Anda di halaman 1dari 11

KAJIAN AKADEMIS UPTD GUDANG FARMASI

DINAS KESEHATAN KABUPATEN BLORA

Dinas Kesehatan Kabupaten Blora


Jl. Dr.Sutomo Nomor 40 Blora
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Salah satu tuntutan era reformasi yang berkembang saat ini, memberikan
kekuasaan bagi pemerintah daerah untuk pelaksanaan otonomi daerah. Perubahan
paradigma pemerintahan yang semula sentralistik menjadi desentralistik membutuhkan
komitmen birokrat dalam mengelola institusi publik. Dalam pelaksanaannya pejabat
publik harus mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan prinsip Good
Governance antara lain mengedepankan prinsip keadilan, akuntabilitas, transparansi dan
responbilitas dalam mewujudkan tercapainya tujuan pembangunan nasional.
Dengan adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, dijelaskan bahwa pembagian urusan pemerintahan sub urusan standarisasi dan
perlindungan konsumen diserahkan kepada daerah Kabupaten/Kota terkait dengan
pelaksanaan metrologi legal berupa tera, tera ulang dan pengawasan.
Tujuan subsistem obat dan perbekalan kesehatan adalah tersedianya obat dan
perbekalan kesehatan yang aman, bermutu, bermanfaat serta terjangkau oleh
masyarakat untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna
meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Obat merupakan komponen esensial dari suatu pelayanan kesehatan, selain itu karena
obat sudah merupakan kebutuhan masyarakat, maka persepsi masyarakat tentang hasil
dari pelayanan kesehatan adalah menerima obat setelah berkunjung ke sarana
kesehatan, yaitu Puskesmas, Poliklinik, Rumah Sakit, Dokter praktek swasta dan lain -
lain. Bila di umpamakan tenaga medis adalah tentara yang sedang berperang di medan
tempur, maka obat adalah amunisi yang mutlak harus dimiliki untuk mengalahkan
musuh-musuhnya. Oleh karena vitalnya obat dalam pelayanan kesehatan, maka
pengelolaan yang benar, efisien dan efektif sangat diperlukan oleh petugas di
Kabupaten.
Tanggung jawab pengadaan obat esensial untuk pelayanan kesehatan dasar
bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat akan tetapi menjadi tanggung
jawab pemerintah daerah Kabupaten. Melihat data tersebut, maka pemerintah
khususnya pemerintah daerah Kabupaten akan merasakan beban yang sangat besar
terhadap APBD/DAU setiap tahunnya.
Untuk menjamin ketersediaan obat di pelayanan kesehatan dan juga menjaga
citra pelayanan kesehatan itu sendiri, maka sangatlah penting menjamin ketersediaan
dana yang cukup untuk pengadaan obat esensial, namun lebih penting lagi dalam
mengelola dana penyediaan obat secara efektif dan efisien, oleh sebab itu kami
memohon untuk dapat dibentuk sebuah UPTD yang berhubungan dengan Gudang
Farmasi.
Pelayanan UPTD Gudang Farmasi merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan yang diperlukan untuk menunjang upaya peningkatan kesehatan, pencegahan,
dan pengobatan, serta pemulihan kesehatan.
UPTD Gudang Farmasi sebagai sarana penunjang kesehatan sangat tergantung
pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat penting dan kadang-kadang
kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan
kesehatan ,
Dengan demikian UPTD Gudang Farmasi mempunyai beban untuk mempertanggung
jawabkan perencanaan, pengadaan / penyediaan, penyimpanan, pendistribusian obat-
obatan dan perbekalan farmasi serta peralatan kesehatan sebagai penentu tindakan
selanjutnya.

Dibentuknya UPTD Gudang Farmasi yang bermutu menunjukkan pada derajat


atau tingkat keunggulan suatu kesehatan dalam memadukan berbagai input seperti bahan
dan alat penelitian, sarana kesehatan, suasana Gudang Farmasi yang kondusif,
lingkungan yang nyaman dan dukungan administrasi, sehingga terjadi interaksi
pelayanan yang baik.
Untuk melangkah ke arah itu dengan melihat kondisi sarana prasarana yang ada
mustahil bisa tercapai masih jauh dari kemungkinan.
BAB II
SASARAN PEMBENTUKAN

Adapun maksud kegiatan Gudang Farmasi adalah untuk mendukung


pelaksanaan kegiatan pelayanan obat dalam mewujudkan pelayanan prima, sehingga
terjaminnya ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten
Blora yang menggunakan jasa pelayanan Farmasi yang dilaksanakan di Pusat Kesehatan
Masyarakat maupun Rumah Sakit Daerah selain itu diharapkan tersedianya sarana dan
prasarana yang memadai untuk mendukung pengelolaan obat di Kabupaten Blora.

