Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien : nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, dan lain-lain.
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Kaji adanya riwayat trauma fraktur terbuka, riwayat operasi tulang dengan pemasangan fiksasi
internal dan fiksasi eksternal dan pada osteomielitis kronis penting ditanyakan apakah pernah
mengalami osteomielitis akut yang tidak diberi perawatan adekuat sehingga memungkinkan
terjadinya supurasi tulang.

b. Riwayat Kesehatan Dahulu


Ada riwayat infeksi tulang, biasanya pada daeah vertebra torako-lumbal yang terjadi akibat
torakosentesis atau prosedur urologis. Dapat ditemukan adanya riwayat diabetes melitus,
malnutrisi, adiksi obat-obatan, atau pengobatan imunosupresif.

c. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Tingkat kesadaran (apatis, sopor, koma, gelisah, kompos mentis yang bergantung pada keadaan
klien).
Kesakitan atau keadaan penyakit (akut, kronis, ringan, sedang, dan paa kasus osteomielitis
biasanya akut)
Tanda-tanda vital tidak normal

2) Sistem Pernafasan
Pada inspeksi, didapatkan bahwa klien osteomielitis tidak mengalami kelainan pernafasan. Pada
palpasi toraks, ditemukan taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada auskultasi, tidak
didapatkan suara nafas tambahan.

3) Sistem Kardiovaskuler
Pada inspeksi, tidak tampak iktus jantung. Palpasi menunjukkan nadi meningkat, iktus tidak
teraba. Pada auskultasi, didapatkan suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur.

4) Sistem Muskuloskeletal
Adanya osteomielitis kronis dengan proses supurasi di tulang dan osteomielitis yang menginfeksi
sendi akan mengganggu fungsi motorik klien. Kerusakan integritas jaringan pada kulit karena
adanya luka disertai dengan pengeluaran pus atau cairan bening berbau khas.
5) Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran biasanya kompos metis.

6) Sistem perkemihan
Pengkajian keadaan urine meliputi warna, jumlah, karakteristik, dan berat jenis. Biasanya klien
osteomielitis tidak mengalami kelainan pada sitem ini.

7) Pola nutrisi dan metabolism


Evaluasi terhadap pola nutrisi klien dapat menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat. Masalah nyeri pada osteomielitis
menyebabkan klien kadang mual atau muntah sehingga pemenuhan nutrisi berkurang.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat imobilisasi dan keterbatasan menahan
beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan pembentukan abses tulang, kerusakan
kulit
4. Gangguan intergritas kulit berhubungan dengan efek pembedahan ; imobilisasi

C. Intervensi
Diagnosa Keperawatan 1 : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
- Tujuan :
Mendemonstrasikan bebas dari nyeri dan peningkatan rasa kenyamanan.
- Kriteria Hasil :
Tidak terjadi nyeri, nafsu makan menjadi normal, ekspresi wajah rileks dan suhu tubuh normal.
- Intervensi Keperawatan
Mandiri
Kaji karakteristik nyeri: lokasi, durasi, intensitas nyeri.
Atur posisi imobilisasi pada daerah nyeri sendi atau nyeri di tulang yang mengalami infeksi.
Ajarkan relaksasi : teknik mengurangi ketegangan otot rangka yang dapat mengurangi
intensitas nyeri dan meningkatan relaksasi masase.
Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut
Amati perubahan suhu setiap 4 jam.
Kompres air hangat
Kolaborasi :
Pemberian obat-obatan analgetik
Diagnosa Keperawatan 2 : Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat
imobilisasi dan keterbatasan menahan beban berat badan
- Tujuan :
Gangguan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan.
- Kriteria Hasil :
Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
Mempertahankan posisi fungsional
Meningkatkan / fungsi yang sakit
Menunjukkan teknik mampu melakukan aktivitas
- Intervensi Keperawatan
Mandiri
Pertahankan tirah baring dalam posisi yang di programkan
Tinggikan ekstremitas yang sakit, instruksikan klien / bantu dalam latihan rentang gerak pada
ekstremitas yang sakit dan tak sakit.
Beri penyanggah pada ekstremitas yang sakit pada saat bergerak.
Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
Ubah posisi secara periodic
Kolaborasi :
Fisioterapi

Diagnosa Keperawatan 3 : Resiko terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan


pembentukan abses tulang, kerusakan kulit
- Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, maka diharapkan penyembuhan luka
sesuai waktu yang dicatat dan tidak terjadinya infeksi yang berkelanjutan.
- Kriteria hasil :
Penyembuhan luka sesuai waktu yang dicatat, bebas drainase purulen dan demam dan juga tidak
terjadinya infeksi yang berkepanjangan.
- Intervensi Keperawatan :
Inspeksi kulit atau adanya iritasi atau adanya kontinuitas
Kaji sisi kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri atau rasa terbakar atau adanya edema atau
eritema atau drainase atau bau tidak sedap
Berikan perawatan luka
Observasi luka untuk pembentukan bula, perubahan warna kulit kecoklatan bau drainase yang
tidak enak atau asam.
Kaji tonus otot, reflek tendon.
Selidiki nyeri tiba-tiba atau keterbatasan gerakan dengan edema lokal atau enterna ekstermitas
cedera
Kolaborasi :
Lakukan pemeriksaan lab sesuai indikasi dokter
Berikan obat atau antibiotik sesuai indikasi

Diagnosa Keperawatan 4 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek pembedahan ;


imobilisasi
- Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam diharapkan masalah gangguan infeksi kulit
teratasi dan kembali dalam batas normal.
- Kriteria hasil :
Klien tampak rileks dank lien menunjukan perilaku atau tekhnik untuk mencegah kerusakan
kulit, memudahkan penyembuhan sesuai indikasi.
- Intervensi Keperawatan :
Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing kemudian perdarahan dan perubahan warna kulit.
Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan.
Tempatkan bantalan air atau bantalan lain dibawah siku atau tumit sesuai indikasi.
Perawatan, bersihkan kulit dengan sabun air, gosok perlahan dengan alcohol atau bedak dengan
jumlah sedikit berat.
Gunakan telapak tangan untuk memasang, mempertahankan atau lepaskan gips, dan dukung
bantal setelah pemasangan.
Observasi untuk potensial area yang tertekan, khususnya pada akhir dan bawah beban atau gips.
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit Gagal Ginjal adalah ginjal kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan
volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan normal. Gagal ginjal dibagi menjadi dua
kategori yaitu gagal ginjal kronik dan gagal ginjal akut. (Price & Welson, 2006)
Pada gagal ginjal akut terjadi penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba dalam waktu
beberapa hari atau beberapa minggu dan ditandai dengan hasil pemeriksaan fungsi ginjal (ureum
dan kreatinin darah) dan kadar urea nitrogen dalam darah yang meningkat. Sedangkan pada
gagal ginjal kronis, penurunan fungsi ginjal terjadi secara perlahan-lahan. Sehingga biasanya
diketahui setelah jatuh dalam kondisi parah. Gagal ginjal kronik tidak dapat disembuhkan. Pada
penderita gagal ginjal kronik, kemungkinan terjadinya kematian sebesar 85 %.

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Agar mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien gagal
ginjal.
2. Agar mahasiswa dapat memahami pengertian gagal ginjal akut dan kronik
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala pada pasien gagal ginjal akut dan kronik.

