Anda di halaman 1dari 15

BAB I

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama pasien : Ny. S
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam

ANAMNESA
Auto anamnesa dan allo anamnesa
Keluhan Utama:
Rujukan bidan karena anemia (Hb 8). Pasien mengeluh Sejak awal kehamilan
pasien merasa badan lemas dan cepat lelah dan semakin lama semakin memberat.

Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien mengaku hamil 28-29 minggu, HPHT 27 September 2013, TP 4 Juli 2014.
Pasien kontrol teratur di bidan, USG sebanyak 1x terakhir dikatakan bayi dalam keadaan
normal. Gerak janin aktif. Sejak awal kehamilan pasien merasa badan lemas dan cepat
lelah dan semakin lama semakin memberat. Namun tidak ada nyeri kepala , mata
berkunang kunang maupun telinga berdenging. Tidak ada perdarahan pervaginam
maupun perdarahan ditempat lain. Pasien memeriksakan diri untuk kontrol secara teratur
di bidans pada 1 hari SMRS dan diketahui bahwa pasien mengalami anemia, yaitu Hb 8
kemudian pasien dirujuk ke RSUP Farmawati. Pasien kemudian dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan darah dan USG, kemudian setelah mendapatkan hasil
pemeriksaan tersebut pasien datang kembali. Tidak terdapat mules, keluar air-air maupun
munculnya lendir darah.
RiwayatMenstruasi

- Menarche : usia 13 tahun

- Siklus : teratur, 28 hari

- Lama haid : 7 hari

- Banyak haid : 2-3 pembalut/ hari

- Dismenorea : tidak ada

- HPHT

- TP

Riwayat Perkawinan
Pasien menikah 1c, usia perkawinan 3 tahun
Riwayat Kehamilan Lalu
1. Kehamilan saat ini
Riwayat KB
Pasien belum pernah menggunakan KB
Riwayat Penyakit Dahulu:
- Riwayat penyakit Diabetes Mellitus disangkal
- Riwayat hipertensi disangkal
- Riwayat Alergi disangkal
- Riwayat Asma disangkal
- Riwayat sakit seperti ini sebelumnya disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga:


- Riwayat penyakit Diabetes Mellitus disangkal
- Riwayat hipertensi disangkal
- Riwayat Alergi disangkal
- Riwayat Asma disangkal
- Tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit serupa saat ini.
Riwayat Sosial dan Kebiasaan
Merokok (-), alkohol (-), obat tidur/ narkoba (-), minum jamu (-), aktivitas
berlebihan (-). Pasien makan teratur 3x sehari. Pasien mengaku tidak mau mengkonsumsi
suplemen vitamin, besi dan asam folat yang diberikan oleh bidan untuk kehamilan,
karena merasa mual yang berlebihan setiap mengkonsumsi suplemen tersebut.

PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal
- Status generalis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB : 65 kg
TB : 158 cm
Tanda Vital:
TD : 100/60 kg Suhu : 36,7 C
RR : 20 kali / menit Nadi : 92 kali / menit

- Pemeriksaan kepala dan leher


Kepala : normocephal
Mata : konjungtiva anemis +/+, sklera tidak ikterik.
Leher : pembesaran KGB (-)
JVP tak terlihat
- Pemeriksaan paru
Inspeksi: pergerakan dinding dada simetris
Palpasi : vokal fremitus kanan sama kuat dibandingkan vokal
fremitus kiri
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : vesikular ( + / +) , ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
- Pemeriksaan jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba
Perkusi : batas jantung kanan : SIC IV Linea parasternal dekstra

batas jantung kiri : SIC V Linea midklavikula sinistra

Auskultasi : S1 dan S2 reguler, gallop (-), murmur (-)


- Pemeriksaan abdomen
Sesuai status obstetri
- Pemeriksaan ektremitas
Akral hangat
CRT < 2 detik
Edema (-)
- Status Obstetri

Abdomen

- Inspeksi : abdomen membesar seusia usia kehamilan


- Palpasi :
Leopold I : TFU 28 cm, teraba bagian besar, bundar, dan kenyal
Leopold II : teraba bagian-bagian kecil di sebelah kiri serta
bagian seperti papan dan keras di sebelah kanan
Leopold III: teraba bagian besar, bulat, keras, dan melenting
Leopold IV: konvergenHis tidak ada
- TBJ : 2800 gram
- Auskultasi : denyut jantung janin 140 denyut/menit, reguler

