Anda di halaman 1dari 14

Kemana Arah Demokrasi Indonesia?

1
Oleh : Syahrul Mustofa2
Apakah demokrasi di Indonesia telah menghantarkan kesejahteraan pada rakyat?
Apakah rakyat Indonesia saat ini telah berdaulat secara politik, ekonomi, sosial dan
budaya dengan sistem demokrasi yang berkembang saat ini?

A. PENDAHULUAN

Demokrasi diyakini sebagai instrumen sistem kekuasaan yang


dapat menghantarkan kesejahteraan dan keadilan sosial, demokrasi selain
melindungi dan menjamin terpenuhinya hak-hak politik, sosial, ekonomi
rakyat juga menjamin rakyat sebagai pemegang kekuasaan menjadi lebih
berdaulat3. Dengan berbagai keunggulannya, dukungan terhadap
demokrasi semakin meluas dan seakan menjadi pilihan terbaik diantara
sistem yang lain. Praktek demokrasi pun terus tumbuh dan berkembang
disebagian besar negara modern saat ini, sehingga tidak heran negara
yang sampai saat ini masih menganut sistem otoritarian akan
mendapatkan kecaman/cacimakian bahkan dikucilkan dari pergaulan
internasional. Kondisi ini pada akhirnya memaksa negara-negara
otoritarian mulai melakukan berbagai perubahan, entah melalu jalur
reformasi maupun melalui jalur revolusi dengan sokongan dari negara-
negara demokrasi liberal dan atau dari kelompok demokrasi dalam negara
itu sendiriuntuk menuju negara yang demokratis. Kehadiran negara
demokrasi seakan tidak bisa dihindarilagi bahkan menjadi arus mainstrem
di hampir semua negara dengan slogan; rakyat tidak akan pernah
sejahtera tanpa kehadiran negara yang demokratis.

Demokrasi dengan segala variannya memang telah banyak


menghantarkan sejumlah negara menjadi lebih maju, namun tidak

1
Papers disampaikan dalam Acara Musyawarah Nasional Kedaulatan (Bangsa) Indonesia
Jakarta, tanggal 20 September 2017 di selenggarakan oleh Institute Harkat Negeri, di Jakarta.
2
Penulis adalah Dosen Universitas Cordova, Nusa Tenggara Barat (UNDOVA-NTB), kontak
person/WA : 085253830001 email : legitimid_sumbawabarat@yahoo.com.
Syahrulmustofa1978@gmail.com
3
Menurut Robert A.Dahl mengemukakan, ada beberapa keunggulan dari aspek demokrasi,
antara lain (1) Demokrasi membantu dalam mencegah timbulnya pemerintahan kaum autokrat yang
kejam dan licik.(2) Demokrasi menjamin bagi warga negaranya sejumlah hak asasi yang tidak diberikan,
dan tidak dapat diberikan oleh sistem-sistem yang tidak demokratis.(3) Demokrasi menjamin kebebasan
pribadi yang lebih luas bagi warga negaranya daripada alternatif lain yang memungkinkan. (4)
Demokrasi melindungi orang-orang yang berkaitan dengan kepentingan pokok mereka.
Misalnya, kelangsungan hidup, cinta, tempat bernaung, rasa hormat, pakaian, kebebasan memilih,
memiliki keyakinan dan lain- lain. (5) Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat memberikan
kesempatan yang sebesar-besarnya bagi orang-orang untuk menggunakan kebebasan menentukan
nasibnya sendiri yaitu, untuk hidup di bawah hukum yang mereka pilih sendiri. (6) Hanya pemerintahan
yang demokratis yang dapat memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya untuk menjalankan
tanggung jawab moral. (7) Demokrasi membantu perkembangan manusia lebih daripada alternatif lain
yang memungkinkan. (8) Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat membantu perkembangan
kadar persamaan politik yang relatif tinggi. (9) Negara-negara demokrasi modern tidak berperang satu
sama lain. (10) Negara-negara dengan pemerintahan yang demokratis cenderung lebih makmur
daripada negara-negara dengan pemerintahan yang tidak demokratis.

1
sedikitpula telah menghantarkan negara semakin terpuruk/terbelakang
bahkan berada dalam jurang kemiskinan karena kegagalan negara dalam
meletakkan pondasi demokrasi substantif (demokrasi sejatinya).4Indonesia
adalah salah satunya, yang memaknai demokrasi secara sempit , yakni
demokrasi yang terbatas pada sebuah metode politik dan sebuah
mekanisme untuk memilih pemimpin politik dimana warga negara
diberikan kesempatan untuk memilih salah satu di antara pemimpin-
pemimpin politik yang bersaing meraih suara (Pemilu yang demokrastis).
Praktek demokrasi di Indonesia belum mencapai pada makna
sesungguhnya dari demokrasi itu sendiri (Demos) yakni sebuah
pemerintahan yang diuruskan oleh rakyat dimana rakyat memiliki
kewenangan untuk memerintah atau rakyat memiliki kedaulatan untuk
memerintah, mementingkan kehendak, pendapat serta pandangan
rakyatpejabat dan politisi yang hanya melayani rakyat.5

Perjalanan bangsa Indonesia untuk menjadi Negara demokrasi


memang sudah dilalui beberapa era dan generasi, mulai dari orde lama,
orde baru, sampai saat ini masuk dalam era reformasi. Sejarah mencatat
bahwa sejak Indonesia merdeka sampai saat ini sudah berganti sebanyak
7 kali pergantian Presiden. Dari masing-masing Presiden yang pernah
memimpin negeri ini, memiliki gaya kepemimpinan yang beragam.
Tidaklah mudah mencari jati diri bangsa Indonesia dalam mencapai
Negara demokrasi yang sesuai dengan karakter dan kebudayaan kita.
Pasalnya, berganti pemimpin, berganti juga corak sistem pemerintahan.
Konsekuensi dari berubahnya sistem Pemerintahan adalah berubahnya
fungsi dan hubungan lembaga-lembaga tinggi negara, khususnya antara
Eksekutif dan Legislatif. Konsep pemisahan kekuasaan antara lembaga
eksekutif dan lembaga legislative (teori trias politica) di indonesia
cenderung menimbulkan polarisasi dan instabilitas politik, karena
Indonesia adalah negara yang relatif baru memasuki transisi demokrasi.

