :

1. Hitung darah lengkap (HDL) dan jumlah limfosit total: Bukan diagnostic pada bayi baru
lahir tetapi memberikan data dasar imunologis.
2. EIA atau ELISA dan tes Western Blot: Mungkin positif, tetapi invalid
3. Kultur HIV (dengan sel mononuclear darah perifer dan, bila tersedia, plasma).
4. Tes reaksi rantai polymerase dengan leukosit darah perifer: Mendeteksi DNA viral pada
adanya kuantitas kecil dari sel mononuclear perifer terinfeksi.
5. Antigen p24 serum atau plasma: peningkatan nilai kuantitatif dapat menjadi indikatif dari
kemajuan infeksi (mungkin tidak dapat dideteksi pada tahap sanagt awal infeksi HIV)
6. Penentuan immunoglobulin G, M, dan A serum kualitatif (IgG, IgN, dan IgA): Bukan
diagnostic pada bayi baru lahir tetapi memberikan data dasar imunoogis. (tiawan, 2009).

Doengoes ME & Mary Drances Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi Edisi 2.
Jakarta: EGC.

Betz, Cecily L., Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 5. Jakarta:
EGC.

Zein, Umar, dkk., 2006. 100 Pertanyaan Seputar HIV/AIDS Yang Perlu Anda Ketahui. Medan:
USU press; 1-44