C. SISTEMATIKAN PENULISAN
Makalah ilmiah ini disusun ke dalam lima bab yang terdiri dari :
Bab I Pendahuluan: menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan
sistematika penulisan.
Bab II Konsep Dasar Penyakit Gagal Ginjal: menguraikan tentang anatomi fisiologi, pengertian,
penyebab, patofiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medic, dan
asuhan keperawatan.
Bab III Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gagal Ginjal: menjelaskan tentang konsep
asuhan keperawatan pada klien dengan gagal ginjal, yang meliputi pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, serta evaluasi.
Bab IV Askep pada Kasus Gagal Ginjal; menguraikan tentang asuhan keperawatan pada pasien
gagal ginjal
Bab V Penutup ; berisikan tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
KONSEP DASAR PENYAKIT GAGAL GINJAL

A. Anatomi Fisiologi
Gambar 1.1
Gambar Ginjal (Anonymous, 2012)

Ginjal merupakan organ berpasangan. Beratnya 125 gr, terletak pada posisi disebelah lateral
vertebralis torakalis bawah, beberapa cm dsebelak kanan dan kiri garis tengah. Organ ini
terbungkus oleh jaringan ikat tipis disebut kapsula renis. Disebelah anterior dipisahkan kavum
abdomen dan isinya oleh lapisan peritoneum. Disebelah posterior dilindungi oleh dinding toraks
bawah. Darah dialirkan kedalam setiap ginjal melalui arteri renalis dan keluar dari dalam ginjal
melalui vena renalis. Arteri renalis berasal dari aorta abdominalis dan vena renalis membawa darah
kembali kedalam vena kava inverior. Urin terbentuk dalam unit-unit fungsional ginjal dalam nefron.
Ginjal terdiri dari bagian external (korteks), bagian internal (medulla), setiap ginjal terdiri dari 1
juta nefron. Fungsi nefron adalah proses pembentuka urin dimulai dari darah mengalir lewat
glomerulus. Glomerulus yang merupakan struktur awal nefron (tersusun atas jonjot-jonjot kapiler)
mendapat darah lewat vasa aferen dan mengalir balik lewat fasa eferen. Ketika darah berjalan
melewati struktur ini, filtrasi terjadi (air dan molekul-molekul kecil akan dibiarkan lewat, molekul
besar tetap bertahan dalam aliran darah) cairan (filtrate) disaring lewat dinding jonjot-jonjot kapiler
glomerulus dan memasuki tubulus 20% plasma lewat glomerulus disaring dalam nefron dengan
jumlah sekitar 180 liter flitrat/hari

Fungsi Ginjal
Menurut Sherwood (2011) mengatakan bahwa ginjal memiliki fungsi yaitu:
a. Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh.
b. Memelihara volume plasma yang sesuai sehingga sangat berperan dalam pengaturan jangka
panjang tekanan darah arteri
c. Membantu memelihara keseimbangan asam basa pada tubuh.
d. Mengekskresikan produk-produk sisa metabolisme tubuh.
e. Mengekskresikan senyawa asing seperti obat-obatan.
B. Pengertian
Penyakit Gagal Ginjal adalah ginjal kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan
volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan normal. Gagal ginjal dibagi menjadi dua
kategori yaitu gagal ginjal kronik dan gagal ginjal akut. (Price & Welson, 2006)

Gagal ginjal adalah suatu kondisi di mana ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya
secara normal. Pada kondisi normal, pertama-tama darah akan masuk ke glomerulus dan
mengalami penyaringan melalui pembuluh darah halus yang disebut kapiler. Di glomerulus, zat-
zat sisa metabolisme yang sudah tidak terpakai dan beberapa yang masih terpakai serta cairan
akan melewati membran kapiler sedangkan sel darah merah, protein dan zat-zat yang berukuran
besar akan tetap tertahan di dalam darah. Filtrat (hasil penyaringan) akan terkumpul di bagian
ginjal yang disebut kapsula Bowman. Selanjutnya, filtrat akan diproses di dalam tubulus ginjal.
Di sini air dan zat-zat yang masih berguna yang terkandung dalam filtrat akan diserap lagi dan
akan terjadi penambahan zat-zat sampah metabolisme lain ke dalam filtrat. Hasil akhir dari
proses ini adalah urin (air seni).

Gagal ginjal ini dapat menyerang siapa saja yang menderita penyakit serius atau terluka
dimana hal itu berdampak langsung pada ginjal itu sendiri . Penyakit gagal ginjal lebih sering
dialami mereka yang berusia dewasa , terlebih pada kaum lanjut usia .

Secara umum, gagal ginjal adalah penyakit akhir dari serangkaian penyakit yang menyerang
traktus urinarius.

Gagal ginjal dibagi menjadi dua bagian besar yakni Gagal Ginjal Akut (acute renal failure =
ARF) dan Gagal Ginjal Kronik (chronic renal failure = CRF).
1. Gagal Ginjal Akut
Gagal ginjal akut adalah hilangnya fungsi ginjal secara mendadak dan hampir lengkap akibat
kegagalan sirkulasi renal atau disfungsi tublar dan glomerular (Brunner & Suddarth,2000)
Pada gagal ginjal akut terjadi penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba dalam waktu
beberapa hari atau beberapa minggu dan ditandai dengan hasil pemeriksaan fungsi ginjal (ureum
dan kreatinin darah) dan kadar urea nitrogen dalam darah yang meningkat.
Penyakit gagal ginjal akut adalah suatu penyakit dimana ginjal tidak dapat lagi
menjalankan fungsinya sebagai organ pembuangan, ginjal secara relatif mendadak tidak dapat
lagi memproduksi cairan urine yang merupakan cairan yang mengandung zat-zat yang sudah
tidak diperlukan oleh tubuh dan harus dikeluarkan dari tubuh .Gagal ginjal akut biasanya disertai
oliguria (pengeluaran kemih <400ml/ hari). (Price and Wilson, 1995 : 885).
Gambar 2.1
Gambar Ginjal yang Tidak Sehat

2. Gagal Ginjal Kronik


Gambar 2.2
Gambar Tahapan Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronik adalah kemunduran fungsi ginjal yang progresif dan irreversibel
dimana terjadi kegagalan kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseibangan
metabolik,caira dan elektrolit yang mengakibatkan uremia atau azotemia. (Brunner &
Suddarth,2000)
Kegagalan ginjal menahun merupakan suatu kegagalan fungsi ginjal yang berlangsung
perlahan-lahan, karena penyebab yang berlangsung lama,sehingga tidak dapat menutupi
kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit. (Purnawan Junadi,1989)

C. Penyebab
1. Penyebab gagal ginjal akut menurut (Brunner & Suddarth,2000)
a. Kondisi Pre Renal (Hipoperfusi ginjal)
Kondisi pre renal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfusi ginjal dan turunnya laju
filtrasi glomerulus. Kondisi klinis yang umum yang menyebabkan terjadinya hipoperfusi renal
adalah :
Penipisan volume
Hemoragi
Kehilangan cairan melalui ginjal (diuretic,osmotic)
Kehilangan cairan melalui saluran GI (muntah,diare)
Gangguan efisiensi jantung
Infark miokard
Gagal jantung kongestif
Disritmia
Syok karsinogenik
Vasodilatasi
Sepsis
Anafilaksis
Medikasi antihipertensif

b. Kondisi Intra Renal (kerusakan actual jaringan ginjal)