Indonesia akan menjalani babak baru praktik demokrasi dengan


penyelenggaraan Pemilu serentak 2019, yang terdiri dari pemilihan
presiden dan wakil presiden digabung dengan pemilihan anggota DPR,
DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Dalam sistem presidensial
seperti yang dianut dalam sistem pemerintahan kita, belumlah pas jika
dilaksanakan sampai Negara kita menemukan konsep demokrasi yang
pas sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Idealnya sistem

4
Pemaknaan terhadap demokrasi dalam konteks tulisan ini penulis maknai bahwa indikator
utama dari sebuah negara demokrasi adalah jika rakyat terbebas dari kemiskinan, kesenjangan, buta
huruf dan kemelaratan. Negara baru dapat dikatakan demokratis (substantif) jika rakyatnya berdaulat
dan terbebas dari keadaan ekonomi, politik dan sosial yang terpuruk.
5
Sebagaimana pandangan Ahli Politik Abraham Lincoln, mengatakan bahwa demokrasi adalah
suatu bentuk pemerintahan dimana kekuasaan politik tertinggi (supreme political authority) dan
kedaulatan (sovereignty) ada di tangan rakyat yang berhak untuk memerintah.

2
presidensial harus dibarengi dengan meminimalisir jumlah partai politik,
karena sistem multipartai dapat menimbulkan kerentanan hubungan
antara eksekutif-legislatif. Memang pemilu masih dianggap belum bisa
menghasilkan pemerintahan yang efektif. Misalnya adanya gap dalam
pemerintahan, seperti pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi,
pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota. Lalu apakah
demokrasi di Indonesia selama ini telah menghantarkan rakyat pada
kesejahteraan?

B. FAKTA KEGAGALAN DEMOKRASI MENSEJAHTERAKAN RAKYAT

1. Demokrasi Yang Menghadirkan Utang Luar Negeri, Kemiskinan,


Pengangguran dan Korupsi

Demokrasi pada dasarnya tidak hanya menghadirkan rakyat berdaulat


secara politik,melaikan juga berdaulatan secara sosial, ekonomi, budaya
dan dimensi lainnya. Sebuah negara dikatakan demokrasi jika rakyat
terbebas dari kemiskinan, keterbelakangan dan kesenjangan, (demokrasi
substantif). Pemilu adalah salah satu indikator dari demokrasiuntuk
menghadirkan para pemimpin yang legitimate. Biaya pemilu di Indonesia
sangatlah mahal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia
disamping rumit, juga intensitas pelaksanaan Pemilu berlangsung setiap
waktu dan tempat/wilayah; mulai dari Pemilu DPR, DPRD prov dan DPRD
Kab/Kota, Pemilu Presiden, Pemilukada (Gubernur, Bupati/Walikota)
sampai dengan Pemilukades serentak6.
Dengan sistem Pemilu yang demikian (semua tingkatan wilayah), maka
dapat dipastikan hampir setiap tahun triliunan rupiah uang negara (APBN,
APBD, APBDES) akan habis untuk berlangsungnya Pemilu. Dengan
besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk sebuah PEMILU maka

6
Berdasarkan data yang diajukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun 2018, dana
Pilkada di sejumlah daerah di Tanah Air mencapai Rp 11,3 triliun. Pada tahun 2017 misalnya terdapat
101 daerah yang menggelar pemilihan kepala daerah serentak terdiri dari tujuh provinsi, 18 kota, dan 76
kabupaten, dengan total anggaran mencapai triliunan rupiah. Anggaran pilkada tersebut berasal dari
hibah yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah masing-masing provinsi tahun
anggaran 2016 untuk membiayai penyelenggaraan pemilihan gubernur dan wakil gubernur, dari tahap
persiapan dan penyelengaraan hingga berakhirnya proses pemilihan. Berdasarkan data dari Komisi
Pemilihan Umum, anggaran terbesar diserap dalam pilkada tingkat provinsi, yaitu (1) Provinsi Papua
Barat. Anggaran yang diajukan Rp615.161.176.000. Anggaran yang disetujui Rp506.384.609.000 (2)
Provinsi DKI Jakarta. Anggaran yang diajukan Rp478.374.049.685. Anggaran yang disetujui
Rp478.374.049.685 (3) Provinsi Aceh. Anggaran yang diajukan Rp202.454.212.350. Anggaran yang
disetujui Rp179.478.201.600 (4) Provinsi Banten. Anggaran yang diajukan Rp299.802.120.000.
Anggaran yang disetujui Rp150 miliar. (5) Provinsi Sulawesi Barat. Anggaran yang diajukan
Rp118.189.000.000. Anggaran yang disetujui Rp103.088.739.025 (6) Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung. Anggaran yang diajukan Rp116.432.478.105. Anggaran yang disetujui Rp88.663.139.000 (7)
Provinsi Gorontalo. Anggaran yang diajukan Rp80.153.768.700. Anggaran yang disetujui
Rp77.989.407.950 Di tingkat kota dan kabupaten, anggaran pilkada tertinggi ditempati oleh Aceh Utara
sekitar Rp66,8 miliar, Bekasi Rp72,1 miliar, Tolikara Rp69,1 miliar, dan Intan Jaya Rp66,8 miliar, Mappi
Rp63,8 miliar, dan Lanny Jaya Rp64,9 miliar. https://www.cnnindonesia.com/politik/20160928115227-
32-161749/dana-pilkada-serentak-tujuh-provinsi-telan-triliunan-rupiah/