Anogenital : Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah lengkap
Tanggal
WBC : 6200/ul
HGB : 8,3 gr/dl
HCT : 30 %
MCV : 78,6 fl
MCH : 22 pg
MCHC: 16,2%
PLT : 317.000 /ul
Golongan Darah: AB

Diagnosis Kerja

G1P0A0 hamil 27-28 minggu

Anemia

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa:
- Pasang catheter urin
- Paracetamol 500mg 3x1 tab
-
Non-medikamentosa:
- Observasi TTV
- Diet rendah garam
- Kontrol ke poli 3 hari lagi

PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
BAB II

PENDAHULUAN

Seorang ibu akan mengalami beberapa perubahan fisiologis selama


kehamilannya, salah satunya adalah perubahan sistem hematologi. 1 Dalam kehamilan
terdapat adanya hemodilusi yang disebabkan oleh peningkatan volume plasma yang lebih
tinggi dibandingkan dengan peningkatan sel darah merah.2 Hal ini akan semakin terlihat
pada trimester kedua dalam kehamilan. Perubahan dalam sistem hematologi sangat
penting untuk pertumbuhan janin normal.1

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah
11 g/dL pada trimester 1 dan 3 atau kadar hemoglobin di bawah 10,5 g/dL pada trimester
2.3 Anemia adalah keadaan yang dialami oleh sepertiga populasi di dunia. Menurut
WHO, prevalensi anemia dalam kehamilan pada negara maju sebesar 14 %, sedangkan
pada negara berkembang sebesar 51 %.4

Penyebab tersering anemia dalam kehamilan adalah anemia karena defisiensi besi.
Selain itu terdapat pula penyebab anemia lainnya seperti defisiensi asam folat, perdarahan
akut, penyakit kronik, dan lain-lain.2 Hal ini harus dicegah karena dapat menyebabkan
berbagai komplikasi dapat kehamilan seperti kehalihran preterm, pertumbuhan janin
terhambat, berat bayi lahir rendah, dan lain-lain.2 Pencegahan anemia di Indonesia adalah
dengan pemberian profilaksis anemia berupa kombinasi 60 mg besi dan 50 g asam
folat.3

Anemia dalam kehamilan adalah sebuah hal yang penting diperhatikan dalam
kehamilan dan harus selalu dievaluasi dalam setiap pemeriksaan antenatal. Ibu hamil
yang mengalami keluhan lemas dengan klinis pucat harus dicurigai adanya anemia.
Anemia yang diderita oleh seorang ibu hamil harus diketahui etiologi dan patofisiologi
yang mendasarinya agar dapat menjadi dasar pertimbangan untuk tatalaksana yang akan
diberikan.1
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

Definisi

Secara fungsional, anemia merupakan keadaan dimana sel darah merah


mengantarkan oksigen yang dibutuhkan ke jaringan perifer secara tidak adekuat. Secara
klinis, anemia merupakan kadar hemoglobin atau hematokrit dibawah batas normal. Nilai
normal hemoglobin pada wanita dewasa adalah 12 - 15 g/dL.5 Anemia dalam kehamilan
adalah kondisi ibu pada trimester 1 dan 3 dengan kadar hemoglobin di bawah 11 g/dL
atau kondisi ibu pada trimester 2 dengan kadar hemoglobin di bawah 10,5 g/dL. Pada
wanita hamil terjadi kondisi hemodilusi sehingga terdapat perbedaan nilai batas
hemoglobin normal pada wanita hamil dengan wanita tidak hamil.3

Tabel 1. Nilai batas untuk anemia padakehamilan3

Fisiologi

Anemia normositik normokrom dapat muncul pada minggu ke 7-8 kehamilan


disebabkan oleh peningkatan volume plasma yang lebih besar daripada peningkatan sel
darah merah.7 Kebutuhan oksigen lebih tinggi dalam kehamilan menyebabkan
peningkatan produksi eritropoietin. Peningkatan tersebut mengakibatkan volume plasma
bertambah dan sel darah merah meningkat. Peningkatan sel darah merah yang terjadi
lebih kecil daripada peningkatan volume plasma yang disebut juga hemodilusi sehingga
terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin.6 Perbandingan peningkatan tersebut adalah
plasma darah bertambah 30% sedangkan sel darah merah bertambah 18%. 8 Anemia yang
disebabkan oleh ekspansi volume plasma tersebut merupakan fisiologis pada kehamilan.
Volume plasma yang meningkat akan menurunkan kadar hemoglobin, hematokrit dan
eritrosit. Akan tetapi hal tersebut tidak menurunkan jumlah eritrosit dalam sirkulasi. 6
Adanya penurunan viskositas darah secara fisiologis ini adalah untuk membantu
meringankan kerja jantung.8 Selain itu, terdapat teori yang menyatakan bahwa anemia
fisiologis dalam kehamilan bertujuan untuk menurunkan viskositas darah maternal
sehingga meningkatkan perfusi plasenta dan membantu penghantaran oksigen serta
nutrisi ke janin.6

