Anda di halaman 1dari 5

BAB 3.

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini antaralain :

1. Hand refractometer

2. Pipet tetes

3. Beaker glass

4. Alat pemanas

5. Thermometer

6. pH meter

7. Colour reader

8. Neraca

9. Mesin pengayak

10. Ayakan (12, 16, 20, 30 dan 50 mesh)

11. Timbangan analitik

12. Erlenmeyer 300ml

13. Buret mikro 10ml

14. Magnetik stirrer

15. Cawan timbang

16. Labu takar

17. Borol warna gelap


18. Pipet ukur

3.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini antaralain :

19. Nira tebu dengan kulit

20. Nira tebu tanpa kulit

21. Larutan kapur

22. Gula Kristal Putih dengan 2 warna yang berbeda

23. Gula Kristal Putih dengan 2 warna yang berbeda dan ukuran kristal yang berbeda

24. Larutan iodium

25. Larutan standar tio sulfat

26. HCl 5%

27. Larutan kanji 0,2%

28. Aquades

3.2 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan

3.2.1 Derajat Brix Nira

Pada praktikum kali ini dilakukan lima acara, untuk acara pertama yaitu derajat
brix nira. Derajat brix merupakan jumlah zat padat yang terlarut. Hal pertama yang
dilakukan sebelum praktikum yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Alat yang digunakan yaitu hand refractometer dan pipet tetes, sedangkan bahan yang
digunakan yaitu nira dari tebu dengan kulit dan nira tebu tanpa kulit. Pertama nira dengan
kulit dan nira tanpa kulit dilakukan pengukuran dengan hand refraktrometer dengan cara
meneteskan nira tebu menggunakan pipet tetes agar lebih akurat dan efisien dan
selanjutnya fungsi dari reflaktometer yaitu dapat digunakan untuk menganalisis kadar
sukrosa pada bahan makanan. Refraktometer terdiri atas beberapa bagian, yaitu kaca
prisma, penutup kaca prisma, sekrup pemutar skala, grip pegangan, dan lubang teropong
(Atago 2000). Satuan skala pembacaan refraktometer yaitu Brix, yaitu satuan skala yang
digunakan untuk pengukuran kandungan padatan terlarut (Purwono 2002). Skala Brix
dari refraktometer sama dengan berat gram sukrosa dari 100 g larutan sukrosa. Jika yang
diamati adalah daging buah, skala ini menunjukkan berat gram sukrosa dari 100 g daging
buah. Selanjutnya pengukuran dilakukan tiga kali pengulang dan setelah itu diamati
perbandingannya.

3.2.2 Defekasi

Acara kedua yaitu defekasi pada derajat brix nira, defekasi merupakan suatu
kegiatan pemurnian nira dengan menggunakan kapur. Hal pertama yang dilakukan
sebelum praktikum yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat yang
digunakan yaitu beaker glass, alat pemanas, magnetik stirrer, thermometer, kertas
lakmus, hand refractrometer dan pipet tetes. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu nira
dengan kulit, nira tanpa kulit dan larutan kapur. Pertama pengambilan 150 nira dengan
kulit dan nira tanpa kulit dan diletakkan pada beaker glass, setelah itu dilakukan
pemanasan kurang lebih dengan suhu 70derajatC dan dilakukan penambahan larutan
kapur yang berfungsi untuk memurnikan nira, dan dilakukan pemanasan kembali dengan
pengadukan selama 30 menit dan fungsi dari pengadukan yaitu untuk menghomogenkan
larutan. Setelah pemanasan selesai didinginkan sebentar, kemudian dilanjutkan proses
hand reflaktometer yang berfungsi untuk menganalisis kadar sukrosa pada bahan
makanan. Refraktometer terdiri atas beberapa bagian, yaitu kaca prisma, penutup kaca
prisma, sekrup pemutar skala, grip pegangan, dan lubang teropong (Atago 2000), dan
selanjutnya dilakukan tiga ksali pengulangan sebelum dilakukan perbandingan dengan
derajat Brix sebelum dan sesudah defekasi.

3.2.3 Warna (kecerahan) Gula Kristal Putih

Acara yang ketiga yaitu pengukuran warna. Pengukuran warna dilakukan untuk
mengetahui perbedaan antara gula kristal putih dengan kualitas 1 dan gula kristal putih
dengan kualitas 2. Hal pertama yang dilakukan sebelum praktikum yaitu menyiapkan alat
dan bahan. alat yang digunakan yaitu coloureader, sedangkan bahan yang digunakan
yaitu gula kristal putih kualitas 1 dan gula kristal putih kualitas 2. Pertama ambil sampel
gula dan masukkan kedalam plastik untuk masing-masing sampel GKP1 dan GKP2
dengan perbandingan kualitas kecerahan (warna) dengan menggunakan coloureader,
fungsi dari pengukuran menggunakan coloureader yaitu warna dapat diukur secara
sistematis (de Man,1999), dam setelah itu dilakukan perbandingan kualitas kecerahan
(warna) pada kedua sampel.

3.2.4 Besar Jenis Butir Gula Kristal Putih

Acara yang keempat yaitu pengukuran besar butir dari gula kristal putih.
Pengukuran ini dilakukan untuk mendapatkan ukuran butir dari masing-masing gula
kristal putih. Sama seperti acara yang sebelumnya hal pertama yang dilkukan sebelum
praktikum yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum. Alat
yang digunakan yaitu neraca, mesin pengayak, dan ayakan 18, 20, 25, 30, 40 dan 50
mesh sedangkan bahan yang digunakan yaitu gula kristal putih dengan perbedaan ukuran
kristal gula. Pertama siapkan masing-masing 60 gram gula kristal putih dengan perbadaan
ukuran dan lakukan pengayakan menggunakan ayakan dengan perbedaan mesh selama 10
menit, fungsi dari ayakan ini yaitu untuk memperoleh kristal gula dengan ukuran terkecil.
Standar nasional indonesia (2010), menyatakan bahwa standar besar jenis butir yaitu
antara 0,8-1,2, dan kemudian dilakukan penimbangan hasil ayakan gula kristal pustih
pada setiap fraksi ayakan.

3.2.5 Residu Belerang Oksida (SO2)

29. Blanko
Acara penentuan residu belerang oksida dibagi menjadi dua yaitu titrasi
blanko dan titrasi sampel. Untuk titrasi blanko bahan yang digunakan yaitu
aquadest, indikator, dan HCL. Pertama ambil 150 ml aquadest, kemudian
dilakukan penambahan 10 ml indikator amilum (kanji) dan 10 ml HCL. Setelah
itu titrasi menggunkan larutan Iodin sampai berubah warna, fungsi dari tirasi iodin
ini yaitu untuk mendeteksi adanya residu belerang pada gula kristal putih.

30. Sampel
Titrasi sampel ini dilakukan sama seperti dengan titrasi blanko, hanya saja
pada titrasi sampel menggunakan sampel berupa gula kristal putih dengan kualitas
1 dan gula kristal putih kualitas 2. Bahan yang digunakan yaitu aquades, HCL,
dan indikator amilum (kanji). Pertama larutkan sampel GKP1 dan GKP2
sebanyak 50 gram ke dalam 150 ml aquadest aduk dengan spatula sampai
homogen. Setelah itu lakukan penamabahan 10 ml HCL dan 10 ml amilum
(kanji). Titrasi dengan iodin sampai berubah warna, fungsi dari tirasai iodin ini
yaitu untuk mendeteksi adanya residu belerang pada gula kristal putih.