3
muncul pertanyaan apakah dengan jumlah uang trilyunan rupiah tersebut
Pemilu menghasilkan produk yang berkualitas, meningkatnya
pembangunan dan kesejahteraan rakyat?. Pertanyaan ini penting untuk
diajukan mengingat dari orde ke orde hasil Pemilku baik Pemilu Presiden,
DPR, DPRD, DPD, Pemilukada hingga Pemilukades kebijakan
pembangunan Presiden/Kepala Daerah maupun Kepala Desa tidak
merubah wajah keterbelakangan Indonesia. Indikator kesejahteraan rakyat
tetap saja terpuruk; angka kemiskinan dan pengangguran dari tahun
ketahun terus bertambah termasuk hutang luar negeri Indonesia yang juga
harus dipikul rakyat terus bertambah.
Data BPS per Mei 2017 menyebutkan utang pemerintah Indonesia
saat ini telah mencapai Rp 3.672,33 triliun7, selama kurun waktu 2,5 tahun
pemerintahan Jokowi jumlah utang pemerintah Indonesia bukan berkurang
justeru bertambah Rp 1.062 triliun.8 Sementara disisilain jumlah penduduk
miskin tidak mengalami penurunan yang signifikan. Jumlah penduduk
pada Maret 2017 mencapai 27,77 juta orang atau naik sekitar 6.900 orang
dibandingkan September 2016 dengan Indeks kemiskinan yang semakin
dalam dan parah. 9 Meningkatnya indeks kedalaman (kemiskinan) tentu
akan semakin menyulitkan upaya pemerintah dalam mengentaskan
kemiskinan10 Meningkatnya jumlah utang berartipula menambah jumlah
beban yang harus ditanggung oleh rakyat, yang saat ini setiap penduduk
Indonesia menanggung utang belasan juta rupiah. Padahal rakyat,
selama ini sangat minim menikmati anggaran karena sejumlah kebijakan
subsidi, mulai dari BBM, listrik, gas hingga pajak telah di cabut oleh
negara. Beban rakyat saat ini semakin bertambah karena harga-harga
kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, termasuk garam.11
Anehnya, ditengah kondisi rakyat dalam kesulitan DPR RI pada tahun
anggaran 2018 mengajukan kenaikan anggaran 70% sehingga sebesar
7
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian
Keuangan, jumlah utang pemerintah mencapai Rp 3.466,96 triliun pada akhir 2016 atau 27,9 persen
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun batas rasio utang yang ditetapkan Undang-Undang
(UU) mencapai sebesar 60 persen dari PDB. Menurut Sri Mulyani mantan Direktur Pelaksana Bank
Dunia, angka rasio utang itu masih lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara G20 dan
beberapa negara di ASEAN seperti Malaysia yang berada di angka 53,2 persen dan Thailand sebesar
44,4 persen dari masing-masing PDB negara-negara tersebut.
http://www.bareksa.com/id/text/2017/07/18/ini-penjelasan-sri-mulyani-soal-kondisi-utang-pemerintah-
kemiskinan-dan-rupiah/16015/news
8
Rinciannya yaitu pada 2015 bertambah Rp 556,3 triliun dan 2016 bertambah Rp 320,3 triliun,
lalu pada 2017 dimungkinkan utang bertambah Rp 379,5 triliun menjadi Rp 3.864,9 triliun.
9
Dari 27,77 juta penduduk miskin 62,24 persen atau 17,28 juta orang miskin berada di
kawasan pedesaan, sisanya 37,76 persen atau 10,49 juta penduduk miskin berada di perkotaan. BPS
juga mencatat jumlah daerah penyumbang terbesar kemiskinan sebanyak 21,98 persen penduduk
miskin berada di Maluku dan Papua mencapai 1,55 juta orang. Diikuti Bali dan Nusa Tenggara 14,72
atau sebanyak 2,11 juta orang, Sulawesi 10,97 persen (2,09 juta orang), Jawa 10,09 persen (14,83 juta
orang), Sumatera 11,03 persen (6,21 juta) dan Kalimantan 6,45 persen (0,97 juta).
10
BPS mengklaim seseorang yang berpenghasilan Rp 11.000 perhari atau setara Rp 332.119
perbulan adalah orang yang dikategorikan tidak miskin. Baru dikatakan miskin apabila pendapatan
masyarakat kurang dari Rp 11.000, misalnya Rp 10. 500.
11
http://www.kompasiana.com/ffgbsftnjgn/kemiskinan-kian-parah-ditengah-utang-makin-
meroket_596ddcb44fc4aa466b54b4b2

4
Rp 7,25 triliun. Padahal sebelumnya anggaran tahun ini (2017) sebesar
Rp 4,2 triliun. Usaha kenaikan anggaran DPR dalam APBN ternyata
diiikuti pula oleh DPRD provinsi maupun Kabupaten/Kota di Indonesia
dalam APBD.12 Kondisi ini tentu menyakitkan hati masyarakat. Menurut
Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran,
Yenny Sucipto, mengatakan besarnya anggaran tak sebanding dengan
hasil kinerja Dewan. Kinerja mereka pun buruk, tapi maunya selalu
lebih,.13 Pendapat ini sejalan dengan persepsi yang berkembang di
masyarakat pada Hasil Survei Transparansi Internasional yang menilai
lembaga DPR sebagai lembaga yang terkorup.14
Potensi lembaga DPR, DPD, DPRD Prov dan DPRD Kab/Kota
sebagai lembaga yang potensial subur terjadi korupsi memang sangat
berpeluang besar mengingat hanya jabatan politis pada lembaga legislatif
inilah yang satu-satunya tidak dibatasi masa jabatannya. Padahal hampir
seluruh jabatan politis mulai Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, Kepala
Desa bahkan komisi-komisi, seperti KPK, Omdbusman, KY, Komas HAM,
Komisi Informasi, KPU dan jabatan pada lembaga publik lainnya dibatasi
hanya 2 periode/kali, sementara di lembaga legialtif seseorang dapat
menduduki jabatan politis yang sama sampai seumur hidupnya atau
dengan kata lain jabatan politis lembaga legislatif layaknya jabatan