Peningkatan volume plasma dimulai pada minggu keenam kehamilan hingga


mencapai puncak pada minggu ke-24 kehamilan.6 Setelah persalinan, kadar hemoglobin
berfluktuasi dan kemudian naik menjadi kadar seperti keadaan tidak hamil. Besarnya
peningkatan kadar hemoglobin pada masa nifas adalah hasil dari banyaknya hemoglobin
yang meningkat dalam masa kehamilan dan banyaknya kehilangan darah saat persalinan.2

Gambar 1. Rerata konsentrasi hemoglobin (garis hitam) dan persentil ke-5 serta ke-95 (garis biru)
pada wanita hamil yang mengkonsumsi suplemen besi (Data didapatkan dari Centers for Disease
Control and Prevention, 1989)2
Etiologi

Penyebab spesifik anemia sangat penting untuk mengevaluasi efek dari anemia
terhadap kehamilan.2 Keadaan-keadaan yang merupakan predisposisi anemia defisiensi
pada ibu hamil di Indonesia adalah kekurangan gizi dan kekurangan perhatian terhadap
ibu hamil. Selain itu terdapat beberapa kondisi yang juga dapat menyebabkan defisiensi
kalori-besi, misalnya infeksi kronik, penyakit hati, dan thalassemia.3

Penyebab Anemia dalam Kehamilan

Anemia defisiensi besi

Anemia karena perdarahan akut

Anemia karena inflamasi atau keganasan


Didapat
Anemia megaloblastik

Anemia hemolitik didapat

Anemia aplastik atau hipoplastik

Thalassemia

Hemoglobinopati sel sabit


Herediter
Hemoglobinopati lainnya

Anemia hemolitik herediter

Tabel 2. Penyebab anemia dalam kehamilan2

Manifestasi

Gejala dan tanda anemia pada ibu hamil sangat tidak spesifik. 7 Biasanya ibu hamil
dengan anemia akan datang dengan keluhan lemah, pucat, dan mudah pingsan. Secara
klinis, dapat dilihat tubuh yang malnutrisi dan pucat. Apabila tekanan darah masih dalam
batas normal, perlu dicurigai adanya anemia defisiensi besi.3 Selain itu, tanda-tanda
seperti demam, memar, jaundice, hepatomegali, dan splenomegali juga perlu diperhatikan
untuk mengetahui apakah ada penyebab yang serius dari anemia.5

Diagnosis

Anemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi sel darah merah, peningkatan
penghancuran atau kehilangan sel darah merah, serta dilusi. Evaluasi anemia pada
kehamilan sama seperti pada seseorang yang tidak hamil. Anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang lengkap diperlukan untuk penegakan diagnosis. Pertanyaan tentang onset,
durasi, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, asupan makanan, paparan
lingkungan, dan riwayat pengobatan sangatlah penting.5

Pemeriksaan penunjang awal yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan kadar


hemoglobin dan darah tepi. Pemeriksaan hemoglobin dengan spektrofotometri
merupakan standar, kesulitannya adalah alat ini tidak selalu tersedia di semua layanan
masyarakat.3 Pemeriksaan penunjang yang berlebihan tidak efektif dan tidak ekonomis
untuk menguji setiap wanita hamil dengan anemia, mengingat bahwa sebagian besar
anemia dalam kehamilan yang sifatnya ringan disebabkan oleh defisiensi zat besi. Maka
dari itu, terapi suplementasi besi perlu diberikan apabila ibu hamil yang mengalami
anemia tersebut belum mengkonsumsinya.5

Apabila dicurigai adanya penyebab penyakit kronik seperti malaria dan


tuberkulosis, diperlukan adanya pemeriksaan khusus seperti pemeriksaan darah tepi dan
pemeriksaan sputum. Selain itu, diperlukan adanya beberapa pemeriksaan untuk
membedakan anemia akibat defisiensi besi, defisiensi asam folat, dan thalassemia.3
Gambar 2. Alur diagnosis anemia dalam kehamilan3