Penyebab intra renal gagal ginjal akut adalah kerusakan glumerulus atau tubulus ginjal yang
dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini :
Cedera akibat terbakar dan benturan
Reaksi transfuse yang parah
Agen nefrotoksik
Antibiotic aminoglikosida
Agen kontras radiopaque
Logam berat (timah,merkuri)
Obat NSAID
Bahan kimia dan pelarut
Pielonefritis akut
Glumerulonefritis

c. Kondisi Post Renal (Obstruksi Aliran Urine)


Kondisi pascarenal yang menyebabkan gagal ginjal akut biasanya akibat dari obstruksi
dibagian distal ginjal. Obstruksi ini dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi sebagai berikut :
Batu traktus urinarius
Tumor
BPH
Struktur
Bekuan darah

d. Sedangkan penyebab gagal ginjal kronik antara lain :


Diabetes Melitus
Glumeruloneritis kronis
Pielonefritis
Hipertensi tak terkontrol
Obstruksi saluran kemih
Penyakit ginjal polikistik
Gangguan vaskuler
Lesi herediter
Agen toksik (timah,kadmium dan merkuri)

D. Klasifikasi
Gagal ginjal kronik dibagi dalam 3 stadium
1. Stadium I
Penurunan cadangan ginjal, ditandai dengan kehilangan fungsi nefron 40-75%. Passion biasanya
tidak mempunyai gejala, karena sisa nefron yang ada dapat membawa fungsi-fungsi normal
ginjal.
2. Stadium II Insufisiensi ginjal
Kehilangan fungsi ginjal 75-90% pada tingkat ini terjadi kreatinin serum dan nitrogen urea
darah, ginjal kehilangan kemampuannya untuk mengembangkan urin pekat dan azotemia
3. Stadium III Payah gagal ginjal stadium akhir atau uremia
Tingkat renal dari GGK yaitu sisa nefron yang berfungsi <10%. Pada keadaan ini kreatinin
serum dan kadar BUN akan meningkat dengan menyolok sekalisebagai respon terhadap GFR
yang mengalami penurunan sehingga terjadi ketidakseimbangan kadar ureum nitrogen darah dan
elektrolit, pasien diindikasikan untuk dialysis.

K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG:
1. Stadium 1
Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal (>90
ml/menit/1,73 m2)
2. Stadium 2
Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1,73 m2
3. Stadium 3
Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73 m2
4. Stadium 4
Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29 mL/menit/1,73 m2
5. Stadium 5
Kelainan ginjal dengan LFG < 15 mL/menit/1,73 m2 atau gagal ginjal terminal.
E. Patofisiologi
a) Terdapat empat tahapan terjadinya gagal ginjal akut menurut (Brunner & Suddarth,2000):
1. Periode Awal
Merupakan awal kejadian penyakit dan diakhiri dengan terjadinya oliguria
2. Periode Oliguri
Pada periode ini volume urine kurang dari 400 ml/24jam, disertai dengan peningkatan
konsentrasi serum dari substansi yang biasanya diekskresikan oleh ginjal (urea,kreatinin, asam
urat, kalium dan magnesium). Pada tahap ini untuk pertama kalinya gejala uremik muncul dan
kondisi yang mengancam jiwa seperti hiperkalemia terjadi.
3. Periode Diuresis
Pasien menunjukkan peningkatan jumlah urine secara bertahap.,disertai tanda perbaikan
glumerulus. Nilai laboratorium berhenti meningkat dan akhirnya menurun. Tanda uremik
mungkin masih ada,sehingga penatalaksanaan medis dan keperawatan masih di perlukan. Pasien
harus dipantau ketat akan adanya dehidrasi selama tahapan ini, jika terjadi dehidrasi, tanda
uremik biasanya meningkat.
4. Periode Penyembuhan
Merupakan tanda perbaikan fungsi ginjal dan berlangsung selama 3-12 bulan
Nilai laboratorium akan kembali normal
Namun terjadi penurunan GFR permanen 1%-3%.

b) Sedangkan pada gagal ginjal kronik menurut (Brunner & Suddarth,2000):


1. Gangguan Klirens Renal.
Banyak masalah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan jumlah
glomeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang
seharusnya dibersihkan oleh ginjal

2. Retensi Cairan dan Natrium.


Ginjal juga tidak mampu untuk mengkonsentrasikan atau mengencerkan urin secara
normal pada penyakit ginjal tahap-akhir; respons ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan
cairan dan elektrolit sehari-hari, tidak terjadi.
3. Asidosis.
Dengan semakin berkembangnya penyakit renal,terjadi asidosis metabolic seiring dengan
ketidak mampuan ginjal mengekskresikan muatan asam yang berlebihan.
4. Anemia
Anemia terjadi sebagai akibat dari produksi eritropoetin yang tidak adekuat,
memendeknya usia sel darah merah, defisiensi nutrisi, dan kecenderungan untuk mengalami
perdarahan akibat status uremik pasien, terutama dari saluran gastrointestinal
5. Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat.
Abnormalitas utaa yang ain pada gagal ginjal kronis adalah gangguan metabolisme
kalsim dan fosfat.
6. Penyakit tulang uremik (osteodistrofi renal).
Terjadi dari perubahan kompleks kalsium, fosfat, dan keseimbangan parathormon.

F. Manifestasi Klinik
a) Manifestasi klinik Gagal Ginjal Akut menurut (Brunner & Suddarth,2000):
Hampir setiap system tubuh dipengaruhi ketika terjadi kegagalan mekanisme pengaturan ginjal
normal. Pasien tampak sangat menderita dan letargi disertai mual persisten, muntah, dan diare.
Kullit dan membrane mukosa kering akibat dehidrasi, dan nafas mungkin berbau (sector uremik).
Manifestasi system saraf pusat mencakup rasa lemah, sakit kepala, kedutan otot, dan kejang.
1. Perubahan Haluaran Urin.
Haluaran urin sedikit, dapat mengandung darah, dan gravitasi spesifiknya rendah (1010
normalnya 1015-1025)
2. Peningkatan BUN dan Kadar Kreatinin.
Terdapat peningkatan yang tetap dalam BUN dan laju peningkatannya bergantung pada tingkat
katabolisme (pemecahan protein), perfusi renal dan masukkan protein.
3. Hiperkalemia.
Pasien yang mengalami laju filtrassi glomerulus tidak mampu mengeksresikan kalium.
4. Asidosis meabolik.
Pasien oliguria akut tidak dapat mengeliminasi matan metabolic seperti sustansi jenis asam yang
dibentuk oleh proses metabolic normal.

b) Tanda dan Gejala pada Gagal Ginjal Kronik:


Menurut (Long, 1996 :369)
Gejala dini
1. Lethargi
2. Sakit kepala
3. Kelelahan fisik dan mental
4. Berat badan berkurang
5. Mudah tersinggung
6. Depresi
Gejala lebih lanjut
1. Anoreksia
2. Mual disertai muntah
3. Nafas dangkal
4. Sesak nafas

Menurut Suyono (2001):


Kardiovaskular
1. Hipertensi
2. Pitting edema
3. Edema periorbital
4. Pembesaran vena leher
5. Friction rub perikardial
Pulmoner
1. Krekel
2. Napas dangkal
3. Kusmaul
4. Sputum kental
Gastrointestinal
1. Anoreksia, mual dan muntah
2. Pendarahan saluran GI
3. Ulserasi dan pendarahan pada mulut
4. Konstipasi
5. Napas berbau amonia
Muskuloskeletal
1. Keram otot kehilangan kekuatan otot
2. Fraktur tulang
3. Foot drop