12
Anggaran DPR 2018 itu sudah disetujui dalam rapat paripurna pada April 2017. Saat itu,
Wakil Ketua BURT DPR Hasrul Azwar yang mengajukan rancangan kerja dan anggaran sebesar Rp
7,25 triliun untuk alat kelengkapan DPR dan Sekretariat Jenderal DPR. Dari anggaran itu, Rp 4,87
triliun untuk satuan kerja Dewan dan sisanya, Rp 2,37 triliun, untuk satuan kerja Sekretariat Jenderal
DPR. Alokasi anggaran satuan kerja Dewan dibagi menjadi dua, yaitu untuk pelaksanaan Program
Pelaksanaan Fungsi DPR RI sebesar Rp 1,16 triliun dan Program Penguatan Kelembagaan Rp 3,71
triliun. Anggaran satuan kerja Sekretariat Jenderal juga dibagi menjadi dua alokasi dana, yaitu
Program Dukungan Manajemen Pelaksana Tugas Teknis Lain di Sekretariat Jenderal DPR sebesar
Rp 2,32 triliun dan untuk Program Dukungan Keahlian Fungsi Dewan Rp 51 miliar. Meski bernilai
jumbo, salah seorang anggota DPR mengklaim jumlah usulan anggaran itu termasuk kecil. In i hanya
sekitar 0,34 persen dari APBN 2017.
ttps://www.tempo.co/read/fokus/2017/08/10/3544/menjelang-pemilu-2019-anggaran-dpr-
diusulkan-naik-70-persen
13
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Budget Center, Roy Salam, curiga para
anggota DPR menaikkan anggaran tahun depan itu untuk modal ikut Pemilihan Umum 2019. Jangan-
jangan untuk persiapan kampanye,.
14
Dewan Perwakilan Rakyat dinilai sebagai lembaga paling korup oleh responden dalam
survei yang digelar Global Corruption Barometer (GBC) 2017. Survei ini diadakan oleh Transparency
International dengan jumlah 1.000 responden di 31 provinsi. Dalam survei yang digelar sejak
pertengahan 2015 hingga awal 2017 ini diperoleh hasil bahwa 54 persen responden menilai DPR
sebagai lembagai paling korup. Disusul oleh lembaga birokrasi 50 persen, dewan perwakilan rakyat
daerah 47 persen dan Direktorat Jenderal pajak 45 persen. Peneliti Transparency International
Indonesia, Wawan Heru Suyatmiko mengatakan, responden menilai DPR sebagai lembaga terkorup
karena banyaknya kasus korupsi yang melibatkan anggota legislatif itu. Hasil survei ini sedikit berbeda
jika dibandingkan survei pada 2013 lalu. Saat itu yang dinilai sebagai lembaga terkorup adalah
Polri. "Tahun 2013 DPR menempati posisi kedua dengan rentang persentase yang jauh berbeda
dengan lembaga kepolisian yang menempati posisi pertama, ini menunjukan perubahan persepsi publik
dalam tiga tahun ini," ujar Wawan. Tahun ini Polri ada diposisi kelima di mana ada 40 persen responden
yang menyebutnya korup. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170307172741-20-198493/survei-
salip-kepolisian-dpr-jadi-lembaga-terkorup/

5
seorang raja.15 Untuk itulah, perlu ditinjau kembali regulasi yang
mengatur tentang jabatan politis lembaga legislatif.

2. Demokrasi Lokal Menghadirkan Kegaduhan dan Kesemrawutan

Sejalan dengan perubahan di tingkat Nasional, sejak tahun 2005 di


daerah telah dilasanakan Pilkada langsung adalah bagian upaya negara
untuk memperkukuh bangunan demokrasi nasional sekaligus perwujudan
otononomi dan demokrasi lokal yang dimaksudkan untuk memilih
pempimpin lokalagar mampu mendorong terwujudnya local
accountability, political equity, dan local responsiveness, yang merupakan
tujuan dari desentralisasi. Akan tetapi dalam prakteknya Pilkada langsung
memunculkan kembali entitas politik berbau primordial ( suku, agama, ras
dan agama) dan kerentanan konflik sosial, disamping semakin kuat dan
luasnya dominasi praktek money politics, ekonomi biaya tinggi dan
anggaran daerah yang terhisap (inefisiensi). Sementara, pada sisi lain
produk yang dihasilkan dari Pilkada langsung tidak serta merta dapat
memperbaiki dan mendekatkan pelayanan public dan kesejahteraan
masyarakat di daerah yang lebih baik.
Kegagalan demokrasi di tingkat lokal ini bersumber dari praktek
pembelian suara konstituen yang terjadi dihampir semua wilayah di
Indonesia pada semua tahapan Pemilikada sehingga banyak pasangan
calon terbaik di daerah gagal untuk memenangkan pilkada lantaran tidak
memiliki cukup biaya untuk kampanye (beli suara). Oleh karena kepala
daerah yang terpilih dari hasil pembelian suara, maka tidak sedikit kepala
daerah terpilih yang melakukan dan terjerat kasus korupsi .16 Pilkada
15
Hampir semua jabatan politis, mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota bahkan
jabatan-jabatan publik pofesional seperti KPU, Komisi Ombdusmans, Komisi Yudisial, KPK, Komnas
HAM, dan sejumlah jabatan pada lembaga lainnya dibatasi masa jabatan selama 2 periode pada
jabatan yang sama telah diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi jabatan sebagai anggota
legislatif sampai saat ini belum diatur.
16
Menurut Ryaas Rasyid, tiga dampak besar pilkada langsung itu secara kumulatif akan
secara otomatis mematikan ekspektasi publik akn hadirnya pemerintahan yang baik di Indonesia.
"Harapan untuk percepatan kesejahteraan rakyat telah didistorsi oleh sistem pilkada langsung," ujar
Ryaas.http://nasional.kompas.com/read/2011/08/24/14261156/Tiga.Dampak.Negatif.Pilkada.Langsung.
Pendapat yang sama disampaikan Gamawan Fauzi menjadikan permasalahan pemilihan kepala
daerah langsung sebagai bahan penelitian dalam disertasinya. menjelaskan, dampak negatif dari
pemilihan kepala daerah langsung adalah maraknya perilaku korupsi kepala daerah terpilih. Dalam
disertasinya Gamawan Fauzi menjelaskan ada korelasi korupsi oleh kepala daerah dengan besarnya
biaya pengeluaran dalam pemilukada (pemilihann umum kepala daerah) sebagaimana dikutip Dodi
dalam acara diskusi Polemik Sindo Trijaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu
(13/9/2014).Dodi juga memaparkan, ekses negatif lain pemilihan kepala daerah secara langsung sejak
2005, sedikitnya ada 327 kepala daerah yang terseret kasus hukum. Sebanyak 80 persen karena
kasus korupsi. Dia menamabahkan, dampak pemilihan kepala daerah langsung adalah rawan konflik
horizontal. Menurutnya, banyak jiwa melayang sia-sia dampak pemilihan langsung tersebut. "Belum
lagi kerusakan fasilitas seperti gedung perkantoran,".Dampak lainnya, kata Dodi marak terjadi mutasi
pejabat. Lanjutnya, Kepala daerah terpilih biasanya menyingkirkan pejabat yang bukan pendukungnya
ketika proses pencalonan. "Banyak mutasi pejabat tanpa pertimbangan. Di Palembang contohnya, wali
kota copot 158 pejabat tanpa alasan jelas.