Komplikasi

Pengaruh anemia pada kehamilan bergantung pada keparahan dan penyebab dari

5
anemia. Anemia dalam kehamilan dapat mempengaruhi vaskularisasi plasenta dengan
mengubah angiogenesis pada masa awal kehamilan. Anemia yang terjadi pada trimester
pertama dapat meningkatkan risiko persalinan preterm dan berat bayi lahir rendah.2

Berikut ini adalah beberapa pengaruh anemia terhadap kehamilan, persalinan, dan
nifas:

- Keguguran
- Partus prematurus

- Inersia uteri dan partus lama

- Atonia uteri dan perdarahan postpartum

- Syok

- Afibrinogenemia dan hipofibrinogenemia

8
- Infeksi intrapartum dan dalam nifas

Macam-macam anemia

Anemia Defisiensi Besi

Defisiensi besi adalah defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan di seluruh
dunia. Pada kehamilan kebutuhan besi meningkat seiring dengan pertumbuhan janin yang
cepat. Namun, hal tersebut tidak diimbangi dengan asupan besi yang adekuat sehingga
anemia dalam kehamilan sering disebabkan oleh defisiensi besi. Hal ini ditandai dengan
penurunan kadar hemoglobin dan hematokrit yang disertai penurunan cadangan besi,
konsentrasi besi serum, dan saturasi transferrin.6 Selama kehamilan, kehilangan besi
terjadi karena besi dari ibu dialihkan kepada janin untuk eritropoiesis, kehilangan darah
saat persalinan, dan laktasi. Keseluruhan ketiga hal tersebut mencapai kira-kira 2 liter
darah.3 Kebutuhan besi ibu selama kehamilan adalah 800 mg. Kebutuhan tersebut
dijumlahkan dari kebutuhan untuk janin plasenta sebesar 300 mg dan kebutuhan untuk
penambahan eritrosit ibu sebesar 500 mg. Umumnya, penambahan pemberian kalori 300
kalori/hari dan preparat besi 60 mg/hari cukup untuk mencegah anemia.3

Zat besi dalam jumlah besar dibutuhkan oleh hasil konsepsi yaitu janin, plasenta,
dan darah untuk pertumbuhannya. Kadar hemoglobin tidak akan turun secara tiba-tiba
apablia tubuh ibu hamil masih memiliki cadangan besi yang cukup. Pengaruh anemia
pada hasil konsepsi adalah kematian mudigah, kematian janin dalam kandungan,
kematian janin waktu lahir, kematian perinatal, prematuritas, cacat bawaan, serta
cadangan besi yang kurang.8

Pemberian suplementasi besi pada ibu hamil harus dilakukan sedini mungkin.
Oleh karena sebagian besar perempuan mengawali kehamilan dengan cadangan besi yang
rendah, maka kebutuhan tambahan ini berakibat pada anemia defisiensi besi.6

Terapi anemia defisiensi besi yang rutin dilakukan ialah dengan preparat besi oral
atau parenteral serta transfusi darah. Preparat besi oral yang diberikan adalah fero sulfat,
fero glukonat, atau Na-fero bisitrat. Program nasional yang diterapkan saat ini adalah
kombinasi 60 mg besi dan 50 g asam folat untuk profilaksis anemia. Pemberian preparat
besi 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g% per bulan. Efek samping pada
saluran gastrointestinal pada pemberian besi oral dapat menurunkan kepatuhan
pemakaian. Efek samping tersebut relatif kecil pada pemberian preparat ferobisitrat
dibandingkan pemberian preparat fero sulfat.3,9 Pemberian terapi seperti ini tidak selalu
membantu untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah seperti pada keadaan
absorpsi gastrointestinal yang tidak adekuat, masa kehamilan akhir, intoleransi pada
kebutuhan besi oral, serta anemia berat dengan kontraindikasi transfusi darah. Oleh
karena itu, menurut studi Singh Subhadra, dkk (2011) pemberian besi sukrosa secara
intravena dapat menjadi pilihan yang efektif dan cepat sebagai terapi anemia dalam
kehamilan.9

Pemberian preparat parenteral dengan ferum dekstran sebanyak 1000 mg (20 ml)
intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan kadar hemoglobin relatif
lebih cepat yaitu 2 g/dL. Pemberian parenteral ini memiliki indikasi yaitu intoleransi besi
pada saluran gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan pemakaian preparat besi
oral yang buruk. Efek samping utama adalah reaksi alergi, maka perlu diberikan dosis 0,5
cc/im untuk melihat adanya reaksi sebelum diberikan seluruh dosis.3