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Elektrokardiogram (EKG), Perubahan yang terjadi berhubungan dengan ketidakseimbangan
elektrolit dan gagal jantung.
2. Kajian foto toraks dan abdomen, Perubahan yang terjadi berhubungan dengan retensi cairan.
3. Osmolalitas serum, Lebih dari 285 mOsm/kg
4. Pelogram Retrograd, Abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
5. Ultrasonografi Ginjal, Untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya masa, kista, obstruksi pada
saluran perkemihan bagian atas
6. Endoskopi Ginjal, Nefroskopi, Untuk menentukan pelvis ginjal, keluar batu, hematuria dan
pengangkatan tumor selektif
7. Arteriogram Ginjal, Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskular
H. Penatalaksanaan Medik
1. Terapi medis pada pasien Gagal Ginjal Akut menurut (Brunner & Suddarth,2000):
Gagal ginjal memiliki kemampuan pulih yang luar biasa dari penyakit. Oleh karena itu,
tujuan penanganan gagal ginjal akut adalah untuk menjaga keseimbangan kimiawi normal dan
mencegah komplikasi sehingga perbaikan jaringan ginjal dan pemeliharaan fungsi ginjal dapat
terjadi.
a. Dialysis dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi gagal ginjal akut yang serius, seperti
hyperkalemia, pericarditis dan kejang.
b. Penanganan hyperkalemia keseimbangan cairan dan elektrolit merupkan masalah utama pada
gagal ginjal akut; hyperkalemia merupakan kondisi yang paling mengancam jiwa pada gangguan
ini.
c. Mempertahankan keseimbangan cairan. Penatalaksanaan keseimbangan cairan didasarkan
pad berat badan harian, pengukuran tekanan vena sentral, konsentrasi urin dan serum, cairan
yang hilang, tekanan darah, dan status klinis pasien.
d. Pertimbangan nutrisional. Diet protein dibatasi sampai 1g/kg selama fase oligurik untuk
menurunkan pemecahan protein dan mencegah akumulasi produk akhir toksik.
e. Cairan IV dan diuretic. Aliran darah ke ginjal yang adekuat pada banyak pasien dapat
dipertahankan melalui cairan IV dan medikasi.
f. Koreksi asidosis dan peningkatan kadar fosfat. Jika asidosis berat terjadi, gas darah arteri
harus dipantau; tindakan ventilasi yang tepat harus dilakukan jika terjadi masalah pernafasan.

2. Terapi medis pada pasien Gagal Ginjal Kronik :


a. Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya. Waktu yang paling tepat untuk terapi penyakit
dasarnya adalah sebelum terjadinya penurunan LFG, sehingga pemburukan fungi ginjal tidak
terjadi. Pada ukuran ginjal yang masih normal secara ultrasonografi,biopsi dan pemeriksaan
histopatologi ginjal dapat menentukan indikasi yang tepat terhadap terapi spesifik.
b. Pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid. Penting sekali untuk mengikuti dan
mencatata kecepatan penurunan LFG pada pasien penyakit GGK, hal ini untuk mengetahui
kondisi komorbid yang dapat memperburuk keadaan pasien.
c. Memperlambat pemburukan (progresis) fungsi ginjal. Faktor utama penyebab perburukan
fungsi ginjal adalah terjadinya hiperfiltrasi glomerulus. Dua cara penting untuk mengurangi
hiperfiltrasi glomerulur adalah pembatasan asupan protein dan terapi farmakologis.
d. Pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular.Pencegahan dan terapi terhadap
penyakit kardiovaskular merupakan hal yang penting, karena 40 s.d. 45% kematian penyakit
GGK disebabkan penyakit kardiovaskular
e. Pencegahan dan terapi komplikasi. Penyakit ginjal kronik mengakibatkan berbagai
komplikasi yang manisfestasinya sesuai dengan derajat penurunan fungsi ginjal yang terjadi.
f. Terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transpalasi ginjal. Terapi pengganti ginjal
dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5, yaitu pada LFG kurang dari 15ml/menit. Terapi
pengganti tersebut dapat berupa hemodialisis, peritoneal dialisis atau transplantasi ginjal.
Gambar 8.1
Gambar Hemodialisis

Menurut (Andra & Yessie 2013 : 234)


a. Pengaturan minum pemberian cairan
b. Pengendalian hipertensi =< intake garam
c. Pengendalian K+ darah
d. Penanggulangan anemia transfusi
e. Penanggulangan asidosis
f. Pengobatan dan pencegahan infeksi
g. Pengaturan protein dalam makan
h. Pengobatan neuropati
i. Dialisis
j. Transplantasi
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL

Menurut Marillyn E. Doenges ( 2000 ) pengkajian meliputi:


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama proses perawatan yang akan membantu dalam
penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan
klien serta merumuskan diagnosa keperawatan.
a. Identitas klien
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, umur, tempat lahir, asal suku bangsa, nama orang
tua, pekerjaan orang tua.tas dan koma
b. Keluhan utama
Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur,
tachicard/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.
c. Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan sebelumnya
Berapa lama klien sakit, bagaimana penanganannya, mendapat terapi apa, bagaimana
cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk
menanggulangi penyakitnya.
d. Aktifitas / istirahat :
Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise
Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen
Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
e. Sirkulasi
Adanya riwayat hipertensi lama atau berat, palpatasi, nyeri dada (angina)
Hipertensi, DUJ, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak tangan.
Nadi lemah, hipotensi ortostatikmenunjukkan hipovolemia, yang jarang pada penyakit tahap
akhir.
Pucat, kulit coklat kehijauan, kuning.
Kecenderungan perdarahan

f. Integritas Ego
Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.
Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.
g. Eliminasi
Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (pada gagal ginjal tahap lanjut
Abdomen kembung, diare, atau konstipasi
Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat, oliguria.
h. Makanan / cairan
Peningkatan berat badan cepat (oedema), penurunan berat badan (malnutrisi).
Anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia)
Penggunaan diuretik
Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir)
Perubahan turgor kulit/kelembaban.
Ulserasi gusi, pendarahan gusi/lidah.
i. Neurosensori
Sakit kepala, penglihatan kabur.
Kram otot / kejang, syndrome kaki gelisah, rasa terbakar pada telapak kaki, kesemutan dan
kelemahan, khususnya ekstremiras bawah.
Gangguan status mental, contah penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi,
kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor.
Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.
Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
j. Nyeri / kenyamanan
Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/ nyeri kaki.
Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah.
k. Pernapasan
Napas pendek, dispnea, batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak.
Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman.
Batuk dengan sputum encer (edema paru).
l. Keamanan
Kulit gatal
Ada / berulangnya infeksi
Pruritis
Demam (sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara aktual terjadi peningkatan pada pasien
yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal.
Ptekie, area ekimosis pada kulit
Fraktur tulang, keterbatasan gerak sendi
m. Seksualitas
Penurunan libido, amenorea, infertilitas
n. Interaksi sosial
Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran
biasanya dalam keluarga.
o. Penyuluhan / Pembelajaran
Riwayat DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis heredeter, kalkulus
urenaria, maliganansi.
Riwayat terpejan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.
Penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini / berulang.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan ditegakkan atas dasar data dari pasien. Kemungkinan diagnosa
keperawatan dari orang dengan kegagalan ginjal kronis adalah sebagai berikut :
a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebih dan
retensi cairan serta natrium.
b. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual dan
muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut.
c. Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi, produk sampah.
d. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, dan
rencana tindakan.
3. Intervensi
Dx
NO Tujuan dan KH Intervensi Rasional
kep
1 1 Tujuan - Kaji status cairan : - Pengkajian
Mempertahankan berat tubuh Timbang berat badan merupakan dasar dan
ideal tanpa kelebihan cairan. harian data dasar
Keseimbangan berkelanjutan untuk
Kriteria hasil : masukan dan haluaran memantau perubahan
Menunjukkan pemasukan dan Turgor kulit dan dan mengevaluasi
pengeluaran mendekati adanya oedema intervensi.
seimbang Distensi vena leher Keperawatan Medikal
Turgor kulit baik Tekanan darah, Bedah edisi 8 vol 2,
Membran mukosa lembab denyut dan irama nadi Brunner & Suddart,
Berat badan dan tanda vital - Batasi masukan hal 1452)
stabil cairan
Elektrolit dalam batas normal
- Pembatasan cairan
akan menentukan
berat badan ideal,
haluaran urine dan
respons terhadap
terapi. (Keperawatan
Medikal Bedah edisi 8
vol 2, Brunner &
Suddart, hal 1452).
- Sumber kelebihan
cairan yang tidak
diketahui dapat
- Jelaskan pada pasien diidentifikasi.
dan keluarga rasional (Keperawatan
pembatasan Medikal Bedah edisi 8
vol 2, Brunner &
Suddart, hal 1452).