6
langsung yang telah berjalan selama ini juga telah menimbulkan
permasalahan baru di daerah.
Dari hasil evaluasi pelaksanaan pilkada langsung, tercatat sedikitnya
ada sembilan efek negatif. Pertama, tingginya biaya politik, yang
memunculkan 'barrier to entry' (penghalang) dari calon berkualitas tapi
berbiaya cekak,". Kedua, munculnya politik balas budi dari calon yang
menang dengan mengarahkan program bantuan sosial hanya kepada
kantong-kantong desa yang memilihnya. Ketiga, kebutuhan mencari "uang
kembalian" menjadikan 60 persen atau sebanyak 292 kepala daerah yang
terpilih secara dalam pilkada langsung terjerat persoalan hukum.
Keempat, pilkada langsung meningkatkan eskalasi konflik horizontal.
Kelima, pilkada langsung memunculkan sejumlah ketidakpastian karena
berlarut-larut dalam sengketa pilkada di Mahkamah Konstitusi yang
sampai beberapa waktu lalu menimbulkan skandal tersendiri. Keenam,
pilkada langsung memunculkan fenomena 'ketidakpatuhan' koordinasi
bupati/wali kota kepada gubernur selaku kepanjangan tangan pemerintah
pusat. Ketujuh, pilkada langsung menghabiskan anggaran negara dan
daerah dan mengurangi anggaran pembangunan untuk peningkatan
kesejahteraan rakyat. Kedelapan, pilkada langsung menguatkan praktek
demokrasi liberal dan cenderung meninggalkan demokrasi Pancasila,.
Sembilan, pilkada langsung melestasrikan 'money politics' atau politik
uang. "Menjadikan demokrasi langsung kehilangan esensi,".17 Sepuluh,
Pilkada langsung melahirkan mesin birokrasi di daerah tidak berjalan
efektif, karena mutasi pejabat tidak didasarkan prinsip the right man and
the right place melainkan didasarkan pada like and dislike (dukungan).
Sebelas, Pilkada langsung melahirkan benih-benih permusuhan ditingkat
masyarakat arus bawah yang berkepanjangan, polarisasi sosial yang
semakin menguat dan semangat kebersamaan/gotong royong dikalangan
masyarakat semakin berkurang karena fragmentasi politik dalam pilkada.
Kedua belas, Pilkada langsung menyulitkan koordinasi dan sinergisitas
visi, misi dan program pembangunan daerah karena masing-masing
kepala daerah terpilih memiliki visi dan misinya yang harus dilaksanakan.
Ketiga belas, Kepala Daerah terpilih tersandera oleh kepentingan Team
Sukses, terutama kelompok elite yang terlibat dalam proses pemenangan
pilkada, termasuk para cukong yang membiayai pilkada dan kelompok
pemikir (intelektual)sehingga dalam kebijakan kepala daerah terpilih
lebih mementingkan kelompok pendukung pada ring satu atau
pendukung inti, bukan konstituen yang berada pada arus bawah.
Permasalahan Pilkada langsung, perlu mendapat kajian secara
mendalam sebab baik Pilkada langsung serentak maupun tidak serentak

17
http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/09/25/ncftf1-ini-sembilan-efek-negatif-
pilkada-langsung-versi-ppp