Anemia Defisiensi Asam Folat

Pada kehamilan, terjadi pelepasan cadangan folat maternal untuk mengirim folat
dari ibu ke janin dan menyebabkan kebutuhan folat meningkat lima sampai sepuluh kali
lipat dibandingkan dengan keadaan tidak hamil. Peningkatan kebutuhan yang lebih besar
dapat terjadi pada beberapa keadaan seperti kehamilan multipel, diet yang buruk, infeksi,
anemia hemolitik, atau konsumsi obat antikonvulsi. Selain itu, absorpsi folat juga
dihambat oleh kadar estrogen dan progesteron yang tinggi selama kehamilan. Maka dari
itu, defisiensi asam folat sangat sering terjadi pada kehamilan yaitu penyebab kedua
terbanyak setelah defisiensi zat besi.6 Kebutuhan asam folat pada wanita dewasa tidak
hamil adalah 50-100 g/hari dan meningkat pada kehamilan menjadi 400 g/hari.2

Gejala-gejala yang ditimbulkan pada anemia defisiensi folat sama dengan anemia
pada umumnya ditambah kulit yang kasar dan glositis. Anemia defisiensi asam folat
menyebabkan anemia tipe megaloblastik yang merupakan kelainan yang disebabkan oleh
gangguan sintesis DNA. Pada pemeriksaan apusan darah, anemia ini ditandai oleh sel-sel
megaloblastik khas yang berupa prekursor eritrosit secara morfologis lebih besar
(maksrositik) dan perbandingan inti-sitoplasma yang abnormal juga normokrom.6

Pada masa awal defisiensi asam folat ditandai oleh kadar folat serum yang rendah
(<3ng/mL). Selain itu, terdapat pula indikator status folat lain yaitu folat dalam sel darah
merah.6

Defisiensi asam folat merupakan salah satu faktor adanya anomali kongenital
janin, terutama defek pada penutupan tabung neural serta kelainan lainnya seperti pada
jantung, saluran kemih, alat gerak, dan organ lainnya. Pemberian folat secara oral
sebanyak 1-5 mg/ hari merupakan penatalaksanaan pada keadaan defisiensi asam folat. 6
Jumlah retikulosit akan meningkat dalam 4-7 hari awal terapi.2

Anemia karena Perdarahan Akut

Anemia karena perdarahan akut sering terjadi pada kehamilan dini seperti pada
kasus abortus, kehamilan ektopik, dan molahidatidosa. Anemia pada pascapartum sering
disebabkan oleh perdarahan obstetrik. Terapi yang diberikan pada anemia karena
perdarahan akut tidak selalu merupakan transfusi darah. Terapi besi dapat diberikan
selama tiga bulan pada ibu yang mengalami anemia karena perdarahan akut dengan kadar
hemoglobin 7 g/dL, dapat beraktivitas dengan baik, dan tidak septik.2
Anemia karena Penyakit Kronik

Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan anemia adalah gagal ginjal kronik,


kanker dan kemoterapi, infeksi HIV, infeksi cacing, inflammatory bowel disease, artritis
reumatoid, dan peradangan kronik. Penyakit kronik secara umum dapat menyebabkan
beberapa perubahan yaitu pada fungsi retikuloendotel, metabolisme besi, dan penurunan
eritropoiesis.2

Anemia Aplastik

Anemia aplastik merupakan salah satu jenis anemia yang jarang dijumpai selama
kehamilan. Pada pemeriksaan penunjang, anemia aplastik didapatkan pansitopenia dan
sumsum tulang yang hiposelular. Hal-hal yang dapat menyebabkan anemia aplastik
antara lain obat dan bahan kimia, infeksi, radiasi, leukemia, penyakit imun, dan penyakit
herediter.2 Anemia aplastik yang terjadi selama kehamilan dapat membaik setelah
terminasi. Akan tetapi, anemia aplastik tersebut dapat muncul kembali pada kehamilan
berikutnya. Secara umum, pilihan terapi antara lain terminasi kehamilan elektif, terapi
suportif, imunosupresi, atau transplantasi sumsum tulang setelah persalinan. 6 Terapi yang
dapat diterapkan pada pasien usia muda adalah transplantasi sel punca hematopoietic.2