BAB III
ISI

Lingkup kegiatan Pembentukan UPTD Gudang Farmasi yang diusulkan untuk


mendukung pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan
Kabupaten Blora dan Unit Pelaksana Teknis Dinas di bawahnya yaitu antara lain :
Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Blora sudah mempunyai sarana
dan prasarana sesuai standar yang ditetapkan dalam Pedoman Standar Sarana
Penyimpanan Obat dan Perbekalan Kesehatan.
No Sarana dan Prasarana Jumlah
(Unit)
A. Sarana Penyimpanan
Pallet 89
Handforklift 2
Forklift motor 0
Trolly 6
Lemari obat 10
Lemari narkotika 1
Lemari psikotropika 1
Thermometer ruangan 10
Thermometer suhu coldchain 10
Coldchain 10
Rak obat 30
Lemari pendingin 4
AC 14
Genset 0
B. Sarana Keamanan
APAR 15
Alarm kebakaran 1
Alarm gerak 0
Alarm pintu 0
CCTV 1
C. Sarana Distribusi Kendaraan
Kendaraan roda dua (motor box) 0
Kendaraan roda empat (mobil box) 0
Kendaraan roda 4 (mobil double gardan) 1
Tersedianya jabatan fungsional teknis sesuai dengan tugas dan fungsi UPT yang
bersangkutan;
a. Terdapat tenaga teknis yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan pada
UPT tersebut sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku.
Peta Jabatan Instalasi Farmasi
Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2017

KEPALA INSTALASI
FARMASI (Apoteker)

Kelompok Jabatan Kasubbag TU Jabatan B K


Fungsional

1 Apoteker Apoteker 2 2
2 TTK/Asisten TTK/Asisten 3 1
Apoteker Apoteker
Pengadministrasi 5 1
umum
Petugas 3 2
Keamanan
Sopir/pengemudi 1 0

Petugas 1 1
kebersihan/Cleani
ng servis

Memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam melaksanakan tugas teknis


operasional tertentu dan/ atau tugas teknis penunjang tertentu;

Daftar SOP UPTD Instalasi Farmasi

No Nama SOP
1 Pengendalian Dokumen
2 Pengendalian Rekaman
3 Audit Mutu Internal
4 Pengendalian Pemeriksaan Tidak Sesuai
5 Tindakan Perbaikan
6 Tindakan Pencegahan
7 Pengukuran Kepuasan Pelanggan
8 Tinjauan Manajemen
9 Pembuatan Lembar Kerja dan Rencana Kerja Anggaran
10 Penyusunan Rencana Kerja
11 Pengajuan Usulan Pembentukan Tim Kegiatan
12 Pertemuan Koordinasi Pengelola Obat Puskesmas dan Instalasi
Farmasi

13 Penyusunan Perencanaan Perhitungan Obat dan Bahan Medis


Habis Pakai (BMHP)
14 Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)
15 Pengambilan Vaksin ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
16 Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)
17 Distribusi Obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)
18 Stok Opname Obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)
19 Pencatatan pelaporan mutasi obat dan bahan medis habis pakai
(BMHP)
20 Monitoring Ketersediaan dan Mutu Obat BMHP Serta Fasilitasi
Teknis di Puskesmas
21 Pengajuan Permohonan Ijin Pemusnahan Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai (BMHP)
22 Pemusnahan Obat dan BMHP
23 Pengelolaan Surat masuk
24 Pengelolaan Surat Keluar
25 Pengelolaan Administrasi Keuangan
26 Penyusunan SKUM
27 Penyusunan Formasi Pegawai
28 Usulan Kenaikan Pangkat
29 Usulan Kenaikan Gaji Berkala
30 Permohonan Kartu Istri (Karis)/Kartu Suami (Karsu) dan Kartu
Pegawai (Karpeg)
31 Permohonan ijin belajar, tugas belajar, dan ijin pemakaian gelar
akademik
32 Permohonan Cuti Pegawai
33 Penyusunan DUK PNS
34 Penyusunan Laporan Kepegawaian
35 Pengurusan Pensiun Pegawai
36 Penyusunan Laporan Absensi Pegawai
37 Pengelolaan Administrasi Pemeliharaan Barang Inventaris Milik
Daerah
38 Usulan Pengadaan Barang dan Jasa
39 Bimbingan Mahasiswa Praktek Kerja Lapangan (PKL)
40 Pembuatan Surat Pertanggungjawaban
41 Kegiatan Pemeliharaan Keamanan Lingkungan Kantor
42 Pemeliharaan Kebersihan Lingkungan Kerja
43 Kegiatan Pemeliharaan Kendaraan Roda Empat
44 Kalibrasi dan Verifikasi
45 Pelatihan dan Pengembangan SDM
46 Mutasi Pegawai
47 Distribusi Obat Program Kesmas
48 Distribusi Obat Program P2P
49 Distribusi Vaksin
BAB IV
SUMBER DAYA

Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Blora sudah mempunyai sumber daya
manusia, anggaran rutin, dan sarana prasarana sesuai dengan indikator Instalasi
Farmasi Kabupaten/ Kota yang melaksanakan manajemen pengelolaan obat dan
vaksin sesuai standar.
Data terlampir.
a. Pegawai yang akan ditempatkan pada UPT tidak mengakibatkan
terganggunya kinerja unit-unit organisasi yang lain;
Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Blora mempunyai SDM sesuai
dengan standar dan kompetensi yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1426 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengelolaan Obat,
sehingga tidak mengakibatkan terganggunya kinerja unit-unit organisasi yang
lain.
b. Tidak menambah pegawai baru baik PNS ataupun honorer;
Berdasarkan bezetting pegawai Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten
Blora jumlah pegawai yang ada masih perlu dilengkapi sesuai standar dalam
pengelolaan obat.

KETER
NAMA PERSE KEBUT KEKUR
NO ANGA
JABATAN DIAAN UHAN ANGAN
N
1 Kepala Instalasi 1 1 0 0
Farmasi
2 Kasubbag Tata 1 1 0 0
Usaha
3 Apoteker (JFT) 0 2 2 0
4 Tenaga Teknis 2 3 1 0
Kefarmasian/Asist
en Apoteker (JFT)
5 Pengadministrasi 4 5 1 1
Keuangan Non-
PNS
6 Penjaga Kantor 1 3 2 1
Non-
PNS
7 Pengemudi/Sopir 1 1 0 0
8 Petugas 0 1 1 0
kebersihan/Cleani
ng Service

10 17 7 0
BAB VI
ATURAN PENDUKUNG

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3671);

2. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5062);

3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);

4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5494)

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587 sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5679);

6. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5607);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan


Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998
Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3781);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 124, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5044);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2010 tentang Prekursor;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Undang-


Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika;

11. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah;

12. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional;

13. Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan ke-4 Atas Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah;

14. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1426/Menkes/SK/XV/2002 tentang


Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan

15. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 189/Menkes/SK/III/2006 tentang


Kebijakan Obat Nasional;

16. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 922/Menkes/SK/X/2008 tentang Pedoman


Teknis Pembagian Urusan Pemerintah Bidang Kesehatan.

17. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121/Menkes/SK/XII/2008 tentang


Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Untuk
Pelayanan Kesehatan Dasar.

18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pedoman
Analisis Beban Kerja di Lingkungan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah
Daerah;

19. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 31 Tahun 2016 tentang Registrasi, Izin
Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.

20. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi


Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Standar
Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan
BAB VII
KESIMPULAN

Tumbuhnya semangat pemerintah daerah dalam mendirikan UPTD Gudang


Farmasi akan berdampak pada upaya peningkatan pelayanan penyimpanan,
pendistribusian obat dan perbekalan farmasi dalam rangka memberikan pelayanan
kesehatan yang prima. Hal ini didukung oleh keterlibatan Pemerintah Daerah
Kabupaten Blora dalam membantu memfasilitasi pembentukan UPTD tersebut melalui
Dana APBD. Dan terkait dengan kebijakan fasilitasi tersebut, perlu adanya dukungan
dan tindak lanjut dari pemangku kepentingan di daerah dengan mempersiapkan
pemenuhan persyaratan pembentukan UPTD seperti pemenuhan infrastruktur, sumber
daya manusia, maupun persyaratan administratif dan penilaian kemampuan
pelaksanaan kegiatan pelayanan Gudang Farmasi.
Untuk itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Blora mengajukan Kajian Akademis ini
adalah sebagai bahan pertimbangan untuk dapat membantu dan mendukung kegiatan
pelaksanaan kegiatan pelayanan Gudang Farmasi. Harapan kami, dengan adanya
pendirian UPTD Gudang Farmasi maka dapat memberikan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat lebih maksimal.
Demikian permohonan ini kami buat, atas perkenan dan bantuannya kami
ucapkan terima kasih.

Blora, Oktober 2017

KEPALA DINAS KESEHATAN


KABUPATEN BLORA

dr.HENNY INDRIYANTI, M.Kes


Pembina Utama Muda
NIP. 19611202 198711 2 002