7
biaya Pemilukada langsung tetap tinggi (mahal)..18 Dan sampai saat ini
publik masih yakin bahwa praktek politik uang masih akan mendominasi
pilkada kali ini (2017) maupun Pilkada langsung dimasa mendatang. Hasil
Survei Litbang Kompas 2017 menunjukkan mayoritas responden yakin
bahwa politik uang masih mendominasi pilkada serentak 2017 dan masa
tenang adalah masa yang paling rawan dengan politik uang. Hasil ini
sejalan dengan hasil Indeks Kerawanan Pilkada 2017 yang dilaksankan
Bawaslu RI, menerangkan kerawanan politik uang menempati posisi
tertinggi. Politik uang disebut rawan terjadi di 7.197 tempat pemungutan
suara (TPS). TPS rawan politik uang dinilai ada di Provinsi Papua Barat
yang mencapai 71,68 persen dari jumlah TPS sebanyak 2.857.
Kerawanan politik uang terindikasi pada pemberian uang, barang, dan jasa
secara langsung kepada pemilih. Sementara pada wilayah dengan tipologi
perdesaan dan tertinggal, suap diberikan kepada penyelenggara pemilu.
Modus politik uang pun kini semakin beragam. Lintas Studi Demokrasi
Lokal (LIDAL) menemukan dugaan jual beli suara dengan modus
melibatkan pedagang atau pemilik toko untuk membagikan sembako
kepada masyarakat yang telah mendapatkan kupon dari tim sukses. Jual
beli suara juga terjadi dengan mengerahkan saksi bayangan melalui
mobilisasi tim relawan di setiap TPS sebanyak 10-25 orang dengan
imbalan berkisar Rp 100.000-Rp 250.000 per orang.
Kedepan, publik sesungguhnya berharap dalam pelaksanaan pilkada
tidak hanya jujur dan adil, tetapi juga mampu menghadirkan pemimpin
yang memenuhi kepentingan publik. Kepala daerah terpilih nantinya dapat
membenahi layanan publik seperti kesehatan, pendidikan (21,9 persen),
mengeluarkan kebijakan pro rakyat untuk petani, buruh, pedagang kecil,
usaha kecil menengah (18,8 persen), memperbaiki infrastruktur (15,6
persen), visi misi pasangan calon ditepati (12 persen), dan memberantas

18
Pilkada serentak yang untuk pertamakali diselenggarakannya di tahun 2015 sebanyak 269
daerah dengan jumlah 827 pasangan calon yang bertarung atau rata-rata tiga pasangan calon di setiap
daerah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 690 pasangan calon maju dari jalur partai politik dan 137
pasang calon lainnya dari jalur perseorangan. Dibandingkan dengan Pilkada 2010, jumlah seluruh
pasangan calon yang berlaga itu jauh lebih rendah. Berdasarkan data Badan Pengawas Pemilu
(Bawaslu), pada Pilkada 2010 ada 1.083 pasangan calon bertarung di 244 daerah dengan rata-rata 4,5
pasang calon per daerah. Tahun 2017, jumlah daerah yang menyelenggarakan pilkada lebih sedikit
dibandingkan 2015, hanya 101 daerah dengan jumlah pasangan calon yang berkontestasi sebanyak
310 pasangan atau rata-rata tiga pasangan calon di setiap daerah. Dari jumlah itu, sebanyak 242
pasangan calon maju diusung partai politik dan 68 pasangan calon dari jalur perseorangan. Menteri
Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan, pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak
ternyata justru lebih boros anggaran. Padahal, salah satu harapan digelar pilkada serentak untuk
menekan biaya yang cukup besar."Bayangan saya pilkada serentak akan hemat, tapi mohon maaf,
Pilkada Serentak 2015 lalu ternyata anggarannya membengkak, hampir 200%," ujarnya usai
menyampaikan keynote speaker dalam seminar nasional asosiasi ilmu politik XXVII tentang Pemilu
Serempak 2019 di UGM Yogyakarta, Kamis (27/4/2017). Diakses dari
https://nasional.sindonews.com/read/1200671/12/mendagri-tak-menyangka-pilkada-serentak-lebih-boros-anggaran-
1493285446

8
korupsi di kalangan birokrasi (11,9 persen).19 Jika keinginan publik di
daerah adalah memperoleh pemimpin yang terbaik, maka muncul
pertanyannnya adalah haruskah untuk memperoleh seorang Kepala
Daerah yang terbaik harus melalui Pemilukada langsung? Adakah jalan
lain untuk memperoleh Kepala Daerah terbaik tanpa melalui proses
Pemilukada langsung? Bukankah fakta yang terjadi saat ini Pemilukada
lebih banyak melahirkan mudharatnya daripada manfaatnya?

3. Demokrasi Desa Mulai Kental dengan Money Politik


Sejak diberlakukannya UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa yang diiringi
pula dengan kebijakan alokasi anggaran desa mencapai Rp.1 Milliar lebih
(Anggaran Dana Desa dan/atau Dana Alokasi Desa DAD)/desa. Jabatan
Kepala Desa dan staf desa menjadi jabatan yang seksi dan banyak
diminati oleh masyarakat dari seluruh lapisan. Kontestan Pilkades yang
sebelumnya sepi kini mulai ramai dan diminati banyak masyarakat,
terutama para elite desa. Celakanya, Pemilukades di tingkatkan desa juga
mulai dihinggapi virus money politik dan bahkan praktek money politik
mulai mendominasi tiap tahapan Pemilukades.20 Meningkatnya daya tarik
elite desa untuk mencalonkan diri sebagai kades ini ternyata tidak terlepas
dari perubahan kebijakan pusat tentang anggaran desameningkatnya
kapasitas fiskal APBDes dari tahun ketahun dalam program pemerintah
saat inimemicu semangat masyarakat untuk menjadi kepala desa
karena menjadi kepala desa ataupun staf desa sekarang ini tidak lagi
kere (miskin), tetapi sejahtera bahkan melebihi kesejahteraan para
pegawat tidak tetap pemerintah. Meski, tidak sedikit pula disejumlah desa
para calon kepala desa yang maju untuk menjadi sebagai kepala desa
dengan niat yang luhur untuk mengabdi dan mesejahterakan masyarakat.
APBDesa yang besat menjadi daya magnet tersendiri bagi sejumlah
calon kepala i desa di desanyasehingga banyak para calon kepala desa
dalam Pemilukades yang berani untuk menjual dan memanfaatkan segal
asset yang dimilikinya untuk dapat memenangkan Pilkades. Bahkan,
sejumlah calon Kepala Desa juga mulai mengembangkan praktek mencari
donatur pilkades atau sokongan pendanaan dari sejumlah kalangan
pengusaha yang berada di tingkat desa maupun pengusaha dari luar
desanya yang relatif memiliki dana besar untuk dapat membiayai
Pilkadestentu dengan komitmen imbalan apabila terpilih, maka Kepala
Desa terpilih akan membayar utangnya melalui pemberian sejumlah
19
Hasil jajak pendapat Kompas tahun 2017 menunjukkan, 34,3 persen responden menyatakan
tidak puas dengan hasil pilkada serentak 2015 dan hampir separuh bagian responden (46,6 persen)
mengakui bahwa mekanisme pemilihan kepala daerah selama ini belum maksimal melahirkan kepala
daerah yang berkualitas. Alih-alih bekerja keras bagi perubahan wilayahnya, beberapa kepala daerah
hasil Pilkada 2015 harus terjerat kasus hukum, baik kasus narkoba maupun korupsi, tak lama setelah
memenangi kontestasi.http://nasional.kompas.com/read/2017/02/13/21060011/pilkada.serentak.pembelajaran.demokrasi
20
Praktek money politik dalam Pilkades ini adalah akibat para elite di tingkat nasional dan daerah yang
sering mempertontonkan pesta dalam Pemilukada, Pileg dan Pilres dengan praktek beli suaraperilaku
inilah yang kemudian diikuti pula oleh banyak calon kepala desa dalam Pilkades. Bahkan, dalam
Pilkades banyak menggunakan konsultan politik untuk memenangkan Pilkades tentu dengan bayaran
sejumlah uang.