- Pemahaman
meningkatkan
- Pantau kreatinin dan kerjasama pasien dan
BUN serum keluarga dalam
pembatasan cairan
(Keperawatan
Medikal Bedah edisi 8
vol 2, Brunner &
Suddart, hal 1452).
- Perubahan ini
menunjukkan
kebutuhan dialisa
segera. (Rencana
Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah, vol 1,
Barbara Ensram, hal
156).

2 2 Tujuan Mempertahankan - Kaji / catat - Membantu dalam


masukan nutrisi yang adekuat pemasukan diet mengidentifikasi
defisiensi dan
Kriteria hasil : kebutuhan diet.
Mempertahankan/meningkatkan Kondisi fisik umum
berat badan seperti yang gejala uremik dan
diindikasikan oleh situasi pembatasan diet
individu. multiple
- Kaji pola diet nutrisi
Bebas oedema pasien
mempengaruhi
pemasukan makanan.
Riwayat diet
(Rencana Asuhan
Makanan kesukaan
Keperawatan,
Hitung kalori
Marylinn E. Doenges,
hal 620).

- Pola diet dahulu dan


sekarang dapat
dipertimbangkan
dalam menyusun
menu. (Keperawatan
Medikal Bedah edisi 8
vol 2, Brunner &
Suddart, hal 1452)

3 3 Tujuan : Berpartisipasi dalam - Kaji faktor yang - Menyediakan


aktifitas yang dapat ditoleransi menimbulkan informasi tentang
keletihan indikasi tingkat
Kriteria hasil : Anemia keletihan
Berkurangnya keluhan lelah Ketidakseimbangan (Keperawatan
Peningkatan keterlibatan pada cairan dan elektrolit Medikal Bedah edisi 8
aktifitas social Retensi produk vol 2, Brunner &
Laporan perasaan lebih sampah Suddart, hal 1454).
berenergi Depresi
Frekuensi pernapasan dan - Tingkatkan
frekuensi jantung kembali kemandirian dalam
dalam rentang normal setelah aktivitas perawatan
penghentian aktifitas. - Meningkatkan
diri yang dapat
aktivitas
ditoleransi, bantu jika ringan/sedang dan
keletihan terjadi. memperbaiki harga
diri.
- Anjurkan aktivitas
alternatif sambil
istirahat. - Mendorong latihan
dan aktivitas dalam
batas-batas yang dapat
ditoleransi dan
istirahat yang adekuat.
(Keperawatan
Medikal Bedah edisi 8
vol 2, Brunner &
- Anjurkan untuk Suddart, hal 1454).
beristirahat setelah
dialisis - Istirahat yang adekuat
dianjurkan setelah
dialisis, yang bagi
banyak pasien sangat
melelahkan.
(Keperawatan
Medikal Bedah edisi 8
vol 2, Brunner &
Suddart, hal 1454).
4 4Tujuan: - Bila mungkin atur - Individu yang
Ansietas berkurang dengan untuk kunjungan dari berhasil dalam koping
adanya peningkatan individu yang dapat pengaruh positif
pengetahuan tentang penykit mendapat terapi. untuk membantu
dan pengobatan. pasien yang baru
didiagnosa
Kriteria hasil : mempertahankan
harapan dan mulai
Mengungkapkan pemahaman menilai perubahan
tentangkondisi, pemeriksaan gaya hidup yang akan
diagnostic dan rencana diterima. (Rencana
tindakan. Asuhan Keperawatan
Sedikit melaporkan perasaan vol 1, Barbara
gugup atau takut. Engram hal 159).

4. Implementasi
a.Membantu Meraih Tujuan Terapi
- Mengusahakan agar orang tetap menekuni pantangan air yang sudah dipesankan.
- Mengusahakan agar orang menekuni diet tinggi karbohidrat disertai pantangan sodium,
potassium, phosphorus dan protein.
- Tenekuni makanan bahan yang mengikat fosfat.
- Memberikan pelunak tinja bila klien mendapat aluminium antacid.
- Memberikan suplemen vitamin dan mineral menurut yang dipesankan.
- Melindungi pasien dari infeksi.
- Mengkaji lingkungan klien dan melindungi dari cedera dengan cara yang seksama.
- Mencegah perdarahan saluran cerna yang lebih hebat dengan menggunakan sikat gigi yang
berbulu halus dan pemberian antacid.
b. Mengusahakan Kenyamanan
- Mengusahakan mengurangi gatal, memberi obat anti pruritis menurut kebutuhan.
- Mengusahakan hangat dan message otot yang kejang dari tangan dan kaki bawah.
- Menyiapkan air matol buatan untuk iritasi okuler.
- Mengusahakan istirahat bila kecapaian.
- Mengusahakan agar klien dapat tidur dengan cara yang bijaksana.
c. Konsultasi dan Penyuluhan
- Menyiapkan orang yang bisa memberi kesempatan untuk membahas berbagai perasaan tentang
kronisitas dari penyakit.
- Mengusahakan konsultasi bila terjadi penolakan yang mengganggu terapi.
- Membesarkan harapan orang dengan memberikan bantuan bagaimana caranya mengelola cara
hidup baru.
- Memberi penyuluhan tentang sifat dari CRF, rasional terapi, aturan obat-obatan dan keperluan
melanjutkan pengobatan. (Keperawatan Medikal Bedah, Barbara C. Long).
5. Evaluasi
Pertanyaan-pertanyaan yang umum yang harus diajukan pada evaluasi orang dengan kegagalan
ginjal terdiri dari yang berikut.
- Apakah terdapat gejala-gejala bertambahnya retensi cairan?
- Apakah orang menekuni pesan diet dan cairan yang diperlukan?
- Apakah terdapat gejala-gejala terlalu kecapaian?
- Apakah orang tidur nyenyak pada malam hari?
- Apakah orang dapat menguraikan tentang sifat CRF, rasional dan terapi, peraturan obat-obatan
dan gejala-gejalayang harus dilaporkan?
BAB IV
ASKEP PADA KASUS PASIEN GAGAL GINJAL
A. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dari asuhan keperawatan, pada pengkajian meliputi :
1. Identitas klien
Nama klien Tn.S , jenis kelamin laki-laki, umur 41 tahun, status perkawinan sudah menikah,
pendidikan SMA, agama islam, bekerja sebagai karyawan, alamat di Jl. Pengadegan Rt.12 Rw.7
Pancoran Jakarta Selatan, tanggal masuk rumah sakit 31 Mei 2014, diagnosa Gagal ginjal kronis,
tanggal pengkajian 2 Juni 2014.

