Anda di halaman 1dari 7

PORTOFOLIO

Kasus 1

Topik: Tinea Corporis


Tanggal (Kasus): 16 Februari 2017 Presenter: dr. Maya Dwinta S.
Tanggal Presentasi: Februari 2017 Pendamping: dr. Fera Novisarlita
Tempat Presentasi: Puskesmas Tanjung Enim
Objektif presentasi :
Keilmuan Ketrampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Pasien wanita, usia 60 tahun, datang dengan keluhan bercak
Deskripsi : kemerahan pada leher kiri, disertai rasa gatal sejak kurang lebih
1 minggu yang lalu.
Tujuan : Menegakkan diagnosa dan penatalaksanaan tinea corporis
Bahan bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas: Diskusi Presentasi dan diskusi E-mail Pos
Data pasien : Nama: Ny. H, , 60 th No. Registrasi: -

Telp : -
Nama Klinik : Poliklinik Lansia Puskesmas Tanjung Enim
Terdaftar sejak : -
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Pasien datang ke Poli Lansia Puskesmas Tanjung Enim dengan keluhan
timbul bercak kemerahan pada leher kiri sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu,
keluhan disertai rasa gatal terutama saat berkeringat. Gatal tidak disertai rasa
panas ataupun nyeri.Karena sangat gatal maka kulit tersebut digaruk oleh pasien
dengan menggunakan kuku, bahkan dengan menggunakan sisir rambut. Lama
kelamaan pasien merasa bercak kemerahan semakin meluas dan bertambah
banyak.
Bercak kemerahan disertai rasa gatal di daerah lain disangkal. Keluhan
berupa sakit kepala, rasa tidak nyaman di saluran pencernaan, demam, dan nyeri
sendi disangkal.Riwayat demam sebelumnya disangkal pasien. Kulit bersisik
putih disangkal pasien.Riwyat berkontak dengan binatang terutama anjing
dan kucing yang berbulu disangkal.
2. Riwayat Pengobatan:
Pasien mengatakan bahwa belumpernah mengobati keluhan gatal kulitnya.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
- Keluhan yang sama sebelumnya disangkal
- Riwayat alergi disangkal
- Riwayat Penyakit Darah Tinggi ada
- Riwayat Penyakit Kencing Manis ada
4. Riwayat Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit serupa dan tidak ada
riwayat alergi pada keluarga
5. Riwayat Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
6. Lain-lain : -

Daftar Pustaka
1. Djuanda A, et al. Mikosis. In: Djuanda A (ed). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
3th ed. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia; 2007.p. 92-99.
2. Lott, MER. Tinea Corporis eMedicine 1994-2009. [last update Juny 5, 2008].
Available at http://emedicine.medscape.com/article/1091473 . (Accessed: 2 May,
2009).
3. Anonim. Dermatofitosis. In: Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan
Kelamin RSUP Denpasar. Denpasar:SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah; 2007. p.16-18.
4. Mansjoer A, et al. Tinea Korporis. In: Mansjoer A (ed). Kapita Selekta
Kedokteran. 3th ed. Jakarta: Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2000.p 98-99.

Hasil Pembelajaran:
1. Definisi Tinea Corporis
2. Gejala Klinis Tinea Corporis
3. Klasifikasi Tinea Corporis
4. Diagnosis Banding Tinea Corporis
5. Tatalaksana Tinea Corporis
RANGKUMAN PEMBELAJARAN

1. Subjektif :
Pasien wanita, usia 60 tahun, datang dengan keluhan bercak kemerahan pada leher
kiri, disertai rasa gatal sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu. Gatal dirasakan
terutama saat berkeringat.
2. Objektif:
Hasil pemeriksaan fisik:
Keadaan umum : tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 160/100 mmHg
Nadi : 80 x/m
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36,8oC

Status Generalis
Kepala
- Bentuk : Normosefali, simetris
- Mata : (lihat status oftalmologikus)
- Telinga : tidak ada kelainan
- Hidung : tidak ada kelainan
- Mulut : Mukosa mulut dan bibir kering (-), sianosis (-).

Leher
- Pembesaran KGB (-), JVP tidak meningkat

Thorax
Paru-paru
- Inspeksi : Statis dan dinamis simetris, retraksi (-)
- Palpasi : stemfremitus kiri sama dengan kanan
- Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
- Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronki (-), wheezing (-).

Jantung
- Inspeksi : Iktus kordistidak terlihat
- Palpasi : Thrill tidak teraba
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : HR: 80 x/menit, irama reguler, BJ I-II normal, bising (-)

Abdomen
- Inspeksi : Cembung
- Palpasi : Lemas, hepar tidak teraba, cubitan kulit perut cepat
kembali
- Perkusi : Timpani
- Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstremitas
- Akral dingin (-), sianosis (-), edema (-), Capillary refill time < 2 detik

Status Dermatologis
Pada Regio Colli Sinistra tampak macula eritema, anular, tersebar difus, berbatas
tegas, pinggir lesi polisiklik dan agak meninggi, dengan papul dan vesikel di tepi.
Daerah tengah relative lebih tenang, skuma (+).
3. Assessment:
Berdasarkan anamnesa, pasien mengeluh timbul bercak kemerahan pada leher kiri
sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu. Dilihat dari waktu perjalanan penyakit,
keluhan pasien bersifat akut. Keluhan pasien ini disertai rasa gatal terutama saat
berkeringat. Disertai rasa gatal terutama saat berkeringat bisa mengarahkan
dugaan infeksi yang disebabkan oleh jamur.Dari anamnesa dapat didiagnosis
banding dengan tinea korporis. Selain itu juga bisa dipikirkan dugaan ke arah
pitiriasis rosea dan dermatitis numularis. Namun pada pitiriasis rosea gambaran
klinisnya sedikit berbeda, dimana pada pitiriasis rosea didapatkan gambaran
herald patch dan umumnya diawali dengan gejala prodormal berupa sakit kepala,
rasa tidak nyaman di saluran pencernaan, demam, malaise, dan artralgia. Dimana
pada anamnesa pasien tidak didapatkan adanya gejala prodormal, sehingga
diagnosis pitiriasis rosea dapat disingkirkan.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan tampak macula eritema, anular, tersebar difus,
berbatas tegas, pinggir lesi polisiklik dan agak meninggi, dengan papul dan
vesikel di tepi. Daerah tengah relative lebih tenang dan terdapat skuama. Sehingga
diagnosis dermatitis numularis dapat disingkirkan karena pada dermatitis
numularis bagian tepilebih vesikuler dengan batas relatif kurang tegas
dibandingkan tinea.
Sehingga dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien dapat
ditegakkan diagnosis tinea korporis.

4. Plan:
Diagnosis: Hipertensi Stage II dengan Diabetes Melitus tipe II dan Tinea Corporis
Regio Colli Sinistra

Penatalaksanaan :
- Non Farmakologis
a. menjaga kebersihan badan dengan mandi 2x sehari
b. sering mengganti pakaian jika lembab
c. tidak memakai pakaian yang ketat
d. memakai pakaian yang menyerap keringat
e. memberitahukan pada pasien bahwa pengobatan memerlukan waktu yang
lama
f. tidak menggunakan handuk atau pakaian berganti-ganti sesama
anggotakeluarga.

- Farmakologis
a. Nipedifine 1x5mg
b. Glibenclamide 1x5mg
c. Ketokonazole cream 2%
d. Vitamin B.complex 1x1 tablet