9
proyek yang menguntungkan bagi pengusaha yang telah memberikan
sokongan pendanaan. Maka, tidak heran pula jika banyak kepala desa
yang terjerat dalam kasus korupsi, seperti halnya Kepala Daerah.
Pilkades yang berlangsung saat ini, ternyata mulai menggeser nilai-
nilai demokrasi dan kearifan lokal setempatakibat proses pembelajaran
yang didapat dari Pilpres, Pileg maupun Pemilukada yang kurang baik.
Dampak dan permasalahan yang dihadapi Pilkades tidak jauh berbeda
dengan Pemilukada langsung. Bahkan, khusus Pilkades ekses negatif
yang dominan adalah menyisakan polarisasi sosial dan potensi konflik
sosial ditengah-tengah masyarakat yang berkepanjangan bahkan
menghancurkan soliditas dan solidaritas sosial masyarakat desa yang
telah terbangung sejak lama, seperti semangat kebersamaan gotong
royong untuk membangun desa karena tingkat pendidikan dan kesadaran
politik masyarakat desa yang relatif rendah, pasca pilkades masyarakat
tidak dengan mudah serta merta dapat bersatu kembali, hidup damai,
rukun dalam perbedaan. Karena, disejumlah desa, Pilkades bukan hanya
sekedar pertaruhan politik, tetapi pertaruhan harga diri keluarga, keturunan
serta kehormatan keluarga yang bernilai sosial tinggi sehingga kekalahan
atau kemenangan dalam Pilkades adalah kemenangan/kekalahan harga
diri kehormatan keluarga. Sebab itu, tidak mudah menghapuskan
memori perjalanan Pilkades bahkan pada sejumlah desa lawan politik
dalam pilkades menjadi lawan abadi dalam kehidupan sosial
kemasyaratan di desa.
C. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Simpulan
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pertama, Keberhasilan Pemilu di Indonesia mulai dari Pilpres,
Pileg, Pemilukada hingga Pilkades masih terbatas pada indikator
demokrasi prosedural yakni pelaksaan Pemilu berjalan LUBER dan
JURDILbelum mengarah pada demokrasi substantif karena sampai
sekarang rakyat belum berdaulat secara politik, ekonomi, sosial
maupun budaya. Kedua, pemimpin yang dihadirkan dari hasil
Pemilu, Pemilukada maupun Pemilukades belum banyak
menghadirkan pemimpin yang sungguh-sungguh berkomitmen dan
melaksanakan kebijakan yang benar-benar pro-rakyat miskin,
peningkatan pembangunan dan kesejahteraan padahal disisilain
biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan Pemilu triliunan rupiah,
biaya Pemilu yang mahal tidak equavalen dengan hasil yang
dicapai. Ketiga, demokrasi yang berkembang mulai dari tingkat
pusat, daerah bahkan hingga desa mengarah pada demokrasi
liberaldengan uang sebagai salah satu faktor dominan
menentukan kemenangan Pemilu, Pemilukada maupun
Pemilukades. Demokrasi liberal ini ternyata mulai mengikis nilai-
nilai kebersamaan, kegotongroyokan, bahkan jati diri bangsa
sebagai bangsa yang toleran dan menjungjung tinggi rasa
persaudaraan dan pesatuan. Pemilu, Pemilukada maupun

10
Pemilukades telah menyisakan benih-benih permusuhan sesama
bangsa yang berpotensi besar mengancam persaudaraan dan
persatuan yang merupakan modal sosial bangsa indonesia.
Keempat, pelaksanaan Pemilu mulai dari Pemilu Legislatif, Pemilu
Presiden, hingga Pemilukades membutuhkan anggaran yang
mahal, tempat dan waktu yang terus menerus (intensitas partisipasi
tinggi) berlangsung hampir setiap tahun, rakyat dalam satu kurun
periode mengikuti Pemilu (legislatif, presiden, gubernur,
bupati/walikota, kepala desa) tentu akan sangat banyak memakan
biaya, waktu, tenaga dan pikiran yang justeru akan melelahkan
masyarakat. Karena tidak ada yang luput tiap tahunnya selain
agenda Pemilukondisi ini ternyata sangat berpengaruh serta
menghambat usaha masyarakat untuk melaksanakan
pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan sektor lainnya. Jika
kondisi ini terus berlangsung, maka akan memunculkan kejenuhan
politik dikalangan masyarakat (apatis) dan akan melemahkan
pembangunan demokrasi dimasa mendatang.