2. Riwayat kesehatan saat ini


Klien mengatakan datang ke IGD RSUD Budi Asih dengan keluhan utama lemas, mual, dan
nafsu makan menurun, klien mengatakan memiliki darah tinggi dan DM. Klien tampak lemas,
BB saat ini : 64 kg, TB : 170 cm, turgor kulit sedang. Hasil tanda-tanda vital : TD:160/100
mmHg, N: 84x/mnt, RR: 20x/mnt, S:36 C. Hasil labolatorium menunjukkan leukosit : 5,3 rb/uL,
eritrosit: 2,7 jt/ul, Hb: 9,2 g/dL, Ht:26%, Trombosit:285 rb/uL, GDS : 143 mg/dL, ureum:226
mg/dL, kreatinin:21,40 mg/dL. Klien mendapat terapi CaCO3 3 x 1 mg, tonar 3x2 kaplet 630 mg,
amlodipin 1x5 mg, candesartan 1x16 mg. Klien terpasang IVFD Ransamin/ 12 jam ditangan kiri.

3. Riwayat kesehatan masa lalu


Klien mengatakan memiliki riwayat hipertensi dan DM dari orang tuanya. Klien pada 3 bulan
yang lalu berobat di puskesmas Carolous dengan keluhan lemas, tangan kanan dan kaki kanan
tidak bisa di gerakkan, klien mendapatkan obat hipertensi tetapi tidak sampai dirawat. Setelah 1
bulan berobat, klien mengatakan kembali berobat ke puskesmas Carolous dengan keluhan lemas,
nafsu makan menurun dan klien terdiagnosis penyakit ginjal. Kemudian klien berobat ke RSUD
Budi Asih dengan keluhan yang sama badan lemas dan nafsu makan menurun.

4. Riwayat kesehatan keluarga


Klien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang mengalami penyakit seperti klien alami
sekarang. Klien mengatakan ada riwayat penyakit keturunan dari orang tua yaitu hipertensi dan
DM. Klien mengatakan selama ini memiliki pola hidup tidak sehat, seperti terlambat makan,
suka menahan BAK terlalu lama dan klien mengatakan tidak ada pantangan dalam makan.

5. Riwayat psikososial dan spiritual


Klien mengatakan orang yang dekat dengan klien adalah istri dan keluarga. Pola komunikasi
klien baik. Klien mengatakan dalam membuat keputusan adalah dengan musyawarah. Klien
menjalankan ibadah sesuai dengan agamnya, tidak ada nilai-nilai yang bertentangan dengan
kesehatan.

6. Pola kebiasaan sehari hari (sebelum sakit)


a. Nutrisi
1) Di rumah :
Klien makan 3 kali sehari dengan menu nasi, sayur, lauk pauk, nafsu makan klien baik, berat
badan 72 kg, tinggi badan 170 cm, klien mengatakan makan tidak tepat waktu dan jarang makan
pagi saat pergi bekerja.
2) Di rumah sakit :
Klien makan 3 kali sehari diet rendah garam dengan bubur, lauk pauk, sayur, dan buah, nafsu
makan klien menurun karena mual tetapi klien dapat menghabiskan makan 1 porsi, klien makan
sendiri, berat badan 64 kg, tinggi badan 170 cm.
b. Eliminasi
1) Di rumah :
Klien buang air kecil 3 sampai 4 kali sehari, warna putih jernih, tidak ada keluhan dalam BAK.
Klien buang air besar 2 kali sehari tiap malam, warna coklat, bau khas, konsistensi lembek, klien
mengatakan kadang-kadang susah BAB, klien pernah menggunakan laxative/ pencahar.
2) Di rumah sakit :
Klien BAK 3-4 kali sehari, warna kuning, tidak ada keluhan dalam BAK, klien belum BAB 2
hari sejak dirwat dirumah sakit.
c. Personal Hygiene :
1) Di rumah :
Klien mandi 2 kali sehari menggunakn sabun. Klien menggosok gigi 2 kali sehari setelah makan
pagi dan sebelum tidur. Klien mencuci rambut 1 kali seminggu menggunakan shampoo.
2) Di rumah sakit :
Klien mandi hanya di lap sehari satu kali. Menggosok gigi 1 kali sehari dengan menggunakan
pasta gigi.
d. Istirahat dan tidur
1) Di rumah :
Klien tidur 5 jam sehari, klien tidak pernah tidur siang.
2) Di rumah sakit :
Klien tidur 6 jam sehari, tidur siang kadang-kadang.

e. Pola aktifitas dan latihan


1) Di rumah :
Klien bekerja sebagai karyawan pengantar makanan, waktu bekerja klien pagi sampai sore,
kadang-kadang klien masuk bekerja pada malam hari, klien kadang-kadang olahraga futsal
bersama teman kantor jika ada waktu, waktu luang klien mengobrol dengan teman kantor atau
tetangga, klien tidak ada keluhan dalam beraktifitas.
2) Di rumah sakit :
Klien tidak banyak melakukan aktifitas sehari-hari, aktifitas hanya di tempat tidur, klien tidak
berolahraga selama di rumah sakit, tidak ada keluhan dalam beraktifitas tetapi klien mentakan
badan lemas.
f. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
1) Di rumah :
Klien merokok sebanyak 2-3 batang sehari, klien merokok sejak usia 20 tahun sampai sekarang,
tetapi sejak 2 bulan yang lalu klien berhenti untuk merokok. Klien tidak minum-minuman keras
dan tidak ketergantungan obat.
2) Di rumah sakit:
Selama dirawat di rumah sakit klien tidak merokok tidak minum-minuman keras dan tidak
ketergantungan obat.

7. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem penglihatan
Posisi mata simetris, kelopak mata normal, pergerakkan bola mata normal, konjungtiva anemis,
kornea normal, sklera, anikterik, pupil isokor, otot-otot mata tidak ada kelainan, klien memakai
kacamata plus (+), tidak memakai lensa kontak, reaksi terhadap cahaya baik.

b. Sistem pendengaran
Daun telinga normal, tidak ada serumen, kondisi telinga normal, tidak terasa penuh dalam
telinga, tidak memakai alat bantu pendengaran, fungsi keseimbangan normal, tidak ada nyeri
tekan, tidak ada tinitus, fungsi pendengaran normal.

c. Sistem pernafasan
Jalan nafas bersih, tidak sesak nafas, tidak menggunakan otot- otot bantu pernafasan, frekuensi
20 x/menit, irama teratur, klien tidak batuk, suara nafas normal.

d. Sistem kardiovaskuler
Warna kulit pucat, tidak ada distensi vena jugularis kanan dan kiri, nadi 84x/menit, irama teratur,
denyut kuat, TD 160/100 mmHg, tempetarure kulit hangat, kapilari refil 3 detik, ada edema,
denyut nadi apikal 80x/menit, irama teratur, murmur dan gallop tidak ada, tidak ada keluhan
sakit dada.

e. Sistem persyarafan
Klien bicara normal, tidak ada disorientasi orang, tempat dan waktu, nilai GCS klien 15,
kesdaran composmentis, rasa baal tidak ada, ada kesmutan, klien dapat merasakan suhu panas/
dingin, refleks fisiologis dan patologis klien normal, kaku kuduk tidak ada, test lasaque normal >
130, test kernig normal > 70, tidak ada kesulitan dalam berbicara.

f. Sistem pencernaan
Warna kulit abdomen normal, terdapat bising usus 10x/menit, bunyi timpani tidak ada massa,
tidak teraba tegang, hepar dan lien/ spelen tidak ada kelianan, konsistensi feses warna coklat
setengah padat, lamanya 2 hari, muntah tidak ada, mual ada , nafsu makan kurang, nyeri daerah
perut dikanan bawah seperti melilit rasa penuh di perut tidak ada.

g. Sistem endokrin
Nafas berbau keton (-), poliuri, polidipsi dan polipagia tidak ada, berkeringat banyak tidak ada,
tremor tidak ada, bradikardi tidak ada, takikardi tidak ada, exopthalmus tidak.
h. Sistem perkemihan
Klien memakai kateter, tidak ada nyeri tekan, nyeri tekan daerah pinggang belakang tidak ada,
BAK 3-4 kali sehari, BAK terkontrol, jumlah urin 600 cc/24 jam, warna kuning pekat.

i. Sistem muskuloskeletal
Klien tampak lemas, bentuk tubuh klien atletik, gaya berjalan normal, lengkung spinal normal,
tidak ada kesulitan gerak sendir, tidak ada frsktur, tidak ada paralisis, tidak teraba panas, klien
terpasang IVFD resamen/12 jam.

8. Pemerikasaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Telah didapatkan hasil laboratorium tanggal 31 Mei 2014, yaitu leukosit: 5,3 rb/ul (normal: 3,8
10,6), eritrosit 2,7 jt/ul (normal: 4,4 5,9), hemoglobin 9,2 gr/dl (normal: 13,2 17,3),
hematokrit 26% (normal: 40-52), trombosit 285 rb/ul (normal: 150 440), MCV 95,0 fl (normal:
80 100), MCH 33,9 pg (normal: 26 -34), MCHC 35,8 g/dl (normal: 32-36), RDW: 13,8%
(normal <14) GDS : 143 mg/dl (normal <110), Ureum: 226 mg/dl (normal: 13-43), kreatinin :
21,40 mg/dl (normal <1,2).

9. Penatalaksanaan
a. Terapi oral : CaCO3 3x1 mg, Tonar 3x2 kaplet 630 mg, Amlodipin 1x5 mg
Candesartan 1x 16 mg
b. Terapi injeksi : Ranitidin 2x1 ampul (@2ml, 25 mg/ml), Ondasentron 2x1
Ampul (@2ml, 2mg/ml)
c. Parenteral : Resamin/12 jam (14 tetes/menit)

10. Data Fokus


a. Data subjektif
Klien mengatakan mual, klien mengatakan nafsu makan menurun, klien mengatakan haus, klien
mengatakan minum air kurang, klien mengatakan tidak mengetahui penyakit yang diderita, klien
mengatakan lemas, klien mengatakan kegiatan sehari-hari dibantu keluarga.

b. Data Objektif
Klien makan habis 1/2 porsi, membran mukosa kering, turgor kulit sedang, capilary refil 3 detik,
klien bertanya tentang penyakitnya, klien dan keluarga bertanya tentang pengobatan, klien
tampak dibantu keluarga, klien beraktivitas hanya di tempat tidur, klien tampak tidak rapih, kaki
kanan klien teraba tegang otot, teraba edema pada kaki kanan, BB sebelum sakit 72 kg, BB saat
ini 64 kg. TB : 170 cm, TTV: TD: 160/100 mg, N: 84 x/menit, RR: 20x/menit, S: 36C,
pemeriksaan lab : Hb: 9,2 gr/dl (normal: 13,2-17,3), Ht : 26% (normal: 40-52).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan, didapatkan diagnosa sebagai berikut :
1. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
2. Kekurangan volume cairan
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, diet, dan kebutuhan pengobatan
4. Intoleransi aktivitas
5. Defisit perawatan diri personal hygiene

C. PERENCANAAN
Berdasarkan diagnosa yang didapat, rencana tindakan yang akan dilakukan antara lain:
DX
NO TUJUAN dan KH INTERVENSI
KEP
1 1 Tujuan: - Kaji status, pola dan kebiasaan makan klien
Nutrisi klien terpenuhi - Berikan makanan sedikit tapi sering
setelah dilakukan - Berikan makanan yang mudah ditelan dan
tindakan keperawatan hangat
selama 3x24 jam - Catat jumalah porsi makanan yang
Kriteria hasil: dihabiskan
- Mual berkurang - Timbang BB tiap 3 hari sekali
- Nafsu makan - Kolaborasi dalam pemberian antiemetik (
meningkat ranitidin 2x1 ampul @2ml, 25 mg/ml,
- Makan habis 1 porsi ondansentron 2x1 ampul (@2ml,2 mg/ml)
- Berat badan tetap/
bertambah
- Tidak ada edema pada
tungkai

2 2 Tujuan: - Monitor TTV setiap 8 jam


Keseimbangan cairan - Ukur input dan output
normal setelah - Batasi pemasukan cairan sesuai indikasi
dilakukan tindakan - Observasi tanda dan gejala dehidrasi
keperawatan selama - Kolaborasi dalam pemberian antihipertensi (
3x24 jam amlodipin 1x5 mg, candesartan 1x16 mg)
Kriteria Hasil :
- Input dan output
mendekati seimbang
- Membran mukosa
lembab
- TTV dalam batas
normal
- Nilai elektrolit dalam
batas normal ( natrium
: 135-155, kalium : 3,6-
5,5, klorida 98-109)
3 3 Tujuan: - Kaji tingakat pengetahuan klien tentang
Klien dapat penyakitnya
menunjukkan - Berikan pendidikan tentang pengertian,
pemahaman tentang penyebab, pembatasan cairan dan diet serta
kondisi diet dan pengobatan
kebutuhan pengobatan - Tanyakan kembali tentang penjelasan yang
setelah dilakukan sudah diberikan
tindakan keperawatan - Berikan reinforcement setiap jawaban yang
selama 1x30 menit diberikan
Kriteria Hasil :
- Klien mengatakan
sudah mengerti tentang
penyakitnya dan
pengobatan untuk
penyakitnya
- Klien tidak bertanya
lagi tentang
penyakitnya
4 4 Tujuan: - Kaji tingkat aktivitas klien
Klien dapat memenuhi - Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan
kebutuhan sehari-hari sehari-hari
setelah tindakan - Dekatkan barang-barang yang diperlukan
keperawatan selama - Libatkan keluarga dalam pelaksanaan
3x24 jam tindakan keperawatan
Kriteria hasil: - Dorong klien melakukan aktivitas sesuai
- Klien dapat melakukan kemampuan
ativitas sesuai
kemampuan
- Klien tampak
mengalami peningkatan
kekuatan

5 5 Tujuan: - Kaji tingkat kemampuan klien dalam


Klien dapat memenuhi aktivitas perawatan diri
kebutuhan sehari-hari - Berikan bantuan dengan aktivitas yang
setelah tindakan diperlukan
keperawatan selama - Anurkan klien tidak banyak menguras energi
3x24 jam - Mendorong keluarga ikut partisipasi dalam
Kriteria hasil: membantu aktivitas klien sampai klien
- Klien tampak bersih sepenuhnya dapat mandiri melakukan
- Rambut rapih perawatan diri.
- Mulut tidak bau
- Klien dapat melakukan
aktivitas sesuai
kemampuan
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
DX
Tgl Jam Implementasi Respon Klien Ttd
Kep
2/6/14 14.15 1 - Mengkaji pola makan klien - Klien mengatakan mual
- Klien mengatakan makan 3x
sehari dengan diet lunak

- Klien dapat menghabiskannya


- Klien makan dibantu keluarga

14.30 4&5 - TD: 160/100mmHg


- Mengkaji tingkat aktivitas - N: 84 x/menit
klien dan memberi makan - RR: 20x/menit
15.00 1&2 - S: 360C
- Mengukur TTV - Klien mengatakan belum
mengerti tentang penyakit
GGK
- Membran mukosa lembab
- Kulit sedikit elastis
- Turgor kulit sedang
- Mengkaji tingkat - Capillary refil 3 detik
15.30 3
pengetahuan klien - Klien mengatakan akan
mencatat berapa banyak klien
- Mengobservasi tanda-tanda
16.00 2 minum
dehidrasi
- Obat telah diberikan melalui
vemplon

- Menganjurkan klien untuk - Klien menghabiskan 1 porsi


16.30 2 membatasi minum dan makanan.
mencatat berapa banyak klien
sudah minum
- Pemberian obat antiemetik (
17.00 1 ranitidin 2x1 ampul @2ml,
25 mg/ml, ondansentron 2x1
ampul (@2ml,2 mg/ml)
- Memberikan makan malam

17.30 1
3/6/14 14.00 1 - Mengkaji status nutrisi klien - Klien mengatakan makan
habis 1/2 porsi
- Klien mengatakan mual
- Menganjurkan klien makan
14.20 1 sedikit tetapi sering - Klien mengatakan akan
- Mengukur TTV makan sedikit dan sering
15.00 1&2 - TD: 150/100 mmHg
- N: 88 x/menit
- RR: 20 x/menit
0
- Mengobservasi tanda-tanda - S: 36,4 C
15.30 2 dehidrasi - Membrane mukosa lembab
- Turgor kulit sedang
- Input: Oral:700 cc; parenteral:
400 cc
- Output: urine:800 cc; IWL:
500 cc; BC: 1100 cc-1300 cc:
16.00 3 -200cc
- Klien dan keluarga mengerti
16.30 4&5 - Memberikan pendidikan tentang penyakit GGK
kesehatan tentang GGK - Keluarga membantu klien
- Libatkan keluarga dalam mandi sore hari
17.00 pelaksanaan tindakan
keperawatan - Obat telah diberikan melalui
1 vemplon
17.30 - Pemberian obat antiemetic
ranitidin 2x1 ampul @2ml,
1 25 mg/ml, ondansentron 2x1
ampul (@2ml,2 mg/ml) - Klien menghabiskan makan
- Memberikan makan malam porsi
- Klien mengatakan muntah 1x
4/6/14 14.00 1 - Mengkaji status nutrisi klien - Klien mengatakan makan
habis 1 porsi
- Klien mengatakan masih
14.20 1 mual dan lemas
- Menganjurkan klien makan - Klien mengatakan akan
sedikit dan sering makan sedikit dan sering
14.30 2 - Mengobservasi input dan - Input: Oral:600 cc; parenteral:
output 400 cc
- Output: urine:600 cc; muntah
5cc; IWL: 500 cc; BC: 1000
14.45 4&5 cc-1105 cc: -105cc
- Klien mengatakan masih
- Mengevaluasi aktivitas klien terasa lemas
- Aktivitas dbantu perawat dan
keluarga
E. EVALUASI KEPERAWATAN
DX
Tgl EVALUASI TTD
Kep
3/6/14 1 S : - Klien mengatakan masih mual
- Klien mengatakan nafsu makan menurun
O : - klien menghabiskan makan porsi
- BB: 65kg
- TB: 170 cm
- Hasil lab: ureum: 282 mg/dl (normal: 13-43)
A : - masalah belum teratasi
P : - intervensi dipertahankan
- Menganjurkan klien makan sedikit dan sering
- Mencatat jumlah porsi makanan yang habis
2 S : - Klien mengatakan haus berkurang
- Klien mengatakan minum 1 ltr/hari
O : - membrane mukosa lembab
- Turgor kulit sedang
- Balance cairan -200cc
- TTV : TD: 150/100 mmHg
N: 88x/menit
RR: 20x/menit
S: 36,4 0C
A : - masalah belum teratasi
P : - intervensi dilanjutkan
- Catat hasil input dan output
- Menganjurkan klien membatasi cairan 2,5 ltr/hari
3S : - Klien dan keluarga mengatakan sudah mengerti tentang penyakit
GGK
O :- klien dan keluarga dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan
dengan benar
- Klien tidak bertanya lagi pada perawat
A : - masalah teratasi
P : - intervensi dipertahankan
4 S : - Klien mengatakan masih terasa lemas
O : - Aktivitas dibantu perawat dan keluarga
A : - masalah belum teratasi
P : - intervensi dilanjutkan
- Dorong klien melakukan aktivitas sesuai kemampuan
5 S : - Klien mengatakan masih terasa lemas
O : - klien tampak rapih
A : - masalah belum teratasi
P : - intervensi dilanjutkan
- Berikan bantuan dengan aktivitas yang diperlukan

4/6/14 1 S : - Klien mengatakan masih mual


- Klien mengatakan masih lemas
O : - klien menghabiskan makan porsi (1700 kkal)
- BB: 64kg
- TB: 170 cm
- Hasil lab: ureum: 282 mg/dl (normal: 13-43)
A : - masalah belum teratasi
P : - intervensi dipertahankan
- Menganjurkan klien makan sedikit dan sering
2 S : - Klien mengatakan haus berkurang
- Klien mengatakan minum 1,5 ltr/hari
O : - membrane mukosa lembab
- Turgor kulit elastis
- Balance cairan -105cc
- TTV : TD: 150/100 mmHg
N: 84x/menit
RR: 20x/menit
S: 35,8 0C
- Hasil lab: natrium: 137 mmol/L (normal 135-155)
Kalium : 4,8 mmol/L (normal 3,6 5,5)
Klorida : 100 mmol/L (normal 98-109)
A : - masalah belum teratasi
P : - intervensi dipertahankan
- Catat hasil input dan output
- Menganjurkan klien membatasi cairan 2,5 ltr/hari
4 S : - Klien mengatakan masih terasa lemas
O : - Aktivitas dibantu perawat dan keluarga
A : - masalah belum teratasi
P : - intervensi dilanjutkan
- Dorong klien melakukan aktivitas sesuai kemampuan
5 S : - Klien mengatakan masih terasa lemas
O : - klien tampak rapih
A : - masalah belum teratasi
P : - intervensi dilanjutkan
- Berikan bantuan dengan aktivitas yang diperlukan