2. Rekomendasi
a. Perlu dirumuskan kembali konsep, cita-cita dan langkah-langkah
pembangunan demokrasi di Indonesia agar demokrasi di
Indonesia sejalan dengan semangat, nilai-nilai, cita-cita, jati diri
serta budaya bangsa Indonesia, termasuk sesuai dengan ruang
dan waktu.
b. Untuk menghasilkan produk Pemilu, Pemilukada Pemilukades
yang berkualitas maka perlu dirumuskan kembali kriteria dan
persyaratan minimal kapasitas pempimpin, antara lainmisalnya
persyaratan minimal pendidikan anggota DPRD, DPRD Provinsi
dan DPR RI minimal S1 untuk DPRD Kab/Kota dan DPRD
Provinsi dan S2 untuk DPR RI agar para wakil rakyat terpilih
selain memliki legitimasi juga memiliki kapasitas yang memadai
untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai wakil rakyat.
c. Pemerintah perlu mengkaji kembali sistem Pemilu di Indonesia
terutama adalah Pemilukada Provinsi dan Kabupaten/Kota
antara lain: karena kedudukan Pemerintah Provinsi adalah wakil
pusat di daerah maka jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur
diangkat oleh Presiden dan untuk pemilihan Bupati dan Wakil
Bupati/Walikota dipilih melalui lembaga DPRDbersifat
transparan, partisipatif, demokratis dan akuntabel.
d. Untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan kekuasaan
dilingkungan lembaga legislatif, maka perlu adanya pembatasan
masa jabatan anggota DPRD Kab, DPRD Provinsi, DPR RI dan
DPD (2 periode) agar terjadi sirkulasi (regenrasi) pada lembaga
leislatif secara sehat, mencegah jabatan politik yang abadi dan

11
cenderung korup sekaligus untuk meningkatkan kinerja lembaga
legislatif dari periode ke periode.
e. Perlu adanya gerakan masyarakat secara bersama-sama dari
seluruh lapisan masyarakat untuk menata dan merubah kembali
tatanan sistem kenegaaraan dan kemasyaratan agar harapan,
cita-cita, dan langkah pembangunan Indonesia berjalan sesuai
dengan hajat para pendiri bangsa ini (founding fathers), UUD
1945, dan Pancasila.

12
DAFTAR PUSTAKA
Arie Herdianto, 2015, Pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 Dalam Upaya Penguatan
Sistem Presidensial Di Indonesia, Universitas Brawijaya Malang

Budiardjo, Miriam, 2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.

Cheema, G. Shabbir and Dennis A. Rondinelli. 2007. Decentralizing Governance:


Emerging Concept and Practices. Brookings Institution Press:
Washington, D.C.

Dahl, Robert A. 1971. Poliarchy: Participation and Opposition. Yale University


Press: New Heaven.

Eko, Sutoro. 2004. Pilkada Secara Langsung: Konteks, Proses dan


Implikasi. Bahan Diskusi dalam Expert Meeting Mendorong
Partisipasi Publik Dalam Proses Penyempurnaan UU No. 22/1999 di
DPR RI, yang diselenggarakan oleh Yayasan Harkat Bangsa,
Jakarta, 12 Januari 2004.

Mustofa, Syahrul,. 2005. Panduan Pilkada Langsung. KPU Sumbawa Barat, NTB.

______________.,2003. Mencabut Akar Korupsi, Somasi NTB,

_______________. 2007. Meretas Jalan Demokrasi Lokal, (Studi kasus Sumbawa


Barat. Bappeda, KSB

Marijan, Kacung. 2007. Resiko Politik, Biaya Ekonomi, AKuntabilitas Politik dan
Demokrasi Lokal. Makalah disampaikan pada In-house Discussion
Komunikas Dialog Partai Politik yang diselanggarakan oleh
Komunitas Indonesia untuk Demokasi (KID) di Jakarta, 16 November
2007

Osborne, David dan Gaebler, Ted (1997), Mewirausahakan Birokrasi, Pustaka


Binaman Pressindo, Jakarta.

Sanit, Arbi, 1985, Perwakilan Politik Indonesia, Jakarta: CV. Rajawali.

Surbakti, Ramlan, 1999, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Grasindo.

Thoha. Miftah. 2003. Birokrasi dan Politik di Indonesia, Rajawali Press, Jakarta.

Zakaria Bangun, 2008, Demokrasi dan Kehidupan Demokrasi di Indonesia, Bina


Media Perintis, Medan

Webstite :

https://nasional.sindonews.com/read/1200671/12/mendagri-tak-menyangka-pilkada-
serentak-lebih-boros-anggaran-1493285446

13
https://www.cnnindonesia.com/politik/20160928115227-32-161749/dana-pilkada-
serentak-tujuh-provinsi-telan-triliunan-rupiah/

http://www.kompasiana.com/ffgbsftnjgn/kemiskinan-kian-parah-ditengah-utang-
makin-meroket_596ddcb44fc4aa466b54b4b2

https://www.tempo.co/read/fokus/2017/08/10/3544/menjelang-pemilu-2019-
anggaran-dpr-diusulkan-naik-70-persen

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170307172741-20-198493/survei-salip-
kepolisian-dpr-jadi-lembaga-terkorup/

http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/09/25/ncftf1-ini-sembilan-efek-
negatif-pilkada-langsung-versi-ppp

https://nasional.sindonews.com/read/1200671/12/mendagri-tak-menyangka-pilkada-
serentak-lebih-boros-anggaran-1493285446

http://nasional.kompas.com/read/2017/02/13/21060011/pilkada.serentak.pembelajara
n.demokrasi

www.beritasatu.com, dalam Artikel Ini Empat Tantangan Penting Dalam Pilkada


Serentak, diunduh pada tanggal 23 Desember 2016

www.kompas.com. Dalam artikel Ini Alasan MK Putuskan Pemilu Serentak 2019,


diunduh tanggal 25 Maret 2014.

http://adenasution.com/2017/03/17/problematika-pemilihan-umum-serentak-
tahun